Pembaruan - Cerita Lain dari 'Something and Someone'


Fang membatin, situasi seperti apa ini?! Yaya meninggalkan dirinya duduk kaku di atas sofa bersama adik laki-lakinya. Apakah ini sebuah pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan setelah ia mencicipi biskuit yang telah dijanjikan oleh si pembuatnya? Dari awal ia diundang ke rumah Yaya untuk mencicipi resep terbarunya tentu ia sudah mencari-cari alasan agar minggu ini ia bisa menghabiskan waktunya di rumah saja, tapi gagal karena minggu ini ia terbilang mempunyai waktu luang. Walaupun Yaya mengatakan ia telah berusaha mengubah resepnya menjadi lebih baik, ketenangan Fang tetap goyah. Ditambah lagi sekarang ia tak mengerti bagaimana caranya meladeni anak laki-laki di sampingnya.

Jujur Fang panik ketika Totoitoy, adik Yaya, berdiri di atas sofa, mendekatinya, dan seperti ingin duduk di atas pangkuannya. Terpaksa ia ladeni anak itu dengan mengangkat tubuhnya dan memosisikannya hingga kira-kira anak itu merasa nyaman di atas pangkuannya. "Apa yang kau inginkan, hm?" tanya Fang ketika mendapati kedua tangan mungil berusaha meraih wajahnya tanpa bersuara. "Aku lucu, ya?"

"Iya, Fang. Kau memang lucu."

Beruntung Fang tidak tiba-tiba melempar Totoitoy ke sembarang arah karena terkejut dengan kedatangan Yaya beserta tawa dan sepiring kecil biskuit. Ah, Yaya tidak mengubah penampilannya. Itu justru memberi kesan buruk bagi Fang walaupun bentuk biskuit itu terhias rapi.

"Coba ambil satu dulu, Fang."

Fang meringis sambil tetap menahan tubuh Totoitoy agar tidak oleng. "Aku ingin kau yang mencicipinya dahulu, Yaya."

"Baiklah."

Satu biskuit berhasil masuk ke dalam mulut Yaya. Fang dibuat melongo karena Yaya tidak menunjukkan hal-hal buruk. Ia menghabiskan satu biskuitnya tanpa masalah. "Kuulangi, aku sudah mengubah beberapa resepnya, Fang, dan hasilnya lumayan."

"Kedengarannya hasilnya bagus."

"Satu, ya? Nih, buka mulut!"

Fang membuka mulutnya ragu. Pada akhirnya ia pasrah disuapi biskuit yang dari tampilannya menggoda selera. Namun, Yaya menghentikan pergerakan tangannya. "Oh, adik mau?" tanyanya dengan raut ceria.

Ya, ampun. Mana tega Fang membiarkan anak kecil di pangkuannya mencicipi biskuit kakaknya lebih dulu daripada dirinya. Karena tak mau antusias anak itu dalam menyambut biskuit kakaknya membesar, Fang langsung menggigit pinggiran biskuit yang masih terarahkan kepadanya.

Biskuit kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Dulu Fang pernah mencicipinya karena penasaran. Sampai sekarang jujur ia masih mengingat rasa itu. Kini memang tidak apa-apa, Fang tak sampai mengeluarkan kembali biskuit itu dari mulutnya.

"Aku pikir orang-orang akan mulai lumayan suka pada biskuitmu, Yaya."

"Benarkah?"

Belum sempat mengeluarkan suara, Totoitoy menangis. Raut penuh harap Yaya hilang seketika. Ia langsung mengambil alih dalam mengurus anak itu.

"Tadi dia seperti ingin mencoba biskuitmu, Yaya, tapi kumakan dulu," ujar Fang berdasarkan pengamatannya tadi.

"Akhu mahu itu!"

Fang diam-diam menghela napas. Ternyata ucapannya benar.

Selanjutnya Fang bisa menghela napas lega. Yaya pun seperti itu. Ia tertawa kala mengingat kejadian barusan. Itu diutarakannya pula lewat kata-kata sehingga Fang tahu apa yang mengundang tawa Yaya.

"Bagaimana kalau aku menyuapimu lagi di depan Totoitoy?"

"Kau ingin dia menangis lagi, huh? Nanti kau yang kena marah Ibumu kalau tiba-tiba beliau sudah pulang dari pasar dan melihat rencana jahatmu. Ibu betul ke pasar, 'kan?"

Yaya masih tak bisa menghilangkan senyum di wajahnya. "Iya, seperti biasa, pagi-pagi belanja kebutuhan."

"Jadi, sekarang aku di sini untuk mencicipi satu biskuitmu dan menjadi temanmu saat Ibumu sedang ke pasar?"

"Nanti aku kasih 3 bungkus biskuit, kok!"

"Lalu sekarang nasib perjalananku menuju sekolah bagaimana?"

"3 bungkus biskuit dengan resep baru dan resep lama. Wow. Kau mendapat 6 biskuitku gratis, lho!"

"Aku mau pulang saja."

"Nih, ayo, habiskan dulu!" Sebelah tangannya menahan tubuh adiknya di pangkuannya, sementara sebelah lagi kembali menyodorkan satu biskuit ke arah Fang.

Pagi itu Fang bersyukur karena rasa biskuit Yaya membaik dan ia hanya perlu berbagi biskuit dengan si pembuat dan adiknya. Huh, salah sendiri yang lain menolak ajakan Yaya.


Tadi malam buat seperti ini:) Mungkin bisa dibaca dulu/juga ceritaku satunya yang berjudul 'Something and Someone'.