Todoroki Shoto, 30 tahun, waktu itu sedang duduk di dalam pesawat Airbus a350. Pesawat itu merendah menyusup awan hendak mendarat di Bandara Frankfurt am Main. Jerman sedang memasuki musim gugur, pemandangan nampak suram karena berkurangnya sinar matahari perlahan-lahan. Shoto memperhatikan para teknisi seperti semut, bendara berkibar di puncak menara komunikasi, papan iklan BMW keluaran terbaru sekaligus ucapan selamat datang dalam bahasa Jerman.
Ada dua alasan Shoto ke Jerman. Pertama untuk menghindari ocehan ayahnya yang terus mendesaknya menikah, kedua tugas negara yang ikut dalam program pelatihan antara komunitas pahlawan kedua negara. Dia beruntung mendaftar dalam program ini meski ayahnya mengatakan itu sia-sia. Setidaknya aku punya alasan jelas bepergian daripada lama-lama di Jepang. Rencananya Shoto akan menetap selama tiga bulan, dan jika proposal nya disetujui komisi, awal tahun depan dia akan bertolak ke Australia.
Ketika pesawat melandas, lampu tanda larangan merokok padam, dan dari pengeras suara di langit-langit mulai mengalun lembut lagu berbahasa jerman setelah pemberitahuan singkat pramugari bahwa pesawat telah mendarat sempurna dan lain sebagainya. Shoto tidak terlalu memperhatikan karena sibuk memandang dari jendela.
Shoto menutupi wajah dengan kedua tangan, dan tetap seperti itu. Dia suka ketika campuran panas dingin dari kedua telapak tangan itu bertemu. Tak lama dia merasakan sentakan lalu menemukan pramugari jerman berada di sampingnya bertanya dengan bahasa inggris, apa dia mual. Tidak, hanya sedikit pusing, jawab Shoto.
"Anda yakin?"
"Ya. Terima kasih."
Pramugari itu tersenyum sambil berlalu, sementara musik masih terus berputar. Shoto menengok ke atas memandang awan kusam yang menggantung di langit Frankfurt, merenungkan segala penyesalan dalam perjalanan hidup Shoto yang dingin. Waktu yang berlalu. Orang-orang yang silih berganti dalam hidupnya. Dulu Shoto pernah mengalami musim semi, tapi itu singkat dan langsung ditelan musim dingin abadi sampai sekarang. Perasaan yang awal dia pikir baik-baik saja namun kini seperti racun yang dia minum sukarela.
Pesawat berhenti sempurna, para penumpang melepaskan sabuk pengaman, mulai menurunkan tas, jas, dan bawaannya dari kabin, sementara Shoto malah bertualang ke stadium olahraga Yuei, dia bisa merasakan semangat remaja yang berusaha menarik perhatian, menujukan siapa yang terbaik dan ikatan pertemanan dalam kerja sama tim. Waktu itu malam hari setelah keriuhan Hero Billboard Chart JP ke lima puluh. Saat itu dia berusia 25 tahun.
Pramugari yang tadi kembali menghampiri, lalu duduk di samping Shoto dan bertanya sudah tidak apa-apa? "Terima kasih, saya baik-baik saja. Hanya terkenang masa lalu," kata Shoto tersenyum.
"Memang musim gugur itu punya kekuatan untuk mengenang memori. Baik atau buruk kita tidak bisa memisah nya. Aku juga kadang seperti itu kalau lama-lama memandangi awan," katanya mengangguk, lalu berdiri dan memalingkan wajahnya yang mengingatkan pada temannya Uraraka, cantik dan ramah. "Semoga perjalanan Anda menyenangkan. Auf Wiedersehen."
"Auf Wiedersehen."
Meskipun sudah lima tahun waktu berlalu, Shoto masih bisa mengingat dengan jelas situasi stadion Yuei waktu itu. Suasana redup yang hanya disinari beberapa lampu. Udara dingin malam karena akan memasuki masa musim gugur. Kesunyian aneh yang banyak digosipkan sebagai horor oleh anak-anak remaja. Shoto memasuki stadium dan menemukan Izuku duduk di salah satu kursi penonton dekat lapangan. Shoto bahkan masih ingat baik apa yang dipakai Izuku malam itu, kostum pahlawan nya dan lilitan syal rajutan yang dibuat bibi Inko penuh kasih seorang ibu. Dia sendiri juga punya syal yang sama, tersimpan rapi dalam kotak di atas lemari kamarnya yang tidak pernah dibuka sejak itu. Warnanya merah putih sama seperti warna rambutnya. Milik Izuku hijau dengan ujung kuning.
Itu adalah titik yang paling dibenci Shoto, karena saat itulah Shoto memahami kalau dia adalah seorang pengecut.
.
Shoto sama sekali tidak bisa memahami makna event Hero Billboard Chart JP. Baginya acara ini hanya ajang untuk pamer, mencari perhatian dan segala sisi gelap kehidupan glamor dunia pahlawan yang dikemas begitu cantik. Setidaknya dalam satu ini, Shoto setuju dengan ambisi Hero killer Stain. Sebagai pahlawan (mungkin belum karena waktu itu dia belum punya lisensi) yang berhadapan langsung dengan si penjahat dan menangkapnya, Shoto paham betul dibanding orang-orang yang hanya menontonya dari laman YouTube.
Pahlawan pro akan mendapatkan undangan (dibuat dari kertas mutu terbaik dan hanya disebarkan pahlawan peringkat 125 ke atas dan sidekick para hero undangan), untuk kali ini lebih istimewa, karena ada ucapan pribadi dari perdana menteri karena peringatan ke lima puluh event. Undangan akan masuk melalui karpet merah, disambut jepretan kamera dan para wartawan yang menyodorkan mik berharap satu dua kata dari pro (berharap yang menjawab calon peringkat sepuluh ke atas yang sebelumnya informasinya sudah bocor). Pahlawan pro yang baru datang ke event seperti ini akan gugup dan berusaha menjawab semua pertanyaan wartawan meski petugas keamanan komisi sudah berusaha melerai. Pahlawan pro yang berkali-kali diundang tahu cara beretika. Mereka akan menguarkan sedikit kata-kata (seperti motivasi, rencana setahun ke depan, pendapat kondisi terkini) yang sengaja dilakukan agar melahirkan lebih banyak opini. Shoto sudah tiga kali datang ke event ini namun tidak seperti para pemula, dia bersikap tenang. Pertama karena pribadinya sudah seperti itu kedua karena nama besar ayahnya sebagai pahlawan pro nomor satu.
Tanpa acara semacam itu, Shoto sudah banyak mendapat sorot perhatian dari media.
Dia bisa saja kembali ke hotel karena acara utama sudah selesai. Pro hero Shoto, pahlawan peringkat 15. Prestasi yang tidak secepat Hawks, tapi wajar untuk anak pahlawan pro nomor satu. Bahkan banyak opini berhembus tahun depan akan jadi debut pertamanya untuk masuk lingkaran sepuluh besar. Secara resmi Shoto adalah yang paling tinggi diantara angkatannya, menyusul Uravity di posisi 17, Tsukuyomi di posisi 19 dan Ground zero di posisi 20 (Shoto sempat melihat tatapan iblis Bakugo saat menerima peringkatnya, dia mungkin akan meledakkan sesuatu jika mentor Bakugo, Best Jeanist tidak bertindak lebih dulu).
Setelah gala event utama selesai, pahlawan pro akan berkumpul di lounge bertemu dengan sesamanya atau sponsor yang bersiap memberikan banyak dana untuk agensi. Ada juga beberapa perwakilan perusahaan pengembang kostum dan peralatan pendukung dengan banyak sketsa yang disodorkan untuk menarik minat pro mau mempromosikan produk mereka. Orang-orang penting dari segala kedudukan juga ada disini. Setidaknya lounge adalah satu-satunya tempat yang dilarang dimasuki oleh wartawan pemburu berita (mungkin juga gosip).
Shoto duduk di salah satu kursi menikmati jamuan makan malam. Dia beruntung memiliki kemampuan tenggelam dalam sebuah pesta. Meski nama dan wajahnya terkenal, dia tidak kesulitan mengubur diri dari kerumunan. Shoto tidak mengacuhkan laki-laki setelan hitam yang kelihatannya dari salah satu perusahaan pengembang. Dia menyembunyikan wajahnya di balik koran fashion (koran hero akan mengundang kecurigaan) supaya orang tidak dinginkan itu tidak melihatnya.
Shoto menemukan Uraraka tertawa bersama dengan Atsui, Ryukyu dan seorang wanita berambut lavender yang dia ingat juga lulusan Yuei. Kelompok wanita kecil itu lalu didatangi salah satu suruhan perusahaan dan beberapa sponsor (mereka secara khusus mengincar Uraraka) yang dengan sopan dan bijak Ryukyu mengajak teman-teman perempuannya untuk menghindar. Ada pahlawan baru yang kelihatan gugup ketika berbincang dengan salah satu pejabat, selebihnya Shoto menunggu bosan. Ayahnya ada di tempat lain bersama orang-orang lebih penting. Gemerlap dunia pro yang sudah dia tahu tapi tetap membuat kepalanya pusing.
Dia mungkin tidak akan datang, sama seperti yang dia lakukan tahun-tahun lalu. Shoto sudah berniat pergi ketika namanya dipanggil, menoleh dia melihat Yaoyarozu. Perempuan itu tidak banyak berubah sejak kelulusan, tetap menjaga bentuk rambutnya. Kostum nya hanya berubah sedikit menyesuaikan mode (perempuan memang lebih cepat menanggapi mode fashion).
"Aku terkejut kamu bisa menghindari orang-orang itu, boleh aku duduk bersamamu?"
"Tentu," Shoto sedikit bergeser. Memberi tempat wanita itu. Dia mengambil beberapa kue-kue manis di atas lapik dan segelas anggur putih. Shoto mengamati dan selalu kagum dengan keanggunan Yaoyarozu.
"Kamu sendirian?" tanya Shoto. "Kalau tidak salah kamu tadi bersama Kamui Wood."
"Oh, dia sedang bertemu dengan perusahaan yang sudah lama mendesain kostumnya. Dia ingin aku pergi berkeliling dan berbincang dengan teman-teman, tapi rupanya semua sibuk dengan urusan masing-masing."
"Gala memang tidak pernah bisa membuat kita santai. Selalu ada saja yang bisa dilakukan."
"Kamu sendiri kelihatan santai."
Shoto tersenyum, dia meraih gelas dan meminumya sedikit. "Kamu tahu sendiri, sebisa mungkin aku jauh dari ayah."
Yaoyaruzu terkikik. "Bagaimana kabar bibi Rei? Kak Fuyumi dan Natsu?"
"Ibuku akan pulang bulan depan."
"Itu hebat! Aku senang mendengarnya."
"Terima kasih… kak Fuyu sedang mengambil kuliah lanjutan studi Quirk, tahun depan dia akan bergabung Komisi penyuluhan penyalahgunaan Quirk. Natsu, mungkin akan menikah tahun depan juga."
"Kalau begitu semua baik-baik saja."
"Ya."
Keduanya lalu diam. Shoto mengalihkan pandangan dan melihat-lihat suasana sekitar. Malam semakin larut namun keramaian tidak kunjung pudar. Mungkin karena tahun ini lebih spesial? Shoto menemukan beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Bahkan meskipun tanpa wartawan, pahlawan pro sendiri punya kebiasaan bergosip.
"Bagaimana kabar Touya?"
Shoto tidak langsung menjawab. Matanya menemukan pemandangan menarik yang ajaib tidak diperhatikan orang-orang ketika tangan Uraraka ditarik Bakugo lalu mereka menjauh. Selintas bayangan pusat rehabilitasi dan wajah dingin dari sosok yang dulunya kakak tertua menembus batas dan muncul di depan matannya. "Baik, dia masih tidak mau melihatku dan ayah tapi kakak dan Natsuo sering menjenguk."
"Dia pasti akan kembali. Meski apa yang dilakukannya dulu mungkin tidak termaafkan, dia akan mendapatkan kesempatan."
"Ya… karena ayah pahlawan pro nomor satu."
Mendadak suasana menjadi canggung. Dia merutuki diri sendiri karena kegagalannya dalam bersosialisasi, bahkan setelah tiga tahun hidup di keramaian kelas 1A, magang dengan beberapa pahlawan pro, Shoto selalu tampil dingin.
"Apakah Kamui Wood memperlakukanmu baik?" tanya Shoto.
"Ya, dia baik. Agensi berniat menambah beberapa sidekick agar jangkauan patroli kami lebih luas. Kami juga—"
"Bukan itu maksudku, apakah hubungan kalian berdua baik?"
Wajah Yaoyaruzu memerah. Dia memalingkan sejenak lalu minum sampai habis. Shoto mengambil gelas dari tangannya dan meletakkannya di atas meja. Shoto mengamati senyum tipis di bibirnya. "Ya, kami berencana akan mengumumkannya tahun depan."
Shoto tidak langsung menjawab. Sebagai mantan pacar Yaoyaruzu mungkin reaksi yang harus ditunjukkannya adalah emosi negatif seperti komik yang dibaca kakak perempuannya. Marah, kesal, atau kecewa, tapi bukan itu yang dirasakannya. Ketika melihat Yaoyaruzu tersenyum, dia memang kesal tapi itu bukan perasaan seperti yang dijelaskan di komik-komik. Dia kesal karena dia bodoh membiarkan perempuan sebaik Yaoyaruzu harus bersamanya sebagai seorang kekasih. Lalu saat dia mengatakan akan mengumumkan hubungan mereka tahun depan, ada perasaan kelegaan seakan beban di punggungnya hilang satu.
"Jangan pedulikan media, kalian berdua pasangan yang serasi. Kalau butuh bantuan dengan media pencari sensasi bilang saja padaku."
"Tenang saja Shoto, hal kecil seperti itu tidak akan menghalangi kami. Apapun yang dikatakan media biar saja, bahkan jika peringkat kami turun kami tetap bisa berpatroli. Mana mungkin setelah melawan liga kita malah kewalahan menghadapi media."
"Kamu akan bahagia. Maaf aku laki-laki buruk untukmu."
"Tidak. Akulah yang bodoh memaksakan diri untuk cinta konyol seperti itu. Padahal aku paham betul kamu tidak pernah melihat orang lain selain Midoriya."
Shoto tercengang, wanita di sampingnya tidak memandangnya. Dia menatap lurus ke depan. "Kupikir saat kamu menerimaku, apa yang kurasakan waktu itu hanya kebodohan karena kamu dan Midoriya lengket sekali. Tapi empat tahun kita pacaran, aku menyadari dan akhirnya bisa memahami mu Shoto. Aku bukan orang yang pantas di sisimu. Tapi kuharap aku selalu bisa jadi temanmu."
"Kemu teman terbaik."
"Terima kasih. Dan mungkin ini nasihat dari teman terbaik. Berikan waktu, aku sendiri tidak tahu tapi setelah kematian Shigaraki, Midoriya menyimpan sesuatu. Mungkin dia tidak bisa mengatakannya atau belum siap mengatakannya. Beri dia kesempatan."
Ada samar-samar suara teriakan Bakugo. Menjadi teman sekelas tiga tahun membuatnya hapal salah satu bunyi di antara keramaian lounge.
"Aku takut, Izuku tidak melihatku seperti itu. Aku takut diriku sendiri terlalu pengecut untuk memberitahu."
Kamui Wood memanggil Yaoyaruzu. Pahlawan pro nomor 6 itu adalah laki-laki misterius yang banyak menarik perhatian media, tapi sedikit sekali orang-orang tahu seperti apa identitas laki-laki itu. Yaoyarzu bangkit dan bersalaman dengan Shoto. Dia membisikkan tanggal pernikahan mereka sebelum wanita itu berjalan ke arah Kamui Wood. Si pro kayu, mengangguk sopan ke Shoto lalu keduanya menghilang.
.
Mungkin benar yang Yaoyaruzu ucapkan, bahwa Izuku perlu waktu. Setelah Shigaraki ditangkap dan tiga tahun lalu beru menerima eksekusi nya, seperti topan, Izuku berubah total. Bohong jika Shoto adalah pertama di angkatannya yang berada di puncak. Jauh sebelum itu Izuku sudah menorehkan prestasi. Baru saja satu tahun lulus, di usianya ke 19 Izuku menduduki peringkat 15, setahun berikutnya naik ke 13 dan bertahan selama dua tahun. Shoto yakin Izuku akan mengikuti jejak Hawks sebagai pahlawan muda yang masuk lingkaran sepuluh besar. Bahkan Shoto sudah lebih dulu mendapat bocoran kalau waktu itu Izuku akan naik ke peringkat 9, satu peringkat di belakang Lemillion. Tapi Izuku tidak pernah mengambil kursinya. Dia tidak hadir ke gala dan malah menyatakan vakum karena pergi ke Amerika (Shoto mendapatkan informasi ini dari mulut All Might langsung).
Shoto pikir Izuku hanya pergi beberapa tahun. Bagaimanapun juga di Jepang Izuku memiliki orang-orang yang mengidolakan nya, termasuk dia sendiri. Tapi rupanya seperti kejadian festival olahraga tahun pertama ketika Izuku mendorongnya untuk lepas dari penjara kebencian Endeavour. Izuku kembali ke jepang, tapi tidak pernah lagi terlihat di dunia pahlawan pro. Komisi hanya mengatakan kalau Izuku menyatakan pensiun dini.
Semuanya tidak masuk akal. Izuku yang dia kenal tidak mugkin membuang impian besarnya. Tapi dia tidak bisa memiliki informasi lain. Bahkan All Might memilih bungkam dan hanya mengatakan Izuku baik-baik saja. Lalu malam ini, tahun ini juga Izuku tidak muncul.
Ponselnya berdering. Shoto tidak mengangkatnya. Itu Cuma dering pesan. Lalu dering kedua muncul dan akhirnya Shoto mengangkatnya, dia tidak mau ayahnya (meski sudah lebih baik) merecoki nya dengan merajuk seperti anak kecil karena mengesampingkan pesannya.
Nomor tak dikenal, pikir Shoto. Awalnya dia hendak menaruh kembali ponsel itu ke dalam saku. Namun ketika sebaris pesan muncul dalam kotak kecil notifikasi, tiba-tiba saja darahnya berpacu cepat
(Nomor asing)
Selamat Todoroki-kun! Peringkat 15 itu keren.
Aku sudah lihat aksi penyelamatanmu di Shinjuku itu. Membekukan bagian yang terkena ledakan bom. Bahkan kamu mempertahankannya sampai petugas pemadam berhasil mengevakuasi pegunjung. Daya tahan es mu jauh lebih meningkat dari terakhir, aku juga lihat aksimu dengan api itu. Kamu sudah sepenuhnya menggunakan semua kekuatanmu. Kamu hebat!
Tangannya bergetar. Ponsel itu nyaris jatuh kerena keringat di sisi tangan kirinya, padahal sisi itu adalah sisi dingin yang jarang mengeluarkan keringat. Tapi dua pesan dari nomor tidak dikenal merubah perasaan Todoroki tiba-tiba.
Mendadak Todoroki menjadi bodoh karena tidak bisa membuka ponsel. Selama semenit dia kebingungan.
(Todoroki)
Kamu dimana?
Apa kamu datang ke gala?
Bisakah aku bertemu dengan mu?
Pesan itu tidak langsung terbalas. Mungkin ada lima belas menit dan selama itu Shoto hanya menatap ponselnya. Seakan dunia akan putus kalau dia memalingkan sedetik.
(Nomor asing)
Aku ada di Yuei bersama Kouta-kun, kami berdua di stadion A….
Kamu ada di gala kan? Bukannya acaranya masih berlangsung?
(Todoroki)
Acaranya sudah selesai. Aku akan kesana.
Shoto langsung meninggalkan gala. Dia tidak menghiraukan orang-orang. Karena dia paham betul gala, Shoto menggunakan pintu belakang yang sering ayah gunakan dulu. Todoroki mencegat taksi dan menyebut Yuei tanpa berkata lagi. Dia membuka ponselnya dan menemukan pesan singkat dari Izuku.
Boleh.
.
"Kouta benar-benar hebat. Mirip Kacchan dan kamu, bahkan seingatku Waterhouse tidak bisa melakukannya," ujar Izuku. Meski sudah berusia 27, dia tetap Izuku yang canggung dan mudah tersipu. Saat dia bicara, dia seperti fanboy. "Coba kupikir, kalau saja ada program akselerasi, mungkin Kouta bisa masuk, kemampuannya sekarang sudah cukup untuk masuk ke kelas dua. Kupikir dia bisa. Aku juga sudah meminta Hatsumei-san untuk merubah desain kostumnya. Beberapa tambahan senjata serangan jarak jauh yang mengandalkan Quirk, oh apa kau tahu kalau Jerman sudah membuat teknologi Adamant V7? Itu desain terbaru yang membuat kostum lebih ringan untuk tipe air seperti Kouta. Bagaimana menurutmu Todoroki? Apakah dia cocok bekerja di pahlawan afiliasi bencana atau pertempuran? Dan Ah—"
Ketika dia menjadi fanboy, Shoto merasa dirinya bukan lagi manusia es. Seakan ada api unggun yang menghangatkan. "Maaf, aku keceplosan."
"Aku tidak tahu banyak tentang bocah itu." Shoto melihat siswa Yuei dengan seragam olahraga berlatih dengan beberapa robot di arena. Bagaimana Izuku memiliki akses di Yuei (tadi Shoto sempat bersitegang dengan Hound Dog) itu misteri. "Tapi kupikir Yuei bukan sekolah bodoh kalau dia termasuk top. Kamu sendiri sudah menceritakan ide mu dengannya?"
"Ya, dia bersemangat sekali."
"Tentu, dia bocah yang kamu selamatkan. Dia memujamu seperti kamu memuja All Might."
"Ya…, Aku senang dia mau berubah tentang cara pandangnya soal dunia kita. Maksudku aku paham bagaimana rasanya ditinggalkan, tapi perasaan seperti itu tidak akan mengubah apa-apa."
"Kamu memang punya kekuatan untuk itu. Aku sendiri berpikir dengan bicara dengan Touya semua akan kembali seperti dulu. tapi bahkan dia sendiri tidak mau melihatku."
Shoto tidak menoleh untuk melihat wajah Izuku, itu tidak perlu. Dia bisa merasakan tatapan menusuk dari iris hijau. Itu tatapan yang sama saat mendobrak brankas besi yang menyimpan hatinya yang beku. Jauh di lapangan, Kouta masih terus melatih Quirknya. Dia sekilas berhenti dan melihat ke tribun. Lalu kembali sibuk dengan latihannya. Robot-robot yang keluar dari sebuah lorong gelap sudah berakhir, tapi rupanya latihan masih berlanjut. Kouta mengambil sesuatu dari sakunya dan detik berikutnya robot-robot kembali muncul. Udara bulan oktober mungkin belum sedingin desember, tapi cukup menggelitik dan membekukan tulang. Anak yang Todoroki kenal menendang organ intim Izuku itu seakan tidak peduli cuaca. Mirip dengan brokoli hijau di sampingnya.
"Mungkin Da-maksudku Touya tidak akan bisa lari dari hukum. Seberapa besar pengaruh Endeavour, hukum ada di wilayah kepolisian. Tapi dia tetap saudaramu dan kalian satu keluarga. Meski pada akhirnya buruk, setidaknya sebelum itu terjadi kamu harus terus barada di sampingnya. Temani dia."
Shoto tidak menjawab. Dia memperhatikan udara buangan yang keluar dari mulutnya. Dia melihat asap kecil. Dulu dia benci asap dan segala hubungan dengan api.
"Shoto?"
"Terima kasih, meski aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dibanding yang lain aku tidak terlalu dekat dengan kakak tertua. Jadi jujur aku sendiri tidak peduli apa yang akan terjadi nanti."
Shoto diam. Pria di sampingnya juga diam. Hanya ada suara mesin robot dihancurkan.
Izuku berdiri dan memberi arahan serta semangat. Bocah bertopi itu membalas lalu kembali melanjutkan latihan.
"Ada yang ingin aku katakan padamu Todoroki."
"Aku juga."
"Oh, kalau begitu kau duluan."
Biasanya dalam komik, Todoroki akan melempar perkataan sama ke Izuku. Tapi rasannya aneh dan tidak cocok dengan logikanya. "Apa setelah ini kamu kembali? Maksudku ke dunia pahlawan lagi. Jujur saja aku merasa aneh kalau kamu tidak ada di panggung yang sama. Maksudku…" Todoroki terdiam, perkataan barusan rasanya aneh dan terkesan drama. Dia menarik napas. "Aku merasa takut, suatu saat nanti akan mengikuti jejak ayahku. Sejak kamu tiba-tiba menghilang, aku mulai melihat hal-hal aneh. Aku merasa dunia berputar begitu cepat dan aku dipaksa ada di tengah-tengah itu. Aku merasakan kebencian tidak masuk akal yang aku sendiri tidak tahu. Aku putus dengan Momo. Aku selalu ingin pensiun dini bahkan berpikir untuk jadi guru di Yuei. Rasanya menolong orang bukan sesuatu yang pantas aku lakukan."
"Kamu…. Berpikir seperti itu?"
"Ya. Aneh kan?"
Izuku menoleh dan Shoto juga menoleh. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Shoto lalu menatap matanya dalam-dalam.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Tak apa, ini bukan salahmu. Ini Cuma sikap ku yang kekanak-kanakan. Maaf harusnya aku tidak mengatakan hal barusan."
"Tidak, aku senang kamu bisa membuka diri."
Lalu Izuku menceritakan tentang sebuah rahasia. Tentang dirinya yang Quirkless lalu pertemuan dengan All Might dan keajaiban muncul. Tentang quirk yang bisa diturunkan tanpa hubungan darah. Penciptaan One for all. Siapa sebenarnya All for One dan fakta mengejutkan tentang masa kelam Shigaraki Tomura
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kamu menceritakan ini padaku. Itu bukan sesuatu yang bisa diberitahukan."
"Memang, tapi aku pikir aku harus menceritakan padamu. Kacchan tahu, karena dia teman kecilku dan kami tidak bisa membohongi satu sama lain, maksudku dia berusaha mengorek nya jadi aku tidak punya pilihan. Lalu kamu, aku hanya berpikir karena kamu teman baikku dan suatu saat nanti kamu akan jadi pahlawan hebat. Aku percaya padamu Todoroki dan kita juga sudah banyak melawan kejahatan bersama. All Might mungkin tidak setuju, tapi ini Quirkku dan aku tahu apa yang harus aku katakan."
"Aku bukan orang sehebat itu. Aku sudah bilang kan aku sendiri sudah bosan dengan kondisi ini."
"Kamu tidak perlu jadi pahlawan yang tampil di publik, jadi guru juga tugas pahlawan, memastikan generasi baru siap itu juga bukan tugas yang bisa dilakukan sembarang orang."
"Izuku apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Shoto dengan tenang.
"Karena aku akan menghilang, tugasku belum selesai. Di luar sana ada orang-orang seperti Shigaraki, Noumu, bahkan Nine. All For One masih bercokol dan tugasku untuk menyelesaikan itu semua."
"Kamu ingin melawan itu sendirian? Apa kamu gila?"
"Bukan seperti itu," Izuku kini mulai panik. "Aku sudah menceritakan soal One for all kan? Quirk ini berhubungan langsung dengan All For One, ada mekanisme yang sulit kamu pahami meski aku menceritakannya padamu. I-ini sesuatu yang hanya bisa aku lakukan dan tidak boleh orang ikut campur."
"Ini tidak masuk akal! Kau bertindak seolah-olah ini bebanmu. Kau dulu mengatakan kalau teman ada untuk berbagi, sekarang kamu anggap aku apa? Uraraka, Bakugo dan semua pro hero sekarang itu apa!?"
"Kamu tidak mengerti."
"Kalau begitu buat aku mengerti!"
Di situ Shoto bisa merasakan udara membeku. Dia terlalu keras. Dia yakin bocah di lapangan bisa mendengarnya.
"Shoto, kau menyukai ku?
Shoto memandang wajah Midoriya. Pancaran mata yang sama saat menarik dirinya keluar dari kebekuan. Shoto tidak sempat berpikir dari mana Midoriya tahu, semuanya refleks, Shoto mengangguk, "Tentu saja."
"Aku mengerti, bukannya aku menghindar, aku senang kamu punya perasaan seperti itu. Tapi aku bukan yang baik untuk menerimanya, namun maukah kau mendengar setidaknya perhomonan ini?
"Aku bahkan akan mendengar tiga permohonan!"
"Cukup dua. Pertama aku senang kamu punya perasaan untukku, tapi bisakah kamu menunggu sebentar? Aku belum bisa menjawabnya dan maukah kamu memaafkan ku?"
Dua permintaan yang sama sekali tidak berhubungan. Tentu saja menjawab perasaan cinta butuh waktu, dia mengerti. Tapi kenapa Izuku meminta permohonan maaf? Shoto merasakan ketidaknyamanan. Izuku akan lenyap, dia tidak akan kembali. Kata-kata itu bermunculan dan semakin kuat. Shoto selalu percaya pada nalurinya. Tapi ada satu kejadian saat nalurinya salah. Itu ketika pertandingan festival olahraga dan pertarungan melawan Izuku merubah semuannya. Mungkin ini juga naluri yang salah.
Tidak! Ini benar!
"Aku mengerti, aku akan menunggu mu."
"Terima kasih Todoroki."
.
Namun kenangan masa itu perlahan memudar, Shoto sudah terlalu banyak melupakan semuanya. Ketika menelusuri jalan kenangan itu, Shoto merasa galau. Dia menjadi khawatir, kalau serpihan-serpihan itu berserakan. Shoto mengingat janjinya untuk tidak melupakan Izuku, tapi kenangan di stadion itu terlalu jahat sehingga dengan berpikir cukup tahu Izuku sudah menolongnya itu cukup.
Harusnya dia mendengar Momo, nalurinya waktu itu benar.
Tapi bahkan ketika dia sebenarnya sadar betul itu adalah perpisahan dia berpikir semua baik-baik saja.
Lalu saat ketika Kouta lulus anak itu juga menghilang. Mandalay, orang tua asuh Kouta bahkan sampai meminta pertanggungjawaban Yuei karena dia sangat yakin ini ada kaitannya dengan Izuku (baru saat itu Shoto tahu Izuku salah satu staf pengajar di Yuei dan kasus hilangnya Kouta, Shoto juga sangat yakin ini ada hubungannya dengan Izuku yang di waktu sama mengundurkan diri).
Bahkan saat Izuku tidak mencintainya (kasarnya memanfaatkan) Todoroki tetap naif dengan imajinasi di dalam hatinya.
