"Summer Night Dream
Rating: T
Genre: Romance
Warning: Geje, Abal , Typo, Garing, OOC, dll
"A night summer dream"
Hari itu, matahari menyinari kamarnya. Dia memiliki kamar yang cukup besar dibanding servant yang lainnya, matanya masih memperhatikan gumpalan kain dengan warna biru muda. Sedari tadi dia masih terus memperhatikan kain dari pakaian itu. Dia tak menyentuh baju itu, namun mata hijaunya sepertinya terus memperhatikan kain itu. Sambil menghela nafas dia melihat jam di samping ranjangnya.
Pukul dua siang, matahari di luar cukup terik. Sehingga membuatnya semakin ingin duduk di dalam kamarnya. Hari itu juga dia terbebas dari tugasnya untuk mengumpulkan quarts dari masternya. Sambil tersenyum tipis ia memandang langit langit kamarnya dan berbicara di dalam hatinya.
Sudah setahun semenjak dia sampai disini, hari ini master ingin merayakan hari itu bersama dengan para servant lainnya. Tidak terkecuali dirinya, seorang Arthuria Pendragon. Yang merupakan seorang raja, dia terduduk di kamarnya dan menutup bukunya "Pride and Prejudice", dia tersenyum tipis melihat sampul buku yang menampilkan pemandangan kota London dengan tampilan yang lebih modern. Sepertinya buku itu dapat menghilangkan sedikit rasa rindunya pada kota tempatnya berasal.
Dia mencoba membuka pakaian biru yang diberikan oleh masternya dan mencobanya sendiri. Sepertinya master sungguh paham jika dia begitu cantik jika mengenakan warna biru. Dia tersenyum dan menyentuh kaca di hadapannya. Arthuria seorang raja, tapi dia juga seorang wanita bukan? Sesekali dia ingin terlihat cantik. Sepertinya master mengerti perasaannya dan memberikannya kimono dengan motif bunga lily putih, bunga yang begitu sesuai dengannya. Sekilas dia teringat pada masa mudanya. Ah, hari hari itu, saat dia masih muda banyak yang menjulukinya lily. Lamunannya membuatnya melupakan waktu hingga suara music terdengar dari luar yang membuatnya kembali.
Dia segera bergegas membuka jendela kamarnya dan melihat masternya sudah berada di bawah dan melambai padanya. Master sepertinya sudah siap, tak seperti biasanya, master tidak mengurai rambutnya namun mengikatnya menjadi ekor kuda dengan beberapa hiasan kepala. Arthuria segera berteriak dengan kencang menyambut panggilan masternya.
"Master tunggu akuuu… aku akan segera mengganti pakaianku dan menyusulmu~"
Master memberikan jari jempolnya tanda dia setuju mendengarnya. Melihat jawaban dari masternya itupun, tanpa menunggu lagi dia segera bergegas mandi dan mengganti pakaiannya
"AW~ Tama.. sakit…"
Teriakan rintihan dan kesakitan terdengar dari kamarnya. Arthuria benar benar tidak mengerti cara mengenakan yukata. Dia tidak mengerti bagaimana memakai pita besar di pinggangnya hingga Tamamo lewat di dekat kamarnya dan membantunya. Tamamo pun menghela nafasnya dan mengintip wajah Arthuria dari kaca
"Apa bahkan kekuatanku terasa menyakitkan walau hanya mengenakan obi?"
Arthuria terdiam mendengarnya, dia seorang raja yang ikut berperang bukan? Tapi mengapa pakaian pun dapat membuatnya terasa sakit? Ah, mungkin karena dia belum terbiasa menggunakan pakaian semacam ini.
"Tidak, bukan begitu… tapi pakaian ini rasanya sesak sekali…"
Tamamo pun menghela nafasnya dan menatap Arthuria, dia tersenyum manis melihat yukata yang dikenakan oleh sang saber yang ada di hadapannya
"Kimono mu manis, aku suka dengar warna biru mudanya"
Katanya sambil menunjuk pipi Arthuria dan menarik kedua bibirnya. Tamamo tersenyum pelan lagi dan mengingatkan Obi arthuria membentuk sebuah simpul pita menyerupai kupu kupu.
"Nah sudah selesaiii… Kau cantik kalau begini… Bahkan kalau melihatmu begini kau tampak anggun…"
Tamamo menyisir rambut merah mudanya dari kaca yang ada di hadapannya, membuat Arthuria mundur dan memberikan sedikit tempat untuk Tamamo. Dia memperhatikan tamamo dengan yukata biru tuanya, semua sepertinya tampak cantik di hari ini, namun karena Arthuria tidak mengerti banyak hal mengenai Matsuri dia pun bertanya kepada Tamamo
"Ermmm… Tamamo… Biasanya di saat matsuri seperti ini… Apa saja yang kita lakukan hmmm?"
Tamamo tersenyum manis, sepertinya saber sama sekali tidak mengerti apa saja yang akan dia lakukan malam ini. Tamamo pun tertawa pelan dengan wajah isengnya dia membuka topic lain
"Ehem… Pada saat matsuri biasanya banyak anak muda kencan lhooo… Mereka jalan jalan sambil mencari jajan atau makanan lalu… hmmm melihat kembang api bersama… Setelah itu errr… Aku tidak tahu~"
Jawaban tamamo sepertinya cukup dimengerti Arthuria tetapi, errr… Kencan? Dia harus kencan dengan siapa? Sepertinya bahkan sampai saat ini pun dia selalu menutup dirinya untuk urusan romance. Dia memijit pelan kepalanya, sepertinya dalam urusan ini dia kurang berpengalaman. Tamamo pun melihat Arthuria
"Eh? Kau kenapa? Sakit ya? Atau… Ah~ Kau butuh bantuan untuk kencan?"
Tamamo kembali tersenyum dengan iseng, tapi kali ini sepertinya dia memang berniat untuk membantu Arthuria. Dia menepuk pundak Arthuria berkali kali untuk memberikannya semangat
"Ayolah Arthuria, kau ini cantik lho~ Masa tidak ada yang mau denganmu hmmm? Ayo kita berangkat…"
Tamamo segera menggandeng Arturia dan membuatnya berlari dengan pelan selagi ia kembali merintih dan mengeluh karena rok yukatanya yang membatasi gerakannya.
"Hei, sepatu macam apa ini? Kenapa sakit sekali…"
Artoria kembali mengeluh pada Tamamo, dia menciutkan bibirnya dan menatap Artoria sambil meletakkan tangannya di pinggannya.
"Ayolah, kau salah satu saber terkuat ternyata tidak bisa berjalan dengan geta ya? Mungkin kau butuh bantuan untuk di gendong ya?"
Artoria sedikit kesal mendengarnya, namun Tamamo hanya tersenyum dan mendorongnya pelan
"Yasudah kita jalan pelan pelan saja yaaa…"
"ARTHURIAAAA…"
Master menyambutnya dengan bahagia, selagi dia membawa banyak makanan di tangannya, belum lagi dengan takoyaki dan topeng dengan gambar mashu yang dia gunakan di kepalanya.
"Ma Master?"
Master mengangguk pelan dan kembali memakan takoyakinya, namun kali ini dia meyodorkan makanannya pada artoria. Sepertinya dia menawarinya untuk memakan takoyaki miliknya, namun pada saat Artoria mendekat dan ingin memakannya, ia malah menariknya dan memakannya sendiri
"Ah… Maafkan aku master"
Dia meminta maaf dengan lembut lalu ia malah memasangkan sebuah topeng dengan wajah nya sendiri di kepala artoria, dia dan tamamo tampak tertawa bahagia melihatnya
"Ahahah kau lucu pake itu artoria… Dan ini ambil takoyakinya… Aku tau kau suka jajan bukan?"
Master tersernyum dengan lembut dan menggandengku dan Tamamo, dia membawa kami pergi berputar dan bermain menyusuri banyak stand dan yang menarik perhatianku adalah CuChulain dan Schatach yang membuka stand gulali. Tanpa menunggu Master pun segera mengunjungi mereka dan bertanya berbagai hal pada mereka. Sementara aku lebih memilih untuk makan gulali yang diberikan oleh master padaku.
"Nah, Artoria… Tamamo… sekarang temani aku…"
Kata kata master terhenti saat ia mendengar suara yang cukup familiar sedang berteriak satu dengan yang lain. Tanpa menggu aba aba, kami bertiga segera mengarahkan mata kami pada dua orang yang sedang bertengkar satu dengan yang lain. Tidak lain mereka adalah Karna dan Arjuna, kakak adik yang paling terkenal karena sering bertengkar satu dengan yang lain. Tanpa menggu lama, master segera mengambil tindakan. Dia segera memberikanku seluruh jajan yang dia bawa di tangannya dan mengejar Arjuna dan Karna
"Arthuria, kau bisa pergi sendiri sebentar ya… Aku akan mengerus mereka"
Tak lama seterlah itu master pun menghilang di tengah kerumunan dan Arthuria tak dapat melihatnya lagi. Dia hanya dapat menghela nafas dan melanjutkan berjalan perlahan sambil menghabiskan makanan yang diberikan oleh master yang sekarang ada di tangannya, dia berharap master tidak akan marah kalau semisalnya nanti dia lupa dan memakan makanannya.
Arturia berlajalan dan mengelilingi seluruh tempat disana hingga dia memperhatikan sebuah kedai, dia memperhatikan bangunan itu, khususnya pada bagian atas. Sepertinya ada orang yang memperhatikannya dari jauh. Tapi mungkin itu perasaan dia saja, Arthuria kembali berjalan perlahan dan bermain dengan senapan untuk mendapatkan hadiah pada sebuah stand. Namun ada sesuatu yang menganggunya.
"Aduh… Sa sakit… maafkan aku kak…"
Seru seorang anak kecil dengan rambut pirang dan yukata kuning yang menabraknya. Arthuria mengalihkan pandangannya ke bawah dan melihat sosok yang menabraknya, yang tidak lain masihlah seoang anak kecil. Dia tersenyum tipis dan berlutu pada anak itu untuk membalasnya.
"Selamat malam dik… Kamu tersesat ya? ORang tuamu dimana?"
Anak bola mata merah anak itupun memperhatikan Artoria sambil tersenyum dan membawa sebuah permen di tangannya. Sepertinya dia tidak tersesat tapi sedang bermain sendirian dan kesepian.
"Ahahaha aku ga pergi sama orang tua lho kakak cantik… Aku pergi dengan kakakku, tapi tidak bisa masuk kesana karena isinya orang dewasa semuaaa…"
Anak itu menunjuk pada kedai minuman yang sedari tadi Artoria perhatikan. Sepertinya memang ada panggilan baginya untuk masuk kesana. Entah apa yang akan ditemuinya disana, Atoria pun memberikan tangannya seolah dia akan menggandeng anak itu sambil tersenyum tipis dan memberikan sedikit gulalinya
"Hmmm… memangnya kakakmu suka mabuk ya?"
Anak itupun menggelengkan kepalanya sambil menikmati permen yang diberikan artoria padanya. Anak itu benar benar manis, sayang sekali kakaknya membiarkan anak ini berkeliaran sendirian seperti ini. Artoria pun membelai kepala anak itu, dia memberikan tangannya dan menggandengnya
"Ayo kita masuk kedalam, aku akan mencari kakakmu…"
Arthuria menyusuri koridor panjang berwarna merah di lantai 2. Berbeda dengan lantai 1 yang benar benar ramai, disana sangat sepi. Apa anak ini sedang mengerjainya? Begitulah pikirnya selagi ia melewati lorong panjang dengan tirai berwarna merah, hingga di sebuah ruangan ada cahaya dengan warna kekuningan, anak itu dengan penuh semangat segera masuk kesana dan berteriak dengan kencang
"Kakak aku kembali"
Sepertinya Artoria, sudah mengantarkan anak itu pada kakaknya. Dengan begini tugasnya untuk menjaga anak itu sudah selesai namun ada sebuah suara yang memanggilnya dari kejauhan. Suara dengan nada yang berat itu menggelitik telinganya dan membuatnya menolehkan iris hijaunya untuk menatap kakak dari anak yang baru saja dia antar
"Oh… ternyata My Queen yang mengantarkan adikku… Kau ingin duduk sebentar denganku di dalam?"
"Tidak Gil, aku ingin pergi… Ada sesuatu yang harus aku kerjakan"
Arthuria menjawabnya dengan dingin, anak kecil dengan mata merah itupun mendekatinya dan menarik pelan tangan Artoria seolah dia ingin membuatnya tetap tinggal disana. Dia menggenggam tangan Artoria dengan senyumannya, Artoria membatalkan niatnya untuk pergi meninggalkan anak itu disana
"Ayolah Kakak.. Anggap saja hadiah karena mengantarku kemari… Eheheheh lagipula kalau tanpa bantuan kakak aku tak mungkin sampai kemari…."
Arthuria menghela nafasnya dan mengangguk pelan. Sepertinya dia menerima tawaran Gil hanya karena anak manis yang memohonnya untuk tetap tinggal disana.
"Baiklah, tapi hanya sebentar saja…"
Anak itu pun segera menggandengnya dan membawanya masuk pada ruangan merah, ruangan itu mewah, malah bisa dibilang sangat mewah. Dari atas sana dia bisa melihat ke bawah dan memperhatikan seluruh Chaldea yang sedang berpesta, belun lagi cendela besar yang menghiasi ruangan itu. Ruangan itu sepertinya tidak menyerupai sebuah ruangan di restoran, melainkan sebuah kamar tidur yang mewah. Artoria yang penasaran itupun segera melayangkan pertanyaannya kepaga Archer yang sedang menuang arak di hadapannya.
"Gil? Kau dan Adikmu tinggal disini berdua? Aku bahkan tidak tahu kalau master sudah memanggilmu kemari."
Gil tidak menjawabnya, dia hanya menuangkan araknya pada sebuah cawan kecil kemudian duduk di dekat jendela. Tangannya member kode seolah menyuruh artoria mendekat padanya. Artoria masih memandang Gil dibalik tirai di dekat jendela. Sepertinya dia masih agak ragu untuk mendekati Gil, namun berbeda dengan bocah yang sedari tadi memperhatikannya. Tanpa menunggu lagi anak itu segera menggandeng tangan Artoria dan membawanya kearah balkon
"Kakak… Ayo ikut aku… Ehehehehe… Kakakku memang terlihat seram tapi dia baik kok.."
Dengan senyumannya dia menggandeng Artoria membuanya bertemu dengan Gil, kakaknya. Tidak seperti biasanya, dengan armor emas nya itu, Gil sungguh berbeda di hadapannya kali ini. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan menggunakan Yukata kuning pucat, sepertinya dia memakainya dengan berantakan sehingga membuat tatto di tubuhnya terlihat.
"Ada apa My queen? Senang melihatku hari ini?"
Namun sifat sombongnya itu tidak pernah berubah, dia selalu memanggilku seperti itu. Aku heran, bahkan hingga sekarang dia masih mengejarku. Namun aku tidak bisa menolaknya dengan kasar, terlebih lagi sekarang ada adiknya yang sedang menggandengku.
"Tidak juga, lagipula aku kemari hanya karena permintaan adikmu yang menyuruhku menemaninya…"
Gil tersenyum melihat Artoria, dia memberikan sedikit tempat di sampingnya dan menepuk bantal di sampingnya. Sepertinya dia mengisyaratkan Arturia untuk duduk di sampingnya. Kali ini tatapannya tidak se sombong biasanya. Dia tampak lebih lembut, mungkin karena mereka tidak sedang berada di medan pertempuran.
"Duduklah my queen…"
Arthuria sedikit ragu untuk duduk di sebelahnya, tetapi anak itu mendekat padanya dan duduk di sebelahnya. Setidaknya anak itu akan membuatnya terasa sedikit lebih nyaman karena sepertinya kalau dia berdua saja dengan Gil itu berbahaya.
Gil menyodorkan araknya ke arah artoria. Dia meletakkan cawan yang berisi arak di dekat kayu tempat mereka duduk. Sementara anak itu terus berada di samping Artoria sambil memakan permennya. Artoria memandang cawan yang berisi arak yang ia biarkan saja berada di kayu. Hingga suara Gil memecah keheningan.
"Minumlah my queen… Aku tak memberikan apapun di dalam minumanmu… Apa mungkin kita perlu menukar gelas? Jika kau tidak percaya?"
"Oneechan, kakakku baik kokk… Ermmm kakak aku mau minta itu jugaaaa…"
Reaksi wajah dari Gil seketika berubah, dia sedikit lembut menatap adiknya selagi dia menutup botol sakenya. Dia segera mencubit pipi adiknya yang masih saja ada di belakangku dan bersembunyi di balikku, berharap aku melindunginya dari kakaknya atau malah aku mengijinkannya minum sake. Tapi aku tentu saja tidak akan mengijinkan dia, walau aku tau anak ini pasti punya rasa penasaran yang tinggi.
"Ko Gil, minuman seperti ini tidak pantas buatmu. Kau minum saja Susu coklatmu…"
Aku tau maksud dari Gil memang baik, tapi kasihan juga kalau melihatnya sedikit keras pada adiknya. Lagipula bagiku, adiknya bisa dibilang cukup manis. Dia terlihat sangat berbeda dengan kakaknya, adiknya jauh lebih lembut dan ceria bahkan dia sama sekali tidak sombong seperti kakaknya. Sayang sekali, seandainya dia punya adik semanis itu, pikir Arthuria selagi dia memandang Gil Kecil di sampingnya
"Ko Gil, kemari… Aku tau kau penasaran kan? Tapi kau belum cukup besar untuk minum… Mengerti kan?"
Ko Gil hanya mengangguk pelan dan menempel pada Arthuria, sepertinya dia cukup manja pada Arthuria. Tapi dia membiarkan ko Gil untuk terus memeluknya selagi ia duduk manis dan mengambil cawan sake dan meminumnya. Artoria mengusap pelan kepala Ko Gil dan menatap Gil
"Aku baru tau kau ada adik semanis ini… Sayang sekali aku jarang bertemu dengannya…"
"Kau suka dengan Ko Gil? Kalau begitu kau bisa kemari buat mengunjunginya…"
Seketika Artoria mengalihkan pandangannya pada Gil seolah dia terkejut. Dia menatap dengan penuh rasa curiga dan tidak percaya. Namun Ko Gil terus saja disampingnya dan mendekatinya kemudian membuka suaranya
"Iya oneechan… Ehehehe sesekali bermain denganku disini… aku sering kesepian kalau kakakku sedang pergi…"
"Baiklah aku akan kemari sesekali kalau kau kesepian. Tapi aku kemari bukan untuk mengunjungimu Gil…"
Artoria sedikit menekankan pada kalimat akhirnya. Gil yang mendengarnya pun tertawa dengan lembut. Tidak seperti biasanya, namun raut wajah arrogan itu masihlah tampak darinya. Dia menyeringai pelan dan kembali membalasnya
"Kalaupun kau mau kemari dan mengunjungi ku pun aku tidak masalah… My Queen… Kan memang menjadi tugasmu untuk berada di sampingku bukan?"
"Gilgamesh… Sudah, jangan menggodaku terus…"
"Ahahaha oneechan malu yaaa… Wajahnya merah lhooo~~~"
"Ko Gil sudah… A… Bukan begitu…"
"My Queen, kau manis juga"
Pembicaraan mereka terus berlanjut, Artoria tidak pernah merasa sedekat itu dengan Gilgamesh, King of Heroes. Di tempat itu seolah mereka meninggalkan tahta raja mereka dan berbicara dengan santai. Terkadang Ko Gil menggoda Arthuria dan memintanya menyuapinya makanan. Terkadang Gilgamesh sendiri sepertinya cemburu melihat adiknya dimanjakan oleh Arthuria.
Malam pun semakin dingin, Ko Gil yang sedari tadi dengan ceria tertawa itu mulai menguap. Sepertinya dia lelah, dia tidak seperti Gil dengan stamina yang kuat. Mungkin sudah waktnya baginya untuk tidur sekarang. Arthuria yang sedari tadi menjadi tempat bersandar Ko Gil itupun mencoba mencubit pipi anak itu, namun dia hanya tersenyum dan kembali memeluk lengan Artoria. Gil yang melihat itupun mencoba membangunkan ko Gil dengan perlahan namun ia masih tetap tertidur
"Gil, sudahlah biar aku gendong dia ke kamarnya…"
Artoria mulai menggeser ko Gil ke dalam pelukannya, namun lengannya ditahan Gil memandang nya dengan tatapan dingin, dia menggelengkan kepalanya perlahan dan mengangkat Ko Gil dari pelukan Artoria.
"Biar aku yang membawanya, my queen… Kau bisa beristirahat disini sementara aku membawanya…"
Artoria hanya memperhatikan Gil dari kejauhan membawa adiknya pergi dari ruangan itu. Dia hanya duduk diam di dalam ruangan itu sambil memperhatikan seluruh interior di dalam ruangan itu. Semuanya begitu mewah di ruangan itu, karpet sulam, kimono mahal, patung emas, guci, belum lagi dengan seluruh perabotan mewah yang menghiasi ruangan itu. Namun di dalam ruangan itu ada sebuah kaca besar yang memperlihatkan bayangannya dari sana, dia tersenyum pelan menatap pantulan dari kaca. Matanya mencoba memutar ke bawah tempat ia duduk dan melihat keramaian, selagi ia menunggu sang pemiliki kamar kembali
"Senang dengan apa yang kau lihat My Queen?"
Artoria segera mengalihkan padangannya pada pintu kamarnya, bayangan Gil yang mendekatinya tampak jelas dari silouet di kain tipis yang membatasi mereka. Gil mendekatinya dan kembali duduk di sampingnya. Kali ini tidak ada Ko Gil yang menggodanya, Artoria hanya bisa diam dan memilih tidak berbicara pada pria yang ada di hadapannya
"Artoria… Kemarilah… Kenapa kau selalu dingin padaku?"
Gil mencoba menarik dagu sang raja yang sekarang hanya duduk di sampingnya, dengan tatapan lembut dia mencoba menyentuh pipinya dan membelainya lembut. Artoria tau tangan itu selalu memegang pedang dan bertarung dengannya, matanya terpejam pelan mengingat sentuhan lembut itu dalam memorinya.
"Gil?"
Arthuria memanggilnya dengan pelan dan menyentuh jari tangan yang membelai wajahnya. Iris mata hijaunya bertemu dengan iris mata merah miliknya. Iris mata merah itu tidak menatapnya seperti biasanya saat mereka saling berhadapan, matanya lebut, senyumannya pun tidak se licik biasanya. Seolah saber tidak mengenal orang ini, iris merah itu seolah menawarkan sebuah kehangatan bagi Arthuria sendiri.
Gil pun mencoba mendekat, dia mencoba menutup jarak mereka. Mata Arthuria pun terbelalak terkejut, namun tak lama dia memejamkan kedua matanya hingga merasakan sentuhan bibirnya di pipinya, dan tak lama tangan Arthuria pun mulai menyentuh kerah hakamanya dan meremasnya dengan perlahan. Sepertinya dia sedikit ketakutan, Gil mulau menggenggam tangannya dia mulai membisikkan kata katanya dengan suaranya yang khas dengan nada rendah seolah memohon padanya
"Ikutlah denganku Arthuria"
Dia segera menggenggam erat tangannya dan menggandengnya pergi, tidak seperti biasanya. Dia tidak kasar pada ARthuria, kali ini dia jauh lebih lembut, bahkan tangan yang menggenggamnya itupun sepertinya tidak memaksanya. Dibalik raut wajahnya itu Arthuria tersenyum, jauh di dalam hatinya dia tak ingin melepaskan tangan yang menggandengnya. Namun langkah cepat dari Gil tidak bisa dia imbangi karena geta yang dia kenakan sehingga membuatnya tersandung. Dengan sigap tangan kirinya segera meraih pinggangnya dan tangan kanannya menggenggam tangannya
"My queen… apa dengan berjalan di sisiku membuatmu tegang hmmm?"
Tatapan iris merahnya mengangkap iris hijau Arthuria. Tatapannya menggoda, dia tersenyum licik dan mempererat pelukannya di pinggang ratunya dan menggenggam tangannya sambil mencium jari jarinya. Arthuria tidak bisa berbuat apapun, dia hanya terdiam.
"Tidak bukan begitu… Ta tapi jangan berjalan terlalu cepat, aku tidak bisa jalan dengan sandal aneh ini…"
Gil tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya, namun ia segera memindahkan tangannya ke punggung arthuria dan membawanya layaknya seorang putri. Arthuria pun terkejut, dia terdiam dengan wajahnya yang semakin memerah. Dia tidak pernah membiarkan menyentuhnya atau memperlakukannya seperti itu. Untuk pertama kalinya dia merasakan semua ini, rasanya agak sedikit aneh dan canggung, namun ada perasaan nyaman. Apa lagi dekapan lelaki dengan iris merah yang ada di hadapannya ini, dia merasa aman jika bersamanya.
"Gi… Gil… sudahlah… Turunkan aku… Aku bisa jalan kok"
"Tidak My Queen, aku tak ingin melihat ratuku terluka jika aku membiarkan dirimu tersika"
"Ta TApi gil…"
Arthuria tidak bisa berbicara apapun lagi, kini ia sudah berjalan menuruni anak tangga di dalam dekapan Gil. Gil tampak tersenyum dengan penuh kemenangan kembali membawa Arthuria berjalan melewati ruangan bawah yang jauh lebih ramai. Sebelum melewati ruangan itu, Arthuria sedikit melawan sehingga membuat Gil kehilangan keseimbangannya dan hamper membuatnya jatuh. Namun Gil tidaklah terjatuh, ia menatap gadis yang ada di dalam pelukannya. Dengan raut wajah liciknya dia mendekatkan wajahnya. Namun Arthuria memberikan sebuha ciuman singkat di pipinya yang berhasil membuat Gil terdiam dan menatapnya dengan tidak percaya.
"Su sudah turunkan aku… Aku malu kalau kau harus menggendongku dan membawaku pergi"
Gil tersenyum, wajahnya melembut dan membantu Arthuria turun, perlahan dia meraih tangan Arthuria dan menggandengnya kembali.
"Kemarilah… Malam ini percayalah padaku… Aku tak akan membiarkanmu…"
Suara music terus berbunyi, suara suara itu cukup berisik. Sebetulnya Gil tidak menyukai tempat yang ramai, apa lagi jika seperti ini. Namun dia terus bertahan berada disana sambil menggandeng Arthuria. Gadis itupun tidak melawan dari tadi, ia terus berjalan di sampingnya. Terkadang sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari makanan yang bisa dia makan. Namun suara disampingnya membuatnya mengalihkan pandangannya
"My Queen, apa tadi Ko Gil merepotkanmu? Aku disini menemanimu anggap saja aku aku menggantikan waktumu yang hilang"
Arthuria menyeringitkan wajahnya, sepertinya tingkahlaku menjengkelkan dari Gilgamesh masih tetap ada. Namun dia berusaha menahan dirinya untuk tidak berteriak maupun melawan Gilgamesh di depan umum. Arhuria hanya memberikan kode dengan mencubit tangannya, Gil tersenyum melihatnya dan ia menggenggam erat tangan Arthuria hingga sebuah suara memanggil merka.
"Kakak cantik yang disana… Mau Takoyaki?"
Suara itu berasal dari sebuah kedai takoyaki. Sepertinya disana Cu Chulain dan gurunya sedang berjualan bersama. Sedari tadi Cu terus berusaha menarik perhatian dengan membagikan Takoyaki secara gratis kepada kepada perempuan yang lewat. Dasarmongrel, pikir Gilgamesh. Namun berbeda dengan Arthuria yang dengan senang hati mendekat pada Cu, sepertinya Arthuria mudah tertarik dengan makanan.
"My queen… Kau sangat menykai takoyaki yaaa… Cu… aku beli 3 pack"
Arthuria menatapnya dengan heran, belum lagi lengan kirinya menarik Arthuria mendekat padanya. Cu hanya menatap mereka dengan heran. Tidak seperti biasanya melihat mereka dekat seperti itu, Cu tidak berkomentar apapun hingga Gil memberikan uang padanya.
"Ambil kembaliannya jika kau mau"
Cu hanya menatap uang dengan pecahan besar itu seolah tidak percaya, sementara Arthuria dan Gil sudah menghilang di dalam kerumunan orang di keramaian. Arthuria tidak banyak bicara, dia hanya memakan takoyakinya, sementara Gil terus menatapnya selagi mereka berjalan. Sesekali, Arthuria diam diam menatap Gil yang jauh lebih tinggi darinya.
"Gil… Ma Mau Juga?"
Arthuria menyodorkan takoyakinya ke Arah gil, dengan tatapan tak percaya Gil pun mendekat padanya dan menatapnya.
"Kau yakin? Tapi aku lebih memilih memakanmu"
"Gil… Sudah"
Arthuria memerah, dia malu mendengarnya. Gil memang suka menggodanya, terkadang Gil memang terlihat manis. Yah seperti ini misalnya, bahkan Arthuria pun tidak tau kalau ada sisi semanis ini dari seorang King of Heroes yang arrogan itu. Dengan senyumannya, Gil mencoba mendekat dan memakan Takoyakinya dari tangan Arthuria.
"Cukup enak My queen…"
Gil menjawabnya selagi dia menjilat jarinya dan bibirnya yang terkena dengan saus takoyaki. Hal ini berhasil membuat wajah Artoria merona karena melihatnya. Kenapa raja babilonia ini selalu menggodanya dan dia selalu tampak manis dan menggoda di saat yang bersamaan. Pertanyaan ini sedikit menjadi pertanyaan sendiri yang Arthuria majukan di dalam pikirannya.
"Gil? Kau tumben mau ikut keluar?"
Suara ini tidak lagi berasal dari seorang anak dengan tubuh tinggi dengan rambutnya yang putih dan berantakan itu, disampingnya ada adiknya yang mengenakan Yukata dengan warna putih dia membawa kipas biru. Dari wajahnya sepertinya sang adik tidak jauh berbeda dari Gilgamesh. Dia sedari tadi terus mengeluh panas sambil mengipasi dirinya sendiri. Mereka berdua tidak lain adalah Arjuna dan Karna. Arthuria ingat dengan baik, sedari tadi mereka berdua selalu bertengkar hingga master harus menahan mereka. Baguslah kalau sekarang mereka sudah baikan, pikir ARthuria.
"Tch… Kalian berdua… Tentu saja aku sesekali ingin keluar bukan, seorang raja juga butuh udara segar…"
Arjuna hanya mengangguk tidak peduli mendengarnya selagi ia mengamati sekeliling. Sepertinya Arjuna sedikit marah dengan masternya yang memarahinya tadi, namun berbeda dengan Karna yang seolah tidak peduli. Senyuman licik mulai tampak di bibir arjuna, dia menepuk bahu Gil dan membawanya menjauh selagi dia membisiki Gil dan berhasil membuat Gil tertawa lepas. Arthuria hanya berharap Gil tidak merencanakan melakukan hal bodoh bersama Arjuna.
Tak lama setelah itu, Gil kembali berada di sampingku. Dia melihat sekeliling hingga tatapan mataku melihat sosok master. Saat aku ingin berlari kearah master Gil segera menggandeng tanganku dan membawaku pergi.
"Erm? Gil? Ada apa?"
Sepertinya, Gil tidak terlalu menyukai master. Entah kenapa Gil kabur darinya, mungkin karena Gil tidak suka bertemu dengan servant lainnya jika dia harus bersama dengan master. Aku bisa mengerti itu, Gil memang tidak suka jika dia harus ada bersama orang lain yang biasa dia sebut mongrel itu. Dia sangat berbeda dengan Ko Gil yang sepertinya tampak bersahabat dengan semuanya. Terkadang aku penasaran kenapa dia sangat membenci orang lain.
Suara air terdengar dari sini, semuanya tampak remang remang disana. Hanya sebuah penerangan kecil yang mereka bawa, Arthuria terduduk di sebuah bongkahan batu besar. Dia sudah melepaskan alas kakinya dan membiarkan kedua kakinya merasakan dinginnya air sungai yang mengalir dengan tenang. Dia memeluk erat yukatanya, karena rasa dinign yang menusuk kulitnya. Dari kejauhan dia bisa melihat seorang Gilgamesh duduk di atas ranting pohon dan memandangi langit. Jaraknya tak cukup jauh darinya. Tapi dari kejauhan disini Arthuria bisa merasakan charisma dari seorang Gilgamesh yang terkenal itu. Siapa juga yang tidak tau charisma seorang Gilgamesh yang bahkan membuat masternya pun sedikit takut kepada Gilgamesh
"Gil? Kau dengar aku?"
Arthuria mendekatinya, dengan sebuah lampu yang dia bawa dia mencoba memberikannya kepada Gilgamesh yang duduk di pohon dan tak lama, dia pun juga naik menyusulnya. Mereka tidak berbicara apapun hanya memandang ke langit. Gil mencoba mendekati Arthuria, dia meraih tangannya dan menggenggamnya, membuat Arthuria menoleh padanya dan sedikit heran. Dia juga menarik arthuria ke dalam rangkulannya dan menyentuh pipi arthuria.
"Pipimu dingin… Kau kedinginan my queen?"
"Berhenti memanggilku seperti itu Gil…"
Arthuria mencubit lengan Gilgamesh, namun ia malah tertawa. Tidak seperti biasanya, seorang Gilgamesh yang akan membalas arthuria, dia malah mendekatkan wajahnya. Sepertinya dia senang menggoda Arthuria. Apalagi saat sedang berdua di tempat sepi seperti ini. Gil kali ini mencoba menatap kedua matanya dengan jarak yang dekat. Arthuria yang terkejut itupun mundur dan membuat tubuhnya terdesak diantara batang pohon dan tubuh Gilgamesh.
"Karakan padaku Arthruia gabagimana rasanya kau kehilangan kebebasanmu sebagai seorang wanita dan menjadi seorang raja?"
Arhuria terdiam menengarnya bahkan dia menatapnya dengan tidak percaya. Bahkan seluruh anggota Camelot tidak ada yang pernah menanyakan pertanyaan itu kepadanya. Tapi kini malah seorang Gilgamesh, yang merupakan orang yang tidak ia sukai menanyakan hal itu padanya. Athuria membuang wajahnya, dia tak mau menatap Gilgamesh, namun Gil semakin mendekatinya, bahkan dia bisa merasakan nafanya ada di dekat telinganya,
"Katakan padaku King Arthuria…"
Suaranya pelan dan berat, Arthuria merinding mendengarnya. Wajahnya merah merona, Gil menyentuh bahunya perlahan, tangannya mulai menjalar ke tengkuknya, meletakkan tangannya disana dan memainkan pita rambut biru Arthuria.
"Gi… Gil? Kenapa kau bertanya hal seperti ini?"
Arthuria menutup matanya, seolah dia tidak ingin menatap Gilgamesh. Namun dia menarik kembali wajah Arthuria, sehingga membuat iris merahnya bertemu dengan iris hijau Arthuria. Gil menyentuh pelan pipinya dan membuah dahi mereka bersentuhan. Arthuria menutup kedua matanya, dia kembali merasakan sentuhan dari Gil.
"Arthuria, bagi seorang wanita… Mendapatkan cinta dan keyamanan dari orang yang mereka cintai adalah sebuah privilege…"
"Gi… Gilgamesh… kau?"
Arthuria terbelalak mendenarnya. Tentunya bagi seorang Arthuria yang sudah membuang identitasnya sebagai seorang wanita itupun terkejut. Bahkan para tentara kepercayaan mereka di Camelot pun tidak pernah membahas mengenai gendernya. Tetapi berbeda dengan Gilgamesh yang sekarang ada di hadapannya. Dia bersikap lembut seolah ingin Arthuria membuka tembok besar yang dia ciptakan untuk menutupi sisi lain dari dirinya.
"Apa aku boleh bertanya seperti ini? Aku hanya bisa membaca kisahmu dari buku milik Ko Gil dan kurasa lebih bagus lagi jika aku bisa menanyakannya padamu, apa aku benar?"
Arthuria mengangguk pelan, dia masih terasa kaku didalam pelukan Gilgamesh, namun pada sisi lain dia juga merasa nyaman. Arthuria terus memejamkan matanya dan menggenggam kerah Gil yang memeluknya, perlahan Arthuria membuat jarak diantara mereka, Gil menyipitkan matanya dan sedikit membuat jarak. Arthuria tersenyum dan menatap langit
"Ya, benar katamu… Terkadang aku masih menyimpan sedikit perasaan sebagai seorang Wanita. Terkadang aku ingin di manja. Tetapi aku sudah tidak bisa se egois itu Gil, aku seorang raja dan aku harus…."
Gil memotong kata katanya, dia menyentuh tangan Arthuria dan membuat wanita di sampingnya mengalihkan padanganannya.
"Hari ini… Lupakan seluruh bebanmu sebagai seorang raja. Lupakan grail dan lupakan semuanya. Malam ini kita akan bersenang senang"
Seketika saber menoleh kearah Gilgamesh. Dia menatap tidak percaya, namun kali ini Gil menatapnya dengan lekat dan kembali mendekatkan wajah mereka. Gil kembalik berbisik pelan dengan suaranya yang berat di telinga Arthuria
"Bahkan seorang raja juga butuh pesta dan istirahat sesekali bukan?"
Arthuria menganggukkan kepalanya, dia sepertinya cukup mengerti maksud dari Gilgamesh. Seketika Gil melompat dr pohon dan berada di bawahku. Dari atas sini aku dapat melihatnya dengan jelas, dia tersenyum ke arahku. Dia mengadahkan tangannya padaku seolah membuka pelukannya untukku. Dia tertawa manis, aku takpernah melihat raut wajah itu di wajahnya
"Kemarilah My Queen, aku akan menangkapmu"
Arthuria terbelalak melihat gil di bawah pohon, dia membiarkan kedua kakinya basah tanpa memakai alas kaki. Bahkan wajahnya tersenyum dan membuka kedua tangannya menunggu arthuria melompat. Namun ARthuria tidak akan semudah itu melompat kea rah Gilgamesh
"Gil… kalau aku tidah mau bagaimana?"
"Kau harus mau, kalau kau tidak mau… enkindu yang aku perintahkan menangkapmu nanti…"
"Tidak mau… Senjatamu sakit kalau menyerangku…"
Arthuria sepertinya mulai egois. Namun Gil tidak menyerah semudah itu, dengan Gate of Babylon nya, dia meneluarkan Enkindu yang membuar Arthuria kehilangan keseimbangannya dan dengan begitu Arthuria terjaduh dari pohon. Dengan sigap, kedua lengan Gilgamesh segera menangkapnya dan merangkul pinggangnya. Namun, karena dia hamper kehilangan keseimbangannya, membuat ia menendang air dan berhasil membuat diri mereka basah. Namun Arthuria hanya tertawa geli melihat Gilgamesh basah. Gil pun tersenyum melihat Arthuria dan menurunkannya.
"Hey… Kau tidak adil Gil… Masa hanya aku yang basah?"
Arthuria mulai menyiramkan air kearah Gilgamesh, Gil yang tidak pernah melihat sisi lain dari Arthuria itupun tertawa, dia juga menyiramkan airnya kearah Arthuria diikuti dengan tawanya.
"Hey… Arthuriaaa… kemariii…"
Arthuria yang merasa dipanggil itupun segera memegang roknya dan mencoba berlari kecil menghindar dari Gil, namun sayangnya dia terlalu lambat. Gil berhasil mengejarnya dan kembali menyiramnya dengan air dan ketika Arthuria ingin membalasnya, kedua lengannya sudah melingkar di pinggangnya dan mengangkatnya dan berputar.
"Gil~ Ahahahaha… Sudah turunkan akuuu…"
"Tidak My Queen…"
Gil masih terus memeluknya walau dia sudah menurunkannya. Arthuria masih tertawa lepas, dan berusaha melepaskan diri dari Gilgamesh. Saat dia bisa melepaskan diri, ia segera menyemprotkan air kearah Gilgamesh dan kembali tertawa.
"Gil… Sudah pakaian ku basah…"
"Ahahaha baiklah my queen… Sepertinya kita cukup bermain sampai disini, mungkin lain kali…"
"Iya, lain kali…"
Arthuria menjawabnya dengan wajah yang cukup serius, dia menatap Gilgamesh kembali. Gil segera mengulurkan tangannya. Dalam gelapnya malam, Arthuria tidak cukup sadar bahwa mereka sudah berlari cuku jauh dari tempat mereka tadi terduduk di pohon. Mereka pun tidak membawa penerangan. Arthuria dapat melihat wajah Gilgamesh dalam kegelapan. Wajahnya hanya disinari oleh bulan, rahangnya terlihat tajam, senyumannya tampak seperti ingin membawanya ke sebuah tempat yang dia janjikan akan membuatnya nyaman. Tangannya segera meraih tangan Arthuria, dia tersenyum dan menuntunnya. Gil dengan perlahan berjalan, dia mencoba melihat kearah batu di bawah mereka, sesekali dia melihat ke belakang dia memperhatikan Arthuria yang berjalan di belakangnya.
"Hyaaa… Gillll…"
Seketika suara itu membuatnya mengalihkan pandangannya kearah Arthuria. Sayangnya dia tak sanggup menolongnya. Arthuria terperosok karena bebatuan sehingga membuat seluruh pakaiannya basah. Gil menghela nafasnya dan menggendong Arthuria ke dekat mereka meletakkan penerangan. Disana Gil segera mendudukkan ARthuria ke atas batu besar. Gil segera menatap mata Arthuria dengan lekat
"Arthuria, apa kamu tidak apa?"
Arthuria menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya tanda ia tidak apa. Namun Gil masih terus memperhatikan Arthuria yang sudah terduduk di hadapannya, dia tidak menemukan luka sedikitpun. Namun Geta milik arthuria lepas. Gil tertawa kecil melihatnya dan mencoba untuk menyentuh kaki ARthruria.
"Hey… Gil kau mau apa?"
"Memperbaiki geta mu my queen…"
Arthuria tersenyum kecil melihat Gil menyentuh kakinya dan memperbaiki tali dari Getanya yang terlepas. Arthuria mencoba mendekatinya, namun Gil tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Dia menyentuh dahi Arthuria dengan dahinya, sepertinya ARthuria merasa kedinginan. Gil melihat ARthuria gemetar karena kedinginan dia segera menarik tubuh Arhturia dan memeluknya
"Dingin? Kau sepertinya gemetar karena terlalu dingin"
"Tidak kok, tidak juga"
"Wajahmu merah my queen"
Saber segera mengalihkan wajahnya sementra Gilgamesh sendiri segera mengambil tangannya dan menggendongnya. Arthuria tampak terkejut saat Gil menggendongnya. Bahkan dia segera membenamkan wajahnya di bahu milik Gil. Dalam kegelapan malam, Arthuria memeluk lentera yang dia bawa di tangannya, sekaligus untuk menghangatkan dirinya. Saat mereka mencapai tempat master merayakan matsuri, Gil segera mengalihkan wajahnya pada ARthuria yang ada di pelukannya, dia membisikkan sebuah pilihan kepadanya
"My queen… kau ingin kubawa diam diam ke tempatku, atau menerobos keramaian ke kamarmu berada?"
"A… Ermmm… Bagaimana kl aku ke tempatmu… Tetapi nanti aku akan kembali setelah semua pakaianku kering"
"Baiklah my queen…"
Di dalam keramaian itu, Gil membawa arthuria secara diam diam kedalam kediamannya. Gil memilih untuk melewati tempat sepi dibalik stand dan pepohonan, bahkan dia melewati masuk lewat belakang tempat tinggalnya. Semakin malam, membuat Arthuria semakin memeluk penenarangan di pelukannya, dia mulai merasa dingin.
"My queen… keringnkan dirimu… dan pakai ini…"
Suaranya memecah keheningan Arthuria di dalam ruangan yang cukup remang di dalam kamar Gilgamesh. Arthuria yang sedari tadi sudah mengigil, dengan berbekal sebuah selimut yang dipijamkan oleh Gilgamesh, dia memeluk dirinya sendiri namun dia tidak kunjung merasa nyaman. Saat Arthuria melihat pada kemeja putih yang diletakkan Gil di atas meja dia segera menatap Gilgamesh kembali.
"Ayolah my queen… aku tak ingin melihatmu kedinginan dan basah mengenakan kimono birumu… Ganti pakaianmu… Aku tidak akan melakukan apapun padamu…"
Gil mengangkat kedua tangannya seperti dia menyerahkan dirinya. Sepertinya dia benar benar ingin membatu ARthuria. Arthuria yang sedari tadi sudah mengigigl kedinginan itupu segera menghilang dibalik tirai merah yang hanya menampilkan siluet tipis dari tubuhnya. Gil segera mengalihkan pandangannya dan mengambil sebuah cangkir, teh dan air panas. Kemudian dia meletakkannya di meja. Dia tidak memperhatikan Arthuria, namun dia lebih memilih untuk mengambil gelas sakenya dan menuangkan sakenya kembali.
"Gilll… Bisa aku pinjam handukmu?"
Suara Arthuria membuat Gil, melemparkan handuk yang dia sediakan sedari tadi di dekatnya. Arthuria terdiam, dia memakai handuk itu dan mengeringkan rambutnya. Aroma manis, namun maskulin menguar dari handuk itu. Tidalk salah lagi ini adalah Artoma yang khas dari Gil. Wajah ARthuria pun semakin merah saat dia memeluk handuk itu.
"Kemarilah Arthuria, aku tau dari tadi kau kedinginan bukan?"
Gil kali ini duduk di sebuah sofa dengan warna merah, di hadapannya ada 2 buah gelas. Yang satu segelas arak yang tentu saja itu miliknya dan yang satu lagi secangkir teh hangat. Sepertinya teh itu memang sengaja dia buat untuk ARthuria. Dengan tatapan yang sedikit heran pada Arthuria, Gilgamesh memberikan sedikit ruang dalam sofa besarnya.
"Ayolah Arthuria, aku tak akan macam macam… Kau masih tidak percaya denganku?"
"Pe percaya kokkk… ya baiklah kalau begitu"
Arthuria terlihat jauh lebih lucu di saat wajahnya merah seperti itu, namun dia sepertinya agak sakit. Gil tentunya yang sedari tadi membantu Arthuria pun penasaran, melihat ARthuria dengan wajah yang semakin merah itu. Apa dia sakit? Ataukah dia malu karena seluruh perlakuan yang sudah dilakukan oleh Gil
"Gil… Ermmm te terima kasih…"
"Memang itu yang harus aku lakukan my queen… untuk menjagamu bukan?"
Gil mencoba mendekatinya. Arthuria sepertinya juga sudah merasa sedikit nyaman dengannya. Arthuria kini bersandar di bahu milik Gilgamesh, bahkan dia membiarkan lengan Gilgamesh beristirahat di bahunya. Sepertnya kini Arthuria sudah merasa jauh lebih nyaman berada di sampingnya.
Sesekali Arthuria mengigil karena kedinginan. Namun gil selalu mendekatinya dan memainkan rambut ARthria. Sesekali juga Gil melihat arthuria memjamkan matanya entah karena dia kelelahan atau karena dirinya sakit. Arthuria sepertinya mulai tertidur, dia menggenggam kerah Gilgamesh dan mengalungkan salah satu lengannya di bahunya tanpa sadar, wajah arthuria pun memerah. Gil mencoba mendekat Arthuria selagi dia memperhatikan wajah ratunya yang sedang tertidur, sesekali dia menyentuh pipi, mata, hidung, bahkan bibirnya untuk mengingat wajah ratunya yang sedang tertidur.
"Gil…"
Panggil Arthuria pelan selagi dia tertidur. Gil tersenyum dan mendekati Wajah ARthuria yang tertidur, dia menyentuh pelan wajah itu hingga dia menyadari bahwa ARthuria sedang demam. Gil segera menggendongnya dan membawanya ke ranjangnya, memakaikannya selimut, sementara Gil tetap memilih untuk duduk di samping ranjangnya.
"Good night my queen…"
Gilgamesh mencium ujung bibirnya, seolah dia takut membangunkan ratunya. Namun Gil masih tidak ingin pergi dari sisi ratunya, dia masih memperhatikan wajah ratunya yang masih tertidur dengan tenang di ranjangnya. Sesekali kadang dia melihat Arthuria mengumam pelan, dan dia pasti menyentuh wajahnya untuk memastikan ARthuria merasa nyaman. Hingga akhirnya ARthuria membuka kedua matanya.
"Gil, jangan pergi… Disini saja… kamu hangat…"
ARthuria menarik lengan Gilgamesh dan membuatnya tidak bisa pergi kemanapun. Gilgamesh pun membiarkan Arthuria melakukan apapun yang dia suka. Bahkan Gil duduk mendekat kearah Athuria dan membiarkan dia tertidur sambil memeluk lengannya hingga Arthuria kembali membuka mulutnya.
"Gil… Temani akuuu…"
Arthuria menarik Gilgamesh hingga ia tertidur di samping Arthuria, dia pun menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi tempat bagi Gil. Arthuria menarik tubuh Gil dan memeluknya, dia bahkan menggumam pelan
"Gil… kau hangat…"
Gil pun terbelakak mendengarnya. ARthuria merasa nyaman bersama dengannya. Bahkan kali ini mereka tidur bersama sementara ARthuria memluknya dengan erat, melihat ARthuria dalam keadaan itupun membuatnya ingin memeluknya dengan erat. Gil tampa berpikir pun segera menarik tubuh Arthuria dan membuatnya tertidur di bahunya. Namun Gil tak pernah menyangka apa yang selanjutnya dilakukan oleh ARthuria. Perlahan, dia mulain mendekat kearah lehernya dan menciumnya pelan disana.
"My queen? Kau ingin menggodaku?"
"Mungkin my King…"
Gil sungguh terkejut mendengarnya. Baru kali ini arthuria memanggilnya My king. Apa mungkin dia sedang mabuk? Lebih baik Gil memastikan hal itu sekarang. Gil yang melihat Arthuria mulai menggodanya itupun sepertinya mulai tidak tahan. Sesekali, dia memainkan rambut Arthuria dan menggenggam tangannya.
"My Queen… Kalau kau menggodaku, mungkin kau akan jatuh ke dalam jurangku"
"Lakukan saja my king… Aku akan melawanmu…"
Mendengar itupun, Gilgamesh merasa tertantang untuk menggoda ARthuria dan mulai menahan tangannya diatas kepala Arthuria selagi dia sendiri menindih tubuh Arthuria di bawah tubuhnya. Sorot mata merahnya bertemu dengan iris hijau Arthuria. Gil tertawa pelan, membiarkan tangannya menjelajahi wajah Arthuria, hingga dia merasakan salah satu tangan Arthuria menyentuh kerah hakamanya dan memainkannya. Sepertinya Arthuria sudah mulai mabuk.
"My Queen… Jangan pernah menyesal dengan ucapanmu…"
Dalam sekejap Arthuria merasakan bibirnya bersentuhan, rasanya sungguh lembut. Ciumannya terasa begitu lembut membuatnya merasakan ada ratusan kupu kupu berterbangan disana. Arthuria memperhatikan kedua iris mata merah yang terpejam dan menikmatinya. Ciuman merea terasa begitu polos, bibir mereka bersentuhan, hingga Gilgamesh membuka suaranya.
"Aku akan membuatmu tidak akan bisa melupakan rasa manis wine"
Gil segera kembali menarik bibir Arthuria, kali ini dia tidak melakukannya dengan lembut dan polos namun sesekali Gilgamesh menjilat pelan bibirnya bahkan sesekali dia mengigitnya dengan lembut seolah dia meminta akses dari Arthuria untuk mengijinkannya memasuki mulutnya. Begitu Arhuria membuka mulutnya, senyuman licik langsung tampak di bibirnya. Arthuria tidak semudah itu akan mengalah kepadanya, sesekali suara erangan terdengar dari bibir Arthuria. Lidah mereka bertemu dan saling mengikat satu dengan yang lain. Arthuria memejamkan matanya dan menikmatinya, Ciumannya tidak seperti kata kata kasar yang selalu dia ucapkan namun ciumannya terasa begitu manis.
"Gil… Apa rasa… Wine semanis ini?
Arthuria mengguman pelan saat dia mendorong pelan gil dan mengambil nafas. Namun hal itu tidak berlangsung lama hinggal Gil kembali mendorong tubuhnya dan membuat bibir mereka bertemu sekali lagi. Kali ini Gil tidak menciumnya dengan lembut, namun nafsu. Arthuria pun semakin mabuk dibuatnya, tangan Arthuria mulai menggenggam tangannya dan membalas seluruh ciumannya. Arthuria seolah pasrah dibuat olehnya, suara erangan pelan mulai terdengar dari bibirnya, bahkan nafasnya menderu saat Gil memisahkan bibir mereka.
Arthuria membuka mulutnya, memasok udara sebanyak yang dia bisa, matanya terus memperhatikan manik merah yang mendominasinya. Begitu Gil melepaskan genggaman tangannya, tanpa menunggu Arthuria segera bermain dengan kerah hakama Gilgmaesh tangannya berada disana. Tangannya berusaha untuk membuka hakamanya, senyuman licik tampak terlihat dari bibir Gilgamesh. Dia kembali menahan tangan Arthuria dan menciumnya, perlahan di menciumnya dari jari, hingga pergelangan, sesekali dia mencoba untuk menghisap jari ARthuria, dan perlahan ciuman itu mulainaik ke lengan dan bahunya, hingga ia sampai di bagian tengkuknya.
"Ah… Gilll… Sakit…"
"Tahan my queen… setelah malam ini, tidak akan ada satupun mongrel yang akan berani mendekatimu…"
Gil mencoba mengigit pelan telinganya dan berbisik dengan nada yang rendah, sesekali dia menjilat cuping telinganya selagi dia mencoba mengigit pelan di belakang telinga Arthuria dan membuat sebuan tanda kecil dengan warna merah. Arthuria mendesah pelan merasakan Gilgamesh memberikan gigitannya disana. Namun sepertinya Gil masih belum puas, dia kembali tersenyum dengan licik dan memainkan kerah baju Arthuria. Perlahan dia membuka kerah kemeja ARthuria dan mulai menghisap pelan setiap inchi kulitnya dan membuat jelak merah sebanyak mungkin.
"Ah~ Gil… Jangan…"
"Maaf my queen… Tapi malam ini aku king mu…"
Gil tersenyum puas melihat seluruh berkas merah di leher hingga bahu arthria, dengan adanya jejak itu pastinya semenjak besok mereka tidak akan berani mendekati Arhuria. Arthuria sepertinya sedikit ketakutan, tangannya gemetar. Gil segera menggenggam tangannya dan mencium jari jarinya. Arthuria terdiam melihatnya, namun dalam lamunannya, bibirnya mulai mendekat padanya dan menciumnya sekali lagi, kali ini tidak se intense sebelumnya. Namun jauh lebih lembut.
Tangan ARthuria mulai menyentuh kerah Gilgamesh dan menurunkannya, sehingga membuat bahunya Nampak dengan jelas. Gilgamesh sesekali tersenyum dan membiarkan hakamanya turun, dan menampilkan bentuk tubuhnya. Wajah Arthuria pun memerah melihatnya, membiarkan tangannya menyentuh tubuh Gil yang berada diatasnya. Gil tersenyum puas, dan membiarkan tangan ARthuria menjelajahi lekuk tubuhnya, bahkan tatapan matanya seolah menggoda Arthuria untuk terus menyentuhnya.
"Senang dengan apa yang kau lihat my queen?"
Wajah Arthuria merah, dan dia membuang wajahnya karena malu. Namun Gilgamesh menatapnya dan tersenyum nakal padanya. Dia mencoba melihat kerah kemeja ARthuria yang terbuka dan sudah dipenuhi dengan tanda darinya. Gil tampak belum puas, dia kembali mendekat kearah dada ARthuria dan mencoba membuka kancing kemejanya dengan bibirnya dan berhasil membuat Arthuria malu melihatnya.
"Tidak adil kan kalau kau membuka yukataku tapi aku tidak boleh membuka kemejamu?"
Gil menciumi tubuh ARthuria perlahan, dan menyentuh punggungnya membiarkan kedua tangannya disana untuk menyentuhnya sekaligus menariknya agar semakin dekat dengannya. Semakin lama dia menggodanya suara erangan itupun terdengar semakin menggelitik telinganya.
"Gil… Hmmm…."
Arthuria membuang wajahnya yang sudah merah, dia tidak lagi menatap wajah Gilgamesh. Namun sesekali dia melirik wajahnya. Gil tertawa dan menaikkan sebelah alisnya karena ada penasaran yang menggelitiknya.
"Ada apa my queen? Apa kau takut?"
Arthuria hanya mengjawabnya dengan sebuah anggukan. Gil tersenyum dan menarik pelan helaian rambutnya dan menciumnya. Dia berbisik pelan di telinga Arthuria dengan nada seductive dan memabukkan Arthuria
"Katakan My queen…Kenapa kau takut padaku? Aku akan memberimu apapun yang kau inginkan, asal kau mengatakannya…"
"Gil… Aku… Ermmm… Aku tidak pernah melakukan hal ini… jadi…"
Gil tersenyum puas, setelah dia tau Arthuria tidak pernah melakukan hal ini. Gilgamesh segera mendorong tubuh Arthuria di ranjangnya dan menindihnya. Di bawahnya Arthuria bisa merasakan Gilgamesh menindihnya dengan sesuatu yang mengeras. Arthuria sendiri tau kalau setelah ini secara tidak langsung dia akan menjadi seorang ratu dari Gilgamesh. Dalam lamunanannya, Gil menyentuh kedua pipinya dan membuatnya menatapnya dan memberikannya sebuah anggukan.
"Aku tau my queen… Aku akan membuatmu menjadi ratuku malam ini. Apapun yang kau katakan, akan ku kabulkan"
"A… Aku takut…"
Kedua lengan Giglamesh segera melingkar di punggungnya dan menarik tubuh arthuria hingga dia bersandar di bahunya. Pelukannya menjadi semakin erat, sesekali Gil mencium pelan bahu Arthuria, dan dia biar merasakan nafas Gil yang tenang di bahunya. Perlahan tangan Arthuria mulai turun hingga dia menyentuh dadanya, dia bisa merasakan degupan jantungnya dan mencoba menatap mata Gil yang dari tadi terus membelainya
"Masih takut? Aku bisa berhenti sekarang kalau kau takut"
Arthuria menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Dia bahkan menarik wajah Gilgamesh dan mencium matanya dan berbisik pelan padanya
"Seorang raja tidak akan pernah takut Gil… Aku juga seorang raja, tapi aku juga ratumu"
"Jika itu yang kau mau my queen…"
Gil berbisik pelan, lagi. Selagi tangannya sesekali meremas pelan dada Arthuria. Arthuria menahan suaranya, dia mencoba mengigit bibirnya sendiri. Gil meletakkan tangannya di bibir ARthuria, dia menggelengkan kepalanya seolah dia tak ingin melihat ARthuria mengigit bibirnya sendiri, Gil kembali berbisik dengan pelan
"Kalau bibirmu terluka, aku akan memakan habis bibirmu my queen. Sampai darah mu habis…"
Wajah Arthuria merona merah mendengarnya, Gil mendengus pelan memainkan jarinya di bibir Arthuria. Jarinya perlahan turun mencoba menyentuh Arthuria dan kembali meremas pelan dadanya, selagi dia sendiri mencoba mencium pelan perut Arthuria kemudia turun hingga ke pinggangnya dan membuat tanda merah disana. ARthuria menggeliat nikmat menahan Gilgamesh untuk menciumnya.
"Gil… Sudah.. Geli…"
"My Queen kau sensitive disana?"
Manik merahnya bertemu dengan iris hijau Arthuria, dia menatap kea rah lain. Arthuria sedikit ketakutan, namun dia tetap memberanikan diri. Tangan Gilgamesh meraih wajahnya dan membuat wajah mereka bertemu sekali lagi. Dengan anggukan pelan, Gil kembali menyentuh tubuhnya dan melepas seluruh pakaiannya sehingga tidak menyisakan sehelai kain pun di tubuhnya. Gil memandang Arthuria yang berada di bawahnya, dengan rambutnya yang berantakan. Tangannya mulai turun ke bawah mencoba untuk menyentuh bagian dari Arthuria yang tidak pernah tersentuh. Arthuria menutup kedua matanya dan melenguh pelan, tubuh gemetar. Sepertinya dia masih belum terbiasa dengan hal ini. Sesekali Gil memainkan jarinya di dalamnya kemudia menciumi bibir ARthuria, untuk membungkam teriakannya.
"Arthuria… Setelah ini… kau tak akan bisa mundur krn aku sudah tidak bisa menahannya… Apa kau mau ku lanjutkan?"
"Tentu my King"
Arthuria menjawabnya dengan sebuah senyuman di bibirnya. Perlahan di bagian bawah tubuhnya, Arthuria merasakan rasa yang aneh, rasanya sedikit sakit namun pada sisi lain dia merasa nyaman. Atrhuria mengigit bibirnya, untuk menahan rasa sakitnya hingga Gilgamesh melihatnya dan mendekatinya dan menciumnya untuk melupkan rasa sakitnya. Suara rintihan terdengar dari bibir Arthria, dan Gil pun mencoba melihat ke bagian bawah Arthuria, dan dia menemukan bercak darah disana.
"Arthuria? Sakit?"
Arthuria tidak menjawabnya namun membuang wajahnya yang memerah. Gil mengerti dia hanya mencoba mengerakkan tubuhnya perlahan, namun Arthuria sudah merintih kesakitan. Perlahan kedua lengannya menariknya kembali, membiarkan Arthuria membenamkan wajahnya di Bahunya. Namun rasa sakit dari gerakannya membuat Arthuria menggit bahunya dan membuat banyak bekas gigitan disana.
"Aw… My queen, kau mengigit ku…"
Arthuria segera menyentuh kedua wajah gil dan menatapnya, pipinya merah namun dia memberanikan diri membuat dahi mereka bersentuhan. Gil memeluk tubuhnya dan mernariknya, membuar Arthuria semakin dekat dengannya.
"Gil, maafkan aku…"
Gil tertawa pelan dan menyentuh kedua pipinya, dia tersenyum. Gil mencium dahi Arthuria dan membiarkan kedua tangannya sesekali membelai punggungnya dan melepaskan ikatan rambut arthuria dan membuat rambutnya terurai.
"Kenapa kau harus memainta maaf my queen?"
Gil memperhatikan wajah ARthuria yang sesekali merasakan kesakitan saat gil menggerakkan plelan tubuhnya. Kedua tangannya memeluk Gil dengan erat dan tak jarang dia mencakar punggungnya karena rasa sakit yang kini menjadi semakin nikmat yang dia rasakan. Perlahan rintihan kesakitannya berubah menjadi rasa nikmat yang membuatnya semakin nyaman.
"Ah~ Gilll… Sudah… Rasanya aneh… Le Lebih cepat"
Arthuria kini sudah tidak merasa sakit, rasanya sungguh nyaman saat Gil bersama dengannya seperti ini. Arthuria bahkan menari kepala Gil dan menahannya, sesekali memainkan rambutnya. Sesekali Gil mengigit pelan bahu Arthuria selagi dia menahannya di dadanya.
"My queen… kau membuat rambutku berantakan…"
Gil tersenyum nakal, menampilkan senyumannya yang licik selagi dia membenahi ramburnya dan sekali lagi mencium Arthuria dan berbisik pelan.
"My Queen… Tahan sedikit sebentar lagi…"
"Gil… akuuu… Rasanya… Aku…"
Gil membungkam mulut ARthuria sekali lagi dengan ciuman panjang di bibirnya, selagi dia kembali menggerakkan tubuhnya dengan lebih ganas. Arthuria pun mencakar punggungnya dan membuat tanda merah disana, dia mencoba untuk menarik Gil agar lebih dekat dengannya. Gil memejamkan kedua matanya dan membiarkan arthuria melakukan apapun yang dia suka padanya hingga akhirnya mereka klimaks di saat yang bersamaan. Gil segera melepas ciuman mereka, dan memperhatikan wajah Athuria yang terbaring lemas di bawahnya.
Arthuria memanggil namanya sesekai dengan nada seductive dan dengan wajahnya yang lemas. Sepertinya dia lelah karena "pertarungan" mereka. Gil tersenyum pelan dan melepaskan dirinya dari Arthuria, perlahan lengannya menarik Arthuria dan membuatnya bersandar di bahunya, Gil meraih tangan Arthuria dan menciumnya,selagi Arthuria sendiri tampak kelelahan dan membalas pelukan Gilgamesh. Gilgamesh berbisik pelan selagi dia memperhatikan Arthuria yang terdidur di dalam pelukanya
"Goodnight my Queen"
Pagi itu ARthuria terbangun, dia merasa tubuhnya lebih ringan, bahkan selimut nya terasa lebih lembut dan membuatnya ingin berlama lamaan di ranjangnya. Namun, saat dia mencoba mengintip dengan sebelah matanya, dia menyadari kalau itu bukanlah kamarnya. Ranjangnya pun lebih luas dan ranajng di sebelahnya pun terasa hangat. Rasanya semalam dia tidur dengan tenang di dalam sebuah pelukan yang begitu hangat. Arthuria menutup matanya dan menghela nafasnya mencoba mengingat mengapa dia bisa teridur di kamar itu, hingga akhirnya dia menyadari bahwa dia tidak mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya. Dengan segera dia mencoba mencari pakaiannya yang sepertinya sudah berserakan di lantai, namun dia tidak menemukannya. Hanya sebuah kemeja putih dan sebuah hakama berwarna orange.
Arthuria mencoba bangkit dari ranjangnya dan di bagian selangkangnya terasa sangat sakit, sehingga membuat langkahnya sedikit terganggu. Arthuria mencoba memakai hakama orange itu dan menginkatnya dengan asal kemudian mencoba mengingat apa saja yang terjadi semalam tadi sehingga membuatnya berada di kamar itu. Namun sebuah suara memecah keheningannya ketika dia melihat sang pemilik kamar muncul.
"Kau sudah bangun my queen? Apa kau merasa nyaman?"
Gil hanya mengenakan celana panjangnya dengan motif ular itu, membiarkan tubuhnya terlihat dengan jelas, dia menghampiri ARthuria yang duduk di tepi ranjang dan mengenakan hakamanya. Gil tersenyum licik dan mendekatinya
"Kau rindu padaku ya? Sampai mengenakan bajuku begitu?"
Arthuria sedikit mundur, dia masih tidak paham apa saja yang terjadi padanya semalam. Namun pipinya memerah melihat Gil yang terus mendekatinya. Saat Gil mencoba menyentuhnya Arthura segera menepis tangannya, Gil pun menghela nafasnya dan membalikkan badannya selagi dia kembali mengambil gelas Wine nya. Mata arthuria tetuju pada luka yang tampak di baguan punggung Gil, tidak hanya itu, bahu dan lehernya pun penuh dengan bekas gigitan yang kini menjadi merah dan Nampak dengan jelas.
"Kau tau ARthuria, selaman kau menarikku ke ranjang dan mencakar punggungku… "
Arthuria segera mendekat kearah Gil dan menyentuh punggungnya, membiarkan jari jarinya bermain disana dan seketika arthuria ingat kalau semalam dia yang meminta Gil untuk menjaganya. Seketika Gil merasakan kedua lengkan arthuria di pinggangnya, dia memeluk Gilgamesh dengan erat sementara Gil segera mengalihkan pandangannya ke Arthuria.
"Kau sudah ingat?"
"Hmmm… Sepertinya begitu… Ermmm… Gil… kenapa kau suka minum wine?"
"Tentu saja karena wine itu manis my queen… kau ingin mencobanya?"
Gil segera meminum kembali wine nya kemudian menyentuh bibirnya ke bibir ARthuria, sekali lagi dia mencium ARthuria. Dalam ciumannya dia sesekali menyapukan lidahnya ke bibir Arthuria hingga dia membuka mulurnya. Gil mendorong pelan wine dari mulutnya dan memberikannya ke Arthuria, ciuman mereka terasa manis sesekali Gil menghisap pelan bibir Arturia. Kedua tangan Arthurua perlahan naik ke bahu Gil dan menahan kepalanya untuk terus berasamanya, tentusaja Gil tersenyum licik dan menghujani ARthuria dengan ciumannya, membiarkan bibirnya turuh dari bibirnya ke bagian bahunya, sesekali dia menghisap pelan disana kembali membuat tanda kecil disana. Arthuria terkejut melihat bayangannya dari kaca besar Gil, di bagian lehernya ada beberapa tanda kedil dengan warna merah, sepertinya tak lain itu adalah ulah Gilgamesh. Namun jumlahnya tidaklah sebanak luka yang ada di leher Gil
"Gil apa semalam aku mengganggumu?"
"Tentu tidak My queen… Justru aku berterima kasih karena selamam…."
Wajah Arthuria memerah mendengarnya, Gil kembali mendorong tubuh ARthuria ke sofanya selagi, untuk kedua kalinya, dia berada diatas tubuh ARthura tanpa mengenakan atasannya. Dia memeluk dirinya sendiri dan sedikit gemetar melihat Gil yang berada di atasnya. Aroma maskulin namun lembut menguar dari Gil yang berada di atasnya membuatnya seolah mabuk. Dia menatapnya dengan lekat dan membiarkan dirinya tenggelam menatap iris merah Gilgamesh. Gilgamesh menindih pelan tubuh Arthuria dan membuatnya mengerang dengan lembut, Gil senang mendengar suara itu dan kembali menindihnya sekali lagi, membiarkan Arthuria mengeran dan memejamkan kedua matanya. Tangan Arthuria mulai meraih bahu Gilgamesh dan mengalungkan tangannya disana sementara dia mengigit bibirnya sendiri seolah mengundang Gil untuk mendekatinya.
"My King?"
Gil mencoba mendekati wajahnya dan meraih pelan wajahnya memperhatikan bibir merahnya yang sungguh memabukkan dan membuatnya ingin terus menikmatinya. Namun sebuah suara memecahkan mereka
"ONIICHANNNN… ONIICHANNN… KATA MASTER KITA BESOK LIBURAN LHOOO"
Suara yang terdengar dengan ceria itu tidak lain pasti Ko Gi. Dengan gembira dia segera menerobos masuk ke dalam ruangan Kakaknya yang sekarang sedang berduaan dengan Arhuria dengan ppose yang cukup meragukan. Ko gil terdiam dan membatu sementara Gil dan Arthuria segera membenahi pakaian mereka. Namun tetap saja Ko Gil masih tetap merasa bersalah merasa sudah mengganggu kakaknya yang sedang bersama dengan ARthuria.
"Ahahaha kalau begitu aku mau sarapan dulu… Bye oniichan…"
Ko Gil segera pergi dari hadapan mereka dengan wajah yang memerah, sepertinya dia masih butuh waktu untuk mencerna apa saja yang terjadi pada kakaknya sehingga dia berapa di pose yang cukup meragukan itu. Ko Gil tersenyum tipis begitu dia melihat kakaknya berasa dengan Arthuria, dan segera berlari menghilang kea rah kamarnya.
"My queen?"
Suara Gilgamesh mengalihkan perhatian arthuria. Kali ini Arthuria duduk di dalam pangkuan Gilgamesh yang sedari tadi masih memainkan rambutnya, sedari tadi mereka tidak berbicara apapun hanya terdiam dan sesekali mereka hanya saling menggoda.
"Apa kau masih takut denganku hm? Setelah semalam tadi?"
Arthuria menggelengkan kepalanya dia mengerutkan bibirnya dan membuat Gilgamesh semakin gemas dengannya. Wajahnya memerah mengingat semuga kejadian semalam namun ada satu pertanyaan yang sedikit mengganggunya
"Gil… Itu… Semalam… Kau…"
"Hm? Kenapa? Semalam kenapa? Kau mau lagi?"
"Bukan Gil bukan begitu…"
Arthuria terdiam dan menggigit bibirnya, wajahnya semakin merah padam dan membuat Gil semakin penasaran. Gil pun mendekatinya dengan wajahnya yang iseng
"Kau mau minta lagi? Kalau mau aku tak keberatan kok…"
"Bu bukan begitu Gil…"
Gil mendekatinya dan memeluknya dengan hangat.
"Kenapa? Kau takut? Aku disini kok… Aku akan tanggung semua resikonya"
"Eh? Kau? Serius Gil?"
"Aku serius, kau ratuku kan? Lagipula semalam kau yang bilang kalau kau tak pernah melakukannya. Artinya kalau ada apa apa tentunya itu karena ulahku kan?"
Arthuria mengganguk pelan namum wajahnya merah mendengarnya, dia tidak menjawab sepatah katapun karena masih merasa malu. Namun Gil memecah keheningan dan membuat wajah mereka bertemu
"Kau tau, aku senang kau membiarkanku melakukannya semalam…"
Arthuria segera mendorong tubuh Gilgamesh dan membiarkannya tidak menyentuhnya, wajahnya merah, dia segera membenarkan Hakama Gil yang dia kenakan di badannya. Namun Gil tersenyum puas melihat Arthuria mengenakan pakaiannya.
"Mau kembali ke kamarmu my queen? Kurasa sekarang bukan waktunya… Mereka akan memergokimu karena tanda di lehermu…"
Gil sepertinya merasa puas sekaligus bangga melihat setiap Jejak di leher Arthuria, namum sepertinya dia tidak peduli. Arthuria segera mengambil pakaiannya dan pergi meninggalkan Gilgamesh sendirian di kamarnya. Gil tidak melakukan apapun dan hanya menghela nafasnya melihat Arthuria pergi meninggalkannya.
"See you my queen…"
Katanya dari kejauhan
BONUS
Seharian ini Arthuria terus mengenakan syal di musim panas, belum lagi dia harus mencari alasan selama seharian ini supaya masternya tidak mengajaknya ke pantai sehingga dia harus mengenakan pakaian renang dan membiarkan lehernya yang merah tampak terlihat dengan jelas. Arthuria memilih untuk tidak ikut dan menghabiskan waktu di kamarnya, hingga perasaan aneh menghantuinya dan membuatnya membawa baju renang dan tasnya menuju tempat yang paling jauh di pojok. Tidak lain lagi adalah tempat tinggal Ko Gil dan Gilgamesh
Dengan perlahan Arthuria mengetuk pelan kamar Gilgamesh dan pintu terbuka menyambutnya dengan senyumannya yang licik
"My queen? Kau kemari membawa tas untuk apa?"
"A aku ingin tidur disini… ermmm… Kau tau kan master pergi berlibur dengan yang lainnya… Jadi kurasa aku bisa disini sementara…"
"Baiklah my queen…"
Senyuman Gilgamesh kembali tampak di bibirnya sepertinya dia merencanakan sesuatu untuk mereka berdua dan membuat hari mereka semakin panjang.
End
Ini pertama kalinya aku nulis cerita dengan rate M, semoga aja sesuai ekspektasi. Sebetulnya aku nulis cerita ini udah lama banget, sangking baru berani publish sekarang. Semoga aja kalian suka TTwTT. Kalau ada saran bisa di PM atau di komen saja, semoga tulisanku bisa makin bagus kedepannya.
Salam Fay~
