Disclaimer
Naruto ©Masashi Kishimoto
.
.
.
Blue Side by Yunas
.
.
.
Warning: Deskripsi cerita bisa saja menjebak.
.
.
Enjoy~
Naruto, Uchiha Naruto. Anak pasangan Uchiha Sasuke dan Uchiha-Namikaze Naruko. Meskipun Naruto juga berdarah Uchiha namun Namikaze lebih mendominasi pada perawakan nya, hanya mungkin ada sedikit kemiripan sifat Naruto dengan Papanya. Sisanya lebih mirip pada Mamanya.
Kehidupan keluarga Uchiha-Namikaze itu berjalan damai. Semuanya teratur dan harmonis. Tak ada pertengkaran maupun masalah dalam rumah tangga yang telah dibina Sasuke dan Naruko. Meskipun Sasuke lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja dan bekerja tetapi sesekali ia akan meluangkan waktu untuk keluarganya.
Hari ini Sasuke dititipi Naruko anak mereka. Sebab Naruko harus merawat Ibunya yang sedang sakit. Ah, ya baik Sasuke maupun Naruko mereka tak mempercayakan anak mereka pada pengasuh. Mereka lebih memilih mengasuh sendiri anak mereka. Anak mereka baru menginjak usia 6 tahun.
Sasuke sibuk membolak-balik berkas kerjanya. Sedang Naruto berguling bermain game di handphonenya.
"Oy, durian!" Panggil Sasuke.
Naruto berdecak sebal, panggilan macam apa itu. Papanya itu suka sekali memanggilnya dengan panggilan aneh begitu. Senyum tipis tersungging pada wajah Sasuke yang biasanya datar, beginilah Sasuke ketika melihat anaknya yang menggerutu diberi panggilan aneh. Walaupun begitu tetap Naruto menolehkan kepala menatap Papanya dengan ekspresi bertanya—ada apa—yang tercetak jelas.
Sasuke melepas kacamata bacanya. Ia menangkup kedua tangannya, memperhatikan gerak-gerik anaknya yang masih menyibukkan diri bermain game. Lihatlah anaknya yang berteriak dan berbagai macam ekspresi muncul kala permainan yang dimainkannya mulai memasuki suasana menegangkan antara menang atau kalah.
"Ayo kita makan malam," Ajak Sasuke yang mengusap kepala Naruto lembut. Kalau bersama keluarganya begini Sasuke memang bisa bersikap lembut.
Naruto manut, sebenarnya ia tak begitu memperdulikan mau kalah atau tidak bermain game. Yang penting ia punya cara menghilangkan bosan saat menunggu Papanya selesai bekerja. Oh, ayolah ia tidak terlalu kecil untuk ditinggal di rumah sendirian. Kalo di rumah kan ia bisa bermain bersama anak tetangga di taman khusus anak-anak dekat komplek tempat tinggal mereka
Ugh, ia menggerutu kesal Papa dan Mamanya tak mengijinkannya di rumah sendirian, apalagi bermain diluar kalau tidak ada Mamanya yang menemani. Ah, sungguh kedua orang tuanya begitu over protektif.
"Kau sudah mengerjakan tugas rumah, Bocah?" Tanya Sasuke, memecah keheningan dalam mobil.
Naruto masih sibuk memperhatikan luar jendela mobil. Tanpa melihat ayahnya ia menjawab, "Sudah, saat jam istirahat langsung kukerjakan biar nantinya bisa bermain game."
Sasuke mendengus kala mendapati jawaban terkahir anaknya—bermain game.
Sifat pasif Sasuke ini menurun pada Naruto, tingkahnya pun seperti orang dewasa dan Naruto cerdas seperti kedua orang tuanya. Gen baik menurun padanya.
.
.
.
.
.
Waktu semakin berlalu tak terasa Naruto telah menginjak usia 15 tahun. Keluarga Uchiha-Namikaze itu tetap hidup damai, aman, dan tentram. Hanya saja kini mulai ramai cerita remaja anak mereka, Naruto mereka yang mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis nya. Naruto sering mengadu dengan antusias mengenai tingkah Hinata—ya Hinata gadis yang ditaksir Naruto—kepada Mamanya betapa ia menyukai sikap malu-malu gadis itu. Seorang hime keturunan bangsawan Hyuuga.
"Wah, wah anak Mama sudah semakin besar ya..." Goda Naruko.
Sepulang sekolah, seperti biasa Naruto habiskan dengan kegiatan rutinnya yang berceloteh mengenai kegiatan dan usaha pendekatanya pada gadis yang ditaksirnya pada Mamanya.
Sasuke pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Ia menghampiri anak istrinya di samping ruang keluarga tempat mereka menghabiskan waktu.
"Ada apa ini? Sepertinya kalian bersenang-senang tanpa Papa..." Celetuk Sasuke.
Naruko tersenyum usil sambil menatap Naruto.
Sedangkan Naruto nelangsa, ia malu kalau Mamanya menceritakan masalah cintanya. Ia menatap memelas kepada Mamanya agar Papanya tidak tahu.
Sasuke mengernyit melihat Mama dan anak itu yang mana sang Mama terlihat menggoda anaknya dengan isyarat gerakan mulut lalu Naruto yang mendelik ketar-ketir sambil berusaha menutupi gerakan mulut Mamanya.
"Mama~~" Melas Naruto. Ia menangkupkan kedua tangan memohon.
Sasuke menjadi penasaran. Ia duduk disebelah istrinya. "Ada apa? Apa yang kalian bicarakan, hem?"
Pecah sudah tawa Naruko. Anaknya cemberut, membelakangi orang tuanya. Ceritanya Naruto ngambek.
"Naru...hei, Nak." Naruko menarik bahu anaknya. "Mama tidak janji, kalau Mama tidak akan cerita ke Papa."
"Ugh, Mama..." Rengek Naruto.
"Kalian benar-benar melupakan Papa. Katakan ada apa?"
"Ini loh Naru sedang jatuh cinta. Oh, ya Sasuke kau kenal bukan dengan keluarga Hyuuga. Nah, Naru suka dengan Hime Hyuuga namanya Hinata..."
Naruto rasanya mau sembunyi ke dalam lubang kelinci. Ia malu dong masalah cintanya diceritakan ke Papanya. Ada perasaan tidak rela di hati Sasuke anaknya cepat sekali menemukan tambatan hatinya.
"Lalu, kenapa Naru tidak mau mengatakan ke Papa?" Tanya Sasuke heran.
Naruko yang menjelaskan. "Naru kita malu," Ujar Naruko dengan cekikikan khas Ibu-ibu yang suka menjahili anaknya.
"Oy, durian. Kenapa harus malu cerita ke Papa. Kau anggap apa Papa mu ini kalau tidak mau cerita, hem. Papa kan juga mau tahu..." Hibur Sasuke.
Naruto bergeming tetap membelakangi orang tuanya. Tubuhnya bergetar dengan suara tarikan ingus. Naruko panik takut anaknya menangis.
"Naru, sayang jangan menangis nde...Maafkan Mama..." Naruko merasa bersalah sudah menggoda anaknya. Ia paling tidak bisa kalau anaknya sampai menangis begini.
Sasuke menghampiri Naruto. Ia memegang bahu Naruto siap akan membalikkan badan anaknya.
Lalu
Suara tawa menggema memenuhi ruangan itu. Sangat bahagia, ia bahagia begitu berbalik melihat wajah cengo Mamanya dan wajah bengong Papanya. Ia sedang mengerjai orang tuanya. "Siapa suruh tadi jahil ke Naru?" Batin Naruto senang.
Sore itu dihabiskan keluarga Uchiha-Namikaze dengan mengobrol bersama, yang sesekali diselingi candaan.
Sungguh gambaran sebuah keluarga bahagia.
.
.
.
.
Semenjak Naruto memasuki usia remaja Sasuke merasa takjub pada pesona anaknya. Mungkin tampak luarnya Naruto 'tak mirip Uchiha pada umumnya. Namun, aura Uchiha mendominasi Naruto sungguh anaknya ini berpotensi banyak disukai orang seperti ia dulunya.
Sasuke sadar, merasa ada perasaan aneh yang menggelitik disudut hatinya kala menatap wajah anaknya yang elok itu. Ada perasaan mendebarkan saat menyentuh tubuh anaknya. Dalam kesengkarutan pemikiran menjijikan itu akhirnya Sasuke memilih tenggelam dan menyibukkan diri pada pekerjaannya. Semua itu ia simpan sendiri. Seorang sosok yang bahkan tak ia kenali, suatu hari nanti dapat melukai keluarganya, ia berusaha menekan sosok itu agar tak pernah muncul. Apa kalian tahu Sasuke sangat tersiksa dengan perasaan terlarang itu.
Naruko bertanya-tanya kenapa belakangan ini suaminya 'tak meluangkan waktu bersama mereka. Sasuke menjawab ia sedang mengerjakan proyek yang menjanjikan bagi kelangsungan kejayaan perusahaan mereka; memang benar tetapi alasan sebenarnya sekali Sasuke 'tak akan ungkapkan.
.
.
.
.
Belakangan ini Naruko merasa ada perubahan sikap pada Naruto setelah ia pulang dari liburan—reuni bersama teman-teman perempuan semasa sekolahnya dulu. Padahal sebelum hari keberangkatannya mereka bahagia saja, mengobrol ringan serta cerita cinta Naruto. Kenapa seperti ada yang berbeda dengan anaknya?
Naruko heran, apa ada yang salah pada Naruto? Nalurinya sebagai seorang Ibu membuatnya tak bisa berdiam diri saja. Kekhawatiran Naruko semakin menjadi ketika selintas pikiran anaknya dirisak membayangi.
"Naru,"Panggil Naruko lembut. "Naru sayang...Nak, ini Mama..."
Pintu kamar itu terbuka. Naruto diam tak berekspresi. Naruko kalut, ia mengelus surai pirang anaknya. Menelusuri wajah anaknya yang sebenarnya duplikat dirinya.
"Ada apa? Katakan pada Mama jika punya masalah..." Bujuk Naruko ingin tahu. Ia benar benar butuh tahu kenapa anaknya berubah sejak ia pulang dari liburan.
Naruto menggeleng, satu tanganya meremat celana yang dikenankannya. Tapi Naruko tak menyadari itu. Karena lebih fokus pada emosi yang nampak di wajah anaknya. Naruto kemudian tersenyum ceria, "Tidak ada, Ma..." Naruto mengenggam tangan Mamanya seolah menyampaikan kebenaran ia memang baik-baik saja.
Naruko tidak semudah itu mempercayainya. Perasaannya sebagai seorang Ibu tetap mendorong ia mencari tahu tanpa memaksa anaknya. Naruko menempelkan dahinya dengan sang anak. Terasa cukup hangat suhu tubuh anaknya. Ia mengelus surai Naruto yang kini membaringkan kepalanya di pangkuannya.
Naruto sangat butuh sandaran, butuh dukungan dari rasa mencekik hilangnya harga diri yang 'tak dapat melindungi diri sendiri.
Sakit
Lelah
Marah
Benci
Naruto tak dapat mengungkapkannya. Ia takut membuat Mamanya kecewa. Takut kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Maka ia tetap bungkam dalam rasa sakitnya dalam perasaan berkecamuk itu.
"Apa ada yang merisakmu di sekolah, sayang?" Masih Naruko berusaha mencari tahu. "Aku Mama mu, Naru. Perubahan sikap mu Mama tahu. Kau jadi lebih pendiam sejak Mama baru pulang dari liburan. Apa ada sesuatu yang terjadi-yang tidak Mama ketahui?"
Naruto berusaha bersikap senormal mungkin. Ia mengecup jemari lentik Mamanya. "Tidak ada yang berani merisakku, Ma...hehe..." Naruto terkekeh. Mencoba menenangkan kegelisahan hati Mamanya.
Naruko diam menunggu kalimat selanjutnya dari anaknya. Menunggu penjelasan dari perubahan sikap anaknya. "Yakin?"
"Iya, Mamaku sayang," Ucap Naruto sambil menangkup kedua pipi Mamanya. Ia mencium pipi Ibunya menyalurkan rasa kasih sayangnya.
Naruko tersenyum. Ia mengecup dahi anaknya. Betapa damai dan romantis hubungan Mama dan anak itu.
"Aku-ditolak perempuan yang kusukai, Mama ingat aku pernah cerita soal Hinata," Curhat Naruto. Rasanya sulit baginya memulai kebohongan agar Mamanya tidak khawatir lagi. Membuat skenario terbaik mengenai kejelasan dari perubahan sikapnya. Naruko tersenyum lembut. "Kalau begitu jangan menyerah ada banyak gadis lain yang menanti cinta anak Mama ini..." Canda Naruko sambil mencubit gemas pipi anaknya.
Biarlah Naruto sendiri yang menanggung dan menyimpan beban itu. Beban berat dari rasa harga dirinya yang diobrak abrik. Rasa hina akan sikap bejat sosok Papanya.
"Aku malu bertemu Mama dan Papa."
"Kenapa sayang?"
"Karena aku darah Uchiha yang terkenal tampan dan jenius tapi ditolak..." Gerutu Naruto. Demi apa ia berpura pura mengalami hormon remaja. "Takut nanti Papa dan Mama kecewa..." Cicit Naruto semakin menambah dramatis skenario buatannya. Hatinya menangis, tercabik mengatakan bukan kebohongan itu yang menjadi masalahnya ini. "Tolong, Ma jangan tanya dan mengungkit lagi masalah ini...Ma Naru tahu, Mama Khawatir. Tapi maafkan Naru belum bisa mengatakannya." Batin Naruto.
Naruko terkekeh menanggapi pola anaknya. "Oh, begitu...jangan lupa nak kau juga berdarah Namikaze. Papa dan Mama tidak kecewa karena hal begitu, Nak. Itu hanya cerita rasa cinta remaja. Papa mu juga pernah mengalaminya."
"Benarkah?"
"Iya, sebelum Papa mu menjadi suami Mama. Papa pernah Mama tolak karena Ibu memang mempunyai kekasih saat itu. Tapi ayahmu tak menyerah ia semakin gencar mendekati Mama saat tahu kekasih Mama dijodohkan dengan wanita lain dari keluarga bangsawan."
Naruto mangangguk paham.
"Jadi, jangan takut dan malu ya. Semua itu hanya hal biasa."
"Tapi Ma, bagiku itu tidak biasa. Aku butuh waktu untuk menatap wajah Mama dan Papa. Aku ini tampan kok ditolak..." Narsis Naruto ceria. Ia memberikan ekspresi wajah baik-baik saja.
Naruko tertawa tak tahan. Aduh, anaknya ini lucu sekali. Mereka berceloteh banyak hal. Bercanda bersama. Yang tidak diketahui Naruko hari itu adalah luka dihati anaknya.
.
.
Tbc
.
.
Hai, kenalkan saya Yunas...kalian bisa memanggil begitu.
Aku tidak tahu cerita apa ini. Ide ini terlintas begitu saja disaat terjaga ditengah malam akibat lapar, Jadilah cerita ini. Mungkin ide ini memang sudah pasaran tapi aku buat cerita ini berdasarkan imajinasiku yang terbatas dan diksi seadanya. Aku menulis berdasarkan mood. Jangan terlalu berharap, aku termasuk orang yang php.
Cerita ini sudah saya post di akun wattpad juga (username: YunasBc).
Semoga kalian menikmati cerita ini😉
