Tak ada keabadian di dunia ini

Semua yang hidup pasti akan mati

Dan yang mati pun tak akan hidup kembali

.

.

Namun, tak siapapun juga bisa mengalahkan takdir

Takdir yang membuatku bahkan tak bisa menyentuh kematian

Takdir yang menghukum dan memotong seluruh kehidupanku

Merampas, seawal yang kumiliki

.

Aku rela..

Aku merelakan setiap takdirku

Tapi, bisakah ketika kau hidup kembali kau berdiri disampingku?

Seperti dulu,

Menggenggam tanganku?

Menenangkanku?

Serta tak sekalipun meninggalkanku?

Bukan melupakanku dan terus membuatku mencarimu..

.

.

620 tahun

Roda hidupku berputar pada poros yang sama

Aku hidup untuk menggapaimu..

untuk bersamamu

Meskipun kau tak mengingatku sekalipun

Namun,

.

Takdir itu begitu kejam padaku

Karena,

Kita ditakdirkan bersama ketika waktuku hanya sekilas angin di dunia ini


.

.

.

.

.

.

.

Main Cast : Luhan (Xi), Oh Sehun

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Kim Jongin/Kai, Wu Yifan/Kris, Huang Zitao, etc.

Genre : Fantasy, Drama, Romance

Warning! Rating bisa berubah-ubah dari T to M.

It's GS! for uke.

.

and last..

Enjoy my stort guys!!

.

.

.

.

.

.

.


-620 tahun yang lalu-

.

.

Crash!

Pedang berkilat itu menebas tubuh-tubuh prajurit Exweals Kingdom, sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh raja kejam, King Eric. Sedang, yang melakukan pembantaian serta pemberontakan adalah para ksatria. Ksatria yang pada awalnya sebagai pelindung kerjaan kini berbalik menjadi pengkhianat kerajaan.

Jleb!

"King Eric-.. t-tidak ak-an m-mengampuni k-kalian.. k-kalian ak-an m-menerima balasanya.." panglima Exweals, Kim Wonshik berusaha untuk bangkit meskipun pedang kilat Wind tepat mengenai lambung, bahu, serta punggungnya yang sayatannya menganga lebar.

Sang Wind, yang membantai seluruh antek-antek kerajaan bersama ke-11 ksatria yang lain menyeringai menyeramkan.

"Jika bisa, panggil raja agungmu kemari!" desisnya menyeramkan.

"Yeol.. bunuh dia!" titah Wind pada Flame yang dengan senang hati melangkah mendekati panglima Exweals dan membakarnya hanya dengan jentikan jarinya.

Situasi menjadi hening. Keramaian beberapa saat lalu akibat peperangan singkat itu tentu saja dimenangkan oleh dua ksatria, Wind dan Flame yang bertugas menanggulangi para prajurit Exweals di bagian barat kerajaan.

"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Wind

"Belum satupun yang memberi kabar." Flame menjawab dengan matanya yang berkilat orange kemerahan bak bara api.

"Setelah semua ini selesai, kita mengembara ke bagian belahan bumi barat, kita memulai semuanya dari awal, tanpa darah dan pengkhianatan." Wind tersenyum kecil saat mendengar Flame kembali mengatakan rencana mereka setelah ini.

"Aku berniat menikahi Xiao Lu di Britania, apa menurutmu itu oke?" tanya Wind meminta pendapat. Flame terkekeh dan menepuk pundak sahabatnya tulus.

"Yang membuatku tidak sabar adalah kau harus segera cepat menggendong baby seperti kami. Kau tahu 'kan? Kau terlalu lambat untuk menikahi uri Lulu~" godanya yang membuat Wind tertawa lantang. Hanya membayangkannya saja sudah membuat segala rasa lelah dan amarah sirna begitu saja.

"Karena itulah aku—"

Brak!

Kedua pria tampan nan gagah itu menoleh keasal suara gaduh yang tak jauh dari mereka.

"KAI-KRIS!" seru Wind dan Flame terkejut melihat kondisi kedua sahabat mereka -Teleport dan Dragon- yang jauh dari kata baik. Dengan cekat, keduanya menghampiri kedua sosok yang baru datang, Wind yang langsung memapah Teleport sedang Flame mengambil alih Dragon.

"Apa yang terjadi?" tanya Flame setelah menyandarkan tubuh Dragon di pohon Jomon Sugi, begitu pula Wind yang meletakkan tubuh Teleport seraya tangannya menutup luka di perut sahabatnya yang tanpa henti masih mengeluarkan darah.

"h-hun... m-mereka," Dragon menatap Wind dengan linangan air mata yang entah kenapa membuat Wind merasa cemas tanpa alasan.

"Tenanglah.. kami akan mengobatimu." Flame menyela ucapan Dragon, ia mengeluarkan sebuah tabung kecil dari saku baju zirahnya. Tabung kecil itu berisi cairan air mata unicorn yang sangat ampuh dalam meminimalisir luka. Tabung itu sendiri diberikan oleh ksatria Healing untuk berjaga-jaga jikalau saat bertarung, para ksatria terluka dan ia tidak berada di tempat.

Satu tetes, Flame berikan pada robekan luka ditubuh Dragon, hal serupa juga ia lakukan pada Teleport yang membuat perlahan luka-luka itu tertutup dengan sendirinya.

"Kalian baik?" tanya Flame setelah kedua sahabatnya tak terlihat sepucat sebelumnya.

"Kita dikhianati!" seru Kai nafasnya menderu. Rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan berangsur hilang karena tetesan cairan unicorn.

"MWO?!" Flame yang memekik, sedang Wind menatap Teleport dan Dragon bergantian.

"Siapa yang berkhianat?" tanya Wind, suaranya masih terdengar tenang.

"Tao dan Chen.." Dragon menjawab lirih. Kedua matanya terlihat sendu bahkan ia sendiri tak menatap ketiga sahabatnya. Rasa kecewanya membumbung begitu tinggi pada orang yang sangat dicintainya juga dengan salah satu sahabat kepercayaannya. Sedang, Wind dan Flame yang mendengar kabar mengejutkan ini tak bisa berkata apa-apa sebelum suara sang Teleport membuat jiwa mereka terenggut paksa namun kemudian terasa seperti terhempas ke jurang yang curam.

"Hun,.. kita harus menyelamatkan mereka. Xiao Lu terutama," wajah Teleport terlihat panik, pula Dragon yang beberapa saat lalu terlihat penuh kesakitan dan kekecewaan kini pula ikut merasakan amarah yang sangat.

"Raja sialan itu memerintahkan untuk menembak panah bius kepada Xiao Lu, Baekkie, Kyungie, Lay, dan Xiu. Membuat mereka seketika tidak sadarkan diri, tentu saja itu memudahkan para bajingan itu membawa mereka. Sedangkan, Suho-.. dia masih mengurus bagian Timur, karena dia mendapat bagian bersama Chen dan Tao yang berkhianat, ia terpaksa mengurusnya sendiri." Teleport menatap Wind sendu. "Sehunna.. Xiao Lu akan dipaksa menikah dengan Prince Leo."

Deg!

Jantung Wind terasa mati. Tubuhnya bergetar, kedua tangannya mengepal erat, bahkan ia sampai tak menyadari jika kemurkaannya sampai membuat badai topan yang dahsyat.

"Sehun sadarlah.. SEHUN!" Flame mengguncang bahu Wind agar badai yang dibuatnya mereda dan tak sampai memporak-porandakan kerajaan tempat mereka dibesarkan.

Bugh!

Kesal karena tak sadar, Dragon turun tangan dan melayangkan bogem mentahnya ke wajah tampan Wind. Dengan nafas gusar, Dragon mencekeram baju zirah yang pria itu kenakan.

"Kemurkaanmu disini tidak akan berpengaruh apa-apa! Selamatkan adikku SEHUN! Selamatkan adikku dan aku akan membunuh ISTRIKU!"

Setiap penekanan yang Dragon katakan, akhirnya mampu menyadarkan Wind yang saat ini kemarahannya bahkan tak siapapun akan berniat untuk menghalangi.

"Pastikan-.. pastikan aku melihat jasad mereka berdua jika sesuatu terjadi pada Xiao Lu!" geram Wind yang kemudian melompat tinggi menuju pepohonan dan menghilang bersamaan terpaan angin.

"Baekkie.." Flame bermaksud bertanya yang kemudian dijawab dengan pandangan sendu Teleport.

"Mereka menawannya.."

"SIAL!" Flame pergi dengan wujud Phoenixnya serta kemarahan yang sama halnya memupuk seperti Wind. Tanpa bicara Teleport pun ikut menyusul dengan kekuatan teleportnya, sama halnya dengan Dragon yang langsung merubah wujudnya menjadi naga, yang mana adalah bagian dari jiwanya.

.

.

.

"Maafkan aku Sehunna.."

.

"Aku mencintaimu, sampai kapan pun-.."

.

.


.

.

.

-Seoul, 2020-

At the Mansion..

.

.

.

Pria tampan berahang tegas dengan mata sipitnya yang setajam elang itu terbangun dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Nafasnya terengah seolah ia baru saja mengalami kejadian buruk yang membuatnya berlari sejauh mungkin. Tapi, bukan-.. bukan sesuatu yang buruk yang baru saja ia alami, melainkan hanya sebuah mimpi. Mimpi yang sudah menghantuinya sejak kecil. Awalnya ia mengira itu hanyalah mimpi biasa. Namun, ayolah-.. apakah ada mimpi biasa yang serupa yang selalu datang bahkan ketika umurmu sudah menginjak 20 tahun? Jawabannya memang tidak. Karena, setelah ia menginjak 17 tahun, ia baru menyadari jika mimpi itu bukanlah mimpi biasa. Mimpi itu bukanlah milik orang lain. Melainkan milik dirinya sendiri. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan-.. kenapa ia sama sekali tidak mengingatnya? Meskipun ia merasa jika mimpi itu begitu nyata?

Atau.. itu hanya kilasan balik tentang masa lalunya?

Tok! Tok! Tok!

"Sehunna, kau sudah bangun?"

Pria tampan itu, Oh Sehun tersentak ketika suara salah satu noona-nya berada di balik pintu kamarnya.

"Ya, noona!" serunya yang kemudian di balas dengan terbukanya pintu kamarnya.

"Kau mimpi lagi?" tanya wanita cantik bermata belo dan bibir mungil berbentuk hati. Wanita cantik itu duduk di pinggir ranjang Sehun seraya tangannya bergerak merapikan rambut berantakan dari adik bungsunya itu.

Sehun terdiam dan Kyungsoo, wanita cantik yang datang di pagi-pagi buta ini hanya tersenyum kecil melihat wajah keras adiknya.

"Apa yang kau pikirkan Sehunna?"

"Noona.. mimpi itu semakin jelas." akhirnya Sehun membuka suara. "Aku bisa melihat diriku sendiri dalam mimpi itu, bahkan aku baru menyadari jika tiga pria yang bersamaku adalah Kris hyung, Kai dan Chanyeol. Ini benar-benar aneh dan-.. siapa itu XIAO LU?! Kenapa nama itu selalu muncul di kepalaku?!!" Sehun tak menyadari jika suaranya meninggi hingga membuat Kyungsoo sedikit berjengit.

"Sehunna.. kita bisa meminta bantuan pada Yoona." usul Kyungsoo yang direspon gelengan oleh Sehun.

"Aku tidak suka berurusan dengan dewi, apalagi seseorang yang cerewet sepertinya, dia bahkan tidak memberiku banyak petunjuk!"

"Woah~ Sehunna.. kau menyakitiku!" sinis wanita cantik yang entah sejak kapan sudah berdiri diambang pintu kamar Sehun.

"Dan, itu salah satu yang tidak aku sukai. Mereka selalu saja muncul seenaknya!" Sehun menatap tajam Yoona, dewi Eunomia sang dewi keteraturan yang Kyungsoo maksud.

"Hi Yoona.." sapa Kyungsoo ramah.

"Hi Kyungie.. kau tampak berbeda dengan adikmu yang bagai es berjalan!" sinis sang dewi yang dibalas kekehan dari Kyungsoo.

"Tidak biasanya kau pagi-pagi sudah kemari..."

"Ya.. aku hanya ingin menyampaikan tentang misi kalian nanti malam." Kyungsoo berdiri untuk berjalan mendekati Yoona.

"Apa sesuatu sedang terjadi?" tanya Kyungsoo serius. Yoona tersenyum simpul.

"Turunlah, aku akan mengatakannya setelah sarapan." Kyungsoo mengangguk.

"Bersiaplah Sehun, kami menunggumu di bawah." Sehun berdehem kecil dan membiarkan Kyungsoo berlalu meninggalkannya bersama Yoona yang masih menatapnya entah dalam artian apa. Yoona menarik nafas dan berbalik akan meninggalkan kamar Sehun, sebelum—

"dewi Eunomia.." Sehun memanggil nama aslinya adalah sesuatu yang langka bahkan nyaris tidak pernah terjadi.

Yoona berbalik anggun dan menatap Sehun perhatian.

"Ada yang ingin kau tanyakan?" dan Yoona paham betul apa yang ada dipikiran pria tampan itu. Apa yang ingin dia katakan padanya. Yoona mengetahui semuanya.

"Apa benar aku adalah reinkarnasi dari masa lalu?" tanya Sehun akhirnya. Yoona tersenyum ringkas.

"Apa kau fikir, kekuatanmu dan kekuatan mereka adalah sebuah kesengajaan? Atau sesuatu yang memang tidak sengaja dibuat? Tidak, Sehunna-.." Yoona menjeda sejenak. "-karena itulah yang dinamakan destiny."

.

.

.

.

.

"Kenapa kau selalu muncul ketika aku tidak ingin bertemu denganmu, noona?" pria tan yang disapa akrab dengan Kai atau Kim Jongin nama lengkapnya, menatap heran pada wanita super cantik yang selalu suka datang seenaknya ke mansion tempat tinggalnya.

Mansion itu sendiri ditinggali oleh 11 orang, dimana beberapa dari mereka memiliki hubungan darah satu sama lain. Yang tertua adalah Wu Yifan atau Kris sapaan akrabnya, Yifan memiliki dua saudara, Do Kyungsoo dan Oh Sehun sebagai termuda, ketiganya merupakan saudara se-ayah, namun hanya Sehun yang satu-satunya masih memakai marga ayahnya. Setelah Kris, Kim Minseok atau Xiumin adalah tertua kedua ia memiliki dua adik kandung yang keduanya lahir di China, berbeda dengan dirinya yang lahir di Korea, keduanya bernama Yixing atau Lay dan si bungsu Zitao. Tertua ketiga adalah Kim Joonmyeon atau Suho, ia memiliki hubungan sepupu dengan Park Chanyeol dan Kim Jongdae. Sedang, dua penghuni terakhir adalah Byun Baekhyun dan Kim Jongin yang saudara seibu.

Kesebelasnya telah hidup bersama selama tiga tahun terakhir ini. Mansion yang mereka tinggali ini sendiri adalah mansion yang dibeli oleh Kris dan Suho tepat setelah enam bulan mereka dipertemukan satu sama lain.

"Justru aku muncul karena aku tahu kalian semua meridukanku." Yoona tersenyum centil yang membuat lima penghuni rumah yang sudah duduk tenang di meja makan mengeryit mendengar kepercayaan diri dari wanita itu.

"Jja.. makanan sudah siap..." Xiumin berseru setelah ia, Kyungsoo dan Lay yang menyiapkan semua makanan pagi ini.

"Pagi semua..." sapa Suho ramah penuh senyum angelicnya yang baru saja bergabung dan sedikit heran dengan kehadiran Yoona.

Berbeda dengan Kris yang juga datang tak lama kemudian, ia hanya memasang wajah dingin penuh wibawanya untuk langsung bergabung dengan penghuni rumah yang lain.

"Dimana Sehun?" wanita cantik dan imut dengan polesan eyeliner khas di kedua mata sipitnya yang bertanya, dialah Byun Baekhyun. "Bukankah kau tadi sudah membangunkannya, Soo?"

"hm... mungkin, dia sed—"

Srek!

Para penghuni rumah terkejut saat seseorang menarik kursi meja makan namun detik berikutnya mereka hanya menggeleng ketika tahu bawa pelakunya adalah si ice prince, Oh Sehun.

"Kau menganggetkan kami Sehun." wanita cantik berpipi cubby dengan kedua matanya seperti kucing, Xiumin yang menegur.

"Maaf-.." lirih Sehun ringkas dengan ekspresi yang tak enak dipandang.

"Kenapa? Kau mimpi buruk lagi?" pria tertinggi kedua diantara mereka, Park Chanyeol menatap Sehun perhatian.

Sehun mengalihkan pandangan selidiknya kearah Chanyeol, membuat penghuni rumah yang lain ikut memandang pria bertelinga lebar yang ramah dan suka sekali tersenyum, seolah ia sudah membuat kesalahan besar.

"Kenapa-.. kenapa kalian semua melihatku?" tanya gelagapan.

"Itu memang dirimu." ujar Sehun yang hal ini membuat Chanyeol memincing tak mengerti.

"mwo?! Apa yang kau katakan?!"

"Flame! Kau 'kan?"

"Kau tahu jika itu kekuatanku." Sehun menarik nafas.

"Sudahlah..."

"hey... katakan padaku apa maksudmu?!" paksa Chanyeol dan Sehun mengusap wajahnya lelah.

"Aku tidak ingin membahasnya."

"Mimpi itu semakin jelas bisa dilihat, bukankah begitu Sehun?" sela Yoona yang sedari tadi hanya menonton. "Dan, kau bilang ada beberapa orang yang kau lihat, kenapa kau tidak mengatakannya pada mereka saja?"

"Siapa orang yang berada di mimpimu Sehunna?" Suho yang bertanya. Sehun menarik nafas.

"Kris hyung, Kai dan Chanyeol." ketiga nama yang disebut itu tersentak, lebih tepatnya hanya Kai dan Chanyeol karena Kris hanya diam serta menatap Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Jadi, apa itu artinya Wind yang ada dalam mimpimu itu benar-benar dirimu?" tanya Chen yang membuat Sehun menoleh dan menatapnya sangat tajam. "wae wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?!" Chen tersentak ketika tatapan Sehun seolah akan membunuhnya.

Sehun mendengus, ia tidak bisa bersikap seenaknya pada dua orang yang disebut pengkhianat dalam mimpinya, tidak apa jika benar, bagaimana jika itu benar-benar hanya mimpi?

"Sudahlah, aku berangkat dulu!" Sehun beranjak namun, suara Kris yang sedari tadi hanya diam sontak menghentikan langkah Sehun yang baru keluar ruang makan tiga langkah.

"Apa di mimpimu juga menyebut nama lain?" jika Kris yang bertanya itu sudah pasti adalah hal yang serius. Karena pria itu hampir sama halnya dengan Sehun, hati keduanya memang sangat dingin dan kaku bahkan tak bisa mencair meskipun ada api sepanas apapun.

"ya.." Sehun menjawab tanpa berbalik badan. "Nama para noona juga tersebut dalam mimpiku. Tapi-.." Sehun berbalik dan menatap lurus kearah wanita cantik berpostur tinggi dengan kilatan mata tajam namun mungil bak panda. "...ada satu nama yang tidak aku kenali terselip diantara nama mereka."

"Xiao Lu.." lirih Kris dan Sehun tak bisa untuk tidak terkejut meskipun bisa ia tutupi dengan wajah datarnya dengan amat baik.

"Nama itu juga muncul di mimpiku." semuanya memicing, pasalnya ini pertama kalinya Kris terbuka pada mereka. Karena, sejak awal mereka dipertemukan, tiga tahun yang lalu, Kris sangat tertutup meskipun dengan kedua saudaranya, berbeda dengan Sehun yang agaknya masih mau berbagi dengan Kyungsoo. Hanya Kyungsoo.

"Dan aku tahu, kau tahu benar siapa pemilik nama itu, dewi Eunomia." sang dewi tertawa anggun.

"Kalian dua saudara yang selalu memanggil nama asliku." Yoona bergurau yang sayangnya direspon datar oleh mereka semua. "hei.. kenapa kalian seserius ini?"

"Jika kau tidak akan mengatakannya pada kami, silahkan-.. keluar dari rumah ini!" Yoona terkejut, tidak hanya dewi itu, namun juga seluruh penghuni mansion. Pasalnya, jika yang mengatakan demikian adalah Sehun atau Kris, mereka tidaklah heran-.. tapi kali ini, Suho-lah yang bersuara.

"Apa kau juga memimpikan sesuatu?" tanya Yoona berdiri dari duduknya, Suho melengos terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan Yoona. Seketika, suasana menjadi tegang tak ada yang berbicara untuk beberapa saat setelah Yoona berdiri.

"Takdir tidak bisa dielak oleh siapapun. Entah itu tentang masa lalu atau sebuah masa depan. Semua berangsur pada waktunya. Tapi, bukankah kesamaan yang terjadi secara berulang adalah sebuah petunjuk?" terang Yoona menatap mereka satu persatu sampai tatapan terakhirnya jatuh pada Sehun.

"Sebenarnya, kedatanganku malam ini untuk mengatakan jika mungkin saja mulai malam ini, diabolos akan lebih sering muncul dihadapan kalian."

.

.

.

.

.

Blam!

Blam!

"Apa wanita itu gila?!" sungut Kai membanting keras pintu mobil yang ia kendarai bersama Sehun, Chanyeol, Baekhyun dan Lay sampai diparkiran kampus mereka.

"Wanita yang kau sebut gila adalah seorang dewi, Kai!" sahut Lay.

"Bisakah tidak mengatakannya sekeras itu, Lay?" tegur Baekhyun, Lay hanya meringis.

"Dia datang tidak memberikan jawaban yang lengkap tapi justru memberikan misi konyol yang melelahkan!" tambah Chanyeol ikut kesal sedang Sehun masih diam seperti biasa.

"Padahal, sudah satu minggu ini kita tidak latihan." keluh Kai.

"Hanya kalian dan bukan kita." sahut Baekhyun menyebalkan.

"Kalian latihan?" Chanyeol tampak terkejut. Baekhyun dan Lay mengangguk.

"Tentu saja, kami para yeoja juga tidak ingin ketinggalan, agar kami juga kelihatan keren saat bertarung!" jawab Baekhyun sombong.

"Tapi, aku rasa Xiao Lu itu adalah bagian dari kita.." ucapan Lay ini sontak menghentikan langkah keempatnya.

"Bagaimana bisa? Di lambang EXO hanya ada 11 lambang ksatria." ujar Kai.

"Tapi, aku juga merasa tidak asing dengan nama itu." lirih Baekhyun. "Entahlah, hanya saja dalam mimpiku-.."

"Kau juga mengalaminya?" Sehun memotong ucapan Baekhyun yang membuat wanita itu tampak terkejut, ia tidak sengaja keceplosan.

"Tidak sesering dirimu Sehun. Hanya saja, aku tidak tahu ada hubungannya atau tidak-.. di mimpiku hanya ada seekor rusa yang berlarian di lapangan."

"Rusa?" Baekhyun mengangguk.

"Sejak kapan kau memimpikannya, noona? Kau tidak pernah cerita padaku." tanya Kai yang sebelumnya memang sudah tinggal seatap dengan Baekhyun sejak kecil.

"Sejak kekuatanku muncul, 7 tahun yang lalu. Tepatnya ketika hari ulang tahunku." jawab Baekhyun menerawang ketika ingatannya kembali saat pertama kali ia mengetahui bahwa ia bukanlah manusia biasa, saat itu ia masih berusia 15 tahun dan Kai berusia 13 tahun.

.

.

.

- 7 tahun yang lalu -

.

.

"Noona!" Kai remaja berlari girang memasuki kamar kakak perempuan yang berada di lantai atas rumah keluarga Kim

Brak!

Si pemilik kamar tersentak kala adik lelakinya itu mendorong paksa pintu kamarnya.

"Kai.." panggil Baekhyun, sang kakak dengan senyum menenangkan berharap Kai ikut pula merasa tenang.

"Noona.."

"Ya, ada apa?" jawab Baekhyun melihat Kai masuk dengan sebuah kotak kecil berwara merah di tangannya.

"Ada paket dari ayahmu." Baekhyun tampak terkejut namun kemudian ia tersenyum dan menerima kotak yang disodorkan Kai dengan senang hati.

"Gomawo, Kai.." balas Baekhyun dan tanpa menunggu waktu gadis itu membuka kotak yang berasal dari ayah kandungnya.

Kedua mata Baekhyun berbinar kala melihat sebuah benda cantik berupa kalung dengan bandul matahari ditengahnya yang dikelilingi balok curam yang memiliki empat sisi besar, empat sisi sedang, delapan sisi kecil, serta bagian luarnya terdapat dikelilingi delapan titik bulat di masing-masing balok curam besar dan sedang.

"yeopoda..." gumam Kai takjub pula Baekhyun yang langsung jatuh cinta dengan kalung itu sebelum membaca surat yang juga ditulis oleh sang ayah.

Baekhyun, anakku..

Bagaimana kabarmu nak? Appa harap kau baik-baik saja disana. Appa sangat merindukanmu, tapi jangan cemas appa akan datang ke ulang tahunmu besok malam. Tak terasa, putri tercantik appa sudah berumur 15 tahun. Dan, ya-.. kau sudah menerima kalungnya? Itu adalah kalung temurun dari nenek moyangmu yang sudah terdapat ukiran namamu di balik bandulnya. Appa harap kau menyukai kalungnya. Selamat ulang tahun sayang..

Appa mencintaimu!"

Aku juga mencintai Appa.." lirih Baekhyun yang membalikkan bandul kalungnya dan memang terdapat ukiran nama melingkari lingkaran tengah. "Byun Light Baekhyun?" gumam Baekhyun merasa nama itu asing yang padahal nama itu mungkin saja adalah namanya. "Tapi-.."

"Kenapa, noona?" tanya Kai yang melihat Baekhyun termenung setelah membaca surat dari ayahnya.

"Kau lihat ini?" Baekhyun menunjukkan ukiran itu pada Kai yang dibalas gelengan dari remaja itu.

"Tidak ada apa-apa, noona.." jawab Kai yang membuat Baekhyun terkejut dan melihat lagi ukiran yang sempat tadi ia lihatm Dan, benar! Ukiran itu tidak ada.

"t-tidak mungkin.. tadi—"

"Noona.. kalau begitu aku kebawah dulu. Guru lesku sebentar lagi akan datang." pamit Kai yang diangguki kaku oleh Baekhyun dan membiarkan adiknya pergi meninggalkannya seorang diri.

Baekhyun kembali meneliti kalung pemberian ayahnya dan anehnya ada ukiran lain di tempat yang sama seperti ukiran nama sebelumnya.

"你是我的光 (Nî shì wô de guāng/You're my light)" dan Baekhyun lebih terkejut lagi ketika ia bisa membaca hanzi kuno yang padahal ia sama sekali belum pernah mempelajari sebelumnya.

"Ada apa denganku?" gumam Baekhyun merasa takut dengan dirinya sendiri.

.

.

.

"Sayang kau baik?" Baekhyun tersentak saat mendapat sentuhan lembut di pundaknya.

"Eomma.." lirih Baekhyun yang dibalas senyuman cantik dari sang ibu yang kini duduk menemaninya di taman belakang rumah mewah mereka.

"Apa yang kau pikirkan, Baekkie? Kau terlihat murung." Baekhyun diam sesaat namun kemudian ia menggeleng.

"Aku baik, eomma.."

"Sungguh?" Baekhyun mengangguk kecil. "Baiklah, eomma percaya padamu." sang ibu tak ingin memaksa putrinya jika enggan bercerita. "Tapi, jika ingin berbagi, eomma akan selalu ada untukmu, sayang.." Baekhyun mengangguk dan menikmati elusan lembut dari tangan ibunya di kepalanya.

"Terima kasih, eomma."

"Mau eomma temani, atau kau ingin sendiri?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya tak enak hati, pasalnya ia ingin sendiri tapi ia juga tidak ingin menyinggung ibunya.

"Maaf, eomma.." lirihnya. Sang ibu menggeleng dan tersenyum cantik.

"Tidak apa, sayang. Segeralah masuk, dan jangan terlalu lama berada di luar, arra?" Baekhyun mengangguk menurut.

Sepergian ibunya, tangan mungil Baekhyun merambat menyentuh bandul kalung yang siang tadi dikirim oleh ayahnya. Baekhyun termenung sesaat dengan tangannya yang berulang kali menggosok bandul cantik. Terus ia lakukan sampai sebuah cahaya muncul dari kalung itu, berputar mengelilingi tubuhnya hingga berhenti tepat di depannya.

Baekhyun mengeryit melihat silaunya cahaya di depannya itu semakin membesar dan membentuk siluet cantik seorang sosok yang membuat Baekhyun terkejut berkali lipat dari sebelumnya.

Siluet cahaya itu adalah dirinya. Yang terlihat cantik dan lebih dewasa dengan setelan perang siap bertempur, terlihat gagah, cantik, dan begitu mengagumkan.

"620 tahun.. saatnya kau kembali Light," sosok cahaya itu berjalan mendekati Baekhyun, terus sampai ketika tepat dihadapannya cahaya itu masuk ke tubuh Baekhyun begitu saja.

"Argh~" Baekhyun meringis merasakan sensasi aneh ketika sosok cahaya itu menyatu dalam tubuhnya, mengisi kekosongan dalam dirinya yang sempat ia rasakan sebelumnya, kini terasa penuh dan lengkap.

"Light ..." lirih Baekhyun sebelum kepalanya terasa berkunang dan jatuh pingsan di bangku yang ia duduki di taman belakang rumahnya.

.

.

.

"Eonnie.." Baekhyun menyipitkan matanya ketika ia sadar bahwa ia berada di sebuah lapangan dengan satu pohon besar. Yang tidak ia ketahui apa pohon itu.

"Eonnie.." seseorang seperti memanggilnya yang membuat Baekhyun berbalik dan tersentak mundur ketika melihat seekor rusa dengan lilitan tali diseluruh tubuhnya.

"Deer..." dan entah kenapa hati Baekhyun tersayat perih, air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak tahu apa sebabnya, tapi melihat rusa yang terlihat kesakitan karena tali-tali itu membuat Baekhyun seolah ikut merasakan bagaimana rasa sakitnya.

Baekhyun mendekat, dan rusa itu justru mengambil langkah mundur. Terus seperti itu sampai rusa itu benar-benar hilang dari pandangan Baekhyun.

"Deer.."

.

.

.

"Tunggi sebentar.." seru Lay seolah menemukan sesuatu kejanggalan dari cerita singkat Baekhyun tentang masa lalunya.

"Xiao Lu. Lu artinya rusa dalam mandarin. Bukankah begitu?" keempat orang itu menatap Lay kompak.

"Kau benar.. apa itu artinya Xiao Lu adalah semacam nenek moyang kita?" tanya Kai, namun Lay mengidik tak tahu.

"Tapi, jika dia adalah nenek moyang atau hanya seekor rusa, kenapa dia menikah dengan seorang pangeran?"

"mwo?!" pekik keempatnya terkejut atas penuturan Sehun.

Sehun mengangguk kecil. Menyakini benar apa yang baru saja ia katakan.

"Itu yang ada dalam mimpiku." sambung Sehun.

"Lalu, siapa itu Xiao Lu?" tanya Chanyeol.

"Sebelum aku melihat rusa itu muncul, aku mendengar suara memanggilku 'eonnie', aku tidak tahu siapa, hanya saja sejak saat itu, suara itu terus teringang di otakku." ujar Baekhyun yang membuat keempatnya termenung sampai tak menyadari jika ada seseorang yang mendengar percakapan pelik mereka.

"Xiao Lu .. kau harus segera kembali."


tbc


Hi..

Salam kenal semua, aku author baru (akunnya yang baru sebenarnya, karena aku punya akun lain yang nulis pairing lain juga)

Aku kangen HunHan makanya nulis ini, sebagai ship pertama yang aku suka, dan ada yang tertarik baca ini?

Terima kasih sudah menyempatkan membaca, and see you next week..

[Mau tanya2? Dengan senang hati]