KIMETSU NO YAIBA © Gotouge Koyoharu
THE FOREST © Himevaille
Chapter 1.
.
.
.
"Onii-san, itterashai.."
"Ittekimasu"
Remaja belasan tahun yang semangat mengawali hari menuruni pegunungan untuk mencapai desa pusat di kaki gunung. Kamado Tanjirou, remaja itu hidup damai bersama adik-adiknya dan ibunda kesayangan nya. Ayahnya telah lama meninggal yang menyebabkan ia harus membantu ibu nya mencari nafkah.
Tiba di pusat desa, ia mulai menjajaki bawaan nya berupa kayu bakar / arang yang sangat dibutuhkan penduduk desa.
"Ara Tanjirou-kun, ohayou"
"Ohayou Kochou-san"
"Bungkuskan untukku seperti biasa ya"
"Ha'i!"
Tanjirou sama sekali tidak keberatan untuk bekerja keras meskipun pada umumnya remaja seusianya akan lebih gemar bermain.
Para penduduk desa yang sudah mengenalnya selalu membeli kayu bakar yang dibawa nya, beberapa mungkin memang membutuhkan dan beberapa lagi membantu secara tersembunyi.
Hari ini dagangan nya laku keras, itu berarti ia bisa segera beberes untuk kembali pulang. Tentu tak lupa ia membeli beberapa kebutuhan pokok di desa tersebut.
Dalam perjalanan pulang, Tanjirou berfikir akan lebih baik jika ia bisa sekalian mengumpulkan kayu dari hutan untuk menjadi stock bahan jualan nya mumpung hari belum gelap.
Tanjirou membelokkan arah kaki menuju hutan-hutan di daerah gunung, tempat ia biasa mencari kayu. Namun hari ini ada yang sedikit berbeda. Ada satu area yang selama ini sangat dicurigai Tanjirou. Bukan tanpa sebab, tetapi karena ia tidak pernah melihat siapapun melewati area tersebut. Bukan hanya dirinya yang sering berkunjung ke hutan ini, beberapa penduduk yang hidupnya bergantung pada alam juga kerap singgah mencari bahan untuk diperjualbelikan, seperti buah-buahan, hewan, dan bunga.
Area itu berada di barat hutan, sedikit lebih gelap daripada area lainnya karena rimbun nya daun dan minimnya cahaya matahari.
Tanjirou pernah mendengar beberapa rumor tentang area tersebut, seperti dijaga oleh sesosok makhluk, atau jika masuk kesana tidak akan pernah kembali lagi, dan sebagainya.
Namun Tanjirou tidak percaya takhayul, ia lebih senang untuk membuktikan dengan mata kepala nya sendiri. Dan hari ini lah ia membulatkan tekad nya untuk memenuhi rasa penasaran nya.
Setelah memastikan aman di sekitarnya, kaki nya yang berbalut kain berlapis mulai melangkah melewati seutas tali yang menjadi perbatasan area tersebut.
Husssshhh..
Hawa dingin dan angin yang yang kencang seketika menerpa nya meski sekejap.
Tanjirou mengedarkan pandangan nya ke sekitar, tidak ada siapa-siapa bahkan hewan pun tak terlihat batang hidungnya.
Tanjirou tetap bersikukuh melanjutkan acara eksplor nya diarea tersebut. Semakin dalam ia masuk, semakin dingin hawa terasa.
Samar-samar indera penciuman nya yang sangat tajam mencium suatu aroma. Aroma nya wangi, tidak amis, tidak aneh, dan normal.
"Sumimasen.. apakah ada orang disini?"
Nihil yang menjawab selain pantulan suara nya sendiri. Namun ia yakin, hidung nya tidak salah mencium aroma seseorang disana.
"Sumimasen…" teriaknya lagi.
Tanjirou meningkatkan kewaspadaan nya kala aroma tersebut semakin jelas tercium. Ia kembali mengedarkan pandangan nya ke sekitar, dan..
"Siapa kau?"
Tanjirou terperangah kaget mendapati seseorang telah berdiri dibelakang nya.
Seorang pemuda dengan wajah datar, jubah dua warna yang sebelah polos dan sebelahnya bercorak membaluti dalaman coklat yang satu set.
Pemuda itu menatapnya datar, tidak berminat menyapa dengan ramah.
"Ah, Sumimasen, aku hanya orang yang kebetulan lewat disini?"
"Kebetulan? Jangan bercanda. Ku yakin kau tahu area ini terlarang"
"Kalau begitu, bagaimana dengan dirimu? Kenapa kau ada di area ini? Apa kau penjaga area ini seperti yang selama ini dirumorkan?"
Tanjirou merasa tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk bertanya apapun yang telah mengelitik rasa penasaran nya selama ini.
Pemuda itu tidak menjawab, hal itu membuat Tanjirou tidak sabaran.
"Siapa nama mu?"
"Lebih baik kau segera pulang"
Pemuda itu membalikkan badan nya dan mulai berjalan pergi
"Hei.. tunggu"
Bukan Tanjirou namanya jika ia tidak keras kepala. Tanjirou menyusul pemuda itu, jalan nya sangat cepat dan gesit melewati rangkaian akar pohon yang besar.
"Ku bilang tunggu!" teriak Tanjirou.
Merasa kesal dan terganggu, pemuda itu memutuskan berhenti dan membalikkan badan nya. Ia menatap tak percaya pada Tanjirou yang bersih keras membuntutinya.
"Sudah kubilang kau harus segera meninggalkan area ini"
"Tidak, sebelum kau ceritakan padaku tentang area ini"
"Tidak ada waktu untuk itu"
"Hah? Tapi kenapa?"
Pemuda itu tampak geram, berkali-kali ia tampak gelisah dan memandang langit yang sudah semakin gelap.
"Setidaknya beritahu aku siapa dirimu"
"Itu tidak penting, pulanglah sekarang!"
"Tidak!"
Tanjirou memutuskan duduk ditanah sebagai bentuk keteguhan nya bahwa ia tidak akan pergi dari tempat ini.
"Kau harus pulang sekarang. Kau—"
Ucapan pemuda itu terhenti saat ia rasa hawa disekitar mereka mulai berubah. Tanjirou pun menyadari ada aroma baru yang muncul, aroma asing yang memabukkan.
"Apa ini?"
"Shit!"
Pemuda itu terjatuh akibat kaki nya yang melemas, ia kini mencoba menahan beban dengan lututnya. Disekitar mereka, tiba-tiba saja kabut menjadi lebih tebal menghalau penglihatan.
Tanjirou merasa pusing, aroma ini semakin terhirup, semakin membuat aneh tubuhnya. Tubuhnya secara alami merasa panas, dan bergairah.
"Anu.."
"Kau.. sudah ku bilang kan.. hah.."
Suara nya terbata-bata, pemuda itu seperti menahan sesuatu yang membuatnya tak bisa berfikir jernih. Perlahan pemuda itu merangkak ke pohon besar didekat mereka. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang kokoh.
Tanjirou mengikutinya dan duduk disebelahnya.
"Sebenarnya ini apa?"
"Racun. Racun perangsang"
Tanjirou terkejut, seiring dengan kemaluan nya yang mulai ereksi. Tentunya Tanjirou sudah mengalami mimpi basah, ia seorang remaja yang menuju kedewasaan, namun ia tidak pernah terfikir nasib membawanya merasakan ransangan seperti yang sering ia dengar dari teman-teman nya didesa.
Gairah nya semakin tinggi, bahkan saat ia mencoba menutupi selakangan nya dan mengenai kemaluannya, segelitir rasa nikmat meyetrum kepala nya.
"Ini.. a-aku.."
Tanjirou tidak bisa mengontrol nafas nya yang memburu, berbeda dengan pemuda disampingnya yang tampak tenang dan memejamkan mata. Nafasnya teratur meski dapat terasa panas.
"Kau sudah tahu kan akibatnya"
"Gomen. lalu apa yang dapat kita lakukan?"
"Tidak ada. Selain menunggu kabutnya hilang dan keluar dari sini"
Tanjirou mencuri pandang pada pemuda disampingnya. Tak sengaja matanya menatap pada selangkangan pemuda itu yang sudah menggembung.
Pemuda itu pun menyadari Tanjirou yang tidak bisa diam. Sejujurnya ia sendiri juga tidak dapat menahan rangsangan ini. Ia meneguk ludah berkali-kali ketika pikiran liar menjajaki otaknya. Dan berkali-kali menarik nafas dalam saat gairah itu menyentuh puncak.
"Shit!"
Tanjirou terkejut saat pemuda itu menarik tangan nya dan mendekapnya dengan erat.
"Anu.."
"Diamlah! Ini semua salah mu"
Tanjirou mengakui itu dalam hati dan apa ini? Pelukan dari pemuda itu malah semakin membuatnya terangsang. Tanjirou dalam masa pubernya memang sangat sensitive dengan hal-hal berbau seksual.
Pelan tapi pasti, pemuda itu mengangkat dagu Tanjirou dan mulai menyatukan bibir mereka. Tanjirou sekali lagi harus terkejut bukan main, selain karena mereka sesama lekaki, tapi ini juga merupakan ciuman pertama nya.
Namun rasanya begitu nikmat. Gairah nya seperti dibakar bara.
Pemuda itu tidak dapat membendung dirinya lagi. Bibir ranum Tanjirou mulai dilumat dengan kasar, gigi nya mengigit kecil bibir tersebut dan melancarkan lidahnya kedalam mulut Tanjirou. Ia tuntun lidah Tanjirou untuk berdansa dengan lidahnya, menghiraukan liur yang mulai menetes.
Tanjirou khilaf. Ia tidak pernah tau berciuman dapat senikmat ini, kepala nya mulai kosong, tubuhnya semakin panas dan penis nya sudah sesak dibalutan celana.
Ciuman terlepas, keduanya menarik nafas pendek yang cepat. Pemuda itu terpukau menatap wajah Tanjirou yang bersemu merah dengan mata sayu akibat gairah.
"Kau harus bertanggung jawab"
"Eh?"
Pemuda itu mulai mencium leher Tanjirou, tangan nya meraba setiap inchi tubuh remaja yang baru beberapa saat ditemuinya.
"T-tidak.. jangan.."
Tanjirou merasa malu. Meskipun nikmat menghantan tiap sel dalam tubuhnya.
Pemuda itu tetap melakukan aksinya, ia mulai membuka baju Tanjirou, menyentuh nipel dada yang mulai menegang
"Nghh.."
Tanjirou sontak menutup mulutya saat satu desahan lolos begitu saja.
Mendengar desahan disela kegiatannya, pemuda itu semakin bersemangat mencicipi tubuh Tanjirou, membubuhi beberapa tanda kemerahan disekitar dada.
Puas disana, tangan nya mulai meremas gundukan selangkangan Tanjirou.
"AH! Nggh.."
Dengan lihai, ia tarik turun celana Tanjirou yang terbuat dari kain, begitu pula dengan celana dalam nya. Penis Tanjirou yang tidak begitu besar berdiri dengan tegak sempurna.
"T-tunggu.. ini memalukan"
"Memalukan? Bukankah ini nikmat?"
Pemuda itu mengenggam penis Tanjirou dengan erat, jempolnya mengusap-usap kepala penis yang kemerahan.
"Nghh.. mou.. jangan.."
"Kau.."
Pemuda itu tidak tahan dengan ekspresi Tanjirou yang menggemaskan. Malu-malu tapi ngefly.
Ia lepaskan penis Tanjirou sejenak dan mulai melepas pakaian nya sendiri. Penis nya yang jauh lebih besar dari milik Tanjirou sudah menghasilkan banyak precum yang membasahi celana dalam. Dengan satu tarikan tangan, ia menundukkan kepala Tanjirou tepat ke penisnya.
Tanjirou sontak kaget saat penis besar pemuda itu ada dihadapannya, menggesek-gesek pipi nya.
"Buka mulutmu"
"T-tidak.."
Tanjirou menggeleng-gelengkan kepala nya, menolak untuk melakukan hal tak senonoh itu. Ia tak menyangka akan mengalami seksualitas dengan seorang pria ditengah hutan berantara.
Pemuda itu menekan kedua pipi Tanjirou dan memaksakan penisnya untuk masuk kemulut remaja tersebut.
"Hmppp! Hmmmhh.."
Rasanya aneh, aroma kedewasaan yang menguar kuat membuat Tanjirou bergairah.
Pemuda itu memejamkan matanya menikmati hangat dan basah dari mulut Tanjirou. Tangan nya ia usahakan meraih penis Tanjirou yang masih tegak.
"Hmmmmmhh hmmp.."
Penis Tanjirou dikocok teratur, permainan tangan yang naik dan turun. Tanjirou merasa nikmat, merasa rangsangan yang lebih besar merasuki kepalanya.
Pinggul pemuda itu mulai bergerak, menyogok lebih dalam mulut Tanjirou, sebelah tangan nya lagi ia gunakan untuk menahan kepala Tanjirou.
"AH! Jangan kena gigi mu!"
Tanjirou tidak tahu aturan begitu, tidak tahu apa-apa mengenai cara melakukan ini. Namun kocokan pada penisnya membuat ia tak dapat berfikir jernih lagi selain menikmati rangsangan ini.
Kocokan yang semakin cepat dan hentakkan pinggul yang juga demikian. Pemuda itu menyandarkan kepala nya ke sandaran pohon dan menengadah menikmati penisnya yang dikulum. Nafas nya tidak lagi teratur, ia hampir hilang kendali, ia hampir sampai puncaknya.
"HHHMMPP.. HMMMMM…"
Tanjirou menggeram keras saat penis nya menyemburkan sperma kental yang disertai sengatan kenikmatan hingga ubun-ubun.
"Ahhh SHIT!"
Satu hentakan keras, dan penis pemuda itu menyemburkan lelehan panas ke tenggorokan Tanjirou.
"Huekk.. uhukk.. uhuk"
Tanjirou mual dengan rasa asing yang tiba-tiba tertelan olehnya.
"Hahh.. hah.."
Pemuda itu masih diam ditempat, meresapi sisa-sisa klimaks yang ia dapatkan. Tanjirou pun merasa lemas, tubuhnya terasa ringan dan mengantuk. Sepintas ia lihat kabut disekitar mereka mulai menghilang, jalanan setapak dihutan itu mulai terlihat dibawah cahaya rembulan yang menyinari.
"Ne.. beritahu aku. Siapa nama mu?" Tanya Tanjirou dengan suara yang melemah.
Pemuda itu menyesuaikan nafasnya, ia buka satu mata nya melihat Tanjirou yang mulai sempoyongan sebelum akhirnya jatuh terkapar diatas tanah dengan rumput halus.
"Giyuu. Giyuu Tomioka"
.
.
.
TBC
.
.
.
Konbanwa Minna-san.
Saya iseng mencoba pair baru dari salah satu anime yang nge-hype nya booming banget!
Semoga suka ya! ^^ silakan dinikmati~
Arigatou Gozaimasu ^^v
