(Grief and Love Destiny first published at AO3, October 28 2019)
(DISCLAIMER: Isayama-Sensei, DELUHI, VOCALOID)
(WARNING: SPOILERS for actual manga and anime (ch. 83 – 85; s3 ep. 17 – 19) bagi yang belum sempat baca atau nonton, modified canon, songfic gagal, gaje seperti biasa. Dicoba diganti gaya penulisannya di editan baru ini, yang juga apa adanya, I MEAN I'M TRYING! Kalimat yang dicetak miring di awal cerita itu dialog asli dari Isayama-sensei.)
I was beside you too much and couldn't reveal these thoughts.
"Satu orang saja jika aku bisa menghidupkan dia lagi!"
Hanya satu orang.
"Sudah kuputuskan aku akan menyuntikkan serum ini pada Erwin!"
Satu serum untuk satu orang.
"Yang membuat keputusan terakhir adalah aku."
Yang sepatutnya orang itu adalah Erwin Smith.
Akan tetapi,—
"Karena perasaan pribadiku aku putuskan tempat ini menjadi tempat terakhir bagi Erwin."
—Kenyataan semata-mata tidak seindah harapan. Sering tidak semanis khayalan.
Sesuatu yang dikhawatirkan kelak terjadi, datang tanpa terduga, setelah yang seharusnya diinjeksi menolak dengan keras—antara masih sadar dan tidak sadar lagi—meninggalkan pilu, sesak di dada, pahit pada lidah sang penentu.
Kapten Levi, terdorong dibulatkan hatinya dengan keputusan Armin Arlert sebagai orang yang tepat untuk diinjeksi. Menghapus lantunan cerita tentang Komandan ke-13 Pasukan Pengintai, Erwin Smith, dari kehidupannya adalah keputusan terakhirnya. Biarlah orang itu beristirahat dengan tenang di dunia mimpi. Biarlah terluput dari neraka dunia yang senantiasa menyiksanya. Biarlah tempat ini menjadi tempat terakhir kakinya berpijak, tempat terakhirnya berdiri.
Sungguhpun banyak impian bersisa yang ingin ia ukir yang tak terhitung banyaknya, diambang pintu, waktu tidak pernah mengizinkan.
Ada dua benda yang tidak ingin dia lenyapkan, peninggalan Erwin Smith yang tersisa: dasi bolo dan sebuah kotak berisi surat-surat yang masih tersegel rapi. Surat-surat bersegel yang ia temukan, tersembunyi dan hampir usang, di dalam laci meja komandannya.
Levi,
Surat ini adalah bukti dari perasaanku padamu.
Aku tidak pandai merangkai kata-kata. Tapi kuharap lembaran kertas ini bisa menyampaikannya padamu. Tolong jangan sampai dihilangkan.
Aku pastikan aku akan mengatakannya saat waktunya tiba.
Selain dirimu, aku tak butuh apapun lagi!
Terima kasih sudah berdiri di sisiku!
Terima kasih, sudah menerimaku saat aku menginginkanmu!
Terima kasih untuk semuanya!
Yang terpenting, terima kasih sudah memakaikan dasi bolo ini untukku!
Maaf, aku sudah tidak bisa melilitkan cravatmu.
Maaf, tidak bisa memelukmu dengan kedua tanganku.
Maaf, selalu menyeretmu bersama keinginan kekanak-kanakanku.
Maaf aku belum bisa jujur.
Aku menginginkanmu bukan untuk kepentingan umat manusia. Tidak pernah terlintas di pikiranku untuk memanfaatkanmu.
Aku menginginkanmu untuk diriku sendiri.
Kaulah takdirku! Kaulah bagian diriku yang hilang!
Nyatanya, aku terlalu takut mengungkapkan perasaanku. Aku sadari itu.
Kau yang selalu berwajah begitu dengan kata-kata hinaanmu membuatku tidak punya keberanian apa-apa.
Aku tidak berdaya!
Namun...
Pernahkah kau sadar ada saat dimana aku bengong menatapmu?
Pernahkan terlintas di pikiranmu bahwa aku sungguh teramat sangat mencintaimu saat aku menyentuhmu?
Sepertinya tidak. Cukup seperti itu saja. Biar waktu yang memberitahu.
Rasanya aku adalah pria paling beruntung saat kau memanggil namaku tanpa hentinya.
Aku seperti terlahir kembali setiap kali tubuh kita bersatu.
Yang justru sudah kusadari bahwa kata-kata hinaanmulah yang membuatku mampu untuk bertahan.
Jika kita bisa menang dan pulang, aku ingin tinggal bersamamu. Di sebuah desa yang jauh dari keramaian.
Hanya kita berdua. Terus bersama. Sampai kapanpun itu.
Itu janji seumur hidupku! Aku tahu aku egois dan aku tidak inginkan penolakan!
Kau pernah bertanya apa yang akan kulakukan saat harapanku terkabul.
Jawabanku ada pada surat ini.
Beribu suratpun akan kutulis asalkan perasaanku tersampaikan. Tapi waktuku tidak banyak lagi.
Karena itu ketahuilah perasaanku yang sesungguhnya.
Aku selalu mencintaimu, Levi.
Jiwaku bersamamu, jiwa kita selalu terhubung.
Salam penuh cinta, Erwin Smith.
Kobaran api yang menjalar tinggi memecah kegelapan langit malam, menampakkan bayangan sang mantan komandan yang tersenyum lembut—senyuman terakhir yang hanya untuk dirinya—bersama para prajurit yang telah gugur.
Wajah Levi menerang diterpa cahaya benderang itu. Matanya menangkap siluet orang tercintanya.
Wajah rupawan tanpa emosi, kini berduka.
"Erwin… Kau bajingan!"
Seketika pria mungil itu jatuh dengan lututnya. Menahan tangisan yang mulai pecah tanpa suara. "Kau selalu seenaknya dan aku selalu mengikuti keinginanmu! Untuk kali ini… kali ini saja… buka matamu... Biarkan aku mengakui perasaanku..."
Kehangatan dan kekokohan tangan Erwin Smith tidak lagi memeluknya. Suara dan perintah absolut tidak akan terngiang lagi. Di pagi hari, Levi akan terbangun tidak lagi bersama orang itu di sampingnya. Tidak ada lagi Erwin Smith.
Segala yang nyata berlalu seperti mimpi. Mimpi akan dilupakan, bagai untaian embun yang jatuh menghilang tanpa jejak di atas permukaan tanah. Meninggalkan memori. Meninggalkan janji buta yang mereka ikrarkan.
Namun tidak rasa cintanya.
Sang penentu tidak akan pergi sebelum janjinya ditepati.
Kenangan nestapa akan orang tercinta, tikaman nasib atas keputusannya, akan ia bawa pergi bersama lembaran surat dan dasi bolo Erwin Smith dalam tidur abadinya.
Perasaan yang tidak pernah terucap akan turut serta ia bawa pergi.
Biarah takdir yang melampaui waktu.
These feelings I didn't speak of. These feelings I can't speak of. I'll cross through time and convey them to you.
(March 16 2020, Reuploaded.)
(Grief and Love Destiny – G.A.L.D by DELUHI)
(Eyes that lost their light still remember your smiling face – Living Dead by DELUHI)
(I was beside you too much and couldn't reveal these thoughts – Dear Lover by GUMI)
(These feelings I didn't speak of. These feelings I can't speak of. I'll cross through time and convey them to you – Dear Lover by GUMI)
