Boku no Hero Academia (c) Horikoshi Kohei

Pairing : Dabi x Hawks

"Aku tak menyangka kau bisa membuat ekspresi seperti itu, Hawks. Kao ii ne." Dabi menyeringai tipis kala cermin besar di depan mereka memantulkan bayangan sosok dua manusia yang tengah bercinta. Mata Hawks terpejam erat, tidak sudi melihat bayangannya sendiri yang tengah disetubuhi Dabi dari belakang. Dabi mendorong kejantanannya lebih dalam lagi, membiarkan lubang sempit milik Hawks menelan seluruh bagian tubuhnya yang keras.

"Buka matamu, konoyarou. Dan lihat baik-baik apa yang sedang kulakukan pada tubuhmu," Dabi berbisik rendah di telinga Hawks, membuat pemuda berusia dua puluh dua tahun itu berjengit. Suara serak Dabi mengantarkan sensasi getaran aneh yang menyebar ke seluruh tubuh Hawks. Sementara Dabi terus menusuknya tanpa memelankan tempo, jemari panjang milik pria itu menelusuri punggung Hawks, membelai sepasang sayap cokelat kemerahan, kemudian iseng mencabut salah satu helai bulu tanpa mempedulikan jerit tertahan yang keluar dari bibir Hawks.

"Teme, Dabi—haah, jangan cabuti bulu-buluku, sialan—khh—" Hawks menoleh ke belakang, dan di saat itu bibir Dabi membungkam mulutnya dengan kasar. Ciuman panas Dabi membuat Hawks meleleh dan bibirnya semakin bengkak.

"Sssh, koe ga dekai na. Kamar ini tidak dilengkapi peredam suara seperti di love hotel. Himiko dan Twice, bahkan Shigaraki dan yang lain bisa mendengarmu."

Hawks menggigit bibirnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Hawks sebenarnya tak sudi melakukan hubungan badan dengan Dabi, tapi pria berambut hitam itu memberinya dua pilihan ; bercinta dengannya atau membunuh Best Jeanist. Hawks sempat berpikir lama dan memutuskan untuk memilih nomer dua namun Dabi memicingkan mata seolah tidak percaya.

"Kau harus menyerahkan segalanya dan buat aku percaya bahwa kau benar-benar bagian dari kami." Dan, di sinilah Hawks berada. Di kamar Dabi yang bernuansa suram dan berdinding abu-abu, minim penerangan, namun cukup jelas untuk melihat bayangan mereka di cermin.

Hawks mendadak jijik pada tubuhnya sendiri. Bayangan itu menampilkan sosok pria muda dengan bibir setengah terbuka, tersentak-sentak menerima hunjaman penis Dabi yang kasar. Suara tepukan kulit dan daging memenuhi kamar Dabi, nyaring, membuat Hawks berharap lebih baik ia mendadak tuli. Hawks tak menyangka Dabi akan meminta seks padanya. Apa pria ber-quirk api biru itu mengalami kelainan seksual dengan menyukai sesama jenis? Hawks enggan mengakui bahwa Dabi tampan, bahkan dengan bekas kulit terbakar yang dijahit menyatu dengan kulitnya yang normal. Dabi seperti boneka setengah rusak yang dijahit asal-asalan.

Suara ketukan di pintu membuat jantung Hawks nyaris melompat keluar dari mulutnya. Dabi membungkam mulut Hawks tanpa menghentikan gerakan pinggulnya.

"Makan malam sudah siaaap~ Dabi, Hawks, kapan kalian keluar dan bergabung bersama kami? Himiko mengomel karena kalian berdua tak menampakkan diri sejak tadi."

Suara Twice terdengar dari balik pintu.

"Sebentar lagi... aku akan menyusul. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan bersama burung sialan ini." Dabi menjawab dengan suara parau. Pria itu nyaris mengumpat saat merasakan dinding ketat Hawks menjepitnya semakin erat.

"Oi, oi, Dabi. Kau tidak membunuh kawan baru kita bukan?" Twice mendadak panik. Dabi melihat engsel pintu bergoyang karena Twice berusaha membukanya dari luar. Bodoh, tentu saja pintu itu terkunci rapat.

"Tenang saja, Twice. Aku tidak akan membunuhnya—tidak sekarang," balas Dabi dengan suara sedikit tersengal. Twice yang berdiri di depan pintu kamar Dabi mengernyit heran saat samar-samar mendengar suara janggal yang mencurigakan. Twice mencoba mengenyahkan pikiran macam-macam yang melintas di kepalanya. Dabi—pria itu tak mungkin menyiksa Hawks kan? Twice berhenti menebak-nebak dan turun ke ruang makan untuk berkumpul bersama Toga dan yang lain.

Hawks mengernyit saat dahinya membentur kaca di depannya. Dabi mengentakkan pinggulnya kuat-kuat, memberi tusukan keras dan bertenaga sebelum akhirnya mengerang berat di telinga Hawks. Napas Dabi terasa panas menerpa daun telinga Hawks sementara kedua lengan kekar Dabi melingkari tubuh setengah telanjang di depannya. Hawks merasakan lubangnya panas dan lengket karena cairan milik Dabi.

"Bagaimana? Bercinta denganku tidak seburuk yang kau kira." Dabi mencabut miliknya, mengambil tisu dan membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel di sana.

Hawks nyaris merosot ke lantai jika saja Dabi tak menangkap lengannya.

"Apa kau meniduri setiap orang yang baru saja kau temui? Heeh, aku tak menyangka kau punya sifat seperti itu. Kuharap kau tak melakukannya dengan sembarang orang, kau tahu, penyakit menular seksual bisa menimpa siapa saja. Kau juga tak memakai pengaman, cara bercintamu kasar dan serampangan. Apa? Semua yang kukatakan benar." Hawks memungut celananya yang tergeletak di lantai lalu memakainya tanpa memandang Dabi.

Dabi terkekeh sinis mendengar perkataan Hawks yang memang tepat sasaran. Pria itu tidak tersinggung, justru ia lebih suka saat seseorang berkata blak-blakan mengenai dirinya. Dabi benci pembohong atau penjilat yang hobi melontarkan kata-kata manis hanya untuk menyenangkan dirinya. Hawks bukan sosok bermulut kasar, pahlawan nomer dua itu hanya mengatakan sesuatu sesuai kata hatinya.

"Kalau kau takut tertular penyakit, tenang saja aku hanya melakukannya dengan orang yang kuanggap bersih. Aku bukan jenis pria yang memasuki setiap lubang sembarangan. Aku punya selera." Dabi bangkit dari posisi duduknya, lalu membuka pintu setelah Hawks selesai merapikan pakaiannya.

Hawks terbatuk samar. "Jangan bilang kalau aku tipemu?"

Dabi mengangkat bahu, tersenyum penuh teka-teki, sedikit terhibur dengan ekspresi Hawks yang menurutnya lucu. "Bisa jadi."

Tarikan napas panjang terdengar sementara Dabi dan Hawks turun ke ruang makan.

"Ano sa, aku tak pernah bermimpi punya pasangan berhati kejam dan sadis sepertimu. Lagipula aku tak menyukai quirk-mu. Dekat-dekat denganmu sangat membahayakan nyawaku."

"Kau benar. Aku makhluk berbahaya."

Dabi merangkul Hawks, menuntun pria itu menuju meja makan.

OWARI