Be My Pikachu by Nakashima Asuka 1704
BoBoiBoy milik Animonsta Studios/Monsta. Tidak ada pengambilan keuntungan atas pembuatan fanfiksi ini.
Guest Star: Pikachu © Satoshi Tajiri
Pair: Halilintar x Yaya
Warning: Drabble, AU, OOC, Halilintar x Yaya, no super power, teenager!chara, bahasa tidak baku, dll.
Dibuat berdasarkan prompt dari kurohimeNoir.
Fanfiksi ini didedikasikan untuk event #DailyDrabbleChallenge.
.
.
.
"Yaya, kita pulang duluan. Semangat piketnya!" kata Nana dan Siti. Yaya hanya mengangguk.
Tinggallah Yaya sendirian menyelesaikan tugas piketnya di kelas. Maklum, sebagai seksi kebersihan, ia harus memantau kegiatan piket di kelasnya setiap hari. Kebetulan, Yaya sendiri bertanggung jawab menjadi salah satu petugas piket hari ini.
Biasanya kegiatan piket tidak memakan waktu lama. Namun karena hari ini banyak siswa yang izin tidak masuk, akhirnya hanya dirinya dan kedua temannya yang bertugas. Mereka juga sudah pulang duluan karena ada urusan lain.
"Akhirnya, selesai juga," Yaya menghela napas, lega. Gadis itu bersiap-siap untuk pulang, kalau saja tidak menyadari masih ada orang terakhir di kelas—selain dia sendiri—yang menempati bangku di belakang bangkunya.
"Eh... Halilintar?"
Tampak sosok yang sangat dikenal Yaya, sedang tertidur berbantalkan kedua tangannya sendiri.
Gadis itu berusaha untuk membangunkannya. "Halilintar, bangun, ini udah waktunya pulang sekolah," bujuk Yaya. Halilintar hanya melenguh pelan, tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Yaya berdecak. Niat untuk segera sampai ke rumah dan merebahkan diri sepertinya harus ia tunda.
"Boboiboy Halilintar!" panggilnya lagi, dengan nada suara meninggi.
Nihil.
"Haish, gimana caranya biar dia bangun...?" gerutu Yaya. "Udah jam empat, pula. Masa' kutinggal begitu aja?"
Mendadak, bohlam lampu imajiner terlintas di kepala gadis itu.
"Apa boleh buat. Maaf, ya, Halilintar." Yaya menghampiri meja guru. Jemarinya meraih penggaris kayu panjang milik kelas, dan—
BRAKK
—memukulkannya ke meja pemuda itu dengan keras.
"Boboiboy Halilintar, bangun!" teriaknya, kali ini dengan nada suara naik beberapa oktaf.
Halilintar melonjak.
"Apa-apaan, sih!"
"Sudah bangun, Boboiboy Halilintar?" sindir Yaya. "Baguslah. Ayo pulang. Udah jam empat lewat,"
.
.
.
"Kamu harus tanggung jawab."
"… Hah?"
"Karena kamu udah nahan aku pulang dan rebahan selama lima belas menit, kamu harus dikasih hukuman." ulang Yaya. "Ngerti?"
"Heh, emangnya kau guru, bisa ngasih hukuman seenaknya gitu?"
"Oh, jadi kamu lupa jabatanku di kelas?"
"Seksi kebersihan." jawab Halilintar singkat. Alisnya mengernyit bingung.
"Benar sekali. Dan asal kamu tau, aku selalu pulang paling akhir karena memantau kegiatan piket. Hari ini harusnya piket berjalan dengan cepat seperti biasa, kalo aja lima teman yang absen bisa masuk sekolah," jelas Yaya.
"Tapi karena hari ini cuma tiga orang yang piket—termasuk aku sendiri, dan kamu sempet ketiduran di kelas, aku harus ketahan selama setengah jam di sekolah. Lima belas menit kuhabiskan cuma buat bangunin kamu." omelnya.
"Siapa yang minta dibangunin?"
Mendadak hening.
"Haish, dasar tidak tau terima kasih," sungut Yaya dengan gemas, menahan diri untuk tidak menabok pemuda di sebelahnya ini.
"Ya udahlah, aku nggak mau tau. Pokoknya, traktir aku makanan di taman kota, besok pagi jam sembilan. Kutunggu di depan pagar rumah,"
"Ck, terserah,"
"Oh ya," Yaya menyeringai jahil, "Pakai jaket Pikachu yang kupunya, ya!"
not responding.
"HAAAHH?"
Pura-pura tidak tau keheranan Halilintar, Yaya melanjutkan, "Iya, Pikachu! Tau, 'kan? karakter Pokemon yang berkekuatan petir itu, lho."
Pemuda itu mendadak speechless, khawatir dengan gadis di sebelahnya. Halilintar curiga temannya ini kelamaan bergaul dengan Taufan sehingga ketularan usilnya.
Entah apa yang merasukimu, Ya.
Dan lagi, apa-apaan permintaannya itu? Kalau traktiran sih oke, tapi jaket Pikachu? Gimana nasib harga diriku nanti?
Bagai membaca pikiran Halilintar, Yaya berucap, "Tudungnya nggak usah dipake juga nggak apa-apa, kok."
"Ayolah, Hali… sekali ini aja," bujuknya dengan jurus kitty eyes. "Atau, kamu mau bantu aku bikin resep biskuit baru?" tanyanya, menawarkan opsi kedua.
Oh, tidak. Pilihan yang sulit. Pemuda bertopi itu menelan ludah.
"Huh… ya udahlah. Besok pagi, jam 9, kan?" Ia memutar bola matanya.
"Yeay~ makasih, Hali~ Ah, kita udah sampai. Aku duluan, ya. Bye!"
.
.
.
"Emangnya kenapa, sih, kamu segitu pinginnya lihat aku pake jaket ini?" tanya Halilintar, mengernyit. Jaket Pikachu berwarna kuning terang itu sudah terpasang di badannya.
"Nggak kenapa-napa, sih. Pingin aja," jawab Yaya asal.
Halilintar sweatdrop. Jawaban yang sungguh random.
"Terserahlah," pemuda itu memutar bola matanya. "Mau makan apa?"
"Mmm, gimana kalau bubur ayam?" tanya gadis berhijab.
"Terserah,"
"Nasi goreng?"
"Ya udah,"
"Terserah melulu, ish. Kasih pendapat, napa," Yaya menggerutu. "Bakso aja, lah,"
Halilintar hanya menaikkan bahu. "Aku ngikut aja. Ayo,"
.
.
.
"Hali, soal pertanyaanmu yang tadi…" Yaya memulai percakapan saat perjalanan pulang.
"… karena, kurasa kau mirip dengan Pikachu,"
"Mirip dari mananya?" Halilintar mengernyit.
"Pikachu itu, kan, berkekuatan petir. Mirip dengan namamu, Halilintar, yang berarti kilat atau mata petir. Dan yang terpenting…" Yaya menjeda.
"…Pikachu itu imut,"
Hening seketika.
Mendadak, wajah keduanya menghangat dengan semburat merah tipis di pipi.
"Umm, nevermind. Anggap aja tadi aku nggak ngomong apa-apa," ujar gadis itu, berusaha memecah keheningan.
.
.
.
"Anyway, makasih traktirannya, ya. Lumayan, bisa sarapan gratis di akhir pekan, hehehehe," ujar Yaya ketika mereka sampai di depan pagar rumah masing-masing.
"Jadi, ada udang di balik batu, nih?" kata Halilintar dengan datar.
"Nggak, deng. Omong-omong, makasih juga karena udah mau make jaket Pikachu punyaku,"
"Oh iya. Ini, aku balikin," Halilintar segera melepas jaket kuning tersebut.
"Nanti aja. Jaket itu bisa dibalikin kapan-kapan, kok. Aku nggak akan ke mana-mana. Bye, Hali," Yaya segera masuk ke rumahnya.
Tunggu.
Apa maksudnya kalimat 'aku nggak akan ke mana-mana?'
Halilintar menaikkan bahu. Yang terpenting janjinya pada Yaya sudah terlaksanakan.
Pemuda bertopi itu tidak ingin mengakuinya, tetapi ia merasa ada kupu-kupu yang menari di perutnya.
.
.
A/N:
Haloo, Asuka kembali! Apa kabar semuanya?
Kali ini aku membuat drabble HaliYa untuk yang kedua kalinya. Semoga fanfiksi ini dapat memuaskan pembaca yang juga membutuhkan asupan HaliYa, ya.
Awalnya, aku mau menulis drabble ini dengan genre humor, tapi entah kenapa jadi banting setir ke romance. Mungkin karena akhir-akhir ini aku kekurangan asupan HaliYa, hahaha… /ga usah curhat/ Ngomong-ngomong, apa drabble ini bisa dikategorikan bergenre humor? Maaf kalau humornya nggak terlalu kerasa :"
Special thanks untuk Fanlady yang sudah mengadakan event #DailyDrabbleChallenge ini, kurohimeNoir yang sudah memberikan prompt ini untukku, serta Furene Anderson, Harukaze Kagura, Meltavi, dan Blacklist Name yang juga telah meramaikan challenge ini.
Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca. Silakan tinggalkan review bila ada kritik, saran, atau tanggapan terhadap fic ini^^
Nakashima Asuka 1704
25 Maret 2020
.
.
Omake
"Kak Hali habis dari mana?' tanya Gempa. "Dan lagi, itu jaket siapa? Perasaan Kak Hali nggak punya jaket kayak gitu, deh."
"Nggak dari mana-mana." Jawabnya singkat. "Ini jaket punya—"
"Itu punya Yaya, Gem!" potong Taufan, entah muncul dari mana. "Kak Hali tadi habis ngapel sama Yaya. Aku lihat tadi pagi jam 9, Yaya nungguin Kak Hali di depan pagar,"
"Oh, ya?"
"Aku nggak ngapel! Yaya cuma minta ditraktir sama aku sebagai permintaan maaf, karena kemarin dia pulang telat gara-gara bangunin aku yang ketiduran, tau!"
"Nggak usah denial, Kak. Aku tau Kakak seneng, kan? Pasti sekarang hatinya Kak Hali berbunga-bunga karena dibilang imut pake jaket itu sama Yaya,"
Sasuga, Taufan. Perkiraanmu tepat sasaran.
"Grr, TAUFAN! Sini kau! Dasar kipas angin rusak!"
"Gem-Geeem, tolong akuuu!"
Gempa hanya tertawa melihat kelakuan kedua kakaknya yang absurd itu.
.
.
.
FIN.
