AU: Busujima Mason Riou x Samatoki Aohitsugi , CrazyM x Mr. Hardcore
WARNING! 17+(Bottom!Samatoki)
©King Records, IDEA FACTORY, Otomate. Saya hanya meminjam karakternya.
Ini fiksi … beneran fiksi HAHAHA /slapped. Terinspirasi dari berbagai sumber, terutama lagu, saya lagi suka lagunya Priscilla Ahn - Find My Way Back Home dan Beyonce - Halo /ehe.
Enjoy!~ ^^
Halo
000
"Tadaima.." kata Samatoki lirih sembari menutup pintu apartemen.
Langkahnya pelan meminimalisir suara yang tercipta. Matanya berkedip wujud reaksi terhadap heningnya ruangan tersebut. Tangan Samatoki membawa beberapa bahan makanan dan oleh-oleh dari hasil berkunjung dari kediaman sang adik, Nemu. Sekaligus bertandang ke makam kedua orang tua.
Sebuah senyum terukir ketika melihat seorang pria besar tengah telentang di atas sofa dengan mulut yang sedikit terbuka dan dengkuran cukup keras, rasa lelah Samatoki berkurang sesaat. Rasa lelah itu mulai hilang saat melihat seekor golden retriever berlari ke arahnya. Berputar tiga kali sambil menggerakkan ekor, dia tidak menggonggong, hanya tersenyum lebar dan menjulurkan lidah. Mereka memanggilnya Louis.
Samatoki merendahkan tubuh, meraih puncak kepala Louis dan mengusapnya penuh kasih sayang. Dia tahu pasti Louis merindukannya, karena sudah hampir 2 minggu ia tidak di rumah. Mungkin tidak berbeda dengan pria besar yang sedang berganti posisi tidur itu.
"Uh.." kaki Samatoki menyentuh sesuatu. Ia tersandung sepatu boots hitam yang tergeletak di lantai.
Kalau diamati kembali, ruangan tersebut bisa dibilang cukup berantakan. Pada awal masuk Samatoki menemukan sepatu boots, disusul dengan handuk, celana dalam dan kaus kaki yang berceceran. Ada cucian piring yang belum sempat ditangani, mungkin pria besar itu tidak sempat. Menjadi seorang pemadam kebakaran memang tidak mudah, Samatoki paham akan hal itu. Namun, yang membuatnya terkesan adalah gelas favoritnya masih tersimpan dalam rak perabotan dengan rapi. Pria besar itu tetap menjaga semua detail dengan sempurna.
Louis memanggil Samatoki. Mendorong tempat makan dengan hidungnya, Samatoki lantas menuang makanan anjing tanpa sempat melepas mantel. Barang-barang yang dibawa ia letakkan di atas meja berhadapan dengan pria besar yang masih mendengkur, sesekali mengigau tidak jelas.
Mungkin dia lapar juga, pikirnya setelah melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 9 pagi. Ia tertawa kecil atas kedatangannya yang terlalu awal.
Samatoki menyisingkan lengan kaus merah maroon yang dikenakan kemudian mengambil pan. Sudah menjadi keepakatan bagi dirinya dan pria besar itu untuk memasak secara bergantian. Meski ia menilai masakannya jauh lebih enak, namun milik pria besar itu tidak terlalu buruk. Maksudku, jarang yang bisa mengolah suatu bahan luar biasa menjadi layak untuk di makan. Samatoki menggeleng, lidahnya masih merasakan bagaimana larva kumbang kepala merah menari-nari dalam mulut. Membuatnya merinding beberapa detik.
Punya protein yang bagus, palamu, gerutunya sambil memasukkan telur. Ia membuat scramble egg dengan tambahan salad sayuran. Samatoki mengangguk ingat bahwa ia membawa onigiri.
Lenguhan cukup panjang terdengar, akhirnya beruang itu bangun juga. Matanya menerjap beberapa kali sebelum indra pembauannya menangkap bau yang enak. Bau yang enak itu merangsang tubuhnya untuk bangkit, ia melihat punggung Samatoki.
"Okaeri…" sambutnya sambil mengusap rambut.
Busujima Mason Riou seorang anggota pemadam kebakaran berusia 28 tahun menguap lebar, tangannya menggaruk perut. Hanya dengan kaus oblong berwarna senada dengan Samatoki dan celana hitam panjang ia berjalan menyusul Samatoki.
"Jangan bercanda, minyaknya panas." Katanya mengingatkan. Tangannya masih sibuk memasukkan beberapa sayuran. Riou tidak melakukan apa-apa, hanya menaruh dagu di bahu Samatoki, sedikit menempelkan tubuhnya.
"Aku lelah.."
"Kalau begitu, tidur lagi." Katanya memberi solusi.
Riou berlalu untuk cuci muka. Dia kembali dengan segelas air di tangan. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Samatoki. Laki-laki bertubuh tinggi itu menerima pemberian Riou. Ia menerjapkan mata lagi, mengumpulkan nyawa yang masih melayang entah ke mana.
"Baru saja huh?" tanya Riou dengan suara serak khas bangun tidur. Samatoki mengangguk.
"Baru pulang huh?" balasnya dengan pertanyaan. Riou menjawabnya dengan menaikkan alis.
Lima hari penuh ia habiskan di markas pemadam kebakaran. Pun jika pulang, hanya sekadar merawat tanaman, Louis, dan memastikan listrik maupun saluran air. Meski begitu, ia sedikit senang akhirnya Samatoki sudah kembali. Kakinya mulai melangkah menuju barang bawaan Samatoki. Riou membukanya dengan hati-hati. Raut wajahnya datar mendapati beberapa sayuran segar, terutama daun bawang yang banyak –Riou sangat suka daun bawang-, bumbu dapur, jeruk, wagashi, dan onigiri.
"Hmm, apa ini?" Riou menemukan sebuah kotak berukuran 14 cm di bagian dasar kantong besar yang dibawa Samatoki.
Samatoki datang dengan scramble egg yang masih mengepulkan asap, "Ah, itu dari Nemu. Dia maksa untuk membukanya di rumah."
Riou pun membuka kotak tersebut, isinya ada dua pasang sarung tangan. Masing-masing memiliki warna yang berbeda. Biru dan hitam. Tidak ada olesan dekorasi yang berlebihan, Riou tersenyum menyadari perbedaan ukuran, tentu saja yang hitam adalah miliknya.
"Bagus 'kan?" tanya Samatoki kembali dengan salad.
"Aku suka."
Kemudian mereka makan dengan tenang. Terlihat biasa, Samatoki bisa merasakan ruangan ini dipenuhi aroma Riou, ya di samping anjing tentunya. Dua minggu bukanlah waktu yang lama, rasanya Samatoki sudah pergi selama bertahun-tahun. Dia tidak marah sama sekali akan keadaan ruangan ini, setidaknya sudah 4 tahun mereka tinggal bersama, jadi percuma juga untuk coba mengubah kebiasaan keduanya. Hanya saling mengerti, itu pilarnya.
Sudah genap empat tahun setelah kejadian yang tidak akan terlupakan. Pagi itu Samatoki terpaksa membuka pintu untuk mengetahui bajingan mana yang sengaja merusak paginya dengan suara bel yang menusuk telinga. Jiwanya hampir melayang saat melihat Riou berdiri dengan muka penuh noda semacam lumpur, tangan kekarnya menggenggam sebuah tanaman mawar. Ya, dari bunga hingga ujung akar ia bawa. Berdalih jika bunga tersebut ia tanam sendiri. Riou mengajaknya untuk berkomitmen bersama. Sedetik kemudian Samatoki hanya mengangguk tanpa peduli. Akan tetapi saat ini? Dia memiliki pandangan yang berbeda terhadap Riou.
Sungguh konyol menyadari mereka bisa bersatu.
"Anata?"
Samatoki mengarahkan pandangan mata pada Riou, "Ya?"
Riou meletakkan sumpit, tidak lupa mengucap terima kasih atas makanannya. Kali ini ia melihat Samatoki lekat-lekat.
Samatoki menjauh, "Apa?" katanya merasa risih.
"Dengarkan aku baik-baik dan jangan kaget, oke." Samatoki mengangguk ragu, badannya tetap kaku menjauh. Riou mengaitkan jari tangan.
Riou mengambil nafas dalam, "Louis itu betina."
"Woo…oo…oow" Samatoki berkata sambil memutar bola mata, nadanya datar sedatar piring yang mereka gunakan saat ini.
Riou melanjutkan kalimatnya, "Dia baru saja melahirkan 6 anak. Mereka ada di atas." Kali ini Samatoki membulatkan mata, mulutnya terbuka sedikit. Terjadi guncangan cukup keras dalam jantungnya. Ia benar-benar terkejut.
Samatoki dengan cepat memeriksa Louis, memang terjadi perubahan drastis pada bagian perut. Mereka tidak menyadarinya karena bulunya terlalu panjang dan tebal.
"Aku hanya pergi 2 minggu." Katanya sambil menaiki anak tangga. Louis juga mengarahkan pemiliknya dengan baik. Ia menggonggong senang ketika sudah mendekati tempat tujuan.
"Kau tidak membawanya ke dokter?" tanya Samatoki sedikit menaikkan nada.
"Aku jarang di rumah. Lagipula aku tidak tahu."
"Harusnya kau juga memperhatikannya, jangan cuma ngasih makan." Katanya.
"Jadi salahku?"
"Apa aku menyalahkanmu?"
Terdengar Riou membanting barang entah apa itu. Samatoki tidak mempedulikannya. Hari yang luar biasa, ini masih pagi dan mereka sudah bertengkar hanya gara-gara anjing. Sebenarnya ini salah mereka karena sama-sama tidak menyadarinya. Keenam anak anjing itu tampak sehat dan masih lemah, tidak dipungkiri Samatoki sempat luluh karena terbawa suasana. Louis adalah anjing yang pintar, dia mengambil beberapa pakaian untuk membuat sarang agar menyiapkan lingkungan yang hangat dan aman. Salah satunya adalah seragam militer Riou, ia memperhatikan seragam tersebut. Masih terkesan baru dan lumayan terawat, mengingat aktivitas Riou waktu lalu adalah seorang survivor.
Samatoki bangkit, ia ingin mengganti alas anak anjing tersebut. Seingatnya ia masih memiliki sleeping bag di kamar, hanya untuk sementara. Dalam hati ia sempat menyalahkan diri, kenapa selama 2 bulan ini tidak memperhatikan perubahan sikap Louis, ia malah sempat berpikir bahwa Louis sakit karena memang tidak seaktif seperti biasanya. Bagaimana dengan Riou? Dia bahkan hanya pulang untuk tidur dan membantu pekerjaan rumah.
Samatoki memasuki kamar, di sana Riou sedang menyelimuti diri dengan jaket.
"Lain kali biarkan saja Ichiro yang mengurus Louis." Katanya membelakangi laki-laki berdarah Amerika tersebut. Ia mulai sibuk membuka almari untuk menemukan benda yang dicari.
"…."
"Lagian dia yang mau." Lanjutnya masih terus mencari.
Tidak ada jawaban. Riou masih berdiri, ia mengedipkan mata beberapa kali kemudian keluar dari kamar. Ekor mata Samatoki melihatnya, sebelum selesai dengan pekerjaannya, ia sempatkan untuk menyusul Riou.
"Mau ke mana?" tanya Samatoki dari salah satu anak tangga. Riou masih diam, tidak membuka mulut.
"Sempurna! Sekarang kau marah." Katanya sudah menyerah, Samatoki lebih memilih kembali masuk dalam kamar. Seperti dugaan; Riou pergi. Selalu begini, Samatoki selalu membenci kebiasaan Riou yang satu ini.
Sampai di mana tadi, Samatoki menghela nafas kesal sebelum kembali mencari sleeping bag. Buah dari kesabarannya membongkar almari bagian bawah adalah berhasilnya benda itu ditemukan. Samatoki membuka lapisan pembungkus alas tidur tersebut. Lalu, ia membentangkannya, memeriksa kalau tidak ada jamur atau hal-hal yang tidak diinginkan. Sepertinya masih aman. Samatoki putuskan untuk langsung mengganti tumpukan pakaian itu.
Samatoki kembali ke bawah, memakan sisa makanan yang ada di mangkuk pacarnya dengan sabar. Mendengar desis air mendidih, pria berusia 25 tahun ini segera mematikan api. Menyeduh teh hijau tanpa gula. Entahlah, Samatoki lebih menikmati jika dipadukan dengan madu. Di sela ia membuat teh, bel pintu berbunyi.
Cepatnya, katanya dalam hati.
Samatoki menuang teh dalam gelas kedua. Lagi-lagi belum menambah gula. Ia putuskan untuk melangkah karena pintu itu mendesak untuk dibuka.
"Eh? Kau sudah kembali?" Samatoki memberi tatapan masam pada seorang pria berkacamata yang berdiri di balik pintu.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Samatoki kemudian. Pria berkacamata itu tersenyum lebar seraya mengayunkan badan untuk masuk.
"Ahh, aku capek.." keluh Iruma Jyuto melangkah dengan malas. Samatoki mempertanyakan mengapa semua orang merasa capek hari ini, seakan sudah bertarung dengan monster ultraman.
"Terima kasih, tidak usah repot-repot. Tapi karena kau memaksa jadi baiklah." Jyuto menerima teh pemberian Samatoki.
"Tutup mulutmu." Timpalnya sebagai kata ganti sama-sama.
Muka Jyuto getir beberapa detik, ia merasakan pahit dan panas dalam tehnya. Ingin sekali protes, akan tetapi ini hanya cuma-cuma, jadi dia tidak punyak hak.
"Riou mana?" tanya Jyuto seraya meletakkan gelas.
Samatoki bersandar di sofa, "Mati." Katanya. Jyuto berdecak kesal atas jawaban tidak memuaskan dari Samatoki.
"Bertengkar lagi?" Samatoki menaikkan kedua alis.
"Kebiasaan."
Samatoki memandang langit-langit ruangan tersebut sambil bekata, "Memang. Kau pasti tertawa kalau tahu alasannya." Jyuto menunggu dengan penasaran.
"Gara-gara Louis."
Jyuto melepas kacamata, melipatnya dengan hati-hati. Kepalanya menggeleng tidak percaya, "Mana ada kaya gitu. Maksudku, karena anjing? Ayolah kalian bisa lebih dari itu." Komentarnya.
Mau tidak mau Samatoki setuju. Alasan yang sungguh tidak masuk akal. Bukan salah Louis, melainkan salah mereka yang mungkin memaksakan berinteraksi dalam keadaan tubuh yang masih sensitif.
"Aku bilang biarkan saja kalau Ichiro mau mengurus atau sekadar bermain dengan Louis."
Samatoki tertawa kecil, "Kau harus lihat wajahnya saat aku bilang nama Ichiro. Jelek banget." Jyuto ikut tertawa atas penggambaran Samatoki. Alisnya menukik turun, mata yang menyipit dan hidung yang megar-mingkup.
"Memang ada apa?"
"Louis baru saja melahirkan 6 anak, dan aku pikir Ichiro bisa membantu untuk mengurusnya. Kau tahu, aku dan Mason jarang di rumah." Kedua mata Jyuto berbinar mendengarnya.
"Ah… aku mau satu." Katanya.
"Bisa saja." ujar Samatoki sambil meminum tehnya lagi.
"Akan ku namai Doppo."
"Tidak jadi." Tolak Samatoki dengan cepat, membuat Jyuto kembali menjatuhkan diri di sofa.
"Sampai kapan kalian bertengkar seperti ini.." Samatoki mengangkat bahunya tidak tahu. Karena terlalu sering bertengkar, ia pun sudah kebal dan menganggap semua seperti biasa. Jyuto menunggu jawaban lain dari Samatoki sambil menyulut rokok.
"Kalian tidak pernah bicara?"
"Tentu saja pernah, apa maksudmu?"
"Jaa, apa yang kalian bicarakan?"
"Aku rasa itu tidak penting untuk dibahas." Kata Samatoki sambil menarik satu rokok.
"Menurutmu Riou itu seperti apa.."
Alis Samatoki menaut saat mendengarnya, ia langsung memberi tatapan curiga, "Apa sih?"
"Aku akan tidur kalau cuma diam, jadi ceritakan apapun.." kata Jyuto sambil mengibaskan tangan.
Samatoki diam sejenak, menghisap rokoknya sambil berpikir. Ia melirik Jyuto yang memang menjaga diri agar tetap melek. Kalau dia cerita tentang yang lain, seperti kesibukannya dijamin seratus persen Jyuto tidak akan tertarik, kalau tentang Louis dia pasti akan memaksa ambil salah satu anaknya, dan berlagak seperti pemiliknya yang asli, sedangkan itu sangat menyebalkan menurut Samatoki.
Asap tipis keluar dari mulut dan hidungnya beriringan dengan helaan nafas menyerah.
Riou ya?
"Riou itu kadang susah ditebak."
Jyuto menampakkan senyum kemenangan sekaligus pertanyaan.
"Maksudmu?"
000
Riou mendorong Samatoki hingga membentur dinding. Samatoki meraih leher Riou untuk terus mendekat. Kamar itu hanya diterangi oleh dua lampu tidur, sehingga sulit untuk melihat sekitar. Berkali-kali mereka tidak sengaja menabrak meja atau menendang benda apapun yang ada di depan. Samatoki merasakan tangan Riou sudah berada di punggungnya, berhasil untuk melepas lapisan pakaian satu-satunya.
Riou menempelkan bibirnya di sisi telinga Samatoki sambil terus melucuti pakaian, sementara Samatoki merasa senang bisa menghirup aroma tubuh itu sepuasnya. Mereka saling menyentuh untuk menikmati segala macam rangsangan, seakan tidak ingin melewatkan bagian tubuh satu inchi pun. Riou sudah telanjang dada, waktunya Samatoki untuk menyerang bibir laki-laki berambut orange tersebut.
"Ah.." Riou terhempas di tempat tidur. Waktunya untuk membalikkan keadaan, Samatoki dengan tenang duduk di atas. Ia menempatkan diri dengan pas, Samatoki tersenyum kecil menyadari keduanya sudah menegang.
Samatoki merendah untuk mencium bibir Riou. Tidak lupa untuk menyapu langit-langit mulut Riou. Pria berusia 3 tahun lebih tua itu meremas dada kanan Samatoki hingga terdengar lenguhan dari sang pemilik. Samatoki tidak tahan lagi, ia segera melepas celananya secara mandiri. Menendang sejauh yang ia bisa, kemudian kembali membuat tanda kepemilikan secara sepihak.
"Riou, cepat.." bisiknya di ambang batas. Tubuhnya sedikit bergetar hanya karena sentuhan Riou, nafasnya mulai berat.
Riou menegakkan badan, Samatoki membantu untuk membuka celana.
"Fuck…" Samatoki mendesis saat dua jari Riou menembus dirinya. Jari itu terlalu besar, sontak ia memeluk leher Riou agar tidak sepenuhnya ambruk. Kedua matanya terbelalak dengan badan yang menegak, Riou memasukkan jari ketiga dan mulai bergerak tidak beraturan.
Samatoki memandang Riou dengan wajah yang memerah menahan perih, matanya memohon untuk lebih. Riou hanya menjawabnya dengan ciuman di setiap wajah yang bisa ia gapai. Samatoki memilih untuk menutup mata, mencoba menyesuaikan diri sesekali ia memaju-mundurkan pinggangnya. Ciuman Riou mulai turun hingga dada, ia menghisap dan tidak ragu untuk memberikan gigitan.
"Ah!." Samatoki merasakan sesuatu yang menyengat melalui pembuluh darahnya. Gelenyar itu menyebar ke seluruh tubuh. Sentuhan itu tepat pada titik penting dalam tubuhnya. Ia menggigit bibir bawah sambil terus memaksa jari itu menusuk titik yang tepat. Astaga, bahkan dia bukan perempuan, namun sentuhan itu membuat putingnya sangat sensitif.
Tangannya mengusap air liur yang menetes dan mengenai dada Riou. Dia mendesah tepat di telinga Riou, kejantanannya tidak lepas dari tangan besarnya, ia tahu betul bagaimana cara menggoda hingga Samatoki lemas dan mengejang beberapa kali.
Akan tetapi tiba-tiba Samatoki sadar. Matanya terbuka, dilihatnya Riou yang diam mematung. Riou menarik ketiga jari, kemudian meraih tissue untuk membersihkannya. Sangat heran, Samatoki mencoba untuk tetap bertahan.
"Ada apa, hmm?" tanya Samatoki dengan nada rendah, ia mengelus bagian belakang kepala Riou.
Raut wajahnya bingung, ia gelisah melirik kanan kirinya dengan cepat. Keringat mulai mengucur dari pelipis, bibirnya juga pucat, hal itu membuat Samatoki menjadi ikut berhenti. Ia hanya duduk memandangi Riou,
"Maaf." Kata Riou.
Samatoki memiringkan kepala, "Maaf kenapa?"
Terlihat Riou sedang melilitkan tangan di area perut, "Aku harus pergi." Ia segera bangkit dan lari ke kamar mandi. Samatoki menatap kepergiannya dengan heran, namun ia tidak memikirkannya. Samatoki lebih memilih menunggu sambil memijat miliknya sendiri.
Lima menit…
Sepuluh menit…
Tiga puluh menit..
Empat puluh lima menit…
Samatoki menghembuskan nafas kesal karena Riou tidak kunjung kembali. Dengan malas Samatoki menuju lantai bawah. Ia tidak peduli dengan tampilannya yang hanya mengenakan celana dalam. Samatoki tertegun mendengar erangan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Dilihatnya Riou yang sedang meringkuk di atas sofa sambil terus mendekap perutnya, "Kau tidak apa-apa?" tanya Samatoki mendekat.
"Aku bolak-balik kamar mandi hampir 10 kali." Katanya menahan keram yang luar biasa di perut.
Satu alis Samatoki terangkat, "Kau habis makan apa?"
"Pie dan pancake." Katanya sebelum berguling di sisi yang lain.
Samatoki tertegun.
Samatoki memang membuat pie dan pancake siang tadi, dan Riou langsung menyantapnya dalam keadaan perut kosong sejak pagi. Ia sempat senang karena makanan buatannya habis, tetapi hal itu membuatnya lupa dengan rahasia Riou.
"Ah…" ia menyadari kebodohannya.
Riou itu intolerance lactose.
000
Pria berusia 29 tahun itu tergelak. Jyuto terbahak-bahak mendengar cerita yang disampaikan oleh rekannya. Jyuto tertawa hingga dadanya membusung, terdengar Louis yang menggonggong mengira Jyuto mengajaknya untuk bicara.
"Ah, astaga… hahaha.." Jyuto menyeka air mata yang memaksa keluar.
"Berisik!"
Jyuto belum sepenuhnya berhenti, namun lebih tenang daripada waktu lalu.
"Diare? Yang benar saja.." Jyuto kembali tertawa.
Samatoki memajukan bibirnya, mencoba membela diri, "Aku lupa kalau aku kebanyakan pakai susu dan keju. Lagipula dia yang menghabiskannya sendiri." Tuturnya.
"Kau bodoh huh? Samatoki, kau harusnya lebih peka."
"Hah?!"
Jyuto mengambil nafas sejenak agar lebih tenang. Kemudian ia berkata, "Selain suka, dia tidak akan membuatmu khawatir, Goblok. Pantas saja dia memakannya semua." Jelas Jyuto menyeka air mata yang masih tersisa.
Samatoki diam.
Kadang apa yang dikatakan oleh Jyuto ada benarnya, apa karena dia terlalu banyak menyelesaikan kasus, jadi bisa dengan cepat menarik kesimpulan? Mengapa Samatoki tidak berpikir sampai situ?
"Kenapa, aku benar kan?" tanya Jyuto dengan tatapan menyebalkan. Samatoki memalingkan wajah, benci untuk mengakuinya.
"Sekarang, kau sudah puas?" Samatoki ingin mengakhiri pembicaraan ini.
Jyuto menggeleng, "Ceritakan lagi.."
"Hah?"
000
"Aku ada di pintu depan.."
Demi Tuhan, Samatoki sudah membaca pesan itu berkali-kali. Dengan barang bawaan yang lumayan banyak dan otomatis berat ia berjalan mengelilingi stasiun Yokohama. Melewati jalur yang sama, melewati orang-orang yang berlalu lalang seperti dirinya. Hanya untuk bertemu Riou Mason Busujima.
Sebelum sampai tujuan, Riou mengatakan bahwa ia sudah menunggu di stasiun. Namun hingga detik ini dia tidak menemukan batang hidung bule itu. Samatoki tidak terlalu bodoh untuk sekadar menelfon atau mengirim pesan, dia berusaha untuk tetap menjalin komunikasi. Sebaliknya, Riou menghilang lagi. Panggilan tidak terjawab, begitu juga dengan pesan yang entahlah sudah sampai atau nyangkut di tiang listrik.
Perjalanan yang jauh memaksanya untuk beristirahat. Ia mengambil nafas sambil memegang kedua lutut. Sekitar 2 jam ia menunggu, bisa saja ia memesan Uber atau taksi, namun rasa kepercayaannya lebih kuat daripada kekuatan untuk memerintah otaknya agar segera mengaktifkan aplikasi transportasi online.
"Lain kali yang jelas dong.." desisnya membaca lagi pesan yang Riou kirim. Memang jika dilihat pesan itu memang ambigu, pintu depan mana? Pintu depan stasiun, pintu depan rumah, atau pintu depan kamar mandi?
Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk yang tidak lain tidak bukan adalah dari Riou. Samatoki segera mengangkatnya.
"Kau di mana huh? Aku sudah berputar-putar dari tadi seperti orang gila."
"Maaf, Samatoki."
"Lupakan saja, sekarang kau di mana?"
"Sepertinya aku salah stasiun."
Samatoki memandangi layar ponsel bergambar keparat berambut orange itu dengan tatapan datar. Ibu jarinya menekan ikon berwarna merah. Panggilan selesai secara sepihak. Samatoki yang awalnya berdiri tegak akhirnya roboh.
Ia jongkok sambil memijat pelipisnya yang berkedut.
Dengan meremat ponsel, dia mengumpat sejadi-jadinya.
Dua jam ia habiskan untuk hal yang tidak berguna.
Sialan.
Riou memiliki ingatan yang kadang setajam tombak, dan setumpul pantat panci.
000
"Maa, itu bukan salahnya, sih.." komentar Jyuto sambil menaruh kedua tangan di belakang kepala. Punggungnya kembali bersandar di sofa.
"Aku tidak butuh pendapatmu.."
Jyuto membuka matanya, "Dia hanya polos.. terlalu polos."
Samatoki dengan cepat menyanggah, "Polos dan bodoh itu beda tipis, Jyuto." Kemudian dia meneguk teh yang tinggal separuh gelas. Rokok masih setia tersemat di sela jari telunjuk dan tengahnya.
"Setidaknya bodohnya natural." Samatoki hampir tersedak, natural katanya, seakan sudah bawaan dari lahir. Anehnya dia tidak tersinggung, malah sangat ingin mengiyakan.
"Makanya aku heran kenapa kalian bisa…. Kau tau.. 'pacaran'?" tambah Jyuto sambil menyoroti kata pacaran dengan kedua telunjuk.
Samatoki terkekeh, "Awalnya aku tidak peduli, tapi sejak hari itu aku mulai sadar kalau dia benar-benar serius…" ia menghisap rokoknya, kemudian sengaja memainkan asap yang keluar.
"Hari itu?"
Samatoki mengangguk, "Ya.."
"Hari itu."
000
"Onegaiii…. Riou-san."
Seorang laki-laki berambut cobalt blue dengan perhiasan dadu di telinga kiri sedang melakukan dogeza untuk ketiga kalinya. Arisugawa Dice terduduk di depan markas pemadam kebakaran, hari sudah gelap, hanya beberapa anggota yang mondar-mandir, yang lainnya memilih untuk menghangatkan diri di dalam. Samatoki duduk mendampingi Riou, dia baru saja pulang kerja dan memilih untuk mampir sambil membawa makanan.
"Biar ku tebak, rentenir?" tanya Samatoki sambil melipat tangannya di dada.
Dice mengangkat wajahnya, masih dengan ekspresi memohon, "Hehe..Maafkan aku." tangannya menangkup di atas kepala dengan sempurna.
"Kau benar-benar-"
"Samatoki." Riou menyentuh bahu Samatoki, menahan agar tidak meluapkan emosi. Dia diam, sedang berpikir bagaimana jalan keluarnya. Riou ingin membantu, tetapi ia tidak yakin jika hutang itu akan tertutup sekaligus dengan bunga yang entah ada berapa. Yang pasti akan naik setiap bulannya.
"Aku janji akan mengembalikannya secepat mungkin. Aku janji. Bantu aku kali ini saja, Riou-san." Mohon Dice sekali lag; ketika ia ingin dogeza, bahu itu ditahan oleh Riou.
Dengan hangat dia tersenyum, "Ya. Tentu saja." Katanya dengan nada datar seperti biasa.
"Riou—"
"Terima kasih, Riou-san." Dice seketika memeluk Riou. Pria anggota pemadam kebakaran itu dapat merasakan bahu Dice yang berguncang, ia menepuk punggungnya beberapa kali agar lebih tenang. Kedua tangan Dice memeluknya dengan erat, berulang-ulang mengucap terima kasih. Ia bersyukur bisa bertemu dengan pria sebaik Riou -menurutnya.
Pelukan itu terlepas, Dice bisa bernafas lebih leluasa sekarang, Riou menyambutnya dengan senyum kecil. Kemudian ia bertanya, "Apa kau sudah makan?" dijawab gelengan dari laki-laki berusia 20 tahun ini.
Riou mengambil beberapa onigiri yang dibawa Samatoki kemudian memberikannya pada Dice, "Ini… bawa ke dalam, kita makan bersama." Katanya tanpa ragu. Dice berkedip senang, kilatan di matanya menandakan bahwa dia akan menerimanya dengan senang hati.
"Riou-san…"
"Aku akan menyusulmu." Kata Riou membantu Dice berdiri, sebelum pria berambut panjang itu masuk; ia menepuk punggungnya dua kali.
"Apa kau sadar dengan perkataanmu tadi?" tanya Samatoki yang dari tadi tidak diperhatikan. Riou diam sejenak, lalu mengangguk dengan yakin.
Samatoki mengulas rambutnya ke belakang, ia sedang marah. "Dari mana kau mendapat semua uang itu?"
Riou kembali duduk di samping Samatoki. Mereka saling menjaga kepala agar tetap dingin. Angin berhembus pelan, membuat suara dalam keheningan antara dua orang pria. Telapak kaki Samatoki mengetuk lantai dengan tidak sabar, menunggu penjelasan Riou.
"Aku bisa menyisihkan-"
"Tidak. Kau tidak boleh menggunakannya." Tolak Samatoki dengan cepat. Dia sudah menduga pasti Riou akan menggunakan seluruh tabungannya.
"Kau perlu waktu lama untuk mengumpulkannya dan sekarang uang itu kau berikan pada orang lain. Ada yang salah dengan otakmu?" Kedua mata Samatoki tidak berkedip saat mengatakannya, tangannya merapat menetralisir emosi.
"Bukan orang lain.."
Riou memandangnya lurus tepat di mata, "Dia temanku."
Samatoki mematung beberapa saat, pandangannya tidak lagi menuju Riou. Matanya berpura-pura meneliti tumpukan peti kemas pelabuhan yang memiliki berbagai warna selagi kembali bertarung dengan perasaan. Mengapa ia begitu marah, jengkel dan terkejut secara bersamaan? Persetan dengan menjaga komitmen, bahkan dia tidak peduli sejak dari awal
Bahkan Samatoki tidak mengerti dengan hubungan ini.
"Tidak apa-apa, masalah uang itu masih bisa dicari."
"Kau keras kepala." Nadanya terasa dingin.
"Maaf, kau harus menunggu lebih lama… lagi." Pernah suatu waktu Riou mengajaknya untuk tinggal bersama, tentu saja bukan di markas pemadam kebakaran. Ia bersikeras untuk berusaha agar cepat terwujud. Samatoki selalu menawarkan solusi untuk menopang semua beban bersama, ditolaknya tawaran itu lantaran Riou merasa bertanggungjawab. Dia siapa? Apa dia sedang berperan sebagai suami di sini? Ayolah, mereka sama-sama seorang pria. Setelah itu, Samatoki hanya membiarkan Riou bertindak semaunya sendiri. Tapi tidak seperti ini.
Dia marah karena prioritas mereka tergeser. Tergeser oleh orang lain.
Badan Samatoki menegang, ada yang bergejolak dalam dadanya. Apa baru saja dia merasa …. iri?
Bukan, apakah dia cemburu?
Tidak mungkin.
Jantungnya berdebar, semua saraf di otaknya menolak rangkuman pendapat dalam hati. Sangat tidak masuk akal. Samatoki menggelengkan kepala. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar berada di atas kepalanya, mengusap rambut hingga sedikit berantakan. Kepalanya terhenyak dengan beban telapak tangan tersebut.
"Kau tidak apa-apa? Wajahmu merah, Samatoki." Samatoki menepis jauh tangan Riou.
"Bukan urusanmu." Jawabnya dengan ketus. Sedikit tergagap, karena akan mengira kata-kata itu akan terdengar menggelikan.
Waktu berlalu sangat cepat hingga pria bermata ruby itu menyadari Riou sudah menggenggam tangannya erat. Detik berikutnya adalah tentang bibir yang dibungkam oleh pemilik tangan besar itu. Dalam keadaan campur aduk Samatoki menutup mata, apakah saat berciuman bisa sehangat ini? Ternyata tidak terlalu buruk, pikirnya.
Samatoki terserap dalam skenario buatan Riou, satu tangan yang leluasa itu meremas bahu pria di depannya. Dagu terangkat mengikuti setiap ketukan irama yang dikendalikan, semua berjalan sempurna.
Ini ciuman pertama mereka.
Riou mendesaknya untuk membuka celah lebih lebar. Lagi-lagi Samatoki menurut, walau ia belum siap dengan sensasi geli yang terus menjalar pada indra pengecap miliknya. Rasa hangat berubah menjadi panas, entah itu dari suhu tubuhnya atau karena atmosfer baru yang mereka ciptakan sendiri.
"Ah, maaf.."
Kedua mata saling terbuka, mereka lantas menjaga jarak. Samatoki buru –buru mengusap bibir bawah dengan punggung tangan, sementara Riou dengan santai menghadap siapa yang tengah berdiri tepat di depan pintu. Salah satu anggota dari divisinya memberikan ekspresi wajah yang aneh.
"Aku ingin memanggilmu tadi, tapi sepertinya kau sedang sibuk. Hehe, maafkan aku." Dengan gerak-gerik seadanya ia kemudian kembali ke dalam, sedikit membanting pintu karena gugup.
"Lakukan itu lagi, kubunuh." Ancam Samatoki sembari mengemasi diri. Dia siap-siap untuk pergi.
"Yang mana? Membantu temanku sendiri atau.. yang satunya?" Riou mendapatkan jitakan di kepala. Ia sedikit meringis kesakitan.
"Sudahlah, terserah. Aku pergi."
Pria itu berdiri bermaksud mencegah, "Ayo ke dalam, kita makan malam."
"Tidak mau."
"Jangan marah." Ucapnya sangat tenang.
Samatoki memilih untuk membelakanginya, menetapkan diri untuk melangkah. Namun, sebelum itu dia berkata, "Aku sudah membiarkanmu untuk melakukan apapun, setidaknya beri aku ruang." Kakinya bergerak meninggalkan Riou.
"Satu lagi.." Samatoki berhenti di langkah kelima.
Sedikit menoleh, "Jangan terlalu lama." Kata Samatoki sebelum benar-benar pergi.
Sangat sulit. Sangat sulit baginya untuk menebak bagaimana ekspresi maupun gestur Riou sekarang. Dia tidak akan melompat seperti orang gila atau pun menangis keras layaknya gorilla. Yang pasti Samatoki mengerti ada sesuatu di dalam diri Riou.
Ia mengusap pangkal hidungnya, tidak menyangka jika kata-kata terakhirnya adalah sebuah kesempatan. Dia sengaja mengulur waktu, dia sengaja membuat sebuah alasan agar tetap bisa bertatap muka dengan pria besar itu.
"Ugh.. shine." Umpatnya lirih.
Jadi, sekarang siapa yang mulai peduli?
000
Tidak sadar Samatoki menarik sebuah senyuman. Dengan mengingatnya saja ia sudah merasa malu.
"Senyummu menjijikkan, hentikan.." celetuk Jyuto menyadari gelasnya sudah kosong. Seketika senyum Samatoki luntur begitu saja. Jyuto membenarkan posisi duduk, agak melemaskan bahu yang sudah 3 hari bekerja keras di lapangan tersebut hati-hati.
Samatoki dan Jyuto mendengar pintu terbuka, disusul langkah kaki yang mendekati mereka. Keduanya mengangkat dagu ingin melihat siapa yang kembali. Seorang pria melangkah dengan pasti, jaket merah andalan dengan rambut hitam yang berantakan diterpa angin. Kedua mata heterochromia miliknya jernih dan penuh semangat.
"Samatoki-sama! Eh, ada Jyuto juga .." sapanya hangat sambil tersenyum lebar.
"Ichiro!?" sahut Samatoki ikut senang.
Jyuto menaikkan bibirnya sambil berkata, "Jyuto-san.." ralat pria berkacamata ini kesal. Samatoki mendekat untuk merangkulnya, mengusap rambut Ichiro dengan kepalan tangan. Sang pemilik hanya tertawa kecil atas sambutan Samatoki.
Tepat di belakang laki-laki berusia 19 tahun itu ada Riou yang sedang melepas sepatu. Dia membawa kotak besar misterius. Selepas berurusan dengan sepatu, Riou berjalan melewati ketiga orang itu tanpa bicara. Tatapannya masih dingin seperti saat pergi tadi. Ia melangkah naik tangga menuju lantai atas.
Ichiro merapatkan diri, ia berbisik, "Kita bertemu tadi, dia memaksa untuk ke sini. Dia bilang kau ingin bicara." Tuturnya dengan senyum tidak enak. Samatoki dengan cepat melihat jam, terasa sebentar akan tetapi dua jam sudah mereka mengobrol, lebih tepatnya Samatoki yang bercerita.
Samatoki menghela nafas menenangkan pikiran, "Ada wagashi dari Nemu." Samatoki tidak menanggapi perkataan Ichiro sebelumnya.
Ichiro menampakkan kegembiraan dalam raut wajahnya, "Untukku?" Samatoki mengangguk dua kali.
Berkali-kali Ichiro bilang kalau dia tidak menyukai Nemu, namun semua perilakunya berbeda dengan kenyataan. Samatoki tidak keberatan, Ichiro adalah anak yang baik, walau kadang ceroboh. Tapi dia patut menjadi dianggap sebagai kakak yang hebat. Dia bertanggungjawab terhadap kedua adik sekaligus menjadi tulang punggung keluarga di usia yang masih muda.
"Ikuti saja Riou, kau akan tahu." Jari telunjuknya mengarah ke lantai atas.
"Hey, Jyuto kau mau ikut?" tanya Ichiro sudah naik anak tangga. Jyuto melempar ponsel yang sedang ia genggam, dengan cepat ia menyusul Ichiro. Samatoki tahu bahwa ia hanya ingin memarahi Ichiro, bukan untuk melihat keadaan anak anjing.
"Permisi!" ucap Ichiro dengan suara lantang dan berangsur menghilang.
Selama beberapa menit Samatoki berdiri di tempat yang sama. Sambil menunggu ketiga laki-laki yang sibuk di atas, ia membereskan meja. Menaruh alat makan yang kotor di wastafel lalu mulai mencucinya. Deras air watafel membuat Samatoki tidak menyadari adanya seseorang yang turun dari lantai atas. Dia sadar ada sebuah tangan yang menaruh gelas di wastafel, Samatoki menoleh dan mendapati Riou sedang berdiri.
"Apa yang kau bawa tadi?" Samatoki bertanya dengan tangan yang masih sibuk.
"Pet supplies. Pet bed untuk anak anjing dan rumah baru untuk Louis." Memang terdengar suara dari lantai atas, Samatoki berasumsi bahwa mereka sedang merakitnya bersama.
"Masih marah?" Riou menggeleng kecil.
"Aku tidak marah.." dia berbohong.
Riou tadinya hanya ingin keluar, kakinya mengarah ke stasiun, ia tidak naik kereta hanya meminum minuman isotonic sambil duduk menatap kereta yang datang dan pergi. Kemudian ada sebuah suara yang menembus lamunan pria ini. Riou sedikit meremat botolnya tatkala melihat siapa yang memanggil. Yamada Ichiro, baru pulang kuliah tengah melambaikan tangan dengan hangat.
Riou hanya memandang datar, menyembunyikan perasaan rapat-rapat. Riou menggigit bibir bawah saat Ichiro duduk di sampingnya mencoba untuk membuka pembicaraan. Seperti yang dibayangkan, Riou membiarkan Ichiro bicara dan dia hanya menanggapi seperlunya. Begitu terus hingga Ichiro berkata kalau dia sedikit kangen dengan anjing mereka. Riou berpikir sejenak, tidak lama kemudian dia mengajak Ichiro untuk ke apartemen.
"Aku perlu bantuanmu." Katanya sebagai alasan. Ichiro juga menurut, karena kebetulan ia mendapat jatah shift malam dalam kerja sambilan, jadi masih ada waktu luang.
Itulah sebab mengapa Ichiro bisa sampai di sini.
Samatoki memastikan tangannya kering, ia sedikit mengibaskannya beberapa kali. Terlihat Riou yang sedang mempersiapkan beberapa bahan makanan. Kalau dipikir memang hampir memasuki jam makan siang, Riou menyerahkan semuanya pada dua orang laki-laki itu. Toh mereka juga senang dapat bermain dengan Louis, dengan tambahan alasan bahwa bermain dengan hewan peliharaan akan meredakan atau bahkan menghilangkan stres. Jyuto, fakta ini bukan untukmu.
"Samatoki?" panggil Riou merasakan dua tangan yang memeluk pinggangnya dari belakang. Begitu erat.
"Hmm.." Sahut Samatoki kemudian bersandar di bawah pangkal leher Riou.
"Aku tidak bisa memasak kalau begini." Dia bisa merasakan nafas Samatoki yang menggelitik leher.
Samatoki menghiraukannya, hanya bertanya, "Kau.. masih libur, kan?"
"Iya, cuma 3 hari.."
"Kalau begitu besok kita pergi satu hari penuh. Terserah mau ke mana.." kata Samatoki semakin mengeratkan pelukan sampai-sampai ia bisa mendengar detak jantung Riou.
"Louis?"
Samatoki mengukir senyum kecil, "Kau lupa ada dua orang di atas sana?" bahu Riou berguncang menahan tawa.
Dia menjawab, "Kau harus membayar lebih dari gaji mereka."
Riou membalikkan badan, memaksa Samatoki untuk melepas pelukannya. Pria bermata biru itu berjalan, Samatoki hanya bisa mundur. Sedikit terkejut saat Riou membimbing tubuhnya untuk naik ke meja, dengan kedua tangan kekar yang mengapit di sisi kiri dan kanan. Sinar matanya tidak segelap beberapa waktu lalu, membuat Samatoki nyaman memandangi.
"Aku ingin ke pantai.." pinta Riou sedikit merendahkan suara.
"Kau mau seharian di pantai?" bola mata Riou mengarah ke samping, menentukan tujuan lainnya.
"Pantai jadi tempat terakhir. Sebelum itu, terserah…"
"Tidak masalah." Katanya setuju, dengan begitu sebuah kesepatakan sudah tercapai secara adil dan damai.
Riou hendak melanjutkan kegiatan memasak, karena ada sayuran dan buah yang menunggu untuk diolah. Akan tetapi Samatoki menyempatkan diri untuk mengecup bibirnya. Kedua bibir itu menempel untuk beberapa saat. Lengkungan senyuman Samatoki rasakan begitu jelas, ia pun juga melakukan hal yang sama. Bahkan ciuman ini masih sehangat dulu, kali ini tidak terasa kaku. Ah, Samatoki ingin membuat rambut Riou berantakan, sedangkan Riou ingin mendekap Samatoki.
Keduanya menarik diri hampir bersamaan, hanya melempar senyum satu sama lain.
"Mau masak apa?"
"Aku punya beberapa belalang dan-"
"Yappari, minggir, aku saja.." Samatoki mendorong badan Riou menjauh.
"Tapi ini giliranku."
"Fuck off!" Usir Samatoki tidak membiarkan Mason untuk mendekati bahan dan peralatan memasak.
"No, you fuck off." Balas Riou. Sedetik sebelumnya mereka berhasil berdamai, detik berikutnya adalah dimulainya pertengkaran yang lain.
Yang harus dipahami dalam usia yang mereka miliki, sebuah hubungan tidak hanya terbangun hanya dengan ego dan sekadar hasrat. Tidak hanya saling memberi kabar, berkencan dan berlomba untuk memperlihatkan kepedulian. Adanya faktor tambahan katakanlah seperti saling percaya dan memahami kenyataannya memang diperlukan. Tapi kembali lagi, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Setiap manusia di dunia pasti berbeda, jadi omong kosong jika banyak yang beranggapan bahwa mereka mencari 'kecocokan' dengan acuan kemiripan sifat, hobi dan lain-lain. Padahal justru berdasar dari perbedaan itu sendiri akan menciptakan sebuah kecocokan, lebih tepatnya keharmonisan.
Riou memang sulit untuk ditebak, tetapi Riou tetaplah Riou. Bukan orang lain.
Samatoki jadi penasaran bagaimana kesan yang dia bangun dalam pikiran Riou sampai detik ini.
Dia akan bertanya tentang hal itu kapan-kapan.
Kalau ingat.
The End
Omake
"Jyuto-san.."
"Diam.." bisik Jyuto sambil menempelkan jari telunjuk di bibir.
Alis Ichiro menaut, kakinya gemetar tidak bisa bertahan karena sudah jongkok terlalu lama. Mereka bertahan dalam posisi yang sama sambil sesekali mengintip apa yang terjadi di bawah sana. Kaki Ichiro hampir mati rasa menahan beban tubuhnya.
"Apa asiknya nguping orang pacaran huh?" tanya Ichiro menuntut penjelasan. Suaranya sengaja tidak berbisik agar Riou dan Samatoki bisa mendengar, biar ketahuan sekalian.
"Jangan berisik.."
"Astaga Jyuto-san mereka ciuman!" ucap Ichiro tba-tiba panik.
Jyuto menatap Ichiro dengan tatapan sengit, "Umurmu berapa sih? Lihat orang ciuman aja heboh.." katanya.
Ia melanjutkan, "Bayangkan saja yang ciuman itu kau dan Nemu. Sekarang diam, aku jadi tidak bisa dengar." Ucapan Jyuto berhasil membuat semburat merah yang panas di wajah Ichiro, merambat hingga kedua telinganya.
"Jyuto-san…"
"Aku bilang diam!"
000
selalu begini.
selalu menyesal dengan apa yang sebenarnya saya buatTwT
Maaf ini hanya bentuk dari kegajean saya… tetiba dapet ide ini dan karena takut ilang jadi dibuat deh. Eh malah keenakan /plak. Saya pernah mengangkat tema yang hampir sama, tapi versi lain otp ^^
Sampai jumpa di ff berikutnya.
Silakan review!
Arigatou gozaimasu ^^
