Terlahir dengan pita suara yang tidak berfungsi sering kali membuat Naruto dikucilkan. Tak hanya oleh teman-temannya di sekolah, namun keluarganya pun tak lebih baik dari mereka.

Dengan tangan gemetar Naruto memberi isyarat kepada ibunya.

"Aku mohon, jangan pukul aku!"

"Huh?" Kushina tersenyum sinis. "Anak nakal memang harus dihukum, bukan?"

"Maafkan aku! Aku tidak tahu jika di bawah ada tamu."

Bagi Kushina, kekurangan Naruto adalah aib terbesar dalam keluarganya. Tak boleh ada yang tahu akan siapa Naruto sebenarnya. Jika ada orang lain yang bertanya tentang siapa Naruto, Kushina selalu mengaku bahwa Naruto adalah keponakannya yang ia urus karena orang tua biologisnya telah meninggal.

"Kenapa tadi kau mengaku bahwa kau adalah anakku!?" Kushina menjambak rambut pirang gadis berusia tujuh belas tahun itu dengan kasar. "Kau sengaja ingin mempermalukanku di depannya!?"

Naruto menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu sungguh tak mengerti kenapa Kushina selalu memperlakukannya dengan kasar dan kenapa Kushina selalu berkata kepada orang-orang bahwa ia bukanlah anaknya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kushina segera mencambuk tubuh mungil itu hingga meninggalkan luka-luka baru yang Naruto yakini akan sangat berbekas bahkan mungkin sulit untuk hilang.

"Hentikan, Bu! Ini sakit!"

Kushina berdecak, "Ini tidak seberapa dibandingkan dengan rasa maluku pada Kabuto!"

Naruto hanya bisa menangis dalam diam, menahan rasa perih di sekujur tubuhnya. Ini bukanlah kali pertama Kushina berbuat demikian, wanita itu memang selalu berlaku kasar padanya. Bahkan bisa dibilang; seperti ada kesenangan tersendiri bagi Kushina dalam menyiksa Naruto.

"Dengar, ini peringatan terakhir untukmu! Jika di lain waktu lagi-lagi kau mengaku sebagai anakku, aku akan menyiksamu lebih dari ini!" Kushina tersenyum mengerikan sembari menyentuh sebuah luka memanjang yang terdapat pada paha kiri gadis itu hingga membuat Naruto meringis dibuatnya. "Atau kau memang suka dengan luka-luka ini?"

Sinting. Ucapan Kushina membuat tubuh Naruto meremang. Dengan susah payah gadis itu menggerakkan tangannya sebagai jawaban.

"Aku janji, lain kali aku akan lebih berhati-hati. Maafkan aku. Jangan siksa aku lagi."

Melempar cemeti yang biasa dipakainya untuk mencambuk Naruto, Kushina segera berjalan keluar ruangan, meninggalkan Naruto yang berusaha menangis sejadi-jadinya meski tanpa suara. Seolah tangisan itu bisa sedikit mengurangi rasa perih yang semakin menggerogoti tubuhnya.

Kenapa ini terjadi padaku?

Apa salahku?

Setelah memastikan bahwa Kushina takkan kembali ke dalam kamarnya, Naruto segera bangkit berdiri, berjalan tertatih menuju kamar mandi untuk membersihkan darah yang mengotori tubuh serta pakaiannya.

Di luar kamar, Kushina bersandar pada dinding, seperti tengah merenungkan sesuatu.

"Apa gadis itu mati?"

Netra violet Kushina menangkap sosok sang ibu yang berjalan angkuh ke arahnya. "Aku bukan pembunuh,"

Mito menghela napas. "Sampai kapan kau akan mempertahankan anak itu di sini? Aku sudah muak melihatnya! Dia aib, Kushina!"

"Aku tahu, aku tahu," Kushina menyahut malas. "Aku juga muak melihatnya, terutama melihat wajahnya yang begitu mirip dengan pria itu,"

"Lalu, kenapa kau tidak segera membunuhnya saja? Jika hanya disiksa seperti itu dia tidak akan mati!"

Mito salah, wanita tua itu tak tahu saja bahwa perlahan, perlakuan Kushina pada anak semata wayangnya itu bisa saja membuat Naruto mati berdiri.

"Aku hanya senang saja melihat ekspresi kesakitannya setiap kali tubuhnya terluka," Kushina tertawa bak seorang psikopat yang puas jika melihat korbannya kesakitan di depan matanya. "Ah ..., aku selalu membayangkan bahwa ekspresi itu muncul juga di wajah Minato,"

"Kau lamban!" hardik Mito. "Jika kau tidak segera menyingkirkan dia dari rumah ini, biar aku saja yang melakukannya,"

Kushina terbelalak, "Ibu akan membunuhnya?"

Mito menggeleng jijik, "Dasar, bodoh. Aku tidak mungkin mengotori tanganku,"

Satu alis Kushina terangkat bingung. "Lalu ...? Apa yang akan Ibu lakukan untuk menyingkirkan bocah itu?"

"Aku akan menyewa pembunuh bayaran,"

Seketika itu juga Kushina mengulum senyum penuh kegembiraan. "Aku bahkan tidak terpikir ke sana," Lagi-lagi wanita itu tertawa kecil. "Terima kasih, Ibu. Tapi, lakukan semuanya dengan rapi. Jangan sampai kita berurusan dengan polisi,"


Bersambung ...


Author's Note :

Jika ingin segera membaca bab selanjutnya, silakan kunjungi akun Wattpad atas nama hannadwinov. Di sana (Wattpad) aku update lebih cepat dibandingkan dengan di sini (FFN).


Wattpad : 15 / Maret / 2020

FFN : 26 / Maret / 2020