Remember When

Desclaimer : Naruto dan seluruh karakternya milik Om Masashi Khisimoto, saya hanya meminjamnya

Pairing : Kiba/Ino


I think i have lost my way

I keep looking for you like a kid

Believing in those three words you left

I will wait for you

HeartB ~ Remember


"Selamat datang di toko bunga Yamanaka."

Kiba mematung di ambang pintu masuk. Mengamati sejenak senyum familiar yang selalu ia peroleh dari wanita pirang cantik di meja kasir. Sejujurnya bukan bunga yang ia cari, tapi senyum dan sambutan ramah dari anak pemilik toko bunga tersebut yang membuatnya selalu ingin datang ke toko bunga itu. "Ada yang bisa saya bantu?"

Inuzuka tersenyum, melangkah hati-hati menuju jajaran rak berisi bunga-bunga cantik yang tidak semua ia hafal. "Aku mau mencari bunga uhm..." dia berpikir sejenak, kali ini alasan apalagi yang akan ia gunakan. "Ibuku menginginkan tanaman krisan."

"Krisan?"

"Yeah." Matanya lekat mengamati gerak-gerik si pirang, dan berharap wanita itu mengucapkan sesuatu yang terasa akrab. Bukan kalimat-kalimat sopan yang mendadak membuatnya mual.

"Baiklah, akan saya carikan sebentar." Setelah melukiskan senyum tipis, Ino beranjak menuju rak-rak tanaman bunga krisan. "Ibu anda menyukai krisan warna apa?"

Kiba mengerjap, ia bahkan tak tahu warna favorit ibunya. Dan karena ini cuma kebohongan semata, ia beralibi. "Dia suka warna ungu."

"Wah, kebetulan saya juga suka warna ungu." Wanita itu tersenyum lagi, dan meraih tanaman krisan ungu dari rak tanaman.

Seolah ada sesuatu yang melesak ke dalam dadanya, Kiba hanya menanggapinya dengan senyum simpul. "Ungu memang warna yang cantik."

Dalam cara Kiba menekankan kata cantik sembari menatapnya, membuat Ino mendadak tersipu. "Ini bunganya." Jemari lentik wanita itu begitu cekatan memasukkan tanaman tersebut ke dalam tas plastik.

Kiba mengambil dompet dari saku, mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya pada Ino. "Kembaliannya ambil saja."

"Tolong, kali ini jangan lagi." Ino mengerjap. "Anda selalu saja begitu." Bingung harus bagaimana, ia malah gugup sendiri.

Barangkali Ino tidak tahu, betapa Kiba mengharapkannya merajuk, tertawa lepas, bersikap manja dan tidak segan-segan menciumnya. Andai saja, semua tak seperti ini. "Anggap saja bunga-bunga yang kau jual benar-benar memenuhi ekspektasiku, sehingga kau pantas mendapatkan tip." Dia meraih tanamannya yang telah dikemas. "Aku akan sering-sering datang kesini. Jadi jangan bosan." Ada senyum sendu yang terselip di bibir tipisnya.

Gelenyar aneh merambat sepanjang urat nadinya tiap kali melihat ke kedalaman manik Kiba. Seolah luka yang tertoreh disana menyakitinya juga. "Saya akan dengan senang hati menyambut anda. Dan terima kasih banyak sudah sering datang kemari." Ino membungkuk.

"Tak perlu seformal itu padaku." Kiba melambai pelan. "Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa." Ia menarik napas dalam-dalam ketika keluar dari toko bunga. Mengabaikan keinginan menggebunya untuk memeluk wanita itu dan menciumnya, merasakan harum aroma tubuhnya di penciumannya. Namun, ia rasa ia harus cukup bersabar untuk itu.


"Perkembangannya bagus. Dia memang tidak mengingatmu, tapi akhir-akhir ini dia suka sekali membicarakanmu." Wanita 45 tahunan itu tersenyum, menepuk pundak Kiba yang ia temui di minimarket.

Inuzuka tersenyum, sedikit kelegaan membuatnya bisa bernapas dengan tenang. "Seperti apa contohnya Bu?" Jujur penasaran.

"Contohnya?" Wanita itu, Nyonya Yamanaka mengernyit, berusaha mengingat apa saja yang dibicarakan putrinya beberapa hari belakangan. "'Si tampan memberiku tip lagi Bu'. Dan 'Bu kenapa aku merasa tatapan mata Kiba begitu familiar.' Yeah, semacam itu."

Ia bisa membayangkan ekspresi Ino ketika mengungkapkan kalimat itu. Ya Tuhan, andai wanita itu tahu betapa kesepian ia tanpanya. Dan selip senyum terlukis di bibirnya. "Aku merindukannuya Bu. Tapi aku takut dia bakal canggung kalau ku beri tahu, atau dia malah menolakku."

"Aku sebenarnya tidak setuju dengan caramu ini. Kau seharusnya berada di sisinya, bukan memulai segalanya dari nol." Nyonya Yamanaka mengerjap. Pria di hadapannya tampak sedikit kurus, dia pasti banyak pikiran.

"Aku ingin dia mengingatku secara perlahan, mengingatku dengan caranya sendiri bukan melalui pemberitahuan orang lain." Meski yeah, itu berat sekali.

"Aku tidak memaksa jika keinginanmu begitu." Dia kembali menepuk pundak Kiba, tepukan memberi semangat. "Ya sudah, aku harus segera pulang. Semoga harimu menyenangkan, Nak."

Kiba mengangguk, dia masih berusaha tersenyum tenang. "Semoga ibu juga." Katanya ketika melepas kepergian wanita itu.


"Istrimu sudah sadar."

Kiba yang masih berkutat dengan pekerjaan kantornya segera menghentikan aktivitas setelah menerima pesan itu dari ibunya. Dia menuju toilet untuk menghubungi sang ibu. Lama, panggilan itu baru terjawab setelah tiga kali gagal. "Bu, Ino sudah sadar?"

Ketimbang jawaban, wanita di seberang sana malah mengeluarkan suara isakan. Tangis itu memilukan, bahkan si pemilik suara tak memiliki daya untuk menjawab dengan kalimat singkat apapun.

"Bu, apa yang terjadi? Ada apa dengan Ino?" Kiba panik, sumpah. Hal-hal buruk terbayang nyata di benaknya.

"Istrimu tidak ingat siapapun, bahkan ibu mertuanya sendiri. Dia tidak mengingat siapapun." Ibunya mengulangi kalimat memilukan itu beberapa kali, dan membuat jantung Kiba seolah jatuh ke dasar perutnya.

"Tidak ingat siapapun? Dia tidak mengingatku?"

"Kami belum mencoba menanyakan itu padanya. Dokter bilang jangan terlalu memaksanya mengingat hal-hal yang dia lupakan." Isakannya masih terdengar nyata. "Tapi kau jangan khawatir, dia akan menjalani terapi. Dia akan mengingatmu lagi."

Untuk beberapa saat, Inuzuka tidak tahu apa yang ingin dikatakannya. Lidahnya terasa tumpul, dan dunianya seolah terpisah dari dunia nyata. "Bu."

"Ya Sayang?"

"Jangan mencoba bertanya padanya tentangku." Karena jujur ia tahu reaksi yang bakal dilayangkan Ino. Ia tidak siap untuk itu. "Aku akan membuatnya mengingatku dengan caraku sendiri."

"Tapi--"

"Ku mohon Bu."


Kiba agak ragu ketika mampir ke toko bunga Yamanaka sore itu. Kemeja kerjanya masih melekat, dan entah kenapa keinginannya yang menggebu untuk datang ke sana tak bisa ditahan lagi.

Dari pintu kaca depan, ia bisa melihat Ino yang tengah mondar-mandir melayani pembeli. Senyumnya masih sama, tidak pernah berubah meski ingatannya tak kembali. Dan debar pelan di dadanya membuat Kiba diam sejenak di depan mobilnya, ia akan menunggu sampai pembeli terakhir pergi.

Ia melangkah menuju pintu masuk saat pembeli terakhir baru keluar dengan buket besar mawar merahnya. Ino tengah membereskan tanaman di rak paling atas ketika Kiba membuka pintu, dan menyaksikannya terpeleset dari tangga ketika berusaha turun. Dengan cekatan pria itu berlari, menangkap tubuh ramping wanita itu yang nyaris terjun ke lantai.

Ino menahan napas ketika tangan besar Kiba menangkapnya. Ia pikir tubuhnya bakal terbanting di lantai yang keras, tapi tergantikan oleh pelukan lembut yang terasa hangat. Astaga, aroma maskulin pria ini yang bercampur parfum terasa begitu familiar. Tapi berapa kali pun ia berusaha mengingatnya, otaknya tak mampu. Untuk beberapa saat, ia malah terpaku melihat rahang kaku pria itu. Iris coklatnya terlihat begitu mengagumkan, dan ia mendadak tersipu melihat bibir pria itu, kenapa bentuk bibirnya begitu menggoda.

"Hati-hati." Sejujurnya Kiba tidak ingin cepat-cepat melepaskan pelukannya pada wanita itu, tapi ia tak tahan melihat wajah cantiknya dalam jarak sedekat itu. Rasanya ingin menciumnya.

Si pirang menelan ludah, mengangguk sembari melepaskan diri dari pelukan Kiba. "Maaf, maafkan saya."

"Tidak perlu minta maaf. Tidak apa-apa." Kiba menyukai senyum Ino, ekspresinya ketika tersenyum selalu tampak imut. "Dan Ino, aku kan sudah bilang jangan menggunakan bahasa formal seperti itu saat bicara padaku. Aku kurang suka."

Iris biru jernih itu mengerjap, berusaha mencerna permintaan si lawan bicara. "Tapi--"

"Panggil aku Kiba, dan jangan pernah menggunakan kata 'saya' ataupun 'anda' ketika berbicara denganku." Kiba mengamatinya, dan mendapati anggukan dari Ino. Anggukannya ragu-ragu, tapi itu sudah cukup untuk membuatnya sedikit lega.

"Uhm, ada yang bisa ku bantu? Maksudku mau cari bunga apa?" Matanya menatap Kiba malu-malu.

"Sebenarnya aku tidak sedang mencari bunga. Bungaku sudah banyak sekali." Ia terkekeh pelan, memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Malam ini kau tidak sibuk kan? Aku mau mengajakmu dinner."

Ino mengerjap, terpaku dengan ajakan yang terbilang mendadak ini. Bingung harus bersikap bagaimana, ia malah diam dan mengamati pria di hadapannya yang masih memasang senyum penantian.

"Jadi, ada waktu atau tidak?"

"Pergilah bersama Kiba. Lagipula, kau juga tidak ada kegiatan kan malam ini?" Nyonya Yamanaka keluar dari ruangan yang lebih dalam. Memasang senyum diantara matanya yang berkaca-kaca. "Biar sekali-kali melihat keadaan di luar. Kau juga perlu hiburan kan?"

"Tapi Bu--"

Nyonya Yamanaka mengangguk. Membuat keraguan yang sempat melanda Ino mendadak luntur.

"Oke." Ino menjawab ragu-ragu.

"Baik, aku akan menjemputmu jam 7." Ada debar bahagia yang seolah meledak dalam dadanya. "Sampai jumpa nanti." Kiba membungkuk pelan pada Nyonya Yamanaka, nyaris memanggil wanita itu ibu, namun urung. Senyumnya masih mengembang lekat di bibir ketika ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Sembari menatap Kiba yang mulai memasuki mobilnya, Ino mulai bicara. "Bu, si tampan itu siapa sih?"

Nyonya Yamanaka mematung. Bingung harus menjawab apa.


"Jadi rumahmu dekat dari sini?"

Kendati suasana rumah makan itu begitu mengagumkan dengan nuansa klasik, Kiba sama sekali tak tertarik dengan keadaan sekitar, karena wanita di hadapannya jauh lebih menakjubkan dari apapun. "Yeah, mau mampir ke rumahku?"

Ino tersenyum canggung, apalagi melihat Kiba yang tidak berhenti menatapnya dengan pandangan akrab dan mungkin bisa dideskripsikan setengah mesum, astaga harusnya tadi ia tidak pakai gaun tanpa lengan begini. Jadi memancing birahi kan. "Lain kali saja."

Seorang pelayan membawakan pesanan mereka, dan keduanya saling diam dengan tatapan tak pasti. Baru setelah pelayan itu pergi, Kiba memperoleh kembali topik yang ingin ia ungkapkan.

"Kau dulu suka sekali datang ke restoran ini. Bahkan kau--" dia diam sejenak, merasa ucapannya nyaris keluar dari rencana. "Maksudku, kata ibumu kau suka datang ke tempat ini. Tadi aku sempat bicara padanya ketika menunggumu."

"Oh." Ino mengangguk. "Mungkin ini agak familiar. Tapi serius, aku tidak ingat."

Kiba melambaikan tangan, menyuruh wanita itu mengabaikan kalimatnya barusan. "Jangan dipaksa mengingat kalau memang tidak ingat. Setelah menjalani terapi, aku yakin ingatanmu bakal kembali." Meski yeah, membiarkan ranjangnya di rumah hanya ia tempati sendirian membuatnya agak frustasi. "Ayo makan, sebelum makanannya jadi dingin."

Wanita pirang itu menggigit bibir bawahnya ketika mengamati lawan bicaranya mulai mengambil mie dari mangkuk menggunakan sumpit. Dia agak ragu, namun berusaha membulatkan tekad untuk bertanya. "Kib, sebenarnya kau itu siapa sih? Maksudku, sebelum aku hilang ingatan."

Kiba nyaris tersedak mi ketika mendengar pertanyaan itu. Dia mengerjap, dan berusaha mengalihkan perhatian dari tatapan wanita di hadapannya.


"Kib-- eh." Ino merasakan pipinya menghangat ketika menyaksikan Kiba baru keluar dari kamar mandi. Handuk melilit bagian bawah tubuhnya, namun pria itu membiarkan dadanya telanjang. Mengekspos tubuh menawannya yang mengangumkan. Lekuk-lekuk otot dada dan lengan membuat jantung Ino berdebar menyaksikannya. Salahkan saja tindakan cerobohnya yang memasuki rumah orang tanpa menunggu persetujuan. "Maaf, aku tidak lihat. Aku tidak lihat." Dia memalingkan wajah, tesipu parah.

Kiba terkekeh pelan. Jika ingatannya lengkap, Ino pasti tahu hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan, meski mungkin reaksi tersipunya bakal sama. "Lihat juga tidak apa-apa."

Tak ada jawaban. Wajahnya makin memerah ketika mendengar lontaran kalimat lawan bicaranya. "Habisnya kau ku panggil beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Rumahmu juga tidak dikunci."

"Uhm, yeah. Tidak masalah kok, anggap saja ini rumahmu sendiri." Kiba masih mematung, agak terkejut melihat kedatangan Ino ke apartemennya. "Omong-omong, ada perlu apa?"

Ino menunjuk beberapa kotak makan yang telah ia letakkan di meja makan. "Ibu menyuruhku mengirimimu makanan. Katanya kasihan padamu."

"Uh, so sweet." Lagi-lagi ia tertawa pelan, sementara lawan bicaranya tetap memalingkan wajah.

"Pa-pa." Bocah laki-laki kecil yang usianya belum genap 2 tahun, keluar dari pintu di belakang Kiba. Tetes air dari tubuhnya yang telanjang membasahi lantai di bawahnya.

"Eh?" Ino mendadak terkejut dengan kehadiran makhluk mungil tersebut. Bocah itu luar biasa menggemaskan dengan tubuh gemuk dan senyum yang benar-benar lucu. Rambutnya berwarna coklat seperti Kiba, namun matanya berwarna biru cerah "Kau sudah punya anak?"

"Ya, begitulah." Kiba menatap sendu putranya yang memegang lutut kanannya, menyembul malu-malu mengamati Ino.

"Astaga, kupikir kau belum menikah."

"Sudah." Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya sesak mendadak.

"Dia lucu sekali, boleh ku gendong?" Binar tertarik yang terpancar dari mata Ino penuh ekspresi familiar yang benar-benar jujur.

"Tentu saja. Kau boleh menggendongnya. Aku mau pakai baju dulu."

Ketika tangan Ino meraih bocah mungil itu, si kecil langsung membenamkan tubuhnya pada tubuh Ino. Seolah berusaha mencari kehangatan disana. "Namanya siapa Kib?"

"Yama." Pria itu bergumam pelan, rasa pedih seolah melesak membentur hatinya ketika bocah kecilnya tertawa pelan di pelukan Ino.

"Yama? Oh, imut sekali." Demi Tuhan, Ino tak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan. Pelukan tangan-tangan mungil di tubuhnya terasa begitu familiar.

"Ma-ma."

"Mama?" Wanita pirang itu mengerjap, menatap Kiba dengan ekspresi minta penjelasan.

Namun ketimbang berusaha menuntaskan keinginan Ino, Kiba malah berbalik dari tempatnya. "Ya sudah aku mau ganti baju dulu." Dan meninggalkan Ino dengan keingin tahuannya yang menggelegak.

end

Fic lama, lama sekali sampai aku nggak ingat pernah nulis ini

~Lin

24 Maret 2020