Kita ini sesama gadis
Tetapi, kenapa aku memiliki perasaan ini?
.
.
.
.
.
.
.
Sword art online Fanfiction
Yuuki Asuna x Alice Schuberg
.
.
.
.
.
.
.
.
Surai berwarna peanut itu bergerak mengikuti terpaan angin sepoi-sepoi. Di bawah sebuah pohon, gadis itu duduk di sebelah nisan dalam diam. Sesekali ia mengelus nisan yang bertuliskan nama sahabatnya.
Konno Yuuki
Ia sudah lelah. Namun, air matanya terus mengalir. Rasanya sangat sakit. Kenangan-kenangan indah bersama Yuuki masih diingat olehnya. Lantas ia berdiri dari duduknya.
"Aku akan kembali lagi, Yuuki. Tunggu aku ya."
"Hey, Asuna! Maukah kau berjanji padaku?"
Gadis bersurai hazel itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Asuna, nama gadis di sebelahnya menaikkan sebelah alis.
"Janji apa itu Yuuki?"
Yuuki tersenyum lebar. "Berjanjilah kau akan menikahi ku ketika aku sembuh nanti, aku tidak ingin penolakan."
Asuna terkekeh. "Ya, aku berjanji."
Senyum lemah terlukis di wajah Yuuki, tanpa sadar ia menintikkan air mata.
"Terima kasih, Asuna."
.
.
.
.
.
"Dokter! Dokter! Ku mohon tolong selamatkan Yuuki! Ku mohon."
"Tenanglah, nona. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya."
'Aku tidak ingin kehilangannya...'
Menunggu dalam waktu yang cukup lama. Pria dengan jas putih itu keluar dari ruangannya. Asuna langsung berdiri dan bertanya sembari menangis.
"Tuhan telah berkehendak. Dia tidak dapat diselamatkan, penyakitnya yang cukup parah dan fasilitas yang kurang mendukung membuatnya harus menghembuskan nafas terakhirnya."
Asuna jatuh terduduk. Air matanya mengalir deras. Ia menangis sembari memeluk dirinya.
'Selamat tinggal, Yuuki...'
"Sudah pukul 8 malam dan kau baru pulang?"
Seorang wanita melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap lurus kearah Asuna. Gadis itu hanya diam. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan ibunya.
"Darimana kau?"
"Pemakaman."
"Ck, tidak bosan kah kau terus menziarahi makamnya?"
"Tidak."
Lantas gadis itu berjalan menuju kamarnya. Mengabaikan teriakan ibunya. Asuna mendudukan dirinya di atas ranjang. Kemudian matanya beralih ke telepon pintarnya. Beberapa hari ini Kirito tidak mengabarinya.
Ah, ia baru ingat. Putusnya hubungan antara keduanya membuat Asuna tanpa sengaja menghapus nomornya. Bodohnya aku, batin Asuna.
Tak lama ia menutup matanya dan berharap terlelap dalam mimpi indah.
.
.
.
.
.
Sementara itu, seorang gadis dengan surai blondenya menatap langit malam. Tak ada bintang yang menghiasinya. Suara gemuruh terdengar dan rintik rintik air membasahi bumi.
Ia menghela nafas.
"Tidak bisa tidur?"
Sang adik yang baru saja keluar dari kamarnya. Kakaknya mengusap tengkuknya.
"Ya, begitulah.."
"Kau tidak merasa gugup, kan?"
"Gugup? Untuk apa aku gugup?"
Selka tertawa kecil. "Ahaha, ini karena pertama kalinya kau berada di Jepang. Jadi, kupikir kau gugup. Apalagi besok kau mulai masuk sekolah."
"Hah.. Aku hanya sedang berpikir. Mengapa ayah menunjukku sebagai penerus perusahaannya, itu saja."
Si surai caramel tertunduk. "M-maaf, aku tidak bermaksud. Pasti menurutmu itu sangat berat."
"Tidak apa apa. Lagipula aku anak sulung sedangkan kau anak bungsu, adikku. Pastilah aku yang bertanggung jawab."
"Aku menyayangimu, kak."
Selka memeluk kakaknya sayang. Sang kakak pun membalas pelukannya sembari mengusap kepala adiknya.
"Tidurlah, kau masih mengantuk kan? Besok kau harus sekolah."
"Kakak juga harus tidur. Ingat loh, ini pertama kalinya kakak di Jepang! Jangan terlalu banyak pikiran. Selamat malam."
"Ya, selamat malam."
Sang mentari telah menampakkan wujudnya. Burung burung berkicau menjadi pertanda bahwa pagi telah tiba.
Asuna secara perlahan membuka kedua kelopak matanya. Menunjukkan manik yang sewarna dengan surainya.
Matanya serasa bengkak. Tubuhnya sakit dan pegal. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Ia tak heran mendapati wajahnya yang berantakan. Sisa air mata yang masih membekas dan kantung mata yang terlihat jelas.
Ini bukan pertama kalinya ia seperti itu. Lebih dari tiga kali ia terbangun dan mendapati dirinya dalam kondisi begitu.
"Kebiasaanku kambuh lagi."
.
.
.
"Asuna, ibu harap kau mendapat nilai yang bagus dan prestasimu meningkat. Dengan begitu ibu tidak malu mempunyai anak seperti mu."
"Aku pergi dulu."
Jujur, Asuna muak dengan kelakuan ibunya. Jika ibunya malu mempunyai anak sepertinya. Lantas kenapa ibunya selalu menahannya ketika ia ingin kabur dari rumah?
Tidak ada spesial pagi ini. Namun, hatinya sedikit berbeda. Bukan, ia sedang tidak merasakan doki doki atau semacamnya. Dari sudut mata Asuna, ia melihat mantan kekasihnya sedang berbicara akrab dengan gadis lain.
Ah, Asuna ingat. Gadis itu bernama Sachi. Gadis manis yang sangat baik dan ramah pada siapa saja termasuk dirinya. Ia iri dengan sifat Sachi yang terbuka dengan orang orang. Tidak seperti dirinya.
Bruukk
"M-maaf, aku benar benar minta maaf!"
Asuna membungkukkan badannya. Pagi pagi sudah membuat kesalahan payahnya aku, batin Asuna.
"Tidak apa apa. Angkat kepalamu."
Gadis peanut itu mendongak dan melihat gadis yang asing baginya. Surai blonde dengan manik biru sapphire yang indah. Ia terpana akan pesona si gadis.
'Murid baru?'
"Apa yang kau lihat?"
"A-ah, a-apa kau murid baru disini?"
Asuna gelagapan dirinya tertangkap basah karena terlalu lama memperhatikannya.
"Ya, bisakah kau mengantar ku ke kantor kepala sekolah?"
"T-tentu saja."
Dengan begitu mereka berdua berjalan berdampingan ke tempat yang dituju. Asuna sesekali melirik kearah si gadis blonde. Mereka berhenti kala berada di depan kantor kepala sekolah.
"Kita sudah sampai. Ano.."
"Ah, ya terima kasih."
Si gadis membuka knop pintu. Namun, Asuna menahan tangannya.
"Ano.. Siapa namamu?"
"Alice. Alice Schuberg."
Ia melepas tangan Asuna dan masuk ke dalam tanpa menyadari Asuna yang terdiam.
'Kenapa aku melakukan itu?'
Halo ini fanfic pertama saya!
Jadi, maaf jika kalian kurang atau kurang suka.
Apalagi genrenya girlxgirl-'
Saya hanya menyumbangkan apa yang saya pikirkan kok. Tidak lebih.
Terima kasih buat kalian yang mau membaca fanfic ini.
Tenang saja saya akan membuat chapter selanjutnya!
