Can you remember who you were, before the world told you who you should be? Pemandangan berganti, musim datang dan pergi, seiring dengan hati Aria yang kian membeku dan nyaris mati.

Vocaloid © yamaha, crypton future media, etc.

.

They stabbed you, then said that it was just a joke. And you stupidly just laughed with them, even though your blood didn't stop flowing.

Kau tersenyum. Lagi dan lagi. Kau biarkan realita merusak dirimu. Kau biarkan mereka menghancurkan jiwamu. Terus menerus, setiap waktu dan setiap saat, hingga kau lupa kapan terakhir kali hatimu tidak berdarah.

Tapi kau dengan bodohnya hanya tersenyum, tertawa ketika mereka menusuk punggungmu. Tak bereaksi selain memamerkan cengiran konyol ketika kau disengat kata-kata berbisa.

Naif.

Kau percaya, mereka tak akan menyakitimu. Mereka hanya tak tau. Mereka hanya tak sadar ketika perlakuan mereka membuatmu menangis darah. Meski kau sendiri sadar bahwa kau tak akan pernah selesai menghitung berapa banyak bekas luka yang mengoyak hatimu menjadi serpihan kecil-kecil.

Naif.

Kau percaya, mereka menghargaimu sebagai manusia. Mereka menganggapmu berharga pula. Sama seperti kau yang merasa tak pernah bisa hidup tanpa mereka.

Naif.

Kau menggenggam tangan mereka erat-erat. Tapi kau juga tak bisa mengelak saat mereka memberontak dan lari darimu. Padahal kau tak pernah meminta lebih, harapanmu hanya satu dan hanya satu. Biarkan dirimu berdiri di samping mereka.

Mereka pergi satu per satu. Berjanji tak akan pernah melupakanmu. Memberi kepastian bahwa mereka tak akan pernah melepas kontak dengan dirimu. Tapi kau tak perlu menunggu lama, karena akhirnya kau tau mereka telah lupa eksistensimu di hidup mereka.

Mereka bahkan lupa, kalau dirimu pernah ada.

You thought that they are more precious than anything in the world, when your existence for them is nothing more than a tool that can be thrown away when it's useless.

Terkadang, salah seorang kembali padamu. Berkata kalau mereka merindukan keberadaanmu. Menawarkan kembali persahabatan yang sudah lesap ditelan waktu.

Tangannya diulurkan kepadamu. Tapi kau tak sadar, bahwa ia hanya ingin merantai pergelanganmu.

Kau pikir, keberadaanmu sudah diakui. Sebelum mereka pergi kembali ketika sudah merasa bosan.

Kau sudah disakiti berulang kali. Tapi kau selalu memaafkan mereka setiap kali mereka datang kembali.

Takdir berputar. Mengulang hidupmu dalam siklus yang sama.

Mereka datang. Menyakitimu. Lalu pergi.

Datang kembali. Hanya untuk mencekikmu. Lalu pergi kembali.

Dan tak peduli sebanyak apapun kau berbuat baik pada mereka, mereka tak pernah menyambut uluran tanganmu. Mereka hanya menjangkaukan lengan, mematahkan tanganmu hingga berdarah. Lalu bertanya mengapa kau kesakitan.

They stab you in the back. And then ask why you're bleeding.

Kau maafkan mereka, tapi mereka bahkan tak pernah merasa berbuat salah. Kau beri mereka jiwamu, tapi mereka bawa neraka padamu.

Kau bertanya-tanya, dimana serpihan hatimu berhamburan. Kau tersiksa, karena logikamu terus berkata kalau kau sendirian.

Tidak. Mereka temanku. Mereka temanku. Mereka temanku.

Mereka... temanku.

Apa benar begitu?

Kau sadar saat kau sendirian di tempat gelap. Kau sadar saat kau mengasingkan diri dari segala riuh dunia, agar kau bisa mendengar suaramu sendiri.

Mereka meninggalkanmu. Mereka tak pernah peduli padamu. Mereka hanya kepingan masa lalu yang tak akan pernah kembali. Kau harus membunuh eksistensi mereka, atau bayang-bayang mereka tak akan pernah membiarkanmu hidup.

Kau pun tertawa. Lagi dan lagi. Mungkin kau sudah gila. Mungkin otakmu sudah sama hancurnya dengan hatimu yang berserakan. Kau biarkan gema suaramu sendiri menenggelamkan dirimu. Menerima semua iringan lagu beracun yang membuatmu tercekik.

Kau tau. Kau tau semuanya sejak awal. Bahwa mereka tak pernah anggap kau berharga. Tapi kau pikir kau akan tetap baik-baik saja selama kau sembunyi di balik kebohongan yang kau buat sendiri. Kau selalu mendoktrin diri sendiri, kalau mereka tak akan pernah meninggalkanmu.

Percuma. Semuanya sia-sia. Kau hanya hidup sekali, dan kau habiskan semuanya untuk menangisi orang yang tak peduli. Meski kau sekarat. Meski kau berjalan di atas pisau hanya untuk mereka.

Tidak lagi.

Tidak lagi.

Tidaklagitidaklagitidaklagitidaklagi-

Kau terlalu peduli. Kau berikan segalanya, sampai kau tak punya apa-apa. Kau hancurkan dirimu agar mereka bahagia. Tapi kau dibuang. Kau dibuang. Kau.. dibuang.

Kau lupakan segalanya. Kau menangis hingga kau rasa air matamu nyaris kering. Kau berteriak sekeras mungkin. Sampai tenggorokanmu perih dan suaramu jadi serak.

Satu yang kau tau. Kau sudah mati.

Jantungmu masih berdetak. Tapi kau sudah mati. Nafasmu masih berhembus, tapi kau tetap mati.

Ketika air mata terakhir mengalir dari netramu, semuanya jadi gelap. Kepalamu pening, semua terasa sangat menyakitkan hingga kesadaranmu terenggut dan kau jatuh dalam kegelapan yang dalam.

Saat kau membuka mata lagi, kau sadar satu hal.

Ichinose Aria sudah melupakan segalanya.