Impianku tak terlalu tinggi.

Hanya sebatas, menua bersama seseorang yang terus mendampingi dengan dikelilingi derai tawa dan tangis dari cucu, senyum dan kerepotan anak.

Hanya itu.

Tapi, rasanya susah untuk ku gapai.

Mengapa?

Sepele saja sebenarnya. Karena aku, masih terlalu takut untuk memulai sesuatu yang pastinya akan menyakiti, suatu hari nanti.

Pernikahan memang layak disebut sebagai sekolah seumur hidup. Karena, dalam keseharianmu itulah kamu belajar arti kehidupan dan ujian.

Aku pernah gagal, sekali. Dan aku tidak berbohong, bagaimana menyakitkannya perpisahan yang terjadi diantara kami. Masih teringat jelas, air mata yang terus mengalir, hati yang berdenyut nyeri, ingus yang tak berhenti keluar, badan yang terasa lemas, dan kepala pusing, juga teriakan-teriakan yang membunuh semua mentalku.

Tekanan demi tekanan, yang aku tahan akhirnya meledak dan menjadi puing-puing luka yang tentunya melukai kedua belah pihak.

Aku bukan penyabar. Aku bukan wanita yang ia inginkan untuk hidup penuh kedamaian dan keharmonisan. Aku, memang bukan yang dia cintai setulus hati.

Dan aku sadar, aku tidak akan bisa hidup bersama seseorang yang tidak menaruh seluruh hatinya padaku selama sisa hidupku.

Malam itu, kamu pergi setelah banyak kata dan rayuanmu padaku.

Tapi, beberapa bulan aku sudah berfikir dengan kepala dingin. Dan keputusanku sudah bulat. Meski, aku melepasmu dengan penuh air mata, tapi jauh di lubuk hatiku. Aku merasa lega. Aku merasa, aku tidak menyulitkan hidupku lagi.

Kini, setahun setelah kepergianmu. Orang-orang mulai bertanya, bilakah waktu aku menemukan penggantimu?