Catatan: Pokok gua disini mau cetira minecraft daripada harus ngabisin kertas. Ceritanya tentang hubungan saudara Notch dan Herobrine. Udah, baca boleh gak baca gak apa apa.
Dibawah hujan badai yang deras, tidak bisa dipungkiri bekas pertarungan hebat antara kakak dan adik yang melegenda diseluruh jagad Minecraftia. Seluruh hutan hancur, banyak cekungan sisa ledakan dahsyat. Sang kakak hanya memandangi adiknya berdarah darah. Dia hanya memandanginya dengan penuh rasa penyesalan dan kesedihan yang dalam. Berharap peperangan ini cepat berhenti dan tidak ada yang akan dikorbankan dari Kedua pihak. Desahan napas sang kakak bersamaan dengan datangnya petir yang menerangi mereka semua.
"Hero - brine, tolong... hentikan semua ini..."
"Hentikan ini... KATAMU..." mulutnya mengeluarkan darah tanpa henti.
Meskipun tangan kirinya sudah terputus dan menyisakan tangan kanan, dengan beraninya dia masih mengarahkan pedang Endless Dark Void hitam yang masih berkekuatan dari keluarnya asap pada pedangnya.
"Tidak akan sebelum kau mati... Notch," mata putih bersinar masih memberikan kebencian penuh pada Notch.
Keadaan mereka bagai bumi dan langit. Herobrine terluka parah disekujur tubuh dan kehilangan satu tangannya. Tetapi berkat hujan deras yang membasahi mereka, tubuh yang awalnya bermandikan darah kini hanya tertinggal luka luka yang cukup besar dan terlihat jelas.
"Kau bodoh... Dengan meminta maaf saja kamu pikir CUKUP UNTUKKU?!" dia sekarang benar benar marah.
"Aku selalu tidak mendapatkan keadilan dari dahulu. Akibat... Para manusia ciptaanmu yang kamu cintai itu..."
"... adikku... aku tak bermaksud..."
"APA LAGI YANG INGIN KAMU LAKUKAN UNTUK MEMBUATKU SENGSARA SEPERTI INI NOTCH!! JAWAB AKU!"
Dia berteriak lantang ditengah bisingnya suara hujan deras. Dengan aura kesedihan dan kekecewaan yang dikeluarkannya membuat Notch makin merasa bersalah. Keputusan bodohnya membuat adiknya menderita kesengsaraan dalam 100 tahun. Berharap ia kembali meminta pengampunan, sebaliknya dia membalas dendam atas semua manusia dan kakaknya yang telah menyiksanya tiada akhir.
"Aku akan membunuhmu... SEKARANG JUGA!"
Herobrine maju dengan sekuat tenaga untuk menyerang Notch kembali. Pedang mereka bertumbuk kembali hingga mengeluarkan percikan bunga api diantaranya. Herobrine melancarkan serangan atas dan Notch berusaha menahannya. Saat tangan Herobrine sedang menekan atas, Notch mengambil kesempatan untuk menendang perutnya sampai terpental dan mulut mengeluarkan darah lebih banyak. Herobrine tetap bersikeras mendorong tubuhnya untuk menyerang Notch kembali, akan tetapi Notch tiba tiba menjatuhkan pedangnya.
"Bunuhlah aku sekarang, Brine... Tapi kau harus bersumpah untuk tidak lagi membunuh manusia. Biarkan aku yang menjadi pelampiasanmu, jangan pada manusia," Notch menatap tajam Herobrine.
Herobrine yang melihatnya tanpa berkata apapun segera melaju pesat dengan posisi pedang mengarah ke dada Notch. Notch yang mengetahui ajalnya sudah tiba menutup mata dan berharap ini semua akan berakhir.
1 detik
5 detik
10 detik
15 detik
Notch tidak sama sekali merasakan gelombang sakit didadanya. Tidak tahu apakah dia sudah mati atau belum. Suara hujan dan badai masih terdengar ditelinganya. Dia memutuskan untuk membuka matanya. Notch terkejut setelah apa yang dilihatnya. Pedang hitam itu hanya berjarak sejengkal dari dadanya.
'Tidak mungkin... Dia menghentikan serangannya...', gumam Notch yang masih tercengang.
Tangan Herobrine bergetar hebat hingga menjatuhkan pedangnya ke tanah. Kepalanya merunduk dan bergetar. Dia mengambil langkah mundur menjauh dari Notch. Notch mendengar isakkan seseorang dikerasnya gemuruh hujan.
"Mengapa...mengapa...? Aku tak bisa melukaimu... ataupun membunuhmu,"
"apa?" Notch sampai tidak percaya, menganggap dirinya hanya salah dengar.
"Hero.." Notch memanggilnya.
"MENGAPA AKU TAK BISA MEMBUNUHMU?" tangisnya pecah sekarang.
Dia menangis sekeras kerasnya dan berlutut karena kaki sudah tidak kuat menopang tubuhnya lagi. Semua emosi dan bagian jiwa terang dan gelapnya saling bertumbuk membuat kepalanya kacau. Notch mendekatinya dengan pelan tetapi dia dicegah dengan gempa yang dahsyat hingga tanah untuk pijakan Herobrine terbelah dan dia jatuh kebawah kehampaan.
Notch berusaha menyelamatkannya tapi sudah terlambat. Herobrine masuk kedalam lubang hitam dibawah tanah. Notch tidak bisa menahan air matanya lagi dan menangis karena kehilangan adik satu satunya.
"HEROBRIIIINEEE!!!!!!"
Minecraftia, 10 November 356 AD*
Emerlad Gree, Minecraftia
"Notch, masalah pengairan disebuah desa pada Distrik Glasboury sampai sekarang belum usai juga akibat para bandit sialan itu,"
"Pillager itu lagi?! Tidak ada jera sama sekali ternyata mereka..."
Notch mendesah lelah memikirkan ulah para bandit yang terus menyerang desa desa dipelosok Minecraftia. Ia berencana mengirimkan para kesatrianya untuk kesana tapi apa daya. Seluruh kesatrianya pergi menjalankan misi mereka masing masing.
"Bagus... Seluruh kesatria kita sedang menjalankan misi. Ingin mengirim siapa lagi? Aku?"
"Bersabarlah sedikit Notch. Yakinlah ini akan selesai nanti,"
"Jeb. Tidak akan selesai kalau belum dikerjakan. Haaaaaahh, aku sangat lelah akan semua ini,"
Notch menyeruput kopi hitam yang ada dimejannya dan kembali menatap berkas kerja yang berisi tentang daftar siswa yang berbakat di pelatihan semua distrik minecraftia.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya yang membuat perhatian Notch teralihkan.
"Masuklah!"
"Permisi tuan Notch, ada berita dari Kesatria Edgar yang berada di Distrik Glasboury pada saat ini yang menyampaikan bahwa seluruh kesatria yang pulang dari misi telah berkumpul untuk mengalahkan para bandit. Mereka akan pulang besok tuan,"
Jeb yang berada disamping Notch hanya bisa tercengang dan Notch yang tersenyum senang. Kesatrianya tidak perlu diberitahu sudah tahu masalah yang dialami oleh rajanya.
"Apakah ada tambahan?"
"Tidak, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya undur pamit,"
Wanita bersurai cokelat panjang membungkukkan tubuhnya dan segera keluar dari ruang kerja Notch. Notch meregangkan tubuhnya yang telah berjam jam dikursi.
"Kesatria itu..." Jeb termasuk orang yang cukup terkejut dengan kecekatan para kesatria melihat situasi.
"Yah... Seperti itulah mereka. Aku senang telah memilih mereka. Sekarang waktuku untuk istirahat. Aku harus siap disinggasana sebelum mereka datang. Selamat malam Jeb," Notch langsung pergi begitu saja.
"Oh- selamat malam, Notch..."
Jeb yang tersisa diruangan itu langsung merapikan semua berkas yang berserakan dimeja dan mengembalikan gelas bekas kopi yang telah habis kembali ke dapur.
"Orang itu... Setelah adiknya tidak pernah kembali, mengapa dia menjadi seperti itu?"
Pagi yang cerah telah menyinari singgasana milik Notch lewat jendela yang terpasang di samping sepanjang tembok. Notch sudah menunggu para kesatrianya yang baru saja menjalankan misi mereka. Hingga ketukan pintu pun tiba. Para kesatria masuk dan menghadap rajanya.
"Tuan Notch, kami telah kembali dari misi. Para bandit yang meresahkan desa di Glasboury telah kami penjarakan,"
"Lega mendengarnya. Tapi, dimana yang lain?" Notch menyadari jika kesatria yang masuk keruangan hanya sebagian dari mereka.
"Oh iya, kami lupa. Kami juga membawa oleh-oleh dari sana..."
"Oleh-oleh? Oleh-oleh apa, Khrish?" Notch tak menduga mereka akan membawa sesuatu dari sana.
"Tunggu sebentar tuanku. Steve, Canole. Bawa dia kesini,"
'Dia... Mereka membawa seseorang dihadapan ku?'
Steve dan Canole masuk sambil menggiring seorang laki laki yang terlihat seperti masih dalam umur anak anak. Pakaiannya lusuh penuh debu dengan lengan panjang putih berkerah, celana krem dan sepatu boot kulit bertali selutut. Rambut yang berwarna coklat yang hampir mendekati hitam juga berantakan dan tak tertata rapi. Notch belum bisa melihat wajahnya karena posisinya yang. Dipaksa berlutut dan menunduk.
Tanpa Notch sadari sendiri, dia langsung berdiri dan menghampiri para kesatria dengan tatapan marah.
"Hei, kejam sekali kalian. Dia hanyalah seorang anak kecil, bodoh!" Notch masih berdiri dengan marah.
Memperlakukan anak seperti ini bukanlah hal yang benar dan jelas jelas ini adalah tindakan kekerasan bagi Notch. Itulah mengapa dia merasa perlakuan mereka ke anak itu sangat tak terpuji.
"Tapi, dia bukan anak kecil..." Steve yang memiliki sikap terlembut dimata Notch mengungkapkan seperti itu.
"Apa? Apa maksudnya..."
"Dia adalah senjata, Tuan Notch. 50 prajurit mengalami luka berat karenanya" Edgar mengatakannya.
"Dia membuat kami berhasil terpojok saat melawan para bandit. Mungkin, kita bisa mengambil alih kepemilikan anak ini dari kelompok bandit itu" kata Canole.
Notch masih berdiri dan terus memandangi anak yang terus merunduk itu. Mengetahui Notch ingin melihat wajahnya, Khrish menjambak rambut anak itu dan menariknya agar menghadap pada Notch.
"Sapa rajamu, bodoh..."
"KHRISH. JANGAN KETERLALUAN KAU"
Steve menarik tangannya dari kepala anak itu dan menyingkirkannya dengan kasar.
"Meskipun dia telah menyerang kita secara membabi buta. Dia tetaplah anak kecil yang dipaksa para bandit untuk diperas raganya. Kamu seharusnya belajar lagi tentang tata cara bersikap lembut pada orang lain,"
"Dih, apa apaan kamu ini?"
"Khrish. Yang dikatakan Steve memanglah benar. Kamu selalu bersikap kasar pada orang lain.." Notch mendukung komentar Steve.
"Baiklah, maafkan kesalahanku, tuan," dia membungkuk dihadapan Notch.
"Steve, Canole dan Daren tetap disini. Sedangkan kalian bertujuh bisa beristirahat,"
"Baik tuan,"
Ketujuh kesatria pergi meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan 3 kesatria dan anak kecil itu. Notch berusaha untuk berbicara dengannya. Anak itu terlalu takut untuk menghadap Notch. Jadi, dia harus sedikit bersabar dan tenang.
"Hei, siapa namamu nak?"
Anak itu hanya diam membisu, enggan menjawab pertanyaan dari Notch karena takut menguasai semua tubuhnya.
"Nak, aku tidak akan menyakitimu sama sekali. Siapa namamu?" tanyanya sekali lagi.
"R-Reo Seigahara..." anak itu akhirnya mau berbicara juga.
"Nama yang bagus... Lepaskan rantai dan borgolnya!" perintah Notch membuat ketiga kesatria itu terkejut dan menolaknya.
"Tidak mungkin tuan. Saat kami melepaskan kuncinya, seluruh istana bisa dalam bahaya besar..."
"Aku yakin itu tak akan terjadi. Percayalah..."
Kesatria pun mengalah dan melepaskan borgol tebal dan rantai yang telah membelenggunya. Saat semuanya terlepas, Reo tidak bereaksi apapun dan terlihat diam saja.
'Syukurlah dia tidak akan melakukan hal yang aneh aneh', batin Canole.
"Berapa tahun usiamu? Kamu terlihat seperti masih anak anak atau remaja..." tanya Notch lagi.
"... 16 tahun"
"Hah? Benarkah?" kejut Steve.
"Muda sekali untuk menjadi pembunuh profesional..." Daren ikut terkejut mendengarnya.
"Mulutmu harus dijaga ya!" Canole memperingatkan Daren.
Notch sangat ingin melihat wajahnya yang sedari tadi ditutupi dengan tebalnya rambut. Suaranya sangat lembut saat menjawab pertanyaan darinya. Dia sepertinya tipe orang yang pemalu.
"Bolehkah aku melihat wajahmu?"
"... Wajahku penuh darah. Aku tak ingin memperlihatkannya..."
"Ayolah, tidak apa apa nak..."
Secara perlahan, dia mulai mau menunjukkan wajahnya. Bercak darah dimana mana dengan mata hijau toska yang tertutupi oleh selaput putih tipis tapi tidak ada selaput sama sekali. Juga rambut yang menutupi setengah dari wajahnya yang bisa dibilang manis.
"T-tuan N-Notch. A-ku..."
Reo yang merasa tidak nyaman dilihat terus menerus oleh sang raja memilih untuk memalingkan muka dengan wajahnya yang menjadi merah. Notch segera tersadar dari lamunannya.
"Hei Reo. Maaf atas kelakuanku tadi..."
"Jadi, apa keputusan tuan dalam anak ini?" Steve menunggunya.
Notch memegang kedua lengan atasnya untuk menandakan harapan pada Reo. Tetapi saat Notch menggenggam lengan kirinya, ia merasakan sesuatu yang keras dan licin dengan kain yang membalut tubuhnya.
"Apakah kamu mau menjadi kesatriaku, Reo?"
"Hah?"
Reo terkejut dengan tawaran itu. Tidak hanya Reo tetapi ketiga kesatria yang ada dibelakangnya
