Naruto ( c ) Masashi Kishimoto
"Vice Versa"
( c ) Hitomi Sakurako
…
Chapter 1
Haruno Sakura membuka secara paksa pintu putih di hadapannya, melangkah dengan cepat dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king size-nya. Ia kembali terduduk dan melepaskan sepatu hak tingginya, melemparnya dengan asal, kemudian kembali membaringkan tubuhnya. Lengannya diletakkan menutupi kedua matanya. Tak hentinya ia menghembuskan napas panjang.
"Sasori–" Sakura menggumamkan nama seseorang sambil meringis. Sakit dan hancur. Itulah yang gadis bersurai merah muda itu rasakan.
LINE!
Ponsel Sakura berbunyi. Dengan sangat terpaksa ia meraih tas jinjingnya dengan posisi tidur yang masih sama, kemudian mengambil benda berwarna putih yang sedari tadi mengusiknya. Sakura menyadari ternyata ada sekitar lima pesan baru yang belum dibacanya. Ia mendengus kesal melihat notifikasi yang tidak terlalu penting itu. Tiga dari temannya yang sedang menanyakan kabar, satu dari kliennya dan sisanya pesan notifikasi dari aplikasi game yang menunggu untuk diperbarui.
Sakura membacanya dengan malas tanpa ada niatan untuk membalas. Ketika akan menutup aplikasi tersebut, jari Sakura tidak sengaja membuka pesannya sebulan yang lalu. Sakura mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menggigit bibir bawahnya begitu membaca pesan tersebut. Tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepalanya dan segera menonaktifkan ponselnya. Sakura memeluk lututnya dengan erat, menenggelamkan wajahnya di sana. Menangisi keadaannya.
Flashback ON
Sakura meletakkan jurnalnya di atas meja. Ia meregangkan tangannya yang sangat lelah. "Aku harus pergi. Sisanya kuserahkan padamu!" ucap Sakura sambil menyambar tasnya yang diletakkan di kursinya.
"Baik, Sakura-sama!" Obito menunduk hormat sambil membukakan pintu untuk Sakura.
Sakura berlarian kecil menuju lantai dasar, ia segera memasuki kamar kecil untuk memperbaiki penampilannya. Sakura memoles bibirnya yang mulai terlihat pucat dengan lip tint, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin diiringi dengan senyum mengembang. Tak butuh waktu lama ia segera melesat menuju lantai dasar tempat mobilnya diparkirkan. Senyumnya masih terpatri di wajah cantiknya. Ia meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo, Sasori. Urusanku sudah selesai, aku segera ke sana. Tunggu aku, kau akan terpesona karena kecantikanku," ucap Sakura manja. Ia masuk ke dalam mobilnya.
"Baik. Aku tunggu di sini. Sakura yang kukenal selalu cantik kok. Hahaha!" balas Sasori dalam telepon.
Begitu tiba di café tempat mereka janjian, Sakura dapat melihat Sasori yang tersenyum kearahnya. Sangat lembut dan damai. Sakura menarik kursi di hadapan Sasori.
"Kau memesan minuman untukku?" tanya Sakura.
"Ya. Seperti biasa, Caramel Macchiato. Aku sudah hapal minuman favoritmu," ujar Sasori sambil memajukan segelas kopi itu di hadapan Sakura.
Sakura hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Sasori. Ia senang pria yang berstatus sebagai pacar di hadapannya ini sangat mengetahui semua hal mengenai dirinya."Aku senang kau mengajakku bertemu lagi. Selama ini kau jarang menghubungiku," gerutu Sakura.
"Lho bukannya kau yang selama ini sangat sibuk? Aku jadi tidak enak mengganggumu," ucap Sasori membela dirinya.
"Sama sekali tidak mengganggu. Kalau aku sibuk, aku ingin bisa selalu mengobrol denganmu. Setidaknya aku bisa selalu tersenyum membaca pesanmu," kata Sakura sambil terkikk geli.
Sasori hanya membalas dengan senyuman, kemudian ia mengelus kepala Sakura. Namun, ekspresinya mendadak berganti menjadi kecewa dan kesedihan yang sulit diungkapkan. Ia menarik tangannya dari kepala Sakura.
Sakura yang menyadari perubahan wajah Sasori segera membuka suara.
"Kalau begitu, ada apa memanggilku kemari?" tanya Sakura begitu menyadari ada yang tidak beres pada Sasori.
Sasori terdiam. Ia menatap secangkir espresso di hadapannya, tidak berani menatap kedua mata Sakura. "Ada yang ingin aku bicarakan..." ucap Sasori dengan nada yang sangat kecil.
Sakura tidak menjawab. Tetapi ekspresinya berubah menjadi lebih serius dan hanya memajukan posisi duduknya tanda siap mendengarkan pembicaraan Sasori.
"Aku–" Sasori menggantungkan ucapannya membuat Sakura mau tak mau memasang ekspresi heran, menunggu Sasori melanjutkan ucapannya.
"–sepertinya tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi," ucap Sasori begitu saja. Dalam hati ia bersyukur akhirnya bisa mengucapkannya.
Sakura membulatkan matanya. "Ap-apa? Ada apa sampai kau mengatakannya?" tanya Sakura bingung. Ya, dia benar-benar bingung,
"Maaf. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkannya," ucap Sasori dengan nada sangat bersalah.
"Memangnya ada apa tiba-tiba?" tanya Sakura lagi. Wajahnya panik dan Sakura mulai cemas bercampur kecewa. Ia tidak terima dengan ungkapan Sasori yang sangat mengejutkan itu.
"Aku mencintaimu, Sakura. Hanya saja, aku merasa kau sangat jauh. Aku tidak tahu, aku bisa saja menemuimu setiap saat, tapi tetap saja aku merasa kau sangat jauh," jelas Sasori yang membuat Sakura makin tidak mengerti.
"Tidak masuk akal! Apa maksudnya? Aku tahu kau menyukaiku. Maksudku, selama ini kita baik-baik saja!" geram Sakura. Ia ingin menangis, tapi ia menahan air matanya agar tidak terjatuh begitu saja. Pikirnya siapa tahu saja saat ini Sasori cuma mengerjainya. Tapi begitu menyadari bahwa tidak ada hari spesial dalam waktu dekat ini, ia menjadi gusar.
"Mungkin yang ada di pikiranmu ini tidak masuk akal, tapi kau tidak merasakannya. Aku merasa sangat sulit hanya dengan berada di dekatmu," tukas Sasori sambil menundukkan kepalanya.
"Ya ampun, Sasori. Kita sudah bersama dua tahun dan sekarang kau merasa seperti itu?" ucap Sakura yang masih tidak percaya dengan penjelasan tidak masuk akal Sasori.
"Karena kau semakin jauh akhir-akhir ini. Kau sibuk dengan urusan perusahaan dan aku merasa kau akan pergi ke tempat yang lebih tinggi lagi, Sakura!" Sasori memberanikan diri menatap Sakura lembut.
"Tidak mau!" tampik Sakura.
Eh–Sasori memasang tampang heran.
"Aku tidak mau mengakhirinya. Tolonglah, kita sudah sejauh ini dan kau tiba-tiba mengakhirinya dengan alasan yang tidak logis. Sasori, cuma kau yang tidak melihatku karena pekerjaan dan kedudukanku. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja!" Ternyata pikiran Sakura mengenai Sasori yang bercanda itu salah. Ia menggenggam kedua tangan Sasori dan menatapnya berharap lelaki itu akan luluh dan menarik ucapannya.
"Maafkan aku. Jujur sekarang aku merasa tidak bisa melanjutkannya. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji untuk terus bersamamu, Sakura," ucap Sasori dengan nada bersalah.
"Aku tidak mau minta maafmu, aku hanya ingin penjelasan, Sasori!" tuntut Sakura.
"Maaf, tidak ada lagi yang bisa kujelaskan," ucap Sasori lagi.
Sakura terdiam cukup lama. Ia menatap segelas kopinya yang sama sekali belum disentuh. Sakura mengangkat kepalanya menatap Sasori. Ia menghembuskan napas panjang.
"Apa kau yakin hubungan kita benar-benar tidak dapat diperbaiki?" Sakura memohon berharap Sasori luluh, ia tidak peduli harus memohon-mohon pada lelaki itu. Ia hanya tidak ingin berpisah seperti ini.
Sasori mengangguk dengan perlahan. "Aku yakin, seseorang pasti lebih pantas untukmu, bukan aku." Ucap Sasori dengan nada bersalah. Ia masih mencintai Sakura, sangat.
Sakura memijit pelipisnya perlahan, kemudian menghembuskan napas yang sangat panjang. "Baiklah kalau itu yang kau mau," ujar Sakura dengan nada tenang. Memang sedari tadi ia tidak membuat suasana rusak dengan mengamuk di dalam café. Sakura mencoba meminta penjelasan Sasori dengan sangat tenang dan inilah hasilnya, Sasori tidak akan meralat ucapannya. Akhirnya Sakura menyerah.
"Aku pergi dulu. Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu," ucap Sakura sambil tersenyum sangat manis kepada Sasori. Kemudian ia berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Sasori. Bahkan pada saat Sakura menjauh pun Sasori tidak ada keinginan untuk menghentikannya. Hal itu membuat hati Sakura makin teriris.
Setelah itu, Sakura lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ino. Untuk memulihkan perasaannya, ia mencoba untuk menyibukkan dirinya dan meluangkan hampir setiap waktunya untuk makan atau sekedar minum bersama Ino.
"Sakura, kau yakin tidak apa-apa, kan?" tanya Ino sambil menatap wajah Sakura yang tengah asyik menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya, sebenarnya ini sudah porsi yang ketiga. Ia sangat khawatir pada keadaan Sakura yang sekarang ini.
Sakura membalas tatapan Ino. Ia tersenyum. "Huh, kau pikir aku siapa. Aku baik-baik saja," ucap Sakura dengan nada ketus.
"Benarkah? Kau diputuskan sama Sasori saja sampai menangis segitunya. Asal kau tahu, ini sudah sebulan sejak kalian berpisah." ejek Ino. Ino tahu karena dari wajah Sakura sudah tergambar jelas wajahnya yang sangat kusut dengan mata yang sembab. Selain itu porsi makan Sakura yang sangat banyak ini sepertinya menunjukkan kalau Sakura jarang makan.
Sakura menggeleng cepat. "Tidak, siapa yang menangis," sergah Sakura. Ia memasang tampang kesal karena Ino menuduhnya seperti itu.
Padahal kenyataannya...
Jangan menganggap Sakura akan setegar itu, buktinya setelah kejadian itu, ia langsung menangis sejadi-jadinya. Ia bahkan tidak keluar dari kamarnya dan tidak makan sampai tiga hari. Ia mengabaikan semua panggilan di ponselnya dan rasanya ingin mati saja. Perpisahannya yang sangat mendadak dengan Sasori membuat Sakura lunak. Ia mudah menangis begitu saja, bahkan dalam keramaian pun matanya mudah berkaca-kaca setiap ingatan mengenai Sasori terlintas.
Bukannya berlebihan, hanya saja Sakura sudah terlanjur merasa nyaman dengan Sasori. Sasori satu-satunya pria yang mendekatinya bukan karena posisinya. Mereka bertemu secara tidak sengaja ketika Sasori membantunya di supermarket. Sakura sudah menganggap pertemuan mereka bagaikan drama percintaan dengan akhir yang bahagia. Tapi kenyataannya pria itu sendiri yang merasa tidak nyaman bersama Sakura. Ia mulai merasa egois, selama ini ia tidak merasa bahwa Sasori terbebani hanya dengan berada di sisinya. Ia merasa bahwa selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Sakura merasa bahwa hanya dia seorang yang bahagia.
Sasori bukanlah orang kaya seperti Sakura. Ia hanya seorang salaryman yang hidupnya masih sangat bergantung pada gaji seumur hidup. Sangat kontras dengan Sakura yang merupakan pemilik perusahaan keluarganya. Selama ini Sakura tidak tertarik dengan dunia percintaan karena sebagian orang mencintainya karena kekayaan dan kedudukannya. Berbeda dengan Sasori yang tidak memandang hal seperti itu.
Setelah kejadian perpisahan itu, Sasori bahkan tidak pernah menghubungi Sakura lagi, begitu pula Sakura yang semakin hari semakin sibuk. Ia hanya berfokus pada pekerjaannya. Sebenarnya ia cukup kesal karena Sasori benar-benar melupakannya. Sepertinya Sakura tidak banyak tersenyum lagi.
Siang harinya di perusahaan, Sakura mendapat sebuah undangan di atas mejanya. Sakura membuka undangan itu, hanya undangan pesta ulangtahun biasa. Sakura berpikir mungkin itu dari rekan perusahaan atau dari kliennya. Tapi tidak, matanya mengenali nama seseorang yang tertulis dalam undangan itu. Ya, terdapat nama Sasori di sana. Tapi setelah Sakura pikir, tanggal ulangtahun Sasori sudah lewat. Ternyata ia salah. Itu adalah undangan ulangtahun seorang gadis. Hm? Seorang gadis dan terdapat nama Sasori?
Sakura mendadak lemas. Entah kenapa bayangan Sasori belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Ia sedih dan kecewa melihat undangan itu. Apa hubungannya? Gadis itu pacar barunya? Apa ini alasan Sasori mengakhiri hubungan mereka? Gadis seperti apa yang sudah membuat Sasori seperti ini? Bisa-bisanya Sasori mengundang Sakura untuk acara ulangtahun pacar barunya pada kondisi seperti ini?
Akhirnya Sakura meletakkan undangan itu asal-asalan di atas mejanya dan memilih untuk pulang cepat. Mood-nya benar-benar rusak.
Flashback OFF
Sudah beberapa kali Sakura mengubah posisi tidurnya namun matanya tidak juga terpejam. Sakura membalikkan tubuhnya lagi. Ia menatap ponsel di sisi kirinya. Kemudian menghembuskan napas dan berbalik ke kanan lagi.
"Apa aku harus ke sana dan menghancurkan pesta ulangtahunnya?" gumam Sakura. Ia membayangkan sendiri bagaimana ia datang dan menghancurkan acara yang sedang berlangsung. Sakura cepat-cepat menggeleng. Itu akan memperburuk keadaan. Selain itu, reputasinya sebagai pemimpin perusahaan akan terancam karena meninggalkan kesan buruk. Bagaimana ini?
Keesokan harinya Sakura berangkat dengan wajah yang masih lesu. Ia menunggu pintu elevator terbuka. Begitu terbuka, Sakura segera masuk ke dalam.
"Wajahmu jelek sekali!" ejek seorang pria di samping Sakura.
Sakura menoleh, kemudian terkejut dengan sosok di sampingnya. "Sasuke? Apa-apaan kau?! Kenapa kau di sini?" gerutu Sakura.
Sasuke Uchiha adalah rekan kerja Sakura. Sasuke juga memiliki perusahaan, Uchiha Group namanya. Bahkan perusahaannya jauh lebih besar daripada milik Sakura. Tentu saja, perusahaan Uchiha menempati peringkat nomor satu paling kaya di negaranya. Hal ini dikarenakan perusahaan Uchiha membawahi secara langsung Rumah Sakit Konoha yang telah beroperasi di beberapa wilayah di Jepang. Selain itu, ia menjabat sebagai kepala direktur perusahaan Rumah Sakit Konoha sehingga reputasinya benar-benar diagungkan. Sedangkan Sakura, ia hanya berada di posisi ketiga. Perusahaan yang dimiliki keluarga Sakura adalah EXSoft, sebuah perusahaan yang mengembangkan permainan video ternama di Konoha. Reputasinya sebagai perusahaan developer game telah bertahan dan mampu menyaingi perusahaan lain yang cukup terkenal di dunia.
"Apa ayahmu ada di ruangannya? Hari ini aku sudah ada janji untuk bertemu dengannya." tanya Sasuke.
Ah, jangan heran. Perusahaan milik Sakura masih dipimpin oleh ayahnya. Ini karena Sakura masih tahap belajar mengurus perusahaan, Sakura sendiri yang meminta pada ayahnya untuk masih menjabat sampai Sakura benar-benar bisa bekerja dengan baik.
"Ayahku sedang keluar, tunggu saja di ruangannya," ucap Sakura tanpa menoleh sedikit pun kearah Sasuke.
"Ah, apa kau keberatan kalau aku mampir di ruanganmu? Kebetulan ada yang ingin kubicarakan mengenai pekerjaan," ujar Sasuke.
Sakura tidak membalas ucapan Sasuke. Ia malas berhadapan dengan siapapun sekarang. Pintu elevator terbuka, Sasuke mendekatkan wajahnya di telinga Sakura.
"Sepertinya mood seseorang sedang buruk karena berniat menghancurkan pesta ulangtahun pacar mantannya," bisik Sasuke sambil menyeringai lebar, kemudian ia berjalan lebih dulu meninggalkan Sakura yang tercengang di elevator. Sakura membulatkan mata karena terkejut dengan ucapan Sasuke yang err–sepertinya benar. Begitu pintu elevator akan tertutup, Sakura buru-buru menahannya. Ia berlari menghampiri Sasuke.
"Tunggu! Bagaimana kau ta–" belum selesai Sakura berbicara, Sasuke buru-buru memotongnya. "Tidak ada yang tidak diketahui Sasuke Uchiha."
Sakura menatap Sasuke dengan tatapan kesal. "Aku tidak peduli. Lagipula itu bukan urusanmu!" seru Sakura yang kemudian meninggalkan Sasuke yang masih menyeringai menatap kepergiannya.
Tiba-tiba langkah Sakura terhenti membuat Sasuke menghentikan seringainya juga. Sakura berbalik menatap Sasuke. "Juga aku tidak ingin menemuimu hari ini, kalau ada perlu temui saja sekretarisku!" teriak Sakura kesal. Sakura tidak peduli sedang berbicara dengan pemilik perusahaan nomor satu, saat ini ia benar-benar tidak mood untuk berbicara dengan Sasuke.
Sakura memasuki ruangannya dengan paksa. Ia melempar tasnya di sofa begitu saja, lalu duduk di kursi kerjanya dengan kesal. Ia memainkan pulpen yang menganggur di mejanya. Tiba-tiba mata Sakura menangkap undangan yang kemarin diterimanya. Ia meraih undangan itu dan membukanya.
"Besok ya," gumam Sakura pelan. Pikirannya masih kacau antara hadir atau tidak menghadirinya. Kalau ia hadir, mungkin ia tidak sanggup melihat Sasori bersama gadis lain. Tapi kalau ia tidak hadir itu berarti Sakura adalah pengecut yang tidak menerima kenyataan (meskipun memang seperti itu adanya).
Tok! Tok! Suara pintu yang diketuk sontak mengagetkan Sakura. Ia meletakkan undangan itu dan segera memperbaiki posisinya.
"Masuk!" pinta Sakura.
Kemudian pintu terbuka menampilkan sosok Ino yang tersenyum kearahnya. "Aku datang bawa kue," ucap Ino sambil memasuki ruangan Sakura.
Sakura tersenyum senang. Sepertinya perasaan kesalnya mulai hilang. Ia bangkit dari duduknya, menghampiri Ino dan membawanya untuk duduk di sofa. "Wah kebetulan sekali kau datang. Ada apa?"
"Aku kebetulan bebas dari shift malam. Jadi aku membawakan beberapa kue untuk nona Sakura yang akhir-akhir ini sangat sibuk," ucap Ino sambil tersenyum. Ia membuka kotak kue itu dan menyodorkannya ke Sakura.
Yamanaka Ino adalah sahabat karib Sakura. Ino adalah seorang dokter residen di rumah sakit ternama, Rumah Sakit Konoha. Sayangnya akhir-akhir ini Ino juga mulai sibuk dan jarang menemui Sakura.
"Maaf kemarin aku tidak membalas pesanmu. Aku benar-benar kacau!" ucap Sakura sambil mengambil sepotong kue itu dan memakannya.
"Tidak apa-apa. Kacau? Ah, jangan-jangan–" Ino sepertinya sangat mengerti keadaan Sakura sekarang. "–kau juga diundang?" bisik Ino.
Sakura mengangguk sambil mengunyah kuenya. "Aku tidak tahu harus menghadirinya atau tidak,"
Grep! Ino menarik bahu Sakura. "Dengar, Sakura Haruno! Di sinilah harga dirimu dipertaruhkan!" tukas Ino. Ia menatap mata Sakura dengan serius. Sedangkan Sakura hanya bingung menunggu tindakan Ino selanjutnya.
"Kalau Sasori mengundangmu itu artinya dia sudah benar-benar melupakan perasaannya padamu. Yang harus kau lakukan adalah menunjukkan hal yang sama," saran Ino sambil tersenyum tulus.
"Kau mengatakannya seperti Sasori akan menikah saja," ujar Sakura sambil tertawa kecil. Ia kembali mengambil sepotong kue di hadapannya.
"Ah kau ini! Melihat kenyataannya ini sama saja Sasori memberikanmu undangan pernikahan!" ucap Ino dengan tegas.
Sakura mencerna baik-baik perkataan Ino, meskipun ia masih tidak yakin dengan ucapan Ino. Karena jujur saja dalam hatinya ia belum bisa sepenuhnya melupakan Sasori. Tapi ada benarnya juga, Sasori pasti sudah melupakan perasaannya. Sakura juga tidak bisa terus-terusan mengharapkan Sasori.
Sakura mengangguk beberapa kali. "Sepertinya aku harus hadir. Terima kasih, Ino!" ucap Sakura sambil melanjutkan makannya. "Kau tidak hadir?" tanya Sakura lagi.
"Aku mau menghadirinya, tapi pekerjaanku masih banyak." Ino melirik jam yang bergantung di ruangan Sakura. "Ah, gawat! Aku sudah harus pergi. Makan yang banyak, ya, Sakura!" ujar Ino sambil mengelus puncak kepala Sakura dan bangkit dari duduknya.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, Ino berbalik dengan wajah agak serius. "Sepertinya tadi aku melihat mobil Uchiha-san di depan. Apa dia mau menemuimu di sini?" tanya Ino yang cukup penasaran.
Sakura mendengus pelan, kemudian ia mengangguk pelan. "Orang seperti dia mana mungkin mau menemuiku, orang yang diakuinya di perusahaan ini hanya ayahku." tukas Sakura. Ia kembali menggigit kuenya dengan lahap.
Ino hanya tersenyum simpul, kemudian kembali pamit dan berjalan ke luar perusahaan Sakura. Sambil berjalan ia seperti memikirkan sesuatu. "Tunggu dulu, kalau Sakura pergi sendiri itu sama saja bohong. Harusnya dia bersama seseorang," pikir Ino. Ia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Sakura, tapi waktunya tidak banyak sehingga ia mengabaikan hal tersebut dan kembali berjalan.
Keesokan harinya, Sakura melirik jam kecil di sudut mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang tapi Sakura belum bergegas pergi padahal acaranya dimulai empat puluh lima menit lagi.
"Ah, mungkin aku terlambat," gerutu Sakura. Ia membenarkan pakaiannya yang sempat berantakan. Kemudian ia berlalu meninggalkan ruangannya. Sakura buru-buru memasuki elevator. Di sana ia bertemu seorang gadis cantik dengan rambut sewarna lavender itu.
"Ah, Hinata-san?" tanya Sakura mencoba mengenali. Hinata menyelipkan rambut kecilnya di belakang telinga. Menoleh dan tersenyum manis kepada Sakura.
"Sakura-san, apa kabar?" tanya Hinata ramah.
"Ah, aku ada urusan di luar. Kau sendiri? Kau mencariku?" tanya Sakura. Ya, ia agak heran kenapa seorang Hinata berada di perusahaannya. Kalau dia berada di perusahaan Sasuke mungkin masih masuk akal, berhubung perusahaan mereka yang masih berhubungan. Sekedar info, Hinata juga memiliki perusahaan yang juga dijalankan keluarganya, itu adalah sebuah perusahaan industri farmasi yang cukup ternama. Perusahaannya sering disebut sebagai saingan yang sangat seimbang bagi Uchiha Group. Kalau Sasuke menempati posisi pertama dan Sakura menempati posisi ketiga, maka perusahaan Hinata menempati posisi kedua. Hebat, kan?
"Tidak. Aku mencari seseorang. Tapi sepertinya aku tidak menemukannya," ucap Hinata dengan nada lembut.
'Jangan mencari seseorang di perusahaanku. Ini bukan acara tali kasih," batin Sakura.
Sakura dan Hinata berpisah di lantai bawah. Sakura berjalan menuju parkiran mobilnya. Ia memperbaiki rambutnya sedikit. Kemudian memasuki mobilnya. Sakura menatap pantulan dirinya dalam cermin. "Yap! Sempurna."
Brak! Seseorang membuka pintu mobil Sakura dan seenaknya mendudukkan diri di samping Sakura. Parahnya lagi, itu adalah Sasuke. Makhluk itu tidak salah masuk mobil, kan?
"Ayo berangkat! Waktuku tidak banyak," pinta Sasuke sambil membenarkan posisi duduknya. Kemudian ia memasang seat belt-nya.
Sakura melongo, menatap makhluk yang seenaknya memasuki mobilnya dan memerintahnya. Sasuke membalas tatapan Sakura dengan wajah datar.
"Hah?!"
– To Be Continued –
Tadaaaaa~
Iya, aku tau pasti gak ada yang kenal sama aku kan huehue. Maaf karena lama hiatus. Harusnya aku ngelanjutin fic yang ada tapi malah bikin baru hueeee maap. Ini karena sedih liat list penpik dikit banget, dan baru baca fic fav yang sdh jadul jadi kangen nulis. Selama ini disibukkan sama dunia perkuliahan dan tidak ada niatan menulis lagi jd sepertinya tulisanku agak kaku karena telah lama hiatus, aku harap fic ini gak hancur heuhue. Karena ini fic baru mending aku bikin Q&A biar gak heran ya~
Q: Fic ini rencananya berapa chapter mb?
A: Mungkin hanya dua atau tiga. Maaf, gak bisa bikin fic yang panjang dulu soalnya masih sibuk buat skripsi dan sebagainya *curhat*
Q: Kenapa adegan Sasusaku sedikit banget? Ini penpik apa sih?
A: Karena chapter pertama memang sama sekali gak membahas SasuSaku. Chapter 2 akan full Sasusaku kok.
Q: Sasusaku/Sasosaku/SakuIno/Sasuhina?
A: SASUSAKU! Kalian gak nyasar kok. Ini beneran penpik Sasusaku. Hanya saja pembukanya memang mengandung unsur Sasosaku.
Q: Apa Sasuke, Sakura dan Hinata itu saingan?
A: Tidak! Mereka adalah rekan. Soalnya mereka bertiga sudah berteman sejak di bangku kuliahan. Hanya saja Sasuke dan Hinata lebih senior dibandingkan Sakura.
Yak, itu aja deh! Kalau masih ada yang ingin ditanyakan jangan ragu-ragu untuk menuliskan di kolom review, ya. Berhubung aku lagi ga banyak kuliah krn cuma matkul skripsi, makanya aku bakal balik nulis lagi, mungkin aku akan ngelanjutin fic yang lain. Review, fav atau follow fic ini kalau kalian kangen sm aku– bukan, maksudku kalau kalian mau tahu kelanjutannya. See you~
