"Ayolah, Sei," Daiki menegur lagi, dan mencoba menyamai langkah kaki kekasihnya. Seijuurou, dengan telepon genggam yang diapit diantara telinga dan pundak kirinya sementara kedua tangannya sibuk memeriksa ulang lembaran jurnal yang dibawanya, terus saja tunggang langgang menghiraukan si pria ganguro.
"Sei, dengarkan aku," ulang Daiki. Kali ini nadanya sedikit ditekan.
Seijuurou mengacungkan telunjuk ke hidung Daiki, kemudian jemarinya yang bebas dipakai mengambil telepon genggam dari apitan bahu. "Baik, terimakasih, Nona Kepner. Saya akan ke kantor Prof. Schmitt sekarang," balasnya pada koneksi yang tersambung lewat panggilan telepon, lalu dengan lekas diakhiri.
"Kemarikan kunci mobilku," pinta Seijuurou yang sekarang menatap wajah kekasihnya yang sedari tadi ia punggungi.
"Tidak sampai kau mendengar ceritaku," balas Daiki mantap. Ia mengantongi kunci mobil Seijuurou supaya kekasihnya itu tidak bisa kemana-mana. Memang harus begini supaya mau didengar. Mereka tidak ada waktu. Daiki sibuk mengurus kasus dengan jam yang tidak menentu. Kadang pagi-pagi buta berangkat ke kantor dan pulang sangat larut atau berangkat larut malam dan pulang hanya untuk mendengkur. Sebaliknya, kalau ia sedang di rumah seharian, Seijuurou akan sibuk dengan segala aktivitas kampus.
Seijuurou menghela napas. "Aku ditunggu orang penting."
"Tidak ada lima menit ini-"
"Hentikan, Dai. Kemarikan kuncinya."
"Baik, baik. Aku antar kau ke kampus dan aku bisa ceritakan sambil kita jalan."
Seijuurou memutar bola matanya. Ia sedang tidak ingin mendengar penjelasan apa-apa dari kekasihnya itu setelah ia melihat si pria ganguro mengundang teman wanitanya untuk bercumbu di kamar mereka. "Lupakan. Aku naik taksi saja." Seijuurou dengan terburu-buru menuruni anak tangga dan beranjak keluar.
"Sei!" Daiki tidak keburu mengejar dan membuang napas kuat-kuat di balik pagar. Sebenarnya, bisa saja ia berlari kencang dan memborgolnya seperti menangkap tersangka kriminal, tapi ia tidak memiliki surat penangkapan yang bisa mencegat Akashi Seijuurou diam di tempat. Ia tidak punya hak. "Fuck!" umpatnya kencang sambil mengacak rambut.
.
.
.
kasual dan kausal
kuroko no basket © fujimaki tadatoshi. no profit gained from this fic. au. hc. cheesy alert. alternate age. age gap. aoaka. 31yo aomine. 19yo akashi.
.
.
.
Seijuurou menghempas kertas-kertas rekaan yang dibawanya ke atas meja. Ia tidak sedang menghadap Profesor Schmitt, tapi membenamkan wajahnya ke sofa dalam apartemen kawannya. Tentu saja, ia mengarang semua adegan janji temu penting di kampus supaya bisa sejauh mungkin dari muka kekasihnya.
"Tunggu, jadi pacarmu itu bi?" Taiga kembali dari konter dapur dan membawakan Seijuurou secangkir teh lemon. "Makanya dia seperti mengimbangi nafsunya antara mengencani pria dan wanita, begitu?"
"Aku tidak peduli." Seijuurou terduduk dan meraih suguhan Taiga. "Kalau dia memang mau bercinta dengan seorang wanita atau pria lain sekalipun, seharusnya dia lebih pandai dalam menyembunyikannya supaya aku tidak perlu tahu."
Taiga menepuk-nepuk punggung temannya.
"Lalu sekarang bagaimana?" Taiga bertanya lagi, setelah beberapa saat mereka terdiam.
Seijuurou tidak menjawab. Bibir bawahnya digigit. Ia mengambil napas, "Entahlah. Tapi aku rasa aku tidak mau ini berakhir."
"Jadi kau akan memaafkannya?"
"Aku tidak tahu." Seijuurou ini kalau soal percintaan seperti orang linglung. Mudah terbawa perasaan dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Masih belum pandai membaca situasi dan mudah dipengaruhi. Tapi Daiki adalah orang yang berpengalaman. Ia sudah dewasa dan bisa mengayomi. Walapun ia terlihat kurang teliti, tapi sangat peduli. Sedikit nakal, tapi tidak pernah offside. Mereka sudah bersama selama hampir tiga tahun lamanya. Adalah hal yang sulit untuk menyudahi semuanya.
Taiga mendengus. Senyumnya terukir. "Nah. Kau hanya butuh ruang. Setelah ini, cepat atau lambat kalian akan seperti dulu lagi."
Seijuurou mendongak. Ia terheran dengan ucapan temannya. "Kenapa kau bisa bilang begitu? Kau membela daiki?"
"Hah?! Untuk apa aku membela si brengsek itu? Aku bicara tentangmu. Aku bilang kau butuh waktu untuk bisa memaafkannya karena kau pasti akan memaafkannya."
Seijuurou semakin tidak mengerti. "Kenapa kau begitu yakin?"
"Kenapa lagi? Sudah pasti karena kau mencintainya, 'kan?"
Seijuurou terdiam sebelum akhirnya mengembalikan cangkir yang disuguhkan Taiga kepadanya. Ia pergi ke ambang pintu dan mengenakan sepatunya terburu-buru. "Taiga, terimakasih tehnya. Minggu depan akan kutraktir di Majiba."
Setelah temannya itu menghilang dari hadapannya, Taiga geleng-geleng. Ia melirik isi cangkir yang masih penuh belum terteguk sama sekali di tangannya dan mendengus pelan. "Dasar rajanya kasmaran."
.
.
.
Seijuurou berlari dari taksinya dan mendobrak pintu kantor kepolisian. "Daiki!" pekiknya. Sontaknya aksinya membuat seluruh kepala dalam ruangan penyidik menoleh serempak menatapnya.
Daiki bangun dari duduknya, terkaget-kaget. "Sei?"
"Kemari kau, Brengsek!" Seijuurou melanjutkan, lantang.
Semua rekan pria ganguro mendelik. Daiki buru-buru meminta maaf kepada semua orang dan menghampiri Seijuurou dengan ekspresi seperti menahan buang air besar. "Sei, apa yang kau lakukan? Kami sedang rapat evaluasi kasus," bisiknya panik sembari mencoba menggiring kekasihnya keluar.
"Aku mau dengar penjelasanmu sekarang." Seijuurou ini terbuat dari batu karang atau bagaimana. Keras kepalanya tidak tahu tempat. Sudah begitu kaki-kakinya lengket sekali dengan lantai, tidak bisa digeser. Ia menyingkirkan tangan Daiki—tetap keras kepala tidak mau bergerak satu kaki pun dari tempatnya berpijak.
"Oke, oke. Tapi kita keluar dulu. Jangan di sini," Daiki mendesis, mengomel tapi berbisik-bisik. Mukanya kelihatan frustasi sekali. Lucu rasanya ketika ia memohon-mohon minta ampun dengan menunduk, berusaha menyamakan tingginya dengan Seijuurou.
"Bukannya ini tempat yang sesuai untuk menjelaskan semuanya?" Seijuurou terus saja mengerjai kekasihnya yang sudah tidak berdaya. Ia menghadap segerombolan tim polisi penyidik yang rapatnya terganggu karena drama kehadirannya di sini. "Permisi, Tuan-Tuan. Saya ingin melaporkan kasus kejahatan seksual di sini."
"Seijuurou, what the fuc-"
"Kasus kejahatan seksual?" yang kemudian ditanggapi serius oleh seniornya.
"Benar, Tuan. Orang ini sudah berselingkuh," Telunjuk Seijuurou menuding Daiki yang keringat dingin karena tingkahnya yang berhasil membuat si pria ganguro serasa dijatuhi hukuman mati. "Nah, Daiki, sebagai pelaku, mohon bersaksi."
Rekan-rekannya sontak tertawa kencang. Sementara Daiki, mukanya semerah udang rebus.
"Cukup, Sei." Daiki kehabisan kesabaran. Ia mencengkram pergelangan tangan kekasihnya erat-erat dan menariknya pergi dari sana.
"Sakit, Dai-"
"Kau membuatmu malu!" Daiki melepaskan genggamannya kasar begitu mereka tiba di lobi. "Sekarang, hal ini akan menjadi bahan olokan utama di kantor sampai dua minggu ke depan. Kau tidak tahu bagaimana menyebalkannya muka licik Shouichi kalau sedang mengejekku."
Seijuurou merengut tidak suka. "Kenapa jadi aku yang kena marah? Seharusnya aku yang marah padamu."
Daiki bertumpu pada lututnya dan membuang napas. "Maaf. Akan kujelaskan soal yang kemarin nanti, jadi-"
"Cium aku."
"Huh?"
"Cium aku, Daiki."
"Di sini?!" pekiknya hingga beberapa orang berlalu lalang memerhatikan. Mereka terlihat seperti ini: seorang polisi penyidik bujang tua yang sedang memberi petuah mahasiswa tingkat dua untuk tidak pulang larut malam sendirian.
Seijuurou tidak menjawab lagi, menunduk diam.
Daiki, yang masih menumpukan tangan-tangannya di atas lutut, dapat melihat semburat merah melekati pipi kekasihnya dengan jelas dalam ketinggian sejajar. Ia menarik garis bibirnya ke atas dan melepaskan kekehan kecil. Diapitnya helaian anak rambut Seijuurou dan disematkan ke belakang telinga. Pria ganguro itu kemudian kembali tegap hingga tinggi mereka tak lagi sejajar, tapi ia membawa pinggang Seijuurou dalam rengkuhannya hingga napas mereka begitu dekat. Kaki-kaki Seijuurou mengudara. Dagu Seijuurou ditengadahkan. Lalu bibir mereka bertaut. Berpagut. Dalam satu hentakan napas, ciuman itu lepas. Rasanya seperti dikubur ke dasar lautan, kemudian dilambungkan ke kaki awan.
