disclaimer © Animonsta Studios
warning OOC, AR, salah genre, no super power, miss EBI, typo(s), diksi menyedihkan, death chara(s), plotless.
submitted to #DailyDrabbleChallenge Day 4 dengan tema "Imajinasi".
prompt by Blacklist Name
["You helped me find a reason to live."]
cakaran A/N teruntuk Kak Naenae, Edel harap Kakak suka dan maaf kalau tidak sesuai dengan prompt-nya atau tidak sesuai ekspektasi! :")
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; mati.
Bayu berdansa menunjukkan eksistensi. Kaki-kaki transparan menampar helaian ungu, memaksa iris merah yang bersembunyi dalam lipatan kulit untuk memunculkan diri, meminta atensi pada pemiliknya untuk berhenti menyaksikan warna hitam.
Rerumputan bergerak tak nyaman. Beberapa yang tertindih menghela napas pasrah, dengan sebuah harapan kecil ingin terbebas dari penderitaan secepatnya. Langit berpoles guratan kemerahan menjadi sinyal bagi sang dewi malam untuk memulai pekerjaannya.
Dalam kesunyian, sebuah pertanyaan menggema dalam relung sanubari.
Untuk apa aku hidup?
Belum terdengar langkah kaki. Perawat masih belum mencari. Bagus, dia tidak mau usaha kaburnya berhenti sampai di sini. Kalau bisa, dia ingin secepatnya mati, meninggalkan dunia tempatnya singgah kini.
"Halo! Sampai kapan kamu mau di situ? Sudah malam, kautahu?"
Punggung menegak tegang, melepaskan tumpuan pada batang. Fang menoleh ke sumber suara, bersua dengan seorang gadis bergaun yang duduk di sisi lain pohon. Warna busananya sama dengan seragam hijau kebiruan yang Fang kenakan. Kacamata berbingkai biru membuatnya terlihat intelek.
Perempuan itu bertanya, "Mau seorang teman?"
Fang menjawab putus asa. Mungkin dia sudah gila dan berhalusinasi. "Siapa?"
Tersenyum, si gadis menunjuk dirinya sendiri. "Aku. Jadi, namaku Ying. Kamu?"
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; mati.
Masa bodoh dengan segala macam solusi yang ada. Masa bodoh dengan sederet obat yang menyiksa ginjalnya. Masa bodoh dengan ancaman usia yang pendek. Masa bodoh dengan janji pergi ke taman hiburan bersama keluarga. Masa bodoh dengan pemikiran konyol tentang masa depan seperti universitas apalagi pernikahan. Masa bodoh dengan kalimat motivasi. Fang tidak butuh semua itu dan memilih untuk lari.
Di penghujung senja, Fang kembali datang ke pohon pinus. Ada Ying di sana, membentuk kurva dengan bibir sambil melambaikan tangan saat peka dengan kehadirannya.
"Kamu datang lagi." Ying melempar sebuah kalimat. Jari-jemari memainkan rambut hitam sepunggung yang terurai. "Atau kamu kabur seperti kemarin?"
"Aku lelah dengan semua itu. Aku tidak mau lagi. Kau tidak akan paham dengan rasa sakit, Ying. Kau tidak memahami apa-apa."
"Aku temanmu, ingat? Jadi, buatlah aku lebih mudah untuk memahami itu semua untukmu."
Ying sebetulnya paham, Fang.
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; mati.
Seminggu mengenal Fang, Ying tahu beberapa hal. Fang didiagnosis kelainan pada katup ginjal. Fang suka donat lobak merah. Fang punya seorang kakak. Fang itu pemalu tapi baik. Fang pandai menyanyi, suaranya indah bak gemerincing lonceng mungil.
Yang paling mencolok adalah sebegitu kuat keinginan Fang untuk mati, terlukis dalam puisi yang tercipta dari hobinya.
"Kamu suka sekali membuat puisi kematian," ujar Ying.
"Itu keinginanku."
Ying menahan tanya. Perawat pribadi Fang datang menjemput, membawa lelaki itu pergi, meninggalkannya seorang diri, ditemani buku catatan Fang yang tertinggal di bawah pohon pinus yang tumbuh satu-satunya di puncak bukit.
"Hei, Tuan Pohon Pinus," panggil Ying lirih. "Kurasa aku tahu perasaanmu, sendirian di sini tanpa teman. Tapi, hei, ada Fang yang selalu ke sini. Kalau aku tidak ada, Fang bisa menjadi teman barumu, jadi tolong ... jaga dia untukku, ya?"
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; mati.
Entah sejak kapan, pergi ke pohon pinus di puncak bukit belakang rumah sakit masuk ke dalam lingkaran rutinitas Fang. Untuk penyebabnya, Fang tidak tahu karena jawabannya masih kelabu.
"Bumi kepada Fang, Bumi kepada Fang." Ying melambaikan tangan tepat di hadapan Fang. "Fang? Kamu melamun lagi?"
"Oh. Um. Maaf. Kaubicara apa tadi, Ying?"
"Aku melihat dua ekor tupai yang makan biji kenari sebelum kamu datang. Aku penasaran dari mana mereka mendapatkannya, padahal tidak ada pohon kenari di sini," tutur Ying mengulang ceritanya. Tidak ada raut kekesalan di wajahnya. "Oh, bukumu tertinggal kemarin."
"Te-Terima kasih," jawab Fang, menerima buku itu. Tangannya menyibak halaman demi halaman. Memori ototnya hapal di halaman mana dia terakhir menulis. Ada sebuah paragraf di bawah kalimat yang dia tulis di sana.
Untuk apa aku hidup? Jika saja selamanya mata ini bisa menutup ...
[Kau hidup karena kau layak untuk itu. Banyak orang yang menginginkannya, namun terhalang takdir dan waktu. Jika kau memang membutuhkan alasan untuk tetap hidup, bolehkah jawabannya adalah aku?]
"Jangan mati," bisik Ying. "Tetaplah hidup untukku, Teman."
Fang tidak mau peduli apa Ying itu nyata atau maya, tapi yang jelas, pertanyaannya sudah terjawab dan sudut pandangnya akan kehidupan telah berubah.
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; hidup.
Fang datang, namun Ying tidak ada di sana.
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; hidup.
Fang datang lagi, walakin Ying tidak terlihat.
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; hidup.
Bersandar pada batang pohon, Fang menunggu Ying hingga jatuh tertidur, berharap Ying menghampirinya seperti pertemuan pertama. Akan tetapi, saat perawat datang, tidak ada tanda-tanda Ying hadir selama mimpi memblokade penglihatannya.
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; hidup.
Fang masih belum bisa menemukan Ying. Hingga selaksa titik cahaya pada bentangan langit hitam bermunculan, Fang menunggu dengan sebuah puisi untuk si gadis yang Fang yakini akan datang, menghabiskan waktu bersama seperti dulu.
"Ying, selama ini kamu selalu protes dengan tema puisiku, bukan? Kali ini aku membuat puisi tentangmu."
Di bawah pohon pinus, Fang mengutarakan keinginannya; hidup.
"Aku ingin menjalani operasi katup jantung."
Aku masih ingin menunggu dan menemui Ying.
Fang hidup lebih lama, Ying tidak tahu itu.
Ying telah lama mati, Fang tidak tahu itu.
Mirisnya, tak ada sesiapa yang memberitahu mereka akan itu.
Suatu senja, pohon pinus itu mati, melenyapkan bukti kesaksian dari muka bumi.
tamat
~himmedelweiss 29/03/2020
