Bel pulang sekolah adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar—nyaris semua—siswa yang ada di berbagai belahan dunia. Bunyinya yang menyebar di tiap-tiap penjuru sekolah menebar euforia bagi tiap pendengarnya. Sakaguchi Ango adalah salah satu orang yang menerima dengan suka cita bunyi bel pulang karena hanya itu hal yang bisa menghentikan penjelasan Pak Kunikida soal rumus-rumus yang mulai malas ia hafali—padahal Ujian Nasional makin dekat, tapi rasanya malas sekali kalau disuruh menghafal rumus yang belum tentu akan dipakainya begitu memasuki dunia kerja nanti.

Bocah kelas 6 SD itu melangkahkan kakinya keluar dari kelas segera setelah Pak Kunikida keluar. Rencananya untuk sisa hari ini, pulang bareng adik kelasnya seperti biasa, mandi, lalu tidur sampai maghrib—atau kalau ia tidak terlalu lelah nanti, dia bisa mampir sebentar ke rumah Kak Oda buat minta diajari materi IPA setelah selesai mandi.

"Oh, Dazai!" Ango langsung berlari ke arah gerbang begitu sosok bersurai cokelat dengan balutan seragam merah putih itu terlihat oleh mata.

Merasa terpanggil, orang yang bersangkutan langsung menoleh. Wajahnya tampak datar—tidak seperti biasanya, ketika Dazai menyambut kakak kelas merangkap sahabatnya itu dengan wajah berbinar bak bocah TK yang baru diberi permen.

"Ayo, pulang bareng," Ango memasang senyum tipis.

Dazai diam sebentar, lalu menggeleng pelan. "Kak Ango duluan saja," ucapnya datar. "Aku lagi ada urusan."

Kemudian anak itu pergi, kembali memasuki gerbang sekolah. Ango mengernyit.

~o~

Eschew

By Vira D Ace

Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango

[little note: elementaryschool!AU, Indo!AU, rada OOC buat Ango]

DLDR!

~o~

Batu kerikil jadi korban oleh sepatu Ango yang melintas tanpa memperhatikan jalanan. Perjalanan yang biasanya ditemani oleh obrolan seputar pelajaran di sekolah ataupun candaan random kini terasa sunyi karena hari ini Ango pulang sendirian, lagi. Ini bukan kali pertama, sebenarnya.

Biasanya mereka berdua pulang bareng—dulu bertiga, sama Kak Oda yang merupakan kakak kelas mereka, sambil makan pentol goreng Bang Gide kalau masih ada sisa uang saku. Setelah Oda lulus tahun lalu, mereka masih melakukan kebiasaan itu. Namun entah gara-gara apa, tiba-tiba Dazai tidak ingin diajak pulang bersama, bertepatan dengan jadwal Ango yang mulai padat oleh Try Out sebagai siswa kelas 6 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional.

Bukan hanya tidak mau pulang bersama. Tiap kali mereka bertemu, di manapun itu, Dazai akan langsung pergi. Tiap kali mereka bertemu dalam pelajaran olahraga yang kebetulan punya jam yang sama, Dazai akan memilih ujung terjauh dari titik tempat Ango berdiri—padahal sebelumnya anak itu akan menempel terus dengan Ango sampai diteriaki Pak Steinbeck yang mau mengambil nilai olahraga anak-anak kelas 6.

Ango tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Entah ia secara tidak sengaja melakukan kesalahan pada adik kelasnya itu atau apa, Ango tidak paham. Tidak mengerti.

Kakinya sudah sampai di depan rumah ketika lamunannya terpecah oleh suara seseorang yang memanggilnya. Ango menoleh, kemudian mendapati sosok tegap bersurai kemerahan berdiri di teras rumah di sampingnya. Kak Oda.

"Udah pulang, Ango?" Oda bertanya ramah.

Ango mengangguk keki. "I-iya, Kak ..."

"Tumben nggak sama Dazai?"

"D-dianya tadi ada urusan, aku disuruh pulang duluan."

"Oh ..." Oda mangut-mangut.

"Kak Oda nggak sekolah?" Ango mulai mendekat pada pagar pembatas rumahnya dan Oda yang tingginya hanya satu meter. Tumben-tumbennya Oda ada di rumah kala Ango baru pulang sekolah, mengingat biasanya anak SMP baru pulang 3 jam setelah anak SD pulang.

"Kakak kelas 9 di sekolahku lagi Try Out," jawab Oda santai. "Jadi aku libur sampai Kamis. Kamu sendiri, masih lama Try Outnya?"

"Dua minggu lagi, katanya," Ango tersenyum kecut.

"Oh, begitu ..." lagi, Oda mangut-mangut. Pemuda itu beranjak. "Semangat! Soal-soal Try Out gampang, kok."

"Hm ..." Ango mengangguk.

~o~

Buku Detik-Detik ada di tangan. Ango membaca soal demi soal bab IPA yang ada sambil memegang pensil. Sesekali tangannya membalik lembaran buku tersebut ke belakang, mencari penjelasan untuk soal yang sedang dikerjakannya—kalau tetap tidak bisa dikerjakan ya lingkari saja nomornya, besok tanyakan penjelasannya pada Pak Mori yang mengajar IPA atau minta diajari oleh Kak Oda.

"Duh, yang ini soalnya pakai bahasa Inggris pula ..." serius, Ango selalu bertanya-tanya kenapa bisa ada soal berbahasa Inggris dalam buku Detik-Detik, padahal rasanya mustahil akan ada soal berbahasa Inggris di ujian nasional karena tidak ada pelajaran Bahasa Inggris untuk anak SD semenjak revisi kurikulum tiga tahun lalu dicetuskan.

Mau mencari arti soal tersebut pakai Gugel Penerjemah, sayangnya ponselnya disita oleh ibu tercinta sampai ujian nasional berakhir—mana tadi sore kedua orang tuanya sedang pergi kondangan, jadi tidak bisa pinjam ponsel dengan alasan mau latihan soal. Mau pakai kamus juga tidak bisa karena kamusnya kemarin dipinjam Oda.

Eh, iya, Oda kan rumahnya di sebelah. Ango bisa ke sana sekarang kalau mau, berhubung masih jam setengah 8.

Maka Ango beranjak, mengambil hoddie dan memakainya, lalu melangkah keluar sambil membawa buku Detik-Detik dan buku catatan guna mencatat arti kata—sekalian minta diajari, kalau Oda mau.

Tok, tok, tok ...

"Kak Oda ...!" panggil Ango agak keras. Anak itu berdiri agak jauh dari daun pintu, menunggu Oda membukakan pintu untuknya agar bisa meminta kembali kamus yang kemarin dipinjam.

Ada suara langkah samar mendekati pintu. Ango bisa dengar suara seseorang berkata, "Sebentar!" sebelum pintu di depannya akhirnya terbuka.

"Ah, Ango," Oda meyambut begitu ia sudah membuka pintu. "Ada apa?"

"Itu, anu ... Aku mau pinjam kamusnya ..." ucap Ango.

"Kamus?" Oda mengernyit, sejenak tampak mengingat-ingat. "Oh, ya ya ... Sebentar, ya? Masuk aja dulu, biar kuambilkan."

"Iya, Kak ..." Ango mengikuti langkah Oda kala pemuda yang setahun lebih tua darinya itu mengajaknya masuk.

"Kebetulan si Dazai juga lagi di sini—kamu ngobrol aja dulu sama dia," Oda berucap di antara langkah mereka yang menuju ruang tengah keluarganya.

Untuk sesaat, Ango terdiam.

"Ango?"

"Dazai ... ada di sini?"

Alis Oda naik satu ketika Ango bertanya demikian. "Kenapa?"

Ango diam lagi, namun selanjutnya ia menggeleng. "Tidak—tidak ada ..."

Oda menatapnya dengan tatapan tanya, dan Ango hanya membalasnya dengan mengangkat bahu. Maka keduanya kembali berjalan.

Yang pertama kali Ango lihat ketika mereka sampai adalah seorang anak yang setahun lebih muda darinya itu sedang santai di salah satu sofa. Begitu bertemu dengan iris abu yang terhalang oleh sepasang lensa, si pemilik iris cokelat membelak.

"Dazai, aku ke kamar sebentar, ya?—mau ngambilin kamusnya Ango," Oda terlihat akan beranjak. Tapi ketika ia baru mau pergi, Dazai buru-buru bangkit.

"A-aku juga mau pulang, kok, Kak Odasaku," Dazai tersenyum pada Oda yang lagi-lagi terlihat bingung.

"Eh? Secepat ini?"

"I-iya. Aku takut ntar dicariin sama Budhe Kouyou. Jadi aku pulang dulu, ya, Kak?"

"... Iya, deh, kalo begitu ..."

"Makasih, Kak!"

"Hati-hati di jalan!" Oda berucap ketika Dazai langsung melesat ke arah teras, terlihat buru-buru sekali. Oda menatapnya dengan tatapan bingung yang sama seperti tadi, sedangkan Ango hanya membisu.

Dazai pergi ... karena melihatnya, kah?

Mendadak genggaman Ango pada buku Detik-Detik dan catatannya terasa melemas.

~o~

Sebenarnya apa salahnya pada Dazai?

Sejak malam itu dari rumah Ango, pertanyaan itu terus menerus berputar di kepala Ango. Berputar-putar layaknya lagu nirfaedah yang suka booming di kalangan kids jaman ima, hingga membuat Ango lupa tujuannya meminta kembali kamusnya dari Oda, tidak bisa tidur, nyaris telat, dan tidak memerhatikan pelajaran Bahasa Indonesia dari Pak Natsume.

"Tumben lemes, Ango?" Tsujimura yang duduk di dekat Ango menegur begitu bel istirahat berbunyi dan Pak Natsume sudah pergi. "Biasanya kamu paling senang sama pelajarannya Pak Natsume?"

Ango menahan kuap. "Ngantuk," ucapnya di sela-sela telapak tangannya yang menahan kuapan.

"Kemaren bergadang?"

"Anggep aja gitu ..."

"Mau ke kantin, nggak? Biar nggak ngantuk, soalnya abis ini pelajarannya Pak Kunikida."

Ango mengangguk saja ketika Tsujimura berdiri sambil memberi tanda agar mengikutinya. Ia ikut berdiri, lalu mengikuti langkah Tsujimura yang mulai berbaur dengan langkah teman-teman mereka yang lain, yang juga baru mau keluar kelas—namun sebelumnya cuci muka dulu, biar wajahnya bisa segar sedikit.

"Biasanya kamu barengan sama adek kelas kita itu, kan?" tanya Tsujimura ketika mereka mengantre di kantin.

Ango mengangguk. "Kenapa?"

"Tumben dia nggak datang? Biasa tiap bel bunyi dia udah nunggu di depan kelas, nyariin kamu."

"Sakit, kayaknya ..."

"Oh ..."

Ango berbohong, sebenarnya, karena tadi pagi ia sempat melihat Dazai sudah berada di dalam kelas ketika ia melewati koridor kelas 5.

"Omong-omong Try Out masih dua minggu lagi, kan?"

"Katanya Pak Kunikida sih, iya."

"Duh, kayaknya bakal susah, nih ..."

"Katanya Kak Oda soal-soalnya gampang, kok."

"Serius? Syukurlah ..."

Giliran mereka berdua yang memesan makanan. Tsujimura menawarkan diri untuk memesan sementara Ango disuruhnya untuk menunggu saja di sampingnya—sekalian cari tempat duduk, kalau tidak ada berarti mereka akan makan di kelas saja.

"Mau pesan apa?"

"Roti bakar aja, rasa bluberi kalo ada."

"Sip."

Sementara Tsujimura memesan, Ango mulai mengendarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, mencari-cari tempat kosong agar mereka tidak perlu capek-capek pergi ke kelas buat makan. Namun agaknya seluruh tempat sudah terisi, Ango mengembuskan napas.

"Hee, nggak ada tempat?"

Itu bukan suara Tsujimura, pun suara Ango sendiri. Yang mengeluh itu adalah anak lain, dan Ango kenal suara itu.

"Dazai ...?"

Yang namanya dipanggil menoleh, lantas terkejut. "A-aa ..." kakinya mulai melangkah menjauh, hendak lari.

"Dazai, tunggu—"

Namun belum ucapannya selesai, Dazai sudah kabur lebih dulu. Ango terdiam.

~o~

"Jadi kalo mau nyari volumenya, rumus tabung sama setengah bola ditam ... Ango? Hei, Ango?"

Ango terkejut ketika Oda melambai-lambaikan wajahnya di depan wajah. Ia mengerjap-ngerjap sebentar, lalu menatap Oda yang menatapnya khawatir. "I-iya?"

"Tadi kamu melamun," ucap Oda datar—namun ada sedikit nada khawatir, khas Oda yang Ango kenal. "Kamu sakit?"

"Ng-nggak kok ..." Ango buru-buru menggeleng.

Oda masih menatapnya. "Ada masalah?"

Ango diam, enggan menjawab.

"Ango ...?"

Ango masih diam.

"Oh ..." Oda mengalihkan pandangannya sejenak. "Tadi ... kayaknya Dazai nggak pulang bareng kamu lagi, ya? Kalian ada masalah?"

Kali ini Ango bereaksi—anak itu tersentak ketika Oda menyebut nama Dazai. Lalu ia menunduk.

"Kayaknya bener, nih ..." Oda mangut-mangut sendiri. "Jadi ... kalian kenapa?"

"... Nggak tau, Kak ..." Ango menjawabnya dengan gelengan pelan.

"Lah?"

"... Tiba-tiba aja Dazai ngejauhin aku. Tiap ketemu, dia langsung pergi. Tiap ketemu pas jam olahraga, dianya nggak mau deket-deket kayak dulu ..." Ango berujar dengan nada pelan.

Oda mangut-mangut. "Dari kapan?"

"Kalo nggak salah seminggu, sih, Kak."

"Begitu ..."

Untuk sesaat hening melingkupi. Ango diam, menunggu Oda yang juga diam karena memikirkan sesuatu.

"Kalau kutanyakan pada Dazai, gimana?"

"Ng-nggak usah, Kak!" Ango langsung menggeleng keras. "N-nanti dianya—"

"Nanti malah kepikiran terus, lho ..." Oda memotong seraya menghela napas. "Nanti kutanyakan baik-baik. Mungkin dianya memang ada masalah, atau bagaimana ..."

Ango diam sebentar. Sejurus kemudian, ia mengangguk pelan. "Tolong, ya, Kak Oda?"

"Hm," Oda mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum hangat, kemudian maniknya kembali tertuju pada buku Detik-Detik milik Ango yang ada di atas meja. "Sekarang ... mau lanjut atau istirahat dulu?"

"Lanjut, deh!"

~o~

"Baik, itu saja untuk pelajaran hari ini. Persiapkan diri kalian untuk Try Out Senin depan, ya?" Pak Mori memberi pesan sebelum melangkah keluar dari kelas. Bel pulang sudah berbunyi tadi, Ango mulai membereskan barang-barangnya guna pulang ke rumah.

Tidak terasa, Senin depan sudah Try Out pertama. Meski baru percobaan, namun tetap saja membuat beberapa siswa ketar-kitir—takut soalnya sulit, karena katanya soal-soalnya berasal dari paket soal Ujian Nasional tahun lalu.

"Ango, ada yang nyariin, tuh!" Twain berseru dari depan kelas.

"Bentar!" Ango menyampirkan tas di punggung, lalu melangkah keluar kelas—mumpung hari ini bukan jadwalnya piket, jadi bisa langsung pulang. Maniknya menoleh kesana-kemari ketika baru keluar dari kelas, namun ia terdiam begitu mendapati sosok anak yang sangat dikenalnya berdiri di dekat kelas, tampak menunggu kedatangan seseorang.

Mata keduanya bertemu. Agak lama mereka saling bertukar pandang, hingga anak itu berkata, "Kak Ango, pulang bareng, yuk?"

Dan di sinilah Ango sekarang, dalam perjalanan pulang ke rumah dengan Dazai di sampingnya, lengkap dengan sebungkus pentol goreng Bang Gide, seperti dulu.

"Senin depan Kak Ango bakalan Try Out, kan?" Dazai bertanya sambil memasukan sebutir pentol ke dalam mulut, tanpa menoleh pada orang yang bersangkutan.

Ango mengangguk pelan. "Hmm ..."

"Semangat, ya?"

"Makasih ..."

Ada hening menyelimuti mereka selama beberapa langkah. Ango tidak tahu harus berkata apa pada Dazai yang tiba-tiba mengajaknya kembali pulang bersama. Canggung.

"Kak," tiba-tiba Dazai memanggil. Ango menoleh.

"Ya?"

"Buat yang kemarin-kemarin itu ..." langkah si surai cokelat terhenti. Dazai menunduk dalam, "... aku sengaja, biar Kakak bisa fokus ujian dan nggak terlalu mengurusiku."

Dahi Ango mengernyit. "Maksudnya?"

"Kak Ango kan udah mau ujian," ujar Dazai pelan. "Aku sadar kalo aku emang sering mengganggu, jadi biar Kak Ango fokus, aku ngejauh aja. Tapi kemarin Kak Odasaku ngomong, katanya Kak Ango malah merasa aneh gara-gara aku menghindar terus ..."

Oda benar-benar menanyai anak itu, rupanya. Ango ikut terperengah juga, kala tahu alasan dibaliknya yang selama ini suka membuat ia uring-uringan sendiri.

"Ya ampun ..." Ango menghela napas. "Aku kira aku ada salah ke kamu ..."

"Maaf."

"Nggak apa-apa, kok," Ango mengangguk seraya tersenyum tipis. Tangannya yang tidak memegang plastik isi pentol goreng menepuk kepala Dazai pelan, mengacak-ngacaknya bagai sedang bersama adik sendiri. "Yang penting aku tahu kalo kamu ternyata nggak marah padaku."

Keduanya lanjut berjalan setelah itu, pulang ke rumah sambil mengobrol dan menghabiskan pentol goreng. Hingga sampai di depan rumah Ango yang memang lebih dekat, barulah keduanya berpisah, kali ini dengan rasa lega tanpa tersangkut suatu apapun.

-end-

Eschew: (v) menjauh, menghindar. Saia pilih judul ini karena ga tau mau dijudulin apa :"u /oi

Menilik hastag yang awalnya ada di atas (udah saia hapus, soalnya eventnya udah lewat jauh sekali), awalnya ini ditulis buat meramaikan event #FriendshipFI2019 , tapi ga tau kenapa ga selesai (sumpah kemaren itu nemu udah nyampe pas Dazai ngasih tau alasannya. Kok bisa gak selesai itu diriku bingung juga, padahal aku nangkep benang merahnya :")

Draft yang ketemu jam setengah dua, dibaca ulang, terus kulanjutkan ampe selesai, terus tidur, jadi ngetik A/N nya baru sekarang :'u /apa sih Vir

Dah la, ga tau mau ngomong kek gemana lagi. Intinya makasih buat yang udah mampir, dan mari kita ketemu lain waktu.

Adios, dan jangan lupa jaga kesehatan :D

-Vira D Ace-