Lipbalm


Starring : Noctis x Reader

Words : 1,108


"Arrrgghh!"

Suaramu menggema, memenuhi seluruh ruangan serba hitam—dengan sedikit taburan ornamen emas yang menghiasi. Wajahmu yang biasanya menampilkan seutas senyum untuk menyambut dunia kini diliputi oleh frustasi. Ya. Kamu menggeram sebelum pada akhirnya berteriak putus asa ke arah cermin hitam yang kini berada di hadapanmu, memantulkan parasmu yang jauh dari kata baik-baik saja.

"Apa?"

Dari belakang sana, indera pendengaranmu menangkap alunan suara khas milik seorang pemuda bersurai hitam. Bola kacamu bergulir, melirik kecil sosok yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya—membuat jengkelmu semakin membara tak tertahankan.

Di luar sepengetahuanmu, pemuda yang selalu menampilkan wajah malas di sana hampir terjatuh dari duduknya karena teriakanmu. Ia tersentak, menoleh cepat ke arahmu yang masih sibuk memandangi cermin. Raut wajahnya yang tadi tak berekspresi berubah, memancarkan kebingungan karena teriakanmu yang membuat jantungnya serasa lepas dari wadahnya.

"Bibirku!"

Kamu sekali lagi berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan—bukan memarahi, tapi menjelaskan frustasi. Tubuhmu yang semula kaku mengarah cermin kini telah berbalik dan wajah manismu dihiasi oleh gurat-gurat tak suka. Kamu menaikkan tangan, menekuk beberapa jemarimu dan menyisakan telunjuk untuk berdiri tegak sembari kamu arahkan ke bibirmu yang kini merah sempurna karena terlalu banyak kamu jilati.

Di sisi lain, pemuda yang masih memegangi ponselnya telah mengangkat wajah, menumbukkan permata sekelam malamnya kepada sosokmu yang kini berkacak pinggang. Wajah manismu yang biasanya menyebalkan—menurut sang pemuda—kini memerlihatkan gurat penuh kekesalan dan tanpa disadari, kekasihmu telah mengerutkan dahi dalam-dalam.

Oh. Kamu tidak bodoh. Kamu tahu benar mengapa pemuda itu menunjukkan wajah seperti itu. Satu, kamu menjawab pertanyaannya dengan satu kalimat yang kamu tahu seratus persen tak kekasihmu ketahui apa maksudnya. Dua, alih-alih tenang, kamu sebagai orang yang diberikan pertanyaan malah semakin menggeram menunjukkan kefrustasian yang benar-benar pemuda itu tak pahami.

"Kenapa?"

Indera pendengaranmu kembali digelitiki oleh alunan pertanyaan dari pangeranmu. Ya, kamu tahu bahwa Noctis menanyakan itu kembali karena masih tak mampu untuk mengurai apa yang terjadi padamu.

Sedangkan, kamu yang masih direngkuhi oleh kesal tanpa sadar menggembungkan pipi tanda kesal karena kekasihmu tak dapat segera mengetahui apa maksudmu. Helaan napas cukup panjang meluncur bebas dari bibirmu yang masih merah dan dalam sekali hentak, kamu bawa kaki tak jenjangmu untuk melangkah, berjalan dengan cepat ke arah pemuda itu.

Setelah memastikan bahwa jarakmu cukup dengannya, kamu memajukan tubuh, sedikit merendah untuk mendekatkan wajahmu ke wajah malas pemuda tersebut.

"Bibirku pecah! Kering! Rusak!"

Utarmu dengan wajah tak nyaman. Sekali lagi telunjukmu mengarah ke pada bibirmu yang sesuai dengan apa yang kamu jabarkan tadi. Ada kilatan lain yang terpancar di matamu dan kamu tahu itu karena Noctis yang tadi mengerjap beberapa kali—mencoba mencerna perkataanmu—tiba-tiba saja menghela nafas begitu panjang.

Berlian hitam tak berdasarnya yang tadi dipenuhi oleh kilau keingintahuan tiba-tiba saja memancarkan aura malas. Kamupun merasa sedikit terusik sebab kamu tahu gestur itu. Itu adalah gestur yang diberikan jika Noctis merasa kehebohanmu ini bukanlah hal yang menurutnya penting.

Intinya, ia tengah mencemoohmu dengan pandangannya, mengatai melalui sorot bahwa kefrustasianmu ini merupakan suatu hal sepele yang sangat tidak penting sama sekali.

Oh itu baginya!

Bagimu, hal ini sangat penting bagi apapun juga!

"Pakailah lipbalm kesayanganmu."

Kamu yang masih mencondongkan tubuh ke pangeran Caelum itu melihat bagaimana Noctis tiba-tiba saja merendahkan penglihatan, membawa netranya kembali kepada game ponsel yang tadi ia jeda sebentar, memberi titah dengan suara malasnya yang biasa.

"Sudah! Tapi tidak mempan."

Suaramu terdengar cukup lantang. Lebih-lebih kini kamu berdiri di dekat kekasihmu yang menunjukkan wajah tak pedulit dengan kefrustasianmu.

"Hmm…"

Mendapati sosok bersurai hitam itu menanggapi kalimatmu dengan malas, ada sesuatu yang mendidih hadir di dalam rongga dadamu. Alismu bertaut menyeramkan dan sudut bibirmu berkedut menahan kesal. Pipimu menggembung, mengutarakan kekecewaanmu terhadap sikapnya yang—menurutmu—begitu cuek.

Tiba-tiba saja tanganmu yang tadi menggantung di udara terkepal dan kamu ayunkan dalam sekali hentak ke kepala kekasihmu. Ruangan itu menggemakan suara kesakitan gaduh yang diberi sang pangeran, tetapi kamu tidak memerdulikannya. Jika boleh, kamu masih ingin memukul orang itu karena kamu tahu bahwa Noctis tetap saja menganggap sesuatu yang kamu hebohkan sebagai hal yang tidak penting.

Demi Astral, memiliki bibir buruk rupa seperti ini adalah suatu mimpi buruk bagi para gadis!

"Seharusnya kau membantuku!" Jeritmu—tidak cukup keras.

"Membantu apa?"

Pemuda tampan di depanmu segera mengunci ponsel pintarnya dan menatapmu dengan tatapan penuh tanya yang sedikit diperciki kesal. Kamu dapat melihat bagaimana kekasihmu mengelus-elus bagian yang baru saja kamu pukul dengan cepat. Permatamu dan bola kacanya beradu pandang, bertatap-tatap selama sepersekian detik dan kamu menangkap 'apa yang harus ia lakukan, sih?!' pada kelam pekat itu.

"Tidak tahu! Pokoknya kau harus membantuku!"

Kamu berkata tanpa berpikir, menyuarakan apa saja yang ada di dalam kepalamu yang tertutupi oleh kejengkelan karena sikap orang tersayangmu. Oke, mungkin memang perkataan dan sikapmu ini sungguh sangat kekanakan, tetapi kamu tidak bisa menahannya. Tidak karena sikap Noctis yang menurutmu menyebalkan.

Lebih-lebih saat kamu dapati pemuda di hadapanmu mengerutkan dahi, seperti benar tak paham dengan permintaanmu.

"Aku tidak paham." Noctis berkata. "Aku pangeran bukan cenayang. Kalau kau tidak menjelaskan, aku tidak paham."

"Noctis, kau pasti menganggap ini hal sepele…" Ya. Kali ini kamulah yang mendesah kasar. Wajah frustasimu semakin nampak dan kamu dapati pula wajah bigung milik Noctis semakin jelas.

"Bukannya memang biasanya sepele?"

"Lihat!" Kamu berteriak, mendekatkan wajahmu ke wajahnya. "Bibirku ini penuh luka. Sebanyak apapun aku memakai lipbalm, tetap saja tidak sembuh!"

"Lalu? Menurutku tidak ada masalah."

"Tentu saja masalah!"

"Karena?"

"Karena bibirku jadi kasar."

Demi Eos dan seluruh isinya, kamu sangat-sangat tidak percaya bahwa Noctis sama sekali tidak memahami kejengkelanmu. Bahkan kamu sudah menjelaskan secara gamblang mengenai masalahmu.

"Jadi? Aku harus membuat bibir itu lembap lagi?"

"Ya!" Pekikmu. "Aku tahu kau pasti punya sesuatu untuk membantuku menyembuhkan bibirku. Mungkin dengan—hmph?!"

Bola matamu membulat, begitu lebar saat kamu terkejut dengan apa yang terjadi saat ini. Perkataanmu yang tadi menggebu-gebu dengan cepat terputus saat pemuda di hadapanmu tiba-tiba saja mendekat ke arahmu, membungkam mulutmu agar kamu terdiam. Bukan...bukan dengan telapak tangan, melainkan dengan…ciuman?

Kamu yang menyadari perlakuan mendadak kekasihmu nanap dan seketika berusaha meronta, melepaskan diri dari terkaman sang Caelum. Tetapi, perlakuan pemuda itu membuatmu tak berkutik. Sekujur tubuhmu melemas sebelum kamu sedikit berjengit—dan memekik kecil dalam ciuman—saat mendapati Noctis kini tengah menjelajahi tiap lekuk bibirmu, mengecap, membuat tenagamu semakin terbang menjauhi raga.

"Sudah tidak kering lagi, 'kan?"

Suara rendah itu diperdengarkan sang pemuda dan kamu dapat mendengar deru napasnya yang sedikit memberat saat kekasihmu itu menyudahi perlakuannya. Walau tak lagi bercermin, hangat yang terasa di wajahmu membuatmu yakin bahwa kini pastilah wajahmu tengah memerah seperti tomat segar karena benar-benar terkejut dengan serangan mendadak pangeramu.

Dan detik selanjutnya, kamu melihat Noctis berlari sekuat tenaga dari ruangan itu agar tidak terkena lemparan barang-barang yang kamu bawa di dalam tas jinjingmu.

※Fin※

Damage yang kuterima dari ending Crystallo Filia sangat besar. Aku ga bisa bikin fic seperti dulu lagi :')

Tapi, aku sedang berusaha membenahi Crystallo Filila dan juga menyelesaikan epilog-nya.