Kau tahu kasta tertinggi dalam dunia serigala? Iya, alpha. Aku seorang Alpha yang ingin menaklukkan Alpha lainnya. Kalian pikir aku tidak bisa? Hei, aku ini Moon Bin. Dan aku bisa segala hal. - Moon Bin
=Alpha=
Suatu pagi yang cerah berlokasi di salah satu universitas terkenal di kota Seoul. Cuitan burung yang bercengkerama di pagi hari membuat suasana pagi di universitas ini sangat damai.
Iya. Sebelum, Moon Bin. Salah satu mahasiswa teknik mesin tiba-tiba berteriak heboh di kantin.
"Memangnya tidak bisa? Itu hanya di kalangan serigala saja. Tapi, kita kan manusia"
Bermula dari percakapan gila antara empat orang mahasiswa jurusan teknik mesin.
Percakapan gila yang dimulai dari pertanyaan dan pikiran gila dari Seungkwan yang mengatakan jika "Alpha tidak bisa meniduri seorang Alpha lainnya"
"Aku seorang Alpha yang akan membuktikan jika aku bisa meniduri seorang Alpha lainnya"
Seungkwan hanya mengerlingkan kedua matanya bosan. Ia tidak bermaksud membuat Bin menggebu-gebu untuk meniduri seorang Alpha. Karena, sejujurnya di kampusnya ini tidak ada yang namanya kasta seperti binatang. Hanya saja, nama panggilan Bin 'Aggresive Alpha' membuat Bin ingin sekali mencoba berhubungan seksual dengan Alpha lainnya.
"Apa di sini ada yang memiliki panggilan Alpha juga?"
"Di kampus ini tidak ada yang seperti itu. Lagipula, mereka membuat julukan itu padamu karena kau sering mengencani banyak wanita"
Seungwoo menyentil dahi Bin kesal. Ia membawa mangkuk kosongnya dan berlalu meninggalkan meja makannya.
"Ada satu. Mature Alpha"
Bin menatap Jaehwan tertarik. Namun, anehnya Seungwoo seolah mendengar omongan Jaehwan langsung berlari kecil dan menepak kepala Jaehwan kasar.
"Tidak ada yang seperti itu. Jangan mengada-ngada"
=3=
"Menurutmu jika aggresive alpha bertemu dengan mature alpha. Jadinya apa?"
Seungwoo mengabaikan pertanyaan Bin. Ia berusaha menyibukkan diri dengan untaian kalimat indah dari dosen kalkulusnya. Sekalipun dalam hati Seungwoo mengutuk Jaehwan habis-habisan.
Bagaimana bisa Jaehwan mengatakan hal seperti itu. Moon Bin itu terlalu polos untuk disandingkan dengan alpha yang lain. Bisa dikatakan Moon Bin mendapatkan julukan alpha karena tingkat kemesumannya yang sangat tinggi. Dan karena rekornya yang mengencani banyak gadis di kampusnya.
Lagipula, Bin bahkan tidak sampai meniduri para gadis. Hanya sekedar berciuman kecil. Jika dilihat dari riwayat berpacarannya saja. Bin malah terlihat seperti jalang. Bukan seorang alpha.
"Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berhubungan seksual. Iya kan?"
Seungwoo tertohok. Bin benar-benar mesum. Haruskah Jaehwan memberitahu tentang keberadaan alpha itu untuk membuat Bin mendesah dan berakhir di rumahnya sehingga Seungwoo tidak dapat mendengar omongan menjijikkan dari Bin?
Atau haruskah Seungwoo diam dan berpura-pura tidak tahu demi menjaga keperawanan temannya yang bisa saja direnggut.
Ayolah. Orang yang satu ini mendapatkan julukan alpha karena memang sifatnya yang benar-benar seperti pemimpin. Bukan seperti Bin yang menel ke banyak gadis.
Tapi, jika Bin ditawan dengan alpha yang satu itu. Lubang Bin bisa hancur dibuatnya. Seorang alpha jika bertemu dengan yang centil dan memiliki tubuh menggoda pasti akan melakukan setiap detik.
Seungwoo melirik Bin yang tiba-tiba diam menatap dosen kalkulusnya. Ia menatap Bin lekat. Bola mata bersinar. Hidung yang langsing dan panjang. Bibir pink tipis yang siap dikulum kapanpun itu. Lehernya yang panjang dan mulus. Hingga paha Bin yang tebal yang dibalut celana jeans ketat.
Demi apa. Jika Seungwoo memberitahu Bin tentang mature alpha. Bin pasti sudah habis menjadi santapan.
Tunggu. Sepertinya menyenangkan jika melihat temanmu yang sok itu merintih kesakitan saat dibobol oleh laki-laki yang lebih kuat darinya.
"Seungwoo. Saat Wonwoo berhubungan dengan Mingyu apakah Wonwoo merasa sakit?"
WTF?!!
"Tiba-tiba aku kepikiran. Jika aku mencoba bersetubuh dengan alpha juga. Apa ia akan kesakitan? Selama ini aku hanya menonton film dewasa yang normal"
Oke. Seungwoo benar-benar harus mengenalkan mature alpha pada Bin dan membuat Bin merintih meminta lebih. Lihat saja kau Moon Bin!!
=3=
Keesokan harinya. Bin sudah bersiap untuk bertemu dengan calon istrinya. Apa bisa disebut begitu? Tidak. Lebih enak jika disebut calon partner sex.
Bin sudah menonton banyak film dewasa gay. Dan ia melihat jika itu tidak sakit melainkan hal seperti itu membahagiakan. Jadi, Bin harus mencoba melakukannya dengan segenap hati.
Bin tidak akan melukai partner-nya dan bersikap lembut. Sudah seharusnya seperti itu.
Pasal satu. Seperti yang dikatakan Jaehwan. Jangan terkesan agresif. Buatlah semuanya perlahan supaya nanti berakhir bahagia.
Tapi, tidak dalam kamus Bin. Karena, sekarang Bin ada di gedung fakultas hukum. Iya, ternyata sang mature alpha itu ada di gedung mewah ini. Pantas saja Bin tidak pernah mendengar namanya.
Pasal dua. Bin harus ditemani oleh Seungwoo atau Wonwoo yang berpengalaman dengan para pemburu gila. Tapi, lagi-lagi Bin menolak dan pergi ke kandang serigala sendirian.
"Sekuat apa dia sampai aku harus ditemani Seungwoo. Bahkan, Seungwoo lebih mungil dariku"
Bin berdiri menatap taman buatan yang berada di depan fakultas mewah itu. Ia menunggu orang yang mendapat julukan mature alpha itu keluar dari sarangnya.
"Cha Eunwoo!!"
Bin sontak menoleh ke arah sumber suara. Bin ingat dengan jelas Jaehwan memberitahu jika sang mature alpha itu bernama Cha Eunwoo anak jurusan hukum semester 6.
"Jadi, dia yang dimaksud"
Bin menyeringai kecil. Ia menatap wajah Eunwoo hingga ke ujung kakinya dan kembali lagi melihat wajah tampan Eunwoo.
"Cukup tampan" Bin menatap selangkangan Eunwoo dan senyumnya luntur seketika digantikan dengan warna merah di pipinya. "I wonder about his size"
Bin memalingkan wajahnya cepat. Bin membayangkan dirinya dengan Eunwoo bersetubuh dan membayangkan ukuran Eunwoo yang melebihi miliknya.
Sialan. Bin kira selama ini ia yang memiliki ukuran paling bagus. Jika nanti nyatanya, ia di nomor dua. Ini benar-benar memalukan.
"Biarkan saja. Sekalipun aku dinomor dua. Setidaknya, aku akan membuatnya mendesah di bawahku dan mempermalukan ukurannya yang lemah itu"
"Hei, kau temannya Taeyong kan?"
Bin tersentak kecil saat bahunya ditepuk dari belakang. Ia tersenyum lembut saat melihat Jung Jaehyun si perfect prince milik Taeyong menyapanya ditemani si mature alpha di sebelahnya.
"Taeyong masih ada kelas. Mungkin sebentar lagi turun. Mau ikut aku ke kantin sembari menunggunya?"
God bless you.
Ini kesempatan Moon Bin untuk mendekati Cha Eunwoo.
=3=
"Bodoh. Kau memberi info sebanyak itu"
"Fakultas hukum itu sarangnya serigala"
"Tapi, kurasa Eunwoo bukan tipe pria yang dikasih umpan langsung dimakan. Iya kan?"
"Tetap saja, bodoh"
Seungwoo buru-buru membereskan bukunya. Niat awal menenangkan pikiran dengan mengerjakan tugas di halaman belakang pun hilang sudah karena ulah bodoh Jaehwan.
"Suruh saja Bin ke sini"
Seungkwan dengan segala kecepatannya pun menelpon Bin. Dia bukan tipikal orang yang banyak bicara tanpa melakukan sesuatu. Seungkwan lebih ke melakukan banyak hal dengan mulut yang berisik.
"Diangkat tidak?"
Seungwoo kembali duduk. Dan menatap layar ponsel Seungkwan.
Pintar. Seungkwan melakukan video call dengan Bin. Dan itu artinya, jika Bin menjawabnya. Mereka bisa langsung tau lokasi Bin di mana.
/"Kenapa? Aku sedang beli susu coklat"/
"Cepat ke gedung belakang fakultas. Ada yang ingin kubicarakan"
/"Oke oke. Aku beli susu dulu. Daritadi ngantrinya lama"/
"Oke oke. Jangan lupa modul bahasa inggrisku. Bye"
Seungwoo diam seketika setelah Seungkwan memutuskan sambungan teleponnya. Ia menyenggol Jaehwan pelan berharap Jaehwan melihat apa yang Seungwoo lihat.
"Dia benar-benar masuk ke sarang serigala"
Seungkwan yang tidak mengerti hanya menatap Seungwoo polos. Apa maksud dari omongan Seungwoo.
"Aku baru ingat Taeyong ada di tempat itu. Dan otomatis Bin bertemu dengan Jung Jaehyun yang notabene teman dekat Cha Eunwoo dan kekasih Taeyong"
Seungwoo mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak menyangka pertemuan dua mahluk gila terjadi secepat ini.
Moon Bin terlalu agresif.
"Hei, itu tadi kantin fakultas teknik"
"Memang. Tapi, kau tidak melihat siapa yang jauh di belakang Bin. Seharusnya kalian melihat dengan jelas jika disitu ada Joonmyeon, Mingyu, Jaehyun, Jinyoung, Taeyong dan juga Cha Eunwoo! Mata kalian harus dipertajam dengan rautan"
"Lalu, kenapa mereka ada di sana?"
Seungwoo menghela napas. Ia tahu Seungkwan terkadang merespon lambat untuk sesuatu yang bersifat cepat. Tapi, ini benar-benar membuat Seungwoo gerah.
"Karena ada Bin. Binnie itu dekat dengan Taeyong. Otomatis, ketika ia bertemu dengan Jaehyun. Ia akan meminta untuk menemaninya menunggu Taeyong di kantin fakultas kita. Paham?"
"Thank's Jaehwan. Dan lagi, jika dalam kamus Harry Potter mereka kaum pure blood dengan darah bangsawan bukan seperti Bin yang mudblood"
"Anak fakultas hukum keren ya"
"Tidak. Selama di fakultas teknik masih ada aku"
Jaehwan menampik omongan Seungkwan dengan cepat. Sejujurnya, Jaehwan tidak memiliki rasa bersalah sama sekali karena membocorkan banyak info tentang Cha Eunwoo pada Bin.
Kalian tahu kenapa? Karena, Jaehwan ingin melihat Bin di dalam kurungan alpha sungguhan. Dan membuat Bin merasakan betapa malunya dimasuki oleh orang yang dia pikir lemah darinya.
Ayolah, Cha Eunwoo memang terlihat seperti seorang malaikat yang sempurna. Tapi, siapa tahu jika Eunwoo jauh lebih mesum dibandingkan Bin. Dan lagi, dia maniak.
Jaehwan tahu itu semua dari adik kelas kesayangannya. Yoon Sanha yang pernah mencoba menjalin hubungan dengan Eunwoo tapi tertolak. Dan berakhir menjadi penguntit Eunwoo dan mengetahui banyak hal gila dan memutuskan untuk berhenti menyukai Eunwoo.
"Aku datang membawa diriku yang tampan ini"
=3=
"Menurutmu mana yang bagus? Aku memanggilnya slave, baby, atau-"
"Panggil saja oppa"- Jaehwan.
"Kau pikir aku perempuan?!!"
"Tim daddy" -Seungkwan.
"Kau serius sudah memikirkan hal seperti itu? Kalian bahkan belum saling kenal"
Bin diam. Ia menatap Seungwoo dengan tatapan sulit diartikan. Bin sadar jika Seungwoo menolak rencana gila Bin yang mencoba menaklukkan seorang alpha. Tapi, Bin itu out of the book. Bin suka kegiatan gila seperti itu.
"Hei, bagaimana jika pada akhirnya kau yang berada di pihak bawah?"
"Apa kau sedang bercanda denganku Kim Jaehwan yang terhormat?"
"Hanya bertanya kenapa kau sentimen sekali"
Bin mendengus kesal. Ia tiba-tiba memikirkan omongan Jaehwan. Bagaimana jika nanti ia dipihak bawah dan memanggil Eunwoo dengan sebutan daddy. Atau lebih parahnya oppa. Oh tidak.
Itu tidak boleh terjadi!
"Akan aku pastikan aku membuat dia mendesah menikmati permainanku"
"Maksudmu, blow job?"
"Yakkkk!!" Bin memukul kepala Seungkwan. "Tapi, apakah aku harus menghisap miliknya juga?"
"Jika iya, kau pasti akan kesulitan dengan ukuran bibirmu yang mungil itu" -Jaehwan.
"Miliknya tidak sebesar itu!"
"Mana tahu. Memangnya kau sudah melihatnya?!" -Jaehwan.
"Akan kupastikan miliknya lebih kecil. Kalau tidak percaya. Kita ke kolam renang minggu ini"
Jaehwan dan Seungkwan diam-diam menyeringai. Berbeda sekali dengan Seungwoo yang menghela napas dan memasang wajah tidak peduli.
"Oke, aku akan mengajak Wonwoo dan kau ajak Taeyong. Itu rencananya supaya dia ikut"
=3=
Di hari minggu yang paling Bin nantikan. Bin sudah bersiap dengan semuanya. Kaos putih polos dengan balutan kemeja hitam yang tak terkancing, dipadukan dengan jeans selutut yang mengekspos betisnya yang mulus.
Tak lupa Bin menyiapkan celana renang berwarna merah maroon. Bahkan, Bin tidak makan untuk membuat otot perutnya terlihat jelas di mata Eunwoo.
Semalaman, Bin juga menonton film dewasa dan memikirkan panggilan manis apa yang harus dikeluarkan Eunwoo.
Semuanya sudah siap. Hanya tinggal gas untuk melakukan semuanya dengan Eunwoo.
Namun, rencana Bin gagal. Niatnya ke kolam renang berakhir ke rumah mewah Eunwoo.
Rumah dengan fasilitas bintang lima ala hotel besar di pusat kota. Sekarang, Bin tahu kenapa Seungkwan mengatakan jika anak fakultas hukum benar-benar keren.
"Jika kalian ingin berenang silahkan saja. Kolam renangku di dalam ruangan. Jadi kalian tidak kehujanan"
Demi neptunus. Siapapun yang berhasil menikah dengan Eunwoo. Pasti bahagia.
"Jadi? Masih mau dilanjut?"- Seungkwan.
"Tentu saja. Setidaknya buat dia masuk ke kolam dan biarkan celananya yang menjawab semuanya"
"Pertama, dia lebih tinggi darimu"-Jaehwan.
"Hanya beberapa centi"
"Kedua, dia memiliki tubuh yang bagus"-Jaehwan.
"Punyaku tak kalah bagus"
"Ketiga, dia mantan anak basket. Ia bisa saja menguncimu dan membuat semua mimpimu hancur"-Jaehwan.
"Tidak akan"
"Taruhannya?"-Jaehwan.
"Kau boleh menonton video ku dengannya"
"Tidak tertarik"-Seungkwan.
"Traktir selama seminggu"
"Tapi, aku tertarik" -Jaehwan.
"Deal. Ayo ganti baju"
"Aku pilih tawaran pertama"
"Kalian membicarakan apa? Kenapa tidak mengajakku juga?"-Seungwoo yang tertinggal rapat penting hanya berdecak kesal. Ia menarik tangan Wonwoo dan berlari kecil mengejar temannya. "Kajja, Wonwoo-ya"
=3=
Bukannya menjalankan rencana. Bin dan kawan-kawan malah sibuk bermain bola air. Berbeda dengan Taeyong, dan Jaehyun yang asik berduaan. Bahkan, sang pemilik rumah pun tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.
"Kalian mau makan, tidak?" Eunwoo datang dengan segelas es jeruk di tangannya. "Jika mau makan langsung ke ruang makan saja. Sudah ada makanan di sana"
Mendengar kata makanan semua orang yang datang langsung keluar dari kolam dan mengambil handuk untuk mengeringkan badannya.
Namun, berbeda dengan Bin yang masih sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa melihat ukuran Eunwoo yang tersembunyi itu.
Gotcha.
Selepas peninggalan yang lain. Bin barulah melancarkan aksinya. Iya, sengaja menabrakkan tas Bin sehingga jus jeruk itu mengenai tasnya.
Tapi, rencananya lagi-lagi gagal. Eunwoo meninggalkan Bin begitu saja.
"Aku ingin ganti"
Eunwoo menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bin heran. "Kau tidak akan berenang lagi hari ini?"
Bin menggelengkan kepalanya pelan. Ini kesempatan. Bisa saja Eunwoo mengajaknya ke kamar. Iya kan?
Tidak. Eunwoo pasti mengajaknya ke kamar mandi tamu. Bukan kamar mandi di kamarnya. Kau terlalu banyak berharap Bin.
"Ganti saja di kamarku. Kamar mandi bawah sedang diperbaiki"
WTF?!!
God bless you, Moon Bin.
"Kamarmu di mana?"
"Ikut aku"
Bin mengikuti langkah Eunwoo. Sesekali ia mengeratkan handuk yang menutupi tubuhnya. Jantung Bin berdetak lebih cepat. Seolah ia akan diantar ke neraka.
"Masuklah. Aku akan ambilkan ginseng hangat untukmu"
Bin mengangguk kecil dan memasuki kamar Eunwoo. Ia menutup pintu perlahan dan menyeringai kecil. Bin harus segera berganti. Lalu, setelah itu Bin akan menggoda Eunwoo habis-habisan.
Setelah Bin berganti pakaian. Manik matanya menangkap lemari kayu milik Eunwoo.
Dengan perlahan Bin mendekati lemari itu dan membukanya. Ia terdiam sesaat melihat betapa banyaknya pakaian di dalam lemari Eunwoo.
Semuanya normal. Sampai pada akhirnya, Bin menemukan kotak yang menarik perhatiannya. Sebuah kotak besar mencurigakan yang minta dibuka.
"Buka, tidak? Buka?" Bin berjalan menghampiri kotak besar yang berada di sudut kamar Eunwoo. Dan lagi-lagi dia menahan napasnya.
Bin tidak polos untuk tidak mengetahui benda jahanam apa yang ada di dalam kotak itu.
Kondom, vibrator, dildo, ring, garter belt, hingga tali yang cukup banyak. Demi apa? Melihat ini semua. Sudah bisa dipastikan jika Eunwoo benar-benar mature dalam artian kutip.
"Dia seperti penjahat seksual di film" Bin menatap kotak itu ngeri. "Jika dia memiliki kekasih. Pasti, kekasihnya sudah jadi bakwan goreng"
"Kau sudah selesai? Keluarlah. Yang lain ada di ruang tengah"
Bin berdiri dan merapihkan pakaiannya yang sengaja ia jatuhkan berdekatan dengan kotak Eunwoo.
"Kau akan pergi?"
Eunwoo mengangguk kecil. "Aku harus mengantar ayahku ke rumah dinas. Dan bertemu dengan beberapa temannya" Eunwoo membuka lemari pakaiannya dan mengambil setelan berwarna hitam. "Tenang saja. Kalian bisa menginap jika kalian mau. Sekalipun tidak ada aku"
Bin hanya mengangguk kecil. Bin merasa jika rencananya memang sudah harus wajib sangat berhenti sampai di sini.
Tidakkah kalian berfikir jika Eunwoo mengetahui semuanya dan sengaja membuat rencana Bin gagal?
Eunwoo sengaja satu mobil. Eunwoo sengaja mengajak ke rumahnya untuk memancing. Tapi, Eunwoo tidak berenang sama sekali. Lalu, setelah itu Eunwoo mengajak Bin ke kamarnya. Dan sekarang, Bin ditinggal begitu saja. Tidakkah ini aneh?
"Kau masih ingin berdiri di depan pintu sekalipun aku sudah selesai berganti?"
Bin tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dan berjengit kecil saat melihat kedua mata gelap Eunwoo menatapnya tajam.
"Tampan"
=3=
Setelah kejadian gila dimana Bin menyebut Eunwoo 'tampan'. Bin sama sekali tidak masuk kuliah selama seminggu penuh.
Tidak ada kabar sama sekali. Bin mematikan ponselnya. Bahkan, lucunya. Bin sampai menyewa apartment sendiri untuk menghindari orang yang dikenalnya.
Namun, bukan Jaehwan namanya jika tidak bisa menemukan Moon Bin. Jaehwan memiliki koneksi yang cukup banyak. Bahkan, dalam waktu 24 jam setelah Jaehwan tahu Bin kabur dari rumah. Ia menemukan Bin.
Hanya saja. Mereka memutuskan untuk mendatangi Bin di hari Minggu. Yang artinya, Jaehwan sengaja mengundur waktu. Mungkin saja, Bin pulang ke rumah. Iya kan?
Tapi, Bin tidak di rumah. Karena itu, sekarang Jaehwan, Seungwoo, Seungkwan, Taeyong, Jaehyun, Mingyu, Wonwoo dan juga Eunwoo mendatangi apartment Bin.
"Menurutmu, dia kenapa?"-Seungwoo.
"Mana ku tahu! Kemarin saat di rumah Eunwoo, ia masih bersikap normal" -Jaehwan.
"Biasanya dia menceritakan semuanya padaku. Tapi, kali ini tidak" -Seungkwan.
"Mungkinkah dia hamil?!!" -Jaehwan.
Seungwoo yang mendengar celetukan Jaehwan langsung menarik rambut Jaehwan yang ada di kursi depan. Jika Bin benar-benar hamil. Seungwoo tidak akan memaafkan Jaehwan.
"Ini semua salahmu, idiot!!"
"Kenapa jadi aku? Aku tidak menghamilinya!"
"Kau yang memberitahu semuanya. Pokoknya ini semua salahmu"
"Mana bisa begitu?! Kau juga memberitahu tentang orang itu padanya! Kau juga bersalah"
"Kau memberikan info lebih banyak. Dan, kau yang mendorongnya masuk ke kandang serigala!!"
"Aku tidak mendorongnya. Dia sendiri yang masuk! Lagipula-"
"Bisakah kalian diam?!!"
Seungwoo melirik bangku pengemudi sejenak sebelum kembali duduk di bangkunya. Ia merapihkan kemeja berwarna biru langit yang sempat ditarik-tarik oleh Jaehwan.
Seolah tak bersalah. Jaehwan memberikan arahan jalan secara normal. Persetan dengan Seungwoo yang menarik-narik rambutnya yang halus.
"Benar di sini?"
Jaehwan mengangguk dan menyuruh Eunwoo memarkirkan mobilnya. Namun, Eunwoo tiba-tiba sadar. Jika, mobil Jaehyun tidak mengikutinya di belakang.
"Kalian dekat dengan Taeyong kan?"
Eunwoo menghentikan mobilnya dan memberikan kode untuk menelpon salah satu orang yang ada di mobil Jaehyun.
"Kau di mana?"
/"Huwaaaa. Jaehyun bodoh ku bilang belok kanan. Dia malah belok kiri. Jadi, aku tidak tahu kita di mana"/
"Berhentilah di salah satu halte yang ada di dekatmu. Aku akan ke sana"
Jaehwan menatap Eunwoo kaget. Mudah sekali Eunwoo mengatakan akan menjemput mereka.
"Mereka tidak ada yang bisa menggunakan GPS" Eunwoo menjelaskan singkat. "Jaehyun saja tidak kenal IG. Taeyong tidak bisa menyalakan Wi-Fi. Mingyu bahkan membutuhkan waktu sebulan lebih untuk mempelajari ponselnya"
Demi apa?!! Anak hukum yang menurut Seungwoo dan Seungkwan keren. Ternyata mereka buta teknologi.
Ini alasan kenapa kalian tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja.
/"Suruh Eunwoo menjemput kami. Aku tidak bisa mempercayai Jaehyun. Wonwoo-ya, kau tahu cara menggunakan GPS? Mobil Jaehyun ada GPS, hanya saja pemiliknya bodoh"/
"Kalian, temuilah dia terlebih dahulu. Aku akan menjemput mereka" Eunwoo mendekatkan wajahnya pada ponsel Seungwoo. "Carilah halte terdekat. Aku akan ke sana"
=3=
Knock knock.
"Apalagi yang tertinggal?"
Bin berkedip polos menatap wajah tampan Eunwoo di balik pintunya. Namun, dalam hitungan detik. Pintu kayu itu langsung ditutup dengan cepat oleh Bin.
"Arghhhh"
Bin melirik tangan Eunwoo yang mengganjal pintunya. Bin menghela napas kecil dan tersenyum kecil ke arah Eunwoo dengan polos.
"Silahkan masuk"
"Temanmu mana?"
Eunwoo mendorong tubuh Bin dan masuk ke rumah Bin seenaknya. Bin hanya menatap Eunwoo yang mengambil kaleng soda di kulkasnya.
Tidak tahu diri.
"Mereka sudah pulang"
Eunwoo mendelik kesal ke arah Bin. Kaleng soda yang ada di tangannya pun sudah remuk di tangan Eunwoo.
"Apa temanmu memang tidak memiliki otak?"
Bin hanya diam tidak merespon. Ia mendudukkan dirinya di sofa dan memakan kue kering yang dibawa Jaehwan tadi.
Bin menyeringai kecil dan cepat-cepat menelpon Jaehwan yang diduga Bin masih dalam perjalanan pulang dengan uber.
"Diam. Dan dengarkan saja"
Pletakkk.
Bin meringis kesakitan saat kepalan tangan Eunwoo mengenai kepalanya. Ia melirik Eunwoo yang duduk di sebelahnya dengan sinis.
"Taeyong. Saat aku sampai untuk menjemput mereka. Ternyata dengan entengnya mereka menjawab sedang double date" Bin menahan tawa mendengar cerita Eunwoo. "Dan lagi, itu trio alien di geng-mu. Menyuruhku menjemput mereka. Dan saat sampai mereka malah tidak ada"
Bin memutar kedua bola matanya malas. "Itu bukan kesalahanku"
Eunwoo menyetel televisi dengan kesal dan meminum soju langsung dari botolnya.
"Bagaimana bisa kau berteman dengan mereka"
Bin menahan tawanya yang hampir lepas. Ini pertama kalinya Bin mendengar Eunwoo berbicara banyak. Dan lagi, pembicaraan itu didengar Jaehwan yang jauh di sebrang sana.
Pasti, teman-temannya itu langsung membicarakan Eunwoo.
"Aku lelah"
Bin tersentak kaget saat Eunwoo tiba-tiba merebahkan kepalanya di kedua paha Bin dengan mata yang tertutup.
"Biarkan begini sebentar. Tenang saja aku tidak akan melakukan hal aneh padamu"
"Sekalipun kau melakukannya. Aku tidak akan menolak"
Eunwoo membuka matanya dan mencubit pipi Bin gemas. Bagaimana bisa ada orang yang dengan entengnya mengatakan hal seperti itu?
Bin itu tau tidak sih, Eunwoo itu siapa?
"Ishhh" Bin menepis tangan Eunwoo. "Jika hal aneh yang kau maksud hanya sekedar sex. Aku pernah melakukannya dengan gadisku. Kau tidak tahu siapa aku?"
Bohong. Bin tidak pernah melakukan apapun pada para gadisnya. Bahkan, untuk sekedar berciuman saja. Bin sedikit kikuk. Bagaimana bisa Bin membuat kebohongan yang lancar seperti itu?!
"Benar juga. Kudengar kau itu seorang playboy" Eunwoo menggerakkan jemari panjangnya menurunkan reseleting jeans yang dipakai Bin. "Bermain dengan yang berpengalaman. Kurasa menarik"
Mampus.
Bin menelan ludah gugup. Ia benar-benar berterimakasih pada Seungwoo yang menyuruhnya pergi ke minimarket sehingga ia menggunakan jeans saat ini. Jika saja ia masih menggunakan boxer. Harga diri Bin sudah jatuh hingga dasar. Dan, tangan Eunwoo juga pasti sudah masuk dan bermain dengan milik Bin.
"Singkirkan tanganmu"
"Kau bilang kau tidak menolak"
"Aku memang bilang tidak menolak. Tapi, bukan berarti tanpa syarat"
Eunwoo bangkit dari posisinya dan menatap Bin lekat seolah meminta penjelasan.
"Pintunya sudah kau kunci?"
"Begitulah"
"Let's have a fight" Eunwoo menatap Bin yang tiba-tiba berdiri dari posisinya dengan tatapan datar khasnya.
What a fight?
"Siapapun yang menang. Dia yang di atas"
Eunwoo menyeringai kecil. Tantangan yang menarik. Eunwoo memang bukan tipikal laki-laki yang suka memukul. Tapi, jika memang itu suatu kewajiban. Eunwoo akan dengan senang hati melakukannya.
Lagipula, Eunwoo suka hal-hal berbau seperti ini. Seharusnya Eunwoo membawa mainannya juga dan mencobanya di tubuh Bin. Itu pasti menarik.
Brukk.
Dengan sekali tarikan kecil Eunwoo yang baru saja berdiri dari sofa pun terjatuh tepat di depan Bin.
Namun, hanya berbeda beberapa detik. Eunwoo membuat Bin jatuh hanya dengan menendang tulang kering Bin.
Perubahan yang cepat itu membuat Eunwoo tak tahan menampilkan seringainya. Ia menindih tubuh Bin dan mendekatkan wajah keduanya.
"Aku yang menang"
"Sekali lagi!"
Eunwoo bergerak cepat. Sebelum tangan Bin mengenai wajah tampannya.
Eunwoo bangkit dari posisinya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Bin yang tentu saja ditolak oleh Bin.
"Sekali lagi?"
Bin lagi-lagi mencoba menyerang Eunwoo. Kali ini ia menyerangnya dengan kepalan tangan yang seharusnya tepat mengenai wajah Eunwoo.
Namun, sialnya Eunwoo menahan pukulan Bin dan memutar tubuh Bin untuk mengunci kedua tangan Bin di belakang. Tidak lupa Eunwoo juga sengaja mendorong Bin hingga dahinya berbenturan dengan dinding kamarnya.
"Lagi-lagi aku menang"
Bin berdecak kesal. Ia menggerakkan tangannya pelan seolah mengatakan pada Eunwoo jika pertandingan sudah selesai.
"Satu lagi"
Bin berbalik menatap Eunwoo yang berpura-pura menguap mendengar omongan Bin. Sebenarnya, Bin ingin melakukan berapa ronde sih?
"Yang kali ini kau harus menang, Cha Eunwoo"
Bin menangkup wajah Eunwoo dan memberikan kecupan ringan di sudut bibir Eunwoo. Seolah mengerti, Eunwoo hanya tersenyum dan memainkan rambut kecoklatan Bin sebelum pada akhirnya Eunwoo benar-benar meraup bibir tipis Bin.
'Mari kita lihat siapa pemenangnya, Cha Eunwoo'
Bin menanggapi setiap lumatan yang diberikan oleh Eunwoo. Bin sengaja memberikan kebebasan pada Eunwoo untuk bermain dengan bibirnya. Iya, hanya bibirnya saja.
Karena, tidak ada seorangpun yang boleh menjamah rongga mulut Bin. Termasuk Eunwoo.
"Nghh"
Bin mencengkram jaket berwarna abu-abu milik Eunwoo. Sial. Bin lengah. Bagaimana bisa tangan Eunwoo sudah menerobos masuk ke dalam kaos Bin?
Bin terlalu sibuk menahan bibirnya untuk tidak terbuka. Hingga ia lupa akan satu hal. Eunwoo lebih agresif daripada dirinya.
Bin merasakan lidah Eunwoo yang menjamaah rongga mulutnya. Mengabsen deretan gigi mungil Bin. Dan juga bermain dengan lidah Bin.
Lagi-lagi, Bin kalah.
Jika sudah seperti ini. Tidak ada cara untuk melarikan diri dari Eunwoo. Mau tak mau. Lebih baik Bin menikmatinya saja.
Sepertinya menjadi bottom tidak terlalu buruk.
Brukkk.
Bin menatap Eunwoo yang berada di atasnya. Ia berusaha untuk tersenyum walaupun di dalam hati rasanya Bin malu sekali. Harga dirinya sebagai seorang alpha sudah hancur.
"Kurasa kau tau hasilnya" Eunwoo mengusap pipi Bin lembut. "Bolehkah jika aku melanjutkannya?"
'Sekalipun aku bilang tidak. Kau pasti tetap akan melakukannya'
Bin memaksakan senyumnya. Ia mengelus rambut gelap Eunwoo dan tangannya mulai turun hingga ke leher Eunwoo yang putih mulus.
"Bisakah kita melakukannya di kamar? Sofa ini terlalu sempit"
"Bersikaplah dengan baik. Maka aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik"
"Fvck me, daddy"
=3=
Bin membuka kedua matanya. Ia menepuk dahinya saat memori di kepalanya tiba-tiba terputar begitu saja.
Bin menarik selimutnya dan menutupi wajahnya menggunakan selimut berwarna putih itu.
"Bagaimana bisa aku membiarkannya"
Bin menyentuh bibirnya sendiri. Tangannya mulai turun perlahan dan mengingat hal gila yang ia lakukan semalam.
Demi apa?!
Eunwoo benar-benar mampu menaklukkan Bin diatas ranjang. Ini memalukan. Apa yang akan Bin katakan pada teman-temannya?
Bahkan, dari ukurannya saja. Bin kalah. Kekuatan? Jangan tanya. Cha Eunwoo itu benar-benar.
"Aku pinjam kemejamu"
Bin terkesiap dan langsung bangkit dari posisinya. Ia menatap Eunwoo yang mengenakan kemeja berwarna putih milik Bin.
"Pakaianku sedang dijemur. Begitu juga milikmu" Eunwoo menggulung kemeja putih dengan berantakan. "Aku sudah membuatkanmu sandwich. Makanlah"
Bin melirik nakas meja di samping tempat tidurnya. Segelas susu putih hangat dan dua potong sandwich. Tidak buruk juga.
Bin menatap ponselnya dengan tatapan kaget. Ia lupa mematikan sambungan teleponnya dengan Jaehwan.
Bin menatap panggilan terakhir Jaehwan. Waktu panggilan 18 menit. Sepertinya, Jaehwan tidak mendengar hal lain lagi. Semoga saja.
Bin buru-buru menelpon Jaehwan. Ia harus bersikap selayaknya seorang yang berhasil dengan rencananya.
/"Apalagi? Eunwoo membicarakanku lagi?"/
"Sprei-nya sudah kuganti juga" Eunwoo menata rambutnya. "Ngomong-ngomong, kau ada kelas hari ini? Mungkin, nanti sore aku akan kembali untuk mengambil pakaianku"
Gotcha.
"Kau benar-benar calon istri yang baik"
Eunwoo melirik ke arah Bin. Ia hanya mengendikkan bahunya tak peduli.
"Ah iya. Maaf meninggalkan banyak jejak di tubuhmu. Lain kali aku akan membuatnya lebih banyak"
Eunwoo memutar kedua bola matanya malas. Ia mengambil ponselnya dan mengabaikan ucapan Bin yang menurutnya sedikit ngelantur.
Ayolah, Eunwoo bahkan yang meninggalkan jejak di tubuh Bin. Sedangkan, Bin? Semalaman menjerit kegirangan di bawahnya.
Haruskah Eunwoo melakukannya sekali lagi supaya Bin sadar?
"Kurasa aku harus melakukannya sekali lagi supaya kau sadar dan tidak seperti tadi"
Bin menaruh ponselnya kesal. Ia menatap Eunwoo tajam seolah menantang.
"Yakk, jika kau memiliki semua skill seperti ini. Bukankah seharusnya kau itu bottom?" Bin mencibir. "Sedikit aneh mengingat semalam kau berada di atasku"
Eunwoo melirik Bin dengan seringai di wajahnya. Ia berjalan mendekati Bin dan memperpendek jarak wajah keduanya.
"W-wae?"
"Kau tahu? Aku mempelajari hal seperti ini. Karena, aku bisa saja membuat pasanganku tidak bisa berjalan"
WTF?!!
"Bersyukurlah semalam kita hanya bermain tiga ronde, baby"
=Di sisi lain=
"Kurasa mereka akan melakukannya lagi" -Wonwoo.
"Kuharap setelah ini Eunwoo benar-benar menjaga Bin. Setidaknya, Bin tidak akan memainkan hati para gadis lagi" -Seungkwan.
"Sejujurnya, aku penasaran bagaimana jika Bin memanggil Eunwoo dengan sebutan oppa. Bukankah itu terlihat menarik?" -Jaehwan.
"Semoga Bin masih bisa mengikuti kelas siang ini" -Seungwoo.
"Ngomong-ngomong tumben sekali kau ikut dengan kita, Jeon Wonwoo"
I'm back baby
btw, gue tau ini aneh. Receh. Ya gitu dah. But, ya hope you like it lah ya.
