"Kamu itu pasti terlalu sering nonton tokusatsu belakangan ini," keluh Hyuuga.

"Tapi itu bukan ide yang buruk, kan? Maksudku, biar Jabberwock bingung mendengarnya!" sahut Riko.

Kagetora memijit dagunya. "Bukan ide buruk, tapi—"

"—iya, kan?!"

"Tapi," ulang Sang Ayah lagi, "tokusatsu banget." Di situ Hyuuga mengangguk-angguk.

"Coba saja dulu! Ya? Ya?" paksa Riko. Melihat tidak ada gelengan dari seluruh anggota Tim Vorpal Swords, Riko langsung semangat. "Oke, sekarang, masing-masing pikirkan nama baru untuk jurus dan tembakan, habis itu kita latihan!"

.


.

Disclaimer: Kuroko no Basuke dikarang oleh Tadatoshi Fujimaki, Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: sebelum Extra Game, oneshot, AR, OOC.

.

.

Bucin no Basuke
by Fei Mei

.


.

Sebenarnya dia bukan anggota Tim Vorpal Swords yang paling semangat tentang ide Riko, tapi kebetulan Midorima-lah anggota pertama yang mendapat kesempatan untuk menembak bola ke ring saat latihan. Iya, nama tembakannya duluan yang akan terdengar daripada yang lain.

"TEMBAKAN CINTA PADAMU!"

GAGAL.

Hening.

Bola yang dilempar Midorima tidak masuk ring.

"Yah, tembakan Mido-chin ditolak," celetuk Murasakibara.

" … kurasa aku salah bawa benda keberuntunganku hari ini," gumam Midorima.

.


.

Giliran Akashi, dia masih belum menemukan nama yang tepat untuk tembakannya. Jadi ketika dia menerima operan dari Kise, dia ragu antara mau dribble atau mau langsung lempar ke ring, sebab semua terasa terlalu cepat. Jadilah, dia langsung asal sebut sambil melempar.

"TEMBAKAN LANJUTAN MIDORIMA!"

MASUK!

Benaran, tembakan Akashi tersebut, walau namanya membuat orang sweatdrop, tapi menghasilkan poin!

Kise langsung meremas pundak Midorima. "Nah, mungkin kamu harus menembaknya dua kali, baru diterima."

Lelaki berambut hijau yang tadi gagal mencetak skor itu memicingkan mata. "Tidak usah ambigu begitu, deh, yang kita tembak, tuh, bola, tahu!"

Lah, yang duluan ambigu siapa?

.


.

Percuma menunggu Kuroko menyebut nama lemparannya, begitulah pikir para rekannya. Jangan salah, semua anggota Tim Vorpal Swords mengakui bahwa Kuroko mampu membuat tembakan yang keren, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa anak satu itu lebih jago menghilang, apalagi saat dibutuhkan. Anu, tolong coret tiga kata terakhir dari kalimat sebelumnya.

Jadi rekan setimnya ini menantikan operan dari Kuroko, serta nama baru yang diberikannya. Sayangnya, kenyataan tidaklah seindah harapan. Bukan mengoper, Kuroko malah bersiap melempar ke ring.

"CINTAKU TIDAK BOLEH DIOPER!"

MASUK!

"Kyaaaa Tetsu-kun! Aku seneng, deh, kamu mau memonopoli akuuu!" sorak Momoi kegirangan.

Oke, tunggu, bagaimana ceritanya Kuroko bisa kepikiran nama itu?

.


.

Ini ide gebetan sendiri, pikir Hyuuga, tapi mau kasih nama apa?

Orang-orang dari Generation of Miracles memang jarang mau mengoper, beda dengan tim SMA Seirin. Makanya Hyuuga merasa jantungnya berhenti berdetak ketika menerima bola dari Midorima. Yah, mungkin karena tidak percaya diri sehabis gagal mencetak skor, atau mungkin karena sesama pemakai kacamata, tahu deh.

Sebelum lawan datang, Hyuuga tahu dia harus segera melempar bola ke ring. Jika ini main seperti biasa, Hyuuga sudah akan langsung melakukannya. Ketika dia ancang-ancang untuk mendapatkan tiga poin, ia sudah merasakan tatapan tajam dari Riko yang seakan mengatakan, 'kalau kau tidak memberi nama pada tembakanmu, kulempar kau ke ring!'.

Yang terjadi, ya terjadilah.

"AKU SUKA KAMU!"

MASUK!

"Wah, pernyataan cinta Hyuuga-chin diterima," celetuk Murasakibara.

Biarin dicengin, yang penting dapat tiga poin sekaligus, pikir Hyuuga.

"Ssst, woi!" panggil Riko di pinggir lapangan. Hyuuga pun menghampirinya. "Itu, 'kamu'nya siapa?" tanyanya sambil menyengir.

Wajah Hyuuga memerah. Dasar tidak peka!

.


.

Kagami tidak rela untuk mengoper. Tapi jika situasinya seperti ini, mau tidak mau ia harus merelakan gebetannya—maksudnya, bola yang dipegang, pada orang lain. Anggota timnya yang paling mungkin menerima operan itu adalah Aomine. Ya sudahlah, daripada ditikung—maksudnya, direbut lawan.

Mungkin karena tidak begitu rela, pada Aomine pula, operan Kagami tidak mendarat sempurna di tangan rekannya.

Sebal sih, tapi Aomine langsung melempar bola itu ke ring.

"KALAU OPER YANG BENAR, DONG, BAKAGAMI!"

MASUK!

"Ya maaf, tanganku gemetaran," ujar Kagami, yang sebenarnya tidak berdusta. Yang penting bolanya masuk.

.


.

Masih agak sebal karena bola operan Kagami tidak mulus, Aomine berniat membalasnya. Jadi dengan sengaja pemuda berkulit gelap itu mengoper pada rekannya dengan cara yang tidak enak. Kagami bahkan tidak mengantisipasi operan itu, sehingga bolanya hampir keluar dari garis batas lapangan.

Jangankan Kagami, anggota tim lawan pun tidak ada menyangka bahwa Aomine akan mengoper pada rekannya yang itu. Sehingga dengan cepat Kagami membawa cintanya—maksudnya, bolanya, menuju ring dan melakukan lay-up.

"DASAR AHOMINE!"

MASUK!

Tunggu, tunggu, jadi Kagami dan Aomine punya nama panggilan sayang untuk satu sama lain? CIIEEE~

.


.

Murasakibara adalah satu-satunya anggota tim yang tidak dijaga saat ini, makanya ia cukup geregetan karena Wakamatsu tidak kunjung mengoper padanya. Padahal kalau cintamu terlalu dikekang, tidak baik juga, kan? Ehem, oke, abaikan kalimat barusan.

"Oper padaku, padaku!" sahut Murasakibara, karena siapa tahu rekan timnya itu tidak ngeh bahwa dirinya masih available.

Entah maksudnya memang tidak kedengaran, atau memang ingin mengacuhkan rekannya, Wakamatsu tetap keukeuh mempertahankan cintanya—salah, maksudnya, bolanya. Jadi ketika dia akhirnya mampu melepaskan diri dari penjagaan lawan, Wakamatsu langsung melempar bola ke ring.

"MAKAN, NIH, BOLA!"

GAGAL.

Murasakibara menggeleng-geleng. "Cinta itu tidak boleh dipaksa, apalagi bola," cibirnya.

.


.

Bola itu tidak pernah lepas dari tangan Kagami. Mungkin karena dari rekan setimnya sendiri Murasakibara belum terima operan sedangkan dia sudah kebelet untuk memegang bola, ia jadi kepikiran untuk merebut pacar Kagami. Maaf, salah, maksudnya bola dari tangan Kagami. Tapi ia sadar dirinya tidak selihai Kuroko dalam merebut bola.

Jadilah ketika Kagami memutuskan untuk mengoper pada Aomine, dengan cepat Murasakibara berlari untuk merebut bola yang dikirim Kagami.

"DIA MILIKKU!"

DAPAT!

Kagami dan Aomine sama-sama mendecak. Murasakibara menyengir bangga, 'cinta memang harus dikejar,' pikirnya.

.


.

Kise paham pada tujuan Riko. Maksudnya begini, dalam tokusatsu seperti Super Sentai dan Kamen Rider, mereka menyebut nama jurus masing-masing saat meluncurkan serangan yang bersangkutan. Tapi, sesuai arahan Sang Asisten Pelatih, kalau memberi nama yang tidak ada hubungannya dengan jurus tertentu, jelas lawan akan bingung. Jadinya seakan mereka memberi kode tersendiri begitu untuk tim.

Sebelum latihan hari ini pun, Kise sudah cukup mahir dalam memberi nama kode di ponselnya. Iya, dia dekat dengan banyak gadis—dekat, bukan berarti pacaran, tapi para gadis dengan percaya diri mengganggap mereka pacaran dengan Kise. Jadi daripada terjadi drama salah paham aneh seperti di sinetron, Kise memutuskan untuk mengganti nama para gadis itu dengan nama lain di ponsel.

Kini saatnya ia memperlihatkan keahliannya dalam memberi nama samara. Hmm, tapi ini kan, tentang basket, bagaimana, ya?

"Cepat lempar, Kise!" bentak Kagetora.

Kaget, Kise spontan lempar bola ke ring.

"Aa—BOLAKU—BOLAKUUU!"

GAGAL.

Murasakibara menghela melihatnya. "Ckckck, makanya kalau memang suka, yang tegas, dong …"

"Tidak ada hubungannya, woi!" sahut Kise. "Dan siapa yang menjadikanmu penasihat cinta, hah?!"

.


.

Karena kesalahan Midorima, Takao disuruh melempar bebas. Takao merutuk dalam hati. Sepanjang latihan hari ini, ia belum benar-benar memegang bola, dan ia masih belum mendapatkan nama untuk lemparannya. Sekarang, semua menumpuk jadi satu dalam lemparan bebas ini.

Aduh, yang agresif kan, Midorima, yang dapat kesempatan malah Takao. Kalau ini tentang pacar sih, enak.

Nama. Ayo, dong, nama lemparannya apa?

Takao berpikir keras tentang nama lemparan para rekannya. Hm, dia dapat ide.

"KALIAN SEMUA BUCIN!"

MASUK!

Ya iyalah, kan, fakta.

.


.

Setelah latihan selesai, Kagetora menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Ia menoleh pada putrinya. "Kupikir nama-nama yang lucu itu tidak perlu dipakai saat pertandingan yang sesungguhnya."

Riko mengerucutkan mulutnya. "Heeee, padahal tadi seru, lho!"

"Tolong jangan buat kita menjadi bahan tertawaan Jabberwock lebih dari ini," gumam Hyuuga. Dan tolong peka sedikit, tambahnya dalam hati.

Namun, Riko masih belum menyerah. "Aku tahu kalian tidak suka masakanku. Jadi begini, antara kalian pakai nama-nama itu saat bertanding nanti, atau kalian akan makan masakanku setiap selesai latihan!"

Murasakibara mengangkat tangannya. "Aku pilih masakanmu saja." Seluruh anggota tim Vorpal Swords mengangguk.

Cinta memang harus memilih.

.


.

SELESAI

.


.

A/N: Halo! Gak nyangka bakal ngetik fict begini, di fandom ini pula! Awalnya mau tulis fict ini di Assassination Classroom lagi, kayak waktu bikin Karma x Nagisa, tapi gak jadi. Lalu kepikiran untuk buat kayak fict ' RAMEN' di Naruto yang pernah Fei bikin, makanya jadinya kayak gini.

Review?