Musim panas telah tiba. Matahari bersinar dengan terik. Rin duduk di teras rumahnya. Mata indah sewarna langit miliknya menatap langit biru tanpa awan. Hari ini benar-benar cerah. Hari yang tepat untuk bercocok tanam.

Rin beranjak dari tempat duduknya. Melangkah pelan menuju kebun kecil di belakang rumahnya. Mengambil sarung tangan, ia mulai menggali tanah dan menanam benih-benih bunga matahari itu di sana.

"Hei Len, apa kau mendengarku? Di kebun bunga yang sudah bosan menunggu musim panas ini, aku kembali menabur benih-benih itu."

Setelah semua benih ia tanam di dalam tanah, Rin tersenyum. Ia membereskan semua peralatan berkebunnya, lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Saat melewati ruang tengah, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia terdiam memandang sebuah foto yang terpajang di nakas. Foto keluarganya saat mereka masih lengkap. Sekelebat memori tentang mereka muncul. Sebuah senyum sedih terulas.

"Namun, mengapa kau tak kunjung pulang?"


Sunflower of Parting Regrets

A Vocaloid Fanfiction

Desclaimer : Vocaloid © Yamaha

Rated : K+

Genre : Family, Angst.

Cast : Kagamine Rin & Len, Hatsune Miku, Shion Kaito

Based on Vocaloid Song Sunflower of Parting Regrets by Kagamine Twins

Italic for Rin's PoV

*Fic ini ditulis hanya untuk hiburan semata.*

Selamat membaca~


Dulu, mereka hidup sederhana di sebuah rumah kecil di desa. Sang ayah, Shion Kaito adalah seorang Letnan Jenderal Pasukan Khusus Angkatan Laut Jepang. Karena pekerjaannya, Kaito jarang berada di rumah. Ia hanya akan pulang sebulan atau setahun sekali. Sedangkan sang ibu, Shion Miku hanyalah seorang petani biasa. Ia bekerja di ladang jagung milik kepala desa.

Rin adalah kembar tertua. Len lahir setelahnya. Mereka berdua tumbuh bersama menjadi anak yang baik dan lucu. Meskipun mereka sering bertengkar karena berbeda pendapat, keduanya saling menyayangi. Senyuman dan tawa mereka selalu membuat suasana di rumah menjadi lebih hangat dan berwarna.

Hari ini, Rin pulang dari sekolahnya dengan tergesa. Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar, berlari sekuat mungkin dengan senyum cerah di wajahnya. Hari ini, Kaito akan pulang. Rin yang sudah sangat merindukan sang ayah ingin segera sampai rumah dan bertemu dengan ayahnya.

"Rin, tunggu aku!" Len yang tertinggal di belakang memanggilnya.

Rin menoleh sejenak sambil tertawa. "Kau lambat sekali, padahal kau laki-laki," cibirnya. Len cemberut.

Tak lama kemudian, keduanya sampai di rumah mereka. Rin melepas sepatunya dengan asal dan melemparnya sembarangan, membuat Miku yang sedang menyapu teras menggelengkan kepala.

"Rin, letakkan sepatumu dengan benar!"

Rin yang sudah melangkah masuk rumah kembali berbalik dengan wajah kesal. Meski begitu, ia tidak mau sampai kena marah ibunya.

"Ha'i, Okaa-san."

Miku menghampiri Rin. "Kenapa buru-buru sekali?"

"Hari ini Otou-san pulang. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Otou-san," ujar Rin dengan mata berbinar. Miku tersenyum. Anak perempuannya ini memang sangat dekat dengan sang ayah.

"Okaa-san, Otou-san dimana?" giliran Len yang bertanya. Ia pun tak kalah semangat dari kakak kembarnya. Karena sudah hampir lima bulan Kaito tidak pulang, anak-anak ini sudah sangat merindukan sosok ayah mereka.

"Otou-san ada di halaman belakang. Cepat kalian temui," ujar Miku.

Rin dan Len pun segera berlari menuju halaman belakang. Saat mereka membuka pintu, tampak sosok pria tegap yang sedang menggali tanah, lengkap dengan topi dan sarung tangan khas orang yang sedang berkebun.

"Otou-san!" Rin dan Len berseru sambil memeluk sang ayah dari belakang. Kaito nampak terkejut.

"Rin, Len, kalian sudah pulang," ujar Kaito. Ia berbalik lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua anaknya.

"Otou-san, kami rindu sekali dengan Otou-san," ujar Rin.

"Um! Bahkan hampir tiap hari Rin menangis karena terlalu merindukan Otou-san," sambung Len.

"Kau juga sama!" cibir Rin. Kaito tertawa. Ia melepaskan sarung tangan yang agak kotor dengan tanah itu, lalu mengelus puncak kepala kedua anaknya dengan lembut.

"Sekarang, kalian tidak perlu menangis lagi. Otou-san sudah disini. Maaf ya karena membuat kalian menunggu lama. Otou-san baru diizinkan pulang sekarang," ujar Kaito.

Rin dan Len mengangguk. Keduanya lalu memeluk sang ayah. Mereka sangat menyayangi Kaito, meskipun teman-teman si kembar sering berkata bahwa Kaito menyeramkan karena Kaito adalah seorang letnan. Namun kenyataannya, sangat berbeda dengan apa yang dikatakan teman-teman si kembar, Kaito adalah seorang ayah yang sangat lembut dan penyayang.

"Otou-san sedang apa?" Rin tampak tertarik dengan apa yang sedang Kaito lakukan. Kaito bangkit dan menunjukkan sebuah kotak berisi benih bunga matahari.

"Rin suka bunga matahari bukan? Karena sulit menemukan benih bunga matahari di desa, Otou-san memutuskan untuk membeli benih ini di kota dalam perjalanan pulang. Ini hadiah untuk kalian."

Mata si kembar berbinar senang. Mereka berdua memang menyukai bunga, terutama Rin.

"Ayo kita tanam benih ini bersama-sama," ajak Len. Rin mengangguk penuh semangat. Keduanya lalu membuat sebuah kebun kecil di pojok halaman dan menanam benih-benih itu disana. Tentunya dengan bantuan Kaito.

"Anak-anak, Okaa-san punya semangka untuk kalian!" seru Miku dari teras. Rin dan Len menghentikan kegiatan berkebun mereka sejenak dan menghampiri Miku. Disusul oleh Kaito di belakang.

Mereka berempat menikmati semangka merah nan manis itu bersama sambil menikmati pemandangan desa. Rasanya menyegarkan sekali menikmati semangka di hari dengan cuaca yang panas ini.

"Rin, jika sudah besar nanti, Rin ingin jadi apa?" Kaito tiba-tiba bertanya. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk membicarakan masa depan anak-anaknya.

Rin menatap Kaito sejenak, lalu kembali menatap langit. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya.

"Aku ingin menjadi seorang petani bunga. Aku akan membuat kebun bunga yang besar dan menanam bunga warna-warni dari berbagai tempat. Aku juga akan membuka toko bunga dan menjual rangkaian bunga buatanku sendiri."

Rin menceritakan cita-citanya dengan penuh semangat, membuat Kaito dan Miku tak bisa menahan senyum. Cita-cita Rin begitu sederhana. Mirip dengan sang ibu.

"Kalau Len bagaimana?" Kaito melemparkan pertanyaannya pada putra kecilnya. Sama seperti Rin, mata Len pun menerawang langit.

"Jika sudah besar nanti, aku ingin menjadi seorang jenderal yang hebat seperti Otou-san. Aku akan memimpin sebuah pasukan khusus. Jika terjadi perang, aku akan berdiri di garis terdepan. Aku akan melindungi Otou-san, Okaa-san, Rin, dan juga negara ini seperti yang Otou-san lakukan sekarang."

Baik Kaito maupun Miku sama-sama terdiam mendengar cita-cita Len. Sejenak kemudian, keduanya kembali melempar senyum.

Kaito menepuk puncak kepala kedua anaknya. "Apapun cita-cita kalian, Otou-san akan selalu mendukungnya. Karena itu, kalian harus rajin belajar. Jadilah anak yang baik dan jangan pernah mengecewakan Otou-san dan Okaa-san."

Rin dan Len mengangguk. Hari ini pun, mereka kembali menghabiskan waktu mereka bersama dengan penuh tawa dan senyuman hangat.


Hari pun berganti. Tunas yang mereka tanam mulai tumbuh. Rin tampak sangat senang saat kuncup tanaman itu muncul dari tanah. Len tersenyum melihat wajah senang sang kakak kembar. Ia ikut menatap tunas-tunas di hadapannya.

"Um! Kupikir aku akan terus bisa melihatnya. Tahun ini, tahun depan, dan tahun berikutnya lagi," ujar Len. Rin mengernyit heran, tak mengerti dengan perkataan Len. Melihat raut kebingungan Rin, Len malah menyeringai.

"Karena itu, teruslah menanam bunga ini bersama-sama!" ujar Len.

Mendengarnya, Rin ikut tersenyum sambil mengangguk. Keduanya saling menggenggam tangan sambil menatap langit musim panas yang sangat cerah.


"Kupikir, kita akan terus bersama, selamanya. Namun..."


Langit tak selamanya cerah. Hari itu, di kala hujan deras mengguyur, Kaito melangkahkan kaki meninggalkan rumah. Perang antar negara telah dimulai. Negeri ini membutuhkan para tentara. Kaito ditunjuk untuk memimpin garis depan.

Kaito tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepala Rin yang terus menangis. Sementara Len hanya diam. Kaito menepuk pundak Len. Seakan mengerti, Len langsung mengangguk.

"Otou-san tidak perlu khawatir. Aku disini akan melindungi Okaa-san dan Rin. Jadi, Otou-san fokus saja melindungi negeri ini dan cepatlah kembali supaya kita bisa berkumpul bersama lagi."

Kaito terkejut mendengar perkataan Len. Sejenak kemudian, ia tersenyum. Putranya sudah lebih dewasa. Ia yakin Len dapat tumbuh menjadi seorang yang dapat diandalkan.

Langkah kaki Kaito bergema meningalkan rumah. Rin masih saja menangis dalam pelukan Miku. Len terus membisikkan kalimat penenang dan terus berkata bahwa sang ayah akan segera kembali setelah perang usai.

Walau Len menyadari, bahwa mungkin mereka tidak akan pernah bertemu dengan Kaito lagi.


Hari itu, hujan turun kembali. Sebuah kabar duka diterima keluarga Shion. Negeri ini mengalami kekalahan. Banyak tentara yang gugur dalam perang. Termasuk Letnan Jenderal Shion Kaito.

Hari pemakaman Kaito tiba. Miku tak henti-hentinya menangis sambil memeluk foto suaminya. Rin juga sama. Ia duduk di samping Len sambil menangis dalam diam. Sementara Len terus menggenggam tangan Rin dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.

Len hanya menunduk dalam. Ia tidak menangis. Bukan karena ia tidak sedih. Justru ia yang paling merasa kehilangan. Kaito adalah sosok ayah sekaligus panutan yang sangat berharga baginya. Sungguh sangat menyakitkan kehilangan dirinya. Namun, ia sudah berjanji pada sang ayah untuk menjadi kuat agar dapat melindungi ibu dan kakak kembarnya.

Sejak saat itu, kondisi kesehatan Miku semakin menurun. Ia sering sakit-sakitan dan batuk darah. Setiap hari ia selalu mengkomsumsi obat. Rin dan Len pun merelakan waktu bermain mereka untuk merawat sang ibu setiap pulang sekolah. Hingga akhirnya Miku pun menyerah dan pergi menyusul Kaito.

Rin dan Len pun menjadi yatim piatu. Kedua orang tua yang mereka sayangi telah pergi. Di hari dimana bunga-bunga matahari itu bermekaran, Len menemukan Rin yang menangis di ruang tengah sambil memeluk foto keluarga mereka. Len tak tahan melihatnya. Ia menghampiri Rin lalu memeluknya.

"Jangan menangis lagi. Semuanya akan baik-baik saja. Selama aku ada di sisimu, aku akan selalu melindungimu," ujar Len.


Rin dan Len tumbuh menjadi sepasang remaja yang cantik dan tampan. Len sudah sekolah menengah. Ia sangat bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya. Ia terus belajar dengan giat supaya dapat menjadi tentara seperti yang ia cita-citakan.

Sedangkan Rin sudah lama melupakan cita-citanya. Perang tak kunjung usai. Negara mereka mengalami krisis ekonomi. Uang tunjangan setelah kematian ayah mereka sudah habis untuk biaya pengobatan sang ibu. Demi menggapai cita-cita Len, Rin mengorbankan dirinya. Ia berhenti bersekolah dan bekerja di ladang kebun milik kepala desa, melanjutkan pekerjaan sang ibu.


Hari itu hujan kembali turun. Sebuah surat berwarna merah mawar yang tampak megah diterima oleh Rin. Surat itu datang bersama dengan sebuah seragam tentara yang sama persis dengan milik sang ayah.

Isi surat itu menyatakan bahwa Len resmi dinyatakan lulus dan diterima di sekolah kemiliteran Jepang dengan jalur beasiswa. Seketika kedua mata Rin berair. Ia sangat senang dan bangga pada adik kembarnya. Len memang pintar dan hebat seperti sang ayah.

Namun disatu sisi, Rin merasa sedih. Jika Len dinyatakan lulus, itu artinya Len akan pergi ke kota untuk menimba ilmu dan menjadi tentara. Len akan pergi berperang untuk melindungi negari ini. Kemungkinan besar, Len pun akan menjadi korban seperti Kaito.

Sejak kematian kedua orang tuanya, Rin menjadi trauma. Ia sangat takut kehilangan Len, satu-satunya keluarga yang ia punya. Namun, Rin juga tidak bisa memaksa Len untuk tetap tinggal dan mengurungkan cita-citanya. Karena tekad Len sudah bulat dan Len tidak bisa mundur lagi.

Rin tiba-tiba jatuh di halaman rumahnya. Len yang baru pulang dari sekolah terkejut melihatnya. Ia melempar payungnya sembarangan dan menghampiri Rin.

"Rin, ada apa? Kenapa kau jatuh? Apa kau sakit? Dan kenapa juga kau menangis?" Len menyerang Rin dengan pertanyaan. Rin memberikan surat yang berada di genggaman tangannya.

"Len, kau dinyatakan lulus. Selamat ya," ujar Rin dengan senyum yang dipaksakan.

Len menatapnya bingung. "Lalu, apa yang membuatmu menangis?"

Rin berusaha untuk menahannya. Namun, air matanya terus jatuh. Ia tak mampu menahan seluruh perasaan yang terus menusuk hatinya.

Rin tiba-tiba memeluk Len yang masih menatapnya bingung. "Len, maafkan aku. Aku mungkin egois, tapi tolong jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak membutuhkan masa depan tanpa adanya dirimu."

Len terdiam. Kini, ia mengerti alasan Rin menangis. Len melepaskan pelukan Rin. Sambil tersenyum lembut, Len menggenggam tangan Rin erat.

"Kau tau, negara ini membutuhkan para tentara muda. Jika tanganku ini bisa melindungi hari esok, maka aku akan menghadapinya dengan senang hati. Seperti yang Otou-san lakukan dulu."

Len memegang kedua pipi Rin, meminta agar si kembar tertua menatap matanya.

"Rin, jika perang ini tak kunjung usai, semua orang akan mati. Kau pun bisa menjadi korban. Karena itu, aku akan tetap pergi, demi masa depan yang terhubung denganmu."

Tangisan Rin semakin keras. Len tak bisa mengatakan apapun selain memintanya untuk berhenti menangis.


Apapun yang Rin lakukan, Rin tetap tak bisa menghentikan Len. Sejak dulu, Len selalu menurutinya dan melakukan apapun yang Rin inginkan. Untuk pertama kalinya, Len tidak mau mengabulkan permintaan Rin. Len tidak dapat mengingkari janjinya pada sang ayah.

Rin menatap seragam tentara milik Len yang dikirimkan tiga hari yang lalu. Rin memeluk seragam itu kuat-kuat sebelum seragam itu pergi jauh bersama pemiliknya.

Len sendiri berdiri sambil diam menatap tanaman bunga matahari yang ia tanam bersama Rin. Tanaman itu telah tumbuh besar. Len mencium salah satu daunnya, mengenang semua kenangan indah yang ia ukir bersama Rin dan keluarganya dalam tanaman bunga matahari itu.


Hari itu akhirnya datang. Hari yang tak diinginkan Rin. Peluit kereta api telah memanggil. Len yang telah mengenakan seragam tentaranya dengan lengkap melangkah tanpa ragu memasuki gerbong kereta. Rin berdiri dengan gemetar. Ia tak ingin berpisah dengan adiknya.

Rin mengulurkan tangannya. Sekuat tenaga, ia menarik tangan Len. Len berbalik dan menatapnya. Kedua mata Rin basah dengan air mata.

"Len, jangan pergi. Aku tidak ingin kau mati. Aku tidak akan memberi hadiah penyesalan padamu. Karena itu, tetap tinggallah disini."

Sekuat apapun Rin mencoba, sebanyak apapun Rin menangis, Len tetap tak akan mengubah tekadnya. Karena baginya, ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi Rin.

Len melepaskan tangan Rin dengan lembut. Tangan kanannya menyapu air mata yang membasahi pipi Rin.

"Jangan hentikan aku. Ambillah hari esokmu yang berharga. Aku memang tidak bisa berjanji, tapi aku akan terus hidup untukmu. Setidaknya sampai akhir, kirimkan aku surat beserta bunga matahari kesukaanmu dengan senyuman."

Untuk terakhir kalinya, Len tersenyum sangat hangat. Sebelum akhirnya, ia melepaskan tangannya dan kembali melangkah ke dalam gerbong. Pintu gerbong tertutup. Kereta mulai berangkat meninggalkan stasiun. Sepanjang itu juga, Rin tak mampu menghentikan tangisnya.


Sejak saat itu, Len tak pernah pulang. Setiap bulan pun, Rin tak bosan mengirimkan surat beserta bunga matahari untuk Len. Len selalu membalas suratnya. Hingga surat balasan terakhir yang mengatakan Len akan pergi berperang.

Len tak pernah membalas suratnya. Rin tak pernah mendapatkan kabar apapun darinya. Yang Rin tau, semakin banyak tentara yang gugur dalam perang. Mirisnya, kebanyakan dari mereka adalah tentara muda yang baru saja lulus dari akademi.

Len mungkin saja salah satunya. Entahlah, Rin tidak pernah tau. Meski begitu, Rin tidak pernah menyerah dan tetap menunggu Len di rumah. Ia yakin suatu saat nanti Len akan pulang dan mereka dapat hidup bersama lagi.


Di musim panas tahun ini, Rin kembali menabur benih-benih itu di kebun kecil belakang rumahnya. Kebun yang penuh kenangan bersama keluarganya. Bunga matahari yang telah panen telah ia rangkai dalam satu buket yang cantik bersama dengan secarik surat yang ia sematkan di dalamnya.

"Hari ini pun, aku berusaha menepati janjiku. Kukirim surat bersama dengan bunga matahari kesukaanku untukmu, Len. Meskipun kau (mungkin) tak akan pernah membalasnya."

Owari


Author's note :

Hanya sekedar fic iseng dikala pusingnya kuliah onlen. Akhirnya setelah sekian lama hiatus, aku kembali bisa menulis lagi di fandom kesayanganku walaupun dengan akun baru. Fic ini terinspirasi dari lagu si kembar yang juddulnya Sunflower of Parting Regrets. Tapi, gk tau kenapa aku lebih suka versi kaito miku, kaya lebih ngena gitu. Adegan di fic ini ada yg kuambil dari pvnya, sisanya original ideku sendiri. Gimana menurut kalian. Berminat RnR?