Ini kesekian kalinya France meminta England untuk menikahi dirinya. Namun, jawaban yang setiap kali keluar selalu "tidak", diikuti sobekan kertas.
Sungguh. Berapa banyak kertas yang akan dihabiskan supaya England mengerti?
Bukan salahnya France jika ada kontrak yang harus ditandatangani oleh kedua pihak–berisi sebuah keadaan di mana France sedang mengalami masa sulit karena, "Suez Canal", dan bosnya mengatakan kepadanya bahwa jika mereka berdua tidak bergabung, dia mungkin akan mati.
Namun, dengan kata-kata yang terlontar dan sobekan kertas yang berjatuhan, hati France selalu dibuat sakit, ditambah batinnya juga lelah.
"Sudah kubilang, France. Aku tidak mau menikah denganmu!"
"Bukan salahku jika kontrak ini terjadi! Aku sedang dalam masa krisis. Bosku berkata jika aku tidak "menikah" denganmu, aku akan mati."
"Tak bisakah kau menikah dengan yang lain?! Di antara 44 negara di Eropa kenapa harus aku?!"
Sungguh. Perdebatan ini selalu diulang-ulang sejak hari kontrak dibuat. France lelah dengan debat, serta nada suara England yang sombong dan dingin. Dia pun hanya diam membiarkan England mengoceh ria. England dengan lamanya baru menyadari dia mengoceh, lalu terdiam dan pergi meninggalkan France di ruang kantornya sambil menutup pintu dengan keras.
France menghela napas panjang. Dia mengambil sebotol wine. Menuangkannya di gelas, lalu mengangkatnya dekat mulut sambil menghirup aroma anggur yang khas. Sejujurnya dia cinta England, tentu. Datangnya kontrak ini membuat hatinya sedikit membuncah bahagia, karena mungkin ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan England. Namun, cinta terkadang membuat ia lupa betapa keras kepala England, dan sekalinya "tidak" pasti "tidak". Dia sudah banyak melakukan gestur "cinta" kepada England seperti memberi bunga, mengajak ke restoran sampai, ehem,genit;dengan England. Namun, sepertinya usaha dia masih sia-sia membuat France jadi berpikir;
Mengapa England selalu menolak?
Mungkinkah ada seseorang yang England sukai? Atau dia memang tidak peka dengan gestur dari dia? Ingin rasanya dia mengikuti (
stalk
Dia pun melangkah ke jendela kantor. Pemandangan Eiffel Tower yang megah, dan kota kecil yang terbasuh sinar matahari menciptakan pemandangan yang damai sekaligus indah. France melihat ke jalanan. Banyak orang yang berlalu lalang menuju tujuan masing-masing. Namun, hal yang mata France tangkap pertaka kali adalah England yang baru keluar dari gedungnya dan menemui … Amerika?
Tunggu. Sejak kapan mereka berdua akur? Kenapa pula England membiarkan Amerika merangkul dirinya?
France merasa kecemburuan mengalir dalam nadinya. Kenapa England membiarkan hal tersebut? Biasanya mereka berdua selalu bertengkar tentang hal-hal kecil, seperti pola makan 'merika.
French menaruh gelas wine-nya di meja. Bergegas mengambil mantel biru dari gantungan–dia harus menyelidiki masalah ini.
Time skip
France bersembunyi di semak-semak. Teropong yang ia pinjam dari Prussia berada pada genggamannya yang erat, tengah memperhatikan Amerika dan England sedang duduk di bangku taman. Tangan 'Merika merangkul England terang-terangan, membuat kecemburuan meletup-letup dalam darah France.
Daun-daun kecil menempel di rambut pirangnya yang ia banggakan. Sungguh. Apa yang kurang dari dirinya yang dijului sebagai negara "cinta"? Demi Tuhan! Apa yang kurang dari dirinya, sih?
Amerika dan England pun beranjak pergi, dan France dengan susah payah mengeluarkan diri dari semak-semak. Banyak daun dan ranting kecil menempel di seluruh bajunya. Bahkan rambut pirangnya menjadi kotor dengan daun yang menempel, dan ia pun berlanjut mengikuti mereka berdua secara diam-diam.
Timeskip
Sudah seharian France mengikuti pasangan itu. Hal yang dilihatnya dari pagi hingga sore membuat hatinya retak sedikit demi sedikit, dan ingin rasanya ia mencuri
iggy
England mencium Amerika
Pada saat itu France tahu dia harus mundur, karena walaupun dia cinta England dia tak mungkin merusak kebahagiaan yang terjadi di depan matanya. France merasa napasnya memendek, dan buliran air mata mengalir menuruni pipinya. Dia berbalik badan lantas berjalan secara diam-diam. Memberikan pasangan itu privasi.
Keesokan harinya
Mata France sedikit bengkak–bekas malam yang tidak bisa tidur. Tentang kemarin masih ada hingga hari ini. Hatinya terasa berat. Namun, ia harus move on yang buruknya hari tersebut adalah World Meeting–semua negara pasti berkumpul untuk hal yang sama sekaligus tidak terpecahkan. France mengambil bunga mawar yang ia selalu bawa, dan dengan helaan napas yang cukup panjang pergi menuju World Meeting.
France duduk di tempatnya yang biasa–klisenya kekacauan sudah dimulai, sebelum meeting dimulai. Italy menangis. Germany marah-marah. Romano juga marah karena diganggu Spain, dan daftar perkara yang ada berlarut-larut.
France hanya duduk merenung di kursinya, sambil memainkan bunga mawarnya. Dia tidak ingin berada di ruangan ini dengan suasana hati sedang tidak baik. Buruknya lagi, England dan Amerika duduk berdua–bersebelahan, namun tetap membuat keributan seperti biasa. Canada yang berada di sebelah France dengan cepat mengetahui ada yang salah dengan papa-nya.
"Papa qu'est-ce qui ne va pas?"*
France yang terkejut menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum lembut mengetahui ternyata itu adalah Canada.
"Rien matthieu, je suis juste de mauvaise humeur"*
"Aimeriez-vous vous promener avec moi?"*
"Oui bien sûr"*
France, dan Canada pun beranjak dari kursi mereka untuk pergi keluar berjalan di taman terdekat. Mereka menemukan tempat duduk yang segera diduduki ingin segera memulai percakapan.
"Papa. Apa yang mengganggumu?"
France yang awalnya memasang senyum lembut mulai murung, dan bibirnya bergetar sekali lagi. Ia lalu menceritakan segalanya dari awal hingga, diakhiri tangisan yang mengalir sekali lagi. Canada memeluk France sambil membuat pola melingkar dengan jari di punggungnya. Setelah beberapa saat, tangisan deras kini berubah menjadi isakan kecil. Canada menepuk punggung France, lalu melepas pelukan sambil memegang kedua bahunya.
"Papa. Aku tau kamu cinta England, tapi … apakah kamu pernah berpikir untuk bicara?"
"Ha! Kau lucu, Matthieu. Tidak mungkin aku bicara kepadanya sekarang. Apalagi setelah kejadian itu"
"Yeah. Tapi setidaknya kamu akan sedikit merasa lega, Papa. Mungkin sakit tidak hilang. Namun, beban yang dibawa mungkin akan hilang apabila kau bicara dengan dia."
France merenung sejenak dan mengangguk sedikit senang ada teman bicara dan pengertian. Canada benar, mungkin dengan berbicara beban di hatinya akan hilang sedikit. Dengan cepat France berdiri. Canada mengikuti. Mereka berdua pun kembali ke World Meeting.
Sesampainya di sana, ternyata World Meeting sudah selesai dan England sedang berbicara dengan Amerika. France mengangguk ke Canada begitu pun sebaliknya. Canada pun beranjak pergi sambil mencoba mengambil perhatian kakaknya–Amerika yang tak bisa lihat dirinya.
"Angleterre. Boleh bicara?"
"Sudah berapa kali kubilang? Jangan panggil aku itu!"
"Sama saja"
"Kau mau apa? Tolong jangan bicarakan tentang kontrak bodoh itu lagi!"
"Tidak, Angleterre. Bahkan sebaliknya, aku memutuskan bahwa kau tidak perlu setuju dengan kontrak itu."
"Maksud? Tapi bukannya kau akan mati?"
"Ah. Tidak. Itu hanya berlebihan"
Wajah skeptis terukir di wajah England. Namun, dia merasa sedikit aneh dengan France yang agak tenang. Tak lama mereka berdua pun mengobrol seperti biasa sambil menyelipkan sedikit candaan, dan England yang wajahnya bersemu merah karena sedikit marah.
Namun yang pasti, France akan tetap cinta England, walaupun akhirat mendatangi dunia.
He loves him and that's all that matters.
End
Thank you for reading 3
