Montaigne Avenue terlihat lebih sepi daripada biasanya. Bukan karena redupnya etalase pernak-pernik natal yang telah menggantikan lampu jalanan sejak November lalu, melainkan pergantian musim yang tidak mendukung. Langit yang gelap, lorong-lorong basah, gang sempit yang becek terutama tapak jalan yang disusun dari bata abu-abu dengan celah yang menyipratkan sisa air hujan ketika dipijak.

Tidak banyak antrian di self-service laundry yang beroperasi untuk publik. Bahkan, restoran yang menyajikan rotisserie chicken dan crispy pork shank terbaik di kota itu tampak tidak menunjukkan sihir apapun yang menarik pejalan kaki sepulang kerja. Alasannya sederhana, setiap orang di sudut kota membutuhkan rehat.

Termasuk Kyungsoo.

Jika dirinya digambarkan sebagai sebuah kota, maka dirinya akan lebih mirip Rouen, sebuah kota diujung hilir sungai Seine. Eksotis, apik, serta kontemporer yang berasal dari gedung-gedung menjulang tinggi dengan arsitektur atap yang lancip dan dinding ukir kecoklatan bak daun oak merah di musim gugur. Dan diluar dari kekaguman itu semua, selalu tersimpan sejarah dari distrik tua yang berusaha dilupakan.

Kyungsoo memang menarik. Apabila ada paradoks yang menyatakan sebaliknya, maka siapapun itu perlu melihat rupa aktor tersebut secara langsung dengan mata telanjang.

Dan jika masih ada yang tidak percaya, maka Kyungsoo akan digambarkan seperti ini: fitur wajah oval dengan obsidian sebulat kacang almond, bola mata sebening tetes madu, bibir ranum selembut kelopak tulip. Kulitnya bersinar seputih froth susu selepas pembuihan.

Garis karut yang menjadi ciri khas gereja-gereja di kota Rouen sedikit banyak memberikan visualisasi pria itu secara parsial. Tidak, Kyungsoo tidak tua. Hanya saja kompleksitas komposisi konstruksi yang mendetil pada gedung-gedung tersebut mirip seperti isi kepalanya yang runyam dan tidak kunjung reda bahkan setelah dua teguk vodka.

Kenyataannya, selalu ada sifat fundamental yang menempel dan ingin dihilangkan oleh manusia. Dan hal itu persis seperti yang ingin dihilangkan oleh Kyungsoo. Kepalanya dipenuhi oleh insekuritas tidak berujung layaknya pertanyaan dasar yang mempersoalkan kemana langkah kaki akan membawanya setelah ini.

Bukan Kyungsoo tidak berterimakasih untuk segalanya, popularitas, uang, paras sempurna, dan seluruh aspek kehidupan yang menjadi standar kebahagiaan para awam. Hanya saja, ia selalu merasa kosong. Hatinya seperti ada lubang tidak kentara untuk berdalih atau mendung tanpa alasan. Ia bahkan tidak tahu sama sekali apabila suatu hari nanti, apa yang ia rasakan sekarang akan berujung kian memburuk atau akhirnya menemukan seseorang yang sukarela memberikan tempat tinggal bagi hatinya yang lelah.

Pasalnya, setiap tahun di tanggal tiga belas, Kyungsoo akan berada di tempat yang sama dengan orang yang sama. Harapan itu persis dan tidak berubah, kemudian menjadi sebuah siklus berpola yang membentuk perasaan diluar dugaan. Hati dengan euphoria berlebih dalam periode yang sangat singkat kemudian dihempas dan terlupakan keesokan harinya. Selanjutnya adalah kebas, Kyungsoo seolah tidak mengingat apapun yang pernah terjadi hingga tahun berikutnya di tanggal yang sama.

Kadang-kadang mereka menghabiskan waktu bersamaan dengan tanggalnya potongan kain di tubuh Kyungsoo, mengingatkan satu yang lainnya diantara mereka, bahwa lekuk Kyungsoo adalah anugerah.

Kyungsoo berhak marah dan pergi, jika saja subjek yang sama tidak memilih tinggal dan berjalan beriringan dengan andai yang menunjukkan arah buntu. Ia memiliki wewenang penuh atas perasaannya sendiri untuk menyingkirkan siapapun yang menggerus hatinya terus-menerus–untuk waktu yang sangat panjang. Namun Kyungsoo merasa itu bukan salah satu pilihan dalam daftar.

Jongin telah menjadi satu-satunya alasan bagi Kyungsoo untuk kembali ke Paris lagi dan lagi.

Setelah seluruh rangkaian masa lalu yang terasa ganjil muncul di lini masa kehidupan yang juga janggal.

Pria itu bernama Kim Jongin.

-0-0-0-

Tak banyak hal yang dapat menghibur Do Kyungsoo, mungkin bisa dengan mudah dihitung dengan jari. Anjing poodle hitam yang diberikan oleh sepupunya sebelum berpisah setelah masa sekolah berakhir di Massachusetts, buku-buku literasi berbahasa Perancis, makanan asam-manis, dan mungkin Kim Jongin.

Frasa 'mungkin' memang masih kental dan pekat apabila ia harus mencecap nama itu terang-terangan dari belah bibir. Setelah banyak hal yang mereka lalui, ketidakpastian, residu bulir airmata, serta sedikit drama ketika bumbung asap rokok masih tercium di ujung rambut Kyungsoo setelah malam itu beranjak pergi.

Jadi disinilah Kyungsoo sembari memeluk roti baguette hangat dan mengerutkan alis, memberikan celetuk ringkas di hubungan ponsel yang berteriak cemas di nada bicaranya.

"Do Kyungsoo! You can't escape just like that to Paris? Who do you think you are?!"

"Your first two words. Do Kyungsoo."

Pihak oposisi di sebrang sana meloloskan dengusan kasar yang kesal. "I'm serious."

"Hello, serious." pungkasnya lagi seraya memutar kunci kamar hotel Castille bernomor 13.

Baekhyun ingat bahwa Kyungsoo sungguh-sungguh meminta izin untuk pergi sejenak dari aktifitas syuting, konferensi press, hingga rekaman lagu layar lebar yang disutradarai oleh dirinya sendiri. Namun ia tidak mengira bahwa Kyungsoo mampu bertindak lebih menyebalkan dari biasanya ketika pria itu melepas gelar aktor dan figur publik se-Asia dan kemudian melarikan diri ke Perancis.

"Tsk. You must be kidding me."

Baekhyun mematikan sambungan telepon. Kyungsoo baru saja berniat untuk mengirim pesan kepada managernya itu untuk tidak menyusul ke tempat dirinya berada sekarang sebelum ponselnya lagi-lagi berdering.

[Text from: Byun Noisy Baekhyun]

"Jangan lupa pakai heat tech. Don't catch a cold. Never. Skip. Your. Moisturizer. Okay?!"

Kyungsoo menghela napas bersama senyum tipis yang mengurai di ujung bibir.

"When I say don't catch a cold it means I want you to wrap yourself like a burrito wherever you go or ask whoever that Kim guy you've told me about to hug you. Stay warm!"

Baekhyun pikir Kyungsoo telah merasa baik-baik saja setelah rutinitas tahunan ini dilakukan berkali kali seperti sebuah kebiasaan. Atau Baekhyun hanya lupa dan Kyungsoo tampak ingin dilihat seperti itu. Meskipun demikian, Kyungsoo tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Senyumnya masih disana hingga Kyungsoo menelik pada marga yang menjadi objek pembicaraan Baekhyun.

Ada dengus sumbang yang mengendapkan kata terserah ditengah penyangkalan yang mendominasi akal sehatnya saat ini.

Kyungsoo menyalakan televisi seperti biasa hanya untuk sekadar membunuh hening di ruangan yang asing. Meskipun demikian, asing bukan satu-satunya cara yang tepat untuk menjelaskan perasaan Kyungsoo. Seperti adanya disposisi antara kehangatan dengan dadanya yang tersuruk biru dan kekecewaan yang membawa hatinya menyelam semakin jauh.

Kyungsoo tahu betul bahwa kamar hotel memang bukan rumah yang memberikannya rasa aman dan nyaman. Kadang-kadang rasa getir dan cemas menjadi komposisi utama ambiansi dari ruangan tersebut. Namun disisi lain, pria itu juga tidak bisa menyangkal bahwa dirinya menunggu momen ini sejak pertengahan tahun yang diisi oleh jadwal padat yang menjemukan. Ia juga paham betul bahwa selisih batin ini memang membingungkan dan membuatnya semakin jenuh.

Mengingkari apa yang mengusik benaknya, Kyungsoo membiarkan diri beristirahat sejenak sebelum menghadiri salah satu pembukaan etalase christian dior setelah brand tersebut memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk di setiap tokonya untuk parfum dan tas mewah.

Ia merebahkan diri diatas ranjang berukuran besar, sekitar dua setengah kali tubuhnya sendiri serta dilapisi oleh balutan katun berwarna putih.

Kyungsoo meluangkan waktu untuk memeriksa surat elektronik yang telah diurus oleh timnya. Kemudian mengganti aplikasi ke lini masa Instagram dan memeriksa produk baru yang mungkin akan diluncurkan dior esok hari.

"Mm. Hm." gumamnya sendiri seraya menggeser postingan demi postingan dari akun resmi brand tersebut, "tidak ada yang istimewa. But I'm excited."

Tidak sadar, pelupuk mata memberat dan Kyungsoo membiarkan bunga tidur membawanya menuju alam mimpi.

Ia tidak mengharapkan tidur pulas dengan rentang waktu panjang. Kyungsoo sendiri telah terbiasa tidur lima jam sehari dan mencuri waktu tidur dalam perjalanan kemanapun Baekhyun membawanya. Hanya saja kali ini berbeda, ia harus mengemudi sendiri dengan mata terkantuk dan concealer yang kurang tebal. Beruntung wajahnya tidak membutuhkan sentuhan khusus mengingat bahwa Kyungsoo terlahir dengan rupa dewa aphrodite.

"Bonjour!"

"Bonjour! C'est un plaisir de vous rencontrer!" pungkas Kyungsoo secara formal seraya melangkah masuk ke dalam gerai yang berhiaskan tembok putih berukir tulisan Dior timbul berlapis silver. Kombinasi lampu berwarna warm white dan daylight menegaskan garis sudut ruangan berukuran sepuluh kali delapan itu, membuatnya tampak luas dan lengang. Meja-meja tertata rapi, menyisakan satu sisi yang dibuat khusus bagi para undangan untuk menikmati showcase kecil yang menunjukkan perjalanan dan keunggulan brand tersebut.

Kyungsoo menggamit sepotong kue kering rasa kayu manis kesukaannya sambil menyaksikan beberapa produk yang mulai disusun dan dipajang sebagai objek pameran dan uji coba.

Seorang pria dengan kemeja putih berdasi kupu-kupu berjalan menghampiri Kyungsoo, "Do you want to try our signature scents?"

"You've got the new one? 'Cause I've been the fan of all the scents dior has offered."

Gelenyar tawa terlepas di udara. Menilai dari gaya bicara dan tata kramanya, Kyungsoo memang dikenal sebagai aktor yang ramah dan sopan. Pria itu mampu melontarkan gurauan ringan bahkan terhadap orang yang tidak sepenuhnya ia kenal. Tidak heran bahwa pria itu mendapatkan tawaran yang tidak berujung sepanjang tahun.

"Would be the pleasure to surprise you."

"Please do then."

Lagi-lagi Kyungsoo mengulas senyum mengikuti kemana langkah kaki membawa mereka. Ia membiarkan paru-parunya dipenuhi oleh aroma lembut dari ekstraksi kayu cendana dan sisa harum kulit jeruk citrus sebagai aroma residu. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyukai aroma tersebut.

"The ambery wood of calabrian bergamot wraps itself in vanilla with smoky accents for a more virile touch. The perfect scent of delicious exoticism."

Kyungsoo mengangguk, setuju dengan penjelasan head supervisor yang baru saja datang menghampiri mereka. "I'd rather say it accentuates sensual oriental accent." tambahnya.

"Precisely." Kyungsoo menghirup aroma dari carik kertas yang disemprotkan cairan eau de perfume sebelum menambahkan, "The scent was made carefully and thoughtful."

Walaupun dirinya bukan tipikal seseorang yang mencintai barang mewah, ia percaya bahwa setiap aroma akan meninggalkan kenangan tersendiri ketika bau tertentu menginfiltrasi indra penciuman. Sesederhana bau bumi selepas hujan, atau alas ranjang satin beraroma maskulin.

"Could I have this one?" pungkasnya singkat.

"You certainly know your taste."

Pria yang dikenal dengan tag nama Kris mengurai senyum di ujung bibir dan dengan sigap menyiapkan permintaan sang aktor. Ia menyerahkan sebuah tas putih berlogo dior sambil berucap, "Terima kasih." yang diikuti oleh kedipan bingung Kyungsoo.

"Kau bisa berbahasa Korea?"

"Tentu. Aku menetap di Kanada tapi darahku benar-benar Asia."

Kyungsoo nyaris menertawakan kebetulan tersebut. Ia pikir lowongan pekerjaan di Eropa hanya teruntuk bagi mereka yang memiliki kewarganegaraan serupa. Tidak sadar, mereka tenggelam ke dalam percakapan akrab dan menghabiskan lima belas menit berikutnya untuk berbincang. Mulai dari asal usul pria pirang tersebut hingga bagaimana ia menjadi kepala cabang sebuah brand eksklusif di Montaigne Avenue.

"It's been nice talking with you."

"All my pleasure."

Kyungsoo mengucapkan salam perpisahan dan berakhir di dalam audi cabriolet menuju pulang. Beruntung, ia tidak menghabiskan banyak waktu disana karena memang bukan itu tujuan utama dirinya mengunjungi Perancis. Baekhyun juga secara terang-terangan menegaskan bahwa acara ini akan digelar pada tanggal 13 Januari. Dan Kyungsoo berubah pikiran dan melakukan konfirmasi secara tiba-tiba setelah menolak undangan tersebut tempo hari. Hal itu tentu menguntungkan pemilik acara, lagi pula siapa yang tidak ingin dihadiri oleh seorang bintang yang menambah popularitas brand tersebut di Instagram melalui figur-figur seperti Kyungsoo.

Dan bagi sang aktor, ia hanya memerlukan distraksi. Dari benaknya yang ribut dan kecemasan tanpa sebab. Karena begitu ia menginjakkan kakinya di ruangan tersebut, ia tidak akan mampu mengendalikan hatinya sendiri. Bahkan setelah berjam-jam Kyungsoo menghabiskan waktu hanya untuk berkeliling tanpa arah, dampak kejadian itu masih memberikan efek yang sama bagi hatinya.

Gusar, meletup-letup, dan tidak karuan.

"Hi there,"

Kalimat sapa itu terdengar putus, seakan pemilik suara menggantungkan kalimat yang belum usai di ujung bibir.

Menunggu Kyungsoo menyadari keberadaannya, pria tersebut meletakkan buku dari jemarinya ke atas nakas di sisi kuris.

Kemudian hening membengkak di udara. Nafas Kyungsoo menggelembung di paru-paru. Tenggorokannya tercekat dan Kyungsoo merasa dunianya berhenti untuk sesaat.

"Hi, Jongin."

"Merindukanku?"

Kyungsoo mendengus perihal pria itu masih sempat melemparkannya nada bicara seolah mereka baik-baik saja.

"Where have you been?"

Pertanyaan itu terlalu retorik, dan Kyungsoo tidak mampu memikirkan topik-topik dasar selain mendaratkan tubuhnya terduduk di atas ranjang. Menengadah, dirinya menatap Jongin yang terlebih dulu tersenyum lebar bersama garis kerut di ujung bibir.

Pria yang lebih tinggi beranjak dari kursi lalu mendekati Kyungsoo dalam tiga langkah. Jongin memposisikan dirinya tepat di samping Kyungsoo, selanjutnya menatap fitur wajah pria yang satunya lagi dari samping. Bukan hanya Kyungsoo, tapi Jongin juga merasa bahwa satu tahun adalah waktu yang cukup lama bagi mereka yang tidak mampu menyampaikan rindu satu sama lain. Tidak ada perantara, tidak ada waktu sama sekali.

Menimbang sejenak, Jongin melewati detik-detik berselimut keraguan yang sekuat tenaga berusaha dituntaskan. "I'm gonna tell you if at least I get a hug?"

Geming mengudara saat Kyungsoo tidak berencana untuk bergerak. Jongin belum mengerti bahwa airmata telah berkumpul di pelupuk mata Kyungsoo, menunggu seseorang menyentuhnya dan semua ketegaran itu akan lenyap tanpa sisa.

Bukan Jongin namanya apabila ia membiarkan pertanyaan itu hanya menggantung tanpa jawaban. Bukan Jongin namanya apabila ia membiarkan Kyungsoo menyelam sendiri ke dalam lubang di hatinya saat ia tahu bahwa dirinya adalah penyebab dari semua kekacauan ini.

Mengabaikan bisik ironi di kepala masing-masing, ia pikir ini hanya perkara siapa yang harus memulai secara dewasa. Dan hal itu tentu bukan peran Kyungsoo.

"Soo.."

Jongin memanggil bersamaan dengan telapak tangan yang meneduh diatas tangan milik Kyungsoo.

Yang dipanggil masih bergeming, Jongin memberanikan diri untuk mengedikkan dagu milik pria yang lebih kecil dengan telunjuk hingga tatapan tidak luput dari satu sama lain.

Jongin seharusnya telah berantisipasi bahwa pelupuk pria yang dikasihinya hanya akan memberikan tangis kesedihan yang kerap kali disimpan rapat-rapat. Jongin seharusnya meminta maaf ribuan kali di setiap ucap doa. Dan yang paling buruk, ia seharusnya sadar bahwa dirinya adalah subjek terutama yang memberikan Kyungsoo kemelut besar yang bertahan begitu lama.

"No, I'm fine. Don't look at me like that." Pungkas Kyungsoo begitu cepat selekas jemarinya yang menghapus sisa airmata dari ujung pelupuk.

Jongin bergegas menariknya ke dalam pelukan, menenggelamkan Kyungsoo diantara lengan yang meraup seluruh tubuh pria yang lebih mungil, dengan harapan bahwa dirinya paling tidak menjadi layak mengumpulkan kepingan hati Kyungsoo yang patah dan lapuk akibat waktu, dimensi, dan dirinya sendiri.

Ia menepuk punggung Kyungsoo dengan lambat seakan membiarkan waktu pada pria itu untuk kembali dalam kewarasan saat ini.

Kyungsoo menjadi yang pertama menarik diri setelah menenggelamkan seluruh wajahnya pada ceruk leher Jongin sebagai bentuk tindakan paling spontan atas jawaban dari keraguan imajinernya. Kini ia merasa aroma maskulin Jongin benar-benar begitu dekat dan meyakinkan, terlalu nyata untuk menjadi sekadar bekas aroma yang tertinggal di serat-serat kain.

"Aku harap ini bukan kesekian kalinya aku harus menampik penglihatanku sendiri dan menuduhnya sebagai pengecoh saat pikiranku mengatakan bahwa kau memang nyata."

Senyum Jongin hanya tipis namun terlukis ketulusan yang begitu kentara. "Nope. I'm here."

Keduanya kemudian membeku selama beberapa saat. Kyungsoo yang mencoba untuk percaya dan menghentikan sangkalan kosong akibat keraguan yang menjaganya dari patah hati, dan Jongin yang menunggu reaksi berikutnya dari Kyungsoo.

"Alright, you get to try touching me. Come on."

Jongin menarik tubuhnya ke belakang seraya memberikan mereka jarak dan udara untuk bernapas, kemudian menggenggam pergelangan tangan yang mungil dan mengarahkan satu telapak Kyungsoo untuk menyentuh pipi hingga dadanya.

"Look. I'm really here."

Tidak lama kemudian dengus halus beserta kekehan singkat mengudara. Kyungsoo membiarkan dirinya berhamburan di dalam dekapan Jongin dan terisak.

Pada pertemuan kedua mereka–yang hanya dituntun oleh intuisi Kyungsoo untuk mengunjungi Paris–Jongin panik akan tangis Kyungsoo yang pecah secara tiba-tiba. Namun sekarang, ia mengerti bahwa tangisan itu bukan lagi berlandaskan kesedihan.

Perubahan suasana nyatanya adalah suatu kebutuhan—atau mungkin itu hanya harapan Jongin semata karena ia merasa ia menangkap Kyungsoo berkali-kali memperhatikannya dengan tatapan yang berbeda. Ada afeksi, ada kehangatan, dan kesedihan yang bergumul menjadi satu dalam pandangan lelaki itu selagi Jongin berceloteh mengenai apa saja yang telah terjadi padanya–selama setahun terakhir.

"Kau mengidap Riley-Day Syndrome. Para dokter mengatakan bahwa itu adalah penyakit yang sangat berbahaya tapi menurutku itu cukup keren. Orang-orang juga berpikir bahwa itu adalah kelebihan."

"Riley-Day Syndrome? Never heard that before." Kyungsoo mengendikkan bahu namun tatapan tidak lepas dari fitur Jongin ketika dirinya menuntut penjelasan lebih jauh.

"Sejenis penyakit. Kau tidak bisa merasakan rasa nyeri atau sakit sehingga kau berasumsi bahwa kau selalu baik-baik saja. Kejadian yang fatal terkadang melibatkan perasaanmu yang tidak dapat merasakan kesedihan."

"Simply because I don't feel like I am hurt?"

"Hm. Hm."

"Well yes, that's a gift then. I don't have to be sad and sorrow waiting for you every goddamn year on a specific date." sindir pria yang lebih mungil secara halus.

Jongin memeluknya begitu erat, mengabaikan gurauan Kyungsoo dan melanjutkan, "But I was the antagonist there."

"As long as it's a happy ending."

Benar, Kyungsoo hanya ingin akhir yang bahagia bagi pria itu jikalau semesta lain mengecualikan dirinya dari dunia Jongin.

"It was. Kondisi Riley-Day Syndrom dimungkinkan dari mutasi genetik yang kelainan. Dan tebak apa yang terjadi? Aku adalah dokter dan aku mengetahui hal itu. Sayangnya, aku bukan penjahat seksual."

"What does it mean then?"

Jongin membiarkan tangannya mengusap puncak kepala Kyungsoo seraya melepas gelak tawa atas pertanyaan yang polos.

"Aku–yang adalah dokter gila di dunia lain–ingin menyuntikkan sperma ke dalam rahim orang sepertimu. Karena aku pikir gen yang ada di dalam tubuhmu akan menciptakan lebih banyak manusia yang kebal terhadap rasa sakit."

Kyungsoo telah siap dengan tinju dari telapaknya yang mengepal, seakan ingin melayangkan protes kepada Jongin seolah pria itu yang menciptakan eksistensi mereka di dunia lain. "And they were gonna work for you?"

"Yeap." Kyungsoo lagi-lagi nyaris memukul Jongin tepat di dadanya sebelum pria itu melanjutkan kalimat, "itu juga artinya akan lebih banyak bayi selucu Do Kyungsoo."

"Don't flatter with me." sergah Kyungsoo dengan cepat, sirat lensa berubah gelap dan ia menatap Jongin dengan sudut mata.

Jongin tergelak karena reaksi Kyungsoo yang terlalu dramatis. Bahkan, pria itu hampir menarik diri dari pelukan Jongin setelah beberapa jam menghabiskan waktu di posisi yang sama.

"But you changed everything, you know? Awalnya aku kira semua akan berjalan dengan baik," ia menjeda, berusaha menggali ingatan lebih dalam tentang kisah mereka di ruang dan waktu yang berbeda. "aku pikir diriku hanya menginginkan kekuasaan atas dunia. Tapi ketika melihatmu menyerahkan segalanya, dengan begitu saja, aku merasa ada yang salah dengan segala sesuatu."

Kali ini ia menghela napas panjang, "butuh waktu yang lama bagiku untuk menyadari apa yang kuinginkan. Ternyata, aku hanya ingin orang-orang merasakan kesedihan yang terjadi selama hidupku. Aku hanya ingin membuat orang-orang naif menyadari bahwa dunia tidak sehomogen yang mereka pikir dimana bahagia adalah prosedur paling sederhana untuk hidup. Dan kau memberikanku segalanya untuk mengerti."

"Another cheese, I see."

"No, it is not?!" bantah Jongin.

"It is. Lihat, kalau aku bukan seorang aktor dan kau bukan penjelajah waktu yang aneh–yang datang dari satu masa ke masa lain–untuk menyelamatkan dunia, maka kita tidak akan berada disini sekarang."

"Kau melewatkan satu hal. Kita telah menjalani ini untuk waktu yang panjang, di dunia yang berbeda, di tempat yang lain."

"Maksudmu bersama-sama?"

"Benar. Kalau kau tidak menjadi korban saat itu– atau guru taman kanak kanak yang bermimpi menjadi ilmuwan– atau putra tunggal dari dinasti Joseon–" tenggorokan Jongin seperti tercekik. Salah satu misi bahwa ia harus kembali ke masa lalu dan membiarkan Kyungsoo terbunuh menjadi pengandaian paling semu yang ingin ia hapuskan. "mungkin kita tidak akan berada disini sekarang."

Kyungsoo tersenyum, menangkup pipi Jongin untuk menatapnya setelah manik itu berkelana menghindari pandangan Kyungsoo. "That it has to be me and you?"

"That it has to be you."

Dalam satu sentakan yang mendorong seluruh mekanisme kerja tubuh, Kyungsoo menyentuh bibir Jongin dengan miliknya sendiri hingga mereka berdua saling memagut demi meluapkan rasa rindu yang kian membengkak. Secara bertahap, hatinya melunak, kepalanya melayang hingga Jongin mulai menelusupkan lidah dan mencecap kelembutan yang berada diantara geligi.

Kyungsoo menarik kepalanya ke belakang, menyadari pasokan oksigen di dalam paru-paru mulai menipis dan Jongin mampu mengartikan tindakan tersebut tanpa membutuhkan waktu lama. Pria yang lebih tinggi menyudahi ciuman mereka dan Kyungsoo menjilati bibirnya kikuk mengingat apa yang barusan terjadi.

Obsidian saling beradu seolah hari esok tidak akan pernah datang, seakan pria itu akan tinggal lebih lama jikalau Kyungsoo memohon dalam tragis.

Jongin tidak membiarkan pandangannya luput dari manik Kyungsoo. Lelaki itu menemukan sejumput harapan dari kilau manik Kyungsoo yang seterang lentera. Dengan demikian, ia ingin meningkatkan persistensi untuk mengejar tujuannya. Dan apabila cinta bukan salah satu variabel yang menghubungkan dunia mereka, Jongin telah siap untuk menghadapi dampak serta kemungkinan terburuk yang disebabkan olehnya walau itu semua tidak akan sepadan.

Hari itu tertanggal tiga belas Januari paska pertemuannya dengan Kyungsoo di tempat yang sama setiap tahun, Hotel Castille di Paris.

Aneh rasanya apabila ketidaksengajaan ini tidak memiliki keterkaitan dengan garis masa kehidupan yang saling bertubrukan antara satu sama lain. Jongin dan Kyungsoo, menjalani kehidupan selama yang mereka tidak pernah sadari namun bertemu dan hidup seolah mereka adalah kesengajaan yang direncanakan bagi semesta untuk mengindikasikan definisi cinta tanpa pelabuhan karena mereka tidak mengenal yang namanya pemilik. Bagi mereka, kepemilikan hanya imbuhan. Kepemilikan hanyalah kata sambung antara aku mencintaimu dan kita tidak dapat bersama. Kepemilikan hanyalah kata bantu diantara lara dan penyesalan.

Sesekali penyesalan itu datang merampas tenang yang susah payah Jongin bangun untuk menyembuhkan hatinya sendiri saat Kyungsoo tidak bersarang diantara lengannya yang dingin dan kurus.

-0-0-0-

Deru amunisi saling bersahutan dengan gemuruh pesawat tempur dan tank-tank penggilas tanah saat silinder penembakkan dari kapal perang meledakkan beberapa kubikel bom ke langit hanya untuk membumihanguskan permukaan. Ledakan demi ledakan diluncurkan seolah dunia adalah panggung pementasan dan fenomena ini hanyalah bagian dari skenario para elite yang berusaha menguasai dunia. Berlandaskan paradigma sesat yang mengumandangkan satu tatanan dunia baru, mereka yang duduk di atas tumpukan mayat dan darah bercampur tanah seolah telah berhasil menjalankan misi keliru yang menumbalkan para jiwa tidak bersalah.

Manusia-manusia kerdil berlarian, layaknya serangga perusak hama yang harus dibasmi. Dan bumi adalah seonggok ladang yang dikuasai mereka yang memiliki harta dan kekuasaan. Sisanya tidak berarti. Tidak terkecuali nyawa-nyawa yang berserakan bercampur bau anyir dan bau hangus dari letupan mesiu milik seseorang yang dirampas paksa dan dibunuh secara bengis.

Tuan Kim berlarian keluar dari pagar utama ketika provokasi membakar amarah dan kericuhan tidak dapat terhindar. Para buruh saling membunuh menargetkan pasukan penjaga sebagai sasaran empuk untuk balas dendam.

Mengoyak pergelangan tangan dan membiarkan darah segar mengucur dari nadi, pria itu mengeluarkan sebuah chip pendeteksi keberadaan yang dipasang pada tubuh para ilmuwan yang menciptakan obat penawar kehidupan abadi. Hal itu dilakukan semata-mata untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak dulu. Hidup memang tidak pernah memberikannya pilihan, namun di detik terakhir, ia memiliki harapan untuk setidaknya menyelamatkan orang yang ia cintai dan menebus kesalahannya.

Setidaknya, ia akan merelakan seluruh kehidupan ini setelah ia tahu bahwa seseorang akan selamat dari bencana yang tidak akan berujung dalam waktu yang singkat.

"Cepat! Kau harus menelannya!" suaranya serak dan parau, namun tidak menghentikan geram ketakutan yang menjalar di sekujur tubuh.

Jongin hanya anak laki-laki berusia enam belas tahun kala itu. Melakukan seperti apa yang diperintahkan, lelaki itu berhenti sejenak dan menorehkan pandangan ke belakang. Ada rekognisi kalut di balik kornea, kemudian putus asa dan getir saling merasuki setiap bagian dirinya.

Langkahnya berbalik. Suara lain bersahutan untuk mengusir, "Pergi! Jangan kembali! Pergi sejauh mungkin!"

Pada seruan terakhir, Tuan Kim terjatuh di atas tanah, menyempatkan manik memastikan bahwa harapannya telah pergi dengan aman.

Ada keraguan atas Jongin yang tidak akan selamat akibat peperangan atau reaksi kimia dalam tubuh yang mematikan. Pasalnya, prototipe yang diformulasikan oleh substansi yang baru belum pernah dicoba oleh protokol manapun tidak terkecuali mamalia percobaan dalam laboratorium. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pil yang ditelan oleh Jongin dapat mengakibatkan kerusakaan sistemik pada sel dan jaringan saraf secara berangsur.

Tubuh Jongin harus bereaksi linear agar pil tersebut mampu membentuk sel dan melindunginya dengan zat kimiawi agar dapat mempertahankan fungsi fisiologi setiap organ. Dengan begitu, Jongin memiliki kemungkinan untuk hidup lebih lama akibat regenerasi sel yang sepuluh kali lebih cepat.

Dinding perbatasan telah hancur akibat porak poranda yang dilakukan secara membabi-buta memberikan Jongin jalan untuk keluar.

Menyelinap di antara pasukan beruntun yang menjaga garis pemisah, Jongin harus berlari lebih kencang hingga ia tidak mampu merasakan kakinya sendiri. Lelaki itu terkulai di balik tempat berteduh yang terbuat dari kayu dan jerami di tepi perbatasan.

Perlahan, Jongin menelik untuk terakhir kalinya, nafasnya tersengal, kepalanya memberat sebelum pandangan menjadi gelap gulita dan semua terjadi secara beruntun saat pelipis membentur permukaan tanah.

Ia belum sepenuhnya sadar dan mengingat apa yang telah terjadi. Kepalanya masih terasa berat, tubuhnya bergetar dan Jongin merasa dunia berpusar hebat akibat guncangan dan benturan yang ia alami dua hari yang lalu. Jongin berusaha bangkit dan keluar lantaran sekelilingnya tampak redup.

Derap kaki mendadak terhenti ketika lentingan suara besi yang beradu dari sebuah sudut mengudara. Tubuhnya mendadak kaku, sebelum suara lain mengejutkan dan menyambar kepanikan berikutnya.

"Jangan bergerak. Kau terluka."

Jongin membeku. Benaknya masih memproses asal suara yang terdengar bukan sebuah ancaman.

"Siapa kau?"

Cahaya matahari terhalau atap kayu yang ditumpuk seperti puing. Tujuannya hanya satu, lebih buruk, maka akan lebih baik. Junmyeon membangun tempat berteduh di wilayah yang tidak rentan terhadap penyerangan mirip dengan tumpukan sampah agar tidak akan satu pun orang yang mencurigai keberadaannya.

"Dirimu sangat bernilai dan mereka yang berada diluar sana akan sangat tertarik untuk mengeluarkan isi perutmu hanya untuk mengembalikan prototipe terakhir yang dikembangkan oleh ilmuwan yang telah dibunuh."

Kalimat itu menginvasi paru-paru Jongin hingga nafasnya terhenti. Tubuhnya bergetar seraya mulutnya terkatup rapat-rapat. Tentu ia tahu siapa yang menjadi objek bicara pria tersebut.

Dibalik gundukan timbun yang menyisakan sedikit cahaya matahari yang menelusup ke dalam, seorang pria berperawakan ringkih menghampiri Jongin ketika dirinya terduduk di tempat dimana ia berbaring. Wajahnya lusuh, pakaian putih yang mirip seperti mantel didominasi dengan sobekkan.

Jongin memperhatikannya lekat-lekat sebelum salah satu diantara mereka angkat bicara.

"Apakah kau menyelamatkanku untuk melakukan hal yang sama? Mengambil prototipe itu?"

Pria yang lain hanya tergelak untuk sejenak. "Tidak. Sudah terlambat bagiku untuk memiliki prototipe tersebut."

Sebelum Jongin mampu membalas, pantulan cahaya pada dinding menyadarinya bahwa seorang pria telah kehilangan kaki dan digantikan oleh batang titanium yang menancap pada sisa daging.

Seolah menjawab pertanyaan yang bergumul di kepala Jongin, ia membuka suara terlebih dulu, "Aku tidak akan berhasil menyempurnakan prototipe itu dengan kaki ini." seraya mengalihkan tatapan pada kakinya untuk beberapa saat, sebelum mencecap tawa hambar yang menyedihkan di ujung lidah, "mereka mengambil yang asli, sudah lebih baik daripada mereka menginginkan organ lain."

-0-0-0-

"Junmyeon dan senior ilmuwan yang lain dianggap tidak membutuhkan kedua kaki mereka." Jongin menjelaskan. Kyungsoo yang masih bersarang diantara lengan Jongin mencermati dengan seksama seolah tidak ingin menginterupsi hingga pria itu menyelesaikan penyebab kisah tragis yang lebih mirip dongeng pengantar tidur. "dan semakin besar ketergantungan mereka terhadap teknologi yang ditawarkan oleh pemerintah, semakin baik mereka akan bekerja, kan?"

Kyungsoo mengangguk karena penjelasan itu cukup masuk akal. "Lalu?"

Jongin menunduk untuk menemui manik Kyungsoo yang membulat. Merasa gemas, ia meninggalkan sebuah kecupan di puncak kepala pria yang satunya lagi, "Junmyeon telah mengembangkan alat yang memungkinkan seseorang melakukan perjalanan waktu. Alat itu sudah pernah digunakan sehingga tingkat kegagalan yang mengakibatkan aku berada disini menjadi sedikit lebih kecil."

Jongin juga menjelaskan bahwa peristiwa tersebut adalah penyebab dari semua kekacauan lini masa yang mengatur siklus kejadian di kehidupannya. Karena terlahir pada dunia yang kurang beruntung, Jongin akhirnya harus melakukan perpindahan melalui entitas ruang dan waktu.

Sebenarnya, 'kurang beruntung' merujuk pada orang-orang yang tidak memiliki harta dan kekuasaan untuk bertahan hidup. Dan Jongin adalah salah-satunya. Faktanya, mereka yang terlahir di keluarga dengan garis keturunan bangsawan maupun elite memiliki akses bebas terhadap seluruh sistem pemerintahan, teknologi, hingga obat penawar kehidupan abadi.

Sedangkan Jongin dan ayahnya tinggal di pemukiman kumuh, dengan kebutuhan seadanya dimana jiwa dan raga mereka diperas habis-habisan seperti budak. Hingga salah satu dari kelompok elite menginginkan kekuasaan tunggal dan berencana untuk menghancurkan seluruh sistem agar dapat dibangun kembali.

"Lalu apa dampak dari perjalanan waktu? Apakah semuanya akan berubah dari yang seharusnya?"

"Tentu." Jongin mengusap punggung tangan Kyungsoo dengan ibu jari, "kehidupan tidak lagi linear. Ada kepingan yang terpisah dan hilang begitu saja karena periode-periode tidak lagi relevan satu sama lain. Disisi lain, cabang masa dan semesta baru dapat bermunculan sebagai penggantinya."

"Dan seluruh aspek yang bersinggungan denganmu juga akan berubah?"

"Benar."

Kyungsoo tertegun. Sangat jelas bahwa rentetan keterangan yang dibeberkan oleh Jongin mengungkapkan bahwa pertemuan dengan Kyungsoo adalah sebuah penyimpangan di garis masa miliknya. Dengan kata lain, semua momentum yang melibatkan Kyungsoo adalah cabang semesta baru yang muncul karena ada kepingan kehidupan Jongin yang hilang. Tidak hanya satu kehidupan, namun ratusan. Itulah sebabnya Jongin dapat menceritakan Kyungsoo dengan berbagai versi dan kisah.

"Bagaimana rasanya melakukan perjalanan dari satu masa ke masa yang lainnya? Maksudku, kau dibentuk oleh materi dan tidak lebih dari itu. Kau terbuat dari tulang, daging, darah– just, how?"

"First, I am immortal."

"No? You technically only live longer than the general human actually do."

"Who told you?"

"You."

"When?"

"Kau pelupa. Ingat?"

Jongin mendengus kalah. "Fine."

Kyungsoo tersenyum penuh kemenangan sebelum kembali ke dalam dekapan Jongin, membiarkan pria itu melanjutkan karena Kyungsoo selalu menyukai sesuatu berbau multi-dimensi, parallel universe, atau aspek apapun yang belum terjamah oleh sains.

"Tapi sungguh, kalau aku bukan seorang aktor sekarang mungkin aku akan menjadi ilmuwan. Dan jika itu tidak membuatku tetap bersamamu, aku akan meninggalkan kesempatan itu."

"Lihat, siapa yang sudah belajar menjadi cheesy."

Kyungsoo menggigit bibir menahan tawa, "No?! You see, I'd be anything else to be with you."

Mereka terbahak setelah Jongin mengafirmasi kemajuan Kyungsoo dalam mengucapkan kalimat manis yang membuat jantungnya berdentum lebih kuat. Layaknya dua orang yang dilanda asmara, Kyungsoo seakan terlena bahwa Jongin tidak menjelaskan mengapa dirinya menjadi orang yang terpilih untuk melalui ini semua, dari ribuan manusia semasa itu.

Malam sudah larut namun keduanya enggan terlelap. Kyungsoo rela terjaga untuk melihat bagaimana senyuman Jongin menekuk dan hal sekecil itu mampu mengirim sengatan listrik di ujung jemarinya hingga gelenyar kupu-kupu dalam perut.

"Kau ingin makan?"

Kyungsoo mengangguk penuh antusias. Menjadi yang pertama beranjak dari pelukan Jongin, kini mereka berada di tengah kota Paris dengan kedua tangan saling bertautan. Jongin menikmati pemandangan yang jauh lebih indah, bahkan melebihi arsitektur neoklasikal Panthéon.

Sedikit banyak, pria dengan surai coklat gelap itu menyadari fokus Jongin–yang ratusan kali lebih baik dari lensa kamera–tertuju pada dirinya. Kyungsoo tidak pernah merasa lebih gugup dari malam ini. Terutama ketika kornea Jongin tidak berpindah, berubah hangat, ataupun pendengarannya menajam menikmati gerai tawa Kyungsoo yang membuat hatinya kembali jatuh—tenggelam, menyelam hingga dasar.

"It was beautiful, wasn't it."

Jongin mengerutkan kening, menatap Kyungsoo dengan ekspresi bingung yang sama ketika Kyungsoo jelas tengah melontarkan pertanyaan.

"Which one?"

"Seriously, Jongin. The street performance!"

"Oh– well. My question was referring to you or the performance."

Sang aktor mendengus pasrah walaupun sebetulnya tersipu. Kyungsoo kembali memasukkan lobster roll ke dalam mulutnya dalam satu kali gigitan, menghiraukan Jongin yang juga tergelak karena ucapannya sendiri.

"Hold this for me?" Jongin menyerahkan makanannya pada Kyungsoo dan berlari ke arah utara. Kyungsoo tidak memakai kacamata saat itu dan ia telah melepas kontak lensa walaupun belum sepenuhnya membersihkan wajah dari sisa riasan tadi pagi. Maka mau tidak mau, ia harus melangkah maju demi memenuhi rasa ingin tahu yang menyebabkan Jongin meninggalkannya sendiri di tengah jembatan Pont Alexandre dengan kedua lobster roll di tangannya.

"This makes me look stupid. Stupid Jongin."

Usai mengumpat, Kyungsoo berhasil menerobos kerumunan yang mendadak ramai sebelum seluruh pasang mata tertuju padanya.

Senyuman merekah dan itu bukan milik Kyungsoo. Tapi Jongin. Detik berikutnya yang datang berhembus melewati daun telinga adalah desibel rendah milik pria dihadapannya dengan petikan gitar yang mendengungkan lagu All I Want For Christmas Is You.

Kyungsoo nyaris dapat merasakan kedua rahangnya terjatuh ketika Jongin bahkan tidak mengalihkan pandangan dari figur kecil yang dibalut syal dan pakaian tebal berwarna abu-abu.

Berdiri disana dan mematung, Kyungsoo mampu menerjemahkan hangat dan bayang merah muda di kedua pipinya. Fase itu bertahan cukup lama, hingga Jongin sempat mengembalikan gitar klasik bersenar nilon kepada sang pemilik, kemudian menarik lelaki yang lain keluar dari kerumunan seraya senyuman tersungging lebar.

Mereka berjalan cukup jauh sampai Jongin selesai menghabiskan makanannya dalam satu gigitan terakhir.

"I think I could earn some bucks from street performance to fix myself."

Kyungsoo menyusul Jongin menghabiskan miliknya sendiri, kemudian membuang sisa kotak dan kertas pembungkus pada tempat sampah yang disediakan di sisi jalanan, masih dengan sikap acuh lantaran lelaki yang lebih mungil tengah menyembunyikan sipu malu yang tidak kunjung mereda.

"Fix yourself? What to fix? It's silly." celetuk Kyungsoo–tanpa pengertian dan pertanyaan lebih dalam.

Bahak berganti dengan senyuman, Jongin menggamit telapak Kyungsoo secara tiba-tiba sebelum meninggalkan sebuah kecupan pada pipinya yang mengundang tawa pekik saat Kyungsoo memukul lengan lelaki yang lebih tinggi dalam konteks bercanda.

Di jalan pulang yang menyusuri malam, Jongin merapatkan Kyungsoo dekat dalam dekap, kemudian membayangkan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Barangkali Kyungsooo takut kehilangan atau ia masih mencari sesuatu. Dan jika itu benar, ia akan datang pada suatu pagi yang membawa jawaban untuk menyadari lelaki yang dicintainya bahwa perasaannya tidak berkabut, cukup kentara, dan ia tidak siap untuk melupakan segalanya.

-0-0-0-

"Darimana saja?"

Pria berperawakan ringkih berjalan tertatih melewati pintu depan dengan segelas kopi yang aromanya lebih kuat dari biasanya.

Penampilannya buruk. Wajahnya lusuh, pakaiannya tua dan kusam, serta rambut acak-acak pertanda bahwa ia telah lupa bahwa manusia memiliki aspek visual untuk mengundang atraksi.

Barangkali pria itu ingat bagian-bagian yang tidak terlepas pada hakikat manusia walaupun memilih mengabaikan. Tidak ada salahnya, memang. Setiap manusia memiliki pilihan walaupun ada satu hal yang tidak pernah tercantum di dalam prinsipnya.

"Aku ingin menyerah."

Suara lirih bernada getir mengiris sunyi. Jongin masuk dengan menyeret kakinya lantaran langkah kian memberat.

"Kau punya pilihan tapi menyerah bukan salah satunya."

Junmyeon memperbaiki posisi kacamata. Nada bicaranya terdengar acuh, membuat Jongin sedikit geram. Bahkan ketika lelaki yang lebih muda melemparkan argumen yang melibatkan gusar dan amarah, Junmyeon tidak merasa terintimidasi. Ia menganggap bahwa respon tersebut hanya pelampiasan emosi yang tidak terkendali dan impulsif, sebuah bentuk mekanisme pertahanan yang dimiliki manusia.

"I'm fucking tired."

Mendengar hal itu, Junmyeon berhenti. Ia meletakkan beberapa perkakas dalam genggamannya dan mengabaikan transistor katoda yang sedari tadi menjadi objek perhatian hanya demi Jongin dapat kembali dan menyelesaikan misi yang ditakdirkan untuk diselesaikan oleh mereka.

"Kita tidak memiliki banyak waktu untuk menyalahkan apapun. Kita kehilangan banyak hal, aku dan kau. Dan kau memiliki harapan untuk memperbaiki. Kau benar-benar akan melewatkan kesempatan itu?"

Junmyeon tidak berniat untuk menjelaskan hal yang sama hingga ratusan kali ketika sirat lensa Jongin berubah gelap dan ia meninggikan nada bicara seakan salah satu dari mereka adalah penyebab atas kekacauan yang tidak akan pernah berujung.

"Then why don't you fucking do it yourself!"

"This is not my fate. It's yours." sergah Junmyeon diliputi kepasrahan.

Deru napas Jongin terdengar patah, tidak beraturan, bersamaan dengan airmata yang mengalir bebas tanpa dinding pembatas. Kini ia mengaku kalah terhadap ketidakterbatasan dibalik waktu karena ia hanyalah kumpulan materi yang tersusun. Dirinya tidak luput dari pemisah antara mimpi dan kenyataan. Jongin tidak lain adalah titik terkecil semesta yang tidak pernah peduli.

Kepedihan merebak lebih dalam, kemudian Jongin merasakan sengat dimana-mana dalam satu waktu. Matanya yang basah tanpa perintah dan telinganya yang berdengung merupakan gejala paling awal yang menuntun tangis Jongin pecah lebih keras seolah jantungnya dihujam ribuan kali sebab perih yang selalu menggelayut sanubari tidak pernah sudi meninggalkannya sendiri.

Ketika hal itu terjadi tanpa aba-aba, kilat mata Junmyeon berubah sayu, sesuatu yang menggambarkan iba dan empati memenuhi seluruh ruangan melihat Jongin mengasihani dirinya sendiri. Junmyeon dapat merasakan hatinya terenyuh ketika senggukan putus milik Jongin tidak berhenti.

Junmyeon meneguhkan hatinya sendiri sebelum mencengkram bahu Jongin dalam satu dorongan tekad.

"Dengar, Jongin. Kau mampu mengembalikan segalanya dan seluruh perihal kegilaan dunia yang harus kau selesaikan sendiri. Kita melakukan ini bersama. Hanya kita yang tersisa."

Jongin menengadah, berusaha menemukan kembali harapan dalam sirat Junmyeon yang kelam. "Kita akan selamatkan ayahmu dan seluruh dunia."

Dampak perang Rothschild memang tidak serta-merta merusak generasi dimana Kyungsoo–yang Jongin kenal–berada sekarang, atau Kyungsoo di dimensi lain pada waktu yang sama. Namun ia pernah mengunjungi masa depan dan terlempar ke masa lalu untuk memeriksa relevansi hubungan kedua momentum. Dan hasil empiris menunjukkan bahwa Kyungsoo adalah titik yang bersinggungan dengan garis kekacauan ini.

Mereka seharusnya tidak bertemu. Jika Jongin tidak melakukan perjalanan waktu, ia tidak akan mengubah apapun pada masa yang telah berlalu, maka tidak akan ada cabang semesta baru yang muncul dimana ia harus mengenal Kyungsoo dan mengasihi pria itu karena mengalami kekacauan dunia yang sama di masa yang akan datang.

Namun karena Jongin berpindah dari satu semesta ke semesta yang lain dan mengubah peristiwa pada masa yang telah berlalu, kelainan masa tidak dapat dihindari, ia bertemu Kyungsoo dan gelenyar itu datang tanpa aba-aba.

Jelas, Jongin tidak mampu kehilangan Kyungsoo walau pada akhirnya mereka berdua tidak akan pernah sekalipun menjadi satu. Tapi setidaknya, dari sekian banyak semesta, Jongin berharap ada dimensi tunggal yang memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. Lagipula, Jongin telah berlari sejauh ini tanpa rumah untuk tinggal. Bagian organ yang tergantikan oleh titanium juga sudah mulai rapuh karena fragmen cahaya radiasi dan tekanan kosmik menyebabkan kerusakan parsial maupun total. Setidaknya, Kyungsoo memberikan alasan bagi Jongin untuk tidak menyerah karena pria itu telah berada diambang asa.

-0-0-0-

Kesalahan sistem daripada tunel kuantum adalah langka. Setelah sekian tahun perangkat tersebut bekerja, kasus seperti ini hanya ditemukan segelintir. Tidak hanya itu, perangkat yang mengadopsi teknologi pym dan mobius strip memungkinkan seseorang melakukan perjalanan menuju waktu dan dimensi tujuan yang lebih spesifik. Singkatnya, peta ruang-waktu yang berbentuk mirip dengan gelombang DNA manusia tersebut memiliki fungsi seperti GPS yang memberikan penggunanya kemampuan untuk melampaui tujuan antar masa.

Kendati demikian, Jongin kini mulai berpikir bahwa keberadaannya di sebuah katedral adalah sebuah kesalahan. Itu merupakan salah satu penjelasan mengapa ia menggenggam sebuah arloji kuno berlapis emas dengan foto figur seorang anak kecil di dalamnya. Jongin juga tidak dapat menemukan apapun untuk membuktikan bahwa ia sedang berada di tengah masyarakat Korea Selatan dengan penanggalan kuno, satu-satunya tujuan terakhir untuk mengembalikan ayahnya dan mencegah peperangan terjadi di masa depan.

"No, no. This can't happen."

Jongin menyeret langkahnya mundur secara perlahan. Kepala menunduk berusaha memproses apa yang sedang terjadi ditengah-tengah hening yang menggantungkan resah kala ia menyadari bahwa tangannya menggenggam sebuah arloji bulat berlapis emas. Membukanya secara perlahan, suara yang Jongin yakin telah ia redam dalam benaknya terdengar lebih jelas sekarang.

Isakkan gema yang menggaung di tengah-tengah mereka lantas meleburkan sunyi yang sekali lagi memayungi beberapa orang disana.

Jongin mengambil dua langkah berani untuk memandang lebih jelas. Kemudian biasnya menangkap dua orang yang begitu familiar. Seseorang yang terlihat seperti Kyungsoo dalam versi lain, rambutnya yang lebih pendek dan pakaian yang lebih sederhana. Sementara yang lainnya, Jongin tahu ia mengenal sosok itu. Jongin tidak akan menepis bahwa pria itu adalah dirinya namun dengan versi lebih muda, dengan tatanan rambut yang lebih baik, dan yang terpenting bahwa ia tidak sendirian, walaupun Kyungsoo tidak–atau belum–menjadi bagian dari hidupnya saat itu.

Seorang gadis kecil berlari memeluk kaki sang ayah ketika pria lain berusaha mendekati dirinya hanya untuk sekedar menggenggam tangan gadis itu.

Mengusap airmata yang mengalir di pipinya, Kyungsoo merunduk dihadapan gadis tersebut, "How old are you, princess?"

"Twhee."

Tiga tahun, memori itu masih membekas dengan jelas bahwa tiga tahun telah berlalu sejak kepergian putrinya sendiri.

"Okay, we'd better go. We're going to be late for the appointment." Pria yang lebih tinggi diantara mereka berputar arah untuk memeluk gadis kecilnya dan beranjak pergi seraya menghiraukan Kyungsoo yang masih terisak.

"No, wait–please." Kyungsoo memanggil dengan suara patah. Kyungin, gadis kecil tersebut, berceletuk di samping telinga ayahnya yang menghentikan langkah, "Papa, he's crying."

Sang ayah berbalik atas keinginan putrinya sendiri untuk membiarkan Kyungsoo bersama mereka sejenak. Menurut Kyungin, ia yakin dirinya pernah melihat pria itu di siaran televisi walaupun Kai membantah ingatan putri kecilnya sendiri.

Jongin berdiri mematung tidak jauh dari mereka, namun cukup jelas baginya untuk mendengarkan seluruh penjelasan dari versi lain dirinya sendiri di semesta yang berbeda dengan miliknya sekarang.

"Jadi, jika kau tidak keberatan, mengapa kau memanggil Kyungin putrimu?" Kai bertanya, sementara Kyungin berada tidak jauh dari sana membantu beberapa relawan gereja merangkai bunga membentuk lingkaran untuk hari natal.

"Kyungin sangat mirip dengannya."

"Putrimu?"

Kyungsoo mengangguk.

Jongin menyaksikan Kyungsoo menangis seolah rekam memori itu membuatnya merasa kosong untuk sesaat. Belenggu yang hadir untuk menyeka bulir airmata Kyungsoo kini runcing menusuk batinnya. Tanpa sugesti yang terus memberikan antipati bahwa ia tidak diizinkan untuk berkomunikasi dengan siapapun di luar jangkauan masa, mungkin Jongin telah berlari kesana dan memeluk pria itu dengan erat.

Selanjutnya hening. Isakkan Kyungsoo mengisi diantara jeda denting jam raksasa katedral, menutup kecanggungan yang kian asing di telinga karena Kai tidak tahu menahu soal apapun yang dialami oleh pria yang berperawakan lebih kecil. Ia masih berkontemplasi mengenai bijak atau tidaknya pertanyaan yang akan ia lontarkan selanjutnya.

Ternyata, beberapa hal memang tidak berubah, salah satunya adalah Jongin tetaplah menjadi Jongin yang selalu mengambil resiko terlepas seberapa banyak nama-nama lain yang ia sandang di kehidupan yang berbeda.

Maka dengan separuh keraguan yang masih memayungi dirinya, Kai menanyakan jawaban yang pernah selalu Kyungsoo hindari akibat penyesalan yang selalu menikam hatinya sendiri. "Bagaimana kau bisa kehilangannya?"

Jongin menyaksikan dengan jelas. Kyungsoo yang lain menghabiskan sisa waktu hidupnya untuk menyesali kematian putrinya selepas penjelasan yang ia berikan untuk Kai. Kyungsoo yang lain juga memiliki kemampuan yang sangat buruk untuk move on. Hal ini lantas menimbulkan keyakinan bagi Jongin bahwa ia akan selalu mengenali Kyungsoo pada dimensi manapun yang ia kunjungi. Pria itu akan selalu menjadi yang pertama tenggelam dan larut dalam penyesalan dan rasa bersalah walau kecelakaan bukan sepenuhnya adalah kesalahannya.

Geming yang meluap diantara atmosfir katedral terus merangkak naik hingga Jongin tersadar bahwa ia kehabisan waktu. Terlonjak, Jongin berderap mundur dengan gontai tanpa apapun yang menopang figurnya lantaran ingatan masih jelas bahwa kursi-kursi mahogani berada di belakangnya. Dan Kyungsoo tidak beranjak, ia juga berada disana–tadinya.

Kemudian hembus napas mulai serampangan. Selanjutnya adalah deru halus dentingan detik serta percakapan orang-orang dalam volume minim yang mengisi gema diantara jeda. Debum pintu samar-samar, Jongin terkesiap sebelum membiarkan seluruh indra jatuh dalam pusaran yang menjelajah masa.

Beberapa hal mengalami perubahan bentuk dan dominasi spektrum cahaya yang dilalui materi bumi melampaui keterbatasan optik yang sanggup diterima oleh manusia. Visualisasi itu terasa nyata, memetakan masa lampau dengan fragmen acak acak. Kendati demikian pikiran Jongin masih berserakan.

Dengan rentang kala yang singkat, pelupuk mata Jongin tertutup beriringan dengan detak jantung yang berangsur melambat tanda bahwa percepatan turun sebesar gravitasi bumi yang seakan lenyap untuk sesaat.

-0-0-0-

1847. Dinasti Joseon, Korea Selatan.

"Pangeran Do, sebaiknya kau melihat ini."

Terkesiap, pria mungil dengan atribut bangsawan lengkap segera berlari menuju sumber instruksi yang memanggil dirinya.

Ia terhenyak kala itu maniknya melihat seseorang dengan penampilan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

"Ini apa?"

Jenderal Byun tampak menimbang, mencermati bijak atau tidaknya jawabannya yang akan ia berikan, "Mungkin penjelajah masa. Kau lihat," telunjuknya memperlihatkan goresan di pelipis yang meneteskan darah. "itu bukan bagaimana kepala manusia seharusnya terbentuk. Itu logam."

Meneliti lebih jauh, Jenderal Byun menunjukkan luka serius di lutut yang juga tampak mencurigakan. "Bagian tempurung lutut seharusnya robek atau patah. Tapi itu hampir mirip dengan pipihan besi akibat benturan."

Jenderal Byun membenarkan hipotesisnya dalam benak. Ia memang tidak pernah melihat penjelajah masa selama hidupnya, tapi hal itu tidak menepis keyakinannya terhadap kemungkinan atas eksistensial di luar bumi dan masa sekarang. Kecerdasannya memahami bahwa ada fenomena yang tidak dapat dijelaskan bukan berarti tidak terjadi, termasuk bagian kulit yang koyak dan bukan tulang ataupun jaringan otot penghubung yang berada di dalamnya.

"Bawa ia ke istana, aku ingin tahu lebih jauh."

Hanya dalam satu perintah, Jenderal Byun melakukan apa yang diamanatkan kala Pangeran Do berjalan menelusuri hamparan rumput yang dipenuhi oleh hibiscus jingga di tengah musim semi yang baru saja tiba.

Sudah menjadi hal yang lazim bagi putra mahkota kembali ke istana setelah melihat kehidupan rakyat di bawah kepemimpinan ayahnya–yang berikutnya diserahkan kepada Pangeran Do untuk mengambil alih. Tapi tidak dengan menelusupkan orang asing ke dalam ruangannya dan membiarkan Jenderal Byun melakukan tugas diluar mandat formal yang disandang oleh pria tersebut.

"Mengapa kita harus membantunya?"

Jenderal Byun sesungguhnya setuju dengan ide Pangeran Do yang berniat untuk menyelamatkan pria itu agar mereka dapat mengetahui lebih jauh. Hanya saja, sang jenderal mengetahui adanya konsekuensi bagi siapapun yang membawa orang asing masuk ke dalam istana tanpa sepengetahuan raja.

"Kau sungguh-sungguh bertanya atau hanya mengingatkanku bahwa aku akan dihukum?"

Keduanya terpekik, memecah suasana formal yang sedari tadi harus dilakukan karena di luar ruangan Pangeran Do, Jenderal Byun hanyalah prajurit terbaik yang dipilih untuk menjaga putra mahkota, terlepas seberapa dekat hubungan mereka sejak kecil sebab Jenderal Byun adalah putra terakhir dari selir ketiga yang tidak akan pernah menjadi kandidat yang menduduki tahta kerajaan.

Lagipula, pria itu akan menolak apabila ia harus bersaing dengan Do Kyungsoo. Bukan karena Pangeran Do akan terpilih secara mutlak, melainkan alasan lain.

"Tidak. Sungguh hanya bertanya." Jenderal Byun berkacak pinggang ketika postur tegapnya berdiri selepas membalut luka. "Lalu, kita apakan dia sekarang?"

Pangeran Do mengendikkan bahu, "Tunggu hingga ia tersadar?"

Jenderal Byun tampak setuju dengan ide yang diberikan. Lantas, ia beranjak keluar dari ruangan untuk menghadap raja sebagai tindakan formal yang menyatakan bahwa mereka telah kembali.

Menelusuri halaman depan, Jenderal Byun tidak menampik dugaan yang terus mengusik pikirannya. Mengenai hal-hal terkait pengetahuan modern yang belum pernah terjamah oleh guru terbaik kerjaan semasa itu. Kendati demikian, setelah mengabari raja bahwa kepulangan Pangeran Do tidak mengundang masalah apapun, diam-diam Jenderal Byun mengunjungi perpustakaan kerajaan.

Jejeran buku kuno tersusun secara rapi. Aroma lembab dari setiap helai buku tua yang menginfiltrasi indra penciuman adalah salah satu faktor yang menarik bagi mereka yang mencintai ilmu pengetahuan. Maka tidak heran, Jenderal Byun menjadi prajurit paling cerdas di kerajaan sebab ia mengetahui banyak hal, sejarah kuno, pengetahuan sains, hingga perkiraan rancangan teknologi paling modern di masa depan. Keingintahuannya tidak terbatas pada itu, ufo, kehidupan di mars, hingga penjelajah waktu.

Disisi lain, Pangeran Do duduk bersimpuh di samping alas tidur yang rendah. Maniknya tidak lepas dari fitur wajah pria yang belum sadarkan diri sejak tadi siang. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi pria itu untuk terbangun dari mimpi buruk yang membawanya ke tempat ia berada sekarang. Jenderal Byun mengunjunginya secara berkala walaupun Pangeran Do menjadi satu-satunya orang yang bersikeras untuk mengganti perban itu sendiri.

Hari itu saat matahari terbenam, putra mahkota yang dituntut untuk ahli dalam banyak hal, baru saja kembali dari pelatihan memanah yang harus dikuasai olehnya sebelum festival musim panas tiba. Tidak hanya itu, ia juga diwajibkan mahir dalam berkuda sebagai keahlian peperangan tingkat lanjut. Suasana kerajaan terlihat lebih sibuk, aksesoris merah dan emas menjadi paduan senada yang menghiasi gardu paling depan, merayakan bahwa musim panen dan kemakmuran juga akan segera tiba.

Setelah melepaskan alas kepala yang menjadi atribut kerajaan, Pangeran Do mendesahkan hela napas panjang yang melelahkan sebelum menanggalkan pakaian yang seharusnya diganti sebelum waktu tidur tiba. Tidak lama setelah itu, erangan halus mengejutkan dirinya dari balik bilik yang tertutup, tempat ia menyembunyikan orang asing yang ia temukan beberapa waktu lalu.

Buru-buru mengenakan kembali pakaiannya, sang pangeran melangkah cepat menuju sumber suara, memastikan pria yang lain tidak menimbulkan suara apapun karena penjaga disekitar sana dapat menjadi orang pertama yang melaporkan mereka pada raja.

"Ssh. Jangan bersuara."

Pangeran Do menggumam sangat pelan. Pria dihadapannya tengah mengumpulkan kesadaran secara terburu-buru ketika ia menyadari bahwa separuh bagian dirinya terluka.

Perubahan suasana yang drastis memberikan dampak buruk bagi fisik Jongin. Bukan hanya itu, kenyataannya, cuaca, lingkungan, hingga orang-orang asing yang sekali lagi mendesak masuk ke dalam rekognisi yang belum sepenuhnya pulih, membuat dirinya harus memaksakan diri untuk terduduk demi mengais sedikit memori yang tertinggal di balik ingatan sebelum iris berubah gelap. Pada lantai bambu berlapis vinil yang beralaskan matras tipis berwarna putih, dua lelaki saling melempar pandangan kala Jongin sibuk menata kembali pikiran yang sempat menginvasi kewarasan dan akal sehat. Seluruh interior tampak ganjil begitu familiar, Jongin mendapatkan sebuah validasi atas dugaannya lewat satu ketukan singkat yang diberikan Pangeran Do saat pertanyaan itu mengudara.

"Hei, kau baik-baik saja?"

"S-sudah berapa lama.."

"Tiga hari."

Jawaban tegas sang pangeran melesatkan tatapan penasaran Jongin. Sebab terakhir kali ia membiarkan kesadaran mengambil alih seluruh mekanisme tubuhnya, Jongin terang-terangan menyalahkan kecacatan sistem yang mengakibatkan dirinya kehilangan waktu dan menambah kerusakan pada sebagian tubuh yang telah diperbaiki.

"Ini… dimana?" ia bertanya dengan hati-hati, lantas masih belum mengenal siapapun yang berada dihadapannya.

"Korea. Dinasti Joseon."

Jongin mengalihkan pandangan ke setiap sudut ruangan sebelum kembali menelik pada pria dihadapannya, "Dan kau…?"

"Kyungsoo."

Sejumput kejanggalan mulai mengganggu Jongin saat pria yang lain bangkit dari tempatnya dan kembali dengan segelas air hangat. Ia juga menjawab seluruh pertanyaan Jongin yang menggantung, seolah Pangeran Do memahami kebingungan yang menyelimuti seisi benak orang yang baru pulih dari kecelakaan parah.

Jongin menyuruput air dalam gelas keramik ukir berwarna hijau emerald, lidahnya mencecap hambar hanya agar tenggorokan merasa lebih baik. Sedangkan Kyungsoo–setidaknya begitulah ia ingin dipanggil–memperhatikan dengan lekat, duduk bersimpuh dengan tenang hingga Jongin membuka percakapan demi membunuh hening yang menggelembung.

"Aku harus pergi dari sini."

Alis pria yang berperawakan lebih kecil mendadak berkerut, nyaris berceletuk jika ia tidak mengingat bahwa penjaga kerajaan berada di luar sana.

"Sungguh? Apakah tidak seharusnya kau menjelaskan siapa dirimu atau setidaknya memberitahuku siapa namamu? Benar-benar keterlaluan." Kyungsoo mendecak kesal, bolamata berputar sarkastik tanpa peduli bahwa iris Jongin belum berhenti mengintimidasi wajahnya sedari tadi. Tidak sekalipun Jongin mengalihkan pandangan dari lekukan eskpresi yang Kyungsoo hasilkan, setiap gerak bibir, cara bicara, hingga kedip pada kelopak mata setajam bulan sabit.

Jongin dilanda dilema luar biasa.

Bukan karena ia tidak percaya apa yang berada di depan mata. Kenyataannya, dan pada kemungkinan yang cukup besar, ia mengetahui kemana akhir ini akan bermuara. Dan ia begitu merindukan Kyungsoo, seseorang yang sejengkal jauhnya namun terasa begitu asing dan ganjil. Bagaimanapun hatinya menyangkal bahwa ia hanya terjatuh dalam suasana malam yang tenang, dimana ia dan seseorang yang menggenggam definisi paling dekat dengan kebahagiaannya kembali bertemu, menepis lini kala yang berbeda, gelenyar yang mengetuk nuraninya tetap saja membantah mentah-mentah. Jongin mencintai Kyungsoo secara mutlak tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Ia berusaha mengabaikan keinginan yang berteriak secara lantang tentang seberapa besar ia ingin merengkuh Kyungsoo, menyentuhnya, memeluknya, lalu kembali pada realita bahwa mereka bahkan tidak saling mengenal tatkala Kyungsoo mempertanyakan identitas pria di hadapannya.

"Bagaimana aku harus memanggilmu?"

"Jongin."

Respon yang singkat bagi pertanyaan yang formal. Kyungsoo mendengus napas panjang seraya beranjak dari sana dan mengenakan satu lapis pakaian tidur yang seharusnya ia kenakan sedari tadi.

"Tidurlah. Ini sudah malam dan kau tidak akan bisa keluar."

Kyungsoo mengambil posisi tidur tidak jauh dari sana, namun cukup berbagi jarak bagi orang asing yang bermalam di kamarnya. Menghiraukan apa yang dikatakan oleh Kyungsoo, Jongin beranjak perlahan untuk mengintip dari luar jendela sebelum mengerang kesakitan akibat lutut yang masih terluka.

Sang Pangeran tidak menyembunyikan kepanikannya saat ia menyibak selimut dengan kasar, menghampiri Jongin dan membantunya berbaring sambil berceloteh tentang bagaimana hidup mereka akan berakhir apabila raja mengetahui penyelinapan ilegal yang dilakukan oleh putra mahkota.

"Kau sungguh tidak ingin membangunkan raja dan mendapatkan hukuman mati setelahnya." Setidaknya ancaman itu terdengar meyakinkan, kemudian menjadi korelasi yang membenarkan dugaan Jongin bahwa pria kecil itu terlalu menakjubkan untuk sekadar menjadi pelayan.

Manik Jongin berubah binar saat Pangeran Do kembali pada posisinya dan berusaha untuk terlelap. Untuk sesaat, ia melupakan satu-satunya tujuan dirinya berada di tempat tersebut. Menatap pria yang lainnya tertidur pulas nyatanya tidak mengobati rasa rindu yang kini menabuhkan tuntutan untuk disampaikan.

Sembilu merebak di dada Jongin, menyerbu tiap inci sudut rusuk hingga ia kesulitan bernapas. Menyandarkan kepala pada bantal, ia menggerai senyuman tipis. Diantara segala ketenangan yang menghanyutkan, jemari mencengkram ujung selimut sambil berusaha menyembunyikan hatinya yang terus menciut serta bulir airmata yang mendesak, menerobos keluar tanpa aba-aba. Hanya berbekal determinasi bahwa Kyungsoo adalah pusat kebahagiaan terakhir yang harus diusahakan, Jongin akan mengupayakan segalanya.

Sebab pria itu pada kemungkinan yang cukup besar, ia mengetahui bagaimana ini semua akan berakhir. Menilik pada keadaannya, menoreh kembali pada catatan sejarah yang pada hakikatnya harus ada yang digantikan untuk mengembalikan yang lain, tipis kesempatan untuknya menjadi serakah. Maka Jongin memutuskan untuk meletakkan pengorbanan diatas permintaan paling sederhana, kembali dan memastikan bahwa Kyungsoo baik-baik saja.

Jongin pikir pilihannya tepat. Karena sebagai manusia, ia memahami apa yang tidak pernah bisa dimiliki.

-0-0-0-

Ada penemuan-penemuan yang minim paparan terhadap dunia luar. Seperti penemuan mesin penghancur masal oleh Nikola Tesla atau sumber daya listrik nirkabel bebas biaya yang dihancurkan oleh segelintir elit yang merasa terancam oleh gagasan yang menguntungkan manusia tanpa mendatangkan uang dalam penggunaannya. Entah itu menjadi berita baik atau sebaliknya, manusia tetap saja terlalu tamak untuk terus menggerus, mengeksploitasi, atau menghancurkan penemuan seperti itu.

Bagi mereka ini adalah pengecualian. Bagi Jongin, dirinya sama saja dengan para golongan serakah yang ingin menguasai sebuah penemuan demi kepentingan individu. Setidaknya, kalaupun demikian, Jongin hanya menginginkan cairan inti palladium untuk memperbaiki kerusakan dirinya dan kembali ke masa dimana ia dapat menyelamatkan ayahnya dan kemudian menghancurkan serum tersebut.

Namun tidak ada satupun hal di dunia yang ditukar secara cuma-cuma. Ada kemungkinan yang membuat hatinya semakin bimbang dan terombang-ambing.

Langkahnya pelan seraya menendang kecil semak belukar yang menjalar di sepanjang tanah. Sesekali Jongin menghembuskan napas panjang saat deburan ombak mendorong bebatuan yang menjadi pembatas diantara laut dan daratan.

Jongin berada di atas tebing diantara perbukitan rendah tempat ia pertama kali ditemukan. Pikirannya kini terbagi menjadi dua, mirip seperti pengecoh yang berputar di kepalanya, antara ia memiliki firasat bahwa apa yang ia cari berada di dalam istana atau suara langkah kaki mendadak mengusik ketenangan ditengah deru ombak yang pecah.

Lantas ia berbalik, menemukan pria berperawakan lebih mungil berdiri disana dengan pakaian panjang dan tebal selayaknya pakaian yang lazim di masa itu. Jongin memilih untuk bergeming, sementara pria yang lain memutuskan untuk menghampiri.

"Bagaimana kau bisa keluar dari istana?"

Dahi Jongin berkerut dalam ketika Pangeran Do berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang, untuk pertama kali memamerkan kekuasaan karena Jongin menghilang dari pandangannya dalam kurun waktu satu malam.

Jongin menghiraukan pertanyaan itu, malah kembali menghadap ke arah laut lepas dari atas tebing. Kendati demikian, reaksi geming yang diberikan penjelajah waktu tidak lantas membuat Pangeran Do meluncurkan pertanyaan kedua untuk memborbardir dirinya. Sang pangeran malah mengernyit bingung. Walaupun ia sangat ingin mengetahui identitas pria asing di sampingnya secara lengkap, dirinya belum memiliki keberanian untuk bertanya secara langsung.

Untuk waktu yang cukup lama mereka berdiri berdampingan tanpa satupun kata yang diucapkan untuk mengusir canggung. Hingga "Apa…" yang diutarakan secara bersamaan membuat sang pangeran menengadah ke arah Jongin, menatap tanpa intensi melanjutkan kalimat terputus karena mereka sama-sama tahu bahwa untuk kedua kalinya mereka akan mengatakan hal yang sama, "yang kau lakukan.."

Maka, tawa mereka meledak.

Jongin menatap rendah pada manik pria yang lain, memudarkan sisihan rindu di pinggir relung hati demi kenyamanan yang melelehkan kikuk.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Jongin mengurai senyum simpul seraya pertanyaan itu telah diduga olehnya. "Berpikir. Kontemplasi."

"Apa yang kau pikirkan?"

Jongin menghela napas panjang sekali lagi, kelopak mata Kyungsoo memicing kala ia mendongak dan melawan cahaya matahari yang masuk ke celah pelupuk.

"Banyak hal. Kau salah satunya."

Kendati demikian, kalimat itu tidak langsung direspon oleh pria yang lain. Pangeran Do mencerna ucapannya dengan cermat sebelum menegaskan dalam konteks bercanda, "Aku tau aku sulit dilupakan."

Dibalik kalimat itu, sangat jelas sang pengeran menuntut sebuah penjelasan lebih tentang identitas Jongin.

Maka Jongin melakukannya sekali lagi, menjelaskan hal yang sama berulang kali walaupun bagi Kyungsoo itu tidak masuk akal sama sekali. Ia mengerti hanya karena ia tidak menampik bahwa fenomena itu benar terjadi.

"Kadang kala ketika kau menjelajah dari satu masa ke masa, kau bisa memiliki firasat bahwa sesuatu telah menjadi penyebab kau sampai di suatu tempat, di saat tertentu, walaupun kau tidak benar-benar mengalami seluruh prosesnya."

"Apakah kau dapat melihat rangkaian kejadian yang membawamu kemari?"

Jongin tampak menimbang. Ia tahu ia tidak melihat seluruh bagian yang menciptakan ambisi untuk mendapatkan penemuan itu di masa ini. Ia hanya yakin bahwa ini adalah satu-satunya cara.

"Ya."

"Lalu setelah kau mengetahui semuanya, kau pasti memiliki tujuan, bukan?"

"Tentu." Pangeran Do menunggu, tatapan jelas menuntut maksud dari seluruh kejadian yang menyeret dirinya ke dalam hal yang tidak pernah terpikirkan. "Aku berasal dari masa depan, dimana dunia ingin dihancurkan untuk dibangun lagi dibawah kekuasaan segelintir manusia." Ia menjeda, menorehkan pandangan kembali pada gelombang air laut, "ayahku bekerja untuk mereka dan tewas ketika ia membuatku menelan sebuah pil yang mendukung regenerasi sel makhluk hidup agar hidup lebih lama."

"para elite memiliki inti palladium. Yang menyembuhkan yang sakit, menghidupkan yang punah, memperkuat yang jahat maupun baik. Bisa kau bayangkan bagaimana kacaunya keadaan dunia saat itu? Dan mereka menggunakan serum itu untuk menghancurkan dunia dan melakukan pembangunan massal. Mereka dapat memilih siapa yang harus hidup."

Jongin menyembunyikan rintih yang disebabkan oleh kerusakaan parsial pada tubuhnya akibat percepatan ekstrim dan perlawanan gravitasi saat berpindah dari masa ke masa. Kendati demikian, ia berusaha terlihat tenang dibalik senyum getir.

"Artinya, kau akan menggunakan palladium untuk kembali dan menghancurkannya agar kekacauan dunia saat itu dapat dihindari?"

"Ya."

"Lalu bagaimana kau yakin bahwa seseorang dari masamu tidak akan mengetahui bahwa kau memilikinya?"

Pertanyaan itu membuat Jongin tertegun. Kemungkinan lain yang tidak pernah ia pikirkan. Alih-alih mencari jalan keluarnya, Jongin sadar ia terlalu fokus pada kemungkinan apabila ia tidak mendapatkannya.

"Belum memikirkannya."

"Bukankah itu akan sia sia?" sambung Kyungsoo.

Jongin menggeleng pelan.

"Bagaimana tidak?" Kyungsoo kembali bertanya.

"Hanya yakin. Lagipula jika seseorang mengetahui bahwa aku memilikinya, maka orang itu haruslah kau di masa yang akan datang."

Pernyataan berikutnya berbalik menohok Kyungsoo yang membeku. Jongin telah terlanjur mengatakan dan putra mahkota telah terlanjur mengetahui. Logika di belakang kepala Kyungsoo mulai menunjukkan korelasi yang masuk akal atas dalil yang diucapkan Jongin.

"Dan juga, aku mengenal seseorang yang sangat mirip denganmu." sambungnya.

Kyungsoo kira Jongin benar-benar menuduhnya sejahat itu kali ini. Sehingga dalam keraguan yang masih bergumul, bibir Kyungsoo mengerucut, tidak terima dengan tuduhan berantai yang berbalik padanya. Lantas untuk menginversi tuduhan Jongin, ia bergumam asal, "Mungkin itu memang aku di masa depan." tanpa menyadari bahwa hati Jongin jatuh luluh lantak saat itu juga.

Walaupun begitu, ia berusaha untuk tersenyum kala melirik Kyungsoo yang berdiri disisinya dengan bibir seranum bunga tulip yang hanya mekar di akhir musim semi.

"Apakah kau tahu serum itu berada dimana?"

Jongin kembali menggeleng, memberikan afirmasi pasti bahwa ia belum memiliki rencana apapun.

Tepat saat Jongin berterus terang tentang ketidaktahuannya, sesuatu mengetuk hati Kyungsoo sebelum ia berceletuk, "Kau bisa menyelinap ke istana dan mencarinya disana saat festival musim panas tiba."

Mendengar hal itu, Jongin mengerutkan kedua alis sementara Pangeran Do melanjutkan, "ada banyak tempat yang tidak pernah dibuka bahkan untuk keluarga kerajaan sekalipun."

Ada secuil curiga yang merambat naik ke atas kepalanya. Menelaah bagaimana bantuan itu lebih terdengar layaknya belas kasihan atau jebakan. Jongin tahu napasnya terhenti ketika seluruh kemungkinan mulai menyerang isi kepala. Pangeran Do kembali menengadah, kali ini menangkap manik dihadapannya dalam tatapan lekat.

Tidak ada satupun penjelasan atas pertanyaan yang terus menggelembung diantara jarak, diantara Jongin yang enggan bertanya dan ditengah Pangeran Do yang mendesaknya untuk bertanya. Hingga salah satu dari mereka menyerah. "Akan ada kompetisi memanah bagi seluruh bangsawan kerajaan di alun-alun dan raja akan berada disana. Dan pada saat itu, istana akan dijaga oleh Jenderal Byun."

"Ia tidak pergi bersamamu?"

"Tidak. Aku pergi bersama ayahku."

-0-0-0-

Musim harus berganti agar langit menjadi biru.

Musim harus berganti agar kemudian datang kelabu yang menitikkan air hujan dan menyisir irigasi dari aliran hulu dan membiarkan rerumputan meriap, agar tunas daun bermekaran dan dapat dipetik layaknya kemakmuran adalah kepastian untuk dimiliki manusia.

Musim panas tidak datang. Yang datang adalah tetes bulir hujan gerimis setipis jarum yang membawa riak gundah pada setiap individu di bawah atap kayu. Selanjutnya adalah hujan lebat dengan bulir sebesar biji jagung yang gemuk, kemudian hujan angin yang datang dari laut pasang yang jauh dari garis khatulistiwa.

Hujan yang mereka bilang adalah malapetaka yang telah dilalaikan oleh serakah dan lengah.

Joseon kehilangan magis bunga sakura yang mekar di akhir musim semi. Para rakyat berlalu lalang dengan segala gelisah, sibuk mencari pengganti komoditas untuk bertahan hidup akibat kelangkaan yang disebabkan cuaca ekstrim kala itu. Hujan lebat tidak lagi menjadi keberuntungan apabila irigasi tergenang tinggi dan mereka kehilangan berton-ton komoditas siap jual yang harus dibuang sia-sia akibat gagal panen.

Bulir air melesat berdentum keras di gendang telinga, mengaburkan jarak pandang lewat difusi kabut yang buram. Dan disaat yang bersamaan, sebuah dengungan memekak di atmosfir membuat semua orang berbondong-bondong berlari menuju pintu istana yang dibuka lebar, tanda sesuatu yang buruk telah terjadi.

Sinyal itu jelas, raja menginginkan seluruh rakyat berkumpul untuk menyaksikan duka yang telah menyelimuti mereka dan Joseon.

"Yang berada di hadapan kalian, adalah bukti kegagalan yang sesungguhnya."

Seruan ringkas oleh Raja Yeonsan terdengar rendah dibalik senyum gelap yang menyembunyikan bengis diantaranya.

"Hari ini Joseon akan mencatat duka sekaligus kebebasan dari pengkhianatan yang memalukan." imbuhnya.

Ia berdiri dari singgasana berlapis emas dan mendekap kedua telapak dibalik punggung. Sirat keji menatap lurus ke arah seorang pria ditengah pekarangan pintu utama istana, dengan sekujur tubuh dibasuh air hujan yang tercecap masam dan ketakutan bukan lagi penghalang yang mengusiknya.

Berbaris prajurit dan jenderal berdiri sejajar membentuk setengah lingkaran dengan telapak mengepalkan rantai yang berpangkal di sekitar leher Jongin.

Sebagian bergidik ngeri, sebagian tertawa hambar.

Ia menengadah, sorot mata kelam menatap milik raja seakan ia tengah menyelam namun tidak untuk mengais sedikitpun belas kasihan.

Pangeran Do menatapnya, dengan teliti mentranslasi tatapan itu agar ia tidak mendapatkan bayang sendu bercampur sejumput kemarahan di dalam kepala yang riuh akan nestapa. Kemudian satu dengus napas panjang terlepas, sang pangeran tahu jelas kali ini ia tidak mampu berlari.

Jongin tidak dapat melarikan diri. Jongin tidak akan berhasil.

Kalimat itu seperti sajak yang sang pangeran lafalkan terus menerus dalam hati, ditengah gemuruh hujan, agar setidaknya ia dapat melupakan bagaimana semua itu berlangsung.

"Aku kagumi keberanianmu untuk kembali ke Joseon, darimanapun itu kau berasal." pernyataan raja begitu ringkas, "namun kau harus mengakhirinya disini."

Meludahi sisa ego yang berada diambang lara dan keputusasaan, Jongin mengucap dengan lantang, "Tidak akan ada penyesalan setelah ini, karena aku sudah lelah berlari dan akan berhenti sekarang."

Untuk waktu yang telah berlalu cukup lama, anugerah dan malapetaka pernah melintasi satu sama lain menciptakan persimpangan sedekat telapak atas dan bawah. Kadang kala keduanya datang tanpa prakiraan, kadang kala tidak akurat, atau bahkan semua itu benar. Kemudian ditengah-tengah akan terseling kesedihan yang menyerupai tamu, tubuh adalah rumah dan hati adalah pintu.

Jongin selalu mengizinkan kesedihan untuk masuk, membiarkan seisi jiwanya luluh lantak dan ditinggal berantakan tak berpenghuni. Sebelum akhirnya seseorang mengetuk masuk dan membersihkan serpihan kesendirian dan memastikan ia telah meninggalkan jejak di seluruh bagian milik Jongin, benak, jiwa, hingga sanubari. Hanya Kyungsoo yang berani melakukan demikian.

Tapi sekarang, Jongin telah membulatkan tekad untuk mengunci seluruh celah agar ia tidak membawa Kyungsoo ke dalam mimpi yang membuatnya berangan untuk pulang dan beristirahat, mimpi yang membuatnya mengingat kilau manik pria itu sebelum segalanya menjadi gelap, ataupun mimpi yang meneriakkan namanya begitu keras hingga Jongin menangkap sisa gaung berbalut nestapa yang melawan gemuruh hujan.

Kepalanya terhempas jauh tanpa pemilik.

Hujan jatuh semakin deras hingga tanah menjadi lunak, menangkap rembesan air berwarna merah yang masuk pada celah lahan kapur, menyerap segala kepedihan berbau satir yang berujung sama bagi Pangeran Do.

Guntur memang mereda ketika putra mahkota berhenti terisak hingga ujung napas terakhirnya, kemudian bersama riak lautan melarung jasad-jasad yang dibuang ke laut lepas, terombang-ambing layaknya berlembar-lembar pesan yang mengungkit rindu di luar rengkuhan yang sudah cukup jauh terpisah.

Jongin dan Pangeran Do tidak sempat berpamitan. Semoga mereka bertemu diantara larik-larik ombak yang menjadi saksi bisu bahwa manusia lahir, jatuh hati, lalu mati.

Dan tidak akan ada penjelajah waktu yang pernah selamat.

-0-0-0-

Paris, 13 Januari 2024.

Kekuasaan tidak selamanya mutlak. Selalu ada pihak yang harus mengalah atau dimusnahkan. Tidak peduli seberapa banyak nyawa yang harus dikorbankan, kedua negara yang berselisih untuk membuktikan siapa yang paling layak untuk menciptakan tatanan dunia yang baru, tidak akan menghentikan peperangan sampai salah satu diantara mereka mengibarkan bendera putih.

Akibat dari kegagalan penjelajah waktu harus tetap terjadi.

Riuh tangisan orang yang berlarian kesana-kemari tidak dapat dikalahkan oleh debum keras dan abu ledakan yang menghalau jarak pandang. Mobil-mobil bertumpukan, menyisakan besi ringsek yang menggores luka diatas daging terbuka. Tembakan meriam membelah langit saling membunuh dua antagonis yang menginginkan dunia baru. Pesawat tempur saling mengejar, membiarkan peluru meleset kemanapun hendaknya mereka mendarat.

Kyungsoo terkesiap ketika penyerangan berlangsung begitu cepat. Tubuhnya bergetar, suara terlalu bising namun ia sekuat tenaga memerintahkan langkah kaki untuk menyelamatkan diri, setidaknya mencari tempat persembunyian hingga ledakan mereda.

"Cepat! Cepat kemari!" Kyungsoo berteriak ketika pandangannya jatuh kepada seorang anak kecil dengan lempengan besi menancap di atas kakinya sebelum memutuskan untuk berbalik dan menyelamatkannya.

"It's okay, you'll be okay. Don't cry." Ia berusaha menenangkan tangisan yang pecah karena ketakutan dan trauma. Dengan cepat, Kyungsoo membawa gadis itu ke dalam pelukan setelah mengusap air matanya dan berlari menuju arah selatan, mengikuti arus manusia kemana seharusnya mereka pergi dan berlindung di tempat aman.

Kyungsoo melangkah berbalik setelah mengusap kedua pipi gadis kecil yang ia selamatkan. Seolah memberikan secercah harapan bahwa awan akan kembali dan langit akan cerah. Namun Kyungsoo lupa jika ia juga pantas diingatkan bahwa tidak semua hal patut diperjuangkan.

Tetapi saat itu, ketika Kyungsoo terus berlari ke arah utara menuju sebuah gedung hotel dengan sisa keberanian yang bertengger pasrah untuk menjemput kenangan yang ditinggalkan, sebutir peluru kaliber menembus rongga dadanya hingga ia bertekuk lutut sembari menutup lubang yang terus mengucurkan darah.

Selanjutnya adalah geming. Kyungsoo tidak mendengar apa-apa walaupun dua pesawat menukik dan bertabrakan satu sama lain, menciptakan letupan keras sebelum asap hitam membumbung di udara. Peluru beruntun kembali dilancarkan hingga pilon bahan bakar pesawat lawan mendadak meledak, menyisakan kepingannya jatuh ke tanah layaknya hujan api di siang hari.

Setidaknya Kyungsoo telah berusaha keras.

Setidaknya, Kyungsoo tidak perlu patah hati pada kenyataan bahwa figur yang selalu ia tunggu tidak pernah kembali sejak saat itu. Lagipula, Jongin tidak pernah berjanji bahwa ia akan selalu kembali, kan? Dengan tidak pergi menemuinya, Kyungsoo tidak perlu mempertanyakan apakah Jongin pernah memutuskan untuk menyerah pada hubungan mereka. Ia tidak perlu berasumsi, tentang Jongin yang celaka, tentang kapan pria itu kembali menjenguknya, termasuk bagaimana Jongin pergi dengan membawa bagian dari diri Kyungsoo.

Tidak lama setelah itu, sebuah bom dijatuhkan di Hotel Castille dari tiga ribu kaki diatas permukaan air laut, mengakibatkan ledakan hebat hingga setengah bagian gedung tersebut runtuh dan menghancurkan jembatan Pont Alexandre.