disclaimer © Animonsta Studios
warning AU!Cyberpunk, AR, OOC, siblings!Elementals, death chara(s), plot hole nearly plotless actually, miss EBI, typo(s), visualisasi buruk, deskripsi dan diksi mengecewakan.


Hadirin berdiri lalu bertepuk tangan. Petir, Angin, dan Tanah ikut melakukan hal yang sama.

Panggung dengan bangga mempersembahkan seorang balerina wanita yang mampu berdiri seimbang dengan ujung kaki di atas sebuah bola. Lampu-lampu sorot yang semula bergerak liar mengikuti si penari kini fokus menyinari sang bintang dalam temaram teater.

Tirai merah membentang menampakkan diri, menutupi keseluruhan panggung dan menyembunyikan sang pedansa beserta kilauannya. Pentas telah berakhir. Semua orang pergi. Angin menyeret Tanah untuk tak bergeming di dalam sana. Petir mematung beberapa detik, setengah berharap bahwa tirai akan tersibak dan mengulangi pertunjukkan sekali lagi.

Lima menit berselang, Petir menyusul kedua adik kembarnya yang kini sedang bercanda ria. Angin bertanya bagian favorit mereka sambil menyebutkan satu miliknya; drama musikal Alice in Wonderland. Lucu sekali pria bertopi aneh itu, hahaha. Kucing biru dan kelinci dalam lubang itu begitu menggemaskan. Alice sangat manis dan cantik. Tanah menanggapi, setuju dengan Angin, tetapi dia juga suka dengan penampilan terakhir pentas yang diisi seorang penari cantik. Petir diam, tatapan kosongnya terarah pada langit hitam tak bertiang.

Lalu Tanah berujar, "Lain kali, kita menonton bersama lagi, ya."

Angin mengangguk setuju. Petir mati-matian menyembunyikan afeksi yang menggebu-gebu. Hati mereka menggumam jatuh cinta pada dunia teater.


Petir, Angin, dan Tanah adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang menyaksikan dan merasakan transformasi dunia. Bumi kini tengah melakukan seleksi alam massal.

Dalam daftar manusia yang telah tereliminasi, pada nomor terakhir, Tanah adalah salah satunya.

(Kaki pucat menendang kursi kayu, mengakhiri segalanya.)


Memiliki identitas baru adalah sebuah keharusan. Semua yang melewati fase sortir mesti melakukannya sebagai introduksi Era Baru; masa depan yang katanya diimpikan, diinginkan, dan pastinya didambakan oleh semua orang.

Manusia terbang bukanlah sebuah kemustahilan. Makanan dan minuman serta pakaian tak lagi menjadi kebutuhan utama. Triliunan robot diproduksi untuk membuat manusia nyaman dengan kehidupannya. Tak ada lagi sistem mata uang. Kesehatan dapat diperoleh dengan mudah, semua orang sakit bisa sehat. Bahkan jika manusia ingin bangkit dari kematian pun bisa dilakukan. Seperti menekan tombol reset pada konsol gim portabel, kehidupan bisa diulang dengan tubuh yang sama namun dengan ingatan baru.

Barangkali konsekuensi atas itu semua, manusia tidak lagi memiliki hati secara konotasi. Ironi memvalidasi seseorang bertelanjang dada bebas membunuh siapa pun di tengah keramaian, tanpa ada yang menghalangi atas dasar hukum kebebasan bagi semua orang. Mengapa harus menghindari sakit jika tidak bisa merasakan? Mengapa harus menghindari mati jika bisa hidup kembali?

Sayangnya, orang yang mati sebelum evolusi era tidak akan bisa kembali hidup, sebab data mengenai mereka tidak secara sempurna terekam dalam server. Satu alasan ketidaksempurnaan itu adalah tubuh sebagai media untuk ditanamkan kehidupan yang sudah tak dapat dikenali. Alasan lainnya adalah karena dunia ini, Era Baru, kini hanya untuk manusia terpilih. Era Lama hanyalah sejarah yang dianggap hampir tak ada.


Hari pertama di bulan pertama dalam tahun pertama, Halilintar bertemu dengan Taufan yang keluar dari sebuah tabung, sama sepertinya.

"Kau mirip denganku!" Taufan berseru. Responnya terlihat lebih hidup dibanding manusia-manusia lain yang Halilintar lihat. "Katakan, siapa namamu?"

"... Halilintar."

"Aku Taufan! Sepertinya kita adalah saudara, tapi kenapa aku tidak mengingatmu, ya? Oh, dunia baru!" Taufan mengecek penanda dalam bentuk hologram pada tabungnya. "Namaku dulu Angin. Bagaimana denganmu?"

Halilintar ikut mengecek penanda pada tabung miliknya yang bersebelahan dengan Taufan. "Petir."

"Lihat? Kurasa kita memang saudara, nama kita yang dulu pun ada miripnya, dan kalau melihat tinggi badan kita ... mungkin saja kita kembar!"

Terdengar suara decihan. "Jangan berisik."

"Eh?! Saudara kembar macam apa yang aku dapatkan ini?!"


Suatu ketika, dua tahun kemudian, Halilintar menyaksikan Taufan yang menusuk perutnya sendiri dengan sebuah pisau. Tak ada jeritan, pekikan, atau lirihan yang terdengar baik dari Taufan maupun Halilintar, sebagai bukti nyata akan hilangnya eksistensi hati mereka. Setelah Taufan benar-benar mati, Halilintar melihat kedatangan kerumunan robot aneh berseragam putih.

Halilintar mengikuti para robot yang membawa Taufan ke tempat terbesar di dunia—laboratorium tempat mereka secara teknis dilahirkan. Seluruh pakaian Taufan ditanggalkan, lalu Taufan dimasukkan ke dalam tabung miliknya dalam posisi duduk. Tabung itu lalu tertutup otomatis.

Halilintar melirik sekilas pada komputer server yang dipenuhi oleh angka nol dan satu berwarna hijau. Tubuh Taufan dalam tabung berdiri melayang. Ada beberapa lingkaran putih yang bergerak dari ujung rambut sampai ke kaki Taufan dengan pola acak, memperbaiki struktur tubuh Taufan secara keseluruhan hingga kembali pada bentuk tubuhnya yang berusia empat belas tahun.

Tabung terbuka. Halilintar terbatuk kecil saat asap abu-abu keputihan keluar dari sana.

"Kau mirip denganku!" Halilintar sungguh mengenali kalimat itu. "Katakan, siapa namamu?"


Menjalani hubungan percintaan dengan lawan jenis ada dalam prosedur. Jika sepasang pria dan wanita memiliki anak, maka anak tersebut akan dibawa ke Laboratorium Pusat untuk penelitian lebih lanjut. Saintis-saintis masih mencoba untuk menghidupkan manusia dari Era Lama yang memiliki peran besar dalam kehidupan manusia, seperti Thomas Alva Edison, Isaac Newton, Aristoteles, bahkan Hipokrates.

Di usia dua puluh empat tahun, Taufan menikah dengan Yaya, seorang gadis yang dulunya bernama Mimi. Dua tahun kemudian, takdir mempertemukan Halilintar dengan wanita bertubuh mungil bernama Ying. Halilintar tidak terlalu penasaran dengan Ying di Era Lama, sehingga nama lama Ying tetaplah sebuah misteri.

"Mau bunga apa pun yang dipakai ... kamu tetap akan mencintaiku, bukan?"

Halilintar saat ini tengah menatap Ying yang juga memandangnya. Sempat mampir di otaknya, apakah kebohongan seperti ini memang diperbolehkan? Lalu Halilintar menjawab tidak pada pertanyaannya sendiri. Hanya ada satu hukum di era ini, yaitu kebebasan tanpa batas adalah milik semua manusia. Kebohongan bukanlah masalah.

"Apa aku perlu menjawabnya?"

Ying menggeleng. Satu detik yang terlewat membuat Halilintar merasa sudah mendapatkan jawabannya. "Tidak perlu. Aku sudah tahu jawabannya."

(Ya, karena nyatanya mereka tak merasakan apa-apa.)

Lalu mereka menikah, dihadiri oleh orang-orang yang mereka kenal. Beberapa bulan kemudian, Yaya meninggal bersama janin dalam kandungannya tanpa alasan yang jelas. Yaya dihidupkan kembali, tentu tak mengingat Taufan. Mana mungkin Taufan mengaku kalau si gadis dalam wujud sembilan tahun pernah menjadi istrinya? Tidak logis rasanya, Taufan pun paham.

Tak lama, Ying meninggal saat terbang melayang melintasi angkasa dan dihantam roket percobaan. Tubuh Ying mengalami kerusakan parah sehingga membutuhkan waktu lama untuk menghidupkan Ying kembali.

Melalui semua itu, Halilintar memutuskan untuk tak peduli dengan apa pun lagi. Surat kontrak tanda pencabutan Komitmen Reinkarnasi telah dibubuhkan sidik jari. Halilintar tahu kalau memorinya akan hilang sewaktu dia mati lalu dihidupkan kembali, tetapi Halilintar yakin Halilintar kedua, ketiga, dan seterusnya akan berpendapat sama; kehidupan tanpa sebuah hati sama saja dengan kehampaan abadi.


Sebuah robot berbentuk bola kuning hadir dalam kehidupan Halilintar dan Taufan. Namanya Ochobot, mempunyai misi untuk mengawasi mereka berdua. Ketika Taufan bertanya alasan di baliknya, Ochobot menjawab informasi terklasifikasi rahasia.

Ochobot adalah sebuah robot baru yang diciptakan memiliki algoritma emosi. Halilintar memberi hipotesis kalau Ochobot adalah sebuah langkah untuk mengenalkan 'hati' pada manusia Era Baru dalam usaha mengurangi kekacauan masif yang terjadi—milyaran manusia dilahirkan kembali setiap detiknya membuat jutaan superkomputer nyaris mengalami kerusakan.

"Ochobot, apa kamu tahu mengenai kematian?" tanya Taufan iseng.

"Menganalisis pertanyaan ...," Suara statis terdengar beberapa detik, "jawaban tervalidasi. Kematian dalam Era Baru adalah suatu kasus yang hingga saat ini tak bisa diselesaikan."

Halilintar mendengarnya. Dia tak pernah menyangka jawaban itu. "Bagaimana Taufan tiga belas tahun yang lalu?"

"Menganalisis pertanyaan ...," Kali ini ada jeda yang cukup lama, "terdeteksi kesalahan aliran impuls saraf pada subjek Taufan …."

"Apakah ini juga terjadi pada Yaya dan Ying?"

Ochobot mengangguk tanpa memberi jawaban dalam suara robotnya. Halilintar mengerti semuanya sekarang.


Dalam hidupnya yang nyaris mencapai kepala tiga, Halilintar baru peduli dengan adanya Tuhan.

Mungkin Tuhan marah karena berani-beraninya manusia mengacaukan sistem kehidupan dan kematian. Mungkin Tuhan dendam, sehingga menaruh kutukan pada semua manusia di Era Baru—mereka kehilangan esensi perasaan. Konsep akan Tuhan di masa kini begitu kabur, tidak jelas. Mereka masih memakainya, tapi tidak menjadikannya sebagai prioritas.

"Menganalisis situasi ... kudengar kamu menolak Komitmen Reinkarnasi, mengapa?"

Ochobot melayang setinggi kepalanya di samping kanan Halilintar. Saat ini Halilintar tengah duduk di depan teras rumahnya, membiarkan kedua kaki bergantian menyepak udara.

"Menganalisis situasi ...—"

Halilintar spontan memukul bola besi kuning terbang itu tanpa sebab. Ochobot mengaduh. Pemuda dengan pakaian yang didominasi hitam dan merah tersebut menatap Ochobot lekat-lekat. Ada sesuatu yang aneh namun tak asing membuat debaran jantungnya lebih kencang.

"Menganalisis situasi ... aduh ... sakit sekali ...," lenguh Ochobot.

"Dunia ini sudah terbalik. Robot memiliki perasaan diciptakan oleh manusia tanpa perasaan," gumam Halilintar. "Bagaimana rasa sakit itu, Ochobot?"

"Menganalisis pertanyaan—"

"Apa kau harus mengucapkan itu setiap saat?"

"Menganalisis pertanyaan ... rasa sakit itu penderitaan. Rasa sakit itu ketidaknyamanan. Rasa sakit itu tidak menyenangkan."

"Apa yang kaubicarakan, Ochobot?"

"Kak Halilintar dan Ochobot sedang berbincang apa?"

Taufan memilih untuk duduk di sisi kiri Halilintar. Baik Halilintar maupun Ochobot tidak memberikan respon apa-apa, entah penolakan atau persetujuan.

"Kak Halilintar, tidakkah Ochobot ini membuatmu ingat akan sesuatu?" tanya Taufan.

"Sesuatu?" beo Halilintar.

"Sejak awal kita selalu berpikir bahwa kita tidak mempunyai emosi, tapi sebenarnya siapa yang mengatakan itu? Lama-kelamaan kita tidak bisa mengontrol diri kita, tapi terlambat kita sadari karena kita tidak merasakannya."

"Intinya?"

"Mungkin saja kita semua memilikinya, tetapi entah mengapa disembunyikan dan sekarang emosi itu ingin menguasai kita dengan menunjukkan diri," simpul Taufan. "Oh, yang itu memang aku sendiri yang berbicara, kok, bukan kesalahan saraf atau semacamnya. Tidakkah Kak Halilintar merasakan sesuatu saat bersama Ying dulu?"

"Jangan sebut namanya," respon Halilintar.

"Lihat? Kalau kita memang tidak bisa merasakan apa-apa, Kak Halilintar harusnya bersikap ... normal. Seperti bagaimana yang seharusnya manusia Era Baru lakukan. Hanya kita yang sepertinya aneh, maka dari itu Ochobot dikirimkan ke sini."

Sepasang lempengan besi yang mengklamufase fisiologi sayap itu tiba-tiba mengatup. Ochobot jatuh dalam program inaktif. Halilintar refleks mengulurkan tangannya, berhasil menangkap Ochobot yang nyaris mengikuti arah gravitasi lebih jauh.


"Jadi ... apa yang sudah terjadi pada Ochobot? Mengapa tiba-tiba dia seperti itu? Mengapa—"

"Bisakah kau diam saja?"

"Mana bisa! Apa Kak Halilintar tidak penasaran?"

"Sejak kapan pula kau terbiasa memanggilku kakak?"

"Aku lebih muda darimu dua tahun. Kita juga mirip, mungkin saja kita memang bersaudara, bukan? Tidakkah wajar untukku memanggilmu Kakak?"

"Kita seumuran. Kau sudah pernah mati. Ochobot pun mengonfirmasi hal itu. Tidak ada yang pernah menyatakan bahwa kita bersaudara. Hentikan panggilan konyol itu."

"... Kak Petir …."

"Itu tidak ko—Ochobot?" Taufan segera meraih Ochobot dari dekapan Halilintar, membawanya dalam pelukan. "Kau baik-baik saja, bukan?!"

"... Kak Petir dan Kak Angin sudah besar, ya. Aku tidak pernah melihat Kak Angin panik begitu. Kak Petir dan Kak Angin barusan berdebat? Seperti masa lalu saja …."

Halilintar segera bertanya, "Apa maksudnya ini?"

"... Aku Tanah, Kak! Kita adalah saudara!"

"Tunggu, bukannya kau ini robot?" tanya Halilintar realis.

"... Campuran manusia dan robot bernama Humuerobot. Karena tidak memiliki sketsa anatomi sempurna, DNA-ku diselipkan ke dalam anatomi robot. Ochobot sendiri diciptakan sebagai robot pengumpul data, tapi aku bisa muncul seperti ini sesukaku."

"Jadi sebenarnya apa misi yang ditanamkan dalam program Ochobot?" tanya Halilintar lagi.

"... Mendeteksi emosi. Dalam beberapa situasi, Ochobot telah melakukan eksaminasi pada kalian berdua sebagai subjek uji coba untuk membantu menemukan masalah yang berkaitan dengan tindakan di luar dugaan, kematian. Kematian sebenarnya melanggar misi Peralihan Era, yaitu kehidupan abadi."

"Apa kaitan uji coba dengan emosi?"

"... Untuk mengetahui apakah emosi selama ini berperan di balik semuanya atau memang hanya kesalahan program."

"Maaf?"

"... Kak Petir, Kak Angin, semuanya adalah prototipe Humuerobot untuk meneliti apakah anatomi manusia dapat disesuaikan dengan robot, seperti pembuluh darah yang digantikan dengan kabel, organ-organ vital yang digantikan dengan mesin-mesin yang kompatibel, dan lainnya."

"Apa kami semua sama dengan Ochobot?"

"... Secara teknis, sama. Hibrida manusia dan robot. Tetapi jika Humuerobot prototipe seperti Kak Petir dan Kak Angin adalah manusia dengan anatomi yang diubah menjadi robot, aku dan Ochobot adalah spesies Humuerobot versi kedua, di mana robot sungguhan digabungkan dengan DNA manusia Era Lama. Jika emosi pada Humuerobot prototipe disinyalir adalah sesuatu yang tak terkendali, maka Humuerobot versi kedua memiliki emosi yang dapat diaktifkan atau dinonaktifkan."

"Berarti sudah jelas," Halilintar memejamkan matanya, "akan ada Era Baru Gelombang Kedua. Manusia akan musnah."


Sesuai dengan perkataan Halilintar, kepunahan massal pun terjadi.

Halilintar merasa familiar dengan apa yang dilihatnya. Seluruh manusia—lupakan, mereka adalah Humuerobot prototipe yang akan dimusnahkan—dilumpuhkan dengan sebuah cairan yang dipaksa masuk menembus kulit. Beberapa terlihat normal-normal saja, namun ada yang menggila hingga menyakiti dan membunuh diri mereka sendiri dengan beragam cara. Saintis-saintis yang melakukan itu semua tampak tak berekspresi, begitu mudahnya mereka beraksi seolah perbuatan mereka adalah hal wajar.

Apakah para peneliti masih berstatus manusia dari Era Lama? Kemungkinan besar iya, tapi Halilintar tidak peduli. Dia dan Taufan tidak diikutsertakan dalam program itu, sebab Halilintar sudah membatalkan perjanjian dan Taufan sudah pernah mati.

"... Kak Petir!"

Sepersekian detik kemudian, Halilintar berlari setengah diseret Humuerobot prototipe lain dan Humuerobot versi kedua yang selama ini menemani hidupnya.

"Kenapa kita lari?" tanya Halilintar.

"Mencari itu!" jawab Taufan ambigu.

"Apa?!" sahut Halilintar dengan suara agak keras.

"Aku terus terang juga tidak yakin, tapi aku merasa kalau kita harus mencarinya! Mencari memori kita!" balas Taufan ikut berteriak.

"Sejak kapan kau mampu merasakan?"

"Sudah kubilang kalau sebenarnya kita memilikinya! Kalau kita masih punya emosi yang membunuh kita, berarti kita sebenarnya masih punya ingatan yang mereka sembunyikan!"

"Masuk akal."

"... Kak Petir, Kak Angin ... aku ingin menepati janji itu, sebelum dunia ini berakhir …."

Mereka bertiga berhenti tepat di depan sebuah tenda raksasa berwarna merah darah, yang sudah usang dan sangat tampak tidak terawat.

"... Semua lokasi ini sama saja dengan Era Lama, yang berubah hanya manusianya saja. Di sini, kita pernah menonton pertunjukkan bersama-sama! Kumohon, ingatlah!"

"Apa ... yang harus kuingat ...?" lirih Halilintar. "Suaraku ... mengapa serak begini ...?"

"Apa yang sudah hilang dari kehidupan kita?" Vibra dalam suara Taufan menyahut. "Ada air di mataku! Tidak mau berhenti! Air-air ini mengalir begitu saja!"

"Menganalisis situasi ... mendeteksi emosi yang tidak terkendali—"

"Pemusnahan dua Humuerobot prototipe segera dilakukan!"

Belasan sosok berseragam putih mengepung mereka bertiga. Masing-masing personil memegang sebuah senapan yang meluncurkan sebuah anak panah, menembus tubuh Halilintar dan Taufan dari berbagai sisi. Insiden itu sangat cepat berlangsung, terlalu cepat hingga Ochobot tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

"Kerja bagus, Ochobot."

"Menganalisis perintah ... terima kasih ... misi penyamaran ... berhasil …."

"Pergilah ke laboratorium. DNA itu mungkin saja mampu mengambil alih programmu, terutama kau sudah membuka pembekunya untuk meniru identitas."

"Menganalisis perintah ... memberikan respon penolakan ... mendeteksi sebuah emosi ... mengidentifikasi emosi sebagai kekeluargaan ... sakit ... sedih ... peledakan diri akan segera dimulai …."

Melebur menjadi kepingan-kepingan logam, tidak ada yang sadar dengan hati yang sepenuhnya menghitam.


tamat


~himmedelweiss 09/04/2020