Iced Coffee and Uiro
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, gaje, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan merupakan hadiah spesial untuk ulang tahun Vira D Ace (08/04/2020). Diikutsertakan pula pada event bulanan di Fanfiction Addict dengan tema, "Coffee shop!AU" dan event "Stay at Home Challenge".
Hope all of you like it, especially Vira.
Selamat ulang tahun ke-16, dari Vey.
Wabah Covid-19 tengah eksis, pada segenap penjuru dunia menciptakan keprihatinan mendalam. Sebagai langkah mencengah penyebaran virus, pemerintah bersepakat menerapkan lockdown termasuk di Jepang, kota Yokohama yang biru lautnya menyendiri merenungkan langit.
Oda Sakunosuke tampaknya menikmati quarantine yang berlangsung, ditilik dari nyala laptop ditemani sepiring biskuit aneka bentuk. Selagi mulutnya sibuk berkenalan dengan rasa manis yang memijit lidah, jari-jari Oda sibuk merangkaikan makna demi makan pada aplikasi microsoft word. Kata menjadi kalimat. Kalimat pun saling merangkul, dan menciptakan paragraf yang menceritakan sebuah kisah fiksi untuk masa depan.
"Tulislah kisah itu dengan tanganmu sendiri jika begitu."
Tujuan pertamanya mungkin tersesat, membuat Oda bergabung dengan mafia. Semenjak pria asing itu mengatakan–seolah-olah mengajaknya mengubah, bahkan keluar dari siklus kegelapan–Oda pun berinisiatif menjadi penulis yang menginspirasi orang-orang. Ia menyukai jalannya yang masih panjang–bahwa berarti banyak sekali yang dapat Oda tulis, dan tidak ada satu jeda pun yang dapat menghentikan dunianya–imajinasinya yang melangit.
Quarantine tidaklah buruk, dan mungkin merupakan kesempatan menyimpang untuk mewujudkan cita-cita penulisnya. Oda bersumpah pasti menyelesaikan kisah ini–demi anak-anak asuh yang ia rawat, sahabat terbaiknya Dazai Osamu, juga Sakaguchi Ango, yang di tengah istirahatnya terkadang Oda pertanyakan bagaimana kabarnya.
"Ango bisa jaga diri, sih," batin Oda sembari sejenak memejamkan mata. Tangan kanannya bergerak hendak meraih sesuatu. Namun, tidak satu pun yang ia dapatkan membuatnya mengerjap-ngerjap.
Ah. Mengapa bisa-bisanya Oda lupa menyeduh segelas kopi? Jadilah ia beranjak berdiri menuju dapur, sekalian mengisi ulang biskuit yang tinggal tiga keping. Samar-samar seulas suara yang bertubi-tubi ditangkap pendengarannya. Lama-kelamaan menjadi gaduh sekali, sampai Oda menemukan penyebab kebisingan yang seperti bunyi langkah kaki itu.
"Kousuke, Katsumi, Yuu, Shinji, Sakura?"
Pintu dibuka memperlihatkan lima orang bocah tersenyum riang. Tempat Oda berada adalah pada sebuah lestoran yang dikekola pria berwajah ramah, sedangkan mereka tinggal di lantai dua yang akses ke sananya harus melewati tangga di samping rumah makan ini. Dengan kompak anak-anak asuh Oda menghampirinya. Sebuah majalah diperlihatkan oleh Shinji yang sayup-sayup tersipu.
"Bukannya kita juga perlu menerapkan social distancing di sini?" Pertanyaan payah itu dibalas oleh Kousuke yang mendengkus. Anak-anak lain juga tampak mengambek–mereka tahu bahayanya COVID-19, tetapi tidak perlu sampai menjauhi Oda, bukan?
"Buat apa coba? Kita ini, kan, keluarga. Artis-artis di televisi juga bareng-bareng di rumahnya. Masa kita kalah?" Protes milik Katsumi memperoleh anggukan kompak, dari keempat anak lainnya. Bocah bergigi ompong itu mengambil majalah yang Shinji pegang. Memperlihatkan halaman yang ia tunjuk pada Oda yang masih kebingungan.
"Shinji-kun punya ide bagus, lho, Oda-san. Awalnya kami ribut mau main apa. Aku mau main masak-masakan, tapi Kousuke dan Katsumi maunya petak umpet. Yuu-kun main PS. Akhirnya Shinji-kun bilang kita main coffee shop aja."
"Seperti ada yang jadi pemilik coffee shop, bartendernya, pelanggan, sama pelayan?" Dari majalah yang Katsumi pegang, mata biru samudra Oda menatap Sakura yang mengangguk-angguk. Ide mereka bagus, tentu saja. Apa lagi bisa mengajak pemilik lestoran yang sayang sekali; tengah pulas di ranjang tercinta.
"Cuma semuanya kagak mau jadi pelanggan. Terus tumben banget Yuu punya ide bagus, kalo yang jadi pelanggan kamu aja."
"Main PS juga ide bagus, kok. Bisa giliran." Bibir Yuu tampak manyun. Ekspresi menggemaskan itu nyaris mengundang tawa Oda mampir.
Terjadilah tatap menatap sengit antara Yuu yang tidak terima dideskripsikan demikian, sedangkan Kousuke bersikukuh penjelasannya tepat sasaran. Suara Shinji yang patah-patah masih berusaha menenangkan. Meskipun Sakura sudah heboh sendiri ia berakhir diabaikan total. Serta jangan tanya mengenai Katsumi yang justru mengompori.
"Baiklah. Kita mainkan itu. Kalian sudah menentukan perannya?"
"Aku! Aku mau jadi pemilik coffee shop!" seru Kousuke penuh antusiasme. Ketika Oda mengangguk, sebaliknya Yuu menggeleng cepat. Di lantai dua mereka sudah berdiskusi. Masa dia lupa peran bos tak berguna di permainan ini?
"Masa nanti kamu diem doang? Curang, dong."
"Nanti aku yang memerintah kamu sama Sakura buat bikin kopi. Pemilik coffee shop itu peran berguna, tau!" Pertengkaran ronde dua antar Yuu dan Kousuke, diikuti Sakura yang tidak terima disuruh-suruh Kousuke kian memperparah atmosfer. Lagi-lagi Katsumi menyulut api. Sementara sebisa mungkin Shinji membujuk Katsumi supaya membantunya.
"Bagaimana kalau Kousuke selaku pemiliknya menjelaskan soal coffee shop -mu?"
"Ide bagus, Oda. Kalian udah gak punya alasan buat nolak, kan?" Hening berarti setuju. Karena pelanggan adalah raja, mereka setuju-setuju saja walaupun Yuu masih jengkel.
"Sakura sama Yuu jadi bartender. Bagaimana dengan Shinji sama Katsumi? Sudah kepikiran?"
"Uhmm … itu …. a-aku mau jadi doorman." Yang bertuga membuka pintu, ya? Mendengar ide konyol Shinji sekali lagi tawa Kousuke meledak. Kali ini Sakura berinisiatif mencubit lengannya–pelan namun sedap membikin Kousuke memekik kesakitan.
"Jadi pelayan aja bareng aku."
"E-enggak bisa, Katsumi. A-aku …. aku malu."
"Kita, kan, melayani Oda-san. Makanya Shinji-kun enggak perlu malu." Cerah paras Sakura membuat Shinji mula-mula menggaruk pipinya. Katsumi tahu-tahu mendekatkan wajahnya pada Shinji. Memasang pose berpikir ala detektif, kemudian mengangguk-angguk seolah-olah kasus terpecahkan.
"Tukeran aja kalo gitu. Yuu jadi doorman, Shinji sama Sakura bareng-bareng jadi bartender."
"Lho? Kok aku dibuang?" Usulan absurd dari Katsumi jelas-jelas Yuu tolak. Tawa Oda benar-benar mengudara sekarang. Satu per satu kepala mereka ia elus, yang walaupun menimbulkan keheranan tetapi cenderung menyenangkan hati, sehingga diabaikan saja.
"Kalau Shinji mau jadi doorman enggak apa-apa, kok. Berarti kita mulai dari depan rumah, ya."
"Tunggu apa lagi?! Ayo siap-siap di posisi masing-masing."
Secara tidak langsung, kelihatannya Kousuke sudah betul-betul menjadi pemilik coffee shop, menilik anak-anak lain spontan mengikuti arahan bocah pecinta kacamata itu. Shinji berdiri di samping pintu, dan Oda mengambil jarak yang lumayan jauh. Biru langit tampak menawan siang ini. Biasanya di halaman mereka berlima kompak bermain bisbol, kemudian diam-diam Oda membawakan ayam goreng yang dimakan bersama-sama di atas rerumputan.
"Oda …. san?" panggil Shinji lirih. Pemuda 23 tahun itu berhenti memandangi langit. Berjalan mendekati Shinji yang terlihat gugup untuk mengucapkan kalimat pertamanya.
"Ira-Irasshaimase! Hari ini Go no Kafe sedang grand opening."
"Namanya Go no Cafe, ya? Bagus." Karena didirikan oleh Kousuke, Yuu, Shinji, Sakura, dan Katsumi, bukan? Pintu perlahan-lahan dibuka. Senyuman-senyuman riang langsung menyambut Oda yang juga tersenyum tipis. Katsumi mengajak Shinji masuk, dan mereka bersama-sama mengantar Oda ke tempat duduk.
"Ini menu-nya. Buat green opening kami punya sesuatu yang spesial."
"Grand opening, Katsumi." Bisikan yang terlalu pelan itu membuat Katsumi melongo. Maunya tentu menyuruh Shinji mengeraskan suara. Namun, jika demikian nanti sandiwara mereka ketahuan, dong.
"Intinya adalah keputusanmu buat dateng ke grass opening kami sangat tepat!" Sebutan yang melanturnya menjadi-jadi itu ujung-ujungnya mengundang mereka tertawa, kecuali Katsumi. Asli. Dia tidak paham mengapa teman-temannya, bahkan Oda tertawa. Tetapi, karena buku berkata banyak berpikir membuat rambut beruban, jadilah Katsumi ikut saja.
Menu yang dicantumkan di selembar HVS hijau daun yang dihias memakai gambar-gambar, lantas ditulis menggunakan krayon itu hanya menyajikan dua pilihan, yakni uiro dan es kopi. Oda langsung memesannya pada Katsumi yang sigap mencatat di selembar memo. Ketika mendadak Shinji disuruh menyerahkan pesanannya pada Sakura serta Yuu yang bersiap-siap, datanglah Kousuke dengan mengenakan kacamata biru tua yang biasa digantungkannya di atas kepala.
"Gimana gren opening kita hari ini?" Ah. Samanya kayak Katsumi yang salah sebut. Yuu sempat cekikikan, tetapi langsung dipelototi oleh Kousuke yang di belakang punggungnya aura hitam menguar.
"Kita dapet pelanggan pertama." Mendengar jawaban Sakura, sang pemilik coffee shop mengangguk paham. Kemudian ia duduk di samping Oda. Tangannya terulur mengajak pelanggan pertama mereka bersalaman.
"Maaf, Tuan Pemilik. Ingat social distancing. Salah satunya dilarang berjabat tangan."
"Ta-tau, kok! Tadi tanganku kepeleset aja." Terkutulah COVID-19 yang membuat Kousuke juga terpaksa, menyisakan satu kursi kosong di tengah-tengah–mereka sedang bermain peran, jadi mau bagaimana lagi. Sejenak ia berdeham. Segelas es kopi disuguhkan Shinji, dan bagian Katsumi adalah sepiring uiro.
"Kenapa kalian memilih uiro dan es kopi sebagai menu andalan?"
"Itu enggak ada di naskah!" batin Kousuke terkejut. Matanya melirik ke sana kemari berusaha mencari pertolongan. Namun, semua juga bingung di mana mereka kompak mengidikkan bahu.
"Hmmm … itu karena, ya …. hanya ada uiro di kulkas. Juru masak utama kami lagi tidur." Maksudnya yaitu pemilik lestoran, jelas. Oda mengangguk-angguk memahami maksud Kousuke. Memotong uiro yang tersaji menggunakan garpu, lantas memasukkannya ke dalam mulut.
"Soal es kopinya bagaimana?"
"Hehe …. kami memilih es kopi sebagai menu andalan juga, karena seseorang mengajari kami enggak boleh main-main sama air panas, masih kecil soalnya. Jadilah bikin es kopi aja. Lagian enak, kok, apa lagi cuacanya panas gini." Kousuke merasa keren. Bagaimanapun juga ia berhasil menjadi pemilik coffee shop yang baik, bukan?
"Siapa yang mengajari kalian itu?"
"Dia seseorang yang baik, dan selalu melindungi kami. Dia bekerja sebagai mafia, tapi enggak kayak mafia kebanyakan. Orang itu gak pernah membunuh, kata Dazai-nii. Meski kata Dazai-nii dia orangnya aneh, buat kami dia adalah yang terkeren!"
Siapa menyangka Dazai pernah berinteraksi dengan Katsumi, begitu pun anak-anak lain yang tampak mengetahui fakta tersebut. Gerakannya saat melahap uiro lebih pelan, seakan-akan Oda betulan menjadi pelanggan yang tidak ingin buru-buru minggat, usai menghabiskan pesanannya, karena ingin mendengarkan cerita tentang orang-orang di coffee shop ini.
"Karena insiden dua tahun lalu, kami berlima jadi yatim piatu. Setelah menemukan kami, dia membawa kami ke tempat ini buat dirawat sama pemilik lestoran. Buatku dia itu kayak ayah yang perhatian, sedangkan pemilik lestoran jadi kakek yang menyenangkan."
Boneka beruang kesayangannya Sakura perlihatkan pada Oda yang sedikit tersentak. Kurva pada bibirnya lebar–cantik sekali seperti kawah komet di majalah petulangan.
"Boneka beruang ini dibelikan sama dia, lho. Lucu banget, kan?"
"Ya. Lucu." Entah mengapa suara Oda seperti serak. Mungkin karena uiro yang lengket, sehingga ia langsung meneguk es kopinya.
"Selain itu dia kuattt … banget! Kami berlima bisa dikalahkan dengan mudah. Cuma, ya, mana mungkin kami nyerah gitu aja? Kalo kami lebih dewasa nanti, suatu hari nanti dia pasti mengakui kemenangan kami!"
Saking semangatnya Kousuke sampai-sampai menunjukkan otot lengannya yang tidak berisi sama sekali. Mereka berempat, kecuali Oda, tertawa renyah akan tingkah Kousuke yang lucu. Sekarang ini pandangan Oda berangsur mengabur. Sepasang matanya panas, oleh perasaan tak terdefinisi yang tengah mencari eksistensinya pada dunia kecil milik Oda.
"Buatku … dia orang yang pemberani. Suaranya lantang, tapi lembut di waktu bersamaan. Suatu hari nanti aku tetap mau menjadi seperti dia, meski dia bilang jangan menjadi seperti dia."
"Kira-kira apa alasanmu yang ingin menjadi seperti dia?" Uiro yang tersisa separuh Oda biarkan begitu saja. Walaupun tadi Kousuke mengejek Shinji, ia tetap menyemangati sahabat pemalunya ini agar menyelesaikan kata-kata yang sangat keren itu.
"Cuma dia yang paling pemberani, dan baik hati buatku. Te-tentu aja aku juga enggak akan jadi mafia. Tapi … tapi harusnya dia jangan bilang kayak gitu, karena dia sangat pantas dijadikan inspirasi."
Orang sepertinya yang bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah atau beberapa kata, untuk membalas kebaikan mereka? Warna-warni ini kian menyesakkannya, dan sakit, meskipun Oda tetap bertahan demi yang tak kasatmata. Di dalam matanya ia mencari–bahwa seperih atau sesulit apa pun itu, Oda pasti menamai perasaan yang membuat Kousuke, Shinji, Yuu, Sakura, serta Katsumi menjadi lebih jauh namun dekat.
"Kalo menurutku dia orangnya sibuk banget. Padahal aku mau main PS bareng dia. Tapi pasti kesampaian. Soalnya aku udah mengikuti kata dia buat memohon sama bintang jatuh, dan aku percaya banget sama dia."
Melindungi mereka, ayah yang perhatian, kuat, bersuara lantang sekaligus lembut, dan dapat dipercaya. Segala-galanya mendadak pepet dalam detik yang bergulir lambat; tentang kenakalan Kousuke, sifat malu-malu Shinji, maniak bisbol yakni Katsumi, betapa baik hatinya Sakura, serta Yuu yang walaupun terkesan cuek ia perhatian. Kini panas di matanya merekah sempurna. Hujan pun mekar tanpa dimengerti siapa pun, akan tetapi sangat melukai melihatnya menetes.
"Kenapa? Kenapa menangis?" tanya Sakura yang buru-buru menghampiri Oda. Es kopinya mendadak pahit, dan semakin tak mengenakkan kala Yuu, Shinji, Katsumi, dan Kousuke mengelilingi Oda–memberikannya pelukan paling besar di semesta.
"Apa benar dia melindungi kalian selama ini? Orangnya kuat? Perhatian? Lantang namun lembut? Juga dapat dipercaya?"
"Mana … mana mungkin kami berbohong coba?! Dia orang yang berharga buat kami. Makanya … makanya kami enggak akan berbohong sama dia!" Bahkan Kousuke terang-terangan menangis siang ini, diikuti anak-anak lain termasuk Yuu yang cenderung menyembunyikannya. Oda kemudian memeluk mereka. Menemukan hanya untuk semakin kehilangan yang kian menjatuhkannya.
"Malah sebaliknya, kami yang harus minta maaf sama dia."
"Hiks … hiks ... Sakura benar. Soalnya kami … selama ini dia melindungi kami, tapi kami …" Shinji terisak-isak. Ternyata sangat sakit, ketika ia mengeluarkan air mata yang tidak seharusnya ada, tetapi sangat nyata seakan-akan kesedihan juga ada entah di mana.
"Kami enggak bisa melindungi dia, dan malah bikin dia menderita." Yuu menggigit bibir. Andai mereka dewasa lebih cepat, pasti beban tersebut bisa dibagi-bagi agar meringankan dada.
"Gak perlu main bisbol, masak-masakan, PS, makan ayam goreng, atau melihat kembang api di musim panas. Kami cuma mau dia bebas. KAMI ENGGAK MAU DIA MENDERITA LAGI GARA-GARA BERUSAHA MELINDUNGI KAMI, DAN BERPIKIR KALO DIA GAGAL!" Bahu Katsumi ditepuk oleh Kousuke. Meskipun hidungnya meler, dan mata tampak sembab, Kousuke tetap tersenyum lebar sembari membentuk V menggunakan jarinya.
"Sekarang giliran kami yang melindunginya. Kamu, enggak penasaran nama dia siapa?"
"Namanya …. siapa?"
"Oda Sakunosuke. Kami akan melindungi dia, melindungimu supaya kau tidak menangis seperti ini lagi. Semoga es kopi sama uiro-nya cukup, ya, untuk memaafkan kami." Tangan mungil Kousuke mengelus lembut rambut Oda. Mereka juga menyusul, dan sebelum Oda sempat memberitahu, tubuh anak-anak itu telanjur menjadi transparan.
"Kousuke? Shinji? Sakura? Yuu? Katsumi?!"
Maafkan kami biar Oda-san berhenti menderita, dan kami bisa melindungimu, ya?
Lalu gelap seolah-olah Oda menutup mata, dan ia memang melakukannya membuat bayang-bayang kelima anak itu lenyap. Saat ia kembali sadar mereka tidak ada. Namun, sepiring uiro serta segelas es kopi benar-benar hadir, yang sudah Oda habiskan setengah. Laptopnya menyala di samping. Majalah yang menampilkan halaman coffee shop menjadi alas tidur Oda, kemudian tampak menjatuhkan selembar kertas yang mendarat di atas pualam.
Bentar lagi aku bakal jadi dewasa, karena bisa minum kopi!
-Kousuke-
Aku mau makan kue stroberi yang stroberinya besar-besar.
-Sakura-
Apa pun yang Oda-san belikan akan kumakan dengan senang.
-Shinji-
Habis ke cofi sop kita ke lapangan main bisbol.
-Katsumi-
Selain makan kue sama minum mocchiato aku mau lihat-lihat game.
-Yuu-
"Iya, ya. Kami berjanji akan pergi ke coffee shop ini, di tinggal delapan April."
Kalender pada laptop Oda cek, dan menunjukkan tanggal delapan April yang jatuh di hari Rabu. Sekali lagi Oda memejamkan mata hendak menjemput mereka. Namun, hanya gelap yang ada di mana-mana, dan kelima senyuman warna-warni itu semu sekali. Tanpa sadar Oda kembali menangis–sangat bisu, tetapi air matanya dipenuhi kata-kata yang berdesak-desakan–berlomba-lomba agar tersampaikan.
Setidaknya biarkan Oda memulangkan perasaan bernama rindu ini kepada mereka, agar baik itu Kousuke, Katsumi, Yuu, Shinji, dan Sakura mengetahui, bahwa Oda sangat kangen terhadap anak-anaknya, juga ia menyukai coffee shop dalam bayangan yang tak gelap tersebut.
"Kalian tidak perlu minta maaf. Aku tidak pernah menderita karena mengingat kalian, dan semua tentang kalian justru melindungiku selama ini."
Setelah wabah ini berakhir, Oda juga akan pulang menemui mereka, dan berkumpul lagi sebagai keluarga.
Tamat.
A/N: Ada pepatah ngomong, "Don't judge book by this cover", cuma kalo ga liat penampilan anak2 oda di eps 3 BSD S2, aku gak akan bisa bikin apa-apa karena mereka berlima gak ada di wiki. bisa dibilang request, "oda interaksi ama anak2nya" termasuk request yang sulit, dan untung aku bisa menyelesaikan ini di hari ini. rasanya jelas puas banget soalnya baru pernah bikin, dan kurasa ini baru pernah ada ya di fic indo? biasanya kan odazai atau oda ama yang lain.
Sekali lagi, baik itu sifat yuu, kousuke, shinji, sakura, sama katsumi cuma bayangan aku semata. sifat canon mereka aku yakin cuma asagiri-sensei yang tau. di sini aku berpikir kalo kousuke itu anaknya bandel (dia yang pertama kali langsung nyerang oda, bandel kan), katsumi rada-rada bego kang kompor (wajahnya tengil dan anak maen bisbol biasanya rada pekok), sakura anak baik yang manis (ya jelas dia perempuan), shinji itu pemalu (soalnya pas oda flashback tentang ni anak, shinji kayak berusaha menyembunyikan wajah dia di balik buku), sedangkan yuu suka maen game dan aku gambarin dia rada kalem cuek tapi sebenernya ya ... dia perhatian juga sama sesuatu tentang diri dia, dan orang lain (entahlah, aku juga bingung kenapa bisa interpretasi ni anak kek gini).
Semoga kalian suka bayanganku ini yang bener2 make opini pribadi. thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. sekali lagi kuucapkan hbd buat vira. semoga gak mengecewakan ya~ btw latar yang diambil itu abis anak2 oda mati, tapi abis itu malah covid-19 yang jadinya oda batal dulu bunuh gide nya.
