Jaehyun 3 Winwin
Hanya seputar kehidupan rumahtangga Jaewin 3
--
Summary: Winwin itu masabodoan, gak mau cape, gak mau ribet dan gak mau mikir. Jaehyun tuh banyak maunya, mau ini mau itu dan semuanya harus serba sempurna. Tapi mereka cocok, karena meskipun si suami bossy tapi kan si istri gampang dikadalin. Jadinya hubungan mereka ya gitu deh. HHHAHAHAAHHAHAHA
Jaehyun ke Winwin: "hari minggu nanti aku mau kamu masak blablablabla. Abis itu, nanti kita bakalan blablablabla. Pokoknya kamu harus blablablabla."
Winwin ke Jaehyun: "aku mau santai! Kamu aja sendiri!"
(Bahasa santai tapi semi baku)
••••••
Our Home
••••••
Jaehyun pulang ke rumah setelah dari pagi sampai sore kerja banting tulang dan peras otak. Maunya sih langsung disambut muka penuh senyum istrinya, dibawain tasnya, dibukain jasnya dan dicium pipinya.
Yah persis seperti adegan di drama-drama pasangan bahagia. Tapi Jaehyun kenal istrinya sudah cukup lama untuk tahu perangainya.
"Wiiinn, oppa pulang nih." Jaehyun berucap dengan suara besar sambil menaruh sepatunya di rak, menggantinya dengan sendal kucing berbulu lalu mulai memasuki rumah mereka.
Winwin biasa saja dengan kepulangan suaminya, ia sedang tangkurap bermain ponsel di atas sofa panjang dengan televisi menyala yang tidak ditonton. Main ponsel tapi chat Jaehyun tidak ada yang dibalas dan teleponnya tidak ada yang diangkat.
Jaehyun geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya. Yang model begini minta anak? Duh tidak tega Jaehyun kepada anak mereka nantinya.
"Win, kamu masih marah sama oppa?" Tanya Jaehyun lagi sambil menahan tawa, pasalnya mereka sama-sama laki-laki dan umur mereka pun sama. Jadi wajar Winwin selalu benci kalau mendengar kosakata oppa dari mulut Jaehyun. Tapi karena sekarang Winwin sedang dalam mode mogok bicara, istrinya itu tidak bisa protes.
Masih tidak mendapat jawaban, Jaehyun menaruh tas kerjanya di lantai lalu berjongkok untuk mendekatkan wajah mereka. Ia menengok untuk melihat apa yang ada di layar ponsel Winwin, yang ternyata adalah obrolan grupchat.
"Ngobrolin apa sih? Seru betul. Oppa-nya pulang masa dicuekin?" Goda Jaehyun lagi sambil menutup layar ponsel Winwin dengan telapak tangan besarnya.
Winwin menyingkirkan tangan Jaehyun namun gagal. Ia berusaha lagi namun gagal lagi. Akhirnya ia menatap sinis pada Jaehyun yang dibalas cengiran lebar. "Masa oppa kalah sama handphone?"
Winwin melempar pandangan membunuh kepada Jaehyun lalu bangun dan pergi meninggalkan suami beserta ponselnya di ruang tengah. Masuk ke kamar mereka dengan membanting pintu kasar.
Si suami tertawa kencang, dia tidak takut atau panik sedikit pun dengan tingkah galak istrinya. "Winwin-aahhh, tunggu oppa di kamar kita yah. Jangan tidur dulu, sayang" ucapnya dengan suara besar agar terdengar si istri yang sedang merajuk itu.
Kemudian Jaehyun melepas dasi dan sabuk di celananya lalu menaruh kedua barang tersebut di sembarang tempat. Setelah mencuci tangan di wastafel, ia langsung pergi ke meja makan untuk mengecek makan malam. Pasti mejanya kosong melongpong.
Jaehyun sudah siap untuk memasak makan malamnya dan Winwin, istrinya itu sedang bahagia saja malas apalagi saat sedang marah. Ia memang berencana memasak makanan enak untuk membujuk Winwin supaya berbaikan.
Tapi mata Jaehyun terbelalak dan alisnya berkerut saat melihat apa yang ada di meja makan. Ia dikagetkan dengan penampakan beberapa lauk matang siap makan. Tidak mungkin Winwin. Dengan cepat Jaehyun mencicipinya dan ternyata enak. Terbukti bukan Winwin.
"Winwiiiiiiiinnn." Teriak Jaehyun sambil berjalan ke kamar mereka. Ia membuka pintu kamar dan disuguhi istrinya yang sedang bermain laptop di atas kasur.
"Win, itu makanan dari mana?" Tanya Jaehyun serius. Tentu saja yang ditanya diam, kan masih mogok bicara.
Jaehyun memutar mata malas, namun akhirnya ia memilih mengalah dan menghadapi Winwin dengan penuh kesabaran. Ia mengambil duduk di pinggiran ranjang lalu memegang pergelangan kaki Winwin dan mulai memijat.
Dimana lagi ada suami seperti Jaehyun? Pulang kerja tidak disambut, langsung menuju dapur untuk memasak walaupun ternyata malam ini sudah ada makanan, sekarang memijiti kaki istrinya.
"Sayang.." ucap Jaehyun lembut. "..Jaehyun-ah merindukan suara Winwin-ie." Jaehyun tersenyum namun tangannya memijat telapak kaki Winwin dengan tenaga maksimal.
"Akh!" Ringis Winwin yang kesakitan.
Senyum Jaehyun lama-lama berubah menjadi seringaian, berkali-kali ia menekan titik sakit Winwin dengan ibu jarinya. Makin senang dengan istrinya yang terus berteriak dan memberontak.
"Aaaaa lepas!"
"Ini pijat refleksi Win, bagus untuk tubuhmu."
"Aaaaaahhh.."
"Hsstt! Diam! Kasihan tubuhmu itu tidak pernah dibawa bergerak dan olahraga."
"Sakit sakit sakit!"
"Berarti di situ titik penyakitnya."
Jaehyun tertawa setan, terus-menerus memberi pijatan hingga Winwin lelah, rambut dan bajunya berantakan karena terus memberontak, wajahnya merah dan berkeringat, nafaspun terengah-engah. Seksi.
Akhirnya Jaehyun menghentikan pijatan kasarnya, ia kembali memijati Winwin dengan pijatan lembut. "Masih berani mendiami oppa?" Tanya Jaehyun dengan senyum manis.
"Apa sih maumu?!" Bentak Winwin yang merasa sangat kesal.
"Oppa hanya merindukan suara istri oppa. Seharian Winwinie tidak mengangkat telepon oppa. Sekarang oppa pulang Winwinnie juga mengabaikan oppa. Oppa harus bagaimana?"
Winwin menjulurkan tangan ke wajah Jaehyun dan mencubit bibir suaminya itu. Sudah tidak tahan lagi. "Oppa oppa oppa! Sekali lagi aku mendengar kata itu keluar dari mulutmu, aku patahkan koleksi piringan hitam yang langka itu!"
Jaehyun mengusap bibirnya yang habis dipelintir. "Yak! Jangan membawa-bawa koleksiku ke dalam obrolan ini. Kamu duluan yang mendiamkan aku."
Winwin mendecih. "Kamu datang-datang langsung mengucapkan Oppa. Sudah tahu aku paling benci dengan sebutan itu!"
"Memang itu tujuanku. Aku ingin kamu kesal jadinya kamu mau bicara lagi denganku!"
"Kenapa kamu bisa sampai berpikir kalau aku tidak mau bicara lagi dengan suamiku sendiri?!"
Jaehyun membuang nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang lalu memejamkan mata. Lelah berteriak, kali ini ia menurunkan intonasi suaranya. "Ya kamu kan pasti masih marah karena semalam aku menolak untuk mempunyai anak. Jangan menyangkal! Aku bukan tidak mau tapi aku rasa kita belum siap."
Wajah Winwin yang semula galak perlahan menjadi murung. Ia menyingkirkan laptop dan memeluk Jaehyun, menaruh pipinya di dada sang suami hingga dapat ia dengar dengan jelas detak jantung kesayangannya.
Satu tangan Jaehyun gunakan untuk mengusapi punggung Winwin dan satu tangan lagi untuk bermain dengan rambutnya. "Win, anak itu tanggungjawab yang sangat besar. Bukan hanya sekedar memberi makan dan memakaikan baju, tapi menyayangi, mendidik, merawat, melindungi, membimbing. Kamu sanggup? Jujur, aku tidak sanggup. Belum. Yah kecuali kita mau mengadopsi anak usia 20 tahun ya tidak masalah, keuangan kita cukup kok untuk membiayai kuliahnya."
"Aku sudah tidak menginginkan anak." Jawab Winwin singkat.
"Belum." Koreksi Jaehyun. Hey Jaehyun sangat ingin punya anak dengan Winwin. Tapi tidak sekarang.
"Tidak. Aku tidak mau." Balas Winwin dengan tegas.
Jaehyun memutar mata dengan malas. "kemarin malam memaksa ingin punya anak, malam ini bilang tidak mau. Kenapa memangnya?"
Kini giliran Winwin membuang nafas panjang. "Mereka merepotkan, berisik dan hanya membuat kotor. Makanan yang ada di meja itu adalah pemberian tetangga baru kita karena aku menjaga dua anaknya. Kakaknya berusia 4 dan adiknya 2 tahun kurang, ya ampun kamu tidak tahu seberapa melelahkannya menjaga mereka Jaehyun!"
Jaehyun tersenyum sendiri membayangkan Winwin yang kerepotan menjaga dua anak kecil itu. "Harusnya kamu rekam supaya aku dapat melihat bagaimana caramu menjaga mereka. Itu hanya dua lho! Semalam kamu bilang ingin anak kembar tiga."
"Merekam apanya?! Aku bahkan tidak bisa duduk santai untuk sekedar memegang ponsel! Aku juga tidak mau wajah dua anak setan itu ada di galeri ponselku!"
Jaehyun langsung menampar bokong berisi Winwin saat istrinya itu berkata kasar. "Dong Sicheng!"
Winwin yang sadar akan kesalahannya pun menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jaehyun. "Maaf Jaehyun, tapi aku serius kalau mereka itu sangat nakal dan menyebalkan."
"Namanya juga anak kecil, Winwin." Ucap Jaehyun malas bercampur dengan sabar. Tapi untunglah masalah ini selesai tanpa Jaehyun harus mengurusnya.
*bersambung*
krisyeol pisah
lubaek pisah
jaewin pisah
noren ?????
kapal yang aku ship kenapa mesti yang beda negara sih? jadi pisah semua deh.
padahal kemistri dan ikatan hati jaewin tuh kuat banget kayaknya. kayaknya sih, gk tau amat aslinya gimana :'( :'(
