Protagonist
Jyuto x Gentaro, Jyuto x Doppo, Hifumi x Doppo
©King Records, IDEA FACTORY, Otomate. Saya hanya meminjam karakternya.
Warning! Ini hanya fiksi. BL.
Ini adalah side-story dari FF HOME. Jadi silakan baca ff sebelumnya agar mengerti ^^
Enjoy^^
000
"Sekarang, apalagi?" tutur kata yang mengawali percakapan sepasang manusia yang sedang tatap muka.
Sedetik kemudian mulut itu terkunci. Siang yang hangat, awan terus bergerak maju menuju utara. Pandangan tidak lari, lurus siap mengungkapkan sesuatu. Iruma Jyuto tengah duduk di kap mobil hitam miliknya. Tubuhnya tegak, tidak sesantai seorang laki-laki di depannya.
"Apa kabar Iruma-san?" tanya Yumeno Gentaro seraya mengancingkan ujung kemeja yang sedikit terlalu besar.
Jyuto ingin memutar kedua bola mata, namun sanggup ditahan. "Langsung saja." Menepis semua basa-basi yang hendak keluar dari bibir tipis Gentaro.
Pria itu tertawa kecil, mengingat mereka sudah bertemu selama 3 bulan, dua minggu sekali, selalu di hari Rabu. Lebih tepatnya Gentaro selalu memiliki alur untuk bertemu dengan Polisi Yokohama ini.
Rahang Jyuto mengencang ketika ingat waktu, tenaga, dan materi yang dia keluarkan selama perjalanan menuju Shibuya. Sekarang Yumeno Gentaro menyambutnya seakan tidak tahu apa-apa, mungkin menutup mata untuk tidak ingin tahu.
Belum lama, kembali ke tiga bulan lalu, Gentaro berkunjung ke Yokohama. Alasannya hanya mencari ide untuk tulisan baru, referensi, tempat, sosok, dan objek yang menarik.
Kemudian tiba-tiba terdengar alunan sirene mobil polisi dari jauh. Mulanya Gentaro tidak peduli, ia terus menulis objek yang belum berpindah. Sampai akhirnya bahunya dicengkram cukup kuat; ketika ia berbalik, seorang polisi berkacamata tengah tersenyum penuh kemenangan. Tangan kirinya sudah terborgol rapi tanpa sepengetahuan dirinya maupun orang lain.
Butuh setidaknya 2 minggu untuk Gentaro beradaptasi dengan dinginnya jeruji besi. Kesialan yang sungguh konyol. Dua minggu berlalu dan ia bisa kembali menghirup udara segar. Gentaro menjadi korban salah tangkap, maksudku dengan penampilan terbalut jubah cukup membuat curiga polisi bernama Iruma Jyuto. Ia pikir Gentaro adalah targetnya, seorang penipu yang sudah memakan korban dari berbagai lapisan masyarakat; pelaku sudah mendapatkan keuntungan berlipat, begitu kata data. Akan tetapi senyum kemenangan Jyuto berubah menjadi kerutan dahi. Mulutnya terkunci ketika salah seorang anak buah menyajikan sosok tersangka yang sesungguhnya.
Di sanalah Gentaro mulai tersenyum kemenangan.
"Iruma-san apa kau susah tidur akhir-akhir ini?" raut wajah menjadi cemas, alisnya menaut. Telapak tangan yang menyentuh dada menambah kesan drama. Jyuto sontak mendengus kesal.
"Yumeno, aku tidak ada waktu. Cepat katakan!" nada hentak yang tertahan. Jyuto tahu dia hanya dikerjai oleh laki-laki berusia terpaut 5 tahun lebih muda ini.
Jyuto juga tahu bahwa ia sangat bodoh hingga mau bertemu dengan Gentaro sampai detik ini. Karena masih terbayang rasa 'tidak enak', atau karena sebagai tanda 'maaf', awalnya satu dua kali Jyuto meladeni. Lama kelamaan ia terjebak dengan seorang penulis bernama Yumeno Gentaro. Dia hanya memanfaatkan keadaan, mungkin memanfaatkan Jyuto juga.
Jyuto buru-buru mengganti seragam polisi menjadi kemeja hitam yang sangat pas di badan. Benar kata Gentaro, ia memang kurang tidur beberapa hari ini, belum lagi harus mengurus ulang kebakaran yang telah melahap 3 bangunan yang belum lama terjadi. Udara hangat, namun ia merasa sangat sejuk. Membuatnya merinding beberapa saat.
"Ada peralatan yang harus kubeli.." katanya. Jyuto hanya diam, sibuk menyusun kata-kata untuk mengakhiri pertemuannya. Pokoknya hari ini adalah hari terakhir berurusan dengan Gentaro.
"Masuk.."
000
Ini kedua kalinya Jyuto mengunjungi sebuah tempat peralatan menulis dan buku kuno. Daerahnya cukup tersembunyi, mereka harus berjalan kaki. Jyuto bersandar dengan tangan kanan, ia sedikit lelah. Sementara Gentaro masih menaruh punggung tangan di bawah dagu, menerka mana tinta yang akan dia pilih. Sempat Jyuto bertanya, mengapa dia masih gemar menulis secara manual di zaman teknologi yang sudah maju? Jawabannya singkat, rahasia.
"Iruma-san, resleting celanamu terbuka…" tegur Gentaro dengan nada panik. Jyuto terkesiap, buru-buru menyetuh celana. Ia mendapati resletingnya tertutup sangat rapi sejak pagi. Jyuto berdecak kesal, menarik tangan dari daerah privasi sebelum ada yang melihat.
Uso desu yo, ucapnya dalam hati.
Kaki pria berkacamata itu bergerak mendekati Gentaro yang berjalan mengarah pada tumpukan jenis kertas.
"Sialan." Umpatnya.
Setelah merasa cukup, mereka kembali menuju mobil karena tidak ingin membuang banyak waktu. Jalanan sepi, hanya satu dua orang melintas. Jyuto diam sambil berpikir tentang topik pembicaraan agar memecah kecanggungan yang tengah berlangsung. Bisa saja ia memilih untuk merokok, sayangnya hanya tinggal 1 batang saja, itu pun disimpan untuk perjalanan ke Yokohama.
"Cerita apa yang sedang kau tulis?" tanya Jyuto mengimbangi langkah Gentaro.
"Tentang seseorang yang diberi keajaiban…" jawabanya singkat tanpa memandang lawan bicara.
"Hmm.." Jyuto mengangguk kecil.
"Sepertinya kau tidak tertarik.."
"Ya, aku benci cerita yang tidak masuk akal." Jyuto dapat mendengar tawa Gentaro, kedua mata itu lalu memandang ke arah pemilik tawa.
"Iruma-san, semua cerita itu perlu imajinasi. Sekali pun kisah nyata." Jelas Gentaro tanpa ekspresi.
"Maksudku, cerita tentang protagonis yang selalu menang. Terlalu gampang untuk mendapatkan apa yang dia mau, kenyataannya tidak begitu kan?" sahut Jyuto sadar telah sampai tempat di mana mobilnya terparkir.
"Kenapa semua orang senang dengan kebohongan bodoh yang sengaja dibuat.. aku tidak mengerti.." kekehan angkuh mengakhiri kalimat tersebut. Tanpa disadari Gentaro menaruh pandangannya kepada pria berusia 29 tahun ini.
Ia tersenyum kecil, "Kau harus lebih banyak membaca, Iruma-san.."
"Begitu?" Jyuto menyipitkan mata. Astaga sejak waktu itu Jyuto sulit untuk mengartikan segala bentuk gestur yang dimiliki Gentaro. Ia tersenyum, namun Jyuto merasakan hal lain. Ekspresi itu bukanlah ekspresi yang sesungguhnya.
"Ya. Lebih baik kita cepat.. besok naskahku harus dikirim."
"Ngomong-ngomong…"
Nada Jyuto menjadi serius, terasa dingin. "Aku ingin berhenti."
"Dari polisi?"
Jyuto kembali berdecak, "Bukan bodoh. Hari ini, hari terakhir untuk semua omong kosong ini. Aku ada pekerjaan yang lebih penting.." mesin mulai dinyalakan. Mobil melaju dalam kecepatan sedang.
"Kalau ingin berhenti kenapa kau tidak menolaknya dulu?" tanya Gentaro memasang sabuk pengaman.
"Aku hanya ingin minta maaf, dan aku pikir ini sudah cukup." Jyuto fokus pada jalanan.
"Setidaknya sampai matahari tenggelam, Iruma-san.." Jyuto mengiyakan kalimat tersebut sebagai permintaan terakhir Gentaro.
000
Yumeno Gentaro adalah manusia yang beruntung. Ia dirawat oleh tangan-tangan renta yang masih hangat. Semasa sekolah tidak semulus yang dibayangkan. Tangan renta hangat itu menjadi senjata untuk menyerangnya. Cacian adalah makanan sehari-hari namun bukan berarti tak ada seorang pun yang peduli. Gentaro punya seorang teman, yang tidak seberuntung dirinya.
Akan mengucap syukur jikalau temannya masih bisa membuka mata. Saat itulah Gentaro akan membuka buku, membaca kalimat-kalimat yang disusun ketika waktu istirahat, mata pelajaran membosankan, atau perjalanan pulang. Ia pendengar yang baik, walau butuh tenaga lebih untuk tertawa.
Ada suatu saat ketika ia lupa untuk menulis cerita selanjutnya. Kemudian, Gentaro memintanya untuk menutup mata. Sebuah kelebihan Gentaro untuk menyusun kalimat-kalimat menenangkan dari mulutnya. Temannya tidak tahu jika Gentaro hanya membaca kertas kosong, dan ia akan gugup ketika disuruh mengulang cerita.
Kebohongan adalah hal kecil, pikirnya. Gentaro menyisipkan kebohongan bukan sebagai tameng. Dia bukanlah mythomania. Berbohong demi orang lain, memang terdengar tidak masuk akal.
"Yumeno-kun, jangan melamun di mobilku…" teguran Jyuto membawa Gentaro ke dunia nyata.
"Aku tidak akan lama…" katanya sambil membuka pintu. Gentaro berjalan cepat menyebrangi jalan, kemudian menghilang.
Jyuto mulai menunggu. Rasa nyeri menyerangnya tepat di belakang kepala. Tidak menduga bahwa kecelakaan 7 tahun lalu –yang akhirnya membuat dia dan Samatoki menjadi dekat- masih menyisakan trauma. Hal tersebut menjadi lebih buruk karena keadaan tubuhnya yang jauh dari kata baik-baik saja. Berkali-kali menjaga kesadaran, matanya terasa berat dan berair, nafasnya juga mulai berat. Jyuto mengira otaknya kekurangan oksigen, lantas dia membuka kaca mobil, mencoba untuk santai.
Entah dia mendapat dorongan dari mana, mungkin termasuk dengan kekuatan intuisi, kedua mata Jyuto menangkap sosok yang sangat dia kenal. Sosok pria yang tidak sengaja melintas, dia berjalan sedikit membungkuk, tangan kanannya membawa belanjaan begitu banyak. Tangan kirinya sedang berkutat dengan ponsel, sesekali bibir tipisnya mengucap sesuatu yang tak terdengar telinga. Jantungnya sedikit berdebar, Jyuto merasa takut.
Sosok pria itu mulai menjauh. Jyuto tidak bisa menyebut ini kebodohan atau keberanian atas sikapnya yang memaksakan diri keluar mobil. Langkahnya begitu cepat demi menyusul pria berjaket abu-abu. Pria itu tidak sengaja menabrak orang lain, membuat semua barangnya terjun berhamburan. Lucky, pikir Jyuto. Dia ada kesempatan bisa membaur lebih cepat.
"Ah, maaf. Aku saja…" kata pria itu panik seraya mengambil barang-barang. Tangannya gemetar dan terlihat lebih kurus.
"Hati-hati, Doppo-kun." Kata Jyuto pelan.
Pria yang dipanggil Doppo itu tertegun, dia diam sejenak sambil memandangi Jyuto dengan seksama.
Dia tersenyum canggung, "Apa kita pernah bertemu?"
Pertanyaan itu menembus tulang rusuknya. Terasa ngilu sekaligus sakit. Kemudian keduanya berdiri, Jyuto tidak langsung menjawab. Ia sibuk memastikan tidak ada barang yang luput.
"Ya." Kepala Doppo bergerak, sibuk meneliti setiap garis wajah Jyuto. Dia memang tidak merasa asing, apalagi ketika Jyuto menarik senyumnya. Sialnya Doppo tidak menemukan sosok itu dalam ingatan.
Jyuto tertawa, "Maaf.." kata Doppo menundukkan kepala malu sambil mengusap rambut.
"Pasti berat.. iya 'kan?" Kata Jyuto masih memaksa senyum, namun sorot matanya mengisyaratkan sebuah kesedihan.
"Harusnya aku yang minta maaf." Katanya kemudian. Sudut bibirnya berkedut, rasa bersalah masih menghantuinya hingga detik ini. Sering ia tidak bisa tidur karena terus terbayang oleh Doppo berserta masa lalunya.
Doppo memandangnya heran, ada seorang pria berkacamata yang tiba-tiba meminta maaf kepadanya. Doppo yakin jika memiliki hubungan dengan pria itu, entah kapan dan di mana. Suasana hatinya terasa nyaman mendengar Jyuto berbicara, ada satu rekaman yang terbuka dalam otaknya tatkala memandangi wajahnya. Biasanya Doppo akan berkeringat dan gugup ketika bertemu dengan orang asing, tetapi kali ini berbeda, seakan mereka sudah kenal bertahun-tahun lamanya dan kembali dipertemukan oleh waktu.
Doppo membuka mulut, "Kita pasti pernah bertemu di suatu tempat." Tuturnya sangat yakin.
Alis Jyuto menaut, tatapannya menjadi iba. Rasa panas menyerang matanya, bibirnya sulit untuk terbuka menanggapi perkataan Doppo. Ah, ini lebih sakit dari yang ia kira.
"Ya, Doppo-kun.. kita pernah bertemu." Jawabnya setuju. Dia sangat gugup, terlihat dari caranya berdiri sambil menyembunyikan kedua tangan di saku celana.
"Siapa namamu? Mungkin dengan begitu aku bisa ingat." Kata Doppo sangat penasaran, baru kali ini ia merasa sangat akrab, seakan tidak ada sekat di antara mereka.
Jyuto mengambil nafas perlahan, siap menjawab dengan segala risiko yang akan terjadi.
"Jyu-"
"Doppocin, kau lama sekali…" sebuah suara muncul dari belakang tubuh Doppo. Seorang laki-laki berpostur tubuh lebih tinggi beberapa senti darinya, dengan warna rambut kuning menyala, seakan ingin menjadi pusat perhatian. Kedatangannya membuat Jyuto tidak berkutik.
"Maaf Hifumi, aku sedang ngobrol dengan…." Doppo melirik Jyuto sebagai isyarat agar ia menyebutkan nama.
"Jyuto."
"Ah, Jyuto-san… sepertinya kita pernah bertemu tapi aku lupa.. hehe…" katanya sambil tertawa.
Pria bernama Hifumi tengah memandang Jyuto, mereka saling tatap untuk beberapa detik. Dia tidak tersenyum sama sekali, Jyuto sadar akan itu. Tidak ada sambutan hangat, ya mungkin Jyuto juga tidak mengharapkannya.
"Doppocin, kau lupa beli bir lagi…" protes Hifumi saat melihat isi bungkusan besar itu. Jyuto serasa ingin segera pergi dari sana.
Dia mengambil dompet dan memberikannya pada Doppo saat itu juga, "Bisakah kau membelikannya untukku?" pinta Hifumi kemudian dengan senyum yang menawan.
Doppo mengangguk dan segera berjalan ke minimarket paling dekat, "Tunggu sebentar, Jyuto-san." Katanya pamit. Jyuto hanya mengulas senyum sebagai tanggapan.
"Jadi… kalian di sini?" tanya Jyuto sebelum menelan ludah. Semoga obrolan ini berjalan baik-baik saja.
"Ya. Kami baru saja pindah, kau tidak seharusnya di sini." ucap Hifumi dengan nada dingin. Tatapan bencinya sama seperti dulu, atau bahkan akan selamanya seperti itu.
"Aku punya sedikit urusan." Katanya. Tentu saja tidak langsung dipercaya oleh Hifumi.
"Pergi.. jangan pernah kembali." Hifumi berkata seraya menatap lurus menembus kacamata Jyuto.
"Aku tidak sengaja melihat-"
"Aku tidak peduli." Salah satu keahlian Hifumi adalah mematahkan perkataan Jyuto, memblokir segala alasan yang akan terucap dari bibir itu.
"Kau tidak mengerti."
Hifumi menyunggingkan senyum, kejengkelannya memuncak seketika. Dia sedikit mendekat beberapa inci. Menatap lekat-lekat wajah di depannya.
"Dia tidak membutuhkanmu lagi. Doppo lebih baik denganku. Jadi kau tidak usah repot-repot peduli." Katanya sambil berbisik. Jyuto menggenggam udara dalam kepalan tangan. Dia harus bisa mengendalikan amarah.
"Setidaknya beri aku waktu untuk bicara dengannya." Hifumi menggeleng seakan tidak ada kesempatan lagi.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
Jyuto masih teguh dengan pendiriannya, dia tidak segan untuk memaksa, "Hanya sebentar.." namun gelengan lagi yang ia dapatkan.
"Aku tidak mempercayaimu." Katanya sambil mengangkat bahu, matanya sedikit menyipit menyajikan kesangsian.
"Dia percaya padaku." Jawab Jyuto masih melihat harapan berdasarkan kejadian beberapa menit lalu. Di mata Hifumi tentu saja dia terlalu percaya diri.
Hifumi tersenyum kecil, "Ya, dia mampercayaimu.. lalu dia kehilangan semuanya. Apa kau tahu dia harus susah payah untuk mengingatku?"
"Dan sekarang dia bisa mengingat namamu begitu mudah…" kata Hifumi dengan menggerakkan tangan dengan kesal, dia tidak sengaja meninggikan nada bicara, tidak peduli beberapa orang tengah memperhatikan mereka.
"Aku tahu, ini salahku. Aku hanya ingin memperbaiki—"
"Apalagi? Supaya dia bisa bersamamu lagi? Selama ini kau di mana, huh?!" bentak Hifumi kemudian.
Masa lalu Jyuto sangat pahit. Mulai dari kenangan buruk dengan pengemudi gila pecandu narkoba yang merenggut nyawa kedua orang tua, pengalaman kotor yang ia dapat dalam segala praktik kerja, hingga sebuah kejadian yang membuat Hifumi membencinya. Jyuto dan Doppo memang pernah menjalin hubungan lebih dari teman, singkat cerita ketika mereka melakukan perjalanan dari Shinjuku menuju Yokohama, sebuah kecelakaan terjadi. Mobil yang mereka kendarai menabrak mobil Samatoki. Suaranya begitu keras, benturan yang terjadi membuat mobil Jyuto terbalik. Sangat tipis kemungkinan bahwa mereka akan selamat, namun takdir berkata bahwa mereka masih layak bernafas.
Jyuto menderita patah tulang rusuk dan leher, sedangkan Doppo mengalami pendarahan dalam otak ditambah dengan benturan cukup kuat yang menyebabkan trauma, hal tersebut membuat ingatannya hilang secara permanen. Mereka menghabiskan waktu di rumah sakit cukup lama. Sejak saat itu Hifumi bertugas untuk menjaga jarak Doppo dengan Jyuto. Ia menilai bahwa Jyuto adalah orang paling pengecut karena tidak pernah berkata maaf sekalipun pada Doppo, atau setidaknya kepadanya. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Egois memang. Jyuto belum cukup berani untuk menghadap Doppo setelah kejadian itu. Ia merasa bersalah karena dia yang bersikeras mengajak Doppo ke Yokohama.
Ini murni kesalahannya. Bukan murni kecelakaan. Tidak ada sanggahan, hanya pengakuan.
Dia sangat payah.
"Pergi." Kata Hifumi gagal menyembunyikan raut wajah kecewa yang terpendam 7 tahun lamanya.
Jyuto bungkam, ia memilih menuruti perkataan Hifumi.
"Jangan pernah kembali." Hifumi tidak sudi menyebut sepatah nama Jyuto. Baginya, menyebut nama pria itu adalah kesalahan besar. Sama saja dia membuka pintu kesempatan untuk membangun hubungan entah dengannya, atau dengan Doppo.
Dia memutar badan dan pergi. Setiap langkah yang ditempuh makin berat, ia mengira setelah meminta maaf bayang-bayang penyesalan akan hilang; tetapi malah sebaliknya. Rasa bersalah itu menumpuk hingga membuat dada Jyuto menjadi nyeri. Ia menggelengkan kepala untuk meredakannya.
Gentaro menunggu di sisi mobil. Dia berdiri mengamati Jyuto yang mendekat, ia sempat melihat Jyuto berinteraksi dengan Hifumi dari seberang jalan. Ingin sekali mengetahui apa yang terjadi, namun dia memendam keinginan itu dalam-dalam, lagipula itu bukan urusannya. Jyuto memasuki mobil dengan gusar terkesan tidak sabar.
Gentaro bertanya, "Kau sedang terburu-buru, Iruma-san?"
Jyuto menyalakan mesin dan segera melaju meninggalkan tempat itu, "Ada lagi? Atau kau sudah selesai?" tanya Jyuto menggertakan gigi.
Gentaro adalah orang yang bisa membaca situasi sehingga ia tahu persis keadaan Jyuto saat ini. Dia berkali-kali menghela nafas berat, emosinya berantakan.
"Iruma-san?" panggil Gentaro saat berhenti di lampu merah. Jyuto menjawab dengan gumam tidak jelas, kedua matanya tidak fokus.
Kepalanya dipenuhi oleh setiap kata yang Hifumi luapkan, berlomba-lomba untuk memberi tekanan pada denyut saraf. Makin sering mengingatnya semakin terasa sakit.
"Ayo kita minum, aku yang traktir." Kata Gentaro, setelah itu ia menunjukkan jalan tempat tujuan terakhir.
Langit mulai berubah menjadi jingga, sinar matahari tidak sekuat tadi siang. Mungkin ini menjadi penutup yang tidak terlalu buruk. Setidaknya bisa membuat otot wajah Jyuto longgar untuk beberapa saat.
Atau dengan maksud yang lain.
"Iruma-san.. ikuti saja langkahku.." pandu Gentaro dengan lengan Jyuto yang berada di lehernya. Mereka baru saja tiba di kediaman Gentaro. Rumah tradisional Jepang itu terlihat sederhana. Dengan halaman yang cukup luas dan terawat, mobil Jyuto terparkir rapi. Selama perjalanan Jyuto mabuk berat, membuatnya duduk di kursi penumpang dan Gentaro yang mengambil alih kemudi. Dia tidak minum, hanya menjadi pendengar yang baik terhadap semua ocehan Jyuto.
Jyuto menarik tangan, membuat Gentaro terdorong ke samping, "Aku bisa sendiri.." katanya ngelantur.
Langkah kakinya zig zag menyapu halaman, dia berjalan tanpa kacamata. Sebenarnya itu bukan masalah, yang menjadi titik pentingnya adalah tingkat kesadaran pria tersebut. Gentaro bertaruh Jyuto akan mati karena terpeleset.
Tiba-tiba terdengar suara cukup keras.
"Iruma-san!" seru Gentaro melihat Jyuto terjatuh tak sadarkan diri tepat di pintu utama.
Segera ia berlari menghampiri Jyuto.
Jangan mati jangan mati jangan mati… kata Gentaro menarik semua asumsi yang sempat terlontar.
000
"Sia..p… lak..sanakan…"
Gentaro menahan tawa dengan punggung tangan saat mendengar kata-kata pertama yang terucap dari Polisi Yokohama ini.
Kelopak mata Jyuto bergerak gelisah, belum siap menerima sinar matahari yang masuk melalui jendela. Sinar itu memaksa untuk matanya terbuka, tepat tiga detik ia sadar, langsung kepalanya terasa berputar. Ada sebuah beban di kepala, badannya kaku, terutama bagian lutut dan betis, sebatas untuk mengubah posisi saja susah.
"Ohayou gozaimasu, Iruma-san." Sapa Gentaro menaruh pena. Mengalihkan perhatian kepada pria yang tengah telentang di atas futon. Dahinya masih terdapat kompres penurun demam.
"Yumeno.." panggil Jyuto lirih. Kedua bola mata memandang ke arah Gentaro yang menghalangi bias sinar matahari. Hanya perasaannya, atau Gentaro tengah tersenyum? Jyuto rasa tidak akan bosan untuk memandanginya.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Gentaro menarik selimut sampai ke leher. Tangannya mengayun mengganti kompres dengan air dalam cekungan di sisi futon.
"Panas.." desis Jyuto merasakan udara sekitar wajahnya yang memang panas.
"Tentu saja, kau demam, Iruma-san. Aku kira kau tidak akan bangun lagi.."
Jyuto mulai memperhatikan setiap helai rambut Gentaro yang mulai panjang, terlebih di bagian belakang.
"Maksudmu?"
Gentaro masih tersenyum, "Kau tidur satu hari penuh, dan sekarang harus ke rumah sakit."
"Aku tidak mau. Ini cuma demam biasa…" tolak Jyuto sambil berusaha bergerak.
"Siapa yang mengajakmu? Aku hanya ingin pinjam mobil." Ucap laki-laki berusia 24 tahun ini dengan nada menyebalkan.
Jyuto tidak ada daya untuk memukul kepala Gentaro, sebagai ganti, ia hanya melayangkan tatapan tajam andalan dalam semua keadaan, bahkan ketika sakit.
"Uso desu yo."
Gentaro bangkit dan mengganti air dalam wadah tesebut. Mencampur air dingin dan panas, dan menambahan beberapa helai daun tanaman herbal. Ketika kembali, dia menemukan Jyuto berhasil duduk tegak, masih tanpa kacamata.
"Mau apa?" tanya Jyuto melirik Gentaro yang memeras kain katun.
"Tidak ada. Hanya ingin membasuh, kau tahu 'kan kalau orang sakit itu juga bisa berkeringat?" sontak Jyuto mencium aroma tubuhnya sendiri dengan cepat. Gentaro kembali menahan tawa, kenapa pria ini gampang sekali masuk dalam jebakannya. Dahi Jyuto mengernyit gagal menemukan bau tidak sedap pada dirinya.
"Pembohong.." kata Jyuto.
Well, itulah Gentaro.
"Jyu- Iruma-san.." Gentaro hampir memanggil nama depan Jyuto, dengan cepat ia meralat nama tersebut.
Jyuto hanya pasrah membiarkan Gentaro mulai membuka pakaiannya. Rasa hangat menyapu permukaan kulit tersebut, diawali dengan bagian leher. Turun ke punggung, lalu lengan tidak lupa kesepuluh jarinya.
"Apa aku boleh tanya?" Gentaro melanjutkan perkataan yang sempat terpotong.
"Ya…" Jawab Jyuto singkat.
Gentaro mengusap belakang telinga Jyuto, memijatnya perlahan. Dia harus akui bahwa Gentaro memiliki kelebihan membuat orang lain tenang, terbukti dengan kedua mata Jyuto yang perlahan terpejam menikmati. Pijatan itu sedikit meredakan nyeri.
"Doppo… itu siapa?"
Kedua mata Jyuto kembali terbuka seiring dengan pijatan yang berhenti. Gentaro menunduk memeras air pada kain. Kemudian berganti membasuh permukaan perut dan dada.
"Kau selalu memanggilnya… itu sangat menyebalkan." Ujar gentaro mengusap lebih keras. Dia harus mendengar Jyuto menyebut nama itu selama menutup mata.
Ia menunda jawaban. Jyuto memandang ke arah tumpukan naskah yang tersusun rapi di meja kerja. Tunggu, Gentaro bilang dia tidur satu hari penuh, berarti hari ini sudah melebihi batas waktu untuk mengirim naskah. Penulis itu belum mengirim naskahnya.
"Naskahnya?" tanya Jyuto memastikan, sambil menunjuk tumpukan kertas itu.
Terdengar helaan nafas dari Gentaro. Ia berpindah mengusap kaki kanan Jyuto, "Kau belum jawab pertanyaanku, Iruma-san."
"Bukan siapa-siapa.." jawabnya cepat, Jyuto pikir Gentaro lebih baik tidak mengetahuinya.
"Itu naskah yang lain." Katanya terdengar senyata mungkin. Akan menggelikan jika ia menjawab itu adalah tumpukan naskah yang belum tuntas. Jika tidak mengirim, dia harus menuggu 3 bulan untuk jadwal penerimaan naskah berikutnya. Hari sebelumnya ia mencoba menulis, tapi konsentrasinya pecah menyadari ada satu orang yang ia khawatirkan.
"Kau tidak bohong 'kan?" tatapan itu membuat Gentaro terkejut beberapa saat. Kemudian dia mencoba untuk tenang, menjadi Gentaro yang 'biasa'.
Dia bangkit dari posisi duduk, dia tersenyum tipis sambil berkata, "Iruma-san, kau pasti lapar. Aku akan memasak beberapa makanan, sebentar.."
Gentaro berjalan agak cepat. Setelah sampai di dapur, ia meletakkan wadah cekung itu dengan gusar. Degub jantungnya tidak wajar, tatapan macam apa itu? Gentaro masih menerka tentang arti tatapan itu sambil mengendalikan diri. Hampir saja ia mengatakan kebenarannya, kebenaran yang mana membuatnya takut kalau Jyuto memilih untuk pergi. Tidak ingin mengganggu, atau ikut campur sebagai alasan. Hal itu yang ditolak oleh Gentaro. Dia enggan merombak alur yang sudah dibuat dengan sangat matang.
Gentaro mungkin seorang pembohong, tapi bukan berarti dia jahat.
Mata Jyuto menyipit seraya menelisik setiap sudut ruangan yang berkesan tradisional. Ia menemukan deretan foto berbingkai yang tersusun di atas rak buku, tidak tahu pasti namun ia yakin ada sosok kecil Gentaro dengan kedua orangtua. Penglihatannya mengalami kelainan sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk melihat jarak jauh. Ruangan itu terisi dengan furnitur yang berkesan tradisional juga, mulai dari lemari serbaguna, futon, tidak lupa dengan tatami. Meja kerja Gentaro menghadap ke selatan, dalam pemikiran masyarakat Jepang selatan adalah arah yang paling optimal untuk menjaga cahaya matahari tetap menerangi ruangan.
Kali ini Jyuto memandang dirinya. Dia berbalut sebuah yukata berwarna biru tua, ia terkekeh karena mengingat Gentaro repot-repot mengganti pakaiannya. Ia mengusap rambut lembabnya dengan lima jari, lalu beralih untuk mengetahui di mana kacamatanya. Ternyata benda itu berada tepat di atas tumpukan kertas di meja kerja Gentaro.
Tangannya mengayun meraih kacamata; karena dia limbung, tangan itu tidak sengaja menarik helai kertas hingga jatuh tersebar di lantai. Setelah mengumpat, Jyuto membereskan lembaran kertas sekaligus mengurutkan halaman menjadi seperti semula. Gelitik rasa penasaran berhasil membobol pertahanan Jyuto, matanya melirik kata demi kata yang tersusun menjadi kalimat, kalimat yang berjajar menjadi paragraf dan paragraf yang saling terkait menjadi suatu alur cerita.
Gentaro adalah penulis dengan kemampuan yang pantas diperhitungkan. Buktinya, Jyuto begitu menikmati setiap tulisan dari halaman satu ke halaman berikutnya. Semakin dalam dan semakin membuat alisnya menaut. Jyuto sempat membolak-balik kertas, memastikan itu bukanlah buku harian atau semacamnya. Ceritanya terlalu nyata, terlalu sama dengan kehidupan yang dilewati akhir-akhir ini. Penggambaran tokoh utama adalah seorang laki-laki bermata hijau dengan rambut hitam, berusia 17 tahun yang terperangkap dalam ketakutan yang dia buat sendiri.
Ini bukan saatnya untuk terlalu percaya diri, Jyuto.
Lagipula cerita itu belum memiliki judul.
"Iruma-san, kau tidak lapar?" Gentaro bertanya sebelum menyantap sanma.
Jyuto mengaduk nasi dengan sumpit, ia masih kepikiran dengan ragangan cerita Gentaro. Tidak lama kemudian dia ikut makan.
"Ceritamu tidak buruk, Yumeno-kun." Gentaro menahan agar sup miso itu tidak menyembur keluar. Kedua matanya membulat memandang Jyuto.
Raut wajah Jyuto berubah kagum, belum pernah ia melihat ekspresi terkejut Gentaro. Maksudku, dengan kedua mata indah -untuk ukuran laki-laki yang membulat, bibir tipisnya sedikit terbuka dan teka –teki isi kepala.
"Kau membacanya?" Jyuto mengangguk kecil tanpa berkedip, sibuk memperhatikan bola mata yang hampir senada dengan miliknya.
"Tapi tetap saja tidak masuk akal." Tambahnya sebelum menyantap nasi.
Gentaro menunduk, menyembunyikan wajah. Mengutuk dirinya karena meletakkan naskah yang belum selesai secara ceroboh. Terungkap sudah semua, dinding perlindungan diri runtuh seketika. Kalau sudah begini, perjuangannya membentuk alur cerita menjadi sia-sia. Baginya, Iruma Jyuto adalah subjek yang menarik. Dia ingin menulis rangkaian alur berdasarkan setiap pertemuan mereka. Dalam tiga bulan ini, setidaknya Gentaro sudah mengumpulkan 6 gagasan penting untuk cerita. Tapi sekarang lembaran itu harus ditutup. Terpaksa diakhiri dan kalau perlu Gentaro harus membuat cerita lain.
"Iruma-san, kau dilarang untuk menceritakannya pada siapapun." Katanya masih menunduk.
"Aku mengerti."
"Maa, aku juga tidak akan melanjutkannya.." kata Gentaro belum menyerah membangun dinding pertahanan lagi.
Senyum Jyuto terukir mendengarnya, "Kenapa? Karena kita tidak akan bertemu lagi?"
Gentaro mengangkat wajah, ia masih sempat melihat senyum Jyuto. Suara lembut itu terekam sempurna pada pendengaran Gentaro. Entah karena Jyuto masih sakit atau alasan lain. Jyuto juga sedikit terkejut karena asumsi tokoh dalam cerita tersebut benar mirip dengannya.
"Kau sendiri yang bilang mau berhenti, Iruma-san."
"Hmm, sou desu ka."
Gentaro tersenyum hambar sambil berkata, "Habiskan makananya, dan kita ke rumah sakit, Iruma-san." Sekali lagi mengingatkan ada agenda yang harus dilakukan.
Ini akan benar-benar berakhir ya, kata Gentaro dalam hati. Sederhana, jika ini menjadi kenyataan; dia tinggal membakar tumpukan kertas naskah itu, melupakan Iruma Jyuto, selesai.
"Kau tahu…" jantung Gentaro kembali berdebar, badannya sedikit menegang.
"Aku tidak keberatan untuk membantu, sampai naskah itu selesai atau…" nadanya menggantung, sengaja membuat Gentaro penasaran.
Tiba-tiba Jyuto melupakan tujuan awal, pemikirannya seakan diatur ulang. Timbul sekat-sekat membentuk perasaan yang membuatnya ingin mengenal Yumeno Gentaro, bukan karena ingin membalas kebaikan kecil untuk merawat dirinya yang terkena demam bodoh ini. Oh Tuhan, ini terlalu cepat untuk membuka hatinya kembali. Akan tetapi di saat yang sama Jyuto harus bisa melupakan seseorang yang sudah mengurungnya dalam bayang-bayang mimpi buruk selama 7 tahun ini. Dia harus bisa mengubur dalam semua ingatan, kenangan, dan kesalahan masa lalu. Jujur, ia masih bimbang.
Sebaliknya, Gentaro mengira ini adalah permulaan yang baik untuk alur cerita kehidupan sesungguhnya. Tidak ada kertas, tidak ada pena, tidak ada segala pembentukan karakter serta konflik. Semua adalah misteri yang harus terungkap saat dijalani bersama. Sekarang, Yumeno Gentaro memandang Jyuto bukan hanya sekadar subjek cerita. Melainkan….
"Lebih dari itu…" kata Jyuto tulus.
Kata orang, ketika pupil mata manusia melebar saat berhadapan dengan seseorang yang istimewa, sistem saraf simpatik akan bereaksi. Reaksi bagus ini mengirim rangsangan yang akan dialirkan ke seluruh tubuh, namun efek sampingnya adalah detak jantung tak terkendali serta munculnya rona merah yang panas di wajah.
Hal tersebut yang tengah dialami Gentaro.
Jari kelingking mereka mengait, saling bertukar sandi-sandi kebahagiaan.
"Aku pasti senang, Iruma-san." Jawabnya mengubah senyum hambar itu menjadi sebuah tawa.
Kali ini Gentaro tidak berbohong.
000
Dua tahun kemudian, di Yokohama. Tanggal 1 April tepat pukul 09.00 waktu setempat.
Jyuto sudah rapi dengan kemeja putih, membiarkan dua kancing teratas terbuka menampilkan dada bidangnya. Hari ini adalah hari yang istimewa, jadi dia harus berpenampilan sebaik mungkin. Laki-laki berusia hampir 31 tahun itu berjalan menuju ranjang. Di sana ada seorang laki-laki yang masih tengkurap dengan tubuh yang tertutup selimut hingga pinggang. Yumeno Gentaro menikmati kemalasan pagi ini.
"Cepat bangun kita akan pergi…" ujar Jyuto duduk di tepi ranjang seraya merapikan leher kemeja.
"Masih pagi, Jyuto-san." Protes Gentaro menyembunyikan wajah di bantal.
"Justru itu, bodoh. Kita punya lebih banyak waktu."
"Aku mau di sini." Jawab Gentaro.
Jyuto menghembuskan nafas berat, ia berdiri dan membuka gorden berwarna abu-abu. Sinar matahari kemudian menyerang Gentaro secara langsung. Jyuto bisa mendengar lenguhan dari pria berambut cokelat tersebut.
"Bangun, aku harus potong rambutmu."
Gentaro menampakkan wajah, "Kau bilang kalau kau suka rambutku panjang.."
"Ya, ini terlalu panjang." Kata Jyuto kembali duduk. Tangannya memelintir rambut Gentaro yang sudah hampir menyentuh bahu. Tangan Jyuto turun mengelus punggung tanpa sehelai pakaian itu dengan lembut. Pinggang Gentaro mati rasa, tadi malam Jyuto menyerangnya secara berlebihan.
Jyuto merendahkan kepala, hendak mengecup bibir itu sekali lagi. Namun dengan cepat Gentaro menoleh mengubah pandangan. Menolak dengan halus.
"Ayolah, aku sudah ambil cuti dan malah begini?" Gentaro menyukai saat di mana Jyuto merajuk layaknya anak kecil, suatu kebiasaan yang harusnya tidak dimiliki oleh seorang polisi.
"Sepuluh menit lagi aku bangun.." kata Gentaro kemudian.
"Pastikan kau sudah siap untuk pergi. Jangan bilang aku tidak tahu, terserah, atau aku cuma mau di sini." Jyuto paling benci kata-kata itu.
"Kita ke Shibuya." Mendengar jawaban Gentaro, Jyuto tidak keberatan sama sekali.
"Baiklah."
"Kalau begitu aku hubungi Ramuda dan Dice." Tangannya menggerayang di ranjang mencari ponsel. Ingin segera memberitahukan informasi ini kepada teman-temannya.
"Tunggu, seingatku ini rencana kita berdua."
Gentaro tersenyum kecil, "Seingatku ini ulang tahunku, jadi aku bisa melakukan apapun semauku." Ralatnya dengan tenang.
"Dan Jyuto-san, sebaiknya kau cuci muka karena ada kotoran di dahimu." Tunjuk Gentaro tepat di dahi Jyuto.
Ia mengusap permukaan kulitnya dengan telapak tangan, memeriksa perbedaan tekstur yang mungkin terjadi.
"Jyuto-san kau membuatnya lebih parah.." Jyuto lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkannya.
"Uso desu yo." Beberapa detik kemudian terdengar erangan dari sebelah ruangan.
Gentaro tidak melanjutkan cerita dari naskah sebelumnya. Tidak, naskah itu tidak jadi dibakar, hanya tersimpan. Tetapi, ia masih suka mencatat alur yang menarik saat bersama Iruma Jyuto.
Dengan sudut pandang,
Yumeno Gentaro sebagai tokoh utama.
The End
Ini efek Social distancing /WOI! Buka file lama ternyata ada draft yang sayang banget kalau ngga diterusin. Akhirnya lahirlah ff aneh ini. Semoga terhibur.
Saya ngga tau ya kenapa saya suka rareship :') kadang sedih aja karena jarang ada momentnya.
/eee tapi saya juga suka Hifudo/Jyudo HAHA-/
Silakan review!
Sampai jumpa di ff berikutnya!
Arigatou gozaimasu~ ^^
