That's Why Sky is Little, Odasaku

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, feel ga sampe (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


Atap Port Mafia. Dua pemuda. Langit biru yang tertinggal. Ia mencari untuk terakhir kali, dan menemukan senyumannya yang menangis.

Pada warna langit itu ia–seseorang yang katanya pergi membebaskan diri -dapat melihat tubuhnya jatuh dalam waktu yang meluruh lambat, dan kenangan seolah-olah pepat membuat iris kakao-nya menontoni dalam detik yang merangkak; menjumpai kawan lama tetapi sudah usang pertaliannya, ia bersama dua orang pemuda tersebut, menitipkan dunia kepada mereka yang terdengar berdongeng, lompat dari atap, sedikit menyesal tentang–

Odasaku. Ia–seseorang yang mengenalnya luar-dalam–mengajak Odasaku mengobrol di bar–pertalian yang sudah usang itu. Odasaku. Ia–seorang bos Port Mafia–ingin menyelamatkan Akutagawa Ryuunosuke–anak didik kesayangan Odasaku di dunia ini, membuat ia tidak menjadi siapa-siapa. Odasaku. Ia memanggilnya Odasaku walaupun bukan Odasaku. Menceritakan masa lalu mereka yang seperti berkhayal saja, dan Odasaku berteriak;

"Jangan panggil aku Odasaku!"

Karena Oda Sakunosuke adalah Odasaku, tetapi Odasaku bukanlah Oda Sakunosuke.

Ia selalu mengerti ketika melihat langit yang menjauh. Tahu pun ia–seseorang yang menciptakan rindu, dan memenjarakan dirinya sendiri di dalam sana–tetap ingin bertemu Odasaku-nya di lain dunia pada waktu yang sama, ketika ia mengucapkan "selamat tinggal" sebelum meninggalkan bar, apabila ia masih Dazai Osamu yang hidup. Jika biru langit yang dibencinya ini memberikan Dazai–

BRAKKK!

Memberikan Oda Sakunosuke yang merupakan Odasaku kembali pada Dazai, karena ia ... Dazai juga belum mau berpisah, menghilang tanpa membuatnya menjadi "sampai jumpa" yang setelah berputar berlarut-larut dalam narasi kenangan, Dazai baru sadar kalimat "selamat tinggal" itu agak–

"Apa kau bisa mendengarku? Jawab aku jika kau masih hidup!"

Pipi Dazai ditepuk-tepuk oleh seorang pemuda yang menangkapnya tepat waktu, usai tampak terjatuh dari langit. Matanya yang tertutup menitikkan setetes embun. Perlahan-lahan terbuka memperlihatkan sepasang cokelat yang sayu. Tatapan itu memerangkap sosok yang menyelamatkannya sangat cepat, membuat ia berhenti mengguncangkan tubuh Dazai.

"Hey ... apa kau benci jika kupanggil Odasaku?"

Pertanyaan yang tiba-tiba menyelusup itu mengheningkan suasana. Kadang dia tak mengerti mengapa Dazai begitu letih sekaligus melihat dengan ngeri. Tetapi dia–Oda Sakunosuke yang dipanggil Odasaku–menggeleng setegas mungkin, karena mustahil baginya membenci nama yang diberikan seorang sahabat.

"Odasaku adalah bagian dari diriku juga, dan kau yang memberikannya kepadaku, Dazai. Kenapa aku harus membenci nama yang bisa dijadikan panggilan oleh sahabat terbaikku?"

Dazai pikir ia akan kembali terpejam selamanya, usai mendengar jawaban Odasaku yang benar-benar menghangatkan. Namun tidak. Biru langit di atas mereka, aroma musim panas di sekeliling, sorak-sorai anak-anak di lapangan sepak bola yang bermain layang-layang–seluruh untaian itu masih terasa nyata, mengakibatkan pertanyaan bertanya-tanya seorang diri.

Apa yang terjadi setelah aku melompat dari gedung?

-ll-

Di pinggir lapangan sepak bola mereka duduk bersebelahan, menontoni anak-anak yang saling bersaing untuk bertahan terakhir. Minuman isotonik dingin Odasaku berikan kepada Dazai yang masih saja memperhatikannya. Saat menemukan Dazai melamun seperti ini, entah bagaimana Odasaku merasa tatapan hampa itu akan membawa Dazai pergi jauh sekali, sehingga untuk pertama kalinya Odasaku kurang menerima mata Dazai yang kosong.

"Jadi maukah kau menjelaskannya padaku?" Jeda sejenak. Dua menit kemudian barulah Dazai memandangi Oda yang setia tersenyum lewat mata, walaupun ekspresinya serius bukan main.

"Menjelaskan apa?"

"Mengapa kau bisa jatuh dari langit? Padahal hari ini Mori-san meminta seluruh eksekutif untuk rapat, dan aku baru mau menjemputmu pulang. Juga, pakaianmu beda banget."

"Jam berapa sekarang?" Aneh. Segala tentang Dazai tidak dapat Odasaku jangkau, meski ia duduk di sampingnya. Satu kali Odasaku menekan tombol gawai di bagian tengah. Angka menunjukkan 13.00 yang tak Odasaku sangka-sangka; waktu berlalu cepat.

"Pukul satu siang. Memangnya kenapa?" Gawai kembali dimasukkan ke dalam saku celana. Kini Dazai melihat langit. Lekat sekali seakan-akan raga, aliran darah, napasnya, dia yang hidup itu berada di atas sana, lalu Dazai yang sekarang ini adalah apa jika demikian? Mimpi, begitu?

Pukul satu siang, berarti waktu ketika Dazai mengucapkan "selamat tinggal" kepada Oda di bar. Samar-samar Dazai menyunggingkan seulas senyum. Ternyata langit mendengarkan permohonan asal bunyi itu, dan mana mungkin Dazai akan menyesali kesempatan terakhir ini. Katakanlah ia bertukar dengan dirinya di dunia ini–dunia yang amat Dazai hafal seluk-beluknya, karena seperti mengulang masa lalu saja, meski Dazai agak emggan juga.

"Banyak yang harus diceritakan, Odasaku. Pertama-tama kukatakan padamu, aku bukanlah Dazai Osamu dari dunia ini."

Odasaku terkesiap. Namun, ia senang karena Dazai mulai menyerupai Dazai.

"Dazai di dunia ini ke mana jadinya?"

"Bertukar tempat denganku di duniaku. Tapi tenang saja. Pasti hanya sebentar, kok." Dari semua tempat Dazai masih belum paham, mengapa takdir menjawab ia dengan mempertemukan mereka di lapangan sepak bola. Padahal ada pukul satu siang yang lain seperti di Bar Lupin, markas Port Mafia, apartemen Odasaku, atau tempat lain yang lebih nostalgia.

"Dunia seperti apa yang kau tinggali?"

"Hehehe ... coba Odasaku tebak~ Petunjuknya adalah dunia yang tidak terbayangkan olehmu."

"Tak terbayangkan olehku, ya? Kira-kira yang baik atau buruk?"

"Terserah padamu~ Jangan kelamaan juga, oke? Seharusnya Odasaku tahu aku benci menunggu." Sesaat terdengar tawa ringan dari Odasaku mendapati Dazai masam, sambil menyilangkan tangan di depan dada. Tiga detik berlalu yang lambat laun bertambah. Odasaku belum bisa membayangkan bentuk jawabannya, tetapi wajahnya lebih paham sehingga sendu.

"Kurasa dunia yang tidak bisa kubayangkan itu adalah, dunia di mana kita tidak bersahabat."

Ada jawaban lain seperti menjadi teman satu sekolah, rekan kerja di kantor, sesama penulis, atau bayangan yang lebih lucu seperti mereka bertabrakan lalu mendadak sering bertemu. Kemungkinan-kemungkinan itu siapa tahu nyata, yang salah satunya bisa saja merupakan tempat Dazai berada, sebelum ia jatuh dari langit. Namun, lagi-lagi Odasaku tidak bisa. Kata-kata seolah-olah mengkhianatinya yang kali ini; Odasaku merasa dibunuh oleh waktu.

"Dunia di mana kita tidak bersahabat, ya? Mengerikan sekali mendengar jawabanmu benar. Baru saja aku senang karena bermain tebak-tebakan bersamamu, tetapi sekarang aku kembali sadar dan sakit ketika mengetahuinya lagi."

Sekarang Odasaku terbelalak. Mata birunya berkaca-kaca lalu ia meraih-raih, berusaha mengembalikan bagian yang menguap dari Dazai agar ia tetap menyerupai Dazai, karena Dazai bukanlah orang lain.

"Kenapa ...?" Sejak kapan pula Dazai tersenyum selebar itu? Membuat Odasaku sesak hingga kehilangan suara lebih dahulu, sebelum mendapatkan Dazai yang kini terasa mengambang. Odasaku menggigit bibir. Dia harus bergerak daripada diam menahan isak.

"Kenapa aku bisa ... lupa, padamu? Kepada sahabat terbaikku sampai kapan pun?"

Ataukah kata-kata itu hanya sebentuk puisi yang berperan sebagai pemanis semata? Kalimat–bait tersebut sebenarnya tidak pernah ada, karena mereka tak benar-benar bersatu yang tampak bersama pun, selalu meninggalkan seulas jarak yang sedikit-sedikit mengasingkan keduanya. Ini mengerikan. Sekarang Odasaku paham mengapa Dazai selalu terlihat takut, karena di dunianya yang lain mereka betul-betul asing.

"Di sana Odasaku berada pada tempat yang cocok denganmu, yaitu Agensi Detektif Bersenjata, sedangkan aku menjadi bos Port Mafia usai Mori-san terbunuh. Sebenarnya kau lupa padaku itu wajar, kok. Malah lebih baik begitu, karena akhirnya Odasaku tak memiliki kegelapan dalam dirimu."

"Mana bisa begitu, Dazai?! Kau pikir aku akan menerimanya? Keinginanku adalah membawa kita berdua pada cahaya. Kenapa kau malah memilih Port Mafia lagi daripada kabur?!"

"Menjadi bos Port Mafia membuatku bisa melindungimu. Sejak tiba di dunia itu aku langsung paham, kalau berada di dekatmu Odasaku akan pergi lagi. Caraku untuk menjadi baik hanyalah dengan menjauh dari semua orang yang kukenal. Jika berada di dekat mereka, aku harus meninggalkan mereka dan mereka dipaksa meninggalkanku."

"Melindungiku? Justru seharusnya aku yang melakukan itu, Dazai. Entah di dunia sana maupun di sini, kau selalu saja menderita." Odasaku mana tega, dan Dazai juga tidak boleh begitu. Pasti di suatu dunia antah berantah ada mereka yang berbahagia karena bersama. Dazai juga harus percaya. Jangan putus asa di hadapan Odasaku yang matanya belum kehilangan.

"Di sini, di dunia ini saat aku menjadi mafia bersamamu, kau akan mati."

"Apa?"

"Kubilang kau akan mati di dunia ini, Odasaku. KAU MATI SETELAH MELAWAN PEMIMPIN MIMIC, DAN AKU TERLAMBAT MEMBAWAMU KE RUMAH SAKIT."

"Di dunia lain pun sama saja. Aku sudah berkeliling dan menyaksikan semuanya. ODASAKU PASTI MATI JIKA AKU MENJADI BAGIAN DARI HIDUPMU, LALU LAGI-LAGI SELALU SAJA DIRIKU GAGAL MENYELAMATKANMU!"

Kata-kata Dazai lenyap dalam udara menyisakan napasnya yang terengah-engah, serta potongan-potongan emosi yang masih melayang seolah-olah akan tertinggal selamanya. Odasaku membuka lalu menutup mulut. Tak habis pikir mengapa Dazai mendorong diri terlalu jauh untuk jatuh selamanya, sampai-sampai ia melihat dan menembus jurang yang sebenarnya berarti apa selain meletihkan rasa?

(Tidak perlu, karena membuat mereka berbatas dan jarak–Dazai dan Odasaku–tak dapat lagi bersatu gara-garanya)

Dinding itu nyata walau tak kasatmata, dan baik Odasaku maupun Dazai memilikinya. Odasaku adalah apa yang tidak lagi tampak, meskipun Dazai selalu mengarah kepadanya. Odasaku yang ini bukanlah Odasaku yang pertama Dazai kenali–tidak setelah Dazai terlalu banyak ingin mengubahnya, menjadi Odasaku yang Dazai inginkan saja.

Semenjak Odasaku mengerti ia tertinggal–bahwa saat Odasaku sadar ternyata ia hanya mendapatkan Dazai yang pernah terlepas–bukan melangkah beriringan mengikuti waktu yang sama–dari fragmen tersebutlah merupakan titik mula keduanya mulai sendiri-sendiri, dan detik ini juga Odasaku melupakan cara memandang Dazai yang seperti biasanya.

"Aku mati karena itulah takdirku. Bukan salahmu yang tidak bisa menyelamatkanku."

Hari ini di tengah musim panas yang bersisa kelabu semata, Oda memberikan tatapan yang menginginkan Dazai memaafkan diri sendiri yang menyayatnya, menjadi serpihan-serpihan terlampau kecil. Kedua tangan Dazai mengepal erat. Terlalu keras ingin menyerukan bahwa Oda keliru yang akhirannya; itu terlampau bisu yang tak terdengar sebagai apa pun, selain kehilangan sebelum sempat ada.

"Odasaku juga berhak hidup! Masa kau tidak mau … tidak mau terus …. lupakan. Aku pergi dulu" Seketika Dazai langsung membuang wajah dari Oda yang membisu. Beranjak berdiri meninggalkannya, karena ia sendiri kehabisan waktu usai melewati tiga puluh menit yang membahagiakan.

"Bukankah lebih mudah jika membenciku saja? Kau menderita demi mempertahankanku, tetapi pada akhirnya aku tidak pernah melakukan apa pun untukmu, selain mati lalu menambah bebanmu."

Atas dasar apa Odasaku menjelaskannya dengan kata-kata yang sedemikian menusuk, Dazai tidak mau tahu apa lagi paham setelah ia berkata pertemuan mereka membahagiakannya. Kapan terakhir kali Dazai membuka matanya selebar rembulan bos Port Mafia itu lupa. Pasti sudah cukup lama Dazai tak berkaca-kaca seperti ini di hadapan Odasaku. Namun, ia justru melakukannya dengan sangat baik dibandingkan saat-saat tertawa renyah, membentangkan senyuman, atau kegembiraan yang lain.

"Kata siapa aku tidak kesal padamu?! Odasaku benar. SELAMA INI AKU MARAH, KARENA KAU MEMBIARKANKU BERJUANG SENDIRIAN. Bahkan di dunia sana Odasaku melupakanku, meski memang bukan kesalahanmu. Tapi … tapi tetap saja itu terasa sakit …."

Satu langkah Dazai maju, Odasaku masih bergeming. Beban tak terkatakan. Mengapa Odasaku membiarkan matanya diserang Dazai. Odasaku yang di sini akan menggantikan Odasaku yang melupakan serta mengabaikan semua itu, dan meskipun Dazai tidak segera baik-baik saja; Odasaku pasti selalu ingin mengenalinya sebagai Dazai sehancur atau sekacau apa pun Dazai di mana pun.

"Kenapa hanya aku yang berjuang sedangkan kau tinggal menunggu? MENGAPA PULA ODASAKU TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN KEMATIANMU SENDIRI?! Lama-kelamaan ini melelahkan. Meski .… meskipun di duniaku yang ini Odasaku akan hidup, itu pun mustahil lama. Keseimbangannya hancur gara-gara kematianku. Sebentar lagi Odasaku yang sudah mendapatkan segalanya bakal menghilang juga."

Satu langkah lagi Dazai buat. Napas Odasaku meluruh ditelan kegilaan. Dazai berhenti tepat di hadapan Odasaku, lalu Odasaku menghitung dari satu sampai dua–agar ia senantiasa ingat mereka masih berdua–bahwa angka tersebut tidak ada gantinya, walau dunia menjadi arang kemudian Tuhan hapuskan.

"Kematianmu, ya ….?" Ketakutan yang selama ini terpendam bangkit, dan meledakkan hatinya hingga menyisakan abu saja. Setelah menanggung, berjuang, menahan, bahkan memulai seorang diri, kenapa pula Dazai tidak bercerita kepada Odasaku yang meskipun tak berarti apa-apa, tetapi Odasaku pasti menyambutnya karena begitulah persahabatan, bukan?

"Maaf tidak mengatakannya sejak awal. Ini satu-satunya cara demi melindungimu di dunia itu, yaitu dengan kematianku."

Kemudian tahu-tahu kerlip kuning musim panas datang menghilangkan Dazai secara perlahan. Odasaku buru-buru berlari. Memeluknya yang mulai tidak terasa maupun akan tergapai. Tiga puluh menit telah menjadi angka tiga puluh yang genap dengan perih, kesenduan, haru, dan kerinduan Dazai yang sejenak mengenggam lagi sebelum terputus. Untuk terakhir kali iris kecokelatan Dazai menatap pada biru langit Yokohama. Tersenyum lebar sampai-sampai segalanya bertumpahan keluar, termasuk tangisan.

"Ternyata langit itu kecil, Odasaku. Pantas saja aku masih berjuang." Lalu Dazai juga membalas rengkuhan Oda yang mulai mengabur. Mengacaukan semuanya dengan air mata yang menyentuh dirinya sendiri, sebab Dazai pun lelah mengurus alur ini padahal ia acak-acakan.

"Berceritalah, Dazai. Bahkan walau kau benar aku tidak bisa melakukan apa-apa, setidaknya biarkan diriku yang berada di belahan dunia mana pun mendengarkanmu mengeluh. Tolong lakukan itu untukku, atau aku semakin tak pantas disebut sebagai sahabatmu."

"Odasaku tahu? Meski awalnya aku jengkel padamu seperti tadi, sebenarnya hatiku berkata kau sudah melakukan banyak hal. Dengan tetap menjadi sahabatku pun itu sangat cukup. Bagiku seperti kau telah menghentikanku bunuh diri, mengajakku menjelajah, menyelamatkanku berkali-kali, dan masih banyak yang lainnya."

"Bagiku kau adalah segala-galanya, Odasaku. Karena itu aku rela membuang semuanya bukan kepadamu, melainkan hal-hal lain selama Odasaku tak terlibat. Sampai jumpa. Bukan selamat tinggal. Itulah yang ingin kuperbaiki denganmu, karena di dunia sana …. aku memilih berpisah selamanya. Maaf," sambung Dazai pelan. Suaranya sudah berhenti mencari. Sekarang hanya pergi yang dapat ia perbuat.

"Jika kau bingung untuk menggunakan kata-kata, berikan saja aku pelukan. Pelukanmu bisa didengar, Dazai. Sekarang pun aku bi–"

Bahkan setelah berpecahan menjadi kerlipan kuning yang menyesakkan, Odasaku masih bisa mendengar Dazai menyebut namanya–menaruh yang Dazai lukiskan sebagai masa depan maupun kenangan mereka pada panggilan itu, juga percaya bahwa Odasaku adalah Odasaku meskipun dia melupakan, Dazai melupakan, atau mereka berdua sama-sama melupakan bahkan terpisah dari ujung ke ujung–ini adalah perpisahan yang tidak boleh disesalkan.

"Terima kasih tetap mengunjungiku, meski kau menderita karenaku juga. Hari ini pun kita masih akan berbagi, Dazai."

Sekarang Odasaku akan berangkat menjemput Dazai di markas Port Mafia. Memeluknya lagi. Mengajak Dazai menghilang bersama, daripada sendirian lalu kesepian hingga tersesat–Odasaku hidup atau mati pun, Dazai tak perlu mencari ke mana-mana lagi, karena Odasaku adalah sahabat di hatinya.


Tamat.


A/N: Senengnya pas balik kemari bisa bikin Odazai. Awalnya aku udah ada ide mau bikin mereka lagi, cuma kok kayak terlalu aneh dan ada beberapa bagian yang janggal (?) gitu yang ku sendiri ga paham kenapa. Untunglah aku dapet ide ini. Temen-temen di grup, muridku juga, pernah bicarain hal yang kira2, "bukannya odasaku ga terlalu banyak menderita dibandingkan dazai?" sama, "dazai udah menderita terlalu banyak demi odasaku, dan dia akhirnya marah sama odasaku."

Mereka yang lengket banget ama angst ini, aku harus bilang apa? Bisa dibilang aku cukup puas, karena bukan main mikirin percakapannya aja susah banget. Semoga juga kalian suka. Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Review kalian selalu kubaca dan ku SS buat penyemangat. Maaf karena ga melulu dibales, key?