Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[ Divorce ]

.

.

.

Sakura Pov.

Perceraian, itu adalah sebuah hal yang sangat tidak di harapkan oleh banyak pasangan, tapi bagaimana pun juga, hal itu kadang akan terjadi pada sebagian besar pasangan yang sudah lama maupun hanya seumur jagung meminang rumah tangga.

Beberapa hal akan menjadi alasan kenapa perceraian itu terjadi, termasuk rumah tangga yang tidak harmonis lagi atau adanya orang ketiga. Aku selalu berharap perceraian itu tidak terjadi pada kami.

Namun.

"Dengan semua berkas yang sudah rampung dan sudah tidak ada lagi keinginan kedua bela pihak untuk melewati jalur damai dan berbaikan, saya putuskan kalian sah untuk bercerai."

Menandatangi sebuah kertas bersama dengan suamiku, ah tidak lagi, sekarang dia sudah menjadi mantan suamiku, kelak jika kami bertermu lagi aku harap kami menjadi teman yang baik.

Sejenak aku merasa gugup akan menandatangi surat cerai itu, menatapnya, pria dengan tatapan sedingin es itu, raut wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun, aku juga lelah menghadapinya, kami bercerai dengan masalah yang cukup sepeleh, kami tidak pernah rukun, Sasuke tipe sibuk sedangkan aku hanya pekerja lepas dan akhirnya tidak bekerja tapi aku tidak bisa memiliki rumah tangga seperti ini.

Sasuke, Uchiha Sasuke, dialah pria itu, kami hanya melewati waktu bersama selama 2 tahun dan pada akhirnya kami tidak cocok, aku tidak tahu jika sikapku membuatnya muak dan bosan hidup bersamaku, awalnya aku melayangkan surat cerai padanya setengah tahun yang lalu, tapi Sasuke memintaku untuk menunggu dan kita mencoba memperbaiki keadaan, tapi lagi-lagi kami gagal dan akhirnya Sasuke yang mengatakan padaku.

"Bagaimana jika kita cerai saja? Aku rasa kita akan bisa hidup bersama lagi." Ucapnya.

Ya, aku rasa itu sudah menjadi hal yang tepat, kita sebaiknya berpisah jika tidak ada titik terang untuk hidup bersama lagi.

Aku juga tidak mau menghabiskan sisa hidupku hanya untuk bersama orang yang kurang tepat bersamaku, aku yakin di luar sana ada pria yang mungkin bisa menerima kekuranganku.

Sekarang.

Aku sudah membereskan segala pakaianku dan akan keluar dari rumah ini, ini bukan rumahku lagi, aku tidak menuntut harta apapun dari Sasuke, dia sempat mengatakan padaku, jika aku butuh uang dia akan memberikan berapa pun untuk terakhir kalinya, aku tidak ingin menjadi pengemis, aku bisa hidup mandiri.

Dan sebuah masalah lainnya datang.

"Sakura, ayah mengalami kebangkrutan." Ucap ayahku, aku baru saja ingin menghubunginya dan sekarang ayah yang menghubungiku duluan.

"Ka-kapan itu terjadi?" Ucapku, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

"Sudah sebulan yang lalu, ayah sempat berusaha menstabilkan keadaan keuangan perusahaan, namun itu tidak cukup untuk membayar kerugian, ayah terpaksa menjual perusahaan, seluruh aset, bahkan rumah untuk menutupi kerugian dan membayar upah pekerja."

Kenapa ayah tidak mengatakan apapun padaku? Kenapa baru saja mengatakan segalanya!

Menatap surat ceraiku itu, aku jadi tidak berani mengatakan pada kedua orang tuaku jika aku dan Sasuke telah bercerai.

"Bagaimana dengan ibu? Sekarang kalian ada dimana?" Tanyaku, khawatir.

"Tenang saja Sakura, ayah dan ibu kembali ke desa Oto, tempat nenekmu, kami akan membantunya mengurus kebun dan tinggal disini. Ayah harap kau hidup dengan tenang bersama Sasuke, ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Ah tolong, sampaikan salam dari ayah, jangan lupa jika Sasuke tidak sibuk, berkunjunglah ke rumah nenek." Ucap ayah dan mengakhiri panggilan kami.

Kepalaku jadi sakit, apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika keluar dari rumah ini, aku akan langsung menjadi gelandangan, uang tabunganku hanya cukup untuk makan, kenapa kehidupan ini menjadi sangat kacau?

Berdiri dan mondar-mandir di dalam kamarku, aku sudah harus angkat kaki dari sini, ini adalah rumah milik Sasuke, aku juga sudah menolak apapun darinya, aku hanya tidak ingin merasa bergantung pada Sasuke, jika kehidupan bersama kita sudah berakhir, artinya aku tidak perlu terlibat apapun dengannya lagi.

Tapi bagaimana caranya?

Keluar dari rumah ini sama dengan menjadi gelandangan.

Tapi kami sudah bukan pasangan suami-istri secara hukum lagi!

Ah gila!

Kepalaku semakin sakit.

Kali ini aku harus menelan semua ucapanku sendiri, aku mungkin perlu tinggal sementara, aku harus bekerja apapun agar bisa keluar dari rumah ini.

Tidak jadi membawa koper itu keluar dan menemukan Sasuke di ruang tamu, aku bisa melihat lembaran surat perceraian itu di atas meja.

"Kau tidak membawa barang-barangmu? Aku tidak mungkin menggunakannya, jadi bawa saja semuanya." Ucapnya, lagi-lagi menatapku tanpa ekspresi itu.

"Aku belum menemukan tempat tinggal, a-aku juga tidak ingin merepotkan kedua orang tuaku." Aku tidak perlu mengatakan pada Sasuke jika kedua orang tuaku bangkrut, dia mungkin akan semakin menatapku dengan tatapan merendahkan. "Jadi apa aku bisa tinggal sementara disini? Aku janji tidak akan mengganggumu, aku akan menempati kamar tamu dan juga aku akan segera mencari tempat tinggal yang baru." Tambahku.

Sasuke terdiam sejenak dan menatapku, aku sangat berharap dia mendengar ucapanku, aku tidak ingin memohon-mohon di hadapannya.

"Terserah apa yang akan kau lakukan, kau tidak perlu meminta ijin apapun lagi dariku." Ucapnya dan beranjak pergi dari sana, dia bahkan meninggalkan surat perceraiannya di atas meja.

Aku juga tidak akan peduli.

Mengambil koperku dari kamar utama, menatapnya, haa…~ mungkin aku akan sangat rindu suasana kamar ini, kamar dimana kita biasa menghabiskan waktu bersama. Menarik koperku dan turun di lantai dua, di sana ada kamar tamu yang cukup kotor, aku harus membersihkannya dan mengganti bed-covernya.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Memulai aktifitas seperti biasa yang aku lakukan, bangun pagi dan berhenti saat akan membuka pintu kamar, dasar bodoh! Sadarlah jika kau tidak perlu mengurus Sasuke lagi! Dia sudah bukan suamimu!

Kembali duduk di sisi ranjang dan menunggu hingga waktu lebih siang, aku akan sengaja bangun terlambat, tidak perlu membuatkan sarapan untuk Sasuke, aku sudah tidak punya kewajiban melayani Sasuke.

Tok-tok-tok.

Sebuah ketukan, bergegas membuka pintu dan melihat Sasuke masih dengan pakaian tidurnya.

"Aku mengijinkanmu tinggal tapi tidak dengan cuma-cuma, kita akan membayar setengah-setengah tagihan listrik, air, dan juga pajak rumah." Ucapnya, dia terlihat seperti baru bangun tidur dan datang ke kamar ini hanya untuk mengatakan hal itu.

"Ya, aku mengerti, aku bukan tipe orang yang numpang begitu saja." Ucapku dan mengambil surat tagihan itu darinya.

Setelahnya, Sasuke beranjak pergi dari hadapanku, seakan baru kemarin kami terlihat seperti pasangan yang begitu mesra hingga membuat banyak orang iri, sekarang kami seperti orang asing yang hanya tinggal bersama tanpa adanya ikatan apapun. Perceraian itu adalah yang cukup sulit bagiku, aku harus mulai sadar dan menghilangkan kebiasaan yang selama ini aku lakukan saat masih berstatus istri Sasuke.

Menatap lembaran tagihan itu, pajak rumah setahun sekali, tapi biayanya cukup besar, rumah ini terlalu mewah, aku masih bisa mengatasinya jika aku bekerja dan menabung gajiku tiap bulan, aku belum memastikan kapan aku bisa aku keluar dari rumah ini, lalu tagihan listrik dan air akan di bayar perbulan, berjalan ke arah sebuah meja dan menarik lacinya, menatap buku tabunganku, bulan ini aku masih mampu membayar segalanya, tapi bulan depan aku tidak bisa membayar salah satunya, aku harus segera mencari pekerjaan.

Mandi dan bergegas, aku bisa mencium bau kopi dari arah dapur, tapi aku sudah tidak ada hak untuk melakukan apapun di sana, berjalan keluar rumah dan aku merasakan jika tatapan Sasuke mengarah ke arahku saat melewati dapur, tidak-tidak, mungkin hanya perasaanku saja.

"Apa kau sudah akan mencari pasangan baru?"

Langkahku terhenti dan menatapnya, pikirkan jawaban yang mungkin bisa menamparnya dengan sangat keras.

"Doakan saja aku mendapat pasangan yang lebih baik lagi dan kita akan cocok." Ucapku dan berusaha tersenyum di hadapannya, memalingkan wajahku, rasanya sangat aneh ketika Sasuke mengatakan hal itu, aku bukan tipe gadis yang akan mudah jatuh hati pada pria manapun, terserahlah jika dia memikirkan aku wanita buruk, lagi pula kami sudah bukan pasangan suami-istri, aku bebas melakukan apapun.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Beristirahat sejenak di sebuah kafe, aku sudah berkeliling dengan menggunakan ijasah kuliahku di berbagai perusahaan, bahkan dengan ucapan yang lantang dan bersemangat agar mereka menerimaku, ternyata mencari kerja tidak begitu mudah, sangat-sangat sulit, aku juga tidak memiliki pengalaman kerja, selama ini aku hidup terlalu enak dan tidak memikirkan hal lain seperti bekerja, aku harus mencoba lain waktu tapi akan terlalu lama jika hanya terus mencari pekerjaan saja.

Tidak-tidak, aku tidak boleh putus asa, beranjak dari kafe itu dan kembali mencari lowongan kerja di berbagai perusahaan yang ada.

Hingga malam tiba, tepat jam 10 malam, aku baru pulang, aku lelah, berjalan seharian dengan menggunakan sepatu ini, kakiku terasa akan lepas dari tubuhku, suasana rumah begitu sunyi dan gelap, apa Sasuke masih bekerja? Berjalan masuk dan pintu itu terkunci, ah sial, seharusnya aku membawa kunci cadangan, aku sudah bukan istri Sasuke lagi, tidak mungkin dia akan menungguku atau membawakan kunci untuku.

Sudahlah, duduk di teras dan melepas sepatu hitam itu, kakiku benar-benar sakit, apa Sasuke pergi bekerja? Biasanya dia akan pulang sangat malam, udara di luar juga cukup dingin, tapi mau bagaimana lagi? Aku bukan pemilik rumah ini dan harus mengalah.

Dreet…dreet…

Ponselku berdering, panggilan dari ibu. Menarik napasku dan berusaha berbicara dengan tenang.

"Halo ibu? Apa kabar?" Tanyaku dan berusaha ceria.

"Ibu senang mendengar suaramu, ibu baik-baik saja. Bagaimana denganmu, nak?"

Terdiam, aku tidak baik-baik saja bu, tapi jangan membuat ayah dan ibu khawatir lagi, mereka sudah kehilangan banyak hal, jika mereka tahu keadaanku, ibu mungkin akan lebih khawatir lagi.

"Aku juga sangat baik, bu."

"Dimana Sasuke? Ibu ingin menghubunginya, tapi takut mengganggunya bekerja."

"Sasuke? Dia sudah tidur sejak tadi, hari ini dia sedang banyak pekerjaan dan terlihat sangat lelah." Bohongku.

"Begitu yaa, ibu senang kalian masih tetap akur hingga sekarang."

Kami tidak akur bu dan sekarang kami telah bercerai, maaf jika aku membohongi ayah dan ibu, tanpa terasa aku meneteskan air mata dan suaraku jadi bergetar.

"Kami akan terus akur bu, jadi ayah dan ibu tidak usah khawatirkan aku, disini aku hidup enak dan nyaman." Ucapku, berusaha menahan suaraku.

"Apa kau sedang flu? Suaramu jadi terdengar aneh, Sakura."

"I-iya, aku hanya sedikit kedinginan, ini sudah malam, ibu istirahatlah, sampaikan salamku pada ayah dan nenek." Ucapku.

"Uhm, baiklah, jaga dirimu, nak."

"Baik ibu, aku akan menjaga diriku."

Aku tidak bisa menahannya lagi dan kembali menangis, kehidupan rumah tanggaku sudah hancur, aku juga tidak bisa apa-apa, aku tidak bisa mengandalkan kedua orang tuaku, mereka pun sedang kesulitan, aku juga tidak mungkin mengemis di keluarga Uchiha, aku tidak ingin mereka memikirkan jika keluarga Haruno hanya seperti benalu, untung saja kami sudah bercerai dan tidak begitu berdampak apa-apa pada keluarga Uchiha.

Hingga dua jam terlewatkan, mendengar suara mobil itu, segera menghapus air mataku, memakai sepatu dan berdiri dengan tenang di depan teras, Sasuke akhirnya pulang, dia sudah memarkir mobilnya dan berjalan ke arah pintu.

"Apa kau sudah lama disini?" Tanyanya.

"Tidak, aku juga baru saja sampai." Bohong, tanganku cukup kedinginan, aku sudah kedinginan sejak tadi.

Sasuke merogok sakunya dan menyodorkan sebuah kunci padaku. "Sebaiknya kau membawa kunci cadangan." Ucapnya.

"Iya." Ucapku dan aku tidak berani menatapnya, mataku mungkin akan terlihat memerah dan sedikit bengkak, kenapa aku harus menangis tadi! Dasar bodoh.

Mengambil kunci itu dari tangan Sasuke, dan aku tidak tahu apa itu di sengaja atau tidak olehnya, tangan kami jadi bersentuh dan aku segera menjauhkan tanganku darinya, dia akan tahu jika aku sudah menunggu lama.

"Bukalah pintu, aku harus mengambil barang di dalam mobil." Ucapnya.

Mengangguk dan mulai membuka pintu, menyalakan seluruh lampu dan berjalan menuju kamarku, aku sudah sangat lelah dan tidak ingin menatap Sasuke lagi.

Masuk ke kamar dan membuang diri, lelah, aku sudah sangat lelah berjalan kesana dan kemari hanya untuk mencari pekerjaan.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Seminggu berlalu, aku belum mendapat pekerjaan, jika tidak juga mendapat pekerjaan, apa yang bisa aku katakan pada Sasuke jika aku tidak punya uang untuk membayar tagihan itu? Dia pasti mencari tahu, apalagi dia akan menyangkutkan dengan kedua orang tuaku yang juga kaya raya, itu dulu, sekarang mereka juga hidup pas-pasan dan membantu nenek mengelolah kebun.

Berhenti di sebuah restoran cepat saji, tidak ada pilihan lain, pekerjaan di kantoran sangat sulit aku temukan, ini satu-satunya agar aku bisa mendapat uang, aku akan menekan segala biaya keperluanku, aku tidak bisa seperti dulu lagi yang akan mudah berbelanja apapun.

"Baik, kau akan di terima bekerja disini, mulai besok datanglah tepat waktu." Ucap manajer Nc-donald ini.

"Terima kasih, sekali lagi terima kasih." Ucapku, senang, akhirnya aku dapat pekerjaan, upahnya cukup dan aku bisa mulai menabung, mereka memperhitungkan gaji dengan melihat ijasah terakhirku.

Akhirnya, aku bisa pulang lebih cepat dan mendapat sebuah seragam dari Nc-donald itu.

Aku pulang lebih cepat dan tentu saja Sasuke belum pulang, berjalan ke arah dapur, kulkas yang kosong, apa saja yang di lakukan pria itu? Kenapa tidak mengisi kulkasnya? Padahal aku sangat rajin mengisi kulkas ini, sekarang isinya hanya tomat buah, susu dengan kemasan kotak. Aku sudah sangat lapar, jika memesan makanan, itu terlalu mahal, seharusnya aku belanja, mau tidak mau aku harus keluar lagi.

Berjalan ke sebuah minimarket yang tak jauh dari rumah, tidak perlu memasaknya di rumah, menyiram mie instan itu di minimarket, membeli beberapa onigiri dan sebotol air.

Terkejut saat menatap seseorang yang tengah mengetuk dinding kaca minimarket, dia tersenyum dan menunjuk ke arah pintu masuk, kenapa di saat seperti ini aku malah bertemu senior itu?

"Aku tidak percaya bisa bertemu seperti ini." Ucapnya dan terlihat senang.

"Aku juga tidak percaya." Ucapku dan berusaha terlihat senang, tapi aku malas bertemu dengannya.

Sasori, dia adalah salah satu senior di fakultasku saat aku kuliah dulu, sejujurnya kami tidak begitu akrab, tapi dia seperti sengaja membuatku kesulitan jika bersamanya.

"Kau tidak banyak berubah." Ucapnya dan duduk di kursi sebelahku.

"Senpai juga tidak banyak berubah, apa yang senpai lakukan di area ini? Aku yakin rumahmu bukan di sekitar sini." Ucapku.

"Aku hanya sedang berjalan-jalan setelah pindah, aku menempati sebuah apartemen di gedung sebelah sana." Ucapnya dan menunjuk salah satu gedung apartemen di sekitar area sini.

"Oh, senpai baru saja pindah."

"Ya begitulah, apa kau tinggal di sekitar sini?"

"Uhm, aku tinggal tidak jauh dari sini."

"Mungkin kita akan sering bertermu." Ucapnya, tertawa.

Aku berharap tidak bertemu dengannya lagi, menghabiskan mie instanku, memakannya bersama dengan onigiri yang aku beli.

"Bagaimana dengan suamimu? Kenapa kau malah makan mie instan disini? Kau jadi seperti seorang mahasiswa saja." Ucapnya.

Aku hampir tersedak makananku sendiri, buatlah cerita bohong, aku juga tidak ingin membuat orang seperti kak Sasori mencampuri urusanku.

"Suamiku sedang sibuk bekerja, dan hari ini aku sangat ingin makan mie instan." Ucapku.

"Apa jangan-jangan-" Ucapnya dan menatapku serius.

Apa?

Apa dia tahu aku berbohong?

"-Apa kau sedang hamil?" Ucapnya.

Uhuk' uhuk' uhuk'

"Makanlah pelan-pelan." Ucapnya dan menepuk pelan punggungku, aku benar-benar tersedak karenanya! Bagaimana dia bisa menyimpulkan aku sedang hamil!

"Se-senpai salah paham, tidak, aku belum hamil." Ucapku, panik.

"Begitu ya, maaf, hahahah, padahal kalian sudah cukup lama menikah." Ucapnya dan terlihat berpikir.

Kak Sasori mengetahuinya, aku sempat mengundangkan, dia menjadi senior yang suka ikut campur, aku jadi sedikit dekat dengannya dan merasa perlu mengundangnya.

Akhirnya aku selesai dengan makan malamku.

"Aku tidak perlu di antar." Ucapku, dia jadi merepotkan dirinya sendiri, sejak kami berjalan pulang, aku terus menolak tawarannya untuk menemaniku pulang.

"Tidak-tidak, ini sudah malam, kau harus di antar." Ucapnya lagi, tidak berubah, selalu saja memaksakan apapun.

Aku jadi sulit mengusirnya, semoga Sasuke belum pulang dan melihatnya, tunggu, apa yang aku pikirkan? Sasuke melihatnya pun itu tidak masalah, aku selalu lupa dengan perceraian kami.

Mematung saat melihat Sasuke baru akan membuka pintu, pupil onyx itu mengarah pada kak Sasori sejenak dan mengarah padaku.

"Oh ternyata suamimu sudah pulang." Ucap kak Sasori padaku. "Maaf, aku tidak sengaja mengantar istrimu pulang, kami juga tidak sengaja bertemu di minimarket, baiklah, selamat malam untuk kalian berdua." Ucapnya, dia sengaja mengeraskan suaranya dan melambaikan tangan pada Sasuke.

Rasanya aku ingin mengubur diriku hidup-hidup, berjalan dengan perasaan berat ini, tatapan Sasuke bahkan tidak lepas dariku, dia masih terus menatapku.

"Aku tidak mengenalnya, apa dia pacar barumu? Kenapa kau tidak mengatakan jika kita sudah bercerai." Ucap Sasuke.

Sejujurnya aku sangat kesal ketika dia mengatakan 'pacar baru', apa dia sangat ingin aku segera memiliki pasangan?

"Dia bukan pacarku, kau memang tidak mengenalnya, padahal dia datang waktu acara pernikahan kita, dia adalah salah satu seniorku saat kuliah dulu." Terdiam sejenak, aku memang tidak mengatakan apa-apa padanya. "Maaf, aku lupa mengatakan hal itu padanya, tapi untuk apa aku menceritakannya juga? Kami ini tidak akrab, aku hanya menghormatinya karena dia adalah seniorku dulunya." Tambahku.

Sasuke tidak menanggapi apa-apa, membuka pintu dan berjalan masuk begitu saja, aku juga sudah lelah dan sudah kenyang, hari ini makan instan dan onigiri, itu tidak masalah, aku harus mulai irit dengan belanja dan memasak di rumah.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

[Nc-Donald]

"Selamat datang di Nc-donald, mau pesan a-" Segera menundukkan wajahku, kenapa aku bertemu dengannya lagi? "Si-silahkan, pesan apa?" Tanyaku dengan menundukkan wajahku dan sedikit menurunkan topiku.

Untung saja dia sibuk melihat menu, ini sungguh masalah besar, kak Sasori malah datang ke tempat ini, kenapa tidak di cabang lain saja?

"Aku mau pesan satu menu paket double cheese dengan tambahan kentang, makan disini." Ucap kak Sasori.

"Baik, totalnya 60000, pesanan akan jadi dalam beberapa menit, mohon tunggu sebentar." Ucapku dan kali ini tatapannya terus mengarah padaku.

"Kau mirip seseorang yang aku kenal." Ucapnya. Semoga dia tidak sadar.

"Maaf, tolong jangan mengganggu antrian dan maaf aku sedang bekerja, tidak ada pembicaraan lain." Ucapku dan berusaha sesopan mungkin, manajer disini cukup galak jika tidak bisa menyenangkan hati pembeli.

Akhirnya kak Sasori mendapat pesanannya dan mencari tempat duduk, menatap ke depan, kembali tatapanku terkejut, kenapa hari ini sangat kacau? Aku melihat sekertaris pribadi Sasuke, menundukkan wajahku lagi.

"Mau pesan apa?" Tanyaku dan pria di hadapanku terdiam cukup lama, dia bahkan terus menatap ke arahku.

"Nyonya Sakura?" Ucapnya.

Aku sangat kenal pria ini, aku pikir Sasuke akan mengangkat seorang wanita untuk menjadi sekertaris pribadinya, dia malah menjadikan seorang pria sebagai sekertaris pribadinya, kami jadi sering bertemu. Suigetsu, nama pria yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengan Sasuke, jika Sasuke adalah tipe yang tenang, dia adalah tipe yang berisik.

Lagi pula untuk apa dia memanggilku 'nyonya'? Apa dia lupa jika saat di persidangan dia bersampingan dengan Sasuke?

"Maaf, anda salah orang, tolong segera memesan, anda mengganggu antrian." Ucapku.

"Ma-maaf. Paket chicken doubel satu, dua double cheese, ice coffee float, ice coffee dan juga tambahan kentang goreng." Ucapnya dan berusaha melihat wajahku.

Aku pikir ini bukan sebuah masalah, tapi aku mendapat teguran dari manajerku, dia melihat antrian yang panjang gara-gara ada dua orang pria yang mengajakku berbicara, aku sampai harus meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya.

Sebelum pulang, aku harus mengganti seragamku, aku tidak ingin Sasuke melihat seragam ini.

"Wah, ternyata aku tidak sia-sia menunggumu."

Mematung seperti orang bodoh.

"Se-senpai? Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku, panik, aku harus berbohong.

"Aku yakin jika pekerja di Nc-donald tadi adalah kau."

"Tidak, senpai salah lihat, aku bahkan tidak mengenakan seragam dari sana." Ucapku.

"Kenapa kalian terlihat mirip?"

"Aku rasa itu wajar saja, kadang beberapa orang akan terlihat sama, aku juga merasa melihat senpai beberapa kali, padahal itu hanya orang yang kesannya mirip saja." Alasanku.

"Jadi? Sungguh? Kau tidak bekerja disana?"

"Untuk apa bekerja disana? Orang tuaku kaya, suamiku kaya, aku tidak mungkin bekerja di tempat seperti itu." Ucapku, bohong saja terus, aku mulai terbiasa menjadi pembohong besar.

"Kau benar juga, aku melupakan hal itu. Lalu, kau dari mana? Aku melihatmu keluar dari sana?" Ucapnya dan menunjuk pintu belakang Nc-donald.

"Ah, i-itu, manajernya adalah kenalanku, aku hanya menyempatkan diri untuk menyapanya saja." Bohongku.

"Aku mengerti sekarang, hahahah, maaf sudah memikirkan yang tidak-tidak, apa kau akan pulang sekarang? Apa mau aku antar?" Tawarnya.

"Ti-tidak usah, Sasuke akan menjemputku, jadi senpai duluan saja." Ucapku.

"Aku akan menemanimu menunggunya, apa dia masih lama?"

Kenapa senpai ini hanya menambah masalah saja! Aku benar-benar kesal padanya! Aku hanya berbohong, Sasuke tidak akan datang, apa yang harus aku lakukan?

Sebuah mobil menepih di hadapan kami, kaca mobil itu di turunkan dan aku bisa melihat Suigetsu.

"Nyonya, ayo pulang bersamaku." Ucapnya, dia masih saja memanggilku nyonya.

"Siapa dia?" Tanya kak Sasori padaku.

"Dia sekertaris pribadi Sasuke. Aku akan pulang bersamanya, mungkin Sasuke sibuk. Dah." Ucapku dan bergegas naik ke mobil Suigetsu.

Ini sedikit hal yang aku harapkan, tapi sekarang menjadi masalah baru.

"Dia hanya salah satu seniorku di kampus dulu." Ucapku.

"Aku pikir dia pria yang sedang mengganggu nyonya, aku jadi menepih di hadapanmu." Ucapnya.

"Kenapa kau terus memanggilku 'nyonya'? Apa kau lupa jika aku dan Sasuke telah bercerai?" Ucapku.

"Aku hanya belum terbiasa memanggilmu, tapi itu tidak masalah." Ucapnya.

Aku rasa ini masalah.

"Aku yakin jika pegawai di Nc-donald itu adalah nyonya. Kenapa kau bekerja disana?"

Menatap Suigetsu, aku mungkin bisa percaya padanya.

"Berjanjilah tidak mengatakannya pada Sasuke." Ucapku.

"Kenapa? Mungkin tuan Sasuke perlu tahu."

"Tidak! Jangan katakan! Aku akan mematahkan tulang rusukmu jika kau berani mengatakannya." Ancamku.

"Kau cukup menakutkan nyonya, baiklah, kenapa aku tidak boleh mengatakannya?"

"Aku hanya sedang mencari pekerjaan, dan hanya di situ aku bisa mendapat pekerjaan."

"Kenapa tidak mencoba di perusahaan tuan?"

"Apa kau sudah gila? Aku tidak mungkin bekerja disana dan mereka akan lebih senang menggosipkanku. Aku tidak mau bergantung pada Sasuke."

"Nyonya tidak pulang ke rumah orang tua nyonya?"

"Tidak, aku sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri." Tegasku.

Kedua orang tuaku juga sedang sulit, jika aku muncul di hadapan mereka, aku yakin mereka akan sangat sedih dan merasa jika tidak bisa membuat hidupku nyaman lagi seperti dulu lagi.

Aku benar-benar lelah memikirkan segalanya.

"Apa Sasuke sudah memiliki pasangan baru?" Tanyaku tiba-tiba, dia selalu mengatakan pasangan baru padaku, aku juga harus tahu apa dia sudah memilih pasangan barunya.

"Sepanjang hari dia hanya sibuk bekerja, dia seperti tidak ada waktu untuk memikirkan pasangan baru, tapi beberapa kali aku melihatnya melamun dan menatap cincin pernikahannya." Ucap Suigetsu.

Cincin pernikahan?

Aku juga tidak sadar jika aku sudah menyimpan cincin itu, aku bahkan lupa menaruhnya dimana.

"Jangan terlalu di pikirkan, dia mungkin sedang lelah dengan pekerjaannya." Ucapku.

Menatap Suigetsu dan dia hanya tersenyum, aku tidak mengerti, apa yang sedang kau pikirkan Suigetsu? Sasuke mungkin tidak sengaja melakukan itu.

Mobil ini menepih, Suigetsu tahu jika aku masih tinggal bersama Sasuke.

"Selamat malam nyonya." Ucapnya.

Mobil Sasuke sudah ada di garasi, pantas saja Suigetsu jadi bebas, membuka pintu dan berjalan masuk, suasana rumah yang sepi seperti biasanya, aku lagi-lagi lupa membeli makanan sebelum pulang.

Memutar haluan dan kembali keluar rumah.

"Kau akan keluar lagi?" Ucap sebuah suara.

Berbalik dan melihat Sasuke disana, dia tengah berjalan turun dari tangga.

"Hanya sebentar saja, aku akan membeli sesuatu di minimarket." Ucapku.

"Apa bertemu pria berambut merah itu lagi?"

"A-apa? Tidak, kau salah paham, aku tidak keluar untuk menemuinya, kau bisa percaya pa-" Menghentikan ucapanku.

Apa yang sedang coba aku katakan? Aku malah ingin menyakinkan pada Sasuke jika aku dan senpaiku itu tidak ada hubungan apa-apa, ingat Sakura! Kalian telah bercerai!

"Aku tidak jadi keluar, selamat malam." Ucapku dan berjalan masuk ke kamarku, aku akan skip makan malam hari ini saja, tidak apa-apa, aku akan langsung tidur.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Hari ini, aku harus waspada jika kedua makhluk itu tiba-tiba memesan disini, hal itu sangat buruk, apa mereka tidak punya kesibukan lain dan memilih memesan disini?

Akhirnya pekerjaanku selesai tanpa terganggu, kedua makhluk itu tidak muncul, aku jadi bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik dan tidak mendapat teguran lagi, ini adalah pekerjaan yang sangat-sangat berharga untukku, aku harus berusaha lebih baik lagi dalam bekerja.

Berhenti di sebuah minimarket, aku tidak punya waktu untuk berbelanja dan masak di rumah, hari ini lagi-lagi mie instan dan onigiri.

"Aku jadi curiga jika kau benar-benar hamil."

Uhuk'

Uhuk'

Aku tidak bisa makan dengan tenang dan terus meminum air botolku, kenapa senpai suka ikut campur ini tiba-tiba muncul! Aku benar-benar terkejut dan tersedak.

"Aku tidak hamil!" Protesku.

"Aku selalu menemukanmu makan mie instan, apa ini tidak semacam ngidam?"

"Tidak! Dan pergi dari sini! Senpai sangat mengganggu!" Kesalku.

"Kenapa kau jadi marah padaku? Ini pasti perubahan mood ibu hamil."

"Tidak mungkin aku hamil jika kami telah bercerai!" Teriakku kesal.

Upss!

Apa yang baru saja aku katakan!

Ah! Bodoh!

Bodoh!

Bodoh!

Bodoh!

"A-a-aku hanya bercanda, senpai jangan menganggap ucapanku serius. Hubunganku dengan Sasuke sangat baik." Ucapku, panik.

Aku sampai keceplosan karena dia, mati aku!

"Hahahahah, kau ini benar-benar lucu Sakura." Ucapnya.

Aku hampir tidak bernapas lagi, kak Sasori akhirnya berpikiran jika aku hanya bercanda. Dasar mulut bodoh! Jangan sampai asal ceplos lagi.

Kembali kak Sasori menawarkan diri untuk mengantarku pulang, tapi kali ini aku harus menolaknya dengan berbagai alasan, termasuk menyeret nama Sasuke lagi.

"Sasuke tidak begitu suka jika aku dekat dengan pria lain, maaf senpai, aku tahu niat baikmu, tapi di mata Sasuke aku jadi wanita yang gampangan." Ucapku, aku harap kak Sasori mengerti.

"Begitu ya, aku paham, sikap para suami akan seperti itu jika dia sangat mencintai istrinya." Ucap kak Sasori dan pamit lebih dulu padaku.

Berjalan pulang dan memikirkan semua ucapan kak Sasori, Sasuke tidak mencintaiku lagi, hubungan ini sudah berakhir, apa yang perlu di lanjutkan? Sebentar lagi aku juga akan angkat kaki dari rumah itu, hidup sendirian dan mungkin menghabiskan sisa hidupku untuk bekerja keras, aku bisa mengirim sedikit gajiku pada ayah dan ibu agar mereka tidak begitu sulit.

Berhenti dan menatap langit di malam hari, tidak ada bintang yang terlihat, hidup ini tidak selamanya berjalan mulus, aku tahu, setiap kehidupan ada saja drama yang tiba-tiba muncul dan berjalan beriringan dengan kehidupan ini.

Tahun ini aku tidak begitu mendapat keberuntungan, tapi ini bukan hal yang perlu aku sesali, aku masih bisa melanjutkan hidupku, aku masih punya pekerjaan yang perlu aku lakukan dan aku harus membayar tagihan-tagihan itu.

Aku pasti bisa menjalankannya, aku hanya menekankan hal ini agar tidak tenggelam dalam kesedihan, untuk apa bersedih? Aku masih mendapat keberuntunganku.

Tapi,

Berjongkok di trotoar, rasanya berat setiap aku ingin melangkah dan hanya sendirian, aku jadi memikirkan, jika saja ku tidak cerai, jika saja aku tahan akan sikap Sasuke, jika saja aku memaklumi keadaannya, jika saja aku berusaha membuatnya tidak bosan dengan kehidupan rumah tangga kami,

jika saja…

Hiks.

Aku tidak tahu lagi, aku mungkin mulai menyesal, seharusnya aku tidak menandatangi surat cerai itu dan kami tidak perlu bercerai, siapa lagi pria yang aku cintai? Aku tidak bisa memikirkan pria lain selain Sasuke.

Seakan beban itu terus menumpuk hingga punggungku pun sulit untuk terangkat, aku tidak bisa bergerak.

Menyeka air mata di wajahku, sekarang tidak ada waktu untuk menyesal, semua sudah terjadi dan aku hanya perlu melanjutkan hidup ini.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Aku mengambil shift pagi hingga malam, aku hanya berusaha menghindar dari Sasuke, dengan begitu kami tidak perlu bertemu saat dirumah, selama itu juga, aku mencari-cari tempat tinggal yang baru, aku mulai tidak nyaman tinggal bersama Sasuke, aku harus segera keluar.

Aku benar-benar bekerja dengan sangat giat, hingga, aku mulai lelah, bekerja dan pola makan yang tidak teratur, demi menekan biaya kehidupan, aku harus irit untuk makan dan keperluan. Ini bukan apa-apa, kelaparan bukan hal penting, jika aku memiliki banyak uang, aku tidak akan susah, aku juga bisa membantu ayah dan ibu.

Pagi ini, aku tidak bangun dari tempat tidur, mengirim pesan pada manajerku jika aku sakit, aku sampai pada batasku untuk bekerja, aku lelah dan kacau mengatur asupan makananku.

Sekarang, hanya berbaring di ranjang, Sasuke mungkin sudah pergi bekerja, aku berhasil menghindarinya, kami jadi tidak akan pernah bertemu dan tidak perlu berbicara, akhir-akhir ini senpai Sasori juga tidak terlihat, itu sangat bagus.

Tapi,

Mungkin aku demam, tubuhku rasanya sakit semua, perutku juga sakit, apa mungkin aku bekerja terlalu keras? Disaat seperti ini aku jadi merindukan ibu, menghubungi mereka.

"Ada apa Sakura kau menghubungi ibu?" Ucap ibu.

"Aku hanya ingin tahu kabar ibu." Ucapku dan tetap tenang.

"Disini ibu sibuk membantu nenek, hasil panen lumayan melimpah, kami akan ke pasar dan menjualnya."

"Maaf jika aku mengganggu ibu."

"Apa Sasuke sudah pergi bekerja?"

"Iya, bu, ibu tahu sendiri dia sangat sibuk."

"Baiklah, ibu harus bergegas, ayah juga sangat senang membantu nenek, mungkin inilah yang terbaik untuk kami. Jangan lupa makanlah yang teratur dan jaga Sasuke juga baik-baik."

"Iya, bu, aku mengerti. Aku juga senang mendengar ayah dan ibu baik-baik saja." Ucapku

Percakapan kami akhirnya berakhir, ibu sedang sibuk, aku jadi mengganggunya. Menaikkan selimut sebatas leher dan mencoba tidur, jika aku istirahat, aku akan segera sembuh.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Rasanya aku tidur sangat lama, membuka mataku dan aku melihat tempat yang berbeda, ini dimana? Kenapa ada infus di tanganku?

"Kau sudah sadar?"

Melirik ke samping. Sasuke? Kenapa dia ada disini?

"I-ini dimana?" Tanyaku, bingung.

"Di rumah sakit. Kau tidak ingin mengatakan apa-apa padaku?" Ucapnya dan tatapan itu selalu saja terlihat tenang.

Aku tidak tahu jika aku sampai berakhir dirumah sakit, aku hanya berusaha tidur dengan tenang, aku yakin jika akan sembuh begitu saja.

"Kata dokter, kau kelelahan, demam, dan maagh. Apa saja yang kau lakukan selama ini?"

"Aku pikir kita tidak perlu mengetahui satu sama lain lagi." Ucapku dan tidak berani menatapnya.

"Kau masih tinggal di rumahku, artinya aku masih perlu memperhatikanmu, jika saja aku tidak masuk ke kamarmu, apa yang akan terjadi padamu? Kau ini sangat bodoh." Ucapnya, sejenak nada suara itu terdengar marah. Dia marah akan hal bodoh yang aku lakukan.

"Anggap saja aku sedang menghukum diriku sendiri." Ucapku.

"Aku tidak ingin dengar apapun, kau harus di rawat lagi beberapa hari." Ucapnya.

"Tidak perlu, aku di rumah saja." Ucapku, aku tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan apalagi rawat inap.

"Diam disini, jalani perawatanmu." Ucap Sasuke.

Aku tidak bisa katakan jika aku tidak punya uang, bagaimana aku akan membayar biaya rumah sakit ini! Kenapa aku malah mendapat kesialan lagi?

Tapi,

Setelah keluar dari rumah sakit, aku tidak membayar sepeser pun, Sasuke menyelesaikan administrasinya saat aku akan keluar.

"Aku yakin jika kau bukan pengidap penyakit maagh, bagaimana kau bisa sakit seperti itu? Apa kau tidak makan dengan teratur?" Ucap Sasuke, seakan dia tengah mengomel padaku.

Memilih diam, aku masih berusaha mengumpulkan uang yang banyak, aku tidak mungkin mengatakan pada Sasuke, aku sedang mengalami masa sulit, padahal orang yang memiliki banyak uang ada di hadapanku, tapi aku tidak bisa apa-apa, meminjam padanya hanya akan menjatuhkan harga diriku.

Sekarang kami hanya orang asing yang kebetulan tinggal bersama, aku sudah berniat akan pindah dan tidak perlu menyusahkan Sasuke lagi.

"Terima kasih atas bantuanmu, aku jadi berutang padamu." Ucapku, sekedar mengalihkan pembicaraan ini.

"Jika kau ada kesulitan, kau bisa katakan padaku." Ucapnya dan tatapan kami bertemu.

Di saat seperti ini, rasanya aku ingin menangis dan memeluknya, aku ingin memohon padanya, aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu dan aku akan menjadi istri yang penurut tanpa menuntut dan mengeluh apapun, aku sangat ingin melakukan semua itu, aku ingin kita kembali.

Aku menyesal, aku sangat-sangat menyesal.

Menyadarkan diri, kau sudah gila Sakura! Aku tidak mungkin menghubungkan benang yang sudah putus itu, ego ini jauh lebih tinggi dari apapun.

"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir seperti itu." Ucapku dan berusaha tersenyum di hadapan Sasuke.

Aku tetap bungkam akan apapun.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Akhirnya aku bisa bekerja kembali, aku mendapat sedikit kompenisasi saat tidak masuk akibat sakit, kembali bekerja seperti biasanya, aku akan kembali mengumpulkan uang sebanyak mungkin, saat pulang, aku akan singgah di minimarket dan makan mie instan lagi, sesekali makan onigiri saja, aku akan makan dengan teratur agar tidak sakit lagi, aku jadi optimis dan merasa semua akan baik-baik saja.

Melakukan pekerjaan dengan semangat dan tatapanku mengarah pada pintu masuk, kenapa Suigetsu dan Sasuke ada disini?

"Maaf, bisa kau gantikan sebentar? Aku harus ke kamar kecil." Ucapku, aku sampai panik melihat mereka berdua kesini.

Temanku yang akan melayani mereka, aku bisa mengintip dari ruangan belakang dan melihat gerak-gerik Suigetsu, dia tidak mendengarkan ucapanku dan malah mengajak Sasuke ke sini, mau apa dia! Jelas sekali jika dia sedang mencariku. Aku harus menghindar, jika saja aku bertemu dengannya lagi, aku benar-benar akan memukulnya.

Pekerjaan hari ini jauh lebih melelahkan saat aku berusaha menghindari Suigetsu dan Sasuke.

Malam ini, duduk dan menatap keluar dari dinding kaca di minimarket ini, hari ini aku tidak makan mie instan dan onigiri lagi, aku hanya membeli sebotol minuman dingin dan duduk menatap jalan raya yang ramai dengan kendaraan.

"Hari ini tidak makan mie instan lagi?"

Aku tidak terkejut dan seakan mulai terbiasa setiap dia tiba-tiba datang.

"Aku sedang bosan." Ucapku.

"Untung saja aku menemukanmu hari ini, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucapnya.

Mengalihkan tatapanku dan menatapnya, apa yang ingin senpai Sasori katakan?

"Aku tahu jika ini berita yang sudah lama, tapi aku baru mengetahuinya dan tidak begitu terekspos."

"Apa maksud senpai? Aku tidak mengerti."

"Perusahaan Haruno mengalami kebangkrutan, demi membayar pegawai dan utang yang menumpuk, direktur utama Haruno Kizasashi rela menjual seluruh aset dan perusahaannya demi membayar para pekerjanya. Kenapa kau menyembunyikan masalah sebesar ini? Kenapa suamimu yang termasuk memiliki perusahaan besar tidak membantu ayah mertuanya?" Ucapnya.

Sejenak ini membuatku sangat terkejut, aku tidak tahu bagaimana kak Sasori mendapat berita itu, lalu jika dia menghubungkan dengan Sasuke, aku tidak bisa menjawab apa-apa, Sasuke dan aku tidak ada hubungan lagi, jadi dia tidak punya kewajiban untuk membantu perusahaan keluargaku.

"Ini adalah masalah pribadi, senpai terlalu jauh untuk ikut campur." Ucapku.

"Aku tahu, maaf, aku hanya tidak menyangka jika perusahaan keluargamu akan berakhir seperti itu."

"Ada begitu banyak pesaing di dunia bisnis, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, saat ini kedua orang tuaku sudah tenang di desa, utang mereka lunas, para pegawai tidak perlu di PHK, jadi semua baik-baik saja." Ucapku, walaupun ayah dan ibu kehilangan segalanya, setidaknya mereka tidak perlu di cari-cari oleh penagih utang perusahaan.

"Aku turut senang mendengarnya."

"Aku harus pulang, lain kali senpai tidak perlu membicarakan apapun tentang keluargaku lagi." Ucapku, aku hanya ingin memberinya sebuah batasan jika dia hanya perlu menjadi senior dari kampusku saja, tidak perlu di luar dari itu.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Bulan ini, membayar tagihan listrik dan air, untung saja gajiku sudah keluar, aku menyimpan sebagian, sebagiannya untuk makan sebulan yang utama.

"Ini bagianku." Ucapku dan menyerahkan setengah uang tagihan pada Sasuke.

"Apa kau makan dengan teratur?" Tanya Sasuke padaku dan memperhatikan keadaanku, aku rasa aku tidak terlalu kurus, aku menjaga pola makanku walaupun menekannya dengan sangat ketat.

"Ya, aku makan dengan sangat teratur. Jangan membuat dirimu pusing untuk mengurus keadaanku, aku akan baik-baik saja, sebaiknya kau segera mencari pasangan yang baru agar ada yang bisa mengurusmu dengan baik." Ucapku.

Sasuke tidak juga mengambil uang dari tanganku, dia masih menatapku, tapi entah apa yang di tatapnya, menaruh uang bagianku di atas meja dengan sebuah kertas tagihan.

"Aku akan keluar." Ucapku.

Hari ini Sasuke tidak bersiap untuk bekerja, apa dia sedang istirahat?

Aku juga tidak perlu peduli akan apa yang sedang di lakukannya, untuk sekarang, hidup bekerja keras dan kumpulkan uang sebanyak mungkin.

"Oh ya, aku akan pindah dua minggu lagi, aku berterima kasih atas segalanya, kau pria yang baik Sasuke. Aku berharap kau menemukan wanita yang sesuai dengan keinginanmu." Ucapku.

Sasuke tidak menanggapi apa-apa, dia hanya menatapku, jika kau punya sebuah keluhan kau bisa katakan padaku, dari pada diam seperti itu, aku jadi bingung menangkap apa yang tengah kau pikirkan.

Melakukan pekerjaanku seperti biasa, menatap seseorang dengan wajah senangnya, kenapa dia datang lagi!

"Silahkan pesanan anda tuan." Ucapku, dan berusaha ramah padanya.

"Aku pesan paket yang itu dua, tolong satu di bungkus dan satu untuk makan disini." Ucapnya.

Suigetsu lagi-lagi datang, aku ingin berbicara padanya, aku yakin dia sengaja membawa Sasuke waktu itu, aku jadi harus kabur karenanya,

Pesanan Suigetsu sudah jadi, memanggil nomer antriannya, Suigetsu hanya mengambil pesanan yang akan di makan disini dan menyodorkan pesanan yang telah di bungkus.

"Untukmu, nyonya." Ucapnya dan tersenyum padaku.

"Apa kau bisa menungguku? Aku ingin bicara." Ucapku.

"Tentu, nyonya."

"Shhtt! Jangan memanggilku 'nyonya' lagi!" Protesku.

Setelah jam kerjaku berakhir, menatap pria itu, dia benar-benar menungguku hingga jam kerjaku berakhir.

"Apa kita bisa ke suatu tempat?" Tanyanya padaku.

"Ya, terserah kau saja." Ucapku, aku sedang malas.

Suigetsu mengajakku ke sebuah kafe, tapi sebelum itu.

Bught!

Aku benar-benar memukul perutnya.

"Kenapa kau mengajak Sasuke ke tempat kerjaku!" Ucapku, marah.

"I-itu tidak sengaja, Sasuke yang ingin makan disana." Ucapnya dan menahan perutnya yang sakit.

"Aku tidak percaya padamu lagi, kau pasti berbohong."

"Tapi untung saja nyonya bersembunyi."

"Aku akan memukulmu sekali lagi, kau pasti melihatku." Kesalku.

"Kami sungguh tidak sengaja kesana." Ucapnya lagi dan tetap saja aku tidak bisa percaya. "Aku akan menebus kesalahanku." Ucapnya.

Bukannya aku ingin memerasnya, tapi gara-gara dia aku jadi tidak bisa tenang untuk bekerja dan memperhatikan setiap pembeli yang datang.

Kami tiba di sebuah restoran.

"Aku ingin memesan apapun." Ucapku.

"Tentu, nyonya bisa memesan apa saja." Ucap Suigetsu, bahkan dia tidak terlihat takut jika aku akan membocorkan dompetnya, lagi pula dia memiliki gaji yang sangat besar.

Aku benar-benar memesan banyak makanan, kata Sasuke aku harus makan teratur, hari ini aku benar-benar akan makan yang banyak hingga puas.

"Nyonya seperti orang yang kelaparan."

"Ya, aku sangat kelaparan." Tegasku, aku tidak pernah menjaga imageku, Suigetsu tahu aku seperti apa, kami kadang seperti teman.

"Apa tuan Sasuke tidak memberimu makanan?"

"Ha? Untuk apa Sasuke memberiku makanan? Aku bukan istrinya, dia tidak bertanggung jawab apa-apa lagi padaku." Ucapku. Kenapa aku jadi merasa sedih lagi.

"Baiklah, makanlah yang banyak nyonya."

"Ah panggilan itu, tolong hentikan Suigetsu, aku tidak suka kau memanggilku 'nyonya', suatu saat akan ada nyonya baru yang akan kau panggil seperti itu." Ucapku, dia harus berhenti memanggilku 'nyonya'.

"Itu akan terjadi jika tuan Sasuke melirik wanita lain, tapi bagaimana jika dia tidak bisa melakukan hal itu? Dia seperti hanya menatap satu wanita saja." Ucap Suigetsu.

Aku tidak akan ge-er, aku yakin itu bukan aku.

"Jadi hari ini Sasuke sedang meliburkan diri?" Tanyaku, Sasuke tidak bersiap-siap dan Suigetsu memiliki banyak waktu kosong hingga menunggu selesai bekerja.

"Iya, dia akan istirahat selama lima hari." Ucapnya.

Aku sudah berharap tidak bertemu dengannya, tapi Sasuke akan berada di rumah sepanjang hari, aku juga tidak akan pernah berada di rumah dan akan terus pergi bekerja.

Malam ini, aku jadi mendapat makan malam yang cukup mewah.

"Terima kasih sudah merepotkanmu, lain kali jangan membocorkan apapun lagi yang kau ketahui." Ucapku dan mengancamnya sekali lagi.

"Maafkan aku nyonya. Bagaimana jika aku mengantarmu?"

"Tidak, aku tidak ingin Sasuke melihatmu dan dia akan bertanya banyak hal padamu. Pergi dari hadapanku sekarang juga. Aku benar-benar memberi peringatan untuk tidak mengatakan apapun pada Sasuke." Tegasku.

"Baiklah, nyonya, selamat malam." Ucapnya dan pergi dari hadapanku.

Aku harus bergegas naik bus sebelum bus terakhir, hari sudah semakin malam.

Saat baru saja turun di halte bus dan melihat kak Sasori, bergegas bersembunyi dan menunggunya lewat, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, dia selalu saja ikut campur.

Akhirnya kak Sasori sudah lewat, aku harus bergegas pulang sebelum kami bertemu lagi.

Setibanya di rumah dan membuka pintu, Sasuke membuatku terkejut, dia berada diruang tamu, duduk dengan tenang dan seperti tengah membaca buku, entah buku apa yang sedang dibacanya.

"Kau sudah pulang?" Tanyanya.

"Uhm, aku pulang." Ucapku, aku jadi canggung menghadapinya. "Selamat malam, aku akan segera tidur." Lanjutku dan bergegas pergi darinya, aku pikir tidak perlu menghampirinya dan menceritakan apapun yang terjadi.

"Apa kau sedang bekerja?" tanyanya, lagi.

Aku tahu, ini akan aneh jika aku keluar pagi dan pulang malam, jika tidak bekerja aku tidak mungkin menjadi orang bodoh yang keluar seharian.

"Iya, aku sudah mulai bekerja." Ucapku.

"Dimana?"

Menatap Sasuke dan tatapan kami bertemu.

"Aku harap kita tidak perlu saling mengetahui apapun lagi." Ucapku, sekedar membuatnya ingat dengan status kita sekarang. "Maaf, aku sedikit lelah." Tambahku dan pamit padanya.

Jangan membuat segalanya menjadi rumit lagi, Sasuke, aku sudah mulai menerima keadaan kita ini, aku akan perlahan-lahan melupakan rasa di saat kita bersama.

Dan aku harap segera melupakan perasaan ini.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Pagi harinya, aku sudah harus berangkat kerja sebelum terlambat, Sasuke tiba-tiba saja muncul di hadapanku dan menghalangi jalanku.

"A-ada apa?" Ucapku, bahkan tak menatapnya.

"Aku membuat sarapan, apa kau tidak ingin sarapan dulu sebelum bekerja?" Ucapnya dan membuatku menatap pria ini.

"Aku akan sarapan di luar." Ucapku, melewatinya dan tangan pria itu menahanku.

"Sebaiknya kau sarapan dirumah."

"Jangan merepotkan dirimu, aku bisa melakukannya." Ucapku, aku jadi mulai kesal padanya.

"Hanya sebentar ini tidak akan lama."

Aku benar-benar kesal dan sangat ingin marah padanya.

"Kenapa kau begitu keras kepala? Dasar menyebalkan." Ucapku, marah tapi langkah kakiku menuju ruang makan, hanya sebuah sarapan sederhana dan ada segelas kopi darinya.

Pagi ini, kami sarapan bersama, rasanya seperti waktu pertama kali kami tinggal bersama, aku cukup merindukan suasana ini, sarapan sederhana dan cerita-cerita keseharian kami yang menemani sarapan ini.

Tapi, aku tetap makan dengan tenang, aku tidak ingin memulai pembicaraan apapun dengan Sasuke, aku melupakan sesuatu.

"Apa Suigetsu tidak mengatakan sesuatu padamu?" Tanyaku, memastikan jika pria itu tidak ember pada Sasuke.

"Mengatakan sesuatu seperti apa?" Tanya balik Sasuke.

"Seperti-" aku jadi bingung mau mengatakan apa, aku harap Sasuke tidak menanyakannya lebih jauh. "-Seperti apa yang aku lakukan akhir-akhir ini." Ucapku.

"Tidak ada, apa Suigetsu tahu sesuatu?"

Ah bodoh! Seharusnya aku tidak memulai pembicaraan ini!

"E-entahlah, dia itu selalu muncul dimana saja, mungkin dia memata-mataiku, mungkin dia tahu sesuatu atau pernah melihatku."

"Oh, aku akan bertanya padanya."

"Jangan! Apa yang kau lakukan!" Panikku.

Sasuke terdiam dan menatapku, aku benar-benar kacau dan malah mengeraskan suaraku, aku sangat panik mendengar Sasuke ingin mencari tahu, awas saja jika Suigetsu membicarakannya.

"Baik, aku tidak akan mencari tahu, kenapa kau begitu panik? Apa kau bekerja di tempat yang aneh? Semacam bar atau menarik perhatian para pria?" Ucapnya bahkan dengan tatapan santai itu

Braak!

Aku benar-benar marah akan ucapannya itu. Bagaimana dia mencap aku seperti itu!

"Aku wanita baik-baik dan pekerjaanku juga baik. Terima kasih atas sarapannya, aku rasa tidak perlu kau lakukan lagi, aku tidak butuh rasa kasihan dan simpatimu. Ingat jika hubungan kita sudah berakhir." Ucapku.

Aku harus segera pergi sebelum terlambat, suasana hatiku menjadi buruk setelah mendengar ucapan Sasuke.

Apa maksudnya aku melakukan pekerjaan seperti itu? Dia sangat tahu aku wanita yang seperti apa, dia benar-benar keterlaluan, untung saja kami telah bercerai, sebaiknya aku mempercepat waktu pindahanku dari rumah itu. Aku tidak ingin bertemu Sasuke lagi selama-lamanya.

Berhenti sejenak, apa yang di pikirkannya dengan mengatakan hal itu padaku? Jika dia benci padaku, kenapa harus sampai bersikap baik hanya untuk menjatuhkanku? Ini membuatku merasa sangat sedih, sudahlah, tidak ada juga jalan untuk berbaikan.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Hari ini, sepulang kerja, mematung dan menatap kedua orang tuaku yang menyambutku dengan senang.

"Akhirnya kami punya waktu untuk mengunjungi kalian." Ucap ayahku.

Menatap Sasuke, dia terlihat santai saja, apa dia sudah mengatakan pada kedua orang tuaku?

"Ada apa dengan tubuhmu Sakura? Kau semakin kurus, apa kau tidak makan dengan teratur?" Ucap ibu dan tatapan Sasuke ikut mengarah pada tubuh.

Melotot ke arahnya.

Apa yang kau lihat! Tubuhku kurusan bukan urusanmu lagi, tapi saat ini aku benar-benar sakit kepala, rasanya campur aduk, apa Sasuke sudah menceritakan masalah perceraian kami? Dan apakah kedua orang tuaku sudah mengatakan masalah kebangkrutan mereka, kakiku juga jadi terasa lemas dan kepalaku pusing.

"Sakura! Apa yang terjadi!" Teriak panik kedua orang tuaku, ayah berusaha menahan tubuhku agar tidak terjatuh ke lantai.

Aku ingin mati saja.

Selama ini aku sudah membuat semuanya tertutupi agar tidak menimbulkan masalah, tapi kenapa kedua orang tuaku mengunjungiku?

"Biar aku yang membawanya ke kamar." Ucap Sasuke.

Menatap pria itu, aku tidak percaya dengan apa yang di lakukannya, dia menggendongku dan membawaku ke kamarnya, itu dulu kamar kami, kenapa dia tidak membawaku ke kamar tamu?

Sasuke membaringkanku perlahan dan menatapku dengan cemas.

"Apa kau sakit?" Tanyanya, dia sangat khawatir.

"Ti-tidak, aku hanya kelelahan, apa kau sudah mengatakan pada kedua orang tuaku tentang hubungan kita?" Tanyaku.

Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?"

"Aku belum bisa mengatakan pada mereka." Ucap Sasuke.

Sejenak aku merasa sedikit lega, aku juga berbohong pada mereka, Sasuke seperti membantuku menutupinya.

"Tapi barang-barangku?" Ucapku.

"Tidak perlu kau khawatirkan, aku mengemasnya dan menyimpan semuanya di dalam lemariku." Ucap Sasuke.

Dia sangat gesit juga.

"Apa kau tidak masalah seperti ini? Kau bisa mengatakan pada kedua orang tuaku agar mereka tidak mengunjungmu lagi." Ucapku, aku merasa tidak enak, di saat status kami sudah tidak ada lagi, kedua orang tuaku masih memperlakukan Sasuke sebagai menantu mereka.

Sebuah ketukan di pintu.

"Ibu membawakanmu ramuan tradisional. Kata Sasuke kau mulai bekerja di perusahaannya, ibu tidak percaya jika kau akan mandiri juga." Ucap ibu.

Menatap ke arah Sasuke, dia juga berbohong soal pekerjaanku, Sasuke tidak tahu aku bekerja apa, dia malah membuat cerita bohong jika aku bekerja di perusahaannya.

"A-aku hanya bosan di rumah dan juga ingin merasakan memiliki pekerjaan." Ucapku.

Sasuke membantuku bangun perlahan dan ibu memberiku sebuah ramuan.

"Pahit! Minuman macam apa ini?" Ucapku.

"Itu hanya untuk menambah stamina, kau tidak boleh terlalu lelah." Ucap ibu dan sebuah senyum di wajahnya, aku tidak tahu apa maksud senyuman ibu. "Baiklah, ibu tidak akan menganggu kalian lagi." Ucap ibu dan akhirnya keluar, menutup pintu itu perlahan.

"Apa mereka menginap disini?" Tanyaku.

"Iya, aku membiarkan mereka menginap, aku yakin mereka lelah untuk datang ke sini." Ucap Sasuke.

Kau terlalu baik Sasuke, padahal mereka bukan lagi mertuamu.

Tunggu, masih ada satu hal lagi.

"Apa ayahku mengatakan sesuatu padamu? Seperti menyinggung perusahaannya?" Tanyaku, aku ingin tahu apa ayah menceritakan tentang perusahaannya.

"Tidak, mereka hanya menanyakan kabar kita." Ucap Sasuke.

Aku jadi bernapas lega, aku harap ayah tidak mengatakan apapun agar Sasuke tidak perlu kasihan terhadap kami.

"Terima kasih, terima kasih atas segalanya Sasuke." Ucapku.

"Istirahatlah." Ucapnya dan beranjak dari hadapanku.

"A-apa aku akan tidur disini?" Tanyaku, bingung.

"Tentu saja, jika kau tidur di kamar lain, apa yang akan kedua orang tuamu pikirkan?" Ucap Sasuke.

Itu benar, mereka pasti akan menanyakan berbagai hal pada kami.

Pada akhirnya, kami tidur bersama dan aku sama sekali tidak bisa tidur, melirik ke samping, Sasuke menutup matanya, apa dia sudah tidur? Aku merasa tak nyaman, bangun dan duduk di sisi ranjang, mencari sebuah selimut di dalam lemari dan menaruhnya di lantai, mengambil sebuah bantal dari ranjang, aku rasa tidak perlu tidur seranjang dengannya, membaringkan tubuhku, ini tidak nyaman, selimut ini tipis dan lantai terasa dingin dan keras.

Aku selalu mengingatkan diriku jika Sasuke bukanlah suamiku, tidur bersama adalah hal yang salah, kita sudah menjadi orang yang asing.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Segera menutup mulutku, aku hampir berteriak histeris, kenapa Sasuke tiba-tiba memandangku dari atas ranjang, dia membuat sangat terkejut.

"Aku sedang tidur, apalagi?" Ucapku, kesal, aku hampir menonjok wajahnya.

"Jangan tidur di lantai, kau akan sakit." Ucapnya.

"Aku tidak apa-apa, ingatlah, aku bukan istrimu, kita tidak bisa tidur bersama lagi." Ucapku.

Sasuke terdiam dan menatap ke arahku.

"A-apa?" Ucapku, gugup, aku tahu dia pria yang tampan, aku jadi tidak terbiasa menatapnya lebih lama.

"Tidurlah di atas." Ucapnya.

"Kenapa kau begitu keras kepala? Aku tidur dimana pun bukan urusanmu lagi!" Tegasku.

Terkejut, pria itu segera turun dari atas ranjang dan saat ini menindihku.

"Apa yang kau lakukan! Kembali ke atas ranjangmu!" Ucapku dan memborantak di bawahnya, aku tidak mau di perlakukan seperti ini lagi! Kami sudah bukan suami-istri! Kapan Sasuke sadar? Dia bahkan menandatangani surat itu dengan sangat cepat dan seperti tidak peduli. "Sasuke!" Teriakku, tapi aksiku sia-sia, Sasuke masih menindihku dan menahan seluruh pergerakanku.

Terdiam.

Dia bahkan terus menatap ke arahku.

"Apa yang terjadi pada-hmpp."

Sebuah ciuman singkat dari Sasuke, aku hanya bisa terdiam dan mematung menatapnya, apa yang baru saja di lakukannya! Kenapa dia menciumku!

Kembali sebuah ciuman singkat, aku tidak tahu apa yang di lakukan Sasuke, tapi aku seakan sulit menolak apa yang di lakukannya padaku.

Kembali sebuah ciuman lagi, tapi kali ini ciuman yang lebih menuntut, aku ingin mendorong Sasuke, tapi ciuman itu semakin dalam dan terus di lakukannya, rasanya sesak, aku membalas ciumannya itu, apa ini yang di inginkannya!

Ciuman itu akhirnya terhenti sejenak, hanya sebentar saja dan Sasuke kembali menciumku lebih dalam, aku berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin disela ciuman panas kami, lidah itu saling berbelit hingga menciptakan saliva dan bunyi pertemuan bibir kami.

Apa yang terjadi padamu Sasuke? Seharusnya kau tidak melakukannya, debaran di jantungku mulai tak terkendali, ciuman ini semakin dalam dan intens, beberapa detik terlewatkan, Sasuke berhenti, segera menutup bibirnya itu dengan kedua tanganku.

"Hentikan Sasuke, kita telah bercerai." Ucapku dengan napas kami yang sama-sama memburuh.

Jika kau sedang membutuhkan seorang wanita, kau bisa segera mencari wanita yang baru untukmu.

Sasuke memegang tanganku dan menjauhkannya dari mulutnya, selanjutnya, kecupan demi kecupan pada tanganku.

"Hentikan!" Tegasku dan menarik tanganku darinya. "Apa kau sudah gila? Aku bukan istrimu lagi!" Marahku. Sadarlah Sasuke!

Menatap Sasuke, lagi-lagi tatapan tenang itu, dia tidak menampakkan ekspresi apapun.

Sasuke beranjak dari atasku, tapi tidak membiarkanku tidur di lantai, dia sampai menarikku dengan paksa dan mengajakku kembali berbaring di ranjang.

"Jangan keras kepala, tidurlah di ranjang." Ucapnya.

Masih menatap pria aneh itu, dia kembail tidur dan tidak melakukan apapun lagi, dia hanya ingin aku tidur di ranjang, menyentuh bibirku, dan menatap tanganku, ciuman itu, kecupan itu, aku sangat merindukannya, aku ingin kita kembali, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menarik kembali semua hal yang telah terjadi.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Pagi harinya, terbangun dengan sebuah dekapan dari seorang pria, aku tidak terkejut, aku hanya tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini lagi, melepaskan pelukan Sasuke, dan segera bersiap, aku harus pergi bekerja, aku mungkin akan pamit pada kedua orang tua saja, menatap Sasuke yang masih tertidur, semalam adalah hal konyol yang kami lakukan, aku harap Sasuke tidak benar-benar sadar saat melakukannya, aku harap dia melupakan apa yang di lakukannya.

Berjalan turun ke lantai satu dan pagi ini, ibu sudah mulai membuat sarapan.

"Apa kau akan pergi bekerja?" Tanya ibu padaku.

"Iya, aku harus datang pagi." Ucapku.

"Kau tidak pergi bersama Sasuke?"

"Sasuke adalah kepala direktur, aku hanya pegawai biasa, aku tidak masalah tidak di perlakukan khusus olehnya, lagi pula Sasuke sedang istirahat." Bohongku, sepertinya aku tidak bisa berhenti bohong lagi.

"Kalian ini sangat aneh, padahal kalian suami-istri tapi kau tidak ingin di perlakukan khusus."

"Aku tidak masalah, bu. Aku akan hidup mandiri." Ucapku.

Ibu sudah repot-repot untuk memasak, aku harus melakukan sarapan di rumah dan pamit pada kedua orang tuaku, sisanya aku membiarkan Sasuke mengurus mereka, maaf sudah merepotkannyamu lagi, Sasuke.

Berjalan ke arah halte bus.

"Selamat pagi. Kau akan kemana?" Ucap seseorang. Menoleh dan melihatnya lagi, aku tahu, kami akan sering bertemu jika area rumahnya pun dekat.

"Aku harus pergi bekerja." Ucapku tanpa menatapnya.

"Kau bekerja?"

Eh? Apa yang baru saja aku katakan! Aku tidak sadar mengatakannnya!

Tenanglah, tenanglah, senior Sasori tidak mungkin sampai mencari tahu.

"Be-begitulah."

"Aku pikir kau hanya akan menjadi ratu di rumahmu, kehidupanmu sudah sangat nyaman dengan pekerjaan dan kedudukan suamimu, bagaimana kau bekerja juga?"

Terdiam sejenak, sejujurnya aku sangat ingin mengatakan segalanya, aku lelah untuk terus berbohong dan aku kesal setiap dia menyangkutkan kehidupan mewah yang di miliki Sasuke, kami sudah tidak bersama.

"Ah, maaf jika ucapanku menyinggungmu." Ucapnya.

Menatap senior Sasori, dia terdiam dan tidak berbicara padaku lagi, mungkin karena aku tidak menjawab apa-apa, dia jadi berpikirkan aku tersinggung, apalagi dia sudah mengetahui kasus yang di alami ayahku.

"Aku hanya ingin menjadi wanita mandiri." Ucapku dan berusaha mengubah suasana yang tidak enak ini.

Akhirnya bus untukku datang, aku pikir senior Sasori akan naik bus, dia berdiri di halte dan melambaikan tangan ke arahku.

.

.

.

.

Memulai pekerjaan pagiku, tapi seseorang mulai membuatku risih.

"Aku ingin pesan menu ayam goreng dua, tolong satunya di bungkus dan satunya makan disini." Ucap Suigetsu, dia datang lagi.

"Baiklah, total pesanan anda 140ribu, pesanan akan siap dalam beberapa menit mohon tunggu sebentar di sebelah sini." Ucapku, aku berusaha tenang untuk menghadapi pria ini, aku yakin jika dia sengaja datang lagi ke sini, apa dia ingin mengganggu pekerjaanku?

Pesanan Suigetsu sudah selesai, kali ini dia menyimpan makan disini dan membawa yang di bungkus.

"Untuk nyonya, selamat menikmati." Ucapnya, tersenyum bangga dan pergi begitu saja.

Lagi-lagi dia memberiku makanan, seperti aku ini pengemis, aku masih bisa makan dengan layak! Walaupun itu hanya mie instan dan onigiri!

Mau tidak mau, aku harus memakannya lagi, mungkin saat makan siang saja.

"Aku melihat pria itu terus datang kesini dan akan membeli dua paket, setelahnya menyimpan satu paket untukmu." Ucap salah satu pegawai yang bekerja bersamaku.

"Dia hanya kenalanku." Ucapku.

"Atau mungkin dia suka padamu." Tebak mereka.

"Jangan bercanda, aku tahu dia orang seperti apa, kami ini hanya seperti teman."

"Benarkah, kenapa dia memanggilmu 'nyonya'?"

"I-itu seperti panggilan mengejek, dia suka mengejekku." Alasanku.

"Dia pria yang manis, kenapa tidak pacaran saja?"

Mereka jadi heboh membicarakan Suigetsu, aku harus memberinya peringatan agar tidak perlu datang lagi dan pergilah ke cabang Nc-Donald yang lain. Lagi pula, kami dekat karena dia adalah orang kepercayaan Sasuke.

Akhirnya, pekerjaan hari ini berakhir, aku melakukan segala pekerjaanku dengan baik lagi.

Berjalan pulang setelah turun dari halte bus, melihat sekitar, aku selalu ingin mewaspadai jika tiba-tiba bertemu senior Sasori, apa dia tidak bisa pindah saja? Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, dan harapanku terwujud, senior Sasori tidak berada di sekitar sini, menatap minimarket, apa harus makan mie instan lagi? Tidak-tidak, aku tidak ingin masuk rumah sakit lagi dan Sasuke akan menyuruhku tetap di rawat, tapi aku harus tetap makan malam, menatap rak onigiri mereka, kosong.

"Maaf, hari ini onigiri habis terjual." Ucap pegawai minimarket ini.

Apa aku skip makan malam saja? Aku juga jarang melakukannya, aku tidak mungkin sakit lagi.

Membuka pintu dan rasanya aku ingin tidur saja.

"Kau sudah pulang?"

Menatap ke depan, Sasuke seperti tengah menungguku. Aku lupa akan ayah dan ibuku.

"Dimana ayah dan ibuku?" Tanyaku.

"Mereka sudah pulang. Apa mau makan malam dulu? Ibumu memasak sangat banyak, katanya tinggal dipanaskan untuk makan malam, aku tidak mungkin memakannya semua." Ucap Sasuke.

Menatap pria itu, dia terlihat biasa-biasa saja, padahal aku kembali mengingat apa yang kami lakukan, dia menciumku begitu saja.

"Maaf, aku tidak bermaksud melakukannya." Ucap Sasuke dan akhirnya aku menatap pria itu. Apa maksudnya ciuman itu?

"Aku tidak ingin membahasnya lagi." Ucapku dan mengalihkan tatapanku.

Malam ini, aku jadi tidak perlu menahan lapar lagi, ibu benar-benar memasak banyak lauk, aku harus memanasi beberapa dan Sasuke ikut makan bersamaku.

"Kenapa kau tidak makan saja lebih dulu?" Ucapku.

"Tidak apa-paa, aku juga baru lapar." Ucapnya.

Sasuke makan dengan begitu tenang, sesekali menaruh lauk yang banyak di mangkuk nasiku, aku hanya bingung menatap tingkah Sasuke.

"Sepertinya ibumu benar, kau semakin kurus, aku jadi yakin jika kau makan tidak teratur." Ucapnya.

"Jangan dengarkan ibuku, aku makan dengan teratur dan sangat banyak, jangan membuatmu repot." Ucapku.

Sasuke tidak menanggapi apa-apa lagi, makam malam bersama ini, menjadi sesuatu yang begitu berarti untukku, walaupun pria di hadapanku ini bukan lagi suamiku.

Selesai dengan makan malam, masuk ke kamar tamu dan barang-barangku masih berada di kamar Sasuke, aku sangat tidak ingin masuk ke kamar itu dan mengingat kembali apa yang Sasuke lakukan padaku.

Mengetuk pintunya beberapa kali, suara dari dalam membiarkanku masuk.

"Aku harus mengambil barang-barangku." Ucapku.

Sasuke tengah bersantai di atas ranjangnya. Menatap kamar Sasuke dan aku tidak tahu dia menaruh dimana koperku itu.

"Tidurlah disini." Ucapnya.

Aku cukup terkejut mendengar ucapannya.

"A-apa maksudmu? Aku tidak mau tidur denganmu! Jangan lupa jika aku bukan istrimu lagi!" Tegasku. Dan sejenak aku melihat tatapan sedih itu di wajah Sasuke, apa sebenarnya yang terjadi padanya? Dia sendiri yang mengatakan kita harus bercerai.

"Aku menyimpan barangmu di lemari itu." Ucapnya dan menunjuk lemari yang aku gunakan, dulu, saat kami masih suami-istri.

Membuka lemari itu dan mematung menatap seluruh pakaianku yang di gantung rapi bahkan yang di lipat pun ada.

"Apa yang kau lakukan pada pakaianku? Aku jadi sulit untuk mengaturnya kembali ke koper." Kesalku. Dan aku tidak melihat koperku. "Dimana kau menaruh koperku!"

"Di atas." Ucapnya dan menatap ke atas lemari, setelahnya menatap kesal ke arahnya. Aku sudah sangat lelah dan harus kembali mengepak barang-barangku.

"Kau benar-benar keterlaluan! Apa kau sedang mempermainkan aku? Apa kau senang aku menjadi susah?" Ucapku, aku benar-benar marah padanya.

Tersentak, Sasuke turun dari ranjang dan berjalan ke arahku, aku sedikit takut jika dia akan kasar padaku, walaupun selama ini, Sasuke tidak pernah memukulku.

"Aku sudah katakan padamu, tidurlah disini." Ucapnya, dia terlalu dekat dan aku tidak bisa menatapnya.

"Tidak bisa, kita sudah bukan pasangan, Sasuke." Ucapku.

"Aku tidak peduli." Ucapnya, menarikku menjauh dari lemari dan berjalan ke arah ranjang, dia memintaku berbaring.

"Sadarlah Sasuke! Kau bukan suami-hmmpp!"

Lagi-lagi, dia melakukan ini padaku, aku tidak ingin di ciumnya! Kita sudah tidak memiliki ikatan lagi, ciuman ini terasa terburu-buru dan semakin dalam, Sasuke memelukku erat hingga membuatku berbaring di ranjang, ciuman yang bahkan tidak membiarku mengambil napas sedikit saja, berhenti, Sasuke berhenti dan tatapan kami bertemu, begitu dekat, kecupan demi kecupan di berikannya, aku tidak kuat melawan Sasuke, aku sudah lelah untuk bekerja seharian dan sekarang aku tidak punya tenaga lagi untuk melawan Sasuke.

Malam ini, Sasuke tidak mengatakan apa-apa setelah menyerang bibirku seperti orang yang kehausan, sampai detik ini pun dia tidak beranjak dari tubuhku dan memelukku erat, dia terlalu berat, tapi ada hal lain yang sedang di tutupi Sasuke, dia bahkan tidak ingin mengatakan apa-apa.

Katakan sesuatu Sasuke, aku tidak mengerti jika tingkahmu seperti ini. Apa kau ingin kembali? Kau ingin hubungan ini kembali terjalin? Semuanya hanya terus menjadi pemikiranku saja, Sasuke tidak juga mengatakan apapun.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Esok paginya, terbangun dan hanya aku sendirian di atas ranjang, ini masih jam 6 pagi dan Sasuke sudah tidak ada di rumah, apa dia sudah pergi bekerja sangat pagi? Semalam lagi-lagi menciumku, walaupun itu hanya ciuman, tetap saja, kita tidak boleh melakukannya lagi, dia sudah bukan suamiku ataupun pacarku, aku benar-benar tidak mengerti kenapa Sasuke bersikap seperti itu padaku.

Bergegas bersiap, aku juga harus bekerja dan kumpulkan uang sebanyak mungkin, aku harus segera pergi dari rumah ini agar Sasuke tidak lagi melakukan hal sesuka hatinya padaku.

Berhenti saat melewati meja makan, sebuah sarapan dan secarik kertas, ada catatan kecil disana.

Habiskan sarapanmu, aku tidak membangunkanmu, aku ada perjalanan bisnis. Aku akan pergi selama 3 hari. Jangan lupa untuk kunci rumah dengan baik dan jangan lupa untuk makan dengan teratur.

Membaca pesan singkat ini dan entah mengapa membuatku tersenyum malu, apa-apaan sih dia? Apa dia pikir aku anak kecil? Sikapnya begitu manis, aku jadi berharap kau cepat mendapatkan pasangan baru dan segera melupakanku juga.

Jika Sasuke pergi, artinya, aku benar-benar akan bekerja dengan serius hari ini, Suigetsu tidak akan datang dan menggangguku tapi saat ini aku hanya hanya mematung dan menatap ke antrian di belakang, aku tidak bisa kabur lagi, kami bahkan saling bertatapan, kenapa tempat ini begitu ramai dengan orang-orang yang mengenaliku?

"Aku sudah curiga jika benar kau bekerja disini." Ucap senior Sasori.

Mungkin ini seperti sebuah perumpamaan, bagaimana pun kebohongan itu di tutupi, pasti akan terbongkar juga, aku tidak bisa lari lagi.

"Tolong pesanan anda, aku sedang bekerja." Ucapku, aku harus profesional untuk melayani setiap pelanggan, jika tidak, aku akan di tegur lagi.

"Baiklah, tapi aku akan menunggumu setelah selesai bekerja, sepertinya ini akan menjadi cerita yang menarik." Ucapnya dan berpindah setelah memesan.

Aku pikir ini akan menjadi cerita yang buruk, aku harus mulai dari mana menceritakannya pada seniorku itu?

.

.

.

.

Tepat pukul 18:00, pekerjaanku sudah berakhir dan dia senantiasa menungguku, bahkan tak bosan memesan ice coffee berkali-kali, aku yakin dia tidak akan bisa tidur saat malam hari. Menatapnya dengan tatapan menyebalkan.

"Aku-"

"-Tenanglah, kenapa kau begitu tertekan? Hahahaha sudahlah jika kau tidak ingin menceritakannya padaku, kau sudah mengatakan padaku sebelumnya jika aku tidak boleh ikut campur dalam masalahmu, ya kau benar, aku tidak boleh melakukan hal itu padamu, maaf jika sudah membuatmu sangat tertekan tadi." Ucapnya dan tertawa.

Bught!

Menendang kakinya, aku benar-benar kesal padanya, aku sudah menyiapkan diri untuk mengatakan segalanya hingga merasa sangat setres sejak tadi dan sekarang dia hanya menganggap semuanya hal yang wajar saja dan tidak perlu aku ceritakan.

"Hahaha, maaf, kau pasti sangat marah padaku." Ucapnya dan dia malah tidak peduli dengan tendangan kerasku tadi.

Tapi, aku ingin semuanya berakhir dan aku tidak perlu berbohong lagi, Sasuke bahkan membiarkanku mengatakannya pada seniorku.

"Aku dan Sasuke telah bercerai, itu sudah terjadi sejak 3 bulan yang lalu." Ucapku dan tawa lucu senior Sasori menghilang, dia menatapku dengan serius.

"Kau sudah tahu jika perusahaan ayahku bangkrut, dia melunasi semua utang dan bayaran pegawai dengan mengorbankan segalanya, aku sudah tidak punya tempat lagi, aku bahkan harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup, aku malu untuk pulang ke rumah orang tuaku, aku juga tidak ingin membuat mereka bersedih, khawatir dan juga terbebani. Selama ini Sasuke begitu baik padaku, dia membiarkanku tinggal bersamanya, dengan begitu aku hanya perlu membayar semua tagihan setengah, ini cukup menguntungkan dari pada aku harus tinggal di luar dengan biaya kehidupan yang mungkin sulit aku tangani sendiri. Sejak dulu, aku terlalu hidup enak dan nyaman hingga tak tahu bagaimana rasanya itu hidup susah." Menatap senior Sasori, dia hanya menatapku dalam diam. "Jadi inilah keadaanku sekarang, senpai, aku bukan seorang ratu lagi didalam rumahku, itu rumah milik Sasuke." Ucapku, rasanya sedikit menyakitkan ketika aku membeberkan segalanya pada senior Sasori, menyakitkan sekaligus memalukan.

"Kau bisa tinggal bersamaku." Ucapnya.

"Eh?"

Aku sudah menjelaskan segalanya, dia malah memintaku tinggal bersamanya.

"Walaupun pekerjaanku bukan seorang kepala direktur di sebuah perusahaan besar, aku masih bisa membiayai kehidupanmu, kita bisa tinggal bersama." Ucapnya.

"Jangan konyol senpai, kita tidak ada hubungan apa-apa, untuk apa aku tinggal bersamamu? Sejujurnya aku tidak bisa dekat denganmu, kau saja yang terus memaksakan diri hingga aku sulit mengusirmu." Ucapku, aku jadi terus berbicara jujur padanya.

"Kau ternyata membenciku yaa." Ucapnya dan mencubit pipiku, menepis tangannya itu dan melotot marah padanya.

"Bukannya aku membenci senpai, kau selalu memaksakan apapun." Tegasku.

"Maka dari itu, terimalah tawaranku ini, tinggallah bersamaku, aku akan menjamin kehidupanmu, kau juga tidak perlu bekerja." Ucapnya.

Aku semakin tidak suka setiap dia terus meyakinkan ku untuk tinggal bersama.

"Tidak, terima kasih banyak senpai, aku masih punya rumah, aku akan tetap tinggal bersama Sasuke."

"Apa kau masih menyukai mantan suamimu itu?" Tanyanya.

Aku tidak bisa menjawabnya dengan cepat, mengalihkan tatapanku dan setiap mengingat Sasuke, aku akan mengingat kembali ciuman yang diberikannya padaku, apa itu artinya dia juga ingin aku kembali?

"Aku tidak tahu." Ucapku.

Sebelumnya, aku mulai merasa sulit dan merasa aku harus kembali pada Sasuke, tapi setelah beberapa hari berlalu, aku mulai menjalani segalanya dengan tenang dan memikirkan jika kami tidak harus kembali.

"Jika kau terus bersama mantan suamimu itu, tidak akan ada wanita yang bisa masuk dan menggantikanmu. Apa kau tidak ingin dia mendapatkan wanita lain?"

Aku selalu berharap dia akan segera memiliki pasangan, aku terus mengatakan hal itu dalam hatiku, tapi jika melihat hal itu menjadi kenyataan, bagaimana sikapku nanti? Lambat laun aku harus angkat kaki dari rumah yang bukan milikku.

"Aku harus segera pulang, terima kasih untuk tawarannya, senpai." Ucapku dan senior Sasori tidak juga menghalangiku, setidaknya aku tidak berbohong lagi padanya dan perasaanku lebih lega.

.

.

.

[By:SasukeFans]

.

.

.

Pagi ini, aku bisa lebih santai, Sasuke masih belum pulang, aku bisa mengambil shift siang, jadi lebih leluasa saat Sasuke tidak ada. Aku bisa masak apapun dan makan sesuka hati, nonton tv dan tertawa keras, berkeliaran hanya dengan kaos tanpa lengan dan celana pendekku, setidaknya aku membersihkan rumah ini sebelum pergi bekerja, mencuci setiap alat masak dan juga piring.

Apa Sasuke saja yang angkat kaki dari rumah ini? Aku sangat menyukai rumah ini, seharusnya saat dia menawarkan uang final, aku bisa meminta rumah ini, tapi itu akan terkesan aku memang hanya menginginkan hartanya, rumah ini memiliki banyak kenangan, hanya saja aku tidak bisa memilikinya.

Setelah tepat jam 12 siang, aku harus bergegas bekerja, dan hari ini, aku bertemu kembali dengan senior Sasori.

"Selamat siang." Sapanya, dia jadi terlihat seperti biasa tanpa mengungkit kejadian kemarin.

"Selamat siang, senpai." Ucapku.

"Kau terus memanggilku senpai, panggil saja namaku, lagi pula kita sudah bukan lagi mahasiswa." Ucapnya.

"Aku hanya menghormatimu, jadi aku tetap memanggilmu, senpai." Ucapku.

"Apa kau akan bekerja?"

"Iya."

"Sayang sekali aku tidak bisa mengantarmu."

"Jangan merepotkan dirimu, senpai, aku masih bisa melakukan segalanya." Ucapku, jangan membuatku susah lagi.

"Kau benar-benar wanita yang kuat. Aku sampai sulit membujukmu." Ucapnya.

Bus untukku akhirnya datang.

"Tolong senpai bersikap lebih biasa lagi, aku tidak ingin menyusahkan siapapun." Ucapku dan bergegas naik bus.

Kenapa ada orang seperti dia? Benar-benar menyusahkan!

Abaikan, kau harus fokus akan pekerjaanku dan aku tidak perlu was-was lagi, Sasuke masih belum kembali ke Konoha dan Suigetsu tidak akan datang lagi dan membuat salah paham.

Sejujurnya aku terus memikirkan ucapannya, jika aku tidak keluar, tidak akan wanita yang bisa masuk ke rumah itu atau wanita yang akan menjadi pasangan baru untuk Sasuke.

Sepulang kerja, aku menyempatkan diri untuk mencari rumah kost untuk tinggal, sebaiknya aku mendengarkan ucapan Sasori senpai, tapi bukan tinggal bersamanya, dan sebaiknya aku pamit pada Sasuke dan mengembalikan kunci cadangan rumah itu, kami benar-benar harus berpisah walaupun beberapa kali Sasuke memperlihatkan sikap anehnya padaku.

.

.

.

.

Perjalanan bisnis Sasuke berakhir, aku juga sudah siap dengan apapun yang harus aku bawa keluar dari rumah ini.

"Aku mengembalikan kunci cadangan rumah ini untukmu, terima kasih sudah menampungku, aku sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru." Ucapku.

"Dimana?" Tanyanya, Sasuke terlihat begitu tenang.

"Cu-cukup jauh dari sini." Bohongku.

Sasuke tidak mengatakan apa-apa lagi, kenapa suasananya jadi terasa sangat berat? Aku hanya akan keluar sebagaimana mestinya aku lakukan setelah kami bercerai.

"Aku akan mengatakan pada kedua orang tuaku jika kita telah bercerai, jadi tenang saja, kau tidak perlu repot menerima kedatangan mereka lagi." Ucapku, walaupun sejenak terasa menyakitkan, akhirnya aku harus jujur pada kedua orang tuaku.

Sasuke lagi-lagi hanya terdiam, dia terus menatap ke arahku dan membuatku tidak nyaman.

"Aku harus pergi sekarang." Ucapku dan mulai menarik koper milikku, Sasuke tidak juga berbicara sepatah kata pun hingga aku keluar dari rumah ini.

Ternyata ada baiknya aku mendengar ucapan seniorku itu.

Dreet…dreet…dreet..

Ponselku berdering dan sebuah panggilan dari ayah.

"Sakura, apa yang terjadi? Kenapa kalian bercerai?" Ucap ayah dan aku sangat terkejut mendengar ucapannya, bagaimana ayah tahu kami telah bercerai?

Tenang dan tarik napas, aku sudah harus menjelaskan segalanya, namun sebelum aku berbicara, ayah segera kembali berbicara.

"Sasuke datang ke perusahaan ayah dan menangani segalanya, dia menemukan keganjalan di perusahaan ayah, salah seorang pegawai terbaik ayah menggunakan dana perusahaan hingga membuat perusahaan bangkrut, ayah tidak tahu akan terjadi hal seperti itu, Sasuke mengembalikan segalanya dalam 3 hari saja, ayah mendapat kembali perusahaan ayah dan akan memulai menjalankannya lagi, kau harus kembali pada Sasuke, jangan bersikap seperti ini, Sasuke datang tanpa memikirkan jika kami sudah tidak menjadi mertua baginya." Jelas ayah.

"Apa Sasuke yang mengatakannya?"

"Tidak, tapi ibumu menemukan surat cerai kalian, ibu tetap diam hingga kami bertemu kembali dan menanyakan surat cerai yang ditemukan ibumu. Bukan ayah memaksamu, tapi apa kau tidak memikirkan sikap Sasuke pada keluarga kita? Ayah mohon kau kembali padanya." Ucap ayah dan panggilannya akhirnya berakhir.

Kakiku jadi terasa lemas dan malah berjongkok di tengah trotoar, aku lelah, terlalu lelah menghadapi keadaan hidupku yang tidak berjalan baik ini, memutar arah dan kembali berlari ke rumah itu, bahkan pintunya tidak terutup dan akhirnya kembali ke rumah ini, Sasuke masih di sana tidak berpindah dari tempatnya saat aku pergi tadi, apa dia sudah merencanakan segalanya? Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa padaku?

"Aku tidak ingin mengemis padamu." Ucapku, perusahaan ayah kembali tapi seakan kami mengemis bantuan padanya.

"Aku tahu kau akan kembali." Ucapnya, mengangkat sebuah kertas di hadapanku, dan merobeknya, itu adalah surat cerai kami.

"A-apa maksudmu?" Ucapku, aku sama sekali tidak mengerti.

"Minta maaf, aku ingin minta maaf padamu dan kembalilah, perceraian ini salah, aku seharusnya memikirkan segala hal jika kita bercerai." Ucapnya.

"Kau tidak perlu libatkan kedua orang tuaku, masalah ini hanya terjadi pada kita." Tegasku.

"Masalah ini terjadi karena aku kurang memperhatikanmu." Ucap Sasuke dan melangkah perlahan, aku tidak ingin kembali, semakin Sasuke melangkah dan aku semakin mundur ke belakang hingga sisi pintu menghalangiku, langkahku terhenti dan Sasuke sudah tepat di hadapanku. "Bukannya aku ingin merendahkanmu, kau kesulitan." Ucapnya dan akhirnya aku berani menatapnya.

"A-aku tidak kesulitan!" Tegasku.

"Maaf membuatmu jadi kesulitan mencari biaya, kau semakin kurus dengan makan yang tidak teratur hingga kau sakit, aku melihatmu makan mie instan di minimarket dan juga, kau bekerja keras di sebuah makanan cepat saji."

Aku sangat-sangat terkejut mendengar segala ucapan Sasuke. Bagaimana dia tahu segalanya? Apa si kaki tangannya itu yang membocorkannya? Sejak awal aku tidak boleh percaya pada Suigetsu.

"Apa si asisten embermu itu yang mengatakan segalanya? Dia benar-benar tidak bisa menjaga rahasia pribadi seseorang." Kesalku.

"Aku yang memaksanya berbicara. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau kembali, ini bukan karena aku membantu kedua orang tuamu, tapi aku mencintaimu, kembalilah Sakura." Ucap Sasuke.

Ucapannya itu semakin membuatku tidak percaya, apa aku sedang bermimpi? Sasuke mengatakan hal yang sudah tidak pernah aku dengar.

"Ka-kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik dariku, aku tidak pantas." Ucapku, ragu.

"Apa kau sudah memiliki hubungan dengan pria berambut merah itu?"

"Tidak! Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu! Aku hanya menganggapnya senior bagiku!" Tegasku dan kenapa mendengar ucapannya membuatku sangat marah, aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada seniorku itu!

"Kalau begitu kembalilah." Ucapnya, lagi-lagi Sasuke memintaku kembali padanya.

"Sasuke, hentikan ini, aku tidak ingin-"

"-Jika kau mau aku berlutut, akan aku lakukan." Ucapnya dan Sasuke berlutut begitu saja, aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku.

"Ja-jangan berlutut. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini." Ucapku dan berusaha memintanya berdiri, tapi pria ini lebih berat dariku, aku sulit menariknya untuk berdiri.

"Apa aku perlu mengemis padamu?" Ucapnya.

"Ha! Sudah! Hentikan!" Kesalku, lama kelamaan sikapnya semakin aneh.

"Aku menyesal, aku tidak bisa melihatmu menderita lebih lama lagi, maaf, kembalilah." Ucapnya dan selalu di akhiri dengan 'kembalilah'.

Aku jadi merasa orang yang jahat saat ini, katanya perceraian itu salah, padahal hakim sudah menanyakan pada kami berdua, apa tidak ada niat untuk rukun? Dan kami tidak menjawab apa-apa.

"Aku memikirkan jika kita kembali, kau akan bersikap seperti itu lagi, dan pada akhirnya kita akan bercerai kembali." Ucapku, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku hanya untuk kembali dan bercerai.

"Aku menaruh namamu di seluruh harta milikku termasuk perusahaan, jika kita bercerai, semua milikku adalah milikmu, jadi kau bisa hidup lebih baik dan aku akan mendapat balasan karena telah menyia-nyiakanmu." Ucap Sasuke.

"Dan kau mau saja menjadi gelandangan? Apa kata kedua orang tuamu nanti? Mereka pikir aku wanita matre yang menguras seluruh hartamu."

"Bukannya itu lebih baik dari pada kau makan tidak teratur dan bekerja di restoran cepat saji." Ucapnya dan aku malu mendengar ucapannya itu.

Menatap pria itu baik-baik, dia masih berlutut dan tidak berniat untuk segera berdiri, lututmu akan sakit Sasuke, aku tidak tahu jika rasa cintamu padaku seperti ini, aku tidak pernah memikirkannya, aku pikir kau benar-benar muak hidup bersamaku, semua ucapannya membuatku tersentuh, aku juga sempat menyerah untuk memikirkan hidup sendirian, aku juga ingin kita kembali, kembali mengatur rumah tangga kita yang dulunya sedikit kacau.

"Aku akan menjawabnya jika kau berdiri." Ucapku.

Sasuke mendengarkanku, dia berhenti berlutut dan berdiri di hadapanku, pria tinggi yang membuatku harus mendongakan kepala ke atas.

"Aku-"

Cup!

"Terima kasih Sakura, aku senang mendengarnya." Ucapnya dan memelukku erat.

"A-apa yang kau lakukan! Aku belum selesai dengan ucapanku!" Teriakku, malu, tiba-tiba saja menciumku dan membuatku tidak menyelesaikan ucapanku.

"Aku sudah tahu jawabannya." Ucapnya dan mengangkatku dalam pelukannya, pelukannya mengerat dan akhirnya dia menurunkanku.

"Apa kau pikr aku menjawab 'iya'?" Tanyaku.

"Aku tahu kau akan menjawab itu." Ucapnya dengan percaya diri.

Hari ini aku benar-benar tidak paham akan sikap Sasuke dan rencananya untuk kembali, aku sudah memikirkan jika dia akan siap dengan wanita lain sebagai pendamping barunya.

"Menikahlah denganku." Ucapnya dan itu adalah ucapan yang sama saat dia memintaku menikah untuk pertama kalinya.

"Sasuke, apa kau sudah memikirkan segalanya?" Tanyaku, ragu.

"Aku tidak ingin melihatmu bersedih, kau makan onigiri dan mie instan sambil menangis." Ucapnya.

"Kau melihatnya!" Ucapku, dan aku semakin malu.

"Ya, aku melihatnya, aku tidak bisa melihatmu seperti itu, kau harus tahu, aku merasa bersalah melihatmu seperti itu." Ucapnya dan memperlihatkan wajah cemasnya padaku, dia juga memperlihatkan tatapan yang sama saat aku masuk rumah sakit.

Aku tidak tahu jika ada sisi berbeda dari seorang Uchiha Sasuke. Ada hal yang tak terduga terjadi akibat kami berpisah, kami jadi semakin memikirkan satu sama lain.

Kembali pelukan erat dari Sasuke dan kecupan demi kecupan di pipiku, di setiap kecupannya dia akan mengatakan 'aku mencintaimu' dan ucapan sederhana itu membuatku merinding.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke pov.

[Flasback]

"Sasuke, bagaimana jika kita liburan? Kau sangat jarang istirahat." Ucap Sakura, Uchiha Sakura, sekarang dia telah menjadi istriku.

"Maaf aku sibuk." Ucapku, ya aku cukup sibuk mengurus sebuah perusahaan yang aku pegang.

"Ah, baiklah, semangat bekerja." Ucapnya, itu hanya sikapnya di awal-awal, lambat laun.

"Kau terus memikirkan pekerjaan, kenapa kau tidak memikirkanku juga? Apa pekerjaanmu lebih penting!" Marahnya.

Setiap harinya dia akan terus marah padaku dan membuatku muak, tapi aku bisa menahan segalanya, aku tidak punya pemikiran lain untuk wanita lain dalam hidupku.

"Aku lelah Sasuke, sebaiknya kita berpisah." Ucapnya.

Itu adalah sebuah kalimat yang sangat tidak ingin aku dengar.

"Maaf, aku akan lebih memperhatikanmu, aku janji, tolong jangan katakan itu lagi." Ucapku padanya.

Namun,

Semakin lama aku hanya membuatnya semakin marah, uang yang aku berikan padanya tidak berguna untuk membuatnya tenang di rumah, yang di butuhkan adalah kebersamaan kami, tapi selama ini aku terus sibuk hingga Sakura melarangku menyentuhnya, aku menghargai setiap keputusannya.

Wajah ceria itu berubah dan tidak lagi nampak senang di hadapanku, aku tidak ingin membuatnya menderita dengan waktu yang tidak pernah aku berikan.

"Aku menyerah." Ucapku padanya.

"Bagaimana jika kita cerai saja? Aku rasa kita tidak akan bisa hidup bersama lagi." Lanjutku.

Dan Sakura hanya mengiyakan ucapanku yang dulunya merupakan keinginannya. Aku pikir dia mulai lelah menemaniku, aku memikirkan jika rasa cintanya mulai berkurang padaku, aku pkir dia akan bertahan dengan kehidupan rumah tangga kita, tapi aku salah, Sakura tidak bisa menahan segalanya.

Kami akhirnya bercerai, saat hakim menanyakan, apa kami tidak merundikannya kembali? Sakura tetap bungkam dan saat itu aku berharap dia menghentikan hal ini.

Ketukan palu sudah selesai, menandatangi surat cerai itu dan kami resmi berpisah.

"Apa kau yakin dengan ini tuan Sasuke?" Ucap Suigetsu padaku.

"Sakura yang menginginkannya, aku tidak bisa melakukan apapun." Ucapku, setelah menatap surat itu rasa bersalah memenuhi kepalaku, seharusnya aku bisa menahan Sakura, tapi aku tidak ingin melihatnya menderita.

Dan hari ini, dia mulai mengemasi barang-barangnya, aku tidak ingin dia pergi, dan harapanku itu terjadi, tiba-tiba dia mengatakan ingin tinggal sementara waktu dan menempati kamar tamu, aku sampai mengajukan pembayaran setengah selama dia tinggal bersamaku, aku hanya ingin memberinya alasan agar tetap tinggal bersamaku, tapi itu adalah yang paling salah yang aku lakukan.

Selama ini aku meminta Suigetsu untuk mengawasi Sakura, dia mengatakan Sakura sering datang di sebuah minimarket dekat jalur rumah kami, aku melihatnya saat itu, dia terlihat sedih, memakan mie instan dan onigirinya, apa itu saja yang di makannya?

Aku tidak percaya jika dia tidak pernah menggunakan uang yang aku berikan, dimana saja semua uang itu?

"Nyonya menyimpannya di rekening anda tuan." Lapor Suigetsu padaku.

"Bagaimana dengan kartu kredit yang aku berikan?"

"Nol pengeluaran, kartu itu tidak pernah di gunakan nyonya."

Aku benar-benar tidak mengerti akan tindakan Sakura.

Tiba-tiba dia jatuh sakit, kata dokter dia demam dan juga magh, Sakura benar-benar tidak makan dengan teratur, laporan terakhir Suigetsu, dia bekerja di sebuah restoran cepat saji, Suigetsu mengajakku ke sana dan dia menghindar.

Sampai kapan dia akan berhenti seperti ini? Dalam hitungan bulan saja dia mulai tidak mengurus keadaannya.

Dan terakhir, pria berambut merah yang katanya adalah seniornya saat di kampus, dia mulai mengganggu Sakura, aku tahu itu, Sakura tidak nyaman padanya, berkali-kali Sakura menegaskan jika mereka tidak memiliki hubungan dan aku merasa lucu setiap dia berusaha menjelaskan segalanya agar aku tidak salah paham.

Saat kedua orang tuanya datang, mereka berbicara hanya padaku, mengatakan jika perusahaan Haruno bangkrut dan Sakura tidak mengatakan apa-apa padaku, dia menutupi keadaan keluarganya, apa hal ini yang membuatnya kesulitan?

Aku salah, Sakura tidak berubah, walaupun kami bercerai, dia masih memiliki perasaan terhadapku dan akhirnya aku harus berhenti melakukan permainan konyol ini, aku merasa sakit setiap melihat dia menderita, aku ingin kami kembali, aku harus memaksanya berbicara yang jujur.

[ Ending flashback]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Omake]

.

.

Sakura pov.

Membuka mataku perlahan, menarik napas dan melakukan peregangan, kegiatanku terhenti setelah mendapat pelukan erat, menatap pria yang masih tertidur nyenyak itu.

Aduuuh…~

Pingganggku sampai sakit, apa dia minum sesuatu hingga bertahan melakukan permainan semalam? Melirik jam.

"Sasuke, aku harus bekerja!" Panikku, mendorongnya menjauh.

"Kenapa kau harus bekerja? Aku bisa melakukannya untukmu." Ucapnya.

"Berhenti berbicara seperti itu!" Ucapku.

"Hn, maaf." Ucapnya dan masih tidak melepaskanku.

"Aku harus bekerja untuk menyelesaikan masa kontrakku." Ucapku.

"Baiklah, aku akan datang saat makan siang." Ucapnya.

"Ja-jangan datang!" Ucapku dan malu.

Kenapa dia harus datang di tempat kerjaku untuk makan siang? Dia pasti mengajak Suigetsu dan pria itu harus mendapat bogemku lagi, dasar mulut ember! Kami belum bertemu setelah aku dan Sasuke kembali.

"Aku ingin menemuimu."

Aku semakin malu mendengar ucapannya.

"Lakukan apa yang kau suka." Ucapku, mengecup bibir tipisnya itu dan beranjak dari ranjang.

Aku tidak menyangka jika kami kembali secepat ini, padahal beberapa hari yang lalu dia berlutut di hadapanku dan memintaku kembali, aku juga lelah melalui keadaan ini.

Setelah bersiap dan meninggalkan pria itu, rasanya pinggangku akan lepas sekarang juga, tapi mengingat apa yang Sasuke lakukan padaku, rasanya membuatku cukup bersemangat.

"Selamat pagi Sakura." Sapa seseorang, aku tidak mungkin mengusirnya, dia tinggal di sekitar sini.

"Selamat pagi, senpai." Ucapku dan berusaha ramah.

"Kau terlihat bersemangat hari ini." Ucapnya.

"Ya, aku rasa aku perlu bersemangat setiap waktunya." Ucapku dan mengangkat kepalang tanganku, mata itu mengarah pada jari manisku.

"Cincin ini? Apa kau sudah menikah lagi?" Tanyanya.

"Tidak, aku tidak menikah lagi, tapi aku harus memakainya, aku ingin orang-orang tahu jika aku memiliki suami."

"Suami? Aku pikir kalian-"

"-Kau tahu senpai, aku dan Sasuke telah kembali." Potongku, dan aku sangat senang mengatakan berita baik ini pada seniorku itu.

"Wah, aku tidak percaya kalian akhirnya kembali lagi, aku ucapkan selamat, maaf sudah berbicara tidak sopan padamu saat itu, aku pikir ada sebuah kesempatan." Ucapnya.

"Kau tetap senpaiku, aku tetap menghargaimu, senpai." Ucapku.

"Ya-ya, kau harus menghargai senior mu ini."

"Dan satu berita baik lagi."

"Apa?"

"Perusahaan ayahku sudah pulih."

"Aku juga senang mendengarnya."

"Aku juga berterima kasih pada senpai, kau mendengar segala masalahku."

"Tidak masalah, seperti kau juga, aku selalu menghargaimu sebagai juniorku." Ucapnya.

Rasanya lebih lega berbicara seperti ini, menatap cincin di jari manisku, Sasuke memasangnya lagi dan mengucapkan kalimat seperti saat kami menikah, dulu. Aku juga memasangkan cincin miliknya, ternyata dia yang menyimpan semua cincin ini, padahal aku lupa menaruhnya dimana.

.

.

TAMAT

.

.


1 2 3

happy birthday Sakura! selama ini masih tetap menjadi wifu sepanjang masa.

fic ini di buat khusus untuk hari ulang tahun Sakura XD. kali ini author punya ONESHOOT baru lagi dan semoga terhibur walaupun kisahnya bukan alur yang menyenangkan, XD

semoga bisa menjadi pengisi waktu di kala beberapa orang yang tengah mengalami Lockdown atau di karantina di rumah.

ya segitu saja.

terima kasih jika telah di baca.

.

SASUKE FANS

.