disclaimer © Animonsta Studios
warning drabbles, AU!Future, AR!marriagelife, fiancee-turns-to-couple!HalilintarYing, married!TaufanYaya, OOC, typo(s), miss EBI, no super power, little humor, plotless. Bisa dikatakan sebagai sekuel Aku, Tunanganku, dan Sebuah Troli.


1) prolog


"Resepsi pernikahan ala Eropa?" Taufan dan Yaya kompak mengulangi pernyataan Ying dengan pertanyaan.

"Permintaan dari orangtua Ying. Untuk resepsinya akan dilakukan dua hari setelah akad nikah. Dekorasi, kue pengantin, susunan acara, dan lainnya sudah dipersiapkan, kecuali buket bunga," tambah Halilintar.

"Buket bunganya kenapa? Bingung memilih?" terka Yaya.

Ying tersenyum canggung. Digaruknya tengkuk yang sama sekali tidak gatal, menunjukkan sikap salah tingkah. "Hehe ... begitulah. Bantu kami, kumohon."

Rapat pleno pun dimulai sepihak oleh Taufan.


2) rose


"Kenapa tidak mawar saja?" usul Taufan. "Kebanyakan buket bunga itu pakai bunga mawar. Maknanya juga bagus, lambang cinta."

"Ingin yang unik," tanggap Ying.

Halilintar menimpali, "Kalau menurut Ying terlalu biasa, menurutku juga begitu."

Yaya terkekeh gemas. "Eh, mawar bukan cuman warna merah, kok. Ada warna merah muda dan oranye juga."

Ying menggeleng. "Bukan masalah warnanya, Yaya. Di mana pun kita selalu melihat setiap cinta dilambangkan dengan mawar. Aku mau bunga yang berbeda tapi tetap indah dilihat. Dulu Taufan sendiri melamarmu dengan mawar, apa tidak bosan?"

Mawar segera dicoret dari daftar.


3) daisy


"Daisy? Bunga-bunganya bagus, melambangkan keceriaan dan ke—"

Ucapan Taufan menggantung. Yaya tampak tak paham dengan tindakan suaminya itu.

"Kak Halilintar suram. Ying sama saja."

Tiga pasang mata melotot. Kadang Taufan jujurnya suka kelewatan—

"Tak cocok, tak cocok. Yang lain sepertinya lebih baik."

—dan dia tidak peka akan hal itu.

Kalau tidak ingat Yaya sedang mengandung, Taufan sudah dibuat koma oleh Halilintar dan Ying saat ini juga.


4) lily


"Bagaimana kalau bunga lili?" Taufan masih tak menyerah untuk memberikan usul. "Bunganya cantik."

"Tidak mau, itu lambang kematian dalam kepercayaan keluargaku," tolak Ying.

"Kaumau menyumpahi kami mati, hah?" sewot Halilintar.

"Bunga bakung lili, bagaimana?" tanya Taufan.

"Itu bunga yang tumbuhnya di dekat jurang, cukup langka karena cuman ada di musim semi di tempat yang ada empat musim serta juga beracun," tolak Ying, lagi.

"Kaumau menyumpahi kami mati, hah?" sewot Halilintar, lagi.

"... memangnya bunga itu mau kalian makan?"

Oh Tuhan, apa salah Taufan yang tampan, tinggi semampai, murah senyum, rajin menabung, dan suami serta calon ayah yang baik hati ini?


5) baby's breath


"Kalau baby's breath, bagaimana?"

Halilintar mencoba untuk menutupi wajah bingungnya dengan topi yang sedikit diturunkan, gengsi mengaku tidak tahu. "Aku belum pernah dengar nama itu. Napas Bayi?"

"Oh! Bunga itu bagus juga!" Ying menepuk kedua tangannya antusias. "Makna bunganya adalah cinta selamanya, manis juga! Bagaimana menurutmu?"

"Kalau kamu memang setuju, aku ikut saja."

Baru saja Taufan ingin tersenyum lega, Ying berujar lagi, "Ah, aku kelupaan. Waktu pertama kali ditanya soal buket bunga, orangtuaku berpesan untuk tidak memilih warna putih. Dalam kepercayaan keluargaku, warna putih melambangkan simpati dan kematian."

Yaya menambahkan, "Oh iya, kepercayaan Cina setahuku memang begitu, sih."


6) carnation


"Anyelir?" tanya Taufan desperet.

"Salah satu bunga kuburan," sahut Ying.

"Kaumau—"

"Menyumpahi kalian mati? Tidak, oh tolonglah!" Taufan tidak acuh dengan tatapan menusuk dari Halilintar yang terjadi karena dia sudah sengaja memotong kalimat kakaknya. "Anyelir itu bukan hanya untuk bunga kuburan saja! Ada buket bunga yang dibuat dari bunga anyelir juga, kok!"

Halilintar giliran menyahut, "Buket bunga itu mau kami pakai untuk resepsi pernikahan, bukan untuk uji nyali."

"Kalian ini!" Taufan meremas rambutnya, antara gemas dan frustasi. "Katanya mau minta bantuan, tapi banyak sekali alasan kalian untuk menolak! Kak Halilintar juga, sejak kapan jadi cerewet seperti Ying? Benar ya, katanya makin lama nempel, makin terlihat seperti saudara kembar!"

"Hei!" Ying berseru setengah protes. "Habisnya saranmu itu aneh semua!"

"Sejak awal, mawar itu tidak ada anehnya!" tukas Taufan. "Memangnya apa salahnya dengan bunga yang umum dipakai? Selama bentuk dan maknanya bagus, bukannya itu tidak masalah?"

Ying menatap Halilintar lekat-lekat. Yang ditatap melakukan hal yang sama.

"Mau bunga apa pun yang dipakai ... kamu tetap akan mencintaiku, bukan?" tanya Ying.

"Apa aku perlu menjawabnya?" balas Halilintar.

Menggeleng, Ying berujar, "Tidak perlu. Aku sudah tahu jawabannya."

"Ya sudahlah." Halilintar mengambil keputusan. "Mawar merah saja."

Taufan dilema, antara ingin bahagia atau mencoba menenggelamkan diri ke dalam Laut Mati. Yaya tertawa canggung, dia memang tidak berkontribusi apa-apa, tapi apa dia salah dengan menertawakan suami sendiri?


7) epilog


Hadirin mempersembahkan ratusan tepuk tangan yang meriah. Meski disoroti teriknya cahaya matahari sebagai konsekuensi resepsi pernikahan di luar ruangan, Ying tetap menampilkan senyum cerianya, sementara Halilintar berdiri dengan penuh wibawa. Beberapa fotografer mengambil foto mereka dari sudut terbaik. Ying tanpa kacamata dan Halilintar tanpa topi dalam balutan busana pengantin adalah suatu pemandangan yang cukup langka terjadi, menurut pengakuan keluarga dan sahabat-sahabat dekat mereka.

Memasuki acara pelemparan buket bunga, Halilintar dan Ying memutar tubuh, membelakangi hadirin. Segera, beberapa orang berdiri di area yang sekiranya akan menjadi tempat mendaratnya kompilasi mawar merah tersebut.

Ying melempar buket bunga. Kerumunan gadis itu berebut dengan anarkis. Menurut legenda, orang yang mendapatkan buket bunga itu akan segera menemukan jodoh, dan jika orang tersebut sudah memiliki pasangan, maka tak lama lagi mereka akan menikah. Tidakkah itu terdengar romantis?

Serempak, pasangan suami-istri baru itu membalikkan badan. Dengan posisi saling bergandengan tangan, Halilintar dan Ying melihat sekeliling untuk melihat siapa penerima buket bunga. Alangkah terkejutnya mereka berdua saat melihat seseorang yang sangat mereka kenal dengan percaya dirinya menggenggam buket itu.

"Kalau sudah punya istri, artinya apa?" tanya Taufan sambil mengangkat buket bunga tinggi-tinggi dengan penuh rasa bangga. Entah sejak kapan dan apa alasannya dia ikut bergabung dalam acara perebutan.

"Bakalan punya istri baru," canda Gopal.

"Benarkah? Se—"

"TAUFAAAAAAAAAAAN!"

Beristirahatlah dengan tenang, Taufan.


tamat (sepertinya)


~himmedelweiss 05/04/2020