Naruto dan seluruh karakternya adalah milik Masashi Kishimoto.
Pairing : Uzumaki Naruto x Yamanaka Ino
WARNING : Lemon, Crack-Pairing, AU, Ide Pasaran dan Mainstream
.
.
.
.
"Ino, kau serius?" Naruto bergerak tidak nyaman dengan kedua tangan terikat di kepala tempat tidur. Naruto tahu pacarnya sedang bad mood, dan Ino selalu menjadikan Naruto sebagai sasaran kekesalannya.
Ino tersenyum sinis. "Kaupikir aku tidak tahu kelakuan busukmu di belakangku, Naruto? Diam-diam kau masih sering chatting dengan Shion. Kemarin aku melihatmu bersama Hinata. Sasuke bilang padaku kau menginap di rumah Sakura. Kiba bilang kau menggoda Mei Terumi-sensei dengan gombalan murahanmu. Sifat mata keranjangmu sudah tidak tertolong lagi." Ino mengencangkan ikatan simpul di pergelangan tangan Naruto membuat pemuda itu mengaduh pelan.
"T-tunggu, kau menerima semua informasi palsu itu mentah-mentah? Dengarkan dulu—argh..." Naruto menggeram saat Ino meremas kejantanannya yang masih terbungkus celana. Ino benar-benar kesal rupanya.
"Haruskah aku mengurung junior-mu di sangkar khusus supaya dia tidak masuk ke setiap lubang yang ditemuinya?" Ino meremas sekali lagi.
"Sial, haah. Ino, please dengarkan. Aku tidak menggoda siapapun, kau mengerti? Dan kenapa kau bisa percaya omongan Sasuke?" Naruto mencoba melepaskan diri.
"Karena Sasuke-kun tampan, aku percaya." Ino terkekeh.
Naruto mencibir. "Alasan menjijikkan macam apa itu? Bukankah kau sendiri yang mata keranjang, Ino? Meski berpacaran denganku kau masih suka curi-curi pandang ke Sasuke. Jangan double standard begitu dong."
Ino tersinggung mendengar ucapan Naruto. "Aku terkadang memang memperhatikan Sasuke-kun, tapi tidak ada reaksi apapun saat aku memandangnya. Katakan saja sejujurnya, kau masih berhubungan dengan Shion kan? Bagaimana dengan Hinata? Sakura? Mei-sensei? Aku kurang apa sih?"
Ino melepas kancing seragamnya satu per satu, melemparnya sembarangan hingga menyisakan bra berwarna hitam yang terlihat ketat untuk ukuran payudaranya yang besar. Naruto menggertakkan giginya.
"Kau menginginkan ini, Naruto?" Ino berpose seksi di depan kekasihnya yang tidak berdaya. Dada besar Ino terlihat menggiurkan bagi Naruto. Dia memang sudah sering meremasnya, hampir setiap hari. Tapi, setiap kali Ino menanggalkan busananya, gairah Naruto selalu tersulut hanya dengan disuguhi pemandangan payudara Ino yang indah dan bulat.
Ino memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada menggoda. "Kau ingin meremas dan mengulumnya kan? Sayang sekali kedua tanganmu terikat."
"Ino, kuperingatkan kau—"
"Apa?" Ino memasang tampang galak.
"Nggak jadi deh. Kau seperti macan betina yang sedang mengamuk."
Ino duduk di pangkuan Naruto dengan posisi saling berhadapan. Gadis itu tersenyum sinis saat pandangan Naruto tertuju pada dadanya.
"Ino, aku—emphhh..." Naruto tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena bibir Ino sudah mendarat di bibirnya. Gadis pirang itu menciumnya dengan penuh semangat, melumat bibir atas dan bawah Naruto bergantian, lalu memasukkan lidahnya. Otak Naruto serasa kosong. Meski dalam kondisi tangan terikat, sedikit demi sedikit Naruto bisa mengimbangi permainan lidah Ino yang agresif. Gadis pirang itu menelusupkan tangannya di balik kaus Naruto, meraba tonjolan six-pack milik sang pemuda. Ciuman Ino turun ke leher Naruto, menjilati sebulir peluh yang meluncur dari dahi. Ino menghunjamkan giginya pada kulit tan yang tersaji di depannya, mengisap dan menggigit hingga meninggalkan noda bulat berwarna merah. Napas Naruto memburu.
"Haah.." Naruto mendesah lega saat bibir Ino menjauh dari lehernya. Gadis itu tersenyum masam.
"Tanda bahwa kau adalah milikku. Sepertinya ada banyak tempat yang harus kutandai. Naruto, kau ingin aku menandai bagian yang mana lagi? Di sini?" Ino menyingkap kaus Naruto membuat dada bidang pemuda itu terekspos. Ino menunduk untuk mengecup lembut dada Naruto.
"Gghh.. Ino, berhenti menggodaku atau kau akan tahu akibatnya." Naruto tersengal.
"Atau di sini? Katakan Naruto. Aku orangnya tidak sabaran." Bibir Ino meluncur turun ke bawah dan semakin ke bawah hinggai mencapai pinggul pemuda itu. Ino menggigit bagian pinggir boxer Naruto dengan pandangan sayu menggoda. "Apa ini? Kau sudah ereksi rupanya."
Naruto menggertakkan giginya kuat-kuat. Ino menatap kekasihnya yang tak berdaya sekali lagi sebelum menanggalkan pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Tubuh gadis itu kini benar-benar polos tanpa penghalang. Ino menarik boxer yang dikenakan Naruto sampai terlepas, hingga memperlihatkan kejantanan pemuda itu yang mengacung tegak.
"Aku akan mengambil gunting untuk memotongnya," kata Ino sambil bangkit dari tempat tidur. Naruto menatap Ino dengan pandangan horor.
"H-hoi, jangan bercanda di saat seperti ini. Kau psikopat ya?"
Ino tertawa. Gadis itu tak jadi turun dari tempat tidur, melainkan mendekati Naruto dan mengangkangi kejantanan pemuda itu. "Ekspresi ketakutanmu lucu sekali, Naruto. Sekarang diam dan nikmati saja hukumanmu."
Ino menurunkan pinggulnya, mencoba memasukkan penis besar Naruto ke dalam lubang kewanitaannya. "Nghh.. ahh.." Ino mendesah lirih saat inchi demi inchi penis Naruto memasuki tubuhnya. Gadis itu menghentakkan pinggulnya membuat batang kejantanan Naruto masuk seluruhnya.
Kedua remaja itu mendesah bersamaan saat merasakan sensasi penyatuan yang nikmat.
"Baiklah, haa, aku menyerah. Lakukan sesukamu, Ino." Naruto memejamkan matanya. Ino mencium bibir Naruto sekilas sebelum memulai permainan mereka.
"Good boy." Sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto, Ino mulai menggerakan pinggulnya naik turun dalam tempo pelan. Mereka saling berciuman panas, mengulangi permainan lidah yang menggairahkan sementara Ino semakin meningkatkan tempo gerakan naik turun.
"Haah, N-Naruto—penismu b-besar.. aaahhh! Ini nikmat sekali. Posisi ini—akkhh.. oohh." Ino mendesah nikmat merasakan penis Naruto menggesek dinding kewanitaannya dengan intens.
Naruto terengah-engah, jepitan ketat kewanitaan Ino benar-benar nikmat. Penisnya seperti dipijat-pijat dengan sensasi memabukkan yang membuat akal sehatnya melumer. Sesungguhnya ini bukan hal baru mengingat Yamanaka Ino adalah gadis agresif. Soal seks, Ino tak pernah bersikap malu-malu dan dan pasif seperti anak kucing. Naruto tak tahu apakah ia harus bersyukur atau menangis karena mendapatkan gadis seperti Ino.
"K-kenapa diam saja, Naruto? Kau marah? Ahhh." Ino memutar pinggulnya untuk menambah sensasi nikmat.
"Haah, ah, memangnya aku harus berteriak?" Naruto menggeram berat.
"Biasanya kau meneriakkan namaku.. ahh.. kenapa tidak kau lakukan sekarang? Haah, ohh, aku tidak suka laki-laki yang berlagak bisu saat berhubungan seks." Ino menangkup kedua sisi wajah Naruto yang maskulin, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Naruto frustasi karena tangannya terikat. Padahal dia gatal sekali ingin meremas dada besar Ino yang berguncang-guncang sensual di depan wajahnya. Ino melenguh pelan saat merasakan gelombang orgasme sebentar lagi akan menghampirinya.
"Seriously, Ino? Kau akan orgasme? Ini belum ada lima belas menit—ughhh!" Naruto menggeram saat pinggul Ino mengentak kuat ke atas dan ke bawah hingga menimbulkan bunyi tepukan keras yang menggema di kamar Naruto. Pemuda pirang itu khawatir jangan-jangan ada orang yang mendengar suara erotis kegiatan mereka saat ini mengingat tak ada alat peredam suara yang terpasang di kamarnya. Itu sebabnya setiap kali Naruto dan Ino bercinta, mereka lebih memilih ke love hotel. Ino sangat berisik dan eskpresif saat berhubungan intim dan Naruto tidak terlalu suka jika ada orang lain mendengar desahan seksi kekasihnya. Naruto mendesah berat saat merasakan penisnya seperti ditarik dan disedot dengan kuat oleh kewanitaan ketat Ino. Pipi gadis pirang itu merah, bibirnya yang ranum pink setengah bengkak karena ciuman panas mereka beberapa saat lalu, rambut panjangnya berantakan. Entah sejak kapan ikatan rambut gadis itu terlepas. Naruto menggeram kesal. Fuck, dia ingin sekali menampar bokong sintal Ino sekarang juga.
"N-Naruto.. akuuh.. ohh.. nghh.. hyaaaahh!" Ino memeluk erat tubuh atletis Naruto saat orgasme menerjang kewanitaannya. Naruto melenguh merasakan semprotan hangat melumuri penisnya. Sensasi lengket yang membuat Naruto diam-diam menyeringai senang. Naruto bisa mendengar suara napas Ino yang terengah serta gerakan pinggul gadis itu. Dengan sisa tenaganya, jemari Ino bergerak menuju simpul yang mengekang pergelangan tangan Naruto, lalu dengan satu sentakan kuat, ikatan itu terlepas. Naruto bebas. Pemuda itu meringis pelan saat merasakan rasa nyeri di tangannya yang berwarna kemerahan. Ino mengikatnya terlalu kuat tadi. Biar sajalah toh gadis pirang itu kini sedang tak berdaya karena baru saja orgasme. Naruto iseng menggerakkan pinggulnya, membuat penisnya menusuk-nusuk kewanitaan Ino dari bawah.
"Ahhh, biarkan aku istirahat...ukh, Naruto, jangan membuatku kesal!" Ino memaki dengan suara lemah.
"Tapi aku belum mendapat klimaksku. Sekarang aku harus bagaimana? Berbaring dan terus membiarkanmu memegang kendali permainan? Kau masih belum puas menghukumku?" Naruto menciumi leher jenjang Ino yang berkeringat.
"Nanti saja, haah. Aku ingin tidur sebentar." Ino hendak melepaskan penyatuan mereka namun Naruto menahan pinggulnya. Tatapan Naruto menggelap dan kentara sekali pemuda itu tidak setuju dengan ide Ino. Membiarkan gadis itu tidur setelah yang terjadi barusan? Naruto mendesis tajam. Dia bahkan belum klimaks sama sekali!
"Tidak semudah itu, Yamanaka Ino. Jangan berbuat curang. Aku tidak menyukainya. Selesaikan apa yang kau mulai setelah itu kau boleh tidur. Penisku masih keras." Naruto memberi tekanan pada kalimat terakhirnya. Ino menatap Naruto dengan sayu. Gadis itu pasrah saat Naruto membaringkannya di atas ranjang empuk. Naruto merangkak di atas tubuh molek Ino yang bersimbah peluh.
"Lepas kausmu. Mengganggu sekali." Komentar Ino sambil membantu Naruto melepas satu-satunya kain yang menempel di tubuh atletis kekasihnya. Kini kedua remaja itu benar-benar polos.
Naruto menunduk untuk menghujani dada dan perut Ino dengan ciuman-ciuman posesif. Ino mendesah kala payudaranya dikulum dan dikenyot dengan liar oleh mulut Naruto.
"Ino, haah, hah, meski aku sering bersikap bodoh dan serampangan, meski di matamu aku terlihat seperti laki-laki yang senang menggoda gadis lain, satu-satunya gadis yang menempati ruang spesial di hatiku hanya kau." Naruto mengangkat kedua kaki Ino lalu meletakkannya di kedua pundaknya yang kokoh. Naruto mendesah saat tubuh polos mereka kembali menyatu untuk kedua kalinya.
"Ugh, ugh, Ino.. Ino.. haah.." Naruto menggenjot Ino dengan cepat dan bernapsu. Ino menggelinjang hebat merasakan penis besar Naruto memanjakannya. Sudah tak terhitung berapa kali mereka bercinta sejak keduanya menjalin hubungan. Naruto adalah pemuda yang cukup agresif—mesum, sementara Ino, tidak seperti gadis-gadis lain yang mampu bersikap lemah lembut dan malu-malu. Banyak laki-laki yang terang-terangan mengajak Ino tidur bersama, bahkan Uchiha Itachi, kakak Uchiha Sasuke pernah menjadi satu dari sekian banyak laki-laki yang menginginkan tubuh Ino.
"N-Naruto, lebih cepat.. ahhh.." Ino memalingkan wajahnya, merasa geli kala bibir Naruto menjajah kulit lehernya.
"Akan kuselesaikan dengan cepat.. bersiaplah," Naruto menekuk tubuh Ino membuat kedua kaki gadis itu terkangkang lebar. Penis Naruto menghunjam lubang sempit Ino tanpa ampun. Bunyi derit ranjang berpadu dengan suara napas dan kecipak basah. Ino merasakan pandangannya memutih, seakan sinar menyilaukan menembus retinanya. Ino merasakan penis Naruto berdenyut hebat, dan detik berikutnya pemuda itu mengerang keras, memanggil nama Ino dengan geraman berat disertai napas tersengal. Sial, Naruto mengeluarkan cairannya di dalam. Ino mengusap punggung berotot Naruto, merasakan peluh dan otot liat pemuda yang baru saja mendapat klimaks pertamanya.
"Kenapa keluar di dalam? Kalau aku hamil bagaimana?" Ino menjewer telinga kekasihnya dengan sebal.
"Hah, hah, maaf. Aku tak sempat mencabutnya," Naruto berkilah sementara pemuda itu mengistiraharkan wajahnya yang lelah di atas dada Ino. Naruto bisa mendengar detak jantung gadis itu yang tak beraturan.
"Dasar bodoh!" Ino mencoba menyingkirkan wajah Naruto dari dadanya, tapi Naruto dengan sigap merengkuh erat tubuh polos Ino.
"Bisakah kau diam sebentar? Lututku pegal."
Ino menimpuk kepala pirang Naruto dengan satu tangannya. Gadis itu mendadak merinding saat merasakan sesuatu yang keras kembali berkedut.
"Baka, kau ereksi lagi!"
Naruto terkekeh tanpa rasa bersalah. "Itu artinya... ronde ketiga? Mengapa tidak?"
TAMAT
