PLEASE READ TAGS FIRST . if something hurts you or you feel like uncomfort, leave it. get this off of you*


pair:

Quigley Quagmire x Violet Baudelaire

tags:

[20 /️ MATURE CONTENT] / [FLUFF BUT SMUT] [non-expilcit but still 20 for real] / [praise kink] / [come eating] / [oral job both] / [light dom/sub] / [safe word] / [collegeau!] / [Quigley is so whipped] [Violet is such a sweetheart]


My heart is pounding tonight, I wonder

If you are too good to be true

And would it be alright if

Pulled you closer *

.

.

.

.

.

.


thank you for understanding tags wisely,

here you go! *


UNTUK pertama kalinya dalam hidup selama dia memperhatikan keadaan kelas, Quigley Quagmire menemukan cantik iris kelam segelap malam bergulir tajam, melembut di waktu yang sama, dimana membuat udara sedikit berdesir kala senyum kecil itu menyapanya.

Quigley tidak bodoh.

Hatinya mencelos, jantungnya berdebar semangat, pikirannya berhenti, dan semuanya terjadi begitu saja secepat Quigley menyadari dirinya kepayahan mendaratkan suara di bibir.

Maka ketika, "Aku Violet Baudelaire."

--Quigley merasa dunianya menapaki musim semi.

Dan Quigley kehabisan nafas.

"Oh, hai?" Kebodohan nyatanya terpampang jelas. "Violet, right. Quigley. Quigley Quagmire."

Kalau ini bukan sesuatu yang baru untuknya, Quigley bisa dengan mudah mengabaikannya. Violet mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan dimana hal tersebut adalah biasa. Hal lumrah saat berkenalan dan sesuatu yang Quigley bisa abai. Tetapi mengapa jabatan tangan gadis ini mampu menyentrumkan sesuatu menyenangkan di perut Quigley?

Friksi yang ditinggalkan genggaman gadis itu kelewat menggetarkan. Halus telapaknya seolah satu-satunya fokus Quigley. Kesadarannya seketika terserap dalam buai kalimat gadis itu selanjutnya.

"Kau ambil kelas ini juga?" Gadis itu tersenyum semakin lebar membawa kedua iris kelamnya menghantarkan sesuatu seperti kembang api tahun baru di antara kelopak sayunya yang memerangkap tanpa cela begitu saja disana.

Quigley, dengan segala kegamangan menyenangkan dalam semesta gadis itu, kembali terpekur luar biasa idiot.

"Hei?" Tegur gadis di sampingnya. "Ada sesuatu di wajahku atau.."

Quigley mengerjap cepat-cepat. Sumpah, dia tolol sekali. "Apa? Oh, tidak! Tidak ada! Hanya, hanya sesuatu menarik perhatianku. Itu saja."

Dan gadis itu tertawa.

Tertawa yang benar-benar menimbulkan masalah bagi degup jantung Quigley yang sebentar lagi K.O, ditambah suara gadis itu cukup membuat Quigley membayangkan cuddling manis, kelakar kecil, berdua saja, setelah seks, dan, shit..

Quigley menginginkan Violet.

"Fisika statistik is your thing, huh?" Quigley menjawab Violet akhirnya.

"Begitulah," Gadis itu menoleh padanya lagi dan entah angin sepoi dari jendela mana yang terbuka membaui penghidu Quigley dengan harum lavender Violet. "Kau?"

Quigley mau mati saja, dia sudah hampir turned on hanya karena wangi lavender sialan ini. Tapi Quigley meneguk ludah susah payah, berakting luar biasa kasual tidak memperlihatkan gelisahnya.

"Well, kurang lebih." Quigley berdeham, "Tetap saja, 'pemetaan' adalah favoritku, fyi."

Quigley membuang nafas. Ternyata dia dari tadi menahannya kelewat panik sebab dibentur iris kelam Violet sejajar matanya. Perutnya ikut tak tenang, bergejolak ribut berisi kupu-kupu.

Iris kelam Violet kembali membentur matanya, kali ini penuh nuansa jenaka. Terlihat kentara disana, pancaran ingin tahu yang menguar menyenangkan tanpa menghakimi. Kerut tipis kedua alis Violet serta ranum kedua pipinya seakan mengimbangi ekspresi sejuk gadis itu.

Quigley pikir, itu menggemaskan.

Ingin bawa pulang dan peluk erat-erat.

"Seharusnya kau bukan di jurusan ini?" Tanya Violet setelah menimang dalam rasa penasarannya.

Quigley tergelak entah karena pertanyaan gadis itu atau raut Violet saat mengatakannya.

"Entahlah, fisika terkadang membuatku penasaran dan kagum setengah mati tapi statistik fisika? Aku tidak tahu menanggapinya harus seperti apa. Lagipula, aku sebenarnya tidak tahu kenapa aku masuk hari ini. Biasanya aku jarang masuk kelas statistik fisika dan--" Quigley berhenti.

Seharusnya dia tidak sebanyak ini memberikan informasi pada orang asing. Tidak tentang dirinya, aktivitasnya, ataupun kebiasaan buruknya seperti jarang masuk kelas--

"--apa?"

Shit, iris kelam gadis itu membulat menunggu dirinya melanjutkan. Quigley tak pernah sadar jika ada orang yang menyimak ceritanya. Namun, dalam konteks Violet.. sangat mendebarkan ketika tahu dirinya ternyata tengah menjadi poros gadis itu.

Quigley berani sumpah, dirinya ingin pindah tempat duduk saja tidak mau disebelah Violet lagi.

Omong-omong, apa Violet anak baru?

Quigley membetulkan duduknya sembari sekilas menatap layar proyektor. Kebetulan dosen mereka tidak masuk, hanya ditugasi presentasi makalah tiap kelompok dan, Violet dan dirinya sudah lebih dulu minggu kemarin.

"I'm sorry, tapi apa kau anak baru? Aku jarang melihatmu kecuali kemarin saat kau presentasi tapi habis itu aku tidur," tanya Quigley bersedekap santai.

Padahal badannya sendiri gemetar.

Violet tergelak tipis, menunduk lalu melihat ke depan sebentar dan kembali memaku irisnya pada Quigley.

"Kita satu angkatan, Quigley." Katanya. "Kita pernah satu kelas sebelumnya di kelas Fisika Kuantum. Ingat? Yang kau telat, lalu disuruh pulang lagi karena kelas sudah bubar,"

Quigley seperti terbakar.

Kali ini akibat malu dan persetan suara Violet saat menyebut namanya.

Rasa malu itu terganti menjadi gelak singkat yang sebenarnya Quigley ragu, tak pernah benar-benar memperhatikan siapapun di kelas.

Tak kuat menampung rasa gemasnya untuk gadis rambut cokelat gelap itu, Quigley memperhatikan lebih seksama halus rambut Violet, tebal, menentramkan apabila Quigley bisa menyisir helai-helai disana saat tubuh mereka saling dekat berbagi rasa hangat dan sedikit mencuri ciuman singkat, terdengar menggiurkan.

"Violet,"

Quigley memberanikan diri. Bertanya takut-takut namun sarat afirmasi kuat.

"No one but me, after class, pick you up? Is that okay?"

Violet terkejut, kembali mengerutkan alis yang sungguhan membuat Quigley gila kalau sebegitu menggemaskannya.

"But, I got my brother. So?"

Quigley nyaris putus asa mendengarnya. Tapi dia selalu punya cara.

"Right, then. Follow me."

Quigley berdiri dan segera berjalan menuju pintu tanpa mengindahkan panggilan teman-temannya lalu menunggu di lorong. Dia takut Violet tidak mengikutinya karena permintaan anehnya itu. Dia tak tenang sekaligus adrenalin memacunya ke titik paling mendebarkan saat tiba-tiba pintu kelasnya terbuka dan senyum merekah Violet menyambutnya penuh implikasi submisif kentara.

Karena ketika mereka sampai di gudang belakang kampus, dua-duanya membuka paksa pintu. Tergesa, hingga tak peduli pada isinya, yang tak pernah terjamah siapapun kecuali kursi-kursi rusak tergeletak mengenaskan dan debu menggumpal di tiap sudut dinding ruangan tersebut, dimana justru menambah panas keadaan mereka setelah pintu tertutup dan terselot sempurna.

Violet melenguh pelan, saat punggungnya menubruk pintu keras-keras. Gadis itu melengkungkan badannya dibawah kuasa tangan Quigley yang menyentuhnya mengancam, sangat kuat terbalut nafsu namun halus, memperlakukan Violet layaknya barang favoritnya yang tak boleh pecah.

Mereka bertukar tatap dalam kegelapan kabut, saling ingin mengikat. Iris kelam Violet sedikit memudar oleh cairan bening tersapu gairah yang kian membakar rasionalitas otaknya dan menyerahkan semua pada motoriknya hingga bekerja impulsif ketika Quigley justru memuja sosok di depannya dengan gemetar, tak berhenti semejak matanya membaca segala gestur Violet yang memabukkan. Mengukungnya tak bisa keluar, tak memberikan celah.

Quigley membawa kedua tangannya menangkup wajah Violet untuk menatapnya ke atas, dekat sekali dengan wajahnya. Hidung mereka nyaris bersentuhan.

Dan Quigley akhirnya bisa kembali percaya pada hal indah selain pelangi yang sering dilihatnya ketika umur sepuluh. Setelah hujan, di halaman belakang rumahnya.

Saat itu, Quigley seperti tersedot dalam banyaknya warna yang tergelar begitu saja di langit tanpa susah payah mendulang warnanya satu persatu. Bagi Quigley, saat itu dan seterusnya tak ada lagi yang mampu menyamai indahnya lengkungan pelangi setelah hujan.

Akan tetapi sekarang, di depannya ada berjuta warna lebih menakjubkan dibanding pelangi masa kecilnya. Bongkah kelam dalam kelopak dan bulu mata cantik milik Violet, meyakininya untuk menaruh hati lagi pada keindahan lain selain pelangi. Kali ini bahkan saat Violet mencoba berkedip yang justru menghasilkan lebih banyak cairan bening tertinggal; siap meluncur lewat pelipis. Quigley menghapusnya dengan ibu jari. Begitu pula di sisi satunya.

Quigley seperti disuguhi percikan langsung dari kumpulan corak pelangi itu sendiri.

Quigley pikir, keindahan sejuk tatap Violet adalah kelemahan sekaligus hal yang membawanya kembali hidup, setelah sekian lama bersikukuh mematri pelangi sebagai satu-satunya objek agungnya terhadap keelokan kreasi Tuhan.

"Quigley,"

Violet menyebut namanya bagai sumbu yang menjadi rotasi gadis itu saat gravitasi sekitar telalu kuat menghantam.

"Yes, Violet?"

Ada jeda mendebarkan diantara keduanya sebelum Violet kembali bicara. "I like your eyes the best when you look at me like this."

Violet menyentuh kedua tangan Quigley yang melekat manis di pipinya. Mendamba afeksi Quigley lewat lebaran senyum yang tak meluntur sejak tadi. "I love the caramel's colour of yours,"

Quigley lemah, kakinya melemas, dan ribuan kupu-kupu di perutnya riuh mengepakkan sayap seolah melihat jalan keluar begitu ribut. Quigley mati-matian mengatur nafas agar degup jantungnya tak terdengar keterlaluan oleh Violet. Bisa mati dia secara literal.

"Kau merah, wajahmu," ujar Violet lucu diikuti semburan ejekan tawa yang entah bagaimana bagi Quigley itu manis. Bahkan rasa ingin mencicip bibir penuh Violet membuncah, seiring gulir matanya terkunci disana.

"Violet,"

"Mh?"

"Can I kiss you?"

Violet mengangguk, tanpa berpikir dua kali dan tubrukan kenyal yang melembut saat beritme begitu hati-hati, terjadi dalam hitungan sekon melupakan segala keadaan ruang serta waktu keduanya berdiri.

Mereka bak terlempar dalam jaring sutra di antar realita lain yang mengagumkan. Terlalu banyak kembang api diantara berisik burung-burung musim panas berkerumun di angkasa, gemerisik padang bunga musim semi menjadikan latar keabadian sebagai saksi dua insan yang tengah mabuk kepayang perihal asmara. Taburan bintang teman malam, menyetujui mereka untuk tetap singgah selama apapun mereka ingin.

Ketika keduanya terlalu adiktif tak ingin lepas, Quigley menggigit gemas, pelan, penuh pertimbangan, bibir bawah Violet. Semburat merah menjalari pipi Violet sebab perlakuan laki-laki tinggi di hadapannya itu. Membuat dirinya sendiri menyukai bagaimana cara Quigley begitu hati-hati saat menciumnya.

Violet membuka mata, dan hal pertama yang dilihatnya adalah senyum Quigley terlampau tafakur terhadapnya. Maka Violet ingin mencoba. Merapatkan dirinya lebih dekat sampai Violet dapat menggesekkan bagian bawahnya pada Quigley.

"Shit, Violet. You really want this? Right now?"

Violet tak sengaja melepas rintihan kecilnya seraya menggigit bibir bawahnya kalut. Tidak tahu apa yang membawanya sampai sini.

Beberapa kali gesekan, Violet merasa kalap kalau hanya didiamkan begitu saja oleh Quigley. Dirinya tak sabaran. Dirinya sudah termakan keinginan instan liarnya terpenuhi saat itu juga. Bahkan, sepertinya sudah berkedut menyiratkan puncak yang seharusnya segera diambil alih secara efektif.

Bukannya dibiarkan saja menderita begini.

"Ah, Quigley, please.."

"Please what, Violet?"

Quigley masih menikmati pemandangan Violet yang kacau seperti ini. Kedua kelopaknya menutup memperlihatkan bulu mata panjang banyaknya yang terukir mempesona ditambah peluh di sisi wajah Violet. Semu merah menggemaskan di pipinya, kerutan samar akibat menikmati segala perlakuan Quigley kepadanya, juga lenguhan submisif diantara nafas satu-satu Violet yang mengejar setiap inchi frikatif sentuhan kulit dengan kulit antar keduanya.

"Don't tease me like this- mmh.." Violet nyaris merengek.

"Shh, pretty.. beg for me?"

Batas untuk menggempur terbilang tipis bagi Quigley untuk keadaan Violet yang tengah kesusahan seperti ini. Violet cantik, Quigley menyukai itu. Cantik jika kusut dan bercela seperti sekarang.

Violet jengkel, tetapi masih kepala batu menggesek. Kedua tangan Violet terlalu erat di bahu Quigley, dan belah bibirnya membubuhkan banyak kecupan sayang mulai dari garis rahang Quigley hingga sweet spot perpotongan leher Quigley. "-I, mmh.. I- we don't- mmh.. please.."

"Not like that, pretty little flower." Quigley mengurusi rambut Violet yang mana adalah wujud nyata mimpinya untuk menyisir helaian cokelat gelap Violet. Wangi vanila rambutnya, bercampur harum lavender tubuh Violet, menambah macet cara berpikir Quigley dan begitu saja melepas akal sehatnya pada naluriah insting feralnya.

"Beg for me, beg for my name, yeah?"

Violet tersedak ludahnya sendiri, meratapi kegundahan dirinya yang sampai lupa dengan pertahanan dirinya; sebetulnya tidak suka memohon, tetapi tak kuasa untuk membendung.

"I- ngh, would nev- mhh, Quigley.."

"Yes, gorgeus? I'm here,"

"Do- ahh..."

"Love.. say louder so I can figured it out?"

"Do you like it, Quigley?"

Quigley mendekap Violet; mendengar tabrakan degup jantung mereka seketika membuat perasaan Quigley menghangat sebab perkataan inosen Violet yang berdengung di telinganya. Memberikan dorongan ingin melindungi Violet dari apapun kecaman dunia.

Quigley tahu, Quigley sadar, bahwa sulut birahi mampu membuat dirinya berkata iya meski Violet hanya menyentuh tangannya minta digenggam. Meski Violet memohon untuk melakukannya di sini layaknya Violet tidak berarti baginya. Meskipun Violet hanya memandangnya dan tak melakuka apa-apa.

Dirinya sebentar lagi gila. Sedikit lagi oleng. Terlebih saat,

"Quigley, please? Lakukan sekarang? Aku mohon?"

Maka persetan akal budi sehatnya yang menawan tertata rapi, kini dengan mudahnya terbongkar. Violet memberikan pilihan baginya untuk menjadi feral. Melepas insting naluriahnya bekerja dan Quigley menggendong Violet untuk duduk di meja ringsek berdecit saat Quigley diantara kaki Violet dimana posisi Violet beberapa senti lebih tinggi dari Quigley.

Membungkam bibir Violet kasar, lebih konten dari pemanasan sebelumnya hingga udara terasa telah sepenuhnya digunakan dan keduanya lebih banyak bertukar saliva saling menempelkan alat pengecap, mengenali setiap gigi-gigi yang ada.

Quigley menemukan fabrik tipis kemeja kotak-kotak Violet menggangu gerak telapak tangannya mencapai kulit perut gadis itu yang ketika diangkat, dibantu Violet segera tanggal, Quigley menahan nafas.

"Goddamn, gorgeus. You're so fucking beautiful,"

Quigley kacau. Violet dihadapannya benar-benar indah. Bukan sesuatu yang diciptakan untuk dirusak, tetapi ide untuk membubuhi kulit pucat sewarna susu itu dengan sesuatu seperti koyakan gigi dan hisapan bibir yang dapat mengakibatkan tanda merah keunguan, Quigley benar-benar menahan seluruh gejolak tersebut setengah mati.

Dan bukan, Quigley bukan si berengsek itu.

Quigley mengakui Violet adalah favoritnya yang tak boleh cacat.

Tetapi bukannya cacat adalah salah satu pembentuk kesempurnaan?

"Kau tampan sekali," Violet memeta garis wajah Quigley perlahan, tak ingin ada yang terlewat. Quigley tersanjung begitu cepat. Hatinya porak-poranda ditatap Violet dan diurus selembut ini oleh tangan halusnya itu.

"Aku suka rambutmu yang panjang ini," Violet menyentuh ujung rambut Quigley yang ada di leher. Menggesek lembut sedikit bagian rambutnya diantara ibu jari dan telunjuk. Atensi Violet tak pernah lepas dari Quigley. Seolah mataharinya adalah dirinya,

dan Quigley sungguhan jatuh hati.

"Gorgeus, do we have to stay complimenting each other rather than do that?"

Violet melenguh manja, memajukan dirinya hingga dadanya menyentuh kepala Quigley. Berbisik sensual di telinganya. "Quigley, I'm yours right now.. hhh.. what are you waiting for?"

"Gonna regret this, gorgeus. Careful," Quigley masih gemetar ingin sekali membuat banyak-banyak tanda merah keunguan yang dapat menjadi bentuk keintiman romantis luar biasa menggairahkan sebuah pasangan. Tetapi akhirnya Quigley tak mampu, hanya memberikan satu, di atas dada kiri Violet dimana hanya berupa gigitan kecil selebar kuku kelingking yang sepertinya nanti dapat berubah ungu.

Violet tersentak, membuat suara seperti tercekik, menyukai saat kedua telapak Quigley menyentuh kain satin bra hitam disana, lalu perlahan dengan hati-hati, Quigley memberanikan diri untuk kurang ajar membuat gerakan putar untuk putingnya yang mengeras dan sensitif.

"Mmh.. there, Quigley. Ahh.."

Quigley senang dapat mempelajari titik-titik sensitif Violet, yang mana nanti akan Quigley hapal betul-betul.

Ditekannya puting Violet, lalu digesek memutar. Kedua tangan Quigley bekerja serampangan namun mendatangkan lenguhan puas dari Violet. Rasanya terbayar dengan suara Violet yang cantik, mendesahkan nama Quigley terus-menerus, hanya menopang tubuh rampingnya sepenuhnya pada Quigley, menyerahkan bagian atas Violet menjadi tempat teracaknya akal sehat dan irasional gairah terpenuhi.

Quigley merasa belum cukup. Bibirnya dia bawa untuk menciumi dada Violet.

Dada kanan Violet diberi oral oleh Quigley dimana sang empu melenguh keras-keras, menikmati alat pengecap Quigley bermain dengan kenyal dan padatnya sesuatu di sana. Violet menyukai itu. Terlebih saat pekerjaan oral ini dilakukan kembali di dada kiri Violet. Hingga akhirnya becek berantakan saliva Quigley di dada Violet, menjadi bukti kasih laki-laki itu yang tak akan pernah membagi Violet untuk siapapun.

"Quigley, please? That's enough? Time to prove me you're a valuable man today? Please? Quigley-- ahh.. nghh.. oh, god... mmh.."

Quigley sudah menyentuh bagian bawah Violet dimana sesuatu yang sangat amat sensitif ditekan, dan dijepit oleh telunjuk serta jari tengahnya.

"Mmhh.. please- ahh.. ahh.. god, pleas--"

"You do good, gorgeus. Doing so fucking pretty just for me, mh? Gonna make you begging and crying for me, okay? You're so unbearably beauty,"

Dihujani pujian dan diperlakukan sangat hati-hati oleh Quigley membuat Violet menangis. Dirinya lelah berdeguk menahan rasa meledaknya yang menemui titik kepuasan yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya.

Quigley gemetar namun sangat presisi. Menjaganya dari kekhawatiran akan seks yang brutal, namun mampu menuntunnya pada sensasi serupa kokain terlampau buta menembus logika dan Violet merasa pantas menjadi sedikit liar yang diterima Quigley begitu saja, tidak apa-apa.

"Violet? Violet? You with me? You okay? Beri tahu aku jika ada sesuatu yang salah, ya? Jangan diam. Kita sepakati kodenya kalau begitu," Quigley berhenti sejenak. Meninggalkan Violet diambang puncak yang kalang kabut ditahannya.

"Quigley, mmh.. aku ingin keluar, hhh.. is that okay.."

"Tidak, gorgeus. Belum boleh. Kau bisa tahan itu sebentar lagi, ya? Kita harus buat kode,"

Violet merintih tak tenang dalam duduknya. Gelisah menciptakan rengekan lenguh panas membakar bagian bawah Quigley untuk segera dilunasi. Suara Violet disaat-saat bercela dan kacau seperti ini sungguhan membuat gila mental Quigley. Desahan Violet bisa menjadi hal terakhir yang meninabobokan tidur Quigley.

Jika benar Quigley sefantasi bobrok macam itu.

"Right, Violet. Listen to me, okay?" Quigley mengangkat dagu Violet dengan keempat jari kanannya. Menikmati kusutnya air muka Violet yang menunggu perintah untuk keluar, Quigley merasa bangga karena telah membuat Violet semerana ini ketika sebagian hatinya berkata tak tega tapi sekali lagi,

Violet cantik ketika berantakan, berpeluh hingga membuat rambut sepunggungnya acak-acakan, sayunya kedua iris kelamnya, menjadikan Violet tampak dua kali luar biasa menggelora.

Membuat pening Quigley bergejolak seakan bertambah. Quigley sangat amat menikmati itu.

Jika Violet adalah agama, Quigley akan langsung memeluknya tanpa banyak cincong. Menyuguhkan ibadah terbaik setiap harinya, melakukan dua; pahala dan dosa bersamaan karena Violet menyukai baik dan buruk, melayangkan hukuman jahat, bagi siapa saja yang melanggar dan mencemooh cara Violet menyerukan keagungannya untuk setiap insan.

"Red for stop, yellow for ready, green for go. Do you understand me?"

Violet mengangguk, tetapi mendengus singkat. "Seperti- mmh.. lampu lalu lintas?"

Quigley membelai sayang kepala Violet lalu mencium hangat dahi Violet. "Yes, gorgeus. You deserve it, okay? Just say the colour whenever you feel like need it. Say yes if you understand,"

"Y-yes, can I? Can I cum, Quigley? I'm afraid I can't hold it any- mmh.. longer.."

"Shh, you can, okay? You can. Trust me, gorgeus.Trust me,"

"Shit.. red. Re-hh.. red.."

Quigley langsung berhenti.

"What is it, love? Mh? What is it? I'm sorry, I'm sorry, I don't--"

"Bu-ngh.. kan, Quigley. A-aku hanya merasa su-hh, dah lama? Hampir seta-hh, hun?" Violet mengaku sedikit pelan. Padahal Quigley sama sekali belum menyentuh daerah yang dimaksud.

Quigley mengerti. Sangat tidak ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Quigley merentangkan tangan dan Violet bingung, "Need some hug?"

Senyum Violet merekah, hatinya menghangat. Perasaannya seketika membaik di tengah gempuran menggelisahkan dengan masa lalunya tepat saat dirinya berada dalam pelukan Quigley.

"It's alright. You got me, you got me."

"Maafkan aku.."

"Tidak apa-apa, gorgeus. Aku mengerti,"

Mereka begitu hingga Violet kembali ingin, menginginkan yang lebih daripada ini. Berusaha mengabaikan masa lalunya.

"But- hhh, I- I want-- do this again- hhh, mhh with you.. hh.."

"Tidak, Violet. Tidak sekarang, ya? Aku tidak apa-apa kalau kau tak ingin, gorgeus. I'll help you with another treat instead. What is is sound?"

"Example?" Tanya Violet dengan suara paling kecil.

"Here, open your legs for me,"

Violet mengikuti. Merasa segan karena begitu tereksposnya dirinya di hadapan laki-laki. Hingga gugup adalah hal yang pertama kali Quigley sadari.

"Relax, okay?" Quigley memerintah begitu tenang. "You're so pretty like this, I wish you could see it, Violet. Don't you love it when I see your beautiful thigs like this, mh?"

Violet merona hebat. Dirinya melunak, mencoba tenang karena Violet percayakan bagian bawah dirinya pada Quigley.

"You trust me, don't you, love?"

Violet mengangguk. Keraguan telah ditepisnya jauh-jauh dan birahi kembali mengungguli segalanya. Disamping, Quigley sangat menawan ketika mendominasinya seperti ini.

Maka Quigley melepas jins Violet yang dibantu dirinya agak cepat, tanpa mengindahkan gemetarnya tangan Quigley, dan Violet melenguh abis-abisan saat Quigley menunduk lalu mensejajarkan mulutnya tepat di bibir bagian bawah Violet.

"Love, you already wet. I love it. Now, I feel like I'm your husband anyway but doesn't care,"

Violet menaruh kedua tangannya di rambut Quigley. Tertawa singkat.

"Ready, gorgeus? What colour now? Tell me,"

"Green, it's, ahh.. shit, I'm gonna cum? Please? I just feel like cum when you just breath to me, mmh.."

"Sure, then."

Quigley mendekatkan bibirnya disana. Melumat apapun yang menyentuh belah bibirnya. Basa, bercampur harum sabun lavender Violet, seketika membuatnya ingin melahap lebih dan lebih hingga Quigley mendengar Violet berteriak putus-putus dalam napas yang terpacu kacau.

"Quig-- mmh, can I? Now? Please? I just-- ahh.."

Quigley melepas sebentar, "Yes, you do, love. Do it in my mouth, okay?"

Violet hampir berontak, tidak ingin, tapi ketika satu tangan Quigley meremas dada kiri Violet, dirinya porak-poranda. Semua inci badannya terasa sensitif dan genggaman tangan di rambut Quigley mengetat dan pahanya mengapit pipi Quigley kuat, lenguhan serta rintihan keras mengiringi hujaman puncak paling dahsyat selama dirinya diberikan pekerjaan oral.

Violet bersumpah melihat bintang-bintang.

Dan tali kain satin branya turun hingga membuka sepenuhnya dada kiri Violet begitu erotis luar biasa magis untuk tidak menghancurkan Violet dalam sekali terkam. Terlebih saat dada Violet naik turun mengejar nafas, letih menyelimuti.

Quigley merasa bagian bawahnya tak bisa lagi diajak kompromi.

"Quigley, let me-hh.. help you,"

Violet turun, sedikit limbung namun Quigley membantunya. Sudah tak bisa berpikir jernih saat kepingan kesadaran Quigley membisikkan bahwa mimpi apa semalam dirinya sampai hari ini dia mendapati Violet tidak berpakaian, sedang menumpu kedua lututnya untuk mensejajarkan mulutnya di bagian bawah Quigley yang mengeras.

Kepala Violet mendongak, memberikan Quigley senyum sensual sialan yang membuat kedut tak tertahankan pada bagian bawah Quigley makin tak karuan. Terutama ketika Violet dengan telaten menurunkan resleting jins Quigley, menarik celananya pelan penuh ritme, lalu menemukan yang keras untuk diberinya kecupan singkat dimana pikiran Quigley melayang sudah. Afeksi kecil yang begitu domestik seharusnya tidak bisa diterimanya secara cuma-cuma dari seorang Violet. Perlakuan menggemaskan ini membuat hangat sanubari Quigley.

"Gorgeus? You love it, mh?"

Violet berdiri, mengangguk di depan wajah Quigley. Mencuri ciuman dalam dari Quigley sampai Quigley meremas pinggul kecil Violet kelewat gemas. Lalu, Violet kembali seperti semula. Menumpukan kedua lututnya dan melepas fabrik terakhir yang menjadi penghalang dirinya untuk melakukan oral.

"Shit.. sssh," Quigley mendesah. Tempo Violet terbilang lamban, menyesakkan akan tetapi pantas ditunggu.

Tangan kanan Quigley meraih kepala Violet untuk menuntunnya sangat pelan mendekati ujung yang mengeras. Saat pertama sentuhan bibir ranum Violet yang sintal bertemu lapisan tipis kulit disana, Quigley meledak. Sifat perlakuan Violet padanya seakan memberinya trofi bahwa Quigley pantas mendapatkan kasih baik atas imbalan dari apa yang telah Quigley beri ke Violet sebelumnya.

Quigley tak pernah merasa pekerjaan oral begitu memberinya banyak sukacita penuh kedamaian meluluhlantakkan segalanya.

Hingga ketika Violet penuh, Quigley merasa sudah menemukan apa yang selama ini dia cari.

Quigley mencintai cara Violet membuatnya bermakna bila mereka sedang bersama.

Violet memompa masuk dan keluar, melenguh penuh peluh sarat kepuasan non logikanya yang terpenuhi dan merasa gembira membantu Quigley, untuk dapat mencapai titik ejakulasi paling benderang selama hidupnya.

"Gorgeus, I wanna cum.. shit.."

Violet membawa tangannya yang menumpu pada pinggul Quigley ke tangan Quigley, yang berada di kepalanya. Mengindikasikan sesuatu.

"You want me cum in your mouth?"

Violet mendesah kecil, merona mendengar betapa kotornya kalimat Quigley yang entah bagaimana pula panas memicu debar jantung Violet dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Sure thing, gorgeus." Quigley meremas sejumput rambut Violet gemas sementara satu tangannya menahan kepala Violet agak tidak lepas dari tempo.

Quigley merasa seluruh kulitnya sensitif dan tegang menyesakkan mulai berdesakan menuju pusat bagian bawah dirinya. Bersiap meluncurkan zat mengalir kental pucat, begitu Violet memberikan akhir dari kegiatan oralnya. Quigley mengerang dengan suara rendah maskulinnya dimana hal tersebut sangat seksi untuk Violet, dan kedua tangan Quigley mengetat di sisi-sisi kepala Violet. Mengejang seperti mendapati titik kewarasannya dirampas begitu nikmat hingga Quigley menemukan putih, putih dan putih. Serta ledakan kembang api bisu, yang terciprat dalam uraian warna pelangi pada latar belakang angkasa malam gempitanya Quigley.

Violet bangkit dan menjilati sisa zat kental di bibirnya, ketika Quigley dengan cepat menyambar ranum padat bibir Violet untuk menikmatisemuanya dalam ciuman berani tersebut.

Mereka melakukannya lama dan tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya. Lebih teratur kelewat menyenangkan seperti mengikat, namun penuh kehati-hatian berhasrat.

"Violet?"

Quigley membawa kepala Violet untuk melihatnya lebih dekat. Karena Quigley tak akan sanggup membuat kerlingan cantik iris kelam Violet jauh-jauh darinya.

"Mh?"

Violet menyentuh garis rahang Quigley dan tersenyum. Rasa sayang Violet seperti terbagi sedikit demi sedikit kala Violet menutup mata lalu membukanya hanya untuk melihat Quigley jauh lebih berseri-seri layaknya anak kecil yang mendapat apa sangat diinginkan.

Kali ini pula, hatinya tertambat dengan menawannya visual Quigley setelah berpeluh hebat bersamanya.

"Aku jatuh hati," ujar Quigley sambil mengelus pipi Violet dengan ibu jarinya. Violet mendengarkan. "Tapi aku takut ini hanya seks dan nanti, kalau kau melakukan kesalahan, aku bisa meninggalkanmu,"

Violet masih menatap Quigley, berusaha mencerna kalimat laki-laki bermanik karamel tersebut.

"Sebatas seks, Violet. Aku takut,"

Violet menutup mata dan memberanikan diri berjinjit untuk mengecup singkat dahi Quigley.

Ditatapnya kembali manik Quigley sebelum akhirnya berkata, "Kalau aku melakukan kesalahan dan kau pergi, ingatkan aku untuk selalu pulang lagi?" Violet masih tersenyum meski suaranya sangat rendah nyaris serupa bisikan.

Quigley masih menimang kata-kata Violet, terlalu hilang dalam tatapan sayang Violet padanya. Merasa pecundang karena tidak dapat menjadi seseorang yang pantas untuk Violet.

"Kalau aku salah," Violet kembali bicara, menyentuh hidung bangir Quigley lalu mengikuti garisnya hingga sampai pada bibir atas Quigley dan menatap manik karamel cerah disana. "Bimbing aku sampai mengerti letak salahku dimana. Karena aku selalu punya kau. Iya, 'kan?"

Quigley ingin meronta. Ini tidak adil untuk Violet yang terlalu mulia memperlakukan Quigley. Dia hanya menginginkan Violet satu kali? Bukannya justru tersihir seperti ini. Quigley merasa berdosa. Quigley merasa melenceng. Quigley patut dihukum.

Quigley masih diam, mengusap sayang pucuk kepala Violet. Tak mengerti apa yang harus dia utarakan sementara dirinya sudah terlanjur basah dan satu bagian dari hati Quigley bersikukuh untuk tidak melepas Violet.

"Aku sebenarnya menyukaimu,"

Manik Quigley melebar. "Apa?

Violet menggigil karena suhu lembab ruangan. Quigley dengan sigap membuka hoodienya dan memakaikannya pada Violet.

"Sudah lebih baik?"

Violet bersemu. Memakai pakaian Quigley ternyata sangat nyaman, hangat dan harumnya begitu Quigley sekali. Kayu manis dan aqua. Violet rasanya ingin mematenkan harumnya hanya untuk dia saja.

"Jangan menggemaskan begitu, okay? Aku takut tak bisa kontrol," kelakar Quigley manis sembari membetulkan kaus hitamnya dan mengambil kemeja Violet untuk membersihkan sisa kegiatannya lalu meminta izin Violet agar dapat membersihkan bagian bawah Violet juga.

"Terima kasih," kata Violet. Dia senang Quigley sangat baik bahkan setelah mereka selesai.

"It's alright. Kemejamu nanti aku carikan yang baru, oke. Tenang saja, kotak-kotaknya pasti tidak berubah." Senyum Violet tak bisa ditahan. Quigley manis sekali, dirinya sungguh tidak paham.

*


*

Mereka akhirnya duduk menghadap pintu dengan jendela buram yang menunjukkan langit gelap secocok makan malam menanti.

Mereka ternyata selama itu, kelas sore menjelang senja memang tanggung untuk dapat menghabiskan waktu lebih malam lagi.

Untuk itulah, mereka memilih mengunci diri di gudang belakang kampus, ditemani bohlam redup yang masih bisa menjadikan suasana keduanya lekat. Serta tubuh yang berdekatan dalam cuddling hangat ketika mereka sudah kembali berpakaian.

"Hoodienya bisa bikin aku tidur, sepertinya." Violet menoleh kecil. Quigley terkekeh. Mengusap-usap lengan Violet dalam rangkulannya. Lalu mereka diam. Menikmati senyap yang menenangkan hingga hanya terdengar jarum detik pada jam tangan Quigley.

"Violet tentang yang tadi katamu," Quigley angkat bicara. Menaruh dagunya di atas kepala Violet yang tertumpu di bahu lebar Quigley. "Sejak kapan?"

Quigley mendengar Violet membuang nafas seraya memainkan jemarinya yang menyatu dengan jarinya sendiri. Menggemaskan.

"Masa orientasi," Violet berujar. "Sampai akhirnya kita bisa sekelas padahal aku kira kau bukan anak Fisika, wajahmu seperti anak Sastra atau Teknik yang jelas kau sangat tidak tergapai, menurutku."

Quigley diam-diam melambungkan senyum dan berharap Violet tidak melihat pipinya yang merah habis-habisan.

"Saat di kelas kau cuek, hampir tidak bergaul sama sekali. Padahal kau kelihatannya baik,"

Violet beringsut lebih rapat. Membagikan temperatur hangat lagi dan lagi. Violet kali ini bermain dengan kuku tangan Quigley: diketuk-ketuk dengan kuku telunjuknya.

"Makanya, aku pikir tidak akan bisa membuatmu menjadi teman," Violet menatap Quigley. Tersenyum. Sesuatu yang Quigley ingin hilang selamanya disana. Senyum Violet memberinya kilasan hujan meteor di penghujung fajar dan kejutan pelangi setelah hujan saat senja.

"Tapi nyatanya," sambung Violet. "Kau duduk di sebelahku tadi. Aku tak habis pikir bagaimana bisa-"

Quigley mendengus, "Kursi penuh dan hanya kursi sebelahmu yang kosong."

"-iya," Violet menatap Quigley separuh jengkel karena ucapannya dipotong. "Tapi kau tidak tahu bagaimana aku harus mengatur jantungku yang mau copot ini, 'kan?"

Tawa Quigley tersembur. Violet bicara seolah kalimat tersebut biasa saja, tidak mengindikasikan humor sarkas yang ditangkap Quigley.

Violet merengut, tetapi habis itu dia bangun dari posisinya, dan mendadak serius. Quigley terkesiap, "Ada apa?"

Violet duduk menyila. Menggenggam tangan Quigley. Senyumnya tak sekalipun luruh. Quigley sampai pusing melihatnya.

"There's someone, who always sent me rose. Satu tangkai lengkap dengan daun-daunnya. Setiap fajar dengan nama pengirim 'rainbowafter', " ungkap Violet sumringah. "Aku selalu penasaran siapa. Aku pikir yang mengirim itu pasti suka sekali mawar atau mungkin pelangi? Sesederhana itu,"

Manik Quigley membola. Benar-benar bangun seutuhnya untuk duduk berhadapan dengan Violet. Meringkus tangan Violet lebih erat. Dan kenyataan menubruk dirinya, berdentum takut-takut.

"Jangan bilang kau, 'mechanicalunited' ?"

Violet beringsut mundur. Pertanyaan Quigley membuatnya seidkit bergidik.

"Kau suka bunga apa?"

"Hah?"

"Maaf aku salah selama ini mengirimimu mawar ketimbang lavender. Aku tidak tahu bunga kesukaanmu lavender,"

Senyum Violet menghilang.

"Fajar atau senja?"

Violet menunduk, Quigley terus mengeratkan genggaman mereka ketika dirasanya genggaman Violet mengendur.

"Rumahmu di Darkvenue Street, 27A, simpang barat, dengan gudang mekanik yang aktif saat tengah malam."

Violet menatap Quigley, kali ini ekspresinya melembut. Diiringi basah kelopaknya yang membuat iris kelam Violet mengabur dan Quigley bahagia menyambut senyum Violet kembali mekar.

"Aku punya dua kakak, Duncan dan Isadora."

"Aku juga, Klaus dan Sunny."

Violet menangis saat dirinya menyatukan lagi bibirnya dengan bibir Quigley.

Pagutan mereka terasa manis seperti menelan permen gula. Tak menyangka sesuatu di luar nalar dapat terjadi tiba-tiba.

Mereka dengan pelan melepas, sebab keduanya merasa rapuh untuk satu sama lain.

Quigley menatap Violet sendu. "Hai,"

Violet menutup mata, saat merasakan ibu jari Quigley menyapu segulir air matanya. Lalu Violet membuka mata. "Hai, there. So in love with your sketch,"

Quigley tertawa, Violet ikut tergelak. "Itu postingan pertamaku," Quigley larut begitu nostalgic. "Kau yang pertama mengirimiku pesan pribadi dan kita jadi dekat,"

"I really love your sketch. I love the way you made it, even more real than 4D does," sambung Violet sedikit sengau. "Dan tidak tahu kalau kita ternyata teman sekelas?"

"So?"

"Apa?"

"You don't remember I told you I like you last summer?"

Air muka Violet kembali menegang. "Wait a sec,"

Quigley menyeringai.

Violet terbelalak, namun merona ketika sadar sesuatu. "So you like me too.."

Quigley memeluk Violet erat. Tak akan memberinya ruang untuk lepas. Violet tertawa kecil. Menghirup dalam-dalam harum Quigley.

Bagaimanapun juga, Quigley tengah merasa mendekap sesuatu yang pas untuknya. Sesuatu setara tempat untuk kembali seindah Violet.

"It sounds unreal, you know.." Quigley membawa mereka kembali ke posisi awal. Dengan kepala Violet di dadanya dan saling mendekap satu sama lain. Violet hanya menurut lalu diam setelahnya. Quigley bisa merasakan senyum Violet mengembang.

"Tapi, itu membuktikan bahwa aku jatuh hati dua kali." Quigley mendeklarasi

Violet tergelak kecil.

"I love you, Violet."

Violet mendongak, mencari kesungguhan di wajah Quigley dan memastikan jika setiap gurat senyum, manik, bahkan kedua pipi Quigley, Violet bisa dengan mudah mempercayainya.

Quigley berkedip.

"Aku suka bulu matamu," balas Violet. "Caramu tertawa, rambutmu, harummu, dan caramu menyentuh dengan gemetar. Hati-hati namun candu,"

Quigley meraba sangat ringan kelopak mata dan alis Violet, bermain sedikit dengan lentik alis matanya, merambat ke hidungnya, tulang pipinya dan terakhir bibir bawahnya.

"I love you, Quigley."

Semesta berkecamuk, menumpahkan bintang-bintang yang tergilir angin sepoi menuju musim semi paling luar biasa hangat.

Mencapai berisik air terjun tertinggi yang menguarkan aroma alam begitu surgawi-

-menjauh dari tempat dimana mereka berpijak.

]


How could I know

One day, I'd wake up feeling more

But I had already reached the shore

Guess we were ships in the night*

.

.

.

.

.


this is actually the first time i write smut . so, it's a total fine if you wanna criticize it BUT ! in this little fandom, we ship quigleyxviolet cause they're both cute, and hot. idk. hit me on review?

AND thank you sooo much udah luangin waktunya buat baca !!

.

.

see ya!

sweet night - song by V bts*