crush culture
naruto (c) masashi kishimoto
story (c) hydrilla
au, ooc, typos, misstype, bahasa gaul, etc.
this is non-profit project; the author did not take any profit from this.
Inspired by crush culture (c) conan gray
HAPPY BE-LATE-D BIRTHDAY KAK HIDYA AKA LASTMELODYAAAAA!
.
.
.
"Crush culture makes me wanna spill my guts out … "
.
.
.
Sasuke Uchiha menyadari bagaimana pembicaraan di antara teman-temannya telah berubah. Akhir-akhir ini, obrolan mereka tergravitasi pada makhluk dengan perangai lembut bernama perempuan. Ia sadar, di tengah tumpukan manusia yang memiliki hormon testosteron secara berlebihan, keberadaan aset—sebutan untuk perempuan di jurusannya, memang sangat langka. Menurut perhitungan matematis Sasuke, keberadaan perempuan di jurusannya bisa dibilang satu dibanding delapan puluh empat—hanya satu orang dari seluruh angkatannya pada tahun itu.
Kalau dipikir-pikir, semuanya bermula dari berita menggemparkan angkatan mereka saat itu. Ugh, Sasuke masih mengingat dengan jelas bagaimana Naruto yang mendramatisasi segala sesuatu itu lari ke tempat tongkrongan mereka sambil membuka-tutup mulut layaknya ikan hias. Ekspresi pemuda berambut pirang (yang, jujur saja, menurut Sasuke nggak banget) itu terlihat komikal sekali.
"Anjir lo pada harus tahu!" Seru Naruto ketika itu. "Shikamaru udah punya pacar! Anak Ilmu Tanah 2017!"
Lalu tongkrongan mereka turut menjadi heboh.
Shikamaru yang dibilang muka ileran. Shikamaru yang molor setiap saat. Shikamaru yang menganggap interaksi antara manusia sangat merepotkan. Shikamaru yang begitu. Tapi. Dia. Punya. Pacar.
Gila.
Seluruh angkatan 2017 jurusan Teknik Mesin mendadak kaget karena salah satu di antara mereka sudah debut sebagai pemuda berpacar. Meski dua bulan telah berlalu dari berita menggemparkan tersebut, mereka masih belum berhenti membicarakan eksistensi perempuan yang hampir bisa dibilang miris di kehidupan perkuliahan yang dijalani. Hampir setiap hari, Sasuke dapat mendengar bagaimana teman-teman sejurusannya itu menginginkan adanya sosok yang memotivasi kuliah mereka.
"Kalian sadar nggak, sih," mulai Kiba ketika mereka berada di tongkrongan pada suatu waktu. "Pertengahan tahun nanti kita udah KKN aja anjir. Gila, gila, cepet banget."
"Lho, justru KKN adalah kesempatan yang bagus," timpal Naruto. "Empat puluh hari bareng cewek-cewek. Kesempatan buat nyari pacar."
Sasuke memutar bola matanya.
Ia tidak habis pikir. Bagaimana bisa teman-temannya itu masih bisa memikirkan keinginan punya pacar sedangkan tiga praktikum di semester ini saja sudah ingin membunuh mereka? KKN buat cari pacar? Hah, apakah sempat jika mereka masih memiliki proyek mata kuliah selain dari program kerja dari KKN itu sendiri?
Sasuke mengetukkan jemarinya di atas meja tempat tongkrongannya dengan tidak sabar. Ia sudah menghabiskan setengah jam untuk memikirkan hal bodoh seperti teman-temannya yang mendadak tertarik dengan makhluk bergender perempuan dan Naruto tak kunjung muncul juga. Mereka telah berjanji untuk mengerjakan tugas bersama tapi Si Pirang itu bisa-bisanya telat tanpa memberi kabar.
Sasuke mengembuskan napasnya, berusaha untuk tidak terlalu kesal dengan tingkah temannya yang satu itu. Beberapa menit berlalu, dan Sasuke bisa mendengar derap langkah kaki ketika ia sedang minum dari tumblr-nya. Naruto memasuki tempat tongkrongan mereka (yang sebenarnya basecamp tapi iseng saja dipanggil tongkrongan) dengan cengiran lebar. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, seolah minta penjelasan ke Naruto tanpa sepatah kata.
"Gue tadi udah mau otewe ke sini, tapi kelupaan laptop. Gue muter balik lagi ke kos," jawab Naruto dengan cepat. "Terus pas gue parkirin motor, gue lihat cewek cakep banget, Sas. Seriusan. Gue jadi berhenti buat ngobrol bentar, hehehe."
Sasuke mendengus. Tuh 'kan. Cewek lagi.
Naruto yang melihat respon tidak mengenakkan dari Sasuke merasa sedikit panik. Bukannya apa ya, tugas mekatronika Naruto ada di genggaman tangan Sasuke ini. Soalnya Naruto sudah jelas dan pasti tidak akan sanggup menyelesaikan tugasnya sendiri. "Sumpah, Sas! Tadi ceweknya cakep banget! Mana anak fakultas sebelah pula," ucap Naruto, berusaha berdalih agar Sasuke tidak terlalu marah padanya.
Sasuke memutar bola matanya. "Yaudah ayo cepetan ngerjain tugasnya," kata Sasuke.
Naruto hanya bisa meringis. Secara buru-buru, ia lalu mengeluarkan buku dan laptopnya. Tanpa banyak bicara lagi, mereka mulai memfokuskan diri pada tugas yang harus dikumpulkan seminggu lagi tersebut. Meski pada kenyataannya, lebih banyak Sasuke yang harus mengajari Naruto. Mau bagaimana lagi? Teman bodohnya itu lebih memilih untuk tidur dibandingkan mendengarkan penjelasan dosen. Padahal sudah jelas mata kuliah yang satu itu susahnya minta ampun.
Sesi belajar bersama mereka sedikit terganggu di tengah-tengah karena segerombolan temannya datang ke tempat tongkrongan. Setelah melihat update Naruto di status WhatsApp, mereka berbondong-bondong datang untuk ikut minta bantuan. Sasuke menghela napasnya. Statusnya sebagai salah satu mahasiswa ber-IPK tinggi seangkatan kadang membuatnya sebal. Bukannya ia tidak mau membantu, tetapi teman-temannya ini sungguh minta ditempeleng satu-satu. Bisa-bisanya mereka stalking Instagram cewek-cewek saat Sasuke sedang menjelaskan!
Hadeh.
Mana Shikamaru yang punya IPK bagus juga ogah dimintai bantuan. 'Sorry, lagi ngedate sama pacar'—katanya tak tahu malu di grup angkatan. Dasar kepala nanas kurang ajar!
Setelah Sasuke berdeham mengingatkan, baru lah teman-temannya sadar. Mereka hanya membalas tatapan malas Sasuke dengan ringisan. Sasuke memutar bola matanya lantas melanjutkan penjelasan. Sasuke ingin segera pulang.
Setelah berjam-jam pembahasan materi soal, Sasuke pun menyatakan sesi belajar mereka telah selesai. Teman-temannya itu dengan tidak tahu malunya menguap lebar tanda bosan. Mereka hanya terkekeh ketika Sasuke menatap dengan setengah kesal.
Naruto pun buru-buru mencairkan suasana berharap suasana hati Sasuke membaik dengan berkata, "Yoklah kita traktir magelangannya Aa'! Ye nggak manteman?"
"Nggak mau," jawab Sasuke datar. "Maunya ayam penyet cabe 10 plus kol goreng pake kecap sama goodday carribean."
"Hhhhh," Naruto mengembuskan napas. Kok ngelunjak ni anak. "Yaudah ayok."
Mereka pun membereskan barang bawaan. Naruto, Sasuke, Kiba, dan Chouji berjalan beriringan menuju parkiran yang digunakan bersama oleh fakultas teknik dan fakultas kedokteran. Teman-teman mereka yang lain memilih untuk main PES di tongkrongan atau gitaran.
Langkah mereka menuju parkiran terhenti ketika Naruto justru berlari menghampiri seseorang. Sasuke memutar bola matanya setelah tahu siapa yang Naruto temui. Makhluk bergender perempuan. Meski pun demikian, Sasuke ikut menyusul Naruto karena Kiba dan Chouji sudah melangkah duluan ke sana.
"Nggak nyangka kita bakal ketemu lagi secepet ini, Ra," kata Naruto.
Perempuan yang menjadi lawan bicara Naruto pun hanya tertawa kecil. Sasuke tanpa sengaja memperhatikan paras perempuan yang tingginya hanya sebahunya itu. Rambutnya berwarna merah muda terlihat lembut apabila disentuh. Berbeda dengan lelaki, garis wajahnya terlihat halus dengan hidung mungil yang lucu. Bibirnya pun diberi sentuhan warna merah muda mengkilap.
Lipstick apa sih yang bikin bibir mengkilap gitu? Gemes banget astaga.
"—dan ini Sasuke."
Pikiran Sasuke pun buyar ketika Naruto menyikut lengannya. Ia dapat melihat perempuan yang tersenyum ke arahnya dan mengulurkan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya tampak memegang buku-buku kedokteran yang cukup tebal.
"Hai, Sas," mulai perempuan itu. "Kenalin, gue Sakura, kedokteran 2017."
"Sasuke, teknik 2017," balas Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura.
Aduh, lembut banget tangannya—
Pikiran Sasuke pun terhenti ketika Sakura menarik kembali tangannya. Pemuda itu tidak bisa melepaskan atensinya dari perangai Sakura. Mendadak semuanya terasa buram dan fokus hanya ada pada Sakura. Bagaimana anak rambutnya yang tidak ikut terikat bergoyang terhembus angin. Bagaimana kacamatanya jadi sedikit melorot. Bagaimana bibir Sakura bergerak—
"Yaudah ya, gue mau balik asistensi dulu. Gue ke mobil ambil buku doang soalnya. Kapan-kapan kita main bareng. Bye!"
—Ah.
Dan Sakura pun pergi. :(
Sasuke menggigit bagian dalam mulutnya. Matanya masih mengikuti sosok Sakura yang akhirnya menghilang memasuki lobi fakultas kedokteran. Pikirannya masih menerka ulang apa yang baru saja terjadi. Meski kakinya berjalan mengikuti Naruto dan teman-temannya, pikirannya masih terpikat pada Sakura.
Perempuan … ternyata seindah itu, ya?
.
.
.
Sasuke mengembuskan napasnya kasar. Waktu pada jam tangannya menunjukkan pukul 07.40 dan jika dalam lima menit lagi ia tidak sampai di kelas maka ia akan diusir dosennya. Pemuda itu menaruh helm di motornya dengan sedikit asal. Wajahnya tertekuk, bibirnya melengkung ke bawah. Kantong matanya menghitam karena tidak tidur dengan cukup.
Mengerjakan laporan semalam suntuk membuatnya kehilangan semangat. Ditambah kelas pagi yang sialnya ia dapat karena terlambat KRS-an ini pun diisi oleh dosen galak. Semuanya terasa sangat pas untuk menghancurkan harinya kali itu. Ia pun berjalan keluar parkiran dengan malas.
Sasuke bisa mendengar ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ia pun mengalihkan atensinya dari jalan setapak parkiran menuju gedung fakultasnya kepada bagian tas di mana ia menaruh ponselnya. Tanpa sengaja, ia pun menyenggol seseorang yang sama-sama tidak memperhatikan jalan karena sibuk membaca buku sambil berjalan.
"Eh, sorry," kata orang itu secara refleks.
Sasuke membatu. Ia ingat dengan betul siapa pemilik suara itu. "Sakura?" Tanyanya.
"Sasuke?" Sakura balik bertanya untuk memastikan. "Ya ampun gue pikir siapa yang gue tabrak," katanya disusul tawa. "Maaf banget, ya, gue nggak sengaja," tambah Sakura.
"Selo."
Sakura pun tertawa kecil mendengar balasan Sasuke yang singkat. "Hahaha, lo beneran man of a few words banget, ya!" komentarnya.
Sasuke menggaruk belakang telinganya pertanda malu. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Soalnya ia jarang berinteraksi dengan perempuan. Ditambah lagi ia cenderung bergaul dengan teman laki-lakinya yang sudah biasa dengan sikapnya itu.
Haduh, Bunda, Sasuke harus gimana?
"Yaudah, gue cabut dulu ya," kata Sakura sambil melambaikan tangan.
Belum sempat Sakura berbalik meninggalkan Sasuke, pemuda itu sudah berucap 'tunggu!' terlebih dahulu. Sakura mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan Sasuke yang bertindak tiba-tiba.
Sedangkan Sasuke menarik napasnya dalam-dalam sebelum berujar, "Gue minta nomer lo, dong."
"Yaelah gue pikir apaan," jawab Sakura dengan tawa kecil. Meski pun begitu, Sakura tetap memberikan nomor ponselnya kepada Sasuke sebelum akhirnya pergi.
Sasuke, mengabaikan notifikasi dari ponselnya yang menyebutkan dosen sudah masuk dan ledekan Naruto tentang pengusiran dari kelas, lantas menyimpan nomer Sakura. Tanpa sadar ia sedang menahan napasnya ketika mengetikkan nomor Sakura yang langsung dihafalnya di luar kepala. Hanya mendapatkan nomor seseorang, tapi kenapa senang begini rasanya?!
Jari-jari Sasuke pun lalu membuka aplikasi mengirim pesan dan membuka profil Sakura. Ia mengetikkan sebuah pesan dengan cepat sebelum akhirnya mengantongi ponselnya di saku. Sasuke sudah memutuskan untuk ngopi dan sarapan di burjo Aa' karena masuk kelas pun percuma.
Sedangkan Sakura yang baru saja mendudukkan diri di bangku barisan ketiga dari depan merasakan getaran di ponselnya. Dosennya sudah datang namun belum memulai kelas, sehingga ia putuskan membaca pesan tersebut. Ia hampir tersedak ludahnya sendiri ketika membaca pesan yang terpampang di layar ponselnya.
"Sakura, kalo gue naksir lo gimana? —Sasuke."
.
.
.
"… I know what you're doing, tryna get me to pursue ya."
.
.
.
A/N:
HAPPY BIRTHDAY KAK HIDYAAA!
MAAPKEUN TELAT BANGEEEETTTT. I WISH YOU ALL THE BEST LAH POKOKNYA BU GURUUUUU
Udahlah gataw lagi apa yang kuketik udah lama banget nggak nulis huhuhu. Semoga suka.
Bye-bye~
Salam hangat,
—nindy.
