"(Un)Breakable – Chapter 1 : The Parents and The Lovers"

Fanfiction by Dramaquenns

BoBoiBoy © Monsta.

Warning (s) : Hali x Ying, Taufan x Yaya. orangtua!TauYa, anak!HaliYing. cinta terlarang (?). rated semi-M untuk tema dewasa.


"Papa gimana sih, nggak bilang kalau hari ini ada meeting? Ying 'kan harusnya bisa bangunin Papa lebih cepet."

Omelan gadis mungil berkacamata sudah berkumandang pagi-pagi di rumah yang hanya diisi oleh sepasnag ayah dan anak itu. Ying, 15 tahun, sudah berkemas dengan memakai seragam. Setelah terburu-buru mengurus pakaian papanya, kini ia harus bergegas lagi menyiapkan bekal sekaligus sarapan untuk mereka.

"Yah, mau gimana lagi? Papa juga lupa kalau hari ini ada meeting. Semua jadwal 'kan yang pegang sekretaris Papa."

Sang ayah menyambar jasnya dan menghempaskan diri di meja makan. Keningnya berkerut gusar sementara ia berkutat untuk mengikat dasinya yang tidak juga rapi.

"Tapi 'kan papa harusnya punya jadwal sendiri dong." Ying berlari menghampiri. Ia berdecak pelan dan dengan cekatan langsung membantu Taufan mengikat dasi. Ayahnya itu tersenyum. "Untung tadi sekretaris Papa telepon. Kalau nggak, papa pasti udah kena omel sama klien Papa deh."

Taufan tertawa. Mengusap rambut anak semata wayangnya itu. "Kamu nanti mau berangkat bareng Papa?"

Ying menggeleng. "Papa langsung ke kantor aja. Ying dijemput pacar Ying kok, Pa."

"Pacar?" Mata Taufan sedikit menyipit. "Kok kamu nggak pernah bilang udah punya pacar?"

"Ya papa kan nggak pernah nanya," sahut Ying enteng. Ia selesai menyimpul dasi Taufan dan tersenyum puas.

"Harusnya kamu bilang, dong, walau papa nggak nanya," Taufan cemberut. "Papa mau tungguin kamu dijemput, deh. Biar bisa liat orangnya."

"Ih nggak usah, Pa. Kapan-kapan aja Ying kenalin ke papa," Ying mengibaskan tangannya. Ia mengambil roti yang sudah matang di pemanggang dan mengolesi selai cokelat kesukaan sang ayah. "Nanti Papa malah telat ke kantor. Belom lagi, Papa 'kan bawel. Kalau misalnya ada acara ceramah dan ceramah bisa satu jam lamanya."

"Yee, Papa kan ngelakuin itu buat kebaikanmu juga." Taufan menerima roti yang diulurkan Ying dan menyuap ke dalam mulutnya. "Kalau dia nggak baik buat kamu gimana?"

"Dia baik, kok. Papa tenang aja pokoknya." Ying menoleh ke arah jam dinding. "Pa, udah mau telat, tuh. Buruan berangkat sana."

"Iya, iya." Taufan memasukkan potongan terakhir rotinya ke dalam mulut dan mengambil kunci mobil. Tak lupa disambarnya bungkusan bekal yang sudah disiapkan sang putri untuknya. "Ya udah. Papa berangkat dulu, ya."

Ying berjinjit untuk mencium pipi sang ayah, yang dibalas dengan kecupan singkat di kening dan juga pipinya.

"Hati-hati di jalan, pa!" seru Ying saat sang ayah segera melesat keluar.

Taufan melambai singkat, lalu menutup pintu depan dengan sedikit bantingan. Ying beranjak menghampiri jendela dan mengawasi sampai mobil yang dikendarai Taufan benar-benar sudah menghilang di tikungan.

Ying menghela napas dan melangkah ke sofa untuk mengambil tasnya. Ia mengambil kotak bekal di meja makan dan mengoles selai ke roti untuknya sendiri. Beberapa menit berselang, suara klakson motor terdengar dari depan rumahnya. Senyum Ying langsung terulas lebar saat ia buru-buru menyuap roti ke mulut dan berlari keluar.

"Halo, pacar," Ying menyapa ceria. Pemuda di atas motor membuka helm dan menampakkan sepasang iris delima yang tengah mengamati penampilan Ying.

"Udah siap?" tanya Halilintar.

Ying mencibir pelan karena sapaannya tidak digubris. "Bentar. Aku ambil tas dulu, sekalian kunci pintu," katanya.

Ying tidak menunggu tanggapan dan bergegas masuk ke dalam. Ia mengambil tas yang tertinggal di meja makan dan langsung mengunci pintu.

"Ayo, jalan." Ying mendaratkan diri di jok belakang, kedua lengan memeluk erat pinggang Halilintar. "Jangan ngebut-ngebut ya, nanti aku jatuh."

"Bukannya kamu memang udah jatuh?" Halilintar menatap Ying dengan seringai tipis.

"Hah? Jatuh di mana?" tanya Ying heran.

"Jatuh di hati aku."

"Ih, Hali, norak banget tau, nggak!" Yingtergelak geli. "Sejak kapan kamu jadi suka ngegombal norak gini? Ketularan Gopal pasti, kan?" Ia memukul punggung Halilintar, dan kekasihnya itu hanya tertawa.

"Ya udah, pegangan yang erat."

Ying semakin merapatkan rangkulannya. Mesin motor kembali dinyalakan, dan mereka melaju pergi membelah udara pagi yang sejuk.

.

.

.

Taufan memarkir mobil dengan terburu-buru. Ia mengecek arlojinya dan berdecak. Tanpa membuang waktu, Taufan segera berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai 10, tempat kantornya berada. Ia baru saja mendapat kabar dari Suzy—sekretarisnya, bahwa klien yang akan ditemuinya hari ini sudah menunggu sejak 10 menit yang lalu. Sial. Taufan berhasil membuat kesan pertama yang buruk.

"Anda sudah ditunggu di ruang meeting, Pak. Ibu Yaya sudah hadir bersama beberapa rekannya."

Pesan dari Suzy muncul lagi di notifikasi ponselnya.

Taufan masuk ke lift dan menekan tombolnya berkali-kali, tak sabar dengan pintu yang menutup lambat. Ia mengetuk kaki dengan gelisah sementara lift membawanya naik. Saat pintu terbuka di lantai sepuluh, ia sudah disambut oleh sang sekretaris.

"Bagaimana keadaannya? Apa dia marah-marah, atau gimana?" tanya Taufan sambil merapikan kerutan di jas dan juga kemejanya.

Suzy membawa setumpuk berkas dalam pelukan lengannya sembari berusaha menyamakan langkah Taufan yang cepat. "Sebenarnya Ibu Yaya yang menyuruh saya bilang seperti itu pada bapak, aslinya dia baru saja datang satu menit yang lalu."

Taufan menghentikan langkah, menatap Suzy heran. "Hah?"

"Iya. Beliau juga baru saja sampai, dan sekarang sedang menunggu anda di ruang rapat nomor 4."

Taufan menghela napas lega. Setidaknya perkiraan awalnya bahwa ia akan memberi kesan buruk karena terlambat tidak terjadi. Namun tetap saja, karena kliennya yang lebih dulu tiba, ia tetap akan dianggap terlambat.

"Kamu sudah menyiapkan semua bahan presentasinya?" tanya Taufan sementara ia melangkah menuju ruang rapat bersama sang sekretaris.

"Sudah, Pak." Suzy mengangguk, memeriksa kelengkapan berkas dan data yang disiapkannya. "Semua sudah beres."

Taufan mengangguk. Ia beserta Suzy langsung masuk ruang rapat dimana klien mereka menunggu.

"Maaf, saya terlambat—"

Wanita berhijab merah muda beranjak bangkit dari kursinya dan Taufan terpana. Untuk sejenak, ia kehilangan kata-katanya. Taufan hanya berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka, sementara wanita di depannya tampak mengangkat alis.

"Oh iya, saya sudah menunggu selama sepuluh menit." Wanita itu tersenyum, senyum tipis yang seakan menantang Taufan.

Taufan tersadar dari kebekuannya. Ia mendengkus geli sebelum melangkah mendekat dan mengulurkan tangan.

"Saya Taufan Dirgantara, CEO dari Yang's Corporation. Senang bertemu dengan Anda, Nona—"

"Yaya Yah." Tangan Taufan dijabat singkat. "Dan tidak perlu memanggil nona. Saya sudah tidak semuda itu."

"Benarkah? Tapi anda kelihatan masih cukup pantas untuk panggilan itu," Taufan tertawa renyah sebelum mempersilakan sang klien untuk duduk. Ia juga berjabat tangan dengan beberapa orang yang mendampingi Yaya.

"Kalau begitu kita langsung mulai saja presentasinya?" kata Taufan menawarkan setelah mereka melewatkan sesi perkenalan singkat.

"Silakan. Kami memang tidak berniat berlama-lama."

Taufan tertawa lagi. Ia mulai mengeluarkan catatan, sementara Suzy mempersiapkan proyektor dan laptop. Taufan berdiri, kemudian memperkenalkan programnya kepada para kliennya satu per satu.

Yaya tampak tekun mendengarkan. Sesekali ia mencatat beberapa hal di buku dan berdiskusi pelan dengan rekannya. Perhatian Taufan sedikit teralih oleh sepasang iris sejernih madu wanita itu yang terus menatapnya lekat, tapi ia berhasil menyelesaikan presentasinya hingga akhir dengan cukup baik.

"Apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya Taufan, setelah layar terakhir ditayangkan dan lampu kembali menyala.

"Cukup jelas. Semua yang ingin saya tanyakan sudah dijawab tadi." Yaya menutup buku catatannya. "Tapi nanti mungkin akan ada beberapa pertanyaan yang menyusul setelah saya menyesuaikan dengan program saya. Apakah Anda keberatan bila saya hubungi kapan-kapan?"

Taufan langsung menggeleng cepat dengan sneyum terulas. "Tentu saja tidak. Setelah ini mungkin kita bisa makan siang bersama, jika Anda ingin membahasnya lebih lanjut?"

Yaya mengangkat sebelah alisnya. "Terima kasih atas tawaran anda. Tapi saya sudah punya janji makan siang dengan orang lain," tukasnya.

"Dengan kekasih anda?" Taufan tersenyum kecut.

Yaya tersenyum. "Mantan suami saya," katanya singkat.

Mata Taufan membeliak terkejut. "Mantan suami? Jadi anda sudah menikah?"

Yaya tersenyum lagi. "Pernah menikah," ia mengoreksi. "Saya juga sudah punya anak. Dan sekarang dia sudah hampir lulus SMA."

"Benarkah? Saya juga punya seorang putri yang masih SMA. Tapi dia masih di tahun pertamanya."

"Wah,kebetulan sekali kalau begitu," Yaya kembali mengulas senyum. Ia melirik jam tangannya, lalu segera membereskan barang-barangnya. "Senang bertemu dengan anda, Pak Taufan. Terima kasih sudah mengundang kami kemari. Semoga kita bisa bekerja sama ke depannya."

"Sama-sama. Saya juga berharap begitu." Taufan mengulurkan tangan yang kemudian dibalas Yaya. Ia memasang senyumnya, berharap Yaya juga bisa terpana seperti yang dialaminya beberapa saat lalu saat mereka bertemu.

Wanita itu kemudian membungkuk singkat. Ia melangkah pergi bersam apara rekannya, meninggalkan Taufan yang tampak termenung dan juga Suzy yang sibuk membereskan sisa rapat.

"Pak, setelah ini Anda ada pertemuan dengan—"

"Kamu ada nyimpan nomornya ibu Yaya?" tanya Taufan sebelum sekretarisnya itu sempat bicara.

Suzy terlihat sedikit mengernyit. "Eh iya, ada, Pak. Kenapa?"

"Tolong kirim nomor dia ke nomor pribadi saya ya," titah Taufan. "Ada beberapa hal yang harus saya diskusikan lagi sama dia."

Suzy mengerutkan alis mendengar permintaan Taufan, tapi ia akhirnya mengangguk. "Baiklah, pak. Akan saya kirimkan."

"Bagus," Taufan tersenyum puas. "Aku akan kembali ke ruanganku. Nanti berikan laporan hasil rapatnya supaya bisa kuevaluasi."

"Baik, pak."

Suzy kembali mengangguk dan membungkuk singkat saat Taufan berjalan pergi meninggalkan ruang rapat yang kini kosong.

.

.

.

Motor sport merah melaju cepat melintasi jalanan komplek perumah yang sepi sebelum berhenti di depan rumah besar berpagar hitam. Ying melompat turun dari jok belakang dan melepas helmnya.

"Untung Papa belum pulang," ia mendesah lega melihat pintu garasi yang masih tertutup. Tatapannya kemudian beralih pada sang kekasih yang juga baru menurunkan helmnya. "Lain kali kalau jalan jangan tiba-tiba, dong. Kalau aku pulang setelah papa pulang, nanti diomelin."

"Emang kamu belum bilang sama Papa kamu kalau kamu punya pacar?" Sebelah alis Halilintar terangkat.

"Yah, udah, sih. Tapi ini kan pertama kalinya aku pacaran." Wajah Ying memerah saat mengatakannya. "Jadi, aku masih belum biasa pulang sore."

Halilintar tersenyum, mengacak rambut kekasihnya yang menuai protes dari gadis berkacamata itu. "Ya udah, makanya biasain ya."

Ying tersenyum. "Iya. Kalau gitu aku masuk, ya?"

"Kamu nggak mau ngasih aku salam?"

Kening Ying berkerut. "Apa?"

Halilintar menarik Ying mendekat, mengangkat dagunya yang membuat gadis itu membeliak terkejut. Perlahan wajah Halilintar mendekat, membuat Ying mau tak mau memejamkan mata. Namun sebelum bibir mereka bersentuhan, suara klakson yang begitu nyaring segera membuat mereka terlonjak.

"Itu papaku," bisik Ying panik. "Kamu buruan pulang sana! Nanti dia bakal ngomel panjang banget."

"Masa' aku langsung pulang? Nanti malah disangkain nggak sopan," kata Halilintar. Ia terlihat cukup tenang meski Ying sudah tampak panik."Nggak apa-apa, kalau diomelin biar aku yang jelasin. Sekalian aku ngenalin diri juga, 'kan?"

"Tapi nanti bakal panjang banget, Hali. Dia itu kalau ngomel nggak bakal berhenti."

Halilintar malah tertawa. "Mirip sama kamu berarti."

"Ih ini bukan waktunya bercanda, Hali," decak Ying. Ia menoleh dan terkejut mendapati sang ayah sudah keluar dari mobil dan tengah berjalan menghampiri mereka. "Duh, gimana ini... Papa beneran marah."

"Kamu baru pulang, Ying?" Taufan bertanya setelah ia berdiri di depan mereka.

"I-iya, pa," gumam Ying tertunduk.

"Terus ini pacar kamu? Kenapa nggak dikenalin ke papa?"

"I-ini baru mau Ying kenalin kok Pa. Dia ini—"

"Saya Halilintar, om. Pacar Ying." Halilintar beranjak turun dari motornya. Ia menyunggingkan senyum dan menyalami tangan Taufan. "Saya kelas tiga di sekolah yang sama kayak Ying."

Sebelah alis Taufan terangkat heran. "Udah berapa lama pacaran?"

Ying dan Halilintar saling pandang. "Dua minggu, om."

"Baru dua minggu tapi kamu udah berani mau cium anak saya?" Taufan menyilangkan lengan di depan dada dan menatap Halilintar dengan alis mengernyit. "Di depan rumahnya lagi. Kamu nggak malu dilihat tetangga?"

"Pa-papa, yang tadi itu bukan—"

"Ying, kamu masuk dan siapin makan malam. Papa udah beliin makanannya, kamu tinggal ambil di mobil," perintah Taufan.

Ying tersentak. Ia menunduk dan menuruti titah sang ayah untuk menghampiri mobil yang terparkir di belakang mereka. Setelah itu ia kembali dengan kantung kertas berisi makanan yang Ying tahu pasti berasal dari kafe dekat kantor papanya.

"Pa, tadi itu kita cuma—"

"Masuk."

Ying menggigit bibir. Ia melirik Halilintar cemas, tapi pemuda itu hanya mengangguk dan tersenyum kecil untuk menenangkannya. Ying melempar satu lirikan terakhir pada sang ayah, sebelum beranjak masuk dengan pasrah.

"Jadi," Taufan mengalihkan perhatian dari Ying yang telah menghilang di balik pintu tertutup ke arah Halilintar. "Kamu mau ngebela diri soal yang saya lihat tadi?"

"Nggak, om," Halilintar berujar tenang. "Saya ngaku kalau tadi memang mau cium Ying."

Taufan mengangguk. "Bagus. Kejujuran yang patut diapresiasi. Udah berapa kali pacaran?"

Halilintar tampak mengerti dengan pertanyaan Taufan, namun ia tetap menjawab. "Tiga kali deh kayaknya. Nggak tau juga sih, saya lupa."

Taufan mengangguk lagi. Tangannya masih bersidekap di depan dada saat kedua safirnya menatap Halilintar penuh selidik. "Sering kayak gitu?"

"Maksudnya, om?"

"Iya. Kamu sering ciuman kalau pacaran?" tanya Taufan. "Atau jangan-jangan gaya pacaran kamu malah lebih parah? Udah berapa kali ciuman sama Ying?"

"Baru sekali, om," aku Halilintar.

"Yang benar? Jangan bohong, lho," Taufan menyipitkan mata sangsi. "Kamu belum ngelakuin yang lebih dari ciuman ke anak saya, 'kan?"

"Belum, om, tenang aja. Saya bukan cowok kayak gitu, kok," Halilintar masih tampak tenang meski tatapan Taufan terus menghujamnya tajam.

"Masa'?" Mata Taufan masih memicing curiga. "Tapi diliat dari sebegitu tenangnya kamu mau cium anak saya, kayaknya kamu udah biasa."

"Saya emang selalu tenang kok," kata Halilintar enteng.

Taufan mendengkus pelan. "Ying itu masih polos. Sekarang gara-gara kamu anak saya udah nggak begitu polos lagi. Dia juga lugu. Saking lugunya, kadang dia nggak bisa ngebedain mana yang baik dan mana yang nggak baik buat dia. Kamu pasti tau kalau kamu pacar pertamanya, Ying kan?"

"Iya, saya tau, om. Saya bakal jagain anak om baik-baik. Jadi om nggak perlu khawatir," ujar Halilintar.

"Saya bakal tetap khawatir. Ying anak saya satu-satunya. Saya nggak bakal ngebiarin dia dirusak sama cowok yang cuma mau mainin perasaan dia," tegas Taufan.

"Saya nggak—"

"Kamu nggak pulang? Udah mau malam. Kamu pasti ditungguin sama orangtuamu di rumah, kan?"

"Ya kan saya diajak ngobrol sama om. Masa saya pulang, nggak sopan dong," balas Halilintar.

Taufan berdecak. Dalam hatinya ia membenarkan perkataan Halilintar. Justru sekarang ia malah terlihat bodoh di depan kekasih putrinya ini.

"Yaudah, sekarang kamu pulang. Kasihan orang tua kamu nungguin di rumah," tandas Taufan. Ia melihat ekspresi di wajah Halilintar dan meneruskan, "Apa? Kamu mau mampir? Lain kali aja mampirnya. Ngomong-ngomong saya sering pergi kel luar kota. Awas aja kalau saya sampai dengar kamu ke rumah pas saya nggak ada."

"Kalau saya minta izin sama om dulu, boleh?"

"Nggak boleh juga," ketus Taufan. "Kamu cuma boleh ngantar-jemput Ying aja. Jangan coba masuk ke dalam kalau saya nggak ada."

"Nggak kok, om. Saya udah diajarin sopan santun sama bunda saya," kata Halilintar kalem. "Kalau gitu saya pamit dulu ya, om."

Pemuda itu kembali menyalami Taufan, lalu membungkuk singkat dan naik ke motornya. Taufan terus mengawasi Halilintar sampai pemuda itu sudah menghilang di kejauhan.

.

.

.

Taufan melangkah ke dalam rumah setelah selesai memarkir mobilnya di garasi. Begitu masuk, ia mendapati Ying sedang menunggunya di ruang tengah.

"Kamu udah siapin makan malam?" Taufan melongok ke dapur mereka.

"Papa tadi ngomong apa sama Hali? Papa nggak ngomelin dia kan? Papa nggak jahat sama dia kan? Papa nggak nyuruh dia mutusin aku kan?" Ying langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan. "Pa, tadi Hali cuma mau cium aku aja kok. Nggak lebih."

"Denger ya, anak gadis papa," Taufan berpaling ke arah Ying dengan berkacak pinggang. "Ciuman itu aja udah berlebihan dalam pacaran. Apanya yang nggak lebih?"

"Ta-tapi 'kan, pa—"

"Nggak ada tapi, Ying. Kamu nggak boleh sembarangan ngasih cowok apa yang dia minta. Awalnya dia minta ciuman, terus nanti minta yang lain lagi. Kamu mau kalau sampai diapa-apain sama pacar kamu?"

"Hali bukan orang kayak gitu kok, pa ... " gumam Ying tertunduk.

"Darimana kamu tau dia bukan orang kayak gitu? Kamu aja baru pacaran dua Minggu sama dia," Taufan menatap Ying dengan pandangan menyelidik.

Ying menggeleng. "Yah, karena Hali nggak kayak gitu orangnya, pa. Sejauh ini ... Ying nggak pernah dengar kasus dia yang kayak gitu kok. Lagian juga, dia putus sama mantan-mantannya karena mantannya yang nyakitin dia, bukan Hali yang nyakitin mereka. Hali ... dia menghargai perempuan banget kok, Pa ..."

"Jangan gampang percaya sama laki-laki, Ying. Belum ngelakuin bukan berarti dia nggak pernah punya niat. Kamu harus jaga-jaga sebelum beneran kejadian," tandas Taufan. "Udah. Ayo sekarang kita makan dulu. Papa jadi lapar gara-gara kebanyakan ngomel."

"Lagian Papa sih kebanyakan ngomel," gerutu Ying, memasang wajah cemberut. "Ya udah, Papa makan duluan aja. Ying mau mandi."

"Lho, nggak makan bareng? Kamu ngambek karena Papa marahin pacar kamu?"

"Iya."

Ying segera berbalik dan menghentak langkah meninggalkan Taufan menuju kamarnya. Sementara sang ayah hanya bisa mengawasinya menghilang di lantai atas dan menghela napas lelah.

.

.

.

Pintu dibuka. Halilintar melangkah masuk dan meletakkan sepatunya di rak. Sang ibu yang tengah membaca majalah di ruang tengah segera menyambutnya.

"Assalamualaikum, nda," kata Halilintar. Ia menyalami tangan sang ibu dan langsung mendaratkan dirinya di sofa, memijit keningnya yang terasa pusing.

"Waalaikumsalam." Wanita berhijab merah muda itu menaruh majalahnya di atas meja. "Kamu kenapa? Kok anak bunda yang satu ini kayaknya suntuk banget?"

"Hali abis diomelin, nda," Halilintar terkekeh pelan. Mata cokelat ibunya langsung melebar terkejut.

"Apa? Siapa yang berani ngomelin kamu? Sini bilang biar bunda balas omelin dia," kata Yaya.

"Nggak usah lah, nda," Halilintar tertawa. "Udah biasa kok yang kayak gitu."

"Udah biasa gimana? Coba cerita kenapa bisa diomelin."

Halilintar menggeleng. "Hali cuma kepergok mau cium pacar Hali, terus diomelin sama papanya."

"Kamu cium pacar kamu?" Yaya melebarkan mata terkejut. "Di bibir?"

"Iyalah, nda. Di mana lagi?"

"Udah berapa kali?" Ibu Halilintar kembali bertanya.

Halilintar tampak berpikir. "Baru sekali, sih. Aneh deh, pertanyaan bunda sama kayak pertanyaan papa Ying."

"Ya wajarlah ditanyain gitu. Kamu sembarangan main cium anak perempuan orang. Bunda ngerti deh sekarang kenapa kamu diomelin."

"Ih,bunda kok gitu, sih? Ying kan pacarnya Hali. Nggak apa-apa dong kalau cuma cium? Hali nggak macem-macem, kok."

"Ya tetap aja. Kamu tau nggak pacaran yang kebablasan itu berawal dari mana? Dari ciuman. Nanti kalau tiba-tiba kamu butuh lebih dari ciuman gimana?"

Kening Halilintar berkerut. "Hali nggak kayak gitu kali, nda. Hali masih tau batas."

"Hali sayang, bunda percaya kok Hali pasti tau batas." Yaya mengusap kepala Halilintar lembut. "Tapi siapa yang tau kalau nanti kamu bisa aja khilaf, 'kan? Kamunya nggak mikir macem-macem, tapi terus karena sering ciuman jadi dibisikin setan buat ngelakuin lebih. Kalau udah kebablasan nanti siapa yang susah? Kamu juga 'kan, sayang?"

Halilintar terdiam. Ia menghela napas lelah sebelum akhirnya mengulas senyum kecil. "Iya, nda, Hali ngerti. Mulai sekarang Hali akan berusaha buat nggak keseringan cium Ying."

"Bukan akan berusaha, tapi emang harus sayang." Yaya balas tersenyum dan mengacak rambut putranya penuh sayang. "Dulu Bunda sama Papa kamu harus nikah dulu baru bisa ciuman."

Mendengar sosok itu disebut, ekspresi Halilintar langsung mengeras. Ia menoleh pada Yaya dengan sorot mata tajam. Membuat tawa Yaya langsung berganti menjadi senyum canggung.

"Bunda ... nggak ketemu papa lagi, 'kan?"

Wajah Yaya yang langsung berpaling dan senyum kikuknya memberi Halilintar jawaban meski ia tidak mengucapkan apa-apa.

"Bunda kenapa masih mau nemuin dia, sih? Laki-laki kayak gitu nggak pantas lagi ada di hidup bunda," kata Halilintar tajam.

"Nggak boleh ngomong gitu, sayang. Dia itu papamu, lho," ujar Yaya dengan senyum muram.

"Hali nggak mau ngakuin dia Papa. Dia nggak pantes juga disebut Papa," dengkus Halilintar, membuang wajah.

Yaya mendesah pelan. Ia menyentuh rambut Halilintar dan mengusapnya lembut.

"Nggak boleh gitu lho, sayang. 'Kan selama ini yang bayarin kamu sekolah papa kamu. Walau dia emang nggak ada buat kita, tapi dia masih ingat tanggung jawab dia tentang kamu."

Halilintar menaruh helmnya di meja dan segera beranjak. "Pokoknya bunda jangan ketemu sama dia lagi. Apa perlu Hali cariin suami baru buat bunda supaya dia nggak nemuin bunda lagi?"

Yaya tertawa. "Buat apa? Bunda kan udah punya kamu." Ia mengacak rambut putranya gemas. "Sekarang kamu ganti baju sana. Habis itu turun, kita makan malam, ya?"

Halilintar mengangguk. Ia beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamarnya di lantai atas.

.

.

.

Halilintar membanting tas ke sembarang arah. Ia melepas pakaian kemudian mengeluarkan ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari papanya yang diabaikan Halilintar. Ia justru membuka pesan masuk lain yang berasal dari Ying.

"Maafin Papa aku tadi, ya. Dia emang gitu, over-protektif sama aku. Kalau kamu udah sampai rumah, telepon, ya. I love you, Hali."

Jari Halilintar bergeser untuk menekan tombol panggil. Ia meletakkan ponsel di telinga dan beranjak untuk mencari kaus di lemari.

"Oh, Hali." Sang kekasih langsung menyapanya ceria di seberang telepon. "Kamu udah sampai di rumah?"

"Iya udah," sahut Halilintar. Ia menarik selembar kaus abu-abu yang berada di tengah-tengah lemari.

"Kamu pasti kesel ya diomelin Papa?" gumam Ying, terdengar merasa bersalah. "Maaf ya, Papa emang gitu. Jangankan kamu, kucing aja kalau nyakar aku bisa diceramahi abis-abisan sama dia. Kamu nggak marah sama aku,'kan?"

"Ngapain aku marah?" kekeh Halilintar. "Justru aku senang kamu punya papa yang protektif. Berarti selama ini kamu dijaga baik-baik sama dia."

"Iya, emang dijaga banget sampe nggak boleh ngapa-ngapain," desah Ying.

Halilintar kembali tertawa. Ia meletakkan ponsel di meja dan menyalakan mode speaker sementara ia memakai pakaian.

"Kamu udah makan?" Ying kembali bertanya.

"Ini mau makan, aku baru banget sampai."

Ying pasti sedang mengangguk. "Yaudah, kalau gitu kamu makan ya. Oh iya, besok kamu nggak usah jemput aku. Papa aku yang mau nganter katanya. Kita ketemu di sekolah aja, ya."

"Oke."

Halilintar menunggu hingga Ying sudah memutuskan panggilan sebelum menyimpan ponsel di bawah bantalnya. Ia lalu melangkah keluar dan bersiap turun untuk makan malam.

.

.

.

to be continued


Author's Note :

Ini fanfic udah agak lama sih sebenarnya, tapi baru memberanikan diri publish sekarang.

Mungkin ada yang berkenan ngasih komentar, kritik atau saran? :")