Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto. I own nothing. This fic just for fun.

Naruto tak pernah membayangkan mengenai soulmate. Ia masih terlalu muda untuk fokus pada hal romantisme. Ia ingin memusatkan diri menjadi ninja nomor satu di Konoha. Lagi pula, siapa yang ingin berpasangan dengannya? Seorang yatim piatu yang memiliki monster di dalam tubuh. Ia hanya ingin diakui oleh semua orang, tak lebih dari itu.

Setiap orang terlahir dengan pasangan jiwa. Hanya saja kemungkinan mereka bertemu sangat kecil, mengingat jumlah manusia di bumi melebihi hitungan miliar.

"Pasti ada kesalahan."

Naruto ingin mengangguk setuju saat mendengar pernyataan yang keluar dari salah seorang Elite ANBU. Sayang, tubuh Naruto begitu mati rasa saat ini. Pertarungan dengan Gaara memang berhasil ia menangkan, namun tubuhnya pun mengalami luka parah. Sekadar mengangguk pun sangat sulit.

Meski darah menghalangi area pandang, namun Naruto yakin jika Elite ANBU yang memandang ke arahnya adalah soulmate miliknya. Manik hitam yang tampak dari celah topeng elang, bercahaya kebiruan. Tubuh mereka seperti membeku. Pundak bagai terbakar untuk sesaat. Ada sensasi aneh yang menyerang, seolah semua di sekitar mereka memudar. Eksistensi yang baru mendadak muncul di pikiran, membuat kehadiran ini menjadi satu titik pusat yang sangat mendominasi.

Ninja yang mengenakan jubah cokelat tua dan topeng elang melangkah mendekat. Memandang manik biru Naruto untuk memastikan. Satu senyum kecil terpasang di wajah si pirang, meski saat ini tubuh nyaris ambruk. Suara langkah kaki tak dipedulikan keduanya. Masih terlalu terpaku akan kehadiran masing-masing.

"Hokage memintamu untuk membawanya, Taka."

Suara yang terdengar samar kembali mereka abaikan. Sensasi rasa sayang dan rindu membanjiri hati. Membutakan seluruh indera lain dalam tubuh. Keduanya masih saling memandang sampai si Elite ANBU menggeleng pelan dan segera meraup tubuh Naruto dalam pelukannya. Misi tetap harus diutamakan.

"Hokage?" tanya Naruto dengan susah payah. Mencoba memurnikan pikiran dari sosok soulmate miliknya. Sulit sekali, namun perlahan ia melihat manik hitam kehilangan cahaya biru. Pikiran mereka mulai kembali normal. Sensor tubuh mulai bekerja kembali, menyadarkan jika mereka masih di hutan luar Konoha. Seorang ANBU biasa -- terlihat dari seragam hitam dan vest tanpa lengan yang dikenakan, tengah membopong Gaara yang pingsan. Taka membetulkan posisi Naruto sebelum ia melompati pepohonan dan bergerak cepat menuju pusat desa Konoha.

"Hokage memerintahkan untuk menjagamu dari Sukaku, tapi sepertinya kau sudah menangani ini dengan baik."

Tanpa dapat ditahan senyum Naruto mengembang. Ada nada bangga dari ANBU yang memeluknya. Ini pertama kalinya ia mendapat pengakuan. Tubuh yang mati rasa pun sepadan untuk pengakuan yang didapat. Ia bukan lagi anak yang lemah. Ia diakui.

Naruto tak dapat melihat ekspresi di wajah pasangan jiwanya, namun ia sudah cukup bahagia. Tangan berlumur darah miliknya mengetat di punggung berbalut jubah cokelat. Pandangan mulai kabur dan tubuh melemas.

Istirahatlah.

Suara itu memasuki alam pikiran Naruto. Memerintah dengan pelan, namun efeknya begitu cepat. Sesaat kemudian Naruto telah sepenuhnya tak sadarkan diri dalam pelukan Taka.

Begitu banyak yang Naruto pikirkan saat ini. Meskipun ia telah memaksakan mata untuk menutup, namun ia tak dapat kembali ke alam tidur. Justru semakin bergerak gelisah di atas ranjang rumah sakit.

Soulmate.

Ia tak percaya jika dirinya memiliki seorang soulmate. Saat terbangun ia menyadari jika dirinya berada di salah satu kamar di rumah sakit. Ingatan mengenai apa yang terjadi kembali begitu saja.

Semifinal ujian chuunin tengah diadakan. Ia bertanding melawan Gaara, orang yang menanggung monster dalam tubuhnya. Sama seperti Naruto.

Kompetisi menjadi kacau tatkala serangan mendadak muncul. Suasana menjadi riuh kemudian hening. Ia menyadari jika Gaara masih berniat untuk membunuhnya dengan meneruskan pertarungan. Entah bagaimana akhirnya mereka berkelahi hingga mencapai luar desa.

Naruto mengepalkan tangan. Bayangan soulmate miliknya kembali muncul. Jubah cokelat yang menutupi seluruh tubuh. Topeng elang dengan dasar warna putih dan goresan merah. Iris mata hitam yang berkilau biru -- memancarkan warna mata Naruto bersamaan.

"Pasti ada kesalahan."

Itu adalah hal pertama yang pasangan jiwanya katakan. Menyakitkan memang, namun ia pun setuju. Tak mungkin mereka adalah pasangan yang cocok. Naruto tak pernah menginginkan soulmate. Meski ia baru memasuki pubertas, namun ia paham jika masalah ini begitu rumit dan bukan sekadar romansa indah. Cukup sudah angan-angan, sekarang waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik lagi.

Ia menilik sesaat ke arah pundak kiri. Tangan kanan dengan ragu menyibak gaun rumah sakit yang dikenakan. Sebuah tato raven -- gagak yang tengah mengepakkan sayap muncul di pundaknya. Tato yang ia yakini juga ada di pundak kiri Elite ANBU tersebut.

Sayang, Naruto tak mengenali siapa orang di balik topeng elang yang mengantarnya ke rumah sakit.

Naruto.

Suara di dalam kepalanya mengejutkan Naruto. Ia langsung bangkit dari posisi tidur. Suara yang begitu lembut seolah memanggil. Dalam kondisi setengah sadar, Naruto menuruni ranjang. Tak peduli jika kaki tanpa alas, ia terus berjalan dan melompat keluar jendela.

Pikiran terfokus pada panggilan yang didengar. Elite ANBU itu memanggil, ia harus segera menemui pasangan jiwanya. Ia melompati atap rumah. Berlari pelan seperti terhipnotis. Pandangan familier desa Konoha memudahkan dalam memburu sang pasangan jiwa. Suara panggilan itu seperti membimbing, menunjukkan arah. Secara logika ia tak tahu di mana Taka berada, namun intuisi mengantar tubuhnya.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Naruto untuk sampai di jendela menara hokage. Tanpa pikir panjang Naruto membuka jendela. Pandangan mata terfokus pada sosok berjubah cokelat tua yang berdiri di hadapan meja hokage kelima. Wajah yang tertutup topeng elang pun menilik.

"Kau memanggilku," gumam Naruto. Saat pandangan keduanya bertemu, ia langsung bahagia. Sensor tubuh kembali dibanjiri berbagai perasaan. Memudarkan eksistensi yang lain demi kehadiran soulmate-nya. Ia melangkah mendekat karena panggilan itu masih dirasakan oleh intuisi tubuh.

"Uzumaki Naruto."

Sebuah tangan mendarat di pundak Naruto, mencegah untuk melangkah lebih jauh. Si pirang mendongak, menatap wajah terkejut hokage kelima. Alis mata pirang bertaut. Uchiha Itachi menaruh tangan kanan pada pipi Naruto. Menatap teliti pada kedua mata remaja pirang di hadapannya.

"Iris matanya menjadi hitam. Apa kau mengendalikannya, Sasuke?"

Saat nada tegas hokage kelima didengar olehnya, ia segera sadar. Sensasi aneh itu mulai berkurang. Berulang kali Naruto mengerjap. Ia terkejut mendapati wajah tampan hokage kelima begitu dekat dengannya. Tanpa sadar ia melangkah mundur, memberi jarak.

"Aku tidak melakukan apapun."

Suara familier itu mengalihkan pandangan Naruto. Ia menoleh ke samping, mendapati soulmate miliknya berdiri tenang di posisi yang sama. Topeng elang bergeser, manik hitam menatap tenang ke arahnya.

Merasa terpojok, Naruto makin menjauhkan diri. Soulmate-nya tak menginginkan kehadirannya.

"Kau memanggilku. Aku mendengar suaramu di dalam kepalaku. Aku bersumpah, aku tidak bohong," bela Naruto. Ia bahkan masih mengenakan gaun rumah sakit dan tanpa alas kaki. Pandangan kedua orang penting di Konoha seolah tengah mengintrogasi apa yang baru saja terjadi. Naruto pun tak mengerti apa yang terjadi, namun ia melakukannya bukan disengaja.

"Sasuke," suara hokage kelima terdengar tegas saat ia menyadari ketidak nyamanan Naruto. Sesaat kemudian pemimpin Konoha kembali mengalihkan pandangan Naruto. Kedua tangannya meremas pundak remaja pirang.

"Naruto, kau harus kembali ke rumah sakit. Kita akan bicarakan ini lagi nanti. Kau mengerti?"

Naruto mengangguk mendengar perintah hokage. Ia kembali menoleh pada Elite ANBU yang tetap diam di posisinya. Naruto mengangkat bahu kemudian keluar dari ruang kerja hokage melewati jendela.

Hokage kelima adalah hokage termuda dalam sejarah Konoha. Saat umur Uchiha Itachi menginjak tujuh belas, ia telah mendapat takhta pemimpin Konoha. Empat belas tahun lalu, serangan Kyuubi menghancurkan dan membunuh banyak ninja Konoha -- termasuk hokage ketiga dan keempat. Kekuasaan sempat berada pada tangan seorang tetua Konoha -- Danzo, namun ia dikudeta oleh seluruh klan Uchiha. Yang Naruto tahu, Itachi dipilih menjadi pemimpin saat itu.

Naruto ingat, kehancuran Konoha adalah hari kelahirannya. Berkat hokage kelima ia dapat hidup normal, bersekolah dan memiliki apartemen sendiri. Meski beberapa orang dewasa masih mengucilkan dan melukainya, Naruto tak masalah. Ini sudah lebih dari cukup.

Uchiha Itachi adalah hokage yang baik. Ia mengatur Konoha dengan tegas. Membenahi ANBU dan mengembangkan desa kecil menjadi besar. Naruto begitu menghormati Itachi, seperti sosok kakak yang tak pernah didapatnya.

Tak aneh jika seminggu setelah Naruto keluar dari rumah sakit, hokage kelima justru berdiri di apartemen kecil miliknya. Itachi tahu jika 'sesuatu' tertanam dalam dirinya, namun tak merubah sikap hokage muda dalam memperlakukannya sebaik mungkin. Bukan seperti monster. Mungkin karena ia adalah hokage sehingga merasa bertanggung jawab atas kehidupan Naruto.

Itachi adalah sosok yang konstan dalam hidup Naruto. Selalu menyempatkan diri menjenguk si pirang. Menanyai kabar, makan bersama, terkadang sang hokage kelima memberi tips untuk latihan. Naruto tak benar-benar kesepian dengan adanya Itachi. Sang hokage memberi tahu jika dirinya diberi pengawasan agar tak ada bahaya yang menimpa. Awalnya memang ia tak terima, namun hokage muda itu pandai dalam membujuk sehingga ia pun tak menolak lagi.

"Bagaimana misimu, Naruto?" sambut Itachi. Naruto segera mengambil kursi untuk hokage kelima. Itachi melepas topi hokage miliknya, kemudian duduk di kursi yang disediakan.

"Aku akan melapor pada hokage besok. Kakashi-sensei mengizinkan kami untuk beristirahat," jawab Naruto, ada nada kesal terselip dari ucapannya. Itu semua karena misi kali ini masih tingkat C. Menjaga anak kecil yang sangat menyebalkan. Berulang kali ia telah mengganggu hokage muda untuk menaikan level misi tim tujuh. Berulang kali pula Itachi menolak.

Naruto akan membuka mulut bersiap untuk memprotes level C yang diterima, namun Itachi mengangkat tangan. Memberi gestur agar si blonde diam. "Kalian belum siap untuk mengambil misi yang berat."

Naruto bersedekap. Mengalihkan pandangan sebagai bentuk protes. Tim tujuh telah siap. Mereka bertiga berhasil masuk babak semifinal ujian chuunin. Bukankah itu saja sudah membuktikan jika mereka berhak mendapat kenaikan level?

Itachi tersenyum kecil. Ia yang selalu mengawasi perkembangan Naruto dari bayi hingga remaja. Ia pun tahu hasrat Naruto yang ingin diakui semua orang. Sebagai hokage, ia telah berusaha untuk melindungi. Memberi dukungan terbaik.

"Naruto," panggil Itachi, melepas nada hokage demi bicara bagai seorang teman atau kakak. Pemuda pirang membetulkan posisi duduk, menatap Itachi bingung. Paham jika sang hokage muda ingin bicara serius.

"Apa yang kau tahu mengenai soulmate?" pancing Itachi. Ia duduk dengan tenang, menatap Naruto penuh kesabaran.

Naruto sendiri mulai duduk tak nyaman. Permasalahan yang ia hindari sejak keluar dari rumah sakit kini datang kembali. Ia tidak ingin membahas ini, namun kehadiran hokage di apartemennya merupakan pertanda jika ini tak lagi dapat diabaikan.

"Apa kau tahu jika Uchiha Sasuke, adikku, adalah soulmate-mu?" tanya Itachi lagi lebih lembut. Mendengarnya membuat Naruto duduk semakin tegak dan tak nyaman.

"Aku -- tidak tahu," jawab Naruto jujur. Ia tak menyangka jika soulmate miliknya bukan hanya satu dari lima Elite ANBU, namun juga seorang dari klan Uchiha. Klan yang menjadi mayoritas terbesar di Konoha. Dan lagi, dia adik hokage kelima. Posisinya begitu tinggi, dengan adanya Naruto justru akan membuat citra mereka hancur. Semua ini makin membuat sang remaja pirang tak nyaman.

"Soulmate akan menyeimbangkan satu dengan lainnya," jawab Naruto pada akhirnya. Ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini. Itachi tersenyum sembari mengangguk.

"Yang terjadi saat kau datang ke ruang kerjaku, itu disebut sinkronis. Jiwa kalian mencoba untuk bersatu meski pikiran kalian tidak siap, karena kalian tidak mengenal satu sama lain. Jiwa Sasuke mencoba untuk menyentuh jiwamu, saat itu terjadi perasaan dan pikiran kalian akan seperti menyatu."

Naruto diam mencerna informasi yang diberikan oleh hokage kelima. Ia sedikitnya mengerti sekarang. Insiden di ruang kerja hokage saat itu ia dalam kondisi sadar, namun seluruh perasaannya seperti menyerah begitu saja. Bercampur dan membanjiri. Saat pandangan mata mereka bertemu ada kebahagiaan membuncah dalam hati. Tak masuk akal memang, namun itulah yang ia rasakan.

"Lalu suara dalam pikiranku?" tanya Naruto bingung. Ia mengusap kepala tak mengerti. Pertanyaan ini menghantuinya. Suara itu begitu mirip dengan milik Sasuke, seolah si Elite ANBU sendiri yang mengatakan langsung di hadapannya. Padahal ada jarak di antara mereka.

"Itu adalah jiwa Sasuke berusaha berkomunikasi denganmu. Soulmate adalah dua bagian yang saling melengkapi. Saat Sasuke memanggil -- sadar atau tidak, tubuhmu memberi respon. Akan lebih baik jika kalian berdua berbicara secara langsung. Kau masih terlalu muda, Naruto. Hal ini akan memberatkanmu jika terus dipendam."

"Tidak," jawab Naruto tegas. Manik biru menatap sang hokage dengan berani. Ia tak ingin bicara pada seorang yang tidak menginginkan keberadaannya. Ia tak butuh soulmate, begitu pun Sasuke. Berbicara hanya akan memperkeruh kondisi ini.

Itachi masih tenang. Menunggu Naruto untuk menjelaskan.

"Aku tidak ingin soulmate. Dia juga tidak menginginkannya. Pasti ada cara untuk menghancurkan hubungan ini," ucap Naruto yakin. Mulai memohon dengan kedua manik biru indahnya.

Itachi menatap teliti remaja di hadapan. Naruto begitu serius ingin mengakhiri ini. Tak mengerti jika soulmate adalah hal serius yang tak dapat ditentukan begitu saja.

"Kenapa kau tidak menginginkan soulmate, Naruto?" tanya Itachi penasaran, bukan untuk membela adiknya. Mungkin jika Itachi bisa memahami sudut pandang Naruto, mereka akan mendapatkan solusi terbaik untuk masalah ini.

Naruto ingin menjawabnya. Ingin menjelaskan jika dirinya tak pantas mendapatkan siapapun. Ia adalah monster, semua orang takut padanya. Ia tak ingin menjadi sumber beban. Sasuke pun telah menolaknya.

"Aku -- semua terlalu cepat," jawab Naruto mengalihkan. Mengatakan hal seperti yang ada dalam pikirannya hanya akan membuat Itachi semakin membujuk Naruto.

"Karena itu lebih baik kalian bicara. Sinkronis bisa terjadi kapanpun jika kalian berdua tak dapat mengendalikannya. Bagaimana jika salah satu dari kalian dalam misi?"

Naruto mencoba membayangkan. Si pirang menggeleng tak mengerti. Memang kenapa jika mereka dalam sebuah misi? Apa yang terjadi?

"Tak ada salahnya jika kalian berbicara terlebih dahulu. Aku tahu Sasuke lebih tua sepuluh tahun darimu, tapi aku dapat memastikan dia tidak akan menyakitimu," ujar Itachi lebih lembut. Ia hanya khawatir pada keduanya. Soulmate jarang terjadi, tak banyak studi yang bisa digunakan sebagai refrensi. Mereka berdua harus memulai hubungan dari bawah.

Naruto menghela napas. Kembali bersedekap. "Aku mengerti."

Naruto mengabaikan nasehat hokage. Ia menjalankan misi bersama timnya. Tak ada peristiwa sinkronis selama dua minggu terakhir. Tak ada yang berubah, selain tato raven di pundak yang akan mengingatkan Naruto jika ia telah menemukan pasangan jiwa. Beruntung Itachi disibukkan oleh rapat. Jika tidak, mungkin ia akan kena marah hokage muda untuk kesekian kali karena membangkang.

Namun semua tak berjalan mulus. Di minggu ketiga hal tak mengenakkan terjadi. Saat ia dan tim tujuh menjalankan misi untuk menangkap beberapa bandit di desa sekitar. Satu waktu Naruto tengah bertarung, namun sesaat kemudian suara halus Sasuke kembali ada di kepala. Tubuh Naruto menegang.

Naruto.

Sensasi aneh itu kembali. Tidak penting pertarungan yang terjadi. Tidak penting jika seluruh anggota timnya berteriak. Yang Naruto tahu hanya ia harus berada di sekitar Sasuke saat itu juga.

Pada akhirnya Naruto meninggalkan seluruh tim demi berlari pulang ke arah Konoha. Iris biru mulai tertutupi warna hitam.

Betapa terkejut hokage kelima tatkala Naruto muncul mengetuk jendela ruang kerjanya. Kuas di tangan pun ia taruh. Manik hitam Itachi memicing melihat iris mata Naruto menghitam. Sinkronis.

Ia hapal segala misi yang dikerjakan untuk hari ini. Ia telah memberi stempel persetujuan. Seharusnya Kakashi dan tim tujuh tengah menjalankan misi untuk seorang bangsawan yang meminta bantuan masalah bandit. Sesuai keinginan Naruto, tim tujuh mendapat level B dalam misi mereka kali ini. Jadi, kehadiran Naruto di ruangannya membuat hokage muda terheran.

"Sasuke," panggil Itachi dengan nada tegas. Ia membantu Naruto masuk. Hokage tahu betul Sasuke ada di sekitarnya, sudah merupakan tugas Elite ANBU untuk menjaga keselamatan hokage.

Itachi telah dapat memperkirakan apa alasan sinkronis ini terjadi. Kedua belah pihak masih dalam tahap penolakan. Namun lihatlah sekarang apa yang terjadi? Naruto terpanggil ke arah Sasuke saat menjalankan misi. Bagaimana jika misi yang didapat sangat berbahaya? Nyawa si pirang bisa saja terenggut begitu saja karena keteledoran ini.

Itachi mengerti jika Naruto segan bertemu Sasuke. Bagaimanapun Naruto masih remaja meski ia telah menjadi seorang genin. Sedangkan Sasuke adalah pihak yang lebih dewasa. Meski menurut adiknya hal ini tidak penting, namun ini adalah masalah yang kompleks. Seharusnya mereka mendengarkan nasehat Itachi.

Sesaat kemudian Sasuke muncul. Masih mengenakan jubah cokelat dan topeng elang. Berdiri tak jauh dari hokage.

"Aku telah memberimu saran untuk menemui Naruto," ucap Itachi tegas. Ia kesal adiknya mengabaikan hal sepenting ini.

Sasuke membuka tudung yang menutupi rambut hitamnya. Topeng elang ia copot demi membicarakan ini, hal yang merupakan pribadi. Manik hitam Sasuke berkilat kebiruan, tanda sinkronis yang juga dialaminya.

"Hentikan, Sasuke," titah Itachi.

"Aku tidak mengerti," jawab sang Elite ANBU dengan kerutan di dahi.

Itachi ingin memijat dahi. Rupanya Sasuke pun tak mengerti masalah soulmate. Adiknya terlalu sibuk dengan karier untuk memuaskan ayah mereka hingga tak memedulikan hal lain.

Itachi menangkup kedua pipi Naruto. Memaksa sang blonde untuk melihat padanya. Sharingan sang hokage berputar, sesaat kemudian tubuh Naruto jatuh lemas di dekapan Itachi. Ia menilik ke arah Sasuke, melihat cahaya kebiruan menghilang dari iris sang adik.

"Aku ingin kalian benar-benar bicara. Ini masalah serius, Sasuke."

Elite ANBU mengangguk sekali. Tubuhnya bergerak sendiri untuk meraup sosok soulmate dari dekapan Itachi. Kemudian menidurkan Naruto di sofa yang ada di ruang kerja Hokage.

Naruto mengerjap. Suara kecil pembicaraan terdengar olehnya. Ia tertidur, namun tak mengingat kapan ia pulang dari misi hari ini. Naruto menggerakkan tubuh untuk bangkit. Kembali mengerjap tatkala melihat hokage kelima duduk tenang di kursi kerja dengan tiga orang Elite ANBU di sampingnya. Tampak jika mereka membicarakan sesuatu.

"Kau sudah bangun Naruto."

Naruto langsung bangkit untuk duduk. Menatap terkejut pada hokage kelima. Kedua Elite ANBU menunduk kecil kemudian menghilang. Akhirnya apa yang terjadi mulai diputar ulang oleh ingatan. Ia meninggalkan timnya demi berlari pulang ke Konoha. Wajah Naruto memerah malu, baru menyadari peringatan hokage kelima waktu itu ternyata mengenai hal ini. Kini ia harus menanggung akibat sikap bebal yang dilakukannya.

"Apa kau ingat dengan apa yang terjadi Naruto?"

Si pirang hanya mampu mengangguk kecil. Ia memang pembuat onar, namun bukan berarti ia ingin menyebabkan kesulitan bagi timnya ataupun hokage. Naruto tak mendongak meski suara langkah kaki mendekat. Jubah putih hokage terlihat dalam area pandang, namun ia masih sungkan menilik.

Tangan hangat mengusap helaian pirang. Tanpa sadar Naruto mendongak, menatap betapa Itachi kini melihat ke arahnya dengan prihatin. Ia mulai duduk tak nyaman, menggelengkan kepala untuk melepaskan tangan hokage dari helaian pirangnya.

"Aku sudah memberi kalian saran untuk bicara. Beruntung kali ini kau hanya mendapat misi kecil. Kakashi telah datang untuk memeriksa kondisimu tadi. Apa kau mengerti sekarang apa yang kumaksud saat itu?" tanya hokage dengan nada pelan. Tangannya telah ia tarik.

Naruto mengangguk paham.

"Sasuke," panggil hokage kelima. Sesaat kemudian soulmate Naruto telah berada di samping Itachi. Jantung Naruto berdegup kencang, ia mendongak dan untuk pertama kalinya melihat wajah si Elite ANBU. Ia tak bisa menjelaskannya. Wajah itu dapat dikategorikan mulus -- cantik, namun aura otoritas dan maskulin pun tak dapat dielakan. Ia tak pernah menyangka jika soulmate miliknya begitu tampan. Rasa percaya diri sang genin pun menjadi turun karena hal ini.

"Aku tak bermaksud memanggilmu," ucap Sasuke dengan suara pelan. Ekspresi wajah masih pasif, membuat Naruto makin yakin jika Elite ANBU satu ini tak menginginkannya.

Itachi yang menyadari kecanggungan suasana memutuskan untuk ikut campur. "Kalian berdua harus mencoba mengenal satu sama lain. Habiskan waktu berdua untuk saling memahami. Naruto karena keteledoranmu hari ini, kau mendapat hukuman dan tidak diizinkan mengambil misi sampai ikatan kalian bisa lebih terkendali. Sasuke, kau akan mendapat posisi siaga. Kuharap kalian bisa mengerti keputusanku."

"Hokage -- tapi ini bukan salahku," Naruto mencoba membela. Itachi berdiri tegak, memandang serius sebagai seorang Hokage.

"Keputusan hokage benar. Aku pun ingin kita bicara," ucap Sasuke mengejutkan Naruto. Padahal perkataan sang Elite ANBU bukan sebuah perintah, namun tubuh Naruto mengikuti saja. Si pirang mengangguk. Amarah pada hokage dan kesungkanan mendadak hilang setelah mendengar ucapan Sasuke.

"Dan untuk hukumanmu, Naruto--"

Naruto menggeram kesal. Mencelupkan kain kotor untuk kesekian kali dalam ember. Hukuman yang diberikan hokage kelima adalah membersihkan seluruh patung wajah hokage yang ada di bukit. Hukuman yang pernah Naruto terima di akademi dulu. Itachi masih saja senang memberi pekerjaan menyebalkan ini padanya.

Yang lebih mengesalkan, ia dilarang menggunakan jutsu untuk mempercepat hukuman ini. Ia harus menggunakan tenaga fisik untuk mengelap dan mengganti air dalam ember. Sedangkan Uchiha Sasuke, soulmate-nya justru mendapat mandat untuk mengawasi Naruto agar tidak kabur.

Naruto menyeka keringat di dahi. Panasnya Konoha mulai terasa seperti di panggang. Setelah obrolan mereka kemarin, Itachi memutuskan jika keduanya lebih baik mulai membiasakan diri dengan kehadiran satu sama lain. Namun Naruto malah semakin kesal, kenapa Uchiha Sasuke justru makin menawan tanpa seragam Elite ANBU yang biasa dipakai. Membuyarkan tekad Naruto untuk tidak menginginkan seorang soulmate.

Adik hokage ini mengenakan kemeja hitam lengan panjang dengan vest tanpa lengan berwarna hyacinth. Celana hitam panjang membalut kakinya dengan pas. Sasuke berdiri di tempat teduh sembari bersedekap dada mengamati Naruto yang berulang kali mengelap patung hokage hingga bersih.

Naruto bergumam pelan mengatakan betapa tak adilnya hal ini. Padahal ia meninggalkan tim tujuh karena Sasuke yang memanggil. Tubuhnya tak dapat dikendalikan, namun di sini yang terkena hukuman menyebalkan justru Naruto.

Berulang kali Naruto mencelupkan kain ke ember. Mengelap naik-turun. Mengecek berulang kali agar tidak ada noda yang akan membuat pekerjaan Naruto makin menyiksa. Suara langkah kaki menghentikannya bekerja, ia terkejut saat melihat Sasuke mendekat. Lengan kemeja hitam telah dilipat sampai siku. Di tangannya terdapat kain yang entah didapat dari mana.

Naruto memberi soulmate-nya senyum lebar. Pria berumur dua puluh empat tanpa kata segera ikut mencelupkan kain di tangan kemudian mengelap patung di samping sang blonde. "Seharusnya kau membantuku dari tadi," ucap Naruto setengah kesal, setengah senang.

Sasuke menilik pasangan jiwanya. "Hokage memberi tugas ini sebagai hukuman untukmu."

"Hey! Tapi ini juga ulahmu. Jika kau tidak memanggilku saat dalam misi, aku tidak akan dihukum," balas Naruto keras. Sesaat kemudian sang blonde berdiri tegak, melirik ragu dan melihat Sasuke juga melihat ke arahnya. Tak benar jika Naruto menyalahkan Sasuke dalam hal ini. Semua keteledoran keduanya.

"Aku tidak bermaksud memanggilmu."

"Aku tahu."

Keduanya kembali terdiam sembari membersihkan patung hokage yang tersisa. Naruto merasa inferior di samping Sasuke. Ia masih genin, empat belas tahun. Sedangkan pria ini sudah mendapat posisi sebagai Elite ANBU -- posisi terkuat di Konoha setelah Hokage. Sasuke memiliki keluarga besar, karier yang bagus, dan wajah yang tampan. Tak pantas jika ia disandingkan dengan Naruto.

Tangan yang mencengkeram kain kotor makin mengerat. Manik biru menutup mencoba menghilangkan rasa amarah yang muncul. Kenapa ia hanya bisa menjadi bocah pembuat onar? Kapan ia akan diakui oleh orang-orang dan dianggap sepadan?

Naruto.

Suara itu muncul kembali. Mengejutkan Naruto hingga ia mendongak menatap Sasuke yang melirik ke arahnya. Manik hitam itu berkilau kebiruan. "Berhenti membenci dirimu sendiri," ucap Sasuke masih menatap Naruto lekat.

Keterkejutan Naruto menjadi berkali lipat. Perasaan amarah dan kesal terhadap diri sendiri menghilang begitu saja, terganti dengan perasaan bahagia dan cinta. Sensasi yang sama saat sinkronis terjadi.

"Kau -- kau bisa mengendalikan sinkronis?" tanya Naruto penasaran. Ia masih terpukau menatap manik hitam Sasuke yang berkilau kebiruan. Mata yang menjadi jauh lebih indah. Ia akan betah mendongak seperti ini asalkan dapat melihat warna indah di mata Sasuke.

Sang Elite ANBU menggeleng, memotong pandangan mata mereka. Sensasi aneh yang membanjiri dengan perasaan sayang mendadak menghilang. Membuat Narutopusing untuk sesaat.

"Aku belum mampu untuk mengendalikannya."

Naruto menggeleng pelan. Mencoba menormalkan diri barulah ia menatap Sasuke.

"Mungkin hokage benar meminta kita untuk bicara mengenai hal ini. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang. Jika kau mau, kita bisa berbicara berdua di tempatku."

Naruto mengangguk kecil. Tak dapat mengucapkan apapun setelah perasaan intens sinkronis yang ada. Dan lagi, banyak hal yang Naruto tak mengerti saat ini. Keduanya kembali mengelap pantung hokage dalam diam.

Naruto semakin ragu mengenai masalah soulmate ini. Secara teori, pasangan jiwa akan saling melengkapi, mengkomplimen satu sama lain. Ia tak pernah berpikir mengenai hal itu selama empat belas tahun hidupnya. Sekarang semua muncul tiba-tiba dan membuat ia seperti klaustrofobia. Mengukung dengan satu tujuan; menyenangkan pasang jiwa.

Kenyataannya, Naruto adalah kandidat terburuk sebagai pasangan jiwa. Ia bodoh, nilai akademik sangat kecil. Kebas untuk banyak hal. Tak dapat berhenti bicara. Satu hal yang menurutnya baik hanya sifat pantang menyerah miliknya.

Sedang Sasuke, dia begitu kebalikan dari Naruto.

Sasuke begitu teratur. Pandangan mata teliti, seolah semua sudah diperkirakan secara baik. Pembawaannya tenang, mirip hokage kelima. Ia cukup mengayomi Naruto, tak memaksa atau menilai sepihak seperti yang lain.

Mereka datang ke apartemen milik sang Elite ANBU. Sasuke tak tinggal di distrik Uchiha, sama halnya dengan Itachi. Naruto tak mengira jika seseorang mau menjauhkan diri dari keluarga besar seperti Uchiha. Apartemen milik Sasuke lumayan besar, mungkin karena bayaran dari misi tingkat ANBU berbeda sehingga ia bisa membiayai tempat ini.

Sasuke lebih banyak diam. Mengamati Naruto, meski sang blonde sendiri berpura tak melihat. Sebagai pemilik apartemen, Sasuke menawarkan minum dan makan.

Saat Naruto mengerutkan wajah melihat sayuran yang ada, Sasuke mengeluarkan ramen cup dari lemari. Naruto tersenyum lebar melihatnya. Bahkan itu adalah ramen dari merek favoritnya. Entah ini ada hubungan dengan soulmate atau tidak. Mungkin kebetulan saja Sasuke memiliki selera yang sama.

Saat Sasuke mempersilahkan untuk makan, ia pun menghabiskan ramen dengan lahap. Tak peduli jika dia berhadapan dengan pasangan jiwa. Justru Naruto ingin Sasuke melihat jika ia adalah kandidat terburuk dan mungkin dengan begitu ikatan mereka bisa berakhir.

"Itachi mengatakan kau ingin mengakhiri hubungan soulmate ini."

Naruto mengedipkan mata, baru saja ia memikirkan hal itu dan Sasuke langsung membahasnya. Apakah benar mitos mengatakan jika soulmate akan saling memahami bahkan saat pasangan itu sendiri baru saling mengenal?

Naruto mengangguk untuk mengkonfirmasi. Ia sangat yakin tak menginginkan soulmate, meski Sasuke benar-benar menggoyahkan tekad. Manik biru memilih untuk mengawasi meja tak ingin menghadapi langsung tatapan penuh kalkulasi dari pasangan jiwanya. Ia berpura melanjutkan makan. Suasana sangat canggung, seharusnya ia kabur selagi bisa. Bukan mengiyakan permintaan Sasuke saat ia ingin bicara berdua.

Kenapa?

Suara itu berasal dari pikirannya. Ia mendongak tanpa dapat dikendalikan. Beberapa saat lalu ia tak ingin membahas ini, namun mendengar keinginan Sasuke lewat telepati mereka justru merubah keinginannya. Hati sang blonde langsung dipenuhi rasa sayang untuk Elite ANBU bermata hitam ini. Perasaan yang begitu mendominasi seluruh pemikiran, membuat ia merasa sangat tak berdaya.

"Aku tak pantas untuk siapapun. Aku monster. Pembawa onar. Kau bahkan menolak hubungan ini saat kita pertama bertemu," jawab Naruto dengan mengangkat bahu. Kembali menunduk, tak ingin menjadi lemah hanya karena sesuatu yang sepele. Soulmate memang sebuah takdir, namun ia pun akan berusaha mengendalikan takdirnya sendiri.

Alis mata Sasuke bertaut. Kembali memandang tak mengerti. "Aku tidak pernah menolak apapun."

Kali ini Naruto yang tak mengerti. Ia ingat betul ucapan yang dikatakan Sasuke saat mata mereka memandang untuk pertama kali dan tato soulmate muncul. "Kau menolakku. Mengatakan jika semua ini adalah sebuah kesalahan."

Sasuke menghela napas pelan. Ia menyandarkan diri, tangan bersedekap dan menatap Naruto intens. "Aku tidak bermaksud mengatakan jika kau adalah kesalahan. Aku seorang aseksual. Tak pernah sedikitpun tertarik dalam hal seperti ini, namun saat kita bertemu--"

Naruto makin merengut saat Sasuke menghentikan kata-katanya. "Saat kita bertemu?" pancing sang blonde. Duduk semakin condong ke arah Sasuke. Pria dua puluh empat tahun menggeleng dan memundurkan diri. Bibir mengatup rapat, ragu bicara entah kenapa.

"Kau tidak akan mengerti."

"Tentu saja aku tidak akan mengerti jika kau tidak menjelaskan. Hokage meminta kita bicara," ucap Naruto kesal. Sasuke kembali memberi sang blonde pandangan yang meneliti. Bibir menutup rapat dan manik hitam penuh kalkulasi.

"Lebih baik kau melakukan sinkronis padaku. Kau akan mengerti nanti," jawab Sasuke pada akhirnya. Remaja pirang menggeleng, ucapan si Elite ANBU tak masuk akal. Apa yang bisa dimengerti jika tak dibicarakan?

"Kita sudah pernah melakukan sinkronis," ucap Naruto dengan kepala meneleng. Ia mengesampingkan cup ramen miliknya.

"Kau tidak menyadari. Selama ini sinkronis terjadi padamu. Kau yang datang padaku."

Naruto mengerjap. Ia mengerutkan dahi mencoba mengingat yang terjadi selama ini. Benar. Ia baru menyadari jika suara itu selalu dari Sasuke bukan dirinya yang menghubungi.

"Aku -- tidak tahu cara melakukannya," gumam sang blonde.

"Kau harus mencoba menyentuh jiwaku."

"Aku tak mengerti!" teriak Naruto, pembicaraan ini hanya makin membuatnya pusing. Bagaimana caranya menyentuh sesuatu yang tak terlihat?

Kedua pandangan saling menilik. Tak ada yang mau mengalah. Bagaimana semua orang berkata jika soulmate saling melengkapi, namun lihat mereka berdua justru bertengkar. Mungkin seperti perkiraan Naruto, mereka tak cocok jika berpasangan.

Manik hitam sang Elite ANBU menajam. "Kau tidak menginginkanku," ucap Sasuke dengan nada menuduh. Ia melepaskan sedekap dan mencondongkan tubuh ke arah Naruto. Menatap remaja empat belas tahun dengan tajam. Tak peduli jika tindakan ini membuat wajah si pirang memerah sesaat.

"Aku masih empat belas tahun. Aku tidak ingin hubungan seperti ini!" balas Naruto. Lebih kepada mengalihkan fokus dari wajah tampan adik hokage kelima.

"Soulmate tak harus dalam hal romansa, kita bisa membentuknya menjadi platonik." Sasuke memundurkan diri kembali. Merilekskan tubuh agar tak membuat si pirang kabur dari apartemennya. Pembicaraan ini belum selesai dan tak akan ia biarkan keteledoran membuat mereka terkena masalah lagi.

Naruto makin memicing. "Platonik bagaimana?"

"Platonik, seperti hubungan kakak dan adik. Sahabat. Orang tua dengan anak. Hal yang tak melibatkan nafsu serta hasrat. Kau bisa mencari pasangan lain nanti." Sasuke menatap tenang. Memberi waktu untuk kata-katanya dicerna oleh Naruto.

Naruto membuka mulut, tak percaya. Ia tahu jika konsep soulmate adalah absurd bagi banyak ninja, namun Sasuke lebih tidak peduli lagi. Sang genin mengerutkan dahi menyadari betapa kacau pemikirannya saat ini. Tadi dirinya sendiri yang meminta untuk mengakhiri hubungan absurd ini, namun setelah mendengar ucapan Sasuke ia malah tak mau. Membayangkan ada sosok lain yang dikencani, membuatnya tak nyaman.

Naruto menundukkan kepala. "Apa kau akan menerima memiliki pasangan seperti diriku?"

Angkat kepalamu.

Suara itu memerintah dengan lembut. Sekali lagi sinkronis terjadi. Wajah sendu yang menunduk kini terangkat. Menatap wajah khawatir Sasuke. Manik hitam bersinar kebiruan. Perasaan sayang kini kalah dari rasa ingin menyentuh dan selalu berada di samping sang soulmate.

"Aku tidak membenci dirimu. Untuk pertanyaanmu, aku tak dapat menjawab saat ini. Kita adalah orang asing untuk satu sama lain. Mungkin sementara ini kita bisa menjadi teman. "

Naruto membelalak tatkala tangan sang Elite ANBU maju, menunggu untuk digenggam. Ia mendongak dan melihat wajah Sasuke berhias senyum kecil. Dengan sedikit keraguan Naruto menyalami tangan Sasuke.

"Teman," ucap Naruto dengan nada tak percaya. Ia menatap tangan mereka yang bersentuhan. Perasaan sayang itu kembali membuncah. Ia terkejut tatkala ibu jari Sasuke mengusap punggung tangan Naruto. Ia tak pernah membayangkan seseorang mau menawarkan diri untuk menjadi temannya. Perasaan kagum dan senang menguasai sang blonde.

"Cobalah menyentuh jiwaku," ucap Sasuke lebih lembut. Pandangan keduanya bertemu. Elite ANBU memberi dukungan dengan senyum.

Naruto meremas tangan Sasuke. Ia menutup mata dan mencoba berkonsentrasi untuk bicara pada jiwa Sasuke. Untuk tersambung dengan jiwa yang ditakdirkan bersamanya. Ibu jari yang terus mengelus memberi dukungan yang ia butuhkan.

Ia berusaha dan berusaha. Memusatkan pada perasaan ingin melindungi, menyayangi, dan menyentuh untuk Sasuke. Merasakan sesuatu seperti memanggil pelan. Menggema dalam pikiran. Ia meremas tangan Sasuke lebih keras tatkala ia menemukannya.

Seperti satu ruangan putih megah. Membutakan segala sensor mengenai sekitar. Menyatukan hanya pada satu titik; jiwa Sasuke. Panggilan yang ia dengar makin mengeras. Terbayangkan sebuah tangan putih terjulur dan ia yang menggapai. Seketika perasaan cinta berkali lipat dirasakan. Hasrat yang begitu tinggi membanjiri dari sebelumnya. Pundak kiri berdenyut panas.

Ia membuka mata terkejut. Manik hitam bercahaya kebiruan berbinar terang. Menatap dengan begitu fokus. Ia mengerti sekarang. Apa yang Sasuke maksud. Sebuah perasaan aneh yang jauh lebih posesif dari miliknya. Mungkinkah Sasuke menahan ini dan memilih untuk bersikap tenang?

Bagaimana bisa mengendalikan buncahan sebesar ini? Ia bahkan tak dapat mengendalikan perasaan saat Sasuke memanggilnya.

Sasuke.

Ia terkejut saat suaranya sendiri bergema dalam pikiran. Suara yang begitu terasa asing dan familier sekaligus. Memancarkan rasa ingin memiliki dan sayang.

Naruto.

Balasan suara sang soulmate jauh lebih lembut dari sebelumnya. Kedua tangan yang masih menggenggam kini semakin mengerat. Meja yang memisahkan mereka tak lagi terasa. Begitu fokus untuk saling menatap satu sama lain. Dua jiwa yang akhirnya terhubung menggemakan berbagai perasaan.

Keduanya mengerjap terkejut tatkala sentuhan lembut menyentuh bibir mereka. Naruto memundurkan diri secepat mungkin, namun tangan Sasuke mencegah dengan makin mengeratkan genggaman. Keduanya terkejut, tak menyadari kapan jarak di antara mereka berkurang. Ciuman singkat untuk pertama kali.

Sinkronis keduanya masih terjadi. Masing-masing iris mata memancarkan warna dari pasangan. Tato di pundak memanas.

"Aku tidak akan memaksamu. Kita setuju untuk memulai menjadi teman. Jangan lari."

Sasuke benar. Ia tak perlu lari, ciuman ini bukan disengaja. Keterkejutan yang dirasakan tak seharusnya menakuti Naruto. Ia telah merasakan dan memastikan jika Sasuke bukan menolak hubungan mereka. Si Elite ANBU hanya menahan diri dan mungkin dia juga bingung dengan perubahan mendadak yang terjadi dalam pikirannya.

"Aku tidak akan lari," ucap Naruto yakin.

Keduanya kembali saling memandang. Tangan masih saling menggenggam.

Mungkin soulmate ini bukan sesuatu yang buruk. Ia masih empat belas tahun, ini terlalu memusingkan untuknya. Namun suatu hari -- beberapa tahun lagi ia akan siap menerima konsep absurd ini.

"Soulmate," gumam Naruto sembari menatap manik hitam kebiruan Sasuke.

"Soulmate," balas Sasuke lebih yakin.

Senyum kepuasan terpancar dari wajah keduanya. Sinkronis ini bukan hal buruk jika mereka bisa saling terhubung dalam level yang berbeda dari yang lain.