BE WITH YOU

Disclaimer : Karakter yang digunakan adalah milik Masashi Kishimoto. Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dalam publikasi fanfiksi ini.

Note : fanfiksi ini telah dipublikasikan di akun wattpad saya

Rate : M

Kakashi Hatake X OC

Warning : AU, OC, hit a lil mature content

I've warn you.

-Beautiful Disaster-

Ada ruang yang tak dapat kugapai tentang apa kita sebenarnya.


Perawat Mei baru saja menyelesaikan dinas malamnya. Kini ia bertukar dengan Airin dan sejumlah orang yang akan melakukan shift pagi. Di dalam ruang ganti, Airin dengan scrub-nya tengah menatap serius benda di tangannya. Ekspresi cemasnya berubah menjadi haru seketika untuk sebuah alasan. Ia mengusap wajah, seolah tak mempercayainya.

Seperti biasa di pagi hari, Airin berkunjung ke kamar 456 VVIP. Ia berjalan masuk setelah mengetuk pintu. Tampak pasien tengah tertidur. Tangannya menyibak gorden ke samping. Sehingga berkas cahaya masuk dan menerangi ruangan. Ia membalik tubuhnya, bersidekap.

"Ini sudah pagi, Nenek Chiyo. Saatnya memeriksa tanda-tanda vitalmu hari ini,"ujar Airin. Pasien lansia itu mendengus. Menampakkan ekspresi ketidaksukaannya pada sang perawat. Airin tersenyum geli dan duduk di samping sang pasien untuk laporan paginya.

"Sampai kapan aku akan terjebak di sini bersama anak tidak sopan ini?" keluhnya. Airin menatapnya melalui kerlingan mata sekilas, kemudian kembali memperbaiki posisi manset yang melekat di lengan sang Nenek.

"Jika anda tidak berhenti minum dan merokok, ada kemungkinan anda akan terjebak di sini selamanya," sahut Airin dengan sangat sopan. Ia mulai memompa dan menatap peningkatan angka tekanan darah dari layar tensimeter otomatis itu, setelah angkanya stagnan, Airin menuangkan hasilnya dalam catatan grafik harian. Selanjutnya ia mengarahkan sensor pendeteksi panas di dahi sang pasien dan kembali mencatat hasil.

"Nenek, tekanan darahmu kurang stabil akhir-akhir ini. Kusarankan ahli gizi untuk menurunkan kadar garam dalam makananmu. Cucumu akan datang siang nanti, dia sudah memberitahuku. Dan Perawat Sakura akan membantumu mandi dalam satu jam ke depan. Oh ya, sekali lagi, aku mohon jangan mengatur tetesan infusmu seenaknya."

Lagi-lagi, sang pasien mengeluh.

"Cih. Kau benar-benar perempuan yang cerewet."

Airin hanya terkekeh geli mendengarnya. "Sepertinya waktu muda anda sangat pendiam, Nek."

Lantas, sang Nenek kembali protes. "Kau menghinaku?"

Airin menghentikan tawanya. "Tidak sama sekali. Saya permisi dulu. Ingat pesan-pesan tadi jika tidak ingin melihatku lagi pekan depan."

Airin keluar dari ruangan itu dan langsung berpapasan dengan Perawat Tsunade, sang kepala ruangan. Ia membungkuk singkat sebagai penghormatan.

"Ikut aku sekarang," titahnya.

"Tapi, aku harus mengecek pasien lainnya," jawab Airin.

"Ikut saja."

Airin menghembuskan napas. Apa ia akan dijadikan babu lagi? Oh Tuhan, dia sudah lulus tes. Sudah resmi menjadi seorang perawat.

Mereka melewati cukup banyak ruangan menuju stasiun perawat. Dari kejauhan Airin melihat banyak orang yang berkumpul di sana. Bertanyalah ia dalam pikirannya tentang apa dibalik semua ini.

"Selamat sayang! Kau akhirnya lulus." Mei langsung memeluk Airin begitu gadis itu tiba. Disambung dengan ucapan-ucapan lain dari rekan sejawat. Perawat, dokter, hingga mahasiswa koas. Ia terharu. Bahkan sebuah cake besar dan karangan bunga telah menantinya. Dan apa itu? Kue beras?

"Kupikir kau sudah pulang, Mei," ujar Airin ketika Mei melepaskannya. Wanita 35 tahun itu mengibaskan tangan. "Aku harus memberimu ucapan selamat sebelum memulai hibernasi panjangku."

Airin berterima kasih kepada mereka. Kemudian dituntun untuk memakan kue beras dan cake dalam potongan besar hingga mulutnya belepotan. Ia menaikkan jari 'V' ketika Dokter Dan memotret mereka. Wajahnya semringah untuk beberapa menit.

"Oh, kalau aku di sini, siapa yang melakukan pengecekan?"

Perawat Tsunade menyandarkan punggung di meja stasiun perawat. "Moegi dan Ten Ten, harusnya mereka sudah selesai."

"Aku akan mengeceknya. Terima kasih kuenya, ini enak," seru Airin sambil berjalan pergi, melambai pada rekan-rekannya.

*

Airin langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja ketika sampai di apartemennya. Tubuhnya remuk mendapat shift ganda menggantikan Shizune. Belum lagi mendapat teguran dari dokter penanggung jawab. Mental dan fisiknya lelah setelah berusaha optimal seharian ini.

"Kau sudah pulang?"

Seorang pria keluar dari kamar mandi dengan kaos dan celana pendek longgar. Tangannya menggosokkan handuk pada kepalanya yang basah. Airin hanya menggumam tidak jelas, merespon dengan huruf konsonan yang biasa digunakan ketika malas mengeluarkan kata-kata.

Pria itu berjalan ke sisi lain tempat tidur, duduk bersandar pada bahu kasur sambil mengacak rambut Airin.

"Kau perlu bantuan mandi?"

Airin menggeleng. "Aku sudah mandi di rumah sakit," jawabnya parau.

"Habis operasi?"

"Bukan," Airin mengangkat tubuhnya, membawanya bersandar pada Kakashi dan membiarkan pria itu mengusap rambutnya. "Ada pasien yang terduga infeksi MERS dan kebetulan dinas siangku di ICU. Habis aku mandi klorin."

"Ayo bangun mandi," ujar Kakashi sambil menoel kepalanya. Airin mengerang malas. Namun, pada akhirnya ia menyeret tubuhnya pasrah ke kamar mandi.

Serial Netflix Stranger Things tengah diputar oleh Kakashi ketika Airin keluar dari kamar mandi. Kakashi menoleh padanya, mengangkat alis.

"Itu hoodie-ku," ujarnya.

Airin mengangkat bahu cuek. "Siapa suruh menyimpan barang di lemariku."

Airin melompat ke sisi lain tempat tidur. Merangkak, menyelip di balik lengan Kakashi hingga kepalanya terjebak di sana. Kakashi menyadari pergerakan Airin dan mengubah posisi sehingga gadis itu nyaman dalam rangkulannya. Keduanya fokus menatap layar.

"Kakashi," panggil Airin.

"Hm?"

"Kau lapar tidak?"

Kakashi menoleh pada jam dinding. Jam telah menunjukkan waktu larut.

"Belum makan?"

Airin mengerucutkan bibir. Matanya memandang ke atas. Mencoba mengingat.

"Aku makan di kantin tadi."

"Lalu?"

"Aku lapar," ujarnya dengan wajah memelas. Memancing Kakashi untuk menerkamnya saat itu juga. Namun, ia menahannya. Menghela napas sambil mengecup bibir Airin singkat. "Aku buatkan sesuatu, deh." Mendengar itu, Airin tersenyum manis.

Kakashi beranjak ke dapur, melihat apa yang bisa ia buatkan untuk Airin. Stok kulkas lengkap, sepertinya Airin habis berbelanja kebutuhan kemarin. Ia mengambil sebuah apel dan memakannya, sembari menyiapkan bahan dan peralatan. Sesekali ia melirik Airin yang menatap tayangan serial. Terlihat serius dengan rambut yang tergerai.

Kakashi mematikan kompor, membawa nampan berisi mangkuk dengan sup hangat dan air mineral. Airin tersenyum semringah menyambutnya. Setelah gadis itu menerimanya, ia kembali menyamankan dirinya menonton TV. Mengajak Airin untuk mengobrol ringan tentang kesehariannya.

Airin beranjak untuk menyimpan alat makannya. Sekitar beberapa menit ia kembali setelah terdengar gemerisik air westafel yang mengalir berhenti. Menimpakan kepalanya tanpa ragu di lengan Kakashi yang terlentang. Kakashi mematikan TV dan menenggelamkan Airin dalam pelukannya ketika dengkur ringan yang merupakan representasi dari kelelahan yang diterima gadis itu seharian ini terdengar.

Jika berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih, sepasang saudara atau suami istri, jelas itu salah.

Karena tak ada yang mampu mempresentasikan apa hubungan kedua manusia itu hingga bisa sedekat ini. Bahkan keduanya.

*

Selama hidup kau bisa bertemu banyak orang. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Kau bisa membencinya, berteman, menjalin hubungan kekasih maupun suami istri, menganggapnya sebagai saudaramu, atau tanpa hubungan yang jelas dan berhubungan intim. Prinsip itu yang melekat di kepala Airin. Meskipun ia dan Kakashi masih belum pernah berhubungan intim, tetapi kedekatan mereka bagaikan suami istri dalam balada rumah tangga yang harmonis. Saling menyayangi, menyemangati, mengingatkan dan melindungi. Airin pernah suatu ketika memikirkan seperti apa hubungan yang ia jalin dengan pria itu. Mereka terlalu dekat untuk disebut teman, tetapi tidak memiliki klarifikasi yang jelas untuk disebut sepasang kekasih. Menikmati hubungan tanpa kejelasan ini dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Jika ditanya seperti apa Kakashi, Airin akan menjawab bahwa pria itu seperti kakak baginya. Namun, adakah seorang kakak lelaki yang mencium adik perempuannya tepat di bibir? Mungkin ... tapi itu terlalu aneh.

Mei, sebagai pihak yang sering dicurhati menaruh perhatian lebih kepada gadis itu. Keprihatinannya terbentuk sebagai sebab banyaknya kasus bunuh diri akibat sesuatu yang selalu menjadi hal tabu tetapi telah melekat dalam diri manusia--cinta. Ia pernah menikah dua kali, berpacaran total 10 tahun, sehingga ia bisa dibilang, cukup mumpuni untuk memahami arti cinta yang sebenarnya.

"Kau ... tidak pernah berhubungan dengannya?" Mei mengecilkan volume suara ketika melemparkan pertanyaan yang cukup sensitif itu. Saat ini mereka di kantin rumah sakit, menikmati istirahat siang.

"Paling jauh hanya berciuman," jawab Airin santai seolah yang ia bahas adalah hal biasa.

Mei benar-benar khawatir sekarang. Bukannya ia tidak percaya pada laki-laki seperti Hatake Kakashi. Berulang kali ia melihat lelaki itu menjemput Airin saat pulang ataupun mengantar gadis itu bekerja. Menitipkan bekal makan siang untuk perawat gigih itu. Namun, pernyataan bahwa laki-laki itu belum menetapkan dengan jelas seperti apa hubungannya dengan Airin membuat Mei menurunkan kepercayaannya. Ia takut laki-laki brengsek sejenis yang berulang kali datang dalam hidup Mei kini berwujud Kakashi dalam hidup Airin.

Satu hal yang melegakan sampai sekarang adalah Airin belum menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada pria itu. Tapi siapa yang tahu? Mengingat apartemen Airin selalu bebas dimasuki oleh Kakashi Hatake.

Mei meneguk yogurt dalam wadah minum. Masih berpikir tentang Airin Hazami dan Kakashi Hatake. Keduanya sama-sama dari keluarga terpandang, meski Kakashi beberapa tingkat di atas Airin. Apakah ia takut seseorang mungkin mengincar gadis itu ketika hubungannya bocor ke publik mengingat saingan perusahaan Hatake Inc. terbilang banyak? Ataukah takut orang tuanya menentang hubungan mereka hingga menunggu waktu yang tepat? Itu hipotesis paling masuk akal untuk sekarang ini.

Pria itu terlihat sangat menyayangi gadis itu. Lebih dari sekedar kakak-adik seperti yang diutarakan Airin. Mei hanya bingung. Airin itu gadis yang cerdas. Apakah pandangannya terhadap perlakuan Kakashi sesempit itu?

Mei menghela napas. Menyudahi spekulasi liar yang bertebaran di kepalanya. Waktu mereka kurang dari 10 menit dan Pusat Jantung tengah menunggu mereka. Ia beranjak mengajak Airin untuk segera kembali ke Pusat Jantung.

*

Airin memutus sambungan teleponnya dengan Kakashi ketika Mei mengajaknya untuk kembali ke posisi. Di dalam mobilnya, Kakashi menatap ponselnya bimbang. Di sana tercetak foto Airin Hazami yang tersenyum dengan jari V andalannya. Berlatar bianglala taman hiburan di kala langit memancarkan jingga yang memesona. Beberapa email dan pesan masuk memenuhi notifikasi.

Kakashi memacu mobilnya ke jalan raya. Mengendarai dengan isi kepala yang penuh. Beberapa klakson protes ia dapatkan karena sempat lalai dalam mengendarai mobil. Ia memejamkan mata sekilas. Mencoba mengembalikan fokus ke jalanan. Untuk keamanan ia menurunkan jarum speedometer hingga batas rata-rata.

Ayahnya akan terus menerornya dengan perjodohan itu. Ia tahu seberapa gigih lelaki yang ikut andil dalam keberadaannya di bumi ini sebagaimana ia mengenal seberapa gigih dirinya sendiri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kakashi merupakan replika paling mirip Sakumo Hatake.

Mobilnya berhenti di depan sebuah gerbang pemakaman umum. Ia turun dan membawa buket mini bunga lily putih, menyusuri beton yang memisahkan dua wilayah makam. Langkahnya terhenti di depan nisan. Di sana tercetak sang malaikat yang melahirkannya.

Meletakkan bunga lily dan berdoa. Bermonolog dengan nisan. Kakashi melakukannya setiap kesempatan dalam 27 tahun hidupnya. Ketika ia bingung, ketika ia terpuruk karena tekanan, ketika ia tidak tahu harus seperti apa ia selalu mengunjungi makam sang Ibu. Membawa perasaan tenang dalam hatinya meskipun hanya sementara. Tiga puluh menit menghabiskan waktu di sana, ia kembali ke mobilnya. Kembali bergabung dengan kendaraan-kendaraan lain di jalan.

Sebuah pesan suara masuk saat ia meninggalkan ponselnya di mobil.

"Ayah tahu kau tidak setuju dari caramu menghindar belakangan ini. Tapi, ingatlah kau satu-satunya penerusku. Seluruh yang kupunya ketika Ayah meninggal akan diwariskan kepadamu. Tentunya kau tahu benar sebesar apa andil keluarga Hanare terhadap perusahaan kita. Ayah harap kau segera pulang untuk membahas hal ini."

Kakashi menghela napas panjang. Di satu sisi ia menyembunyikan Airin agar gadis itu terhindar dari segala hal yang dapat mengancam hidupnya, sama seperti sang adik yang berakhir naas dimutilasi akibat sejumlah orang yang menentang posisi perusahaan di mana justru menekan kalangan bawah.

Sejak awal, semua hal tentang Hatake telah dikutuk. Terbukti dari hilangnya orang-orang kepercayaan Kakashi dalam kurun waktu setahun. Satu per satu di bunuh, dilenyapkan entah kemana. Namun, perusahaan menutupi hal itu dengan kerjasama, termasuk perusahaan keluarga Hanare.

Airin tidak mengetahui hal ini. Dan tidak akan pernah. Ia tidak ingin menempatkan gadis itu dalam bahaya besar akibat posisinya yang dicela beberapa pihak. Sebagai perusahaan yang dengan influence lebih pada negara, mereka diberi beberapa kewenangan khusus, dan hubungan dekat dengan menteri keuangan.

Tidak ada yang bisa memilih untuk lahir di keluarga mana. Itu yang Kakashi selalu utarakan dalam pikirannya ketika ia pertama kali mengetahui telah terlahir di keluarga yang dikutuk. Mengeluh dan memberontak justru akan memperkeruh suasana. Maka, Kakashi harus ekstra berhati-hati. Musuhnya tersebar di mana-mana.

Dan tentang Airin, Kakashi tidak pernah merasa nyaman ketika harus menempatkannya dalam posisi tidak jelas. Ia terlalu menyayangi Airin. Dan tidak ingin Airin ikut pergi meninggalkannya. Terlalu parno untuk menjelaskan dan menetapkan hubungan mereka sebenarnya.

Kakashi kembali mendapat klakson. Dan kali ini jauh lebih panjang. Ketika ia tersadar, sebuah mobil terlanjur melintas dan mereka akan bertabrakan. Kalang kabut, ia membanting stir dan kehilangan kendali. Beradu dengan pembatas jalan yang menimbulkan kegaduhan besar secara mendadak.

Nyeri menyergap Kakashi. Sayup-sayup terdengar kegaduhan sekitar. Tak begitu lama karena detik berikut kesadarannya menghilang.