Taufan B
Quality time bersama anak bungsu hari ini. Bangun subuh yang rencananya bakalan tidur lagi sesudah sholat, mencoba menikmati hari kerja di rumah sebab kantor sedang di renovasi, tapi di-cancel setelah amukan ibu presiden bersuara lebih kencang dari toa pendemo.
Jadilah aku diberi tugas untuk mengawasi Nunu anakku yang terakhir, sementara Yaya pergi bekerja hingga sore.
"Ayo coba Nu, gimana menurut kamu?"
Kali ini ada diskusi antara aku dan Nunu, membahas tentang: Mengapa susu formula yang ibu beli selalu mahal? Mana suka banyak lagi belinya. Tapi Nunu hanya membanting-banting remot tv, mungkin tanda tak suka. Ah, sepertinya ia bukan tipe anak yang suka berdebat, melainkan easygoing. Santai, apa aja oke.
"Mantap emang kamu, Nu."
"Bwabwabwibwu." Jawabnya, yang bisa kuartikan sebagai: 'Siapa dulu Ayahnya!'.
"Iya dong, kece abis."
Walaupun Nunu masih berumur satu tahun, tapi ia sudah bisa menyadari betapa keren ayahnya. Berbeda dengan Caca kakaknya, yang lebih sering menistakan aku bila berbuat sesuatu, lalu mengadu pada ibunya. Hal itu terdapat pada ketentuan: Ayah selalu salah, jadi sabar aja.
"Nu, Ayah ke wc dulu. Kamu jangan buat keributan ya, awas!"
Ia menenggakkan kepala setelah melihatku berdiri sambil menunjuknya, kemudian tertawa.
"Ini ga ngelucu, Nu."
Nunu malah tertawa lebih keras.
"Astagfirullah, anak siapa coba."
(0o0)
Blacklistname Present:
Keranda
for:
#dailydrabblechallenge
(0o0)
"Nah kan, ditinggal sebentar udah wisuda."
Kurang lebih, menghabiskan tiga menit untuk buang air kecil. Dan ketika aku kembali pada ruang keluarga, Nunu sudah memakai topi toga wisuda.
"Yaudah yu, tinggal foto studio."
"Bwu bwaaa."
Kali ini aku tidak bisa menerjemahkan apa yang ia ucap. Jadi aku hanya mengangguk tanda pura-pura mengerti, agar Nunu tidak sakit hati.
Beralih duduk sila dihadapannya, kulihat foto yang berserakan di mana-mana. Aku baru ingat dengan dus yang tadi pagi kusimpan tak jauh darinya sekarang, berisi kenangan semasa SMAku dulu.
"Aduh, Nu. Kalo berantakkan gini, pulang-pulang si Ibu konser nanti." Kataku tersirat rasa panik, ketika melihat jam sudah seharusnya Yaya tiba.
Dengan gesit, aku membereskan kekacauan tersebut, mengambil topi toga dari kepala Nunu lalu memasukkannya kembali ke dalam dus.
Alhasil, Nunu menangis.
"HUWAAAAAAA."
"Nah kan, malah kamu yang konser duluan."
Kusimpan terlebih dahulu dus di kamar. Selanjutnya, menggendong Nunu ala pesawat terbang, yang syukurnya membuat anak ini langsung tertawa.
"Assalammualaikum."
Waktu yang tepat. Para princess pulang, Nunu pun sudah tenang. Tak ada pula hal yang dapat memicu Yaya melempar barang. Semua urusan rumah, beres.
"Waalaikumsalam."
Nunu heboh ketika melihat induknya. Begitu juga dengan Yaya, yang langsung membawa si kecil pada pelukan sementara ayahnya dianggap angin lalu.
"Gaakan dipeluk nih Ayahnya?"
Entah pura-pura atau memang tidak mau mendengar, Yaya pergi begitu saja tanpa merespon setelah menyambut tanganku untuk salam.
Yasudah, gapapa. Mari kita nonton tv saja.
"Yah, aku beli sepatu baru, loh!" Pekik Caca duduk di sebelahku dengan memperlihatkan belanjaannya.
"Ga nanya."
Ia menjulurkan lidah.
Dari merek yang tertera di paper bag, sangat menjelaskan bahwa apapun jenis sepatu itu, harganya pasti mahal. Lantas aku berteriak pada Yaya meminta keterangan. "Bu, ini pasti beli pake uang Ayah, ya?"
"Ya uang siapa lagi emangnya?" Timpal Yaya dari kamar.
"Sial."
"Bu, Ayah ngomong kasar nih!"
Kaka Slank menjerit, "TAUFAN!"
"NGGA, IH!" Aku membela diri.
Caca tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Remaja kelas satu SMA ini memang jagonya bikin ribut. Wajar, sifatnya yang seperti itu aku terapkan sejak masih di kandungan.
"Awas ya kalo minta beli sepatu lagi," aku mengancam. "Nanti kalo sekolah kamu pake sepatu Ayah aja."
Caca menengok menatapku dengan jenaka. "Kebesaran dong?"
Dan sebagai penutup juga nasihat hari ini, aku menjawab. "Gapapa, biar bisa dipake nabok orang nanti."
"Hehehe."
"Hehehe."
Kami berdua pun terkekeh sambil memainkan alis.
"TAUFAN, ANAKNYA DIAJARIN YANG BENER!"
Namun sang Rocker kembali berteriak. Ternyata percakapanku dan Caca cukup keras sehingga sampai telinganya.
"SIAP SAYANG!"
Inilah hidup dengan dianugerahi Ratu, putri dan pangeran. Yaya, Syaima, dan Keannu. Sederhana, tapi istimewa.
Maka dari itu, terima kasih Tuhan.
End
Taufan adalah visualisasiku menjadi orang tua di masa depan.
gagitu...
