kemulan
sekaiichi hatsukoi © nakamura shungiku
saya tidak mengambil keuntungan materiil dari fanfiksi ini
.
.
Hal pertama yang Ritsu rasakan ketika sadar dirinya dibangunkan oleh ritme sikardian adalah anjir dingin banget.
Perlahan, matanya mulai mencari-cari pengontrol penghangat sentral, dan menemukannya tergantung di samping saklar lampu. Di situ tertera suhu kamar tidur sebesar 10 ˚C. Luar biasa. Pantas saja ia kini menggigil kedinginan.
Ritsu pun bangkit meninggalkan kasur peraduannya, menaikkan suhu penghangat, kemudian kembali lagi ke kasur. Menyatukan kembali dirinya dengan empuknya kasur dan selimut. Merilekskan diri untuk kembali terlelap.
Hingga Ritsu merasakan gerakan sesuatu—atau seseorang, duh—yang beringsut mendekat. Seseorang ini terasa panjang dan hangat. Kedua kaki Ritsu ditindih oleh satu kaki yang berat, tubuh bagian atas Ritsu dikunci dalam rangkulan. Andaikan saja Ritsu tidak mencium aroma tembakau dan harum khas seorang Takano Masamune, Ritsu pasti langsung menendang si tersangka yang kini sedang memeluk erat dirinya bagaikan guling.
"Ampun," rintih Ritsu, tak terima dipeluk erat seperti ini. Sebenarnya, ia senang-senang saja dipeluk manja seperti ini. Namun, refleks untuk menghindar dari demo afeksi Takano miliknya terlanjur bereaksi lebih cepat. Badannya otomatis menggeliat bagaikan ulat.
"Argh, bisakah kamu diam saja?" Sembari mengencangkan kunci peluknya, Takano menjawab. Suaranya berat nan serak akibat kantuk. Plus sedikit kesal, karena dibangunkan oleh gerak geliat cintanya. "Aku masih mengantuk; biarkan aku tidur sebentar lagi."
Ritsu mendengus ke arah bantal. "Tapi tidak harus sambil memelukku seperti ini, 'kan?"
"Kenapa? Tidak suka?"
Astaga astaga astaga. Pagi-pagi bosnya ini sudah membuat Ritsu emosi. Bukan emosi tipikal kesal atau jengkel seperti yang ia rasakan tiap kali dipancing Takano di kantor. Tetapi rasa … sesuatu yang nano-nano. Tolong, jangan paksa Onodera Ritsu menerjemahkan rasa itu. Yang penting, emosi yang Ritsu rasakan setelah mendengar perkataan teman seranjangnya ini membuatnya lemas. Dan menyesal.
Jangan tanya mengapa.
"Aku—bukannya tidak suka," mulai Ritsu, yang ingin menjelaskan mengapa hatinya merasakan sesal karena… membuat Takano berkata demikian. Tetapi Ritsu tidak dapat menjelaskan mengapa. Ia biarkan jawabannya menggantung di udara, seperti setiap jawaban yang ia berikan selama ini kepada Takano tentang hubungan pribadi mereka.
Ah. Ritsu membenamkan wajahnya ke dalam lipatan bantal. Mengapa ia begitu pengecut menghadapi perasaannya ini?
Tiba-tiba, Takano berbisik, memotong rentetan pikiran Ritsu yang sudah mulai semrawut, "Kedinginan begini seharusnya kamu bawa tidur. Bukan menegangkan badan. Tidur lagi, sana."
Dan Takano sedikit melonggarkan pelukannya, seperti memberi jarak untuk Ritsu. Tetapi pelukannya tetap kuat. Seakan-akan ia menawarkan dirinya sebagai sandaran batin untuk Ritsu.
Dan dengan hati yang menggebu-gebu akan gestur tak kasat ini, Ritsu kembali merilekskan diri.
Dan bersama hangatnya kamar, ia kembali ke alam mimpi.
