No-Quirk, Indonesia AU, Drabble, Crack, OOC

Fuyumi jujur saja ingin menggampar anak muridnya satu per satu. Oh, biar kuingatkan, ini bukan salahnya sepenuhnya, ini bukan juga sepenuhnya salah pandemi yang sedang menyebar saat ini. Mungkin kalian bisa salahkan China atau pemerintah soal itu, tapi Fuyumi bisa tidak peduli.

Yang jelas, ini salah beberapa murid dan orang tua muridnya.

"Bu Hisa, bisa Anda ulangi lagi?"

[ Dibilangin juga, anakku sudah muak dengan sistem belajar seperti ini. Dia tidak mau mengerjakan tugasnya lagi. ]

Ujung bibir Fuyumi tertarik ke atas, hendak memisuh, tapi wanita berambut putih itu mengambil nafas dalam-dalam. "Bu Hisa," ujarnya, "tolong lakukan bagaimana caranya agar Akira mau menyelesaikan tugas-tugasnya. Itu adalah kewajibannya sebagai seorang pelajar. Apa lagi nilai rapornya akan ditentukan lewat tugas-tugasnya. Tolong, Bu Hisa, demi kebaikan anak Anda."

Suaranya lembut sekali, seperti permukaan es yang perlahan mencair. Mungkin orang yang di seberang sana mendengarnya seperti itu, tapi jauh di bawah es itu ada glasier yang siap menyembur kapan saja kesabarannya habis.

Bu Hisa menghela nafasnya. [Baiklah, terima kasih atas perhatiannya, Bu Todoroki, selamat malam.]

"Selamat malam."

Sambungan telepon lalu terputus dan Fuyumi menempelkan kepalanya di atas meja makan.

Telepon kesembilan hari ini.

Alisnya berkedut. Tidak bisa kah para wali murid dan anak-anak didiknya berhenti terus-terusan menghubunginya setiap hari? Demi Tuhan, Fuyumi sudah lelah menghadapi komplainan dari mereka tentang tugas yang ia berikan.

Ayolah!

Dia hanya memberikan dua tugas yang bisa selesai dalam setengah jam jika dilakukan dengan baik. Tapi kenapa, KENAPA banyak dari mereka yang tidak mau mengerjakannya sama sekali? Ia menghela nafas panjang.

Pandemi sialan, pikirnya dalam hati, kalau saja kau tidak ada, hidupku tidak akan sesusah ini.

Yak! Sekarang semuanya adalah salah pandemi.

"Yumi?" suara dari atas tangga memanggilnya. Fuyumi mendongak untuk melihat sosok berambut hitam menuruni tangga perlahan.

"Kenapa, abang? Lapar?" tanyanya.

Touya menggelengkan kepala. "Aku baru makan..." dia melirik jam, "dua jam yang lalu saat kau membuat mie instan tiga bungkus." katanya santai, tidak mengungkit fakta bahwa cuma ada dua orang di rumah saat ini.

Ayah mereka, Enji, masih pergi ke kantor; ibu mereka yang notabene seorang perawat, Rei, ada di rumah sakit; Natsuo tertahan karena lockdown di kota sebelah saat ia berkunjung ke rumah temannya; dan Shouto belum diperbolehkan pulang dari pesantren. Hanya ada Fuyumi dan Touya di rumah. Fuyumi karena SD tempatnya mengajar sedang 'belajar di rumah' dan Touya karena hari ini adalah hari cuti dari tempat kerjanya yang mulai menerapkan sistem selang seling.

Fuyumi tidak bisa tidak mengingat kegilaannya dua jam lalu saat dia memutuskan untuk memasak mie instan langsung tiga bungkus karena dirasa lapar.

Gila. Aku mulai makan kayak setan karena karantina. Tapi lah persetan dengan semua itu. Dia butuh penghilang stress. Dua minggu ia belum meninggalkan rumah sama sekali, dia mulai bosan dan resah.

Touya mengambil segelas air hangat dan duduk di bangku seberang Fuyumi, menatap sang adik sambil menaruh ponselnya di atas meja. "Capek?" dia berujar. "Anak-anak didikmu sungguh perhatian betul pada gurunya."

Fuyumi manyun. "Abaaaaang..."

Touya terkekeh, "Barusan ada telepon dari Shouto, dia akhirnya bisa pulang lusa, Natsuo juga akan pulang besok katanya."

"Syukurlah kalau begitu." Fuyumi menghela mafas lega. "Natsuo sudah seminggu tinggal di tempat temannya. Dan kuharap Shoto tidak kenapa-kenapa."

"Eh tapi," Touya menambahkan, "Shoto bilang dia akan membawa temannya, si Midoriya. Rumahnya tidak jauh dari sini, tapi kau tahu sendiri, kota-kota sebelah sudah di lockdown, kita saja yang belum. Boleh kan?"

Fuyumi meniup poninya, "Kenapa tanya aku, coba tanyakan pada bapakmu."

Touya memutar matanya.

Ponsel Fuyumi berdering, menampilkan nomor asing yang Fuyumi bisa prediksi adalah salah satu orang tua murid kelasnya.

"Aku mau es krim." kata Touya. Fuyumi menyikut perutnya sebelum mengangkat telepon.

Yah, hanya hari biasa di kediaman keluarga Todoroki.

Fuyumi's Evening

#StayatHomeChallenge

by Eroi Nica

My Hero Academia Kohei Horikoshi