"Go-Food" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Warn : AU, Gojek!Taufan, siswa!Yaya, gaje, nggak sesuai EYD, dll.

#BBBdirumahaja

Dibuat khusus untuk Fanlady

Happy Reading!

.

.

.

Disebabkan korban covid-19 yang semakin bertambah, sistem belajar jarak jauh akan diperpanjang sampai 20 April 2020–

"Astaga,"

Yaya menghela napas kesal membaca informasi dari grup kelasnya tersebut. Tak berselang lama, muncul chat-chat teman-temannya yang menanggapi pengumuman itu. Kebanyakan dari mereka mengeluh karena libur diperpanjang, dengan alasan bosan di rumah, stres tugas, kangen sekolah, dan banyak lagi.

Memilih untuk tidak menyahuti, Yaya menutup aplikasi pesan itu dan mencari hiburan lain. Sesaat ia menatapi layar home ponselnya, yang dihiasi berbagai macam game semenjak mengkarantina diri sendiri diperintahkan. Untuk apa lagi kalau bukan penghilang rasa gabut dan stres?

Yaya mendengus kesal kala tidak sedang mood untuk memainkan game-game tersebut. Ia sejenak mematikan ponselnya, memandang kosong langit-langit kamarnya. Berpikir, apa sekiranya yang bisa membuat mood-nya naik.

Coba deh, pesen Manja Cheese Tea. Ada di go-food kok. Moodbooster banget asli.

Tiba-tiba saja ucapan Ying menghampiri pikirannya. Yaya mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, mengingat lebih jelas perkataan Ying saat mereka bertelepon dua hari yang lalu.

Gadis itu memiringkan kepalanya. Tersenyum, lalu dengan cepat mengambil ponselnya yang tadi ia abaikan. Jempolnya dengan cepat membuka aplikasi gojek, berniat melakukan saran Ying.

Ketika jari jemari Yaya mengetikkan Manja Cheese Tea di opsi go-food, muncul beberapa rekomendasi minuman boba tersebut. Yaya tersenyum sumringah dan segera membuat pesanan sebanyak dua minuman. Ia kemudian melakukan pembayaran lewat OVO, lalu layar ponselnya menunjukkan pesanannya sedang diproses.

Yes. Seru Yaya dalam hati. Dilihatnya profil driver yang mengambil pesanannya tersebut. Boboiboy Taufan. Dahi Yaya berkerut kala menyadari foto driver itu terlihat sangat muda, dan kelihatan ceria karena senyum lebar tanpa bebannya. Yaya mengangkat alis. Menemukan fakta bahwa pemuda di foto profil itu lumayan tampan.

"Eh? Aku mikirin apaan sih," kata Yaya sambil menepuk dahinya atas kekonyolannya barusan. Belum tentu itu wajah aslinya beneran. Kenapa ia sangat gampang menyebut pemuda itu tampan?

Ting.

Dentingan notifikasi terdengar. Yaya mengeceknya, ternyata itu berasal dari si abang-abang go-food.

Boboiboy Taufan

Misi, paket. Saya sudah sampai ya, bu. Tapi kok ibunya nggak kelihatan ya?

"I-ibu?!" Mata Yaya memelotot saat membaca deretan kata itu. Dipanggil apa ia tadi? Ibu?

"Wah–ngajak ribut masnya." Yaya baru ingin membalas chat tersebut ketika notifikasi lagi-lagi muncul di layarnya.

Boboiboy Taufan

Bu? Hellooowww. Mau ujan nih bu, manja cheese tea-nya jadinya gimana nih? Enak lho bu, sayang kalo ngga diambil

"Ya, sayanglah. Belinya pake duit." gerutu Yaya tanpa sadar. Ia bergegas mengambil cardigan dan jilbabnya sebelum turun untuk mengambil pesanannya tersebut.

Dan benar saja. Ketika dirinya membuka pintu utama rumah, terlihat abang-abang ojol dengan jaket berwarna hijau berhenti di depan pagar rumahnya. Pemuda itu menopang lengannya di atas speedometer motor, sedang jarinya bergerak cepat mengetik sesuatu di ponselnya. Kakinya yang berbalut sepatu converse itu mengetuk aspal sesekali, jelas sekali tengah menunggunya.

Yaya perlahan mendekat. Pemuda itu masih belum menyadari kehadirannya.

"Err... mas?" Yaya memanggilnya ragu. Kepala tertutup helm itu menengok, namun kaca depannya dibiarkan terbuka. Memperlihatkan wajah tampan nan manis itu.

"Eh, si ibu." katanya, membuat Yaya lagi-lagi mendengus kesal. Ibu lagi. Memangnya setua apa sih dirinya?!

Yaya berusaha mengenyampingkan hal itu meski dirinya sudah kesal. Nggak papa, Yaya sabar kok.

"Mas... Taufan ya?" tanya Yaya ramah, mengamati wajah pemuda itu yang ternyata sama persis dengan foto profilnya. Ganteng, ramah, dan juga kelihatan ceria.

Senyum si abang ojol terkembang. "Iya, saya Taufan. Ibu, bu Yaya kan?" tanyanya memastikan.

Yaya menyinggungkan senyum paksa. "Iya, saya Yaya. Tapi saya masih SMA kok mas," katanya pelan tapi menusuk.

Abang go-food itu tampak terkejut dan langsung meringis minta maaf. "Eh? Ya ampun, maaf mbak maaf. Saya kira–"

"Hehe, nggak papa kok. Nggak saya kurangin bintangnya," Hampir. Lanjut Yaya dalam hati. Ia tahu setiap abang ojol akan menghkhawatirkan penilaian atau bintang dari pelanggan apabila melakukan kesalahan.

Taufan tampak menggaruk pipinya canggung sambil terkekeh tidak enak. "A–hahaha, maaf ya mbak sekali lagi. Heheh." ujarnya. Yaya hanya tersenyum tipis. "Um, ini mbak pesenannya. Silakan dinikmati," Plastik berisi dua minuman diserahkan kepada si pembeli.

Yaya menerima uluran itu dan mengangguk kecil. "Nggak papa kok mas." katanya meski masih ada sedikit rasa kesal. Namun Yaya memilih untuk tidak memperpanjangnya lagi. "Oh ya, mas kok masih ngambil pesenan sih di tengah-tengah pandemi gini?" tanya Yaya penasaran.

Taufan tampak terdiam sebelum menjawab. "Saya lagi butuh soalnya. Belajar onlen kan harus pake kuota, mbak. Nah, saya mau nyari duit sendiri biar nggak minta ke orang tua saya," jelasnya.

Mendengar itu membuat Yaya kaget sekaligus kagum. Kaget karena si mas masih termasuk pelajar, kagum karena keputusannya mencari penghasilan sendiri daripada minta kepada orang tua.

"Lho? Masnya masih belajar?" tanya Yaya tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.

"Iya. Saya kuliah sekarang. Tahun pertama."

Yaya mengangguk-angguk, itu berarti mereka hanya berbeda dua tahun. Pantas saja wajah abang gofood ini terlihat sangat muda.

"Kalo mbak?" Yaya menoleh. Menemukan si mas sedang menatapnya penuh tanya "Mbaknya kuliah juga?"

Yaya berpikir sebentar. Ia menggaruk kepalanya yang tertutupi kerudung. "Um, i... ya. Saya juga kuliah mas." dustanya. Entah apa yang membuat Yaya tidak jujur tentang status pendidikannya.

Giliran Taufan yang terkejut. "Wih, sama dong. Saya anak mesin. Kalo mbak?" tanyanya antusias.

"Ya, saya anak ayah ibu saya lah mas." kata Yaya mencoba melucu. Kemudian, ia menyadari betapa garingnya lelucon tersebut.

Taufan terbahak mendengarnya. "Mbak lucu juga ya hahaha." kekehnya membuat Yaya bingung. Masnya ternyata receh banget. "Maksud saya jurusannya,"

"Oh, jurusannya..." Yaya memutar otak. Mencari-cari jawaban yang sekiranya pas diucapkan. "Err... jurusan saya... Komunikasi. Iya, komunikasi." ucap Yaya sambil tersenyum. Berharap-harap cemas semoga saja ucapannya bisa membuat Taufan percaya.

"Oh, hebat dong. Berarti mbaknya pinter ngomong nih," kata Taufan. Yaya diam-diam menghela napas lega mengetahui si mas tidak menaruh curiga padanya.

Yaya hanya terkekeh, bingung mau menjawab apalagi. Pada saat dirinya ingin membalas perkataan si abang gofood, Taufan lebih dulu menyela.

"Yasudah ya, mbak. Saya mau cus lagi." kata Taufan, menaikkan standar dan mulai men-starter motornya.

Yaya mengerjap dan memperhatikan pemuda itu. "Eh? I-iya, mas."

Taufan tersenyum singkat. "Selamat dinikmati ya mbak minumannya." katanya.

Yaya mengangguk cepat. "Makasih ya mas."

"Sama-sama mbak."

Dan setelahnya, abang go-food bernama Taufan itu berlalu pergi dengan motornya.

Yaya menatap punggung tegap itu sampai hilang dari pandangannya. Ia baru menyadari, baru pertama kalinya ia tampak akrab dengan abang go-food. Tak sulit mengakui bahwa dirinya sangat nyaman saat bercengkrama bersama si mas tadi. Meski mereka baru beberapa menit kenal.

"Taufan ya..."

Bibirnya membentuk segaris senyum manis.

.

.

.

.

Finizh

a/n :

ff pertama untuk event #BBBdirumahaja

ini idenya aku tulis dari postingan yang kak Fanlady share di fb waktu itu dan terbayang TauYa, terus aku bikin deh wkwk. Semoga kak Fanlady suka ya! Maafin kalo lama hehe

Mungkin segitu aja.

Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!

Ditunggu repiwnya^^