"Zebra's Mask" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Warn : AU, FaYi, fluff, gaje heuheu ;_;
Day 3 #dailydrabblechallenge Prompt : Topeng dari Fanlady
Selamat membaca~
.
.
.
"Yaudah, yuk kita cari barang-barangnya sekarang. Keburu rame,"
Fang memperhatikan Ying yang berjalan lebih dulu, meninggalkannya di pintu masuk yang masih terbuka. Laki-laki itu menghela napas, sekali lagi berusaha untuk sabar ketika beberapa pasang mata mulai menatapnya aneh, bingung, sampai ingin tertawa.
"Fang, ayo!" panggil Ying, tangan gadis itu menarik salah satu troli yang berjejer di dekat pintu masuk. Kemudian mendorong benda itu menuju salah satu lorong, mengabaikan Fang yang masih berdiri di tempatnya.
"Haish, sialnya aku." keluh Fang, mulai menyusul sang kekasih ke arah lorong snack-snack ditempatkan. Fang sebisa mungkin untuk tidak membalas tatapan yang memandanginya aneh.
Pada saat kaki Fang ingin memasuki lorong makanan ringan, matanya tak sengaja menatap cermin di dekat etalase. Fang lagi-lagi merutuki dirinya kala kedua netranya dapat melihat dengan jelas penampilannya sekarang. Terutama kepalanya. Karena di sana terpasang dengan apik sebuah topeng zebra yang diberi Ying sebelum mereka ke sini.
Jujur, Fang sebenarnya tidak ingin memakai topeng full head zebra ini jika saja Ying tidak merengek-rengek seperti anak kecil. Entah apa yang merasuki Ying, pacarnya itu menginginkan dirinya memakai ini saat mereka ke supermarket. Tadinya Fang ingin menolak mentah-mentah. Apa kata dunia jika ia benar-benar memakainya?
Namun, Fang harus mengiyakan permintaan aneh Ying disebabkan pacarnya itu tengah datang bulan. Tentu itu melibatkan keselamatannya karena ketika Ying PMS, mood gadis itu akan naik turun dengan cepat. Dan jika ia menolaknya, maka Ying akan bete dan yang kena batunya ialah dirinya juga. Ying kadang bisa mendiaminya selama seharian penuh. Fang mana mau sih, didiemin Ying sampai selama itu? Bisa-bisa dirinya gila kalau itu sampai terjadi. Maklum, bucin memang mampu membuat semua orang lebay.
"Kalo bisa jangan lama-lama belanjanya," ujar Fang tepat dirinya sudah di samping Ying. Gadis itu menoleh, ingin membalas ucapannya namun Fang lebih dulu melanjutkan. "Kamu 'kan lagi datang bulan. Nggak boleh capek-capek," Tentu bukan itu alasan sebenarnya.
Ying mengangkat alis. Ia kembali memilih snack di hadapannya sebelum dimasukkan ke dalam troli belanjaan. "Kamu malu, ya? Gara-gara pake topeng itu?"
Skakmat.
Fang terdiam mendengar tebakan Ying yang tepat sasaran. Mau dalam keadaan apapun, Ying selalu saja bisa mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan. Fang sampai heran, apa jangan-jangan Ying cenayang? Habis suka bener gitu, sih.
Ying terkekeh menyadari Fang tak berkutik. Ia tahu apa yang Fang pikirkan sebelum ia menebaknya. Dan Ying sengaja bertanya untuk meledek cowok itu.
"Ying mah ..." Suara gerutuan Fang terdengar tidak jelas karena topeng yang dipakainya.
Ying tertawa keras, ia kemudian menutup mulut topeng zebra yang dikenakan Fang dengan tangan kecilnya. "Kamu lucu tau pakai itu. Serius deh," katanya, guna menenangkan Fang. Ying bukannya jahat menyuruh kekasihnya itu memakai topeng miliknya. Justru karena ia sedang PMS, Ying ingin mencari moodbooster. Dan entah mengapa melihat Fang memakai topeng ini mampu menaikkan mood-nya.
"Lucu darimananya?" Fang bertanya lesu.
"Lucu, asli. Mau aku fotoin?"
"Nggak!" tolak Fang langsung.
"Hahahaha!" Ying terbahak. Meski tidak bisa melihat langsung ekspresi Fang, ia tahu cowok itu akan memanyunkan bibirnya dengan dahi berlipat-lipat sebal. Biasanya Ying akan mencubit gemas pipi pacarnya itu.
"Malu, Ying. Pada ngeliatin aku, noh." adu Fang, matanya menatapi sekitarnya dengan waspada.
"Iya, sabar ya, Zebra."
Fang mendelik kesal dipanggil seperti itu. Sayangnya Ying tidak menyadarinya. Gadis itu sudah jongkok untuk mengambil dua merk makanan dari rak paling bawah. Tidak mau seperti anak hilang, Fang ikut jongkok di samping Ying agar dirinya tidak menjadi pusat perhatian.
"Fang." panggil Ying. Fang bergumam sebagai sahutan. "Kata kamu, mending yang ini..." Snack berkemasan kuning diangkat. "Atau yang ini?" tanya Ying sembari menunjukkan kemasan kripik berwarna ungu.
Fang memandangi dua snack berbeda rasa itu. Di sebelahnya, Ying masih menatap lamat-lamat salah satu makanan favoritnya tersebut. Ia menyukai keduanya, namun mendadak bimbang ingin memilih yang mana. Jadi ia meminta pendapat dari Fang.
Lama menunggu jawaban dari Fang yang tak kunjung terdengar, Ying menoleh. Namun pada saat itulah dahi Ying menabrak mulut topeng zebra Fang yang memang agak moncong. Mereka berdua sama-sama kaget sebelum akhirnya tertawa.
"Aduh ..."
"Ahahaha. Eh, sakit banget, nggak?" tanya Fang setengah panik. Ia menarik diri untuk mengusap dahi Ying pelan guna mengusir rasa nyut-nyutannya. Meskipun masih mengaduh kesakitan, Ying ikut terkekeh bersama Fang karena kekonyolan mereka barusan.
"Nggak kok, cuma sakit sebentar." balas Ying. Tangannya menurunkan tangan Fang agar berhenti mengusap dahinya.
Helaan napas Fang terdengar. "Lagian sih, nyuruh aku pake ini. Jadi kena, 'kan?" katanya. Jelas-jelas ia khawatir mulut zebranya itu takut menyakiti Ying lagi.
"Hehehe, nggak kok. Aku malah seneng liat kamu pake itu," ujar Ying, menimbulkan kernyitan di dahi Fang walau gadis itu tidak bisa melihannya. "Soalnya moodbooster banget. Aku jadi nggak bete lagi,"
Blush.
Fang diam mematung mendengar perkataan Ying barusan. Apa katanya tadi? Moodbooster? Siapa saja, tolong turunin Fang dari nge-fly mendadaknya sekarang juga!
Ying memiringkan kepalanya karena Fang diam saja. Ia melambaikan tangannya di depan wajah cowok itu, namun tetap tak ada respon. Ying mengangkat alisnya. Kenapa Fang diam saja?
"Fang? Oi!" seru Ying sambil menusuk pinggang Fang dengan telunjuknya. Dan sesuai dugaannya, Fang langsung terlonjak kaget sebab pinggang adalah titik lemah gelinya.
"Eh, eh! Geli, Ying!" protes Fang. Lamunannya langsung buyar, dan ia merutuki dirinya keras-keras karena sempat-sempatnya baper gara-gara ucapan Ying tadi.
"Abis kamu diem aja kayak orang kecabut nyawanya," gerutu Ying.
Fang menggigit bibir bawahnya. Ia ingin membalas, tapi bingung apa yang harus ia katakan. Namun, belum sempat Fang menemukan kata yang tepat, Ying sudah lebih dulu memajukan wajahnya, sehingga jarak di antara mereka tersisa tiga senti. Fang refleks memundurkan wajahnya karena kaget.
"Fang," ucap Ying. Mata gadis itu menatap lekat-lekat dirinya, memancing jantungnya agar berdetak cepat. "Jangan bilang... kamu blushing?"
Duh.
Fang berdeham dan buru-buru berdiri sebelum ia sesak napas karena Ying. Sambil bergerak-gerak kikuk, Fang mengambil troli belanjaan mereka untuk didorong.
"A-ayo. Nanti keburu ramai," kata Fang gugup. Ia ingin segera kabur dari situasi menjengkelkan ini.
"Tapi 'kan, ini belum kelar, Fang. Yang kuning apa yang ungu?" Ternyata Ying masih bergelut dengan kedilemaannya.
Fang meringis. Sepertinya ia harus bersyukur karena berkat topeng ini, semua ekspresinya konyolnya tak terlihat. Kalau tidak, pasti Ying akan menjadikannya bahan tertawaan.
"Dua-duanya aja," jawab Fang cepat. Matanya sengaja tidak melihat Ying karena ia bisa salah tingkah lebih dari ini.
Ying bangkit dari posisi jongkoknya. "Tapi, Fang. Uang aku nggak cukup. Mama cuma ngasih uang buat jajanan bulanan aku kayak biasanya. Jadi–"
"Nanti aku yang bayar." sela Fang cepat.
Mendengar itu, Ying melebarkan matanya. "Eh? Kok gitu? Nanti kamu–" Snack di tangan Ying dirampas cepat, kemudian dimasukkan ke dalam troli belanjaan. Tentu yang melakukan itu adalah Fang.
"Udah. Ayo." Tanpa memedulikan respon Ying selanjutnya, Fang langsung berjalan sambil mendorong troli.
Ying yang ditinggal begitu saja cengo di tempat.
"Fang! Kamu kenapa, sih?"
Tolong, Fang bingung mau jawab apa.
.
.
.
.
Finizh
a/n :
Huhu, kangen FaYi :(
Ditunggu repiwnya!
