Aku punya rahasia; aku tertarik padamu.

Disclaimer

[All Naruto Characters belongs to Masashi Kishimoto]

A Naruto Fanfiction by maggiellezk

A Boss Who Chases The Discount

AU, OOC, OS, Fluffy


Belakangan aku tertarik dengan kedai kopi yang dekat dengan tempat kerja. Kata temanku, Mei, mereka memiliki Americano yang membuatmu seolah dibawa terbang ke benua Amerika sana. Americano sedikit lebih encer dari Espresso. Nama itu merupakan ejekan bagi orang-orang Amerika yang meminta agar Espresso sedikit diencerkan. Namun, di antara kedua kopi yang terbilang populer itu, aku tidak akan memilih keduanya.

Aku bukan pecandu kopi. Masalah lambungku memaksa agar aku mengurangi konsumsi kafein setelah tepar karena pernah nekat begadang dengan segelas kopi selama tiga hari berturut-turut. Sejak itu, kopi mulai kutinggalkan dan sindrom insomnia mulai menyerang, bahkan ketika tak ada pasokan kafein dalam tubuhku. Akhirnya, obat tidur menjadi penyelesaian masalah.

Shift-ku berakhir pukul 5 sore, tepat di saat ini. Setelah berjibaku dengan sejumlah dokumen kantor bahkan mengambil lembur 2 hari berturut-turut. Aku membereskan barang-barangku, beranjak pulang sambil menyerukan sampai jumpa kepada teman-teman. Sesampainya di lobi utama, udara sejuk langsung menyambutku. Minggu yang sibuk, apalagi ketika kantor baru saja melaksanakan Dies Natalis yang di mana diriku terseret dalam kepanitiaan.

Beberapa gosip miring tentangku beredar pasang surut tetapi tak pernah mendapat klarifikasi. Yang kutau itu semua tidak benar. Aku tidak bisa menutup fakta bahwa ada semacam kelompok yang kontra denganku. Kudapat dari tatapan sinis serta nyinyiran yang sayup menyusup ke dalam telinga.

Bahkan dari awal, semua orang ragu akan diriku.

Hari yang melelahkan untuk fisik dan mental.

"Kurasa aku butuh sedikit kafein untuk sampai ke rumah," ujarku pada angin. Kulangkahkan kakiku menuju jalan besar. Berjalan kaki beberapa meter dan mengikuti belokan akhirnya aku sampai di depan kedai yang dibicarakan teman-teman. Kedai itu minimalis. Menganut arsitektur gaya modern yang tengah digandrungi banyak masyarakat. Masih terdapat spanduk 'Grand Opening! Try Our Coffee!' yang terpajang di atas pintu masuk. Oke, kau berhasil menarikku dari segi desain.

Kakiku kembali melangkah menghampiri kedai tersebut. Berdiri menunggu beberapa orang keluar dari pintu karena akses masuk dan keluar hanya satu, yaitu pintu tersebut. Aku masuk ketika mendapat kesempatan dan bau khas kopi langsung menyergap hidungku tanpa ampun. Kembali memberikan sugesti kepada pikiranku agar tidak khilaf mengingat aku mantan pecandu kopi. Jelas kafein dalam jumlah berlebih dapat memancing asam lambung. Dan itu tidak baik.

Langkahku berhenti di satu kursi berpasangan dekat jendela. Mengacungkan tangan pada pegawai yang berdiri di belakang meja bar untuk meminta daftar menu. Salah seorang pegawai menghampiri mejaku dan memberikan daftar menu.

"Kami punya penawaran untuk blueberry cheese cake dan caramel macchiato, memesan dua mendapat potongan setengah harga masing-masing untuk satu produk," ujarnya seperti pramusaji pada umumnya. Dengan nada persuasif agar aku membeli dua dagangan mereka.

"Aku tidak bisa makan dan minum dengan dua porsi, tapi terima kasih telah menyarankan. Aku akan pesan keduanya dengan satu porsi."

Ia mencatat pesananku dalam buku kecilnya. Memandanginya membuatku sedikit salah fokus. Dia pria yang menarik secara fisik dengan pembawaan yang sedikit lembut. Aku yakin orang yang berjodoh dengannya pastilah orang beruntung. Terkutuklah diriku yang berimajinasi menjadi orang tersebut. Hei, sadarlah! Kau baru bertemu beberapa menit dan langsung mendoakan dia adalah masa depanmu. Itu gila.

"Bisakah aku yang menebus promonya? Aku akan membayar milikku tapi kusatukan dalam nota pesananmu."

"Ya, tidak masalah."

Ia berterima kasih singkat kemudian kembali untuk menyampaikan pesananku. Sambil menunggu, kupuaskan mataku untuk menikmati interior ruangan ini. Tidak terlalu luas, tetapi sangat pandai dalam memanfaatkan ruang sehingga kesan sempit memudar. Beberapa barang klasik dipajang pada beberapa tempat membuat seseorang seolah berada di dalam mesin waktu tahun 90-an. Berkolaborasi dengan warna-warna yang tidak bertabrakan sehingga tak membuat mata sakit ketika memandangnya. Tempat ini memiliki aura sendiri yang terasa hidup dari beberapa tanaman di sudut ruangan.

Satu kalimat untuk tempat ini.

Classy but simple at the same time.

Aku mengerling pada jam. Memastikan waktu saat ini. Sinar jingga kian menguat, menciptakan beberapa siluet pada permukaan gedung. Sama seperti efek retro. Orang-orang menyebutnya dengan sebuah istilah bernama Golden Hour.

Dan akhirnya pria bermasker itu datang membawa pesananku, juga miliknya. Ia meletakkannya di atas meja dengan telaten dan kembali meminta izin padaku untuk menggunakan kursi kosong di seberangku yang kembali aku iyakan. Mulai menikmati makananku tetapi kembali salah fokus ketika kutangkap masker itu ditarik turun dan menampakkan wajah yang tersembunyi dibaliknya. Pahatan sempurna Sang Pencipta.

Ia menangkapku terdiam dengan garpu yang kutahan di udara.

"Apa aku membuatmu kurang nyaman?"

"Ah, tidak sama sekali." Kembali melahap kue untuk menenggelamkan kegugupan ini. Namun, kupu-kupu diperutku terus menggelitik, memberikan ledakan euforia yang meningkatkan pacu jantung.

He is such a handsome man.

Kurasa dia mengalahkan Ansel Elgort yang memikatku saat adegan pertamanya di film The Fault in Our Stars.

Tanpa disadari dan entah kapan kami terlarut dalam percakapan ringan. Sesekali menanggapi dengan tawa khas. Kurasa aku benar-benar terjerat dalam pesonanya.

"Kurasa aku akan pulang sekarang," ujarku. Kembali melanjutkan, "Terima kasih atas waktunya. Ini benar-benar kedai yang mengagumkan."

"Tidak, aku yang harus berterima kasih untuk memberikan promonya padaku ...," sahutnya menggantung.

Aku tersenyum simpul. "No problem. Aku Sāra."

"Ya, Sāra. Terima kasih."

Seseorang datang menghampiri meja kami. Ia berbicara langsung dengan lelaki pelayan itu.

"Bos, stok kopinya sudah datang. Harus kuletakkan di mana?"

Aku tercengang.

"Gunakan ruang atas. Minta bantuan Genma untuk mengangkatnya."

Setelah pegawai itu pergi, kini ia memandangku yang tersenyum geli dengan alis kiri yang merangkak naik.

"Ada apa?"

"Tidak, aku hanya berpikir. Lucu bahwa seorang bos memburu diskon di kedainya sendiri," ujarku.

Mendengar pernyataan polosku, ia tergelak. Mataku menangkap sebaris nama pada apron bagian kirinya. Tercetak di atas papan kecil yang melekat.

"Hatake Kakashi. Akan kuingat."

Ia tersenyum miring. Mengeluarkan kertas dan pena dari saku apronnya dan ia letakkan di atas meja.

"Aku akan menganggap kau telah membayar pesananmu jika kau mau menulis nomormu di sini," katanya. Aku tergelak.

Ternyata dia memburu diskonnya tidak secara cuma-cuma.

FIN