warning : ooc, sedikit mengandung dom/sub, crybaby zenitsu, dom tanjiro, porn tanpa plot, pure horny im sorry
(ini hanya fanfiksi)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
~I Told You~
Zenitsu menangis sesenggukkan. Matanya basah dan tenggorokannya kering dikarenakan suara rengekannya sendiri. Kedua tangannya terikat rapi-- meskipun membuat lengannya mulai agak terasa perih karna gesekan dari tali yang terbalut dipergelangan tangan mungilnya.
"Ta.. Tanjiro.. Please"
Tanjiro menatap sang kekasih berambut kuning itu dengan tatapan yang dingin. Sedikit kasihan karna overstimulasi yang dia berikan.
Pria berambut kuning keemasan itu duduk dengan lemas diatas karpet. Lubangnya yang diisi dengan vibrator kecil sudah mulai terasa kosong. Dia ingin yang lebih besar dan kuat dibanding mainan kecil ini.
"Kau tau apa yang harus kau katakan kan, Zenitsu?"
Tanjirou menggapai penis Zenitsu yang membuat mulutnya mendesah--tubuh kecilnya tidak berdaya dan menggeliat, dirinya hanya fokus dengan sensasi tangan Tanjiro yang mulai mengusap kepala penis Zenitsu dengan lembut-- membuat sirambut kuning itu menggelinjang dengan hebat.
Kurang ini sangat kurang. Dia ingin sekali keluar.
"Oops.."
Saat baru saja ingin klimaks lagi-lagi Tanjiro menghentikan gerakan tangannya dari punya Zenitsu.
"Please.. Please... Hiks.. Please Tanjiro"
"Hm...sudah berapa kali aku membuatmu ingin keluar?"
Nafas Zenitsu tercekat, ia menggerutu pelan. Kata-katanya terasa tertahan ditenggorokannya dikarenakan frustasi, dia sangat ingin keluar. Empat kali? Lima kali? Persetan, dia mana bisa berhitung dikondisi seperti ini.
Tanjiro pun menaikkan volume getaran dari vibrator yang masih berada didalam lubangnya, menyerang tanpa ampun titik manis Zenitsu.
"AHNGG-- Mh.. Tanjiro- AHH--"
Melihat Zenitsu yang hampir saja klimaks, tangan Tanjiro sengaja menurunkan volume vibrator ke yang paling rendah. Dia tidak akan membiarkan hal ini berlalu semudah itu. Dia harus memberikan Zenitsu pelajaran karena telah membuatnya merasa kesal dan cemburu.
Zenitsu yang sangat tidak tahan lagi menggoyangkan pinggulnya dengan irama yang kacau, dia terlihat menyedihkan saat ini; wajahnya yang terlihat sangat memalukan, air matanya yang tidak bisa dia tahan, liurnya yang telah menjalar kemana-mana, dan badannya yang terasa memanas membuat kulit putih mulusnya terlihat kemerahan. Mungkin. Tapi persetan dengan itu. Dia tidak tahan lagi. Irama pinggulnya seakan berharap vibrator tersebut bisa membantunya untuk mendapatkan yang ia mau. Tapi apa daya, getarannya sangat rendah membuatnya merasa putus-asa.
"Oh.. Andai saja kau bisa melihat dirimu sendiri Zenitsu. Kau seperti kucing dalam masa birahi"
Suara lembut nan dingin dari Tanjiro mengirim sensasi tepat ketubuh Zenitsu, lubang dan punya-nya berdenyut berharap lebih-- membuat tubuhnya semakin tersiksa dengan campuran rasa nikmat dan rasa frustasi. Suaranya semakin serak, otaknya terasa kosong membuat pandangannya seakan kabur. Dia sangat ingin Tanjirou, dia ingin Tanjirou untuk memasukkan punya-nya kedalam dan menggerakkannya seperti yang biasa mereka lakukan.
"Tanjiro aku mohon-- Please.. Please.. Fuck me Tanjiro"
Dia tidak peduli kalau saat ini kondisinya sangat memalukan atau suaranya terdengar sangat ingin. Dia sudah tidak tahan lagi-- dia ingin keluar. Tanjirou tentu tidak mengizinkan hal itu terjadi. Tali kecil masih terikat rapi di penis Zenitsu yang terlihat sudah memerah, membuatnya sangat sulit untuk keluar.
Ditatapnya Tanjiro dengan tatapan memohon, dia ingin menggoda. Pandangan matanya menurun, melihat tepat dimana punya kekasihnya-- Tanjirou yang masih ditutupi oleh celana hitam. Dia ingin Tanjiro. Dia menginginkan punya Tanjiro yang sudah mengeras dibalik celananya itu, tonjolan besar yang sudah terlihat seperti tenda disana.
"Tanjiro pleaaaaseeeee"
Tanjiro menghela nafas, berat. Ditatapnya Zenitsu yang matanya sudah membengkak dikarenakan menangis tersedu-sedu-- memintanya untuk segera membantunya mencapai orgasme. Tapi bukan ini yang Tanjiro ingin dengar.
Dia meraih kembali penis Zenitsu. Mengusapnya dari atas kebawah dengan sangat-sangat lembut. Pinggul Zenitsu pun tanpa ia sadari tergoyang mengikuti irama tangan Tanjiro, berharap Tanjiro akan memberikannya lebih dari usapan lembut.
Namun Tanjiro menghentikan tangannya lagi.
"HNGGG-- TAn--jiro.."
"Ayolah kau tau apa yang ingin aku dengar"
Zenitsu menghirup hidungnya yang mungkin sudah meler dikarenakan isakkannya. Tapi dia tidak peduli.
"Please-- Tanjiro.. Fuck me"
Tanjiro menggelengkan kepalanya pelan. Bukan itu yang ingin ia dengar. Diusapnya rambut kuning Zenitsu dengan usapan yang lembut membuat Zenitsu mendesah hanya karna sentuhan kecil. Dia sangat menyukai saat Tanjiro melakukan hal itu, sentuhan tangan Tanjiro dikepalanya terasa sangat tulus.
Disekanya air mata Zenitsu sembari mengusap pipinya lembut. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Zenitsu yang sudah memerah dan meniupnya pelan, membuat tubuh Zenitsu bergetar hebat-- mulutnya ternganga dan tak sengaja mengerang sangat keras, dia merasa malu. Tapi apa daya, tubuhnya sudah terlalu tenggelam dengan banyaknya sensasi yang dia rasakan sekaligus. Telingannya adalah salah satu kelemahan Zenitsu.
"Ayolah Zenitsu, Kau tau kalau bukan itu yang ingin aku dengar dari mulutmu"
Tanjiro pun memasukkan dua jarinya kelubang Zenitsu yang membuat tubuh Zenitsu tersentak, terkejut akan sensasi baru yang dia rasakan. Jari Tanjiro mendorong vibrator itu agar lebih jauh kedalam-- hingga benda itu terletak tepat dizona paling sensitif. Pandangan Zenitsu memutih, dia tidak bisa lagi, ini terlalu menyiksa baginya, dia sudah tidak tahan lagi.
Tanjiro pun mengeluarkan jarinya yang terlihat basah karena terkena lube yang berada didalam.
"Buka mulutmu Zen~"
Seperti anjing yang patuh dengan tuannya, Zenitsu membuka mulutnya-- menerima dengan senang jari Tanjiro yang masuk kedalam, meraba semua bagian didalam mulut Zenitsu, mengusap pelan dan berirama langit-langit mulutnya yang diikuti reaksi dari tubuh Zenitsu yang semakin menggelinjang merasakan sensasi geli. Dihisap dan digigit kecilnya jari Tanjiro, dia ingin Tanjiro agar semakin terangsang dengan aksi seksinya. Dia ingin Tanjiro cepat-cepat bercinta dengannya seperti yang biasa mereka lakukan.
Air matanya semakin menjadi saat dua jari Tanjiro tiba-tiba sedikit masuk kedalam tenggorokannya. Zenitsu terbatuk-batuk. Sebenarnya dia heran kenapa perlakuan Tanjiro yang seperti ini membuatnya tambah terangsang.. Apa dia seorang masokis? Dia bahkan tidak mau memikirkan itu dulu, kepala nya sudah terasa ringan seperti orang mabuk. Penis nya sudah terasa perih dan berdenyut sangat kencang. Dia tidak tahan lagi.
Saliva Zenitsu seperti tali saat Tanjiro mengeluarkan jarinya dibarengi dengan suara rengekan Zenitsu. Nafasnya terengah.
Tanjiro tersenyum sangat lembut sebelum akhirnya lagi-lagi ia mengeluarkan remot kecil dan menaikkan volumenya ke yang paling atas.
Tangisan Zenitsu tambah menjadi, dia mengerang sangat keras karna getaran vibrator yang sangat hebat-- menstimulasi dengan brutal tepat dititik prostat Zenitsu. Tubuhnya menggelinjang tanpa ia sadari, rambut kuningnya terlihat acak-acakan dan basah karena keringatnya yang semakin bercucuran, suhu badannya memanas.
"Tan--JIRO.. AHNG.. MHHHH...hiks.. HNGGG... AHNGGG, TANJIRO PLEASE PLEASE PLEASE"
Tanjiro meremas kuat penis Zenitsu yang masih dibalut tali. Dia tentunya belum mengizinkan Zenitsu untuk keluar.
"AKU MINTA MAAF-- TANJIRO... HNGGG... AHHHH.."
"AKU MINTA MAAF JADI-- PLEASE.. HNN... PLEASE... TANJIRO PLEASE!!"
"AKU TIDAK AKAN MENGULANGNYA LAGI... hiks... HNNN... MAAF TANJIRO.. PLEASE.. PLEASE... AKU INGIN KELUAR... MHH... PLEASE"
Tanjiro pun menarik keluar vibrator dari dalam kekasihnya yang memohon dan merengek itu. Tubuh Zenitsu masih bergetar dengan sangat hebat karna sensasi dari aksi tadi. Lubangnya terasa kosong, dia ingin sesuatu untuk mengisinya.
Ditatapnya dengan lembut Zenitsu dan disekanya air mata kekasih cengengnya itu. Tanjiro tersenyum, menepuk dan mengelus pelan kepala Zenitsu-- memperlakukannya seakan dia anak kecil.
"Hm.. Hm... Zenitsu. Kerja bagus, itu lah yang ingin aku dengar. Sekarang aku akan memberikan apa yang kau inginkan, ayo katakan"
"Ehng..." Zenitsu mengerang, dia ingin cepat, dia ingin Tanjiro.
"Please Tanjiro, fuck me"
Dia pun membalikkan badan Zenitsu dengan agak kasar, mengangkat pantat Zenitsu yang memberinya akses lebih mudah untuk melihat lubang kekasihnya yang terlihat manis berdenyut menunggu agar Tanjiro segera melakukan sesuatu. Tanjiro juga sudah ada pada batasnya.
"Lubang mu terlihat manis Zen~ dan aku senang hanya aku yang berhak atas ini"
Gumam Tanjiro yang dijawab dengan desahan pelan dari Zenitsu, mengode Tanjiro agar segera menggunakannya.
Ia pun mulai membuka resleting dan menurunkan celananya. Tanjiro sudah sangat tidak sabar untuk menikmati Zenitsu. Ia bukanlah seseorang yang bisa menahan diri saat melihat pemandangan indah dari kekasihnya, apalagi saat ini Zenitsu terlihat sangat menggoda didepan matanya. Tanjro sendiri-pun tidak sabar untuk memasukkan punya-nya kedalam, merasakan sempit dari kekasihnya.
Zenitsu mengintip dari bawah. Pipi kanannya berada diatas karpet-- membuatnya tidak terlalu jelas untuk melihat sesuatu yang dia inginkan sedari tadi. Namun dia tau kalau Tanjiro akan segera memberikannya.
Diusapnya kepala penisnya kelubang Zenitsu sebelum menghentakkan keseluruhannya kedalam. Zenitsu mengerang keras, pandangannya kabur, air liurnya terjatuh keatas karpet. Dia ingin Tanjiro segera bergerak.
"Ta-- Tanjirou nhh... Talinya"
Tanjiro pun melepas tali yang sedari tadi mengikat penis Zenitsu, punya-nya memerah karena menahan serangan overstimulasi yang dia berikan. Ditatapnya punggung mulus Zenitsu yang membuat Tanjiro semakin mengeras. Dia pun meremas kedua belah pantat Zenitsu dengan sangat kuat. Memasukkan lebih dalam, menggerakkannya dengan pelan beberapa kali hingga akhirnya dilanjutkan dengan irama yang semakin cepat dan berantakan.
Sepertinya tangannya akan membekas diatas pantat mulusnya itu, tapi persetan. Zenitsu miliknya. Dan Tanjiro akan memastikan dia tau itu. Zenitsu miliknya seorang.
Gerakkan Tanjiro semakin cepat, menghantam kuat tepat dititik manis Zenitsu-- membuat air matanya mengalir lebih deras. Pandangannyakabur, yang terdengar diruangan itu hanyalah erangan, desahan, dan suara tamparan dari kulit mereka yang saling bertemu.
"Tanjiro... Tanjiro... Hnnnggg... Tanjiro... Aku... Aku keluar"
"Hm.. Keluarlah Zenitsu, kau sudah menahannya dengan sangat bagus"
Tubuh Zenitsu menggelinjang dan bergetar sangat hebat, mulutnya ternganga, nafasnya tersenggal tidak karuan suara desahannya seperti menggantung ditenggorokan, jari-jarinya mencengkram kuat karpet empuk-- meninggalkan kerutan diatasnya.
Namun Tanjiro belum selesai, kekasih berambut coklatnya itu belum mencapai klimaks. Tubuh Zenitsu yang sudah terlalu sensitif dipaksa menerima stimulasi brutal dari gerakkan Tanjiro-- dia menggerakkan pinggulnya dengan irama yang fokus mencari kepuasannya sendiri.
Tenggorokan Zenitsu terasa kering, sangat kering. Dia bahkan kesusahan untuk menelan ludahnya sendiri. Suara erangannya tidak bisa keluar lagi-- dia telah menghabiskan suaranya untuk mendesah entah hanya tuhan yang tahu berapa lama.
"Ungh--" Tanjiro mengerang sembari menghujami lubang Zenitsu tanpa ampun. Didekatkan mulutnya ketelinga Zenitsu yang sudah pasrah terkapar, dia menggigit kecil daun telinganya.
"Hng.. Zenitsu.. Zenitsu.. Kau nikmat sekali.. Hhh"
"Lubangmu sangat sempit, sangat sempurna untukku"
Tangan Tanjiro memegang kepala Zenitsu kedekatnya membuat bibir mereka berdua saling bertemu, ciuman mereka berantakan, kedua belah pihak saling beradu menikmati bibir dari sang kekasih. Tanjiro menggigit pelan dan menghisap lidah Zenitsu dengan pinggulnya yang masih menghujam dengan sangat cepat. Zenitsu yang sudah terlalu lelah hanya bisa menerima, gerakan Tanjiro semakin lama semakin tidak terkendali.
Beberapa hujaman kemudian-pun membuat Tanjiro akhirnya mencapai klimaks. Cairan hangat terasa sangat jelas didalam Zenitsu membuat kakinya menggelinjang dan tidak berhenti bergetar. Nafasnya makin memburu dan entah kenapa membuat tubuh Zenitsu sangat letih dan mengantuk. Ah, Zenitsu orgasme untuk kedua kalinya.
Kedua belah pihak sama-sama puas dan mulai terbaring satu sama lain diatas karpet yang basah dikarenakan keringat dan cairan mereka berdua. Tanjiro membalikkan badan kekasih kesayangannya itu dan didapatinya Zenitsu yang sudah terlelap.
Diangkatnya tubuh lemas Zenitsu ala princess kedalam kamar. Dia mulai membersihkan tubuh Zenitsu dari cairan yang ia keluarkan menggunakan handuk basah. Tatapannya penuh sayang, tangan Tanjiro pun mengusap pipi bulat kesayangannya dengan lembut. Dilihatnya mata Zenitsu yang bengkak karena menangis, diberikannya kecupan kecil kecil serta tidak lupa membisikkan lembut kata maaf ketelinga Zenitsu.
Tanjiro menarik selimut, membalutkannya ke tubuh Zenitsu dan mencium lembut kening kekasihnya yang sudah terlelap.
"kau selalu bisa membuatku cemburu"
bisiknya lembut sebelum akhirnya pergi membersihkan dirinya yang berkeringat ke kamar mandi.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
Note : gue nahan nyengir dikelas pas ngetik draft ini di siang bolong.
bisa ditemukan di wp tapi di wp gue males edit
betoxic
