Disclaimer: BoBoBoy milik Animonsta Studios. Kami tidak mengambil keuntungan materi apapun dari sini.

Author: Sylvia Limmanto

Summary : Obrolan seru di meja makan. Curhatan serta kekonyolan mereka. [No pairings. #eduficentry #covid19]

.


.

Beberapa bulan telah berlalu sejak munculnya virus baru asal China yaitu Covid-19. Telah banyak kasus dan korban jiwa akibat virus corona yang sudah merajarela di seluruh dunia. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan, namun masih saja ada yang membantah seperti tidak memakai masker saat keluar rumah, berkumpul, membuat acara serta membuka toko tidak sesuai dengan jam operasional yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

"Wah! Pemilik toko itu diangkut Satpol PP!"

Seorang pemuda tengah sibuk memainkan handphone. Ia baru saja menerima berita terbaru dari teman.

"Itulah akibat main melanggar jam operasional yang sudah ditentukan pemerintah," celetuk seseorang seraya mengalihkan pandangannya dari buku. "Harusnya toko hanya boleh beroperasi dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore."

"Kak Hali, Kak Blaze! Dipanggil Kak Gempa. Makan malam sudah siap," seru seseorang, menyela pembicaraan.

"Ya, kamu duluan Thorn," balas Halilintar seraya menutup buku.

Thorn mengiyakan dan pergi terlebih dahulu ke ruang makan diikuti Blaze yang sudah seperti orang kelaparan.

Ayuh cuci tangan

Gosok kiri kanan

Basuh dengan sabun~

Terdengar lagu dari arah dapur di mana sosok pemuda berbaju biru-putih tengah sibuk mencuci tangan sambil bernyanyi, ikut menari lagi.

"Tampaknya efek lagu itu beneran sudah menguasai otaknya," gumam seorang pemuda memakai jaket hoodie berbulu. Ia memandang malas.

"Ya, setidaknya dia jadi lebih rajin cuci tangan kan?"

"Gempa, Ice! Eh, itu Taufan ngapain? Kok pakai joget-joget di depan wastafel?" tanya pemuda berkacamata sunglasses jingga.

Gempa hanya membalas dengan senyuman kecil seraya menyiapkan hidangan di atas meja.

"Yeay makan!"

"Blaze, cuci tangan dulu," tegur Ice.

Blaze menurut dan pergi mencuci tangan di dapur.

"Blaze, pakai sabun. Anti sekali kamu sama sabun?" sindir Ice lagi.

Blaze merasa tertohok dan segera cuci tangan dengan benar. Sementara Ice masih diam mengawasi keikhlasan saudaranya ketika membasuh tangan.

"Solar bagaimana kelas online-mu hari ini?" tanya Gempa membuka pembicaraan.

"Seperti hari sebelumnya."

"Haish! Aku bosan, sudah beberapa bulan virus ini belum juga hilang dan malah bertambah banyak kasus orang yang terjangkit dan meninggal," keluh Taufan.

"Itu karena masih banyak yang bandel dan meremehkan penyakit. Aku dengar dari Gopal, kalau ada toko yang diam-diam buka melewati jam 4 sore," cerita Solar.

"Terus pemilik toko tersebut dapat didatangi Satpol PP?" tanya Blaze seraya mengambil makanannya.

"Ha-ah."

"Aku kasihan sama pegawainya yang kerja di sana. Mereka bisa ikut tertular dan tokonya akan jadi medium penyebaran," sambung Gempa yang sudah selesai meletakkan hidangan makan malam.

"Harap bos itu segera sadar atas perbuatannya," ucap seorang kakek yang sudah datang bersama robot kuning.

"Betul tuh Tok Aba! Padahal lagi wabah tapi malah lebih mementingkan uang daripada kesehatan," celetuk seseorang yang mendadak muncul di meja makan.

"GOPAL! Berapa kali harus diingatkan kalau masuk rumah orang ketuk pintu dulu dan beri salam," tegur Gempa.

Pemuda keturunan India tersebut hanya cengegesan sambil meminta maaf. Ia tanpa sungkan menyambar piring lalu menyendok nasi berlauk ikan goreng.

"Haish, tak cukup lagi dikasih keringanan dari 4 jam berubah menjadi 8 jam kerja? Uang 'kan bisa dicari lagi besok sedangkan kesehatan susah didapat," gumam Ice.

"Dah, dah baik kita makan dulu," ucap sang robot kuning mengingatkan.

"Ochobot 'kan gak boleh makan," goda Blaze dengan senyum jahil.

Tok Aba segera melerai sebelum terjadi pertengkaran kecil. Mereka semua pun segera menyantap makan malam setelah berdoa bersama.

Malam itu langit tampak cerah disinari bulan tanpa bintang. Lampu jalanan dihidupkan, terdengar suara jangkrik menambah suasana tersebut terasa damai dan tenang.

Keesokan pagi di Hari minggu, BoBoiBoy bersaudara bersiap untuk membantu kakek mereka menjaga kedai sesuai jam operasional yang telah ditetapkan. Meskipun secara logis penghasilan mereka akan menurun akibat berkurangnya jam buka, namun mereka sadar jika kesehatan lebih bernilai daripada harta. Tambahan lagi jika mereka tak patuh justru akan membahayakan orang lain. Mereka tahu jika memang Tuhan menetapkan rezeki, takkan lari ke manapun. Pasti akan menemui mereka bagaimanapun caranya.

Intinya, tak perlu ngotot cari harta hingga mengabaikan keselamatan orang lain.

"Ingat pakai masker ya kalian semua, walaupun jaraknya dekat tetap harus pakai," pesan Gempa pada yang lain.

"Siap Komandan!" seru saudara-saudaranya.

Harapan kami semua di seluruh dunia, semoga virus corona ini lekas berlalu. Karena kami sayang dengan kesehatan dan nyawa.

.

.

Fin.

.