"Baekhyun, tolong pindahin patung kaca ini ke kaca ya." Bunda Baekhyun menyerahkan sebuah patung Yunani berukuran kecil ke tangan anak satu-satunya, Byun Baekhyun aka Baekhyun.
"Siap bun!" Baekhyun dengan hati-hati membawa benda itu ke dalam lemari kaca khusus untuk menyimpan hobi sang Bunda, tentu saja menyimpan barang antik.
Sudah dua hari ini, Baekhyun dan Bunda repot menyusun barang didalam kotak dirumah baru mereka.
Loh kok pindah rumah?
[Tanya readers dalam hati]
Jadi Baekhyun dan Bundanya pindah rumah karena dua orangnya cerai. Yup, Baekhyun anak broken-home newbie tapi dia senang bisa lepas dari sang Ayah yang sudah selingkuh dan selalu buat beban perasaan ke super-women aka Bunda Byun.
Rumah yang mereka tempati sekarang memang beda sama rumah dulu, yang punya tiga lantai, dengan kolam renang plus halaman luas. Namun, rumah baru ini sangat luas untuk dua penghuni walau hanya satu lantai.
Saat ini Baekhyun sedang menyusun sofa diruanh tamu, lalu bau makanan mengganggu salurang pernapasannya. Tak tahan bau enak, ia sontak ke dapur menuju Bunda Byun.
"Kue beras buat siapa bun? Banyak amat." Baekhyun dengan segudang ke-kepoannya menatap Bunda, padahal dia tau kalo kue itu buat tetangga baru mereka, kan emang tradisi.
"Buat tetangga baru kita," Bunda Baekhyun menjawab sambil menyusun kue beras dalam kotak kecil, "cepet bantuin bunda nyusun. Nanti malam kita langsung bagiin"
"Kenapa gak besok aja bun? Masih berantakan loh rumahnya." Ucap Baekhyun memelas, dia memang suka kue beras tapi kalo disuruh nyusun tanpa dikasih jatah makanannya. Ya, Baekhyun malas.
"Udah jangan banyak ngeles! Cepet pake sarung tangannya, sisa lima kotak lagi tuh." Baekhyun memanyunkan bibirnya tetapi kedua tangannya bekerja memasang sarung tangan.
Higienis harus nomor satu ya gaes!
Selama menyusun kue beras, Baekhyun memakan satu kue beras. Tidak, bukan satu, mungkin empat karena terakhir ia ketahuan dan mendapat jitakkan maut Bunda Byun.
Karena jitakkan itu Baekhyun jadi ingat sesuatu.
"Oh iya bun, baekhyun mulai sekolah senin depan kan?"
"Besok"
Baekhyun berhenti gerak, "besok?", tanyanya lagi.
Bunda Byun mengangguk tanpa suara.
"Loh tapi bun, besok kan jumat terus sabtunya libur. Hari kejepit dong" Baekhyun melengkungkan bibirnya, gak tau aja kalo Bunda Byun udah kebal sama rengekan anaknya.
"Kok protes ke bunda? Protes ke sekolah barumu dong. Bunda kan cumab ngikutin permintaan sekolah."
"Ih gak asik! Bunda aja baru masuk senin nanti, masa baekhyun besok?"
Baekhyun mengunci mulutnya saat mata yang sama dengannya menatap tajam. Gak mau buat Bunda Byun makin kesal, ia lanjut menyusun kue beras.
Bunda Baekhyun melepaskan sarung tangannya, "lanjutin ya, bunda mau mandi"
"Buat apa mandi?"
"Kan mau ngantar kue beras sayang, bunda harus glowing dong siapa tau ada duda ganteng disini."
Baekhyun memasang wajah datar, kalian harus maklum akan sikap Bunda nya yang aneh.
Masih dalam fase janda baru -kata Baekhyun.
"Iyauda sana! Hush" Baekhyun menggerakan tangannya seperti mengusir, dan tanpa diusir pun Bunda udah pergi ke kamar utama buat berdandan.
Sekarang didapur cuman ada kue beras dan Baekhyun.
Kue beras Baekhyun = Habis.
Dan benar. Satu kotak kue beras habis dilahap Baekhyun, yang harusnya sepuluh kotak malah menjadi sembilan kotak. Dan otak -tidak- jenis Baekhyun, ia membuang kotak kosong itu dan saat sang Bunda kembali dari kamar menanyakan kenapa cuman ada sembilan kotak.
Tentu saja Baekhyun bilang kalau kue beras nya memang kurang, dan Bunda Baekhyun meminta Baekhyun mengingatkannya untuk menelpon Nenek Byun, protes kalau kue beras yang dibuat olehnya kurang.
Baekhyun sedikit menyesal, tetapi hanya sedikit. Urusan perut lebih penting daripada lain. Ia memang pantas dijuluki cucu durhaka.
[My Neighbour, My Ex]
Malamnya, Baekhyun dan Bunda-nya sudah siap untuk membagikan kue beras. Dengan ide Bunda -yang menurut baekhyun bodoh-, mereka memakai hanbok agar lebih formal dan membuat kesan baik terhadap tetangga baru.
Ibu dan Anak tersebut, memulai tujuan mereka ke rumah sebelah kanan. Rumah yang berjarak tiga puluh meter dari rumah mereka, lebih besar dan Baekhyun bisa menebak rumah itu memiliki dua atau tiga lantai serta halaman sedikit luas penuh tanaman beraneka-ragam.
Tak sampai lima-menit berjalan, mereka sampai didepan pintu tetangga baru. Baekhyun dan Bunda saling menatap.
"Kau atau bunda?" Pertanyaan itu diajukan untuk memencet bel rumah.
"Bunda." Baekhyun sigap menjawab, ia adalah orang tercanggung dan berkunjung ke rumah tak dikenal bukan salah satu list favorit nya.
Bunda Baekhyun memencet bel tersebut sebanyak dua kali lalu menunggu si penghuni rumah membuka pintu. Tetapi, tak ada tanggapan.
Ia kembali memencet bel rumah, masih belum dijawab.
"Bun, kayaknya gak ada orang deh. Ke rumah lain aja yuk." Baekhyun menawarkan, ia tak mau menyia-nyiakan waktu berharga untuk rumah tak berpenghuni.
Bahu Bunda merosot, "padahal baru satu rumah tapi sudah orangnya gaka ada," ucapnya lemas, "yuk rumah lain aja."
Mereka berdua membalikkan badan dan mulai berjalan pergi menuju rumah kedua. Namun, suara pintu terbuka menghentikan mereka.
"Astag maaf ya buat kalian nunggu, soalnya cuman ada saya dan anak saya dirumah."
Bunda Byun berbalik dan kembali melangkah maju diikuti Baekhyun menuju penghuni rumah terdekatnya.
Bunda membungkuk sopan, "selamat malam! Kami dari keluarga byun ingin memberi kue beras, kami tetangga baru disini."
Baekhyun menyerahkan sekotak kue beras ke perempuan paruh baya yang menurut Baekhyun familiar di ingatannya.
Perempuan itu mengambil kue beras dari Baekhyun, "duh jangan formal dong, seneng deh punya tetangga baru. Kalian pas disebelah kita kan?"
Bunda Baekhyun mengangguk, "cuman kepisah pagar aja kok" tambahnya.
"Ibu namanya siapa?" Tanya si perempuan.
"Saya byun hana, bisa dipanggil hana aja" Jawab Bunda Byun.
"Oalah, Saya park taera, bisa dipanggil taera. Semoga betah dilingkungan sini ya bu hana."
"Siap bu taera, oh iya, ini anak saya namanya byun baekhyun. Panggil aja baekhyun." Baekhyun tersenyum ke arah Taera kemudian membungkuk sopan.
Taera tersenyum, "manisnya anak ibu, anak satu-satunya?"
"Iya bu."
"Masuk dulu bu hana, saya juga mau ngenalin nih dua anak saya."
Baekhyun seolah memberi kode ke Bunda nya buat nolak dan langsung pergi ke rumah selanjutnya.
Kodenya gagal.
Bundanya malah masuk ke dalam rumah keluarga Park, terpaksa dia juga ikut. Mungkin formalitas, pikirnya.
Mereka langsung diarahin Taera ke ruang tamu dan duduk disofa besar. Bisa dilihat kalau keluarga Park ini kaya, interior rumah tersebut minimalis namun terkesan mahal serta elegan. Tak berhenti membuat decak kagum Bunda Baekhyun.
"Sebentar ya bu, saya panggilin dua anak saya. Pada goleran semua nih dikamar, maklum anak jaman sekarang gila teknologi."
"Hahaha, iya bu gak apa, saya sama baekhyun bisa nunggu kok." Sehabis Bunda menjawab, Ibu Park Taera pergi buat jemputin sang Anak.
"Duh bun, kok mampir dulu sih? Makin malam loh, ini aja baru satu rumah. Gimana rumah yang lain!" Baekhyun mengeluarkan protesannya.
"Ini artinya sama mendekatkan diri dengan tetangga, kamu bakal tau kalo udah punya rumah sendiri."
"Tapi kan lama bun... malah gak sempat ini"
Bunda Baekhyun menghela nafas, menghadapi mulut tanpa henti anaknya memang butuh kesabaran ekstra. "Gak lama kok, habis ibu park ngenalin anaknya kita pamit. Okay anak bunda? Jadi sabar ya sebentar"
Baekhyun menopang wajah cemberutnya dengan kedua tangan yang sikunya diletakkan dipaha. Bunda Baekhyun gemas, ia mencubit pipi mochi natural anaknya.
"Nah ini dia, anak bungsu saya." Suara Taera kembali terdengar, Baekhyun tidak peduli. Ia menundukkan kepalanya ke karpet bergambar abstrak, ia menghitung sisi-sisi yang ada disana.
"Wah ganteng ya" Ia mendengar pujian sang Bunda, artinya anak bungsu Ibu Park adalah laki-laki, ia menebak pasti masih balita.
"Perkenalkan nama saya park chanyeol, salam kenal ibu byun hana dan byun baek...hyun."
Baekhyun sangat hapal suara itu. Ia sontak mendongak, kedua netra bertemu dengan netra lain. Sedikit terkejut-
Tidak. Tidak sedikit.
Sangat amat terkejut.
Baekhyun sangat amat terkejut dengan anak bungsu ibu Park.
"Baekhyun...mana tanganmu?" Suara Bunda Byun menyadarkannya. Ia baru sadar kalau Chanyeol memajukan tangan kanannya, memberi signal untuk berjabat.
Dengan terpaksa Baekhyun berjabat tangan dengan Chanyeol. Ia merasakan ada elusan dikulit tangannya.
"Sialan" umpat Baekhyun.
Hitungan detik, ia menarik tangannya dari Chanyeol. Lelaki itu menyeringai dan Baekhyun ingin cepat pergi dari sini.
"Tinggi ya nak chanyeol, liat baek, kamu harus banyak minum susu biar kayak chanyeol." Suasana hati Baekhyun tidak enak, baru saja Bunda nya mengejek dia didepan Chanyeol.
Park fuxking Chanyeol
Mantannya tiga tahun lalu,
Yang sukses membuat Baekhyun belum bisa move on sampai sekarang.
"Maaf ya anak saya yang pertama ternyata lagi kerja, kalau kesini lagi saya kenalkan deh." Ucap Taera ke Hana.
Hana tersenyum, "gak apa kok bu, oh iya, saya dan baekhyun pamit dulu ya. Mau nganterin kue beras ke tetangga lain dulu."
"Sering-sering ke rumah ya bu, baekhyun juga sering kesini mainan sama chanyeol," Ibu Park mengedipkan matanya ke Baekhyun, "tuh chan anterin dua tamu kita ke depan tamu."
Baekhyun membungkuk ke arah Ibu Park, kemudian mengikuti langkah Bunda dan Chanyeol ke depan pintu.
"Chanyeol sudah kuliah atau masih sma?" Bunda Baekhyun membuka suara.
"Baru sma tante tapi udah kelas tiga." Chanyeol menjawab dengan suara berat nya.
"Loh sama dong kayak baekhyun? Jangan-jangan nanti kalian satu sekolah lagi."
Baekhyun memutar mata malas, dia tidak bisa membiarkan Bunda nya berbicara lebih lama lagi dengan Chanyeol, bisa-bisa aib nya juga ikut ke bongkar.
"Bun, udah sampai pintu. Makasih ya chanyeol sudah anterin kita depan pintu. Yuk bun" Baekhyun menarik Bunda nya kasar buat menjauh dari pintu rumah keluarga Park.
Saat telinganya mendengar pintu kembali tertutup, Baekhyun melepas tarikannya.
"Sayang, gak sopan loh sama orang begitu. Jangan diulangin!" Protes Bundanya, bagaimana tidak sopan. Sebelum Bunda berbicara kata perpisahan ke Chanyeol dia sudah ditarik sama anak tunggalnya, bahkan tidak ada kata keluar dari Chanyeol.
Baekhyun cuman diam tak peduli, kalau saja Bunda nya tahu Chanyeol penyebab dia masuk rumah sakit karena demam tinggi. Pasti perlakuan perempuan kesayangannya terhadap Chanyeol sangat amatlah beda. Untung saja Baekhyun masih punya hati untuk Chanyeol.
Banyak malahan.
[My Neighbour, My Ex]
Akhirnya Baekhyun bisa menikmati ranjang baru pada pukul sepuluh malam, badannya terasa sangat pegal sekali mungkin karena ia sudah lama tidak mengunjungi banyak rumah jadi belum terbiasa. Ia bahkan tidak tahu apakah bisa masuk ke sekolah baru nya besok, sosok setan dalam dirinya berbisik untuk membolos tetapi sosok malaikat nya juga mengingatkan betapa seramnya Bunda jika mengamuk.
Tentu saja Baekhyun memilih untuk masuk.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu membuka lemari pakaian untuk mengambil piyama tidurnya. Beberapa menit, Baekhyun pun sudah berganti baju menjadi piyama.
Angin yang berhembus dari jendela membuat Baekhyun merinding kedinginan, ia pun berinisiatif kesana untuk menutupnya.
Baekhyun baru sadar kalau jendela kamarnya juga menghadap jendela kamar tepat dirumah keluarga Park. Ia mengamati jendela itu sudah tertutup tirai tetapi pencahayaan disana masih terlihat menandakan si penghuni kamar belum beristirahat.
Baekhyun mengendikkan bahunya acuh, ia tidak boleh kepo dengan keluarga Chanyeol jadi ia lekas menutup jendela dan menarik tirai biru tuanya.
Misi pertama berhasil, sekarang ia menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan setelah itu langsung beristirahat untuk sekolah besok.
Alarm jam digital nya berbunyi sangat keras hingga Baekhyun mau tidak mau bangun dan mematikan benda berisik itu. Pukul setengah enam pagi. Masih sangat awal untuk berangkat sekolah karena jam masukkan adalah jam delapan. Sayangnya Baekhyun sudah tidak tidur lagi jadi dia memilih untuk bangkit dari tempat tidur dan membuka jendelanya, menghirup udara segar dari rumah barunya. Netranya melihat jendela diseberangnya, masih tertutup tirai.
Tiba-tiba suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya, itu Bunda Baekhyun.
"Loh sudah bangun? Cepet mandi baru sarapan." Ucap sang Bunda lalu menutup kembali pintu kamar.
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "duh apaan sih, mandi ajalah"
Ketika Baekhyun masuk ke kamar mandi, ia tidak tahu kalau jendela itu baru dibuka menampakkan si penghuni kamar yang sedang merenggangkan badannya.
Dua-puluh menit Baekhyun habiskan untuk mandi dan bersiap memakai seragam barunya, hari Jumat ia memakai baju putih dengan bawahan kotak-kotak paduan warna biru tua serta merah.
Baekhyun merasa ia seperti anak TK dibandingkan SMA karena seragam ini. Oh, jangan lupakan rompi hitam dengan logo sekolah di dada kanannya.
Ia keluar dari kamar menuju ruang makan, bau makanan menggugah seleranya. Ternyata Bunda membuat nasi goreng kimchi serta susu stroberi, makanan dan minuman favoritnya.
"Manisnya anak bunda~" Bunda mencubit gemas kedua pipi gembul Baekhyun, menganggap anaknya itu baru berumur lima tahun padahal aslinya masih enam-belas tahun.
Iya, Baekhyun masuk sekolah lebih cepat satu tahun.
Ibu dan Anak itu memakan sarapannya dengan anteng.
"Baekkie, bunda gak bisa antar ya. Masih banyak yang mau diberesin"
Baekhyun mengangguk paham, lagipula ia sudah hapal arah menuju sekolahnya. Berjalan kaki pun pasti sempat.
"Iya bun, baekhyun jalan kaki aja."
Bunda mengacungkan jempolnya, mereka melanjutkan sarapan hingga jarum jam pendek mendekati tujuh.
Waktu yang tepat buat Baekhyun pergi ke sekolah. Yah, walaupun jarak sekolah ke rumahnya hanya sepuluh menit perjalanan, karena ia murid baru jadi harus meninggalkan kesan bagus bagi penghuni di sekolah barunya.
Udara segar menyapa wajah Baekhyun tepat ia membuka pintu rumahnya, netra kedua mata sipit tersebut mengitari lingkungan sekitar rumahnya hingga ke rumah sebelah kanannya.
Dan sialnya Chanyeol juga baru saja keluar dari rumahnya memakai seragam yang sama dengannya.
Ucapan Bundanya menjadi kenyataan, Baekhyun berjalan cepat-cepat ke pagar dan membukanya sebelum Chanyeol keluar duluan dari pekarangan rumahnya.
Tak berani menengok, ia menjalankan kakinya cepat. Merapalkan dalam hati Chanyeol tidak sadar atau tidak kenal dengannya karena dilihat dari view laki-laki tinggi itu hanya terlihat punggung Baekhyun.
"Baekhyun!" Baekhyun menghentikan langkahnya, sumpah serapah keluar dari bibir tipisnya.
Baekhyun berbalik pelan menatap laki-laki tinggi didepannya, "kenapa?"
"Lo salah arah. Ke sekolah arahnya ke kanan bukan ke kiri."
Sunyi.
Di pikiran Baekhyun sudah banyak hal-hal negatif ketika Chanyeol memanggilnya, ternyata semua itu salah.
"O-oh iya, makasih." Baekhyun membungkuk pelan lalu berjalan cepat melewati Chanyeol sambil menunduk. Ia tak mau moodnya hari ini hancur karena seorang Park fucking Chanyeol.
"Baek tungguin! Kita berangkat bareng, siapa tau lo kesesat lagi."
Baekhyun semakin mempercepat langkahnya tak peduli ajakkan Chanyeol.
Chanyeol hanya menyeringai melihat tingkah laku Baekhyun, tak pernah berubah. Masih menggemaskan seperti tiga tahun lalu.
TBC
Hi guys, jadi cerita ini tuh SEMI-BAKU, jadi untuk POV author pakai baku tapi dialognya non-baku. Untuk POV pemainnya aku usahain buat non-baku hehehhe. Maaf kalo ada kekurangan dichapternya, aku janji bakal improve buat chapter selanjutnya.Jangan lupa buat di favorit dan follow