Hypnosis Microphone
King Records, Otomate, Idea Factory
.
.
.
"Oi, Ichiro!"
Ichiro terkesiap. Suara itu sangat familier—sangat ia rindukan, dan sampai beberapa detik lalu, ia rasa sangat mustahil untuk ia dengar lagi. Ichiro merasa telinganya salah, atau otaknya salah, atau segala sesuatu di dunia ini sedang mempermainkannya.
"Oi, kenapa bengong gitu?"
"Kuu—ko?"
Kuuko Harai, terdiam menatap Ichiro. Alisnya naik satu, balon permen karetnya pecah begitu saja. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Kau pikir aku sudah mati lalu gentayangan disini sekarang?" Kuuko menggebuk punggung Ichiro. "Kau tampak tidak sedang bahagia, kawan."
Ichiro merasakan air matanya jatuh lagi, satu, dua—lantas ia segera mengusapnya dengan gegabah.
"Cuma sedikit masalah," Ichiro tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Kepala merah menggeleng khidmat. "Aku tau kau tidak," kemudian sebuah botol coca cola dilemparkan ke arah Ichiro, "itu kemasan baru."
Ya, itu coca cola kemasan botol dengan isi yang lebih sedikit daripada sebelum-sebelumnya—agar pas di kantung katanya. Ichiro sudah melihat iklan produk itu di TV dua hari lalu, dan sekarang ia menyesal itu harus ada di bumi. Pasti mulai sekarang Kuuko akan mentraktirnya ukuran yang ini.
"Trims."
"Apapun, sob."
Kuuko menyenderkan punggungnya ke tembok gang, tepat di samping Ichiro, membiarkan temannya sibuk membuka tutup cola dan meneguk air berkarbon itu banyak-banyak—sampai pura-pura mabuk seperti yang dulu sering mereka lakukan.
"Jadi, ada yang mau kau ceritakan?"
Pertanyaan Kuuko membuat Ichiro bimbang setengah mati. Dia tidak berencana untuk menceritakan hari-harinya pada siapapun—tidak pada Kuuko. Beban yang detik ini ia pikul tidak seberapa berat—
"Itu hanya masalah kecil tentang pekerjaan," Ichiro memberi jeda, "juga Jiro dan Saburo. Hanya itu."
Lalu, Ichiro menyadari satu hal: Kuuko memainkan slayer merah yang ada di pergelangan tangan kanannya. Slayer yang sama dengan miliknya, yang teronggok dengan tenang di sudut meja kamarnya.
"Kuuko..."
"Ichiro, kau itu kuat," penyandang nama MC Evil Monk itu bangkit dan menatap Ichiro, "tapi bukan berarti kau tidak boleh menangis."
"Aku tidak perlu menangis. Aku oke."
"Kata bocah yang ketika aku datang sedang berusaha mengusap air mata."
Ichiro cemberut. Dia tidak mau menangis di depan Kuuko, tidak lagi. Dulu dia sempat, menceritakan tentang Jiro dan Saburo yang memusuhinya. Tapi sekarang dia sudah dewasa, semua masalah harus bisa diselesaikan dengan kepala dingin, begitu pikirnya.
"Demi coca-cola-yang-tambah-sedikit-isinya, kau jelek Ichiro."
Bibir sulung Yamada semakin melengkung ke bawah. "Kalau aku jelek, lalu kau apa?"
"Kau masih bertanya?"
Ichiro mengembuskan napas panjang, disusul dengan bunyi cegukan dari tenggorokan. Ah, coca cola sialan.
"Aku serius," satu cegukan muncul lagi, "aku sudah baikan setelah istirahat sebentar, disini."
Di gang ini, tempat dulu kita minum cola seusai battle panjang melawan anjing-anjing jalanan.
Dan mentertawakan bobroknya dunia sampai kita hampir mampus.
Lalu aku kembali bertemu denganmu.
Ichiro tidak menyadari dirinya tersenyum. Lalu satu cegukan menginterupsi.
"Kalau mau bicara keren, atasi dulu cegukan itu, bodoh."
"Siapa yang bodoh?"
Lalu keduanya tertawa. Lepas sekali seolah tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan, dan dunia ini hanyalah tempat untuk berbagi lelucon.
Lagi-lagi, Ichiro tidak sadar bulir air matanya kembali menetes. Ia berusaha mengendalikan diri, ini bukan momen untuk ditangisi. Tapi ada sesuatu yang hangat di dadanya, menekan air mata itu terus keluar. Ichiro tidak tahu itu disebut apa, dia belum pernah merasakan ini seumur hidupnya.
"Kuuko.."
"Ha? Cegukanmu sudah hilang?"
"Kuuko.."
"Apa sih, kau terdengar melankolis."
"Kuuko, terima kasih."
Kuuko kembali menaikkan satu alisnya, memasang tampang bingung. "Sama-sama. Kau sebegitu terharunya kutraktir coca cola?"
Ichiro menggeleng.
"Terima kasih sudah kembali."
Kalimat itu membuat Kuuko terdiam. Jujur, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini pada Ichiro Yamada, tapi—
"Maafkan aku."
Kuuko bukanlah tipe orang yang akan meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Tapi ini tentang Ichiro. Ichiro Yamada.
"Jangan meminta maaf, kau tidak salah. Aku mengerti, kau mungkin ingin mengambil jalan yang lain."
"Ichiro, apa yang kau rasakan setelah itu?"
Checkmate.
"Aku—"
—baik-baik saja.
—tidak masalah dengan itu.
—melanjutkan hidupku dengan baik.
"—hancur."
Ichiro benci ini. Dia tidak suka dengar air matanya sendiri.
"Nee, aku berharap itu mimpi," Ichiro mengusap air mata itu dengan lengan jaketnya, "tapi tidak. Kau tidak ada disini lagi. Naughty Busters sudah tidak ada. Aku sendirian."
"Ichiro, kau menangis."
"Ya, Samatoki bilang—"
"Samatoki-san."
"—Samatoki-san bilang aku boleh menangis kalau kehilangan—"
Iris kuning Kuuko melebar. Dia hapal betul kalimat itu.
—keluarga.
Kuuko terkekeh. Lucu sekali. Saat ini dia teringat tulisan di jaket Samatoki dulu, ya, karena tadi si rambut putih itu sempat disinggung.
Hidup itu tidak adil.
"Ichiro."
Yang dipanggil kembali memfokuskan pandangan kepada lawan bicara di hadapannya. Netra kuning itu memancarkan sesuatu yang belum pernah Ichiro mengerti sebelumnya.
.
.
.
Ichiro tidak begitu ingat apa yang Kuuko katakan saat itu. Yang terekam dalam otaknya adalah, si rambut merah itu tersenyum sangat lebar—seperti orang bodoh—hingga membuat Ichiro hilang akal dan langsung menyambar tubuh yang lebih kecil itu dalam dekapan.
Tidak ada bedanya memeluk Jiro dan Saburo dengan Kuuko.
Rasanya juga masih terasa dalam benak Ichiro. Sama seperti dua tahun lalu, saat Jiro dan Saburo kembali padanya.
Sekarang Ichirolah orang bodohnya.
.
.
.
Original soundtrack anime kesayangan Ichiro terputar dengan sendirinya.
Ah, bukan, itu alarm. Berarti sudah pagi, benar?
Ichiro bangun dari lelapnya. Hei, lagi-lagi tertidur di meja, ya?
Mata abnormalnya mengerjap. Mengingat apa saja yang sudah dia lakukan sampai berakhir begini.
Tangan kirinya memegang sebotol coca cola.
Tangan kanannya menggenggam slayer merah itu—
Oh.
Kemarin Ichiro sedang dalam keadaan terpuruk soal pekerjaan, serta Jiro dan Saburo—persis seperti yang Ichiro katakan padanya—dan perjalanan pulang membawanya ke sebuah vending machine, tangannya memilih sendiri coca cola berukuran kecil, semenit kemudian dia merutukinya.
Sesampainya di rumah ia sempat membentak Jiro dan Saburo—entahlah, dia tidak begitu ingat karena apa—ingatkan nanti ia harus minta maaf.
Berikutnya ia melakukan hal yang sama sejak dua tahun lalu.
Bermonolog dengan slayer merah itu seolah-olah Kuuko Harai ada di hadapannya.
Kemudian tertidur di meja.
Yang membedakannya dengan kali ini adalah mimpi itu. Ah, mungkin Ichiro sedang lelah hebat dan rindu setengah mati dengan mantan partnernya itu. Disana ia bercerita, tertawa seperti orang sinting yang menganggap itu terjadi di dunia ini.
.
.
.
Hidup itu tidak adil.
"Ichiro."
Yang dipanggil kembali memfokuskan pandangan kepada lawan bicara di hadapannya. Netra kuning itu memancarkan sesuatu yang belum pernah Ichiro mengerti sebelumnya.
"Ingatlah, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu."
Okee jadi ini dia akhirnya jadi hshdhaha
Sowwy kalo gadapet feelnya ya, aku emang hampir gapernah bikin genre beginian—
Kiryuu
