My Hero Academia © Horikoshi Kouhei
Pairing : Dabi x Hawks
Mohon maaf kalau karakterisasi Dabi dan Hawks di fanfiksi ini terkesan OOC, shikatanai desou saya butuh asupan pair getek ini :") Jangan sungkan untuk fangirlingan di kotak review ya saya lagi nyari temen sekapal. Hehewww~
.
.
.
"Aku sudah memotong kedua sayapmu, sekarang kau tak bisa terbang lagi."
Hawks masih tak percaya ia mendengar kalimat itu setahun yang lalu, sepekan setelah semua pahlawan menyerbu aliansi penjahat yang dipimpin oleh Shigaraki Tomura. Hawks bangkit dari tempat tidur beralaskan kasur tipis yang usang dan rasanya keras membuat punggungnya pegal dan bekas luka sayap yang berasal dari tempat sepasang sayapnya tumbuh terasa nyeri. Padahal sudah satu tahun tapi rasa sakitnya masih tidak mau hilang. Tanpa sayapnya, Hawks bukan siapa-siapa. Dia menjelma menjadi manusia biasa tanpa bakat, cacat, dan terbuang. Dan semua ini adalah hasil perbuatan kejam Dabi. Hawks melangkah menuju wastafel, membasuh muka dengan air keran yang mengalir sedikit, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah itu terlihat seperti sudah bosan hidup. Ah, dia pernah menempati urutan kedua sebagai pro hero paling kuat dan dielu-elukan banyak orang, satu tingkat di bawah Endeavor. Sejak Dabi berhasil mengalahkannya, membakarnya, memotong sayapnya dan menunjukkan neraka padanya, Hawks tak mendengar kabar apapun dari pihak pahlawan.
"Shigaraki sudah mati?" Suatu hari Hawks pernah bertanya pada Dabi yang sedang duduk santai di atas sofa kusut sambil minum sekaleng bir. Hawks tak tahu Dabi punya kebiasaan mabuk di siang bolong.
"Bukan urusanmu dia masih hidup atau sudah mati. Yang perlu kau tahu, dia punya banyak nyawa."
Hawks tak bertanya lagi. Dia sungguh tak berdaya menghadapi Dabi yang telah merenggut segalanya.
"Kau sudah dianggap mati oleh pihak hero. Mereka tak menemukan jasadmu, jadi kau diasumsikan telah dibawa kelompok Shigaraki dan disiksa sampai mati. Atau, jasadmu sudah menjadi serpihan debu karena quirk milik Shigaraki."
"Yah, lagipula aku tak bisa kemana-mana sekarang."
Hawks menjalani kehidupan satu tahunnya bersama Dabi di sebuah gedung terbengkalai yang dijadikan sebagai tempat bernaung. Bangunan rusak yang berada jauh dari area permukiman dan keramain, lokasi yang cocok bagi para penjahat untuk bersembunyi. Hawks teringat Twice. Pria bernama asli Jin itu telah mati. Dabi tak berhasil menemukan Toga setelah melakukan pencarian berhari-hari. Dabi pikir tak ada buruknya hanya tinggal berdua bersama Hawks. Di siang hari saat Dabi keluar untuk membeli persediaan makanan, pintu kamar akan dikunci dari luar.
"Kau takut aku akan melarikan diri? Ayolah, Dabi. Aku yang sekarang tak bisa melakukan apa-apa selain berbaring dan berjalan mondar-mandir."
Dabi kerap memergoki Hawks memandang ke luar jendela, menatap langit biru yang dulu menjadi medan kebanggaannya. Dabi ingat, sebelum memotong sayap Hawks, dia terlebih dulu membius pria itu dalam dosis tinggi, memotong sayap yang menyatu di punggungnya dengan pisau yang telah diasah setajam mungkin. Darah kental merah membasahi tempat tidur, menetes ke permukaan lantai, saking banyaknya membuat Dabi berpikir ulang tidak memotong sayap satunya. Tapi, Dabi adalah makhluk berhati iblis dan dia menginginkan Hawks merasakan rasa sakit hebat saat dia bangun nanti.
Seperti dugaannya, Hawks tersadar dengan mata membelalak dan leher seperti tercekik. Saliva meleleh dari celah bibirnya membasahi dagu sementara lidahnya kelu. Efek bius sudah hilang, Hawks akan merasakan penderitaan dan rasa sakit paling mengerikan sepanjang hidupnya. Dabi harus bertahan mendengar teriakan kesakitan Hawks selama dua minggu, siang dan malam, di kala matahari bersinar terik atau saat turun hujan. Dabi meletakkan sepotong kain di antara gigi Hawks, membuat pria itu menggigitnya hingga bibirnya berdarah. Karena cara itu tak mempan, Dabi meneguk bir dalam sebuah tegukan besar, menari kasar dagu Hawks dan mencium bibir pria itu, memaksa cairan itu masuk ke kerongkongan Hawks dengan paksa.
Hawks pingsan selama tiga hari setelah kehabisan tenaga melawan rasa sakit selama dua minggu. Lalu, kembali tersadar dengan perasaan sedikit lebih baik. Rasa sakit yang mengiris-ngiris sudah tidak dirasakannya lagi. Ketika tangannya menyentuh bekas tempat sayapnya tumbuh tertutup perban dan terlihat menonjol, Hawks tidak bisa menangis. Dia diam saja, membiarkan Dabi dan menganggap eksitensi pria berambut hitam itu tak nyata.
"Kau menyukaiku, Dabi? Karena itu kau melakukan semua hal-hal kejam di luar nalar manusia agar aku tak bisa melakukan apapun, supaya aku tak bisa melarikan diri darimu dengan begitu kau tidak akan kesepian karena terpisah dengan teman-temanmu, bukan begitu? Aku mungkin bodoh, tapi aku cukup peka dalam membaca isi hati seseorang. Sayang sekali aku harus berakhir bersamamu. Jika boleh memilih, aku lebih suka Twice. Dia pria baik. Kadang aku bertanya-tanya mengapa orang sebaik dia bisa menjadi bagian aliansi penjahat?"
Dabi tidak berkomentar.
Selanjutnya, saat matahari mulai kembali ke peraduan dan warna langit berubah menjadi kelabu pekat tanpa bintang, Dabi akan menyetubuhi Hawks. Di atas kasur tipis mereka, kasur yang sama sekali tidak nyaman digunakan untuk bercinta. Dabi mencium perban berlapis-lapis yang menyembunyikan luka di atas tulang belikat Hawks. Bagi, Dabi, saat ini Hawks mirip sekali malaikat jatuh. Pelayan langit yang dihukum Tuhan dan dijatuhkan ke dunia manusia setelah kedua sayapnya dipotong. Mungkin bekas luka itu tak akan hilang selamanya. Hawks tak bisa melawan Dabi mengingat kondisi tubuhnya yang lemah dan kehilangan banyak darah. Ujung-ujung jarinya menegang kala bersentuhan dengan kulit Dabi. Bekas luka bakar di tubuh Dabi tidak sedikit. Hawks bahkan sempat menghitung saat sesi percintaan mereka. Pun saat Dabi mendorong tubuhnya dengan kuat dan tak berhenti meski Hawks memohon dengan suara parau.
Satu ciuman, dua ciuman, tiga ciuman. Dabi melumat bibir Hawks dengan kasar, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Hawks memaksa pria itu tunduk pada permainannya. Dabi senang mendominasi. Secara naluriah, dia menganggap dirinya sebagai penguasa, pengendali, sosok alpha. Dabi tak suka berada di bawah. Hawks, karena ini pengalaman pertamanya bersetubuh dengan sesama jenis, dia tak banyak bicara dan pasrah mengikuti segala instruksi Dabi. Dabi merasakan tulang menonjol berbalut kulit. Hawks semakin kurus sejak kehilangan sayapnya. Dabi tak pernah absen memberi makan Hawks tiga kali sehari dengan menu dan lauk yang bervariasi setiap hari. Hawks tak perlu bertanya dari mana Dabi memperoleh uang untuk membeli semua makanan mewah itu. Laki-laki bermata turquiose itu pasti memalak orang atau merampok bank.
"Kau tak bisa kembali. Rumahmu ada di sini sekarang." Dabi mencium puncak kepala Hawks, berbisik lirih sementara Hawks hampir kehilangan kesadaran setelah dihajar Dabi di atas ranjang tanpa jeda istirahat.
"Aku bersumpah... akan membunuhmu suatu hari nanti..." Hawks mengucapkan kalimat itu dengan napas tersengal.
"Coba saja. Untuk sekarang, kau sudah jatuh padaku. Kau tak berdaya tanpa kedua sayapmu. Kau makhluk menyedihkan, Hawks."
Dabi membiarkan Hawks terlelap dalam pelukannya.
OWARI
